e06inu

Upload: femmy-andrifianie

Post on 20-Jul-2015

176 views

Category:

Documents


10 download

TRANSCRIPT

STUDI PENGETAHUAN TRADISIONAL MASYARAKAT DI SEKITAR KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG LUMUT, KABUPATEN PASIR, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR : KAJIAN PEMANFAATAN TUMBUHAN

IRMA NURHAYATI E34101071

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

RINGKASAN

Irma Nurhayati. E34101071. Studi Pengetahuan Tradisional Masyarakat di Sekitar Kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut, Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur:Kajian Pemanfaatan Tumbuhan. Dibawah bimbingan Ir. Haryanto R. Putro, M. S Dan Ir. Siswoyo, M.Si Hutan Lindung Gunung Lumut (HLGL) merupakan salah satu hutan lindung yang terletak di wilayah Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur. Secara tradisional, wilayah HLGL terbagi atas 13 wilayah adat dan didiami oleh masyarakat Paser yang memenuhi hampir semua kebutuhannya dari wilayah hutan lindung maupun dari hutan di sekitar hutan lindung (Saragih 2004). Masyarakat yang mendiami wilayah di sekitar HLGL memiliki pola pemanfaatan tumbuhan tersendiri menurut pengetahuan tradisional yang mereka ketahui. Karena masih minimnya informasi mengenai pengetahuan tradisional masyarakat Paser, maka penelitian ini dilaksanakan khususnya guna mengetahui pola pemanfaatan tumbuhan yang dilakukan Masyarakat Paser. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengelolaan Hutan Lindung Gunung Lumut, Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur. Penelitian ini dilakukan di tiga lokasi yaitu desa Rantau Layung, desa Belimbing, dan dusun Mului. Waktu penelitian adalah bulan Oktober sampai November 2005 dan bulan Januari 2006. Bahan yang digunakan adalah Bahan yang digunakan adalah publikasi dan laporan penelitian yang dilakukan oleh pihak lain dan alkohol 70%. Peralatan yang digunakan yaitu alat tulis, panduan wawancara, kamera, alat perekam suara, kertas koran, kantong plastik, lakban, label, karton dan tali. Metode penelitian dilakukan dengan 3 rangkaian kegiatan, yaitu: (1) pengumpulan data, (2) identifikasi tumbuhan dengan cara identifikasi herbarium dan identifikasi dengan menggunakan pustaka (3) pengolahan data dan analisis data. Jenis data yang diambil adalah pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat Paser. Data pemanfaatan kemudian dikelompokkan kedalam 11 kelompok kegunaan. Hutan Lindung Gunung Lumut termasuk hutan hujan dataran rendah, dengan topgrafi perbukitan dan puncak tertinggi adalah 1300 mdpl. Pemanfaatan lahan oleh masyarakat Paser dapat dibagi menjadi empat yaitu lahan hutan, kebun, ladang dan permukiman. Secara adat, wilayah desa merupakan milik desa dan tidak dapat dimiliki secara perorangan. Pemanfaatan tumbuhan berdasarkan nama lokal oleh masyarakat Paser adalah 14 jenis tumbuhan makanan utama yang terdiri dari padi gunung dan ketan; 160 jenis tumbuhan untuk makanan sekunder antara lain durian (Durio zibethinus) dan layung (Durio dulcis) yang merupakan jenis endemik Kalimantan; 91 jenis tumbuhan obat antara lain mbung (Blumea balsamifera) untuk mengobati sakit perut, mimisan dan penawer buntal (Tinospora crispa L.) untuk malaria; 5 jenis tumbuhan hias; 4 jenis tumbuhan aromatik; 2 jenis tumbuhan pakan; 3 jenis tumbuhan penghasil zat warna dan tanin; 41 jenis tumbuhan untuk kegunaan adat antara lain jombu (Agathis sp.); 37 jenis tumbuhan yang digunakan untuk kayu bakar termasuk sungkai (Peronema canescens); 60 jenis tumbuhan yang digunakan untuk baham bangunan antara lain ulin (Eusyderoxylon zwagerii) dan

24 jenis tumbuhan yang digunakan untuk tali, anyaman dan kerajinan antara lain rotan (Korthalsia sp.). Pengetahuan tradisional diwariskan secara turun menurun oleh masyarakat Paser. Tabib, ketua adat dan tokoh yang dituakan memiliki tingkat pengetahuan yang lebih dalam dibandingkan dengan masyarakat Paser yang lain.

STUDI PENGETAHUAN TRADISIONAL MASYARAKAT DI SEKITAR KAWASAN HUTAN LINDUNG GUNUNG LUMUT, KABUPATEN PASIR, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR : KAJIAN PEMANFAATAN TUMBUHAN

IRMA NURHAYATI

Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kehutanan Pada Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2006

Judul Penelitian

: Studi Pengetahuan Tradisional Masyarakat Di Sekitar Kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut, Kabupaten Pasir, Provinsi Kalimantan Timur: Kajian Pemanfaatan Tumbuhan

Nama NRP Departemen

: Irma Nurhayati : E 34101071 : Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata

Menyetujui : Komisi Pembimbing Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Ir. Haryanto R. Putro, MS. NIP 131 476 561

Ir. Siswoyo, MSi. NIP 131 999 965

Mengetahui : Dekan Fakultas Kehutanan Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, M.S. NIP 131 430 799

Tanggal Lulus :

KATA PENGANTAR Syukur Alhamdulillah dipanjatkan kehadirat Allah SWT, atas seizin-Nya lah penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan karya ilmiah yang berjudul Studi Pengetahuan Tradisional Masyarakat di Sekitar Kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut, Kabupaten Pasir, Provinsi Kalimantan Timur: Kajian Pemanfaatan Tumbuhan. Skripsi ini merupakan syarat dalam menyelesaikan studi untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan dalam program studi Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan bahan pertimbangan dalam upaya pengelolaan Hutan Lindung Gunung Lumut di Kabupaten Pasir. Penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan masyarakat serta pemerintah Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur agar pengelolaan lingkungan menjadi lebih baik di masa mendatang. Penulis menyadari bahwa skripsi ini jauh dari sempurna, oleh karena itu berbagai saran, masukan, dan kritik yang membangun senantiasa diharapkan untuk menyempurnakan skripsi dan penelitian lebih lanjut di masa yang akan datang. Bogor, Agustus 2006 Penulis

UCAPAN TERIMA KASIH Syukur Alhamdulillah dipanjatkan kehadirat Allah SWT, atas izin-Nya penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan karya ilmiah ini. Penulis banyak mendapatkan bimbingan, dorongan, dan bantuan baik moril maupun materil dari berbagai pihak selama proses penyelesaian tugas akhir. Oleh karena itu rasanya penulis menyampaikan terimakasih dan penghargaan kepada: 1. Keluarga tercinta, Ibu, Ayah, kakak-kakak dan adik tersayang. Terimakasih atas dukungan dan kepercayaannya selama ini. 2. Ir. Haryanto R.Putro, MS dan Ir. Siswoyo, MSi yang telah memberikan bimbingan dan arahan serta dukungan. 3. Dr. Ir. Ulfah J. Siregar, M.Agr. dan Dr. I Nyoman J. Wistara penguji dalam ujian komprehensif. 4. Tropenbos Internasional Indonesia yang telah mendukung pelaksanaan penelitian ini. 5. Bupati Kabupaten Pasir dan masyarakat desa Belimbing, desa Rantau Layung serta dusun Mului, juga kepada PeMA Paser. 6. Dr. Hardjanto, Dr. Supriyanto, dan Prof. Yusuf Sudo Hadi yang senantiasa membimbing dan mendukung penulis selama berada di IPB. 7. Rekan-rekan seperjuangan di KSH `38. Edith, Santun dan Sony, terimakasih atas dukungannya. Nanda, Dian, Vivi, Inggar, Tri dan Anden yang membuat masa kuliah lebih berarti. 8. Galuh , kak Dinda dan Mas Langlang yang telah memberikan dukungan. 9. Rekan-rekan Himakova dan IFSA LC IPB. 10. Terimakasih juga kepada seluruh pihak yang telah membantu terlaksananya tugas akhir. Semoga budi baik bapak, ibu, dan rekan sekalian dibalas dengan yang lebih baik lagi oleh Allah SWT. Bogor, Agustus 2006 Penulis

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR ISI DAFTAR TABEL ........................................................................................... iii DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... iv DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... v I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang .................................................................................. 1 1.2. Tujuan Penelitian .............................................................................. 2 1.3. Manfaat Penelitian ............................................................................ 2 II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Sistem pengetahuan tradisional .......................................................... 2.2. Sistem Pengetahuan Masyarakat Dayak ............................................ 2.3. Etnobotani .......................................................................................... 2.4. Pemanfaatan Tumbuhan .................................................................... 3 4 5 6

III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN ........................................... 11 3.1. Hutan Lindung Gunung Lumut, Kalimantan Timur .......................... 3.2. Desa Rantau Layung .......................................................................... 3.3. Dusun Mului ...................................................................................... 3.4. Desa Belimbing .................................................................................. IV. METODE PENELITIAN 4.1. Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................................ 4.2. Bahan dan Peralatan .......................................................................... 4.3. Metode Pengumpulan Data ............................................................... 4.4. Analisis Data ...................................................................................... 25 25 25 28 11 14 18 22

V. HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................. 25 5.1. Penggunaan Lahan ............................................................................. 31 5.2. Pemanfaatan Tumbuhan .................................................................... 36 5.3. Pewarisan dan Pelestarian Pengetahuan Tradicional Masy. Paser .... 45 VI. KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................. 47 6.1. Kesimpulan ....................................................................................... 47 6.2. Saran .................................................................................................. 47

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 48 LAMPIRAN ..................................................................................................... 50

DAFTAR TABEL No. Teks Halaman

1. Tahapan Kegiatan dan Aspek yang Dikaji ..................................................... 27 2. Klasifikasi Kelompok Kegunaan ................................................................. 28 3. Tipe Lahan di Lokasi Penelitian ................................................................... 31 4. Kelompok Kegunaan Tumbuhan Berdasarkan Nama Lokal ........................ 36

DAFTAR GAMBAR No. Teks Halaman

1. Peta Hutan Lindung Gunung Lumut ............................................................. 12 2. Salah satu puncak Gunung Lumut dilihat dari Dusun Mului ........................ 32 3. Kegiatan manduk di Desa Rantau Layung .................................................... 35 4. Kegiatan nugal di Desa Rantau Layung ........................................................ 35 5. Ladang di Dusun Mului ................................................................................ 35 6. Makan bersama setelah nugal ....................................................................... 35 7. Permukiman di Dusun Mului ........................................................................ 36 8. Jalan desa di Desa Rantau Layung ................................................................ 36

DAFTAR LAMPIRAN No. Teks Halaman

1. Daftar Tumbuhan Berdasarkan Kelompok Kegunaan ................................ 51 2. Daftar Tumbuhan yang Disusun Berdasarkan Nama Lokal ....................... 61 3. Daftar Tumbuhan Obat dan Kegunaannya .................................................. 71 4. Daftar Nama Tumbuhan Dengan Kegunaan Ganda .................................... 74 5. Daftar Famili Teridentifikasi ....................................................................... 76

PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Indonesia memiliki penutupan lahan sebesar 1,3% dari seluruh daratan di

dunia, negeri ini memiliki 10% dari hutan hujan dunia dan 40% dari hutan hujan Asia (Crevello 2003). Indonesia juga memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi sehingga disebut sebagai salah satu megadiverse country. Kalimantan sebagai salah satu pulau besar di Indonesia, memiliki penutupan hutan yang cukup luas dan keanekaragaman hayati yang tinggi. Salah satu wilayah hutan di Kalimantan adalah Hutan Lindung Gunung Lumut (HLGL) yang terletak di wilayah Kabupaten Pasir, Provinsi Kalimantan Timur. Hutan ini merupakan daerah tangkapan air dari dua daerah aliran sungai (DAS) besar yang berada di Kabupaten Pasir, yaitu DAS Kendilo dan DAS Telake. Kedua Sungai ini sangat berperan bagi ketersediaan air bagi hampir 70 pemukiman dan kota-kota di bawahnya, termasuk Tanah Grogot, Batu Kajang, Muara Komam dan Long Ikis. Wilayah Hutan Lindung Gunung Lumut didiami oleh masyarakat Paser secara turun-temurun bahkan telah mencapai 13 generasi. Secara tradisional wilayah hutan Gunung Lumut dan sekitarnya telah terbagi kedalam hak kelola tradisional (adat) oleh 13 wilayah adat desa-desa di sekitarnya, dibatasi oleh batas-batas alam yaitu daerah aliran sungai, ataupun punggung bukit atau gunung seperti Sungai Pias, Sungai Tiwei, Sungai Mului, dan Kesunge (Saragih 2004). Masyarakat Paser memenuhi hampir semua kebutuhannya, seperti kebutuhan akan kayu bakar, pertanian, perumahan, pangan (air, sayuran dan daging/ikan), obat-obatan dan upacara adat, dari wilayah hutan baik itu dari wilayah hutan lindung maupun dari hutan di sekitar hutan lindung (Saragih 2004). Masyarakat lokal, karena telah tinggal pada suatu tempat dalam jangka panjang, dapat menjadi aset dalam upaya pengelolaan dan konservasi. Mereka memiliki kekayaan pengetahuan mengenai lingkungan hidup sehingga dapat digunakan untuk merancang strategi pengelolaan yang melibatkan komunitas lokal (Eghenter 2003). Sesuai dengan pendapat Colfer (1997) dan Loomis (2000) dalam Crevello (2003), Epistemologi, pengetahuan dan etika lokal dapat memberikan kontribusi besar untuk pembangunan berkelanjutan.

Untuk mengetahui pola pemanfaatan sumberdaya tumbuhan oleh masyarakat di sekitar Hutan Lindung Gunung Lumut, perlu dilakukan studi mengenai pengetahuan yang ada di masyarakat Paser, khususnya mengenai pemanfaatan tumbuhan.

1.2 Tujuan Tujuan penelitian ini adalah untuk mendokumentasikan pengetahuan tradisional masyarakat Paser dalam hal pemanfaatan tumbuhan di sekitar Kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut, Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur

1.3 Manfaat Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi bahan masukan dan bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah Kabupaten Pasir dalam upaya pengelolaan kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sistem Pengetahuan Tradisional Kluckhohn dalam Wibowo (1995) menyatakan bahwa kategori kebudayaan atau dikenal juga sebagai cultural universal meliputi 7 unsur, salah satu diantaranya adalah sistem pengetahuan. Sistem pengetahuan yang merupakan salah satu unsur kebudayaan muncul dari pengalaman-pengalaman individu yang disebabkan oleh adanya interaksi di antara mereka dalam menanggapi lingkungannya. Pengalaman itu diabstraksikan menjadi konsep-konsep, pendirian-pendirian atau pedoman-pedoman tingkah laku bermasyarakat (Wibowo 1995). Pengetahuan merupakan kapasitas manusia untuk memahami dan menginterpretasikan baik hasil pengamatan maupun pengalaman, sehingga bisa digunakan untuk meramalkan ataupun sebagai dasar pertimbangan dalam pengambilan keputusan (Sunaryo 2003). Istilah traditional knowledge atau pengetahuan tradisional mencakup pengetahuan, inovasi, dan praktek masyarakat adat dan komunitas lokal dalam kehidupan mereka. Pengetahuan tradisional telah berkembang sejak berabad-abad, diwariskan dari generasi selanjutnya secara lisan dan beradaptasi dengan budaya setempat dalam bentuk cerita, lagu, dongeng, nilai budaya, kepercayaan, ritual, hukum adat, bahasa dan praktek pertanian. Hal ini secara umum telah menjadi milik seluruh komunitas dan karenanya dipandang sebagai aset bersama (GTZ 2004). Secara bahasa tradisi berarti adat kebiasaan yang turun menurun (dari nenek moyang) yang masih dijalankan di masyarakat (Adimiwarta 1983) atau adat yang telah lama dijalankan dan dipengaruhi oleh hukum yang tidak tertulis (Guralnik 1996). Sedangkan tradisional berarti bersifat adat kebiasaan yang turun menurun (Adimiwarta 1983, Guralnik 1996). Pengetahuan ini merupakan hasil kreativitas dan uji coba secara terus-menerus dengan melibatkan inovasi internal dan pengaruh eksternal dalam usaha untuk menyesuaikan dengan kondisi baru (Sunaryo 2003).

2.2. Sistem Pengetahuan Masyarakat Dayak

Pengetahuan tradisional dan lokal seringkali dianggap statis dan tidak berubah, padahal kenyataannya mengalir dan merupakan agen transformasi (Ellen, Parks dan Bicker 2000 dalam Crevello 2003, Sunaryo 2003). Oleh karenanya pengetahuan tersebut dapat beradaptasi dan dapat dipengaruhi. Suku Dayak maupun suku lain yang menggunakan pengetahuan tradisional dalam pengelolaan lahan telah mengadaptasi strategi untuk mengembangkan teknik dan ideologi baru pada saat diperlukan. Walaupun demikian, nilai dari pengetahuan budaya Dayak tetap berada dalam setiap aspek kehidupan mereka. Dalam sejarah, suku Dayak dikenal memiliki ketergantungan terhadap sumberdaya hutan. Suku Dayak memiliki Sebagai orang yang memanfaatkan sumberdaya dengan lingkungan mereka dan telah hutan, lingkungan telah membentuk dan kebudayaan dan cara hidup mereka. kaitan mengembangkan sistem budaya yang kompleks dalam hubungannya dengan hutan yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup (Crevello 2003) Suku Dayak dulu hingga saat ini menerapkan sistem perladangan berpindah dengan padi gunung sebagai tanaman pokok dan dengan periode bera yang lama, agroforestry intensif dan pengambilan sumberdaya alam. Perladangan berpindah adalah suatu sistem pertanian yang kompleks dan identik dengan api atau pembukaan lahan. Proses ini mempercepat dekomposisi materi organik, sehingga nutrien dapat kembali ke dalam tanah. Setelah 3-5 tahun rotasi tanaman pangan, lahan akan dibiarkan untuk regenerasi. Sumberdaya lahan yang ditinggalkan tetap penting bagi masyarakat Dayak. Pada lahan yang ditinggalkan, agroforest yang intensif seringkali dipertahankan untuk memenuhi kebutuhan kayu dan makanan. Dalam banyak kasus, bekas ladang menjadi agroforest secara permanen (Crevello 2003) Hutan yang berada dekat dengan masyarakat adat lebih terkelola dan produktif. Peneliti-peneliti yang telah melakukan studi di Kalimantan menemukan bahwa terdapat beberapa skema pengelolaan hutan lestari yang berbeda dan pembukaan hutan primer yang minimal. Lawrence (1995) dalam Crevello (2003) menemukan bahwa lebih menguntungkan untuk mengambil sumberdaya di daerah agroforestry yang sudah terkelola dibandingkan dengan hutan primer karena hasil di hutan yang sudah terkelola lebih banyak. Masyarakat

Dayak menggunakan beberapa tipe hutan kebun untuk menghasilkan beberapa produk yang dapat dijual seperti durian, karet, obat-obatan dan kayu. Agroforest memilki keanekaragaman yang tinggi dan dalam jangka 30 tahun hanya dapat dibedakan dari hutan sekunder dan primer dari tingginya keberadaan pohon buah diantara keberadaan pohon yang lain (Lawrence 1995 dalam Crevello 2003). Meskipun masyarakat Paser tidak ingin disebut sebagai Dayak, namun ada beberapa kesamaan budaya dengan suku Dayak terutama Dayak Benua yang lokasinya cukup dekat. Dayak Benua mengelola beberapa tipe lahan; Uma adalah lahan pertanian, Uratn adalah lahan Uma yang sudah ditinggalkan namun tetap dipergunakan sumberdayanya, Simpukng adalah kebun buah, Kebon adalah lahan pengambilan sumberdaya seperti rotan dan karet. Walaupun sebagian besar lahan di Dayak Benua merupakan milik adat, pembagian lahan guna biasanya diwariskan kepada keluarga. Lahan biasanya dibagi antara saudara di dalam keluarga secara merata. Jika seseorang memilih untuk tidak menggarap lahan miliknya, maka saudara yang lain boleh menggunakan lahan ini. Komunitas akan meminjamkan lahan kepada orang yang pindah ke desa agar mereka bisa menghasilkan pangan sebagai kebutuhan pokok. (Crevello 2003) Lahan yang paling umum dipinjamkan adalah tipe Uma

2.3. Etnobotani Dewasa ini Etno- merupakan satu imbuhan yang populer karena ia merupakan salah satu cara singkat untuk menyatakan beginilah cara orang lain melihat dunia. Istilah etnoekologi semakin banyak digunakan untuk mencakup kesemua kajian yang menjelaskan interaksi masyarakat lokal dengan hidupan liar, termasuk sub-disiplin seperti etnobiologi, etnobotani, etnoentomologi dan etnozoologi (Martin 1998). Etnobotani berasal dari dua kata Yunani yaitu ethnos dan botany. Etno berasal dari kata ethos yang berarti memberi ciri pada kelompok dari suatu populasi dengan latar belakang belakang budaya yang sama dari adat istiadat, karakteristik, bahasa dan sejarahnya (Guralnik 1996); sedangkan botani adalah ilmu yang mempelajari tentang tumbuhan. Dengan demikian etnobotani berarti

kajian interaksi antara manusia dengan tumbuhan (Martin 1998) atau dapat diartikan sebagai studi mengenai pemanfaatan tumbuhan pada suatu budaya tertentu (Guralnik 1996). Terdapat empat usaha utama yang berkaitan erat dalam etnobotani, yaitu: (1) Pendokumentasian pengetahuan etnobotani tradisional; (2) Penilaian kuantitatif tentang pemanfaatan dan pengelolaan sumber-sumber botani; (3) Pendugaan tentang keuntungan yang dapat diperoleh dari tumbuhan, untuk keperluan sendiri maupun untuk tujuan komersial; dan (4) Projek yang bermanfaat untuk memaksimumkan nilai yang dapat diperoleh masyarakat lokal dari pengetahuan ekologi dan sumber-sumber ekologi (Martin 1998). Dokumentasi sebagai salah satu usaha utama dalam etnobotani merupakan pengumpulan bukti-bukti dan keterangan-keterangan (Adiwimarta 1983). Dalam Chambers Encyclopedia (1950) disebutkan bahwa dokumentasi dapat berupa dokumen tertulis, rekaman foto, majalah. Dalam hal botani, dokumentasi juga dilakukan dengan cara pengumpulan spesimen.

2.4. Pemanfaatan Tumbuhan Sumberdaya keanekaragaman hayati yang telah dimanfaatkan oleh manusia berabad-abad lamanya adalah sebuah bukti bahwa keanekaragaman hayati merupakan komponen vital kepentingan hidup manusia (Muhtaman 1997). Diantara sumberdaya hayati yang sering dimanfaatkan oleh manusia adalah tumbuhan. Pengelompokan penggunaan tumbuhan oleh Purwanto dan Waluyo (1992) dalam Kartikawati (2004) meliputi tumbuhan sebagai bahan sandang, bahan pangan, bangunan, alat rumah tangga dan alat pertanian, tali temali, anyam-anyaman, pelengkap upacara adat, obat-obatan dan kosmetika, kegiatan sosial dan kegunaan lain. Lebih jauh, PROSEA dalam Kartikawati (2004) membagi jenis pemanfaatan tumbuhan berdasarkan komoditas untuk berbagai keperluan yang meliputi pemanfaatan secara primer (primary use) dan sekunder (secondary use) seperti kacang-kacangan, buah-buahan, pewarna, pakan, kayu, rotan, bambu, sayur-sayuran, sumber karbohidrat, sereal, tumbuhan obat dan tanaman hias.

2.4.1 Tumbuhan Obat Menurut Departemen Kesehatan RI dalam Surat Keputusan Mentri Kesehatan No.149/SK/Menkes/IV/1978 dalam Kartikawati (2004), definisi tumbuhan obat adalah tanaman atau bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional atau jamu, atau sebagai bahan pemula bahan baku obat (prokursor), atau tanaman yang diekstraksi dan ekstrak tanaman tersebut digunakan sebagai obat.

2.4.2. Tumbuhan Penghasil Pangan Menurut Kamus Bahasa Indonesia, tumbuhan pangan adalah segala sesuatu yang tumbuh, hidup, berbatang, berakar, berdaun, dan dapat dimakan atau dikonsumsi oleh manusia (apabila dimakan oleh hewan disebut pakan). Contohnya yaitu buah-buahan, sayuran, kacang-kacangan, dan tumbuhan yang mengandung sumber karbohidrat.

2.4.3. Kacang-kacangan Maesen dan Soemaatmadja (1993) dalam Kartikawati (2004) mengelompokkan kacang-kacangan sebagai biji kering dapat dimakan (edible) dari polong-polongan suku Leguminosae. Kacang-kacangan yang dapat dimakan utamanya termasuk kedalam anak suku Papilionodeae. Kacang-kacangan sangat bermanfaat sebagai pangan yang kaya akan protein nabati.

2.4.4. Buah-buahan Buah-buahan adalah jenis buah-buahan tahunan yang dapat dimakan baik dalam keadaan segar maupun yang telah dikeringkan, umumnya dikonsumsi dalam keadaan mentah (Verheij dan Coronel 1992 dalam Kartikawati 2004). Sebagian kecil jenis buah yang umum dikenal masyarakat Indonesia antara lain durian (Durio zibethinus), mangga (Mangifera indica), salak (Zalacca salacca) dan jambu (Psidium guajava).

2.4.5. Tumbuhan Penghasil Zat Warna Tumbuhan penghasil zat warna adalah tumbuhan yang memiliki zat warna seperti misalnya kunyit (Curcuma domestica Valeton) yang digunakan untuk mewarnai makanan sehingga berwarna oranye dan daun suji (Pleomele angustifolia NE. Brown) untuk warna hijau (Kartikawati 2004). Selain makanan, pewarna dari tumbuhan lain dapat digunakan pula untuk mewarnai rotan atau bahan lain.

2.4.6. Tumbuhan Penghasil Pakan Ternak Pakan ternak adalah makanan yang diberikan kepada ternak. Menurut Mannetje dan Jones (1992) dalam Kartikawati (2004), tanaman pakan ternak adalah tanaman yang memiliki konsentrasi nutrisi rendah dan mudah dicerna yang merupakan penghasil pakan bagi satwa herbivora. Tanaman ini dapat diolah dan dibudidayakan meskipun ada pula yang tumbuh liar seperti alang-alang.

2.4.7. Tumbuhan Hias Tanaman hias merupakan salah satu komoditi holtikultura non pangan yang digolongkan sebagai holtikultur. Dalam kehidupan sehari-hari, komoditas ini dibudidayakan untuk dinikmati keindahannya (Arafah 2005).

2.4.8. Tumbuhan Aromatik Tumbuhan aromatik dapat juga disebut tumbuhan penghasil minyak atsiri. Tumbuhan penghasil minyak atsiri memiliki ciri bau dan aroma karena fungsinya yang paling luas dan umum diminati adalah sebagai pengharum, baik sebagai parfum, kosmetik, pengharum ruangan, pengharum sabun, pasta gigi, pemberi rasa pada makanan maupun pada produk rumah tangga lainnya. Minyak atsiri dapat diperoleh dengan cara ekstraksi atau penyulingan dari bagian-bagian tumbuhan (Agusta 2000 dalam Kartikawati 2004). Menurut Heyne (1987), tumbuhan yang menghasilkan minyak atsiri, antara lain adalah dari famili poaceae, misalnya akar wangi (Andropogon zizinioides); lauraceae, misalnya kulit kayu manis (Cinnamomum burmanii);

zingiberaceae, misalnya jahe (Zingiber officinate); piperaceae, misalnya sirih (Piper betle); santalaceae, misalnya cendana (Santalum album); anonaceae, misalnya kenanga (Canangium odoratum) dan sebagainya.

2.4.9. Tumbuhan Penghasil Pestisida Nabati Pestisida nabati adalah bahan aktif tunggal atau majemuk yang berasal dari tumbuhan yang dapat digunakan untuk mengendalikan organisme pengganggu tumbuhan. Pestisida nabati ini dapat berfungsi sebagai penolak, penarik, antifertilitas (pemandul), pembunuh dan bentuk lainnya. Secara umum pestisida nabati diartikan sebagai suatu pestisida yang bahan dasarnya berasal dari tumbuhan yang relatif mudah dibuat dengan kemampuan dan pengetahuan yang terbatas (Arafah 2005).

2.4.10. Tumbuhan Untuk Kegunaan Adat Beberapa tumbuhan memiliki sifat spiritual, magis dan ritual. Penggunaan tumbuhan untuk adat dapat berupa bentuk penggunaan dalam berbagai upacara adat. Dalam upacara-upacara adat yang dilakukan, terutama yang berkenaan dengan upacara daur hidup, tumbuhan banyak dipakai.

2.4.11. Tumbuhan Penghasil Kayu Bakar Menurut Sutarno (1996) dalam Arafah (2005), jenis pohon yang ditujukan untuk pemenuhan kayu bakar, harus memenuhi persyaratan antara lain: Beradaptasi pada rentangan kondisi lingkungan yang luas Pertumbuhan cepat, volume hasil kayu maksimal tercapai dalam waktu yang singkat Tidak merusak tanah dan menjaga kesuburannya Tahan penyakit dan hama Tahan terhadap kekeringan dan toleran iklim yang lain Pertumbuhan tajuk baik, siap tumbuh pertunasan yang baru Memiliki manfaat lain yang menguntungkan pertanian

Menghasilkan percabangan dengan diameter yang cukup kecil untuk dipotong dengan peralatan tangan dan mudah pengangkutannya Menghasilkan kayu yang mudah dibelah Menghasilkan sedikit asap dan tidak beracun apabila dibakar Tidak memercikan api dan cukup aman apabila dibakar Penelitian di daerah Malinau, Kalimantan Timur menunjukkan masyarakat

menyukai jenis yang mudah terbakar, baranya besar, abu sedikit dan asap tidak tebal. Jenis yang disukai di daerah tersebut adalah kayu keruing (Dipterocarpus sp.), Rambutan (Nephelium lappacelum) dan kinolon (Blumeodendron kurzii J.JS) (Kuspradini 1999).

2.4.12 Tumbuhan Penghasil Tali, Anyaman dan Kerajinan Tumbuhan penghasil tali, anyaman dan kerajinan adalah tumbuhan yang biasa digunakan untuk membuat tali, anyaman maupun kerajinan. adalah jenis rotan dan bambu. Menurut Isdijoso (1992) dalam Arafah (2005), tanaman yang termasuk dalam kelompok sumber bahan sandang, tali temali dan anyaman antara lain: kapas (Gossypium hirsutum), kenaf (Hibiscus cannabinus), rosella (Hibiscus sabdariffa), yute (Corchorus capsularis dan C. olitorius), rami (Boehmeria nivea), abaca (Musa textilis), dan agave/sisal (Agave sisalana dan A. cantula). Beberapa tumbuhan yang sering digunakan oleh masyarakat untuk membuat anyaman

III. KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

3.1

Hutan Lindung Gunung Lumut, Kalimantan Timur

3.1.1 Sejarah Hutan Lindung Gunung Lumut, Kalimantan Timur Hutan Lindung Gunung Lumut (HLGL) merupakan satu dari empat hutan lindung yang berada di Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur. Kawasan ini terletak di arah timur laut Tanah Grogot, ibukota Kabupaten Pasir dan berjarak lebih kurang 84 km dari Penajam. Pada tahun 70-an kawasan ini merupakan areal konsesi HPH PT Telaga Mas. Sejak tahun 1983, kawasan ini ditetapkan sebagai hutan lindung berdasarkan SK Menteri Kehutanan No.24/Kpts/Um/1983. Meskipun demikian, sampai saat ini kegiatan logging masih terjadi di dan sekitar kawasan HLGL, baik oleh beberapa konsesi yang memiliki HPH dan IPPK maupun kegiatan illegal logging. Hal ini telah memberi tekanan dan gangguan bagi keberadaan hutan lindung tersebut. Sejalan dengan itu, kesadaran sebagian masyarakat di dalam dan sekitar HLGL terhadap fungsi hutan lindung masih kurang. Pemanfaatan oleh masyarakat umumnya dengan mengambil rotan dan madu yang merupakan produk hutan non-kayu, namun sebagian masyarakat ada pula yang menebang kayu, baik untuk kebutuhan sendiri maupun dijual. Dari segi ekologis, kawasan HLGL memiliki peran strategis tidak saja bagi kelangsungan sistem kehidupan masyarakat sekitar, namun juga bagi keseluruhan masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Pasir. Salah satu ciri spesifik dari HLGL adalah formasi lahan yang mulai dari wilayah dataran di pinggiran sungai, perbukitan sampai pada gunung, dimana sebagian besar dari kawasan HLGL adalah wilayah perbukitan sampai pegunungan membentang sepanjang lebih kurang 58,5 km dari wilayah desa Muara Payang atau Kepala Telake di bagian Utara sampai pada wilayah desa Busui atau Songka di bagian Selatan, dengan lebar rata-rata 6,5 km. Kawasan ini juga merupakan daerah tangkapan air dari dua daerah aliran sungai (DAS) besar yang berada di Kabupaten Pasir, yaitu DAS Kendilo dan DAS Telake. Kedua Sungai ini sangat berperan bagi ketersediaan air bagi hampir 70

pemukiman dan kota-kota di bawahnya, termasuk Tanah Grogot, Batu Kajang, Muara Komam dan Long Ikis.

3.1.2 Letak dan Luas Secara geografis kawasan HLGL berada di Kabupaten Pasir, Kalimantan timur terletak diantara 11602 57 - 11650 41 Bujur Timur dan 0113 08 dan 01 45 33 Lintang Selatan dengan luas sekitar 42.000 ha dan sebagian besar terdiri dari hutan dataran rendah Dipterocarpaceae. batas kawasan. Wilayah Hutan Lindung Gunung Lumut dapat dilihat pada Gambar 1 yaitu garis kuning yang merupakan Lokasi penelitian ditandai dengan lingkaran berwarna merah muda dan ditunjuk tanda panah.

Desa Belimbing Dusun Mului

Desa Rantau Layung

Gambar 1. Peta Hutan Lindung Gunung Lumut

3.1.3 Iklim Berdasarkan data iklim 1994-1998, kawasan HLGL termasuk tipe iklim A (sangat basah) dengan nilai Q : 0,00 (klasifikasi Schmidt dan Ferguson, 1951). Namun demikian, bila dilihat per satuan tahun, tahun 1994 dan tahun 1997 menunjukkan nilai Q masing-masing 0,33 (agak basah) dan 1,00 (agak kering).

3.1.4 Keanekaragaman Flora Vegetasi pada kawasan HLGL terdiri dari hutan primer dan hutan sekunder dengan berbagai keanekaragaman jenis flora mulai dari tingkat pertumbuhan semai sampai dengan pohon. Sungkai (Peronema canescens), malimali (Leea indica) dan Buta ketiap (Milletia sp) merupakan jenis-jenis tumbuhan dominan pada komunitas hutan primer selain dijumpai pula asosiasi beberapa jenis yang tergolong suku Dipterocarpaceae, seperti Shorea laevis (Bangkirai) dan jenis Keruing (Dipterocarpus spp). Pada komunitas hutan sekunder jenis Mahang (Macaranga sp.) merupakan jenis dominan. Hasil hutan non kayu yang ada antara lain adalah rotan, madu, damar, gaharu, akar tunjuk, tumbuhan obat lainnya juga termasuk sarang burung walet (Aipassa, 2004).

3.1.5. Batas Wilayah Penduduk yang bertempat tinggal di sekitar kawasan HLGL terbagi dalam 4 kecamatan yaitu Kecamatan Long Ikis, Muara Komam, Telake dan Batu Sopang. Beberapa desa yang berbatasan dengan kawasan HLGL adalah: 1. Sebelah Utara : Desa Kepala Telake. Desa Rantau Layung, Desa Rantau Buta. 3. Sebelah Selatan : Desa Kasungai, Desau Busui, Desa Rantau Layung 4. Sebelah Barat : Desa Batu Butok, Desa Uko, Desa Muara Kuaro, Desa Prayon, Desa Long Sayo, Desa Swan Selutung Dari desa-desa yang berbatasan dengan kawasan HLGL, beberapa diantaranya memiliki wilayah di dalam kawasan seperti misalnya Desa Rantau Layung yang memiiliki kawasan hutan di dalam kawasan HLGL. Bahkan 2. Sebelah Timur : Desa Muara Lambakan, Desa Belimbing, Desa Tiwei,

terdapat satu pemukiman penduduk yaitu dusun Mului, desa Swanselutung yang berada di dalam kawasan HLGL.

3.1.6

Suku dan Agama (kepercayaan) Sebagian besar penduduk yang tinggal di sekitar kawasan Hutan Lindung

berasal dari etnis Paser. Etnis ini sebenarnya merupakan bagian dari suku Dayak, terlihat dengan adanya kemiripan dalam bahasa maupun adat istiadat, namun etnis Paser sendiri enggan disebut sebagai suku dayak karena pada umumnya mereka memeluk agama Islam. Mereka menganggap bahwa suku Paser bukanlah bagian dari suku Dayak dan nilai-nilai yang dianut dalam kehidupan sehari-hari pun berbeda, misalnya suku paser tidak memakan daging babi karena tidak diperbolehkan dalam ajaran agama yang mereka percayai. Namun seperti pada masyarakat dayak, masyarakat paser memiliki kepercayaan terhadap nenek moyang dan roh penjaga alam, misalnya dalam kegiatan berladang selalu diadakan upacara untuk menghormati penjaga alam. Dalam upacara adat ini terlihat pengaruh agama Islam yaitu dengan adanya pembacaan doa dan shalawat.

3.1.7. Mata Pencaharian Mata pencaharian penduduk sebagian besar adalah petani berladang. Hanya sebagian kecil saja yang memiliki mata pencaharian sebagai swasta atau pegawai negeri. Hal ini dikarenakan kegiatan berladang merupakan kegiatan utama untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dan sudah menjadi budaya yang sulit untuk ditinggalkan.

3.2.

Desa Rantau Layung

3.2.1 Letak dan Luas Desa Rantau Layung termasuk ke dalam Kecamatan Batu Sopang dan memiliki areal seluas 18.913 ha (17,02% dari luas total area kecamatan Batu

Sopang). Letaknya sekitar 150 km dari Ibukota Kabupaten Pasir yaitu Tanah Grogot. Desa Rantau Layung dikelilingi oleh hutan dan dilintasi oleh dua sungai besar yaitu Perayan dan Kesungai. Sungai merupakan sumber air utama untuk minum, mandi dan masak. Sebagian wilayah hutan desa Rantau Layung ini termasuk ke dalam kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut.

3.2.2. Aksesibilitas Untuk mencapai Desa Rantau Layung, dibutuhkan waktu sekitar 2 jam jalan darat dari persimpangan terdekat di Kecamatan Long Ikis. yang dilalui tidak diperkeras dengan Jalan yang digunakan merupakan jalan perkebunan areal sawit dan bekas jalan logging. Jalan batu, sehingga kendaraan yang tidak memilik double garda (4WD) akan mengalami kesulitan. Pada saat hujan, jalanan akan sangat licin dan sulit dilewati. Jalan menuju desa Rantau Layung melewati beberapa jembatan kecil dan dua jembatan besar. Beberapa kali jembatan kecil ambruk dan tidak dapat dilalui, sehingga akses menuju Rantau Layung terputus. Untuk memperbaiki jembatan, biasanya warga akan melakukan gotong royong. Sebelum masuknya perusahaan kayu ke daerah Rantau Layung, satusatunya sarana transportasi adalah perahu. Waktu tempuh dari desa rantau Layung ke kota terdekat Batu Kajang adalah 3 jam melalui sungai Kesungai, dan 5 jam untuk kembali karena perjalanan pulang menentang arus.

3.2.3. Kependudukan Menurut data desa, Desa Rantau Layung memiliki 54 KK, namun ada beberapa kepala keluarga yang saat ini bekerja dan tinggal di luar desa. Kepadatan penduduk rata-rata 1,15 orang/km2. Populasi di desa Rantau Layung meningkat 2,34% per tahun dalam lima tahun terakhir (TBI, 2006). Etnik yang dominan adalah Paser dan terdapat enam orang yang berasal dari luar etnik Paser yaitu Banjar dan Kapuas menetap di Desa Rantau Layung dan menikahi penduduk asli. Desa ini dipimpin oleh seorang kepala desa dan seorang kepala adat. Kepala desa mengurusi masalah administrasi formal dan kepala adat lebih mengurusi masalah adat. Kepala adat desa Rantau Layung juga

merupakan mulung yaitu semacam dukun adat dan memiliki kelebihan dalam acara mamang (semacam pembacaan mantra pada saat upacara adat) sehingga persyaratan dalam upacara adat tidak sebanyak jika dilakukan oleh orang biasa. Dari data hasil Bio Assessment yang dilakukan oleh TBI Indonesia pada tahun 2005, diketahui bahwa terdapat 30 orang penduduk yang menamatkan pendidikan dasar SD, 10 orang tamat SMP dan 3 orang yang menamatkan pendidikan SMA, bahkan ada seorang warga yang melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi dengan dibantu dana desa. Sedangkan penduduk lain tidak menamatkan pendidikan SD bahkan tidak mengenal pendidikan formal sama sekali. Bentuk rumah yang ada di desa Rantau Layung adalah rumah panggung yang terbuat dari kayu, termasuk dinding rumahnya. Hanya ada satu rumah yang terbuat dari batu dan semen, bentuknya pun tidak lagi seperti rumah panggung. Atap rumah yang digunakan antara lain adalah sirap dan seng, hampir tidak ada yang menggunakan genteng batu bata.

3.2.4. Fasilitas dan sanitasi Fasilitas publik yang ada di desa Rantau Layung adalah sebuah SD Negeri dan sebuah Masjid. Terdapat tiga guru yang mengajar kelas 1 sampai kelas 6 SD. Untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi, warga harus menyekolahkan anaknya di kota terdekat. Tidak ada bangunan Puskesmas yang tersedia di desa ini, namun terdapat Puskesmas keliling yang biasanya datang sebulan sekali. Fasilitas lain yang tersedia di desa ini adalah tempat penggilingan padi yang dioperasikan setiap hari sabtu dan minggu. Saat ini tengah dibangun sebuah kantor desa dan rumah dinas yang akan dipergunakan untuk menjamu tamu dari luar desa. Tidak tersedia listrik di desa Rantau Layung kecuali yang berasal dari generator pribadi dan generator yang dimiliki oleh desa. Jaringan kabel listrik telah disambungkan ke rumah-rumah warga, dan warga yang ingin mendapatkan sambungan listrik namun tidak memiliki generator pribadi harus membayar seharga satu liter solar yaitu sekitar tujuh ribu rupiah permalam. Tidak semua warga mampu membayar untuk sambungan listrik tiap malam sehingga tidak

semua rumah menyalakan lampu pada malam hari. Umumnya penduduk akan berkumpul di rumah warga lain yang memiliki TV dan parabola. televisi. Penduduk Rantau Layung menggunakan air sungai untuk keperluan sehari-hari. Tidak terdapat WC ataupun kamar mandi di setiap rumah, sehingga sungai menjadi tempat untuk mandi, mencuci sekaligus sebagai sumber air minum. Walaupun ada sungai kecil yang biasanya dibendung untuk menjadi sumur, namun bila tidak turun hujan maka sumur ini akan mengering. Selain sungai, air hujan juga merupakan sumber air utama. Tidak ada fasilitas komunikasi di desa ini, tidak ada telepon dan tidak ada pos maupun surat kabar. Warga yang hendak mengirimkan surat harus pergi ke kota kecamatan terdekat. Tontonan favorit adalah sinetron dan tayangan sepakbola yang ditayangkan oleh stasiun

3.2.5. Mata Pencaharian Mata pencaharian utama penduduk desa adalah petani berladang. Setiap KK memiliki sekitar 1-2 ha ladang yang ditanami dengan padi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari. Pendapatan lain diperoleh dari pengumpulan hasil hutan non kayu seperti buah, madu dan binatang buruan. Hasil lain adalah rotan yang ditanam di kebun dan biasanya dijual di kota Batu Kajang. Pada tahun 1995 sampai dengan Juni 2005 sumber pendapatan dari penduduk desa Rantau Layung adalah penjualan kayu dari hutan di sekeliling desa mereka bahkan terkadang sampai masuk ke dalam kawasan Hutan Lindung (Bio Assessment, TBI Indonesia 2006). Namun sejak adanya operasi Wana Lestari pada bulan Juli tahun 2005, pengambilan kayu tidak lagi dilakukan.

3.2.6. Sistem Pertanian dan Penggunaan Lahan Masyarakat Desa Rantau Layung menerapkan sistem perladangan bergilir dengan tanaman pokok berupa padi dan tanaman palawija. Pada saat penanaman dilakukan juga penanaman bibit pohon buah atau pohon karet. Umumnya periode penggunaan ladang adalah satu tahun, maksimal penggunaan lahan ladang adalah tiga tahun dan setelah lewat masa itu ladang akan ditinggalkan untuk menjadi

kebun.

Pada umumnya kebun ditanami pohon buah, rotan ataupun tanaman

budidaya lain. Saat ini masyarakat desa Rantau Layung juga mulai menanam karet di kebun mereka. Lahan di desa Rantau Layung merupakan lahan bersama masyarakat, namun kini telah banyak dari lahan-lahan tersebut yang diklaim secara individu dan dibuat sertifikat tanah. Hal ini beberapa kali menimbulkan permasalahan diantara warga desa karena perebutan lahan. Desa Rantau Layung memiliki alas atau hutan yang dilindungi oleh adat dan tidak boleh dibuka atau diadakan pemanfaatan lahan kecuali bila ada kesepakatan dari seluruh warga desa. Alas atau hutan nareng merupakan contoh dari hutan terlarang yang tidak dipergunakan oleh warga untuk kebutuhan apapun.

3.3

Dusun Mului

3.3.1 Letak Dusun Mului merupakan bagian dari Desa Swanselutung, Kecamatan Muara Komam. Dusun ini terletak di bagian utara Hutan Lindung Gunung Lumut dan sebagian besar wilayah dusun Mului masuk ke dalam kawasan Hutan Lindung, termasuk wilayah pemukiman penduduknya. Dusun Mului dikelilingi oleh hutan dan ladang milik warga di sebelah selatan. Jalan logging melintas di tengah pemukiman dan membelah pemukiman Dusun Mului menjadi dua.

3.3.2 Aksesibilitas Pemukiman Dusun Mului terletak di pinggir jalan logging yang sekaligus merupakan akses jalan menuju desa induknya yaitu Swan Selutung. Perjalanan menuju desa induk biasanya dilakukan dengan sepeda motor dengan jarak tempuh sekitar satu setengah jam. Jalan logging ini pula yang menghubungkan masyarakat Dusun Mului dengan kota terdekat. Perjalanan menuju lokasi dusun Mului membutuhkan waktu sekitar enam jam dari Balikpapan dengan menggunakan mobil, atau sekitar dua jam dari

Kecamatan Long Ikis. Karena jalan logging masih digunakan oleh perusahaan, maka kondisi jalan relatif baik kecuali pada saat hujan sehingga menyebabkan jalanan licin. Warga Dusun Mului umumnya menggunakan sepeda motor untuk bepergian ke desa induk atau ke kota terdekat. Transportasi air tidak lagi digunakan sejak pemukiman mereka pindah ke pinggir jalan logging. Alasan lain sehingga perahu tidak lagi digunakan adalah banyaknya riam dan batuan besar di sungai, sehingga lebih nyaman menggunakan jalan darat.

3.3.3 Kependudukan Masyarakat Dusun Mului seluruhnya adalah etnis Paser, kecuali guru yang berasal dari Banjar. Jumlah penduduk adalah 18 Kepala Keluarga dengan jumlah 121 orang, walaupun hanya ada 18 KK namun terdapat 50 rumah di Dusun Mului yang merupakan bantuan dari Dinas Sosial Kabupaten Pasir. Dusun ini dipimpin oleh seorang kepala RT dan kepala adat. Peran kepala adat di dusun ini terasa lebih berpengaruh dibandingkan lokasi penelitian lain. Keputusan kepala adat sangat berpengaruh terhadap keputusan warga desa yang lain, walaupun selalu ada mekanisme musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan. Warga dusun Mului pada umumnya tidak bersekolah, kecuali beberapa orang yang sempat bersekolah di desa atau kota lain. Namun setelah SD yang ada di dusun Mului mulai digunakan sekitar tahun 2003, anak-anak usia sekolah atau yang lebih tua mulai pergi ke sekolah yang memiliki tiga ruangan dan kini baru diadakan hingga tingkat kelas 4 SD. Orang-orang yang lebih tua dan tidak bersekolah banyak juga yang dapat melakukan baca tulis karena pernah ada program baca tulis untuk warga yang diadakan oleh LSM. Bentuk rumah di dusun Mului adalah rumah panggung dan dibangun dengan bentuk serupa namun telah mengalami perubahan sesuai dengan selera pemiliknya. Rumah yang ada di dusun Mului pada umumnya memiliki satu ruangan besar yang berfungsi sebagai ruang serbaguna, sebuah dapur dan sebuah kamar. Tidak jarang pula rumah yang tidak memiliki ruangan terpisah melainkan hanya sebuah ruangan besar, sehingga pada malam hari dengan menggelar tempat

tidur dan terkadang menggunakan kelambu ruangan tersebut menjadi kamar tidur mereka.

3.3.4 Fasilitas dan sanitasi Fasilitas umum yang ada di Dusun Mului adalah SD yang baru mulai digunakan sekitar dua tahun lalu dan, masjid, balai pertemuan, dua WC dan kamar mandi. Sumber air utama adalah sungai, yaitu Sungai Lelam dan Sungai Mului yang keduanya berjarak sekitar dua kilometer dari pemukiman. Selain sungai, hujan juga merupakan sumber air utama untuk kebutuhan sehari-hari dan mengairi ladang. Sungai Lelam terletak di dekat jalan logging sehingga masyarakat lebih sering menggunakan sungai ini karena aksesnya lebih mudah sedangkan jalan menuju Sungai Mului, kendati lebih besar namun lebih sulit sehingga jarang yang menggunakannya kecuali pada musim kemarau saat Sungai Lelam mulai mengering. Fasilitas penggilingan padi hanya terdapat di desa induk Swan Selutung sehingga warga dusun Mului setiap bulannya pergi untuk menggiling padi. Komunikasi warga dusun dengan warga luar dilakukan melalui perantara kurir atau perantara pekerja perusahaan kayu yang melewati dusun Mului. menonton televisi bersama di gedung SD. Solar untuk generator didapatkan melalui bantuan PT. Rizki Kacida Reana, perusahaan kayu yang selalu melintas di tengah pemukiman dusun Mului. Solar yang diberikan mencapai satu drum perbulan. pembangkit listrik tenaga air di sungai Mului. Saat ini tengah direncanakan sumber listrik lain bagi warga desa dan tengah direncanakan untuk membangun Dusun Mului memiliki sebuah generator desa dan sebuah parabola yang digunakan untuk

3.3.5 Mata Pencaharian Masyarakat Dusun Mului adalah petani hanya beberapa orang yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan kayu dan bekerja di desa lain. Pendapatan lain diperoleh dari penjualan buah, binatang buruan, madu dan gaharu walaupun kini sudah sangat jarang yang mendapatkan gaharu. Sumber

pendapatan lain adalah emas yang didapat dengan mendulang secara tradisional, namun pendulangan emas jarang dilakukan kecuali saat musim kemarau dan hasil panen sulit didapatkan. Rotan tidak menjadi sumber pendapatan bagi warga dusun Mului, karena lahan tempat rotan yang biasa mereka ambil untuk panen hancur ketika ada pembangunan lahan HTI sengon yang pada akhirnya tidak berhasil dan sekarang menjadi lahan kosong. Setahun belakangan masyarakat Mului mulai menanam rotan di kebun mereka setelah adanya penyuluhan dan pembentukan kelompok tani rotan oleh pemda.

3.3.6 Sistem Pertanian dan Penggunaan Lahan Sistem pertanian yang ada di dusun Mului adalah perladangan bergilir, dengan periode perladangan tidak lebih dari tiga tahun. Umumnya masyarakat membuat ladang di luasan yang tidak terlalu besar dan dekat dari rumah mereka. Ladang di dusun Mului semuanya terletak di area lereng karena sangat sulit untuk menemukan lahan datar yang dekat dengan rumah mereka. Hasil panen ladang tidak mencukupi untuk kebutuhan konsumsi sepanjang tahun, oleh sebab itu masyarakat harus memenuhi kekurangan pangan dengan cara membeli dari orang lain. Selain ladang, warga juga memiliki kebun yang ditanami pohon buah dan rotan. Kebun rotan yang ada baru berusia satu tahun karena baru ditanam, sedangkan rotan yang dulu ditanam oleh warga ketika masih tinggal di tepi sungai Mului tidak dipanen karena sudah terlalu lebat sehingga menyulitkan untuk memanennya. Lahan di desa Mului secara umum terbagi atas pemukiman, ladang dan hutan. Hutan yang berada di dalam kawasan adat Mului tidak boleh diambil kayunya kecuali untuk keperluan pembangunan rumah dan kepentingan warga setelah meminta izin kepala adat. Lahan di dusun Mului adalah lahan komunal yang dimiliki oleh seluruh warga. Lahan ladang dan kebun dapat dipergunakan dan menjadi hak orang yang mengelolanya, namun lahan tersebut tidak boleh diperjualbelikan. Warga dusun Mului menolak untuk mensertifikasi lahan mereka karena menganggap itu akan

menjadi sumber perpecahan antara warga dan ada kekhawatiran bahwa lahan yang disertifikasi akan lebih mudah untuk berpindah tangan yang berakibat pada berkurangnya lahan desa.

3.4

Desa Belimbing

3.4.1 Letak Desa Belimbing termasuk kedalam Kecamatan Long Ikis dan berjarak sekitar 20 km dari simpang pait yang menghubungkan dengan kota kecamatan Long Ikis. Desa ini terbagi menjadi tiga dusun dan dua diantaranya merupakan dusun transmigrasi dan letaknya agak jauh dari dusun asli. jauh dari pemukiman penduduk. Wilayah desa Belimbing berbatasan dengan Hutan Lindung Gunung Lumut namun jaraknya

3.4.2 Aksesibilitas Desa Belimbing dilalui oleh jalan propinsi yang membentang dari simpang pait hingga ke daerah Kepala Telake, namun jalan tersebut dalam kondisi sangat rusak sehingga jarak 20 km dapat ditempuh selama dua jam. Pada saat hujan, jalanan akan sangat licin, sehingga tidak jarang mobil maupun motor yang terperosok dan sulit untuk melanjutkan perjalanan. Transportasi sungai jarang digunakan karena banyaknya riam dan batu yang menghalangi jalan, sehingga warga lebih senang menggunakan jalan darat walaupun rusak. Transportasi umum berupa taksi (angkutan umum) tersedia namun tidak banyak dan tidak menentu waktunya.

3.4.3 Kependudukan Penduduk desa Belimbing terbagi atas pendatang dan penduduk asli dengan jumlah Kepala Keluarga sebanyak 109 KK. Pendatang berasal dari Umumnya berbagai daerah antara lain Banjar, Sulawesi Tengah dan Jawa.

masyarakat Jawa yang tinggal di Desa Belimbing merupakan peserta program

transmigrasi. Penduduk di dusun asli berasal dari etnis Paser dan tinggal agak terpisah dari dusun yang lain. Karena letaknya yang lebih dekat dengan kota, penduduk Desa Belimbing memiliki tingkat pendidikan yang lebih merata dan lebih tinggi dibandingkan dengan lokasi penelitian yang lain. Desa Belimbing dipimpin oleh seorang kepala desa dan kepala adat. Kepala adat saat ini berumur relatif muda dan baru diangkat sekitar 6 bulan menggantikan kepala adat sebelumnya yang meninggal dunia.

3.4.4 Fasilitas dan sanitasi Desa Belimbing memiliki bangunan SD dan SMP juga sebuah masjid dan balai desa. Terdapat tempat penggilingan padi yang dioperasikan jika ada yang hendak menggiling padi. Terdapat sebuah generator di Desa Belimbing namun penggunaannya tidak dapat dinikmati oleh seluruh warga karena tidak ada jaringan listrik antar rumah dan jarak yang jauh antara satu rumah dan rumah yang lain dengan sumber listrik mempersulit untuk pendistribusian. Generator desa tidak lagi difungsikan dan kebanyakan warga yang mampu memilih untuk memilki generator pribadi yang ukurannya lebih kecil. Adapun bagi beberapa perangkat desa, mendapat bantuan berupa pembangkit listrik tenaga matahari yang cukup mampu sebagai sumber listrik bagi lampu di malam hari. Walaupun Desa Belimbing kesulitan mendapatkan listrik, terdapat sebuah perangkat komputer desa yang disimpan di tempat kepala desa yang berasal dari bantuan. Sebuah WC juga dibangun di belakang balai desa untuk dipergunakan oleh tamu yang berasal dari luar desa. Sumber air utama adalah sungai dan air hujan, banyak juga terdapat sumur yang merupakan hasil bendungan aliran sungai kecil.

3.4.5 Mata Pencaharian Sebagian besar warga desa Belimbing bermata pencaharian sebagai petani berladang, beberapa melakukan wiraswasta atau berdagang. Tidak banyak yang menjual rotan sebagai sumber pendapatan. Mata Pencaharian di Desa Belimbing lebih beragam dibandingkan dengan dua lokasi penelitian yang lain.

Sebelum tahun 2001, pendapatan utama penduduk desa Belimbing adalah pisang. Rata-rata penduduk memiliki kebun pisang seluas 1-2 Ha. Pisang yang dihasilkan oleh desa Belimbing ini bahkan dapat mencapai Balikpapan dan pulau Jawa. Masyarakat mulai mengganti tanaman kebun lain dan menggantinya dengan pisang, namun pada tahun 2001 tanaman pisang di desa ini terkena penyakit yang menyebabkan batang rusak, daun pisang menguning dan buah pisang membusuk walaupun penampakan luarnya baik. Oleh sebab itu, perkebunan yang ada di desa Belimbing rata-rata masih berupa bekas tanaman pisang dan belum banyak ditanami oleh tanaman lain. Usaha perkebunan lain yang banyak dilakukan oleh masyarakat desa Belimbing adalah perkebunan kelapa sawit yang memang banyak dilakukan di daerah Kalimantan Timur, Kabupaten Pasir pada khususnya.

3.4.6 Sistem Pertanian dan Penggunaan Lahan Sistem pertanian yang dilakukan adalah perladangan berpindah dan tidak ada sistem persawahan. Secara adat sebenarnya lahan desa merupakan milik bersama, namun kini pemilikannya sudah lebih individu dengan disertai sertifikat. Penggunaan lahan di desa Belimbing adalah untuk kebun, ladang dan pemukiman. Lahan hutan yang tersisa adalah hutan reboisasi seluas 500 Ha dan tidak diperbolehkan adanya pemanfaatan kecuali pengambilan buah. Hutan desa Belimbing terletak jauh dari pemukiman dan telah beberapa kali ditinjau oleh perusahaan pertambangan batu bara yang tertarik untuk membuka usaha di tempat tersebut.

IV. METODE PENELITIAN

4.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilaksanakan di desa sekitar kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut, Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur yaitu Desa Rantau Layung, Dusun Mului dan Desa Belimbing pada bulan Oktober hingga Desember 2005 dan pada bulan Januari 2006. Waktu efektif penelitian di lapangan adalah 2 bulan.

4.2 Bahan dan Peralatan Penelitian dilakukan diantara masyarakat suku Paser di lokasi penelitian. Bahan yang digunakan adalah publikasi dan laporan penelitian yang dilakukan oleh pihak lain dan alkohol 70%. Peralatan yang digunakan yaitu alat tulis, panduan wawancara, kamera, alat perekam suara, kertas koran, kantong plastik, lakban, label, karton dan tali.

4.3 Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dilakukan dengan teknik partisipasi langsung dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dan bekerjasama dengan nara sumber yang dianggap memiliki pengetahuan luas atau spesifik dari adat budayanya (informan), seperti tokoh adat, ahli pengobatan tradisional dan masyarakat yang memiliki pengetahuan terhadap tumbuh-tumbuhan. Sebagian dari data yang digunakan merupakan hasil dari kegiatan Gunung Lumut Biological Diversity Assessment yang dilakukan oleh Tropenbos International Indonesia bekerjasama dengan Litbang Kehutanan dan CIFOR di desa Rantau Layung dan Dusun Mului pada tanggal 14 November sampai dengan 4 Desember 2005. Peneliti ikut terlibat dalam kegiatan ini sebagai asisten. Dalam kegiatan Bio-assessment ini terdapat beberapa cara pengumpulan data dari masyarakat, yaitu: Pertemuan Masyarakat (Community Meeting)

Pertemuan ini dilaksanakan di Rantau Layung pada tanggal 13 November 2005 dan dihadiri oleh sekitar 30 orang dan dilaksanakan di dusun Mului pada tanggal 15 November 2005 dengan dihadiri oleh lebih dari 40 orang. Pertemuan ini selain untuk memperkenalkan anggota tim juga bertujuan untuk mendapatkan gambaran mengenai keadaaan lanskap desa mereka juga mengkategorikan berbagai kegunaan lokal dan membuat kalender musim desa mereka. Diskusi Kelompok Terfokus (Focus Group Discussion) Dari pertemuan komunitas, dibentuk empat kelompok dari tiap desa yang beranggotakan lima hingga tujuh orang warga yang mewakili kelompok laki-laki muda, laki-laki tua, perempuan muda dan perempuan tua. Kelompok ini kemudian akan berdiskusi selama 3 hari didampingi oleh fasilitator dan topik yang dibahas termasuk sumberdaya alam, lanskap khusus atau unik di desa masing-masing. Dalam diskusi ini juga digunakan Metode Distribusi Kerikil (Pebble Distribution Method) untuk mengetahui tingkat kepentingan lanskap dengan fokus khusus kepada hutan dilihat dari kegunaannya, jarak dan waktu, sumber konsumsi dan spesies yang paling penting (lihat Sheil 2002).

Wawancara Individu Dilakukan terhadap warga Paser untuk mengetahui penggunaan sumberdaya alam, pandangan terhadap kegiatan konservasi dan kawasan lindung, pengeluaran pribadi sebagai pendekatan terhadap pendapatan lokal. Wawancara dilakukan dengan metode sampling dengan Intensitas Sampling sebesar 30%. Tahapan kegiatan dan aspek yang dikaji dalam pelaksanaan penelitian ini

adalah sebagai berikut: Tahap I : Survey Lapangan (pengumpulan data pokok dan data penunjang serta pengumpulan herbarium).

Tahap II

: Identifikasi jenis-jenis tumbuhan secara umum yang dihasilkan sebelumnya dan identifikasi jenis-jenis tumbuhan berguna yang dihasilkan pada tahap I.

Tahap III

: Pengolahan dan analisis data dari informasi yang diperoleh sebelumnya pada tahap I dan II.

Aspek yang dikaji untuk seluruh tahapan tersebut di atas dan metode yang dilakukan disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Tahapan Kegiatan dan Aspek yang DikajiTahapan Kegiatan A. Kajian Kondisi Umum Lokasi Kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut Aspek Yang Dikaji 1. Letak Geografis 2. Luas Wilayah 3. Batas Wilayah 4. Iklim 5. Keadaan penduduk 6. Pola penggunaan lahan 7.Kondisi sosial ekonomi masyarakat B. Kajian Etnobotani Tumbuhan di kawasan HLGL 1. Pemanfaatan tumbuhan a.Jenis tumbuhan yang dimanfaatkan b. Habitus c. Macam pemanfaatan d.Aturan berlaku C. Identifikasi jenis jenis tumbuhan a. Nama lokal b. Nama botani c. Nama famili d. Habitus/bentuk hidup e. Kegunaan f. Bagian yang digunakan D. Pengolahan dan analisis data 1. Pengolahan data 2. Analisis data 1. Herbarium 2.Cek silang dengan buku/pustaka adat yang 1. Wawancara 2. Survey lapangan Metode Studi pustaka

4.3.1. Studi Pustaka

Studi pustaka dilakukan sebelum berangkat ke lokasi penelitian untuk mendapatkan gambaran mengenai kondisi lokasi penelitian (mencakup fisik, biotik, dan kependudukan) dan dilakukan setelah tiba di Bogor untuk mendapatkan data tambahan. Pustaka yang digunakan adalah penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh peneliti lain, buku dan publikasi lain selain buku dan sumber dari internet.

4.3.2. Herbarium Herbarium dibuat dengan cara basah. Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam pembuatan herbarium ini adalah: Mengambil contoh herbarium yang terdiri dari ranting lengkap dengan daunnya, bunga dan buahnya juga diambil jika ada. Contoh herbarium tadi dengan menggunakan gunting daun, dipotong dengan panjang kurang lebih 40 cm. Kemudian contoh herbarium dimasukkan ke dalam kertas koran dengan memberikan etiket yang berisi keterangan tentang nomor spesies, nama lokal, lokasi pengumpulan dan nama pengumpul/kolektor. Selanjutnya beberapa herbarium disusun diatas sasak yang terbuat dari bambu dan disiram dengan alkohol 70% untuk selanjutnya dibawa ke camp. Herbarium tersebut kemudian dikirimkan ke Wanariset Samboja, Kalimantan Timur untuk identifikasi lebih lanjut.

4.4 Analisis Data Hasil identifikasi jenis tumbuhan disusun berdasarkan famili dan jenis dan disusun dalam kelompok kegunaan sebagai hasil wawancara dengan masyarakat, dan disajikan dalam klasifikasi seperti pada Tabel 2. Tabel 2 Klasifikasi Kelompok KegunaanNo. 1 2 Kelompok Kegunaan Makanan Utama (Padi) Makanan Sekunder 2.1. Buah 2.2.Sayur 2.3.Minuman

3 4 5 6 7 8 9 10 11

2.4.Karbohidrat Obat Hias Aromatik Pakan Zat pewarna dan tanin Adat Kayu Bakar Bahan Bangunan Tali, anyaman dan kerajinan

Hasil diskusi kelompok dengan menggunakan Metode Distribusi Kerikil secara merupakan hasil pembobotan pilihan masyarakat, sehingga semakin banyak kerikil yang diberikan kepada suatu jenis maka jenis tersebut memiliki nilai penting yang tinggi pula (lihat Sheil 2002). Secara sederhana metode kerikil ini menggantikan pembobotan dengan angka mulai dari skala 1-100 dengan menggunakan kerikil.

Kerangka Pemikiran Hutan Lindung Gunung Lumut memiliki sumberdaya alam yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat Paser, yang tinggal di sekitar hutan tersebut. Pola pemanfaatan sumberdaya alam ini tidak terlepas ilmu pengetahuan tradisional yang dimiliki oleh masyarakat tersebut. Pengetahuan ini biasanya diturunkan turun temurun secara lisan kepada generasi muda. Namun ada kekhawatiran bahwa pengetahuan ini akan hilang sebelum sempat diturunkan karena orang yang memiliki pengetahuan meninggal sebelum menyebarkan ilmunya atau generasi selanjutnya tidak tertarik untuk mempelajari pengetahuan tersebut. Langkah awal penelitian ini adalah menggali informasi mengenai pengetahuan tradisional masyarakat Paser, khususnya mengenai pemanfaatan sumberdaya tumbuhan melalui informan dan masyarakat. Informasi yang didapat akan di periksa silang dengan menanyakan ulang kepada informan dan dengan mengecek pustaka. Hasil penggalian informasi akan menjadi dokumentasi pengetahuan tradisional masyarakat Paser sehingga dapat dipelajari oleh masyarakat Paser sendiri dan peneliti yang lain.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Penggunaan Lahan Pada ketiga desa penelitian, penggunaan lahan secara umum adalah pemukiman, ladang, kebun dan hutan seperti yang dapat dilihat pada Tabel 3. Tipe-tipe lahan tersebut memiliki pola pemanfaatan dan jenis tumbuhan yang berbeda. Tabel 3. Tipe Lahan di Lokasi PenelitianNo. Desa Tipe Lahan dan Hutan Mata air asin (sopan), Air terjun, Bekas ladang muda (Lati burok), Bekas ladang tua (Lati tuo), Gn. Berani (Tempat pohon madu), Gn. Karembalu (Tempat agathis), Goa, Hutan adat (alas adat), Hutan Muda (Alas burok), Hutan Tua (Alas tuo), Kampung (Tanah rian), Kebon kopi, Kebon we (rotan), Ladang (umo), Lokasi ulin (atang lelam), Mului lama, Rawa (payo), Sungai (Suong bosa) Hutan (alas), Kebun (karet, rotan, kelapa), Kebun buah (sipung bua), Ladang (umo), Lati Pengramu, Pemukiman (strat), Sungai (sunge) Hutan, Kebun, Ladang, Pemukiman, Sungai

1

Mului*

2 3

Rantau Layung* Belimbing

Sumber:*FGD Tim Sosek GLBA, TBI Indonesia 2005

Tipe lahan dan hutan di daerah Mului lebih beragam daripada di daerah penelitian lain, walaupun secara garis besar penggunaan lahannya sama. Keberagaman ini terjadi karena penyebutan lahan yang spesifik, misalnya Gunung Karembalu yang dikenal sebagai tempat tumbuhnya agathis atau jombu sebagai salah satu tumbuhan yang penting untuk acara adat. Secara adat, lahan yang termasuk kedalam wilayah desa merupakan lahan milik desa, tidak diperkenankan kepemilikan secara perorangan dan tidak boleh dijual kepada orang luar Paser. Lahan kebun dan ladang juga pada dasarnya merupakan lahan milik desa namun masyarakat memiliki hak guna selama lahan tersebut dikelola. Jikapun ada masyarakat luar yang ingin menetap di desa tersebut dan ingin membuka ladang, maka lahan akan dipinjamkan kepada orang tersebut setelah meminta izin kepala adat.

Namun, saat ini terjadi perubahan. Lahan mulai dimiliki secara individu dan sudah dibuat sertifikat tanah untuk lahan yang dikelola, terutama lahan yang telah ditanami tanaman yang menguntungkan secara ekonomi seperti sawit, rotan dan pisang. Dengan demikian hasil dari lahan tersebut dapat digunakan untuk membayar pajak. Pengecualian untuk Dusun Mului yang terletak di dalam kawasan HLGL. Masyarakat di Mului masih memegang nilai adat bahwa semua lahan adalah milik desa, milik bersama dan tidak diperbolehkan membuat sertifikat tanah. Menurut mereka, pembuatan sertifikat hanya akan menimbulkan perpecahan diantara masyarakat yang diakibatkan perebutan lahan. Masyarakat Mului juga tidak memperbolehkan orang diluar Paser untuk mengelola lahan di wilayah mereka, kecuali bila orang tersebut menikah dengan penduduk Mului, itupun diatasnamakan pasangan mereka yang merupakan penduduk Mului.

5.1.1 Hutan

Gambar 2. Salah satu puncak Gunung Lumut dilihat dari dusun Mului Hutan atau dalam bahasa lokal disebut alas merupakan wilayah yang tidak pernah dijadikan ladang atau bekas ladang yang sudah sangat lama ditinggalkan sehingga sudah ditumbuhi banyak pepohonan yang dibiarkan tumbuh dengan liar. Secara fisiografik, bentuk lahan Hutan Lindung Gunung Lumut merupakan dataran perbukitan (Saragih 2004) dan memiliki beberapa puncak. Gambar 2 merupakan salah satu puncak yang dilihat dari daerah Mului. Puncak tertinggi yang ada di Gunung Lumut memiliki ketinggian sekitar 1300 mdpl (TBI 2005) sehingga hutan yang ada dapat dikategorikan hutan hujan dataran rendah.

Masyarakat percaya ada beberapa tempat tertentu di dalam hutan yang dikenal dengan hutan mori atau hutan larangan yang harus dihindari karena angker, jika ada kegiatan yang dilakukan di tempat tersebut maka akan mendatangkan kejadian buruk. Masyarakat Paser juga percaya bahwa seseorang harus meminta ijin kepada roh penjaga hutan jika ingin memasuki hutan, terlebih jika terdapat serombongan orang dengan jumlah yang besar maka harus diadakan upacara adat untuk menghindari bala. Selama ini, jika ada orang luar yang bukan penduduk desa maka diperbolehkan memasuki wilayah hutan asalkan tidak merusak dan telah memenuhi syarat yang ditentukan. Wilayah Hutan Lindung Gunung Lumut terbagi atas 13 wilayah adat, termasuk diantaranya hutan adat. Batas antar hutan adat telah disepakati oleh para ketua adat dan umumnya dibatasi dengan tanda alam, seperti misalnya hutan adat Mului dan Rantau Layung yang dibatasi oleh pohon madu. Pemanfaatan di wilayah hutan ini diperbolehkan untuk tujuan memenuhi kebutuhan warga. Hutan merupakan penyedia kebutuhan baik kayu untuk membangun rumah maupun non-kayu seperti buah. Hutan juga merupakan tempat tumbuh pohon puti atau pohon madu yang merupakan salah satu sumber pendapatan penduduk.

5.1.2. Kebun Kebun biasanya merupakan lahan bekas ladang yang kemudian ditanami dengan berbagai tanaman seperti misalnya pohon buah, rotan, pinang, kopi, karet maupun pisang. Masyarakat tidak melakukan perawatan secara intensif di dalam kebun, hanya menyiangi tumbuhan tertentu agar tidak terganggu rumput liar. Kecuali untuk kebun yang ditanami sawit dan karet yang memerlukan pengelolaan lebih intensif. Batas antar kebun telah disepakati bersama dan tidak ada pal batas yang membatasi kebun satu dengan kebun yang lain, batas yang digunakan adalah tanaman yang dijadikan pembatas seperti misalnya pisang. Setiap anggota pada satu keluarga dapat saja memiliki kebun masing-masing karena lahan bekas ladang yang ditinggalkan dapat diberikan kepada mereka.

Tergantung kepada lahan yang dulu dijadikan ladang, kebun bisa berada di belakang pekarangan rumah atau berjarak beberapa kilometer.

5.1.3. Ladang Ladang merupakan tempat bercocok tanam makanan utama yaitu padi gunung. Ladang juga ditanami dengan beberapa jenis tanaman pangan seperti gambas dan timun. Sebagian besar waktu masyarakat dihabiskan disana, bahkan beberapa orang lebih memilih untuk menginap di rumah ladang karena letaknya jauh dari rumah mereka di desa. Sistem perladangan yang diterapkan masyarakat Paser adalah sistem ladang berpindah. Biasanya setelah satu sampai dua tahun mengggarap ladang mereka akan pindah dan membuka areal baru. Perladangan berpindah merupakan salah satu sistem pertanian yang paling awal bagi orang-orang yang hidup di daerah tropik (Yuksel 1999 dalam Crevello 2003). Saat ini perladangan berpindah masih merupakan sumber utama kehidupan masyarakat adat yang tinggal di Kalimantan (Mackinnon et al. 1996 dalam Crevello 2003). Gambar 5 menunjukkan salah satu ladang di daerah Mului yang terletak di daerah lereng. Pemilihan lahan ladang diserahkan kepada pemilik yang hendak mengelola, jika menurut mereka lahan itu bagus untuk dijadikan ladang maka ditempat itulah mereka membuka ladangnya. Luas ladang bergantung kepada kemampuan untuk mengelolanya, rata-rata luas ladang pada setiap keluarga adalah satu hektar. Terdapat beberapa tahapan dalam pengelolaan ladang. Proses penyiapan ladang dimulai dari pembukaan lahan dengan cara dibakar, kemudian pembersihan bekas pembakaran atau manduk. Kegiatan manduk dapat dilihat pada Gambar 3. Setelah lahan bersih, maka dimulailah proses penanaman atau nugal seperti terlihat pada Gambar 4. Semua proses ini dilakukan secara gotong royong oleh warga desa secara bergilir. Pemilik ladang cukup menyediakan makan siang dan minuman teh dan kopi seperti yang terlihat pada Gambar 6. Setelah penanaman dilakukan, pemeliharaan ladang diserahkan kepada masing-masing pemilik ladang. Ladang hanya boleh dikelola maksimal tiga tahun, setelah itu harus berpindah tempat karena ada kepercayaan jika ladang

dipergunakan lebih dari tiga tahun maka akan menimbulkan keburukan. Pada dasarnya, kesuburan lahan akan semakin berkurang jika tanah dikelola terlalu lama dan hasil panen pada tahun mendatang akan berkurang. Penanaman padi dilakukan pada waktu tertentu. Ketua adat atau orang yang dapat membaca alam dengan memperhatikan posisi bintang dan gejala alam lain akan memberikan instruksi kapan harus mulai membersihkan ladang dan mulai menanam. Pengetahuan ini tidak dimiliki oleh semua orang dan hanya dapat dipelajari dari para tetua. Oleh karena itu, masyarakat yang lain akan mengikuti instruksi tetua di desa mereka dan karenanya waktu penanaman di setiap desa tidak sama.

Gambar 3. Kegiatan manduk di Desa Rantau Layung

Gambar 4. Kegiatan nugal di Desa Rantau Layung

Gambar 5. Ladang di Dusun Mului

Gambar 6. Makan bersama setelah nugal

5.1.4. Permukiman Permukiman merupakan pusat desa, disinilah rumah-rumah masyarakat didirikan. Dahulu rumah masyarakat terpencar jauh, namun kini lebih berdekatan

sehingga memudahkan komunikasi. Di wilayah permukiman ini pula terdapat sarana desa yang lain seperti masjid, sekolah dan kantor desa. Gambar 7 memperlihatkan permukiman di Dusun Mului, bangunan yang terlihat di pojok kanan gambar adalah Sekolah Dasar di dusun tersebut. Gambar 8 menunjukkan jalan desa yang menghubungkan satu rumah dengan yang lain di Desa Rantau Layung. Umumnya permukiman didirikan dekat dengan sungai yang merupakan sumber air utama. Namun pada kasus dusun Mului, permukiman berada 2 km dari sungai.

Gambar 7. Permukiman di Dusun Mului

Gambar 8. Jalan desa di desa Rantau Layung

5.2.

Pemanfaatan Tumbuhan

Penggunaan dan pemanfaatan tumbuhan oleh masyarakat sekitar kawasan Hutan Lindung Gunung Lumut dapat dibagi kedalam kelompok kegunaan yaitu tumbuhan obat, hias, aromatik, penghasil pangan, penghasil pakan, penghasil zat warna dan tanin, penghasil minuman, keperluan upacara adat, penghasil kayu bakar, bahan bangunan dan sebagai tali atau anyaman dan kerajinan. Tabel 4 menunjukkan kelompok kegunaan tumbuhan yang disusun berdasarkan nama lokal. Daftar selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 1. Tabel 4. Kelompok Kegunaan Tumbuhan Berdasarkan Nama LokalNo. 1 2 Kelompok Kegunaan Makanan Utama (Padi) Makanan Sekunder 2.1. Buah 14 46

3 4 5 6 7 8 9 10 11

2.2.Sayur 2.3.Minuman Obat Hias Aromatik Pakan Zat pewarna dan tanin Adat Kayu Bakar Bahan Bangunan Tali, anyaman dan kerajinan

49 2 91 5 4 2 3 41 37 60 24

Terdapat 383 tumbuhan yang dipergunakan untuk semua kelompok guna (lampiran 2) namun dari keseluruhan tumbuhan yang dipakai tidak semua dapat diidentifikasi karena keterbatasan waktu dan kondisi lokasi penelitian. Identifikasi tumbuhan merupakan hasil identifikasi herbarium oleh wanariset Samboja, Kalimantan Timur dan studi pustaka. Tumbuhan yang berhasil diidentifikasi terdiri dari 67 famili (dapat dilihat pada Lampiran 5) dan memiliki habitus pohon, liana, herba dan palem. Dari 383 tumbuhan yang digunakan, sebanyak 57 jenis memiliki kegunaan lebih dari satu (Lampiran 4). Jika dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan Kartikawati (2004) bahwa terdapat 240 jenis tumbuhan yang digunakan oleh masyarakat Dayak Meratus, maka keanekaragaman di daerah Hutan Lindung Gunung Lumut lebih tinggi karena terdapat 383 jenis yang digunakan. Hal ini menunjukkan potensi tumbuhan yang dimiliki cukup tinggi. Jika dilihat pada daftar tumbuhan, maka ada beberapa jenis yang memiliki nama ilmiah sama namun nama lokal berbeda, misalnya benturung (digunakan untuk obat dan bahan makanan) dan benturung liu (untuk kegunaan adat) yang diidentifikasi sebagai Artocarpus lanceifolius Roxb. tumbuhan. 5.2.1. Tumbuhan Obat Berbagai jenis tumbuhan digunakan oleh masyarakat untuk tujuan kesehatan, tidak hanya mengobati tapi juga menjaga kesehatan. Sarana kesehatan yang terbatas dan sulitnya akses menuju kota menjadikan tumbuhan obat ini Ini menunjukkan bahwa masyarakat dapat membedakan tumbuhan secara lebih spesifik, dari berbagai ciri

berguna untuk masyarakat. Daerah yang sulit dijangkau dan sarana transportasi yang terbatas tidak memungkinkan ibu hamil untuk pergi keluar dari desa untuk melahirkan di puskesmas atau rumah sakit. Dari hasil wawancara yang dilakukan di desa Rantau Layung dan dusun Mului, semua responden mengaku melahirkan atau dilahirkan dengan bantuan dukun bersalin. Dukun bersalin ini menggunakan sembilu untuk menghindari karat dan memanfaatkan tumbuhan untuk membantu proses persalinan maupun paska kelahiran. Ini berarti bahwa penggunaan tumbuhan obat, terutama kopi dan mbung masih sangat diperlukan dalam proses persalinan. Jenis yang dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat pada lokasi penelitian sebanyak 91 jenis, jumlah ini termasuk tinggi jika dibandingkan dengan penelitian seruap yang dilakukan di daerah Taman Nasional Bali Barat dengan jumlah tumbuhan obat sebanyak 59 jenis (Arafah 2005). Sedangkan penelitian yang dilakukan pada masyarakat Dayak Meratus diketahui sebanyak 95 tumbuhan obat dikenal oleh masyarakat (Kartikawati 2004). Dari 51 tumbuhan yang diketahui penggunaannya (Lampiran 3) sebanyak 12 tumbuhan merupakan liana, 24 jenis pohon, 14 jenis herba dan 1 jenis palem. Tumbuhan yang digunakan antara lain adalah mbung (Blumea balsamifera) yang dipergunakan untuk mengobati sakit perut, mimisan dan juga dipergunakan oleh ibu yang baru melahirkan, penawer buntal (Tinospora crispa L.) untuk malaria, mensiwak (Saurauia sp.) untuk menyembuhkan penyakit dalam dan sesak nafas juga grenggang (Senna alata (L.) Roxb.) untuk mengatasi penyakit kulit. Beberapa diantara tumbuhan obat tersebut juga dikenali sebagai tumbuhan obat oleh peneliti lain, yaitu Nangka (Annona muricata L.) (Heyne 1987, Puri 2001), Carica papaya L., Sarombolum (Kalanchoe pinnata (Lampk.)Pers.), Grenggang (Senna alata), Kumis kucing (Orthosipon aristatus) (Puri 2001), mbung (Blumea balsamifera), sungkai (Peronema canescens) (Heyne 1987). Tumbuhan obat diperoleh dari sekitar kampung, kebun dan beberapa diambil dari hutan. Tumbuhan obat yang sengaja ditanam antara lain adalah sarombolum, penawer buntal, dusun dan topus tongang. Pada tiap desa terdapat tabib atau orang yang memiliki pengetahuan lebih mengenai tumbuhan obat. Mereka inilah yang dijadikan sumber acuan bagi warga

lain yang ingin menggunakan tumbuhan obat. Jika seseorang ingin belajar lebih mendalam, maka ada upacara yang harus dilakukan antara orang yang ingin belajar dan tabib tersebut. Untuk menyembuhkan penyakit parah dan sulit disembuhkan atau penyakit yang berkepanjangan, masyarakat Paser percaya salah satu cara yang dapat menyembuhkan penyakit adalah dengan melakukan upacara penyembuhan atau belian. Upacara ini dilakukan oleh seseorang yang melakukan mamang (pembacaan mantra), semakin tinggi kemampuan orang tersebut maka diyakini penyembuhannya akan cepat. Dalam setiap upacara ini, salah satu syarat yang harus dipenuhi adalah membakar jombu (agathis) seperti halnya membakar kemenyan.

5.2.2. Tumbuhan Hias Masyarakat di lokasi penelitian tidak banyak memanfaatkan tumbuhan hias dari lingkungan sekitar. Tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan sebagai tumbuhan hias adalah anggrek. Tumbuhan lain yang digunakan sebagai tanaman hias adalah aren, beringin kecil dan torung. Hal yang cukup menarik adalah ditemukannya bunga Bougenville di dusun Mului. Bunga ini didapat dari kota dan ditanam di depan rumah sebagai penghias halaman. Terlihat bahwa ada pengaruh diluar pengaruh budaya Paser dalam hal pemanfaatan tumbuhan. 5.2.3. Tumbuhan Aromatik Tumbuhan aromatik dapat juga disebut tumbuhan penghasil minyak atsiri, minyak ini dapat diperoleh dengan cara ekstraksi atau penyulingan dari bagian tumbuhan. Tumbuhan penghasil minyak atsiri memiliki ciri bau dan aroma karena fungsinya yang paling luas dan umum diminati adalah sebagai pengharum, baik sebagai parfum, kosmetik, pengharum ruangan, pengharum sabun, pasta gigi, pemberi rasa pada makanan maupun pada produk rumah tangga lainnya (Agusta 2000 dalam Kartikawati 2004). Tumbuhan yang sering digunakan oleh masyarakat sebagai tumbuhan aromatik adalah daun panran, selasih dan jambu bakau yang digunakan dalam upacara adat.

5.2.4. Tumbuhan Penghasil Pangan Masyarakat di sekitar HLGL terutama memanfaatkan tumbuhan buah dan tumbuhan yang bisa diambil umbut/tunasnya sebagai konsumsi mereka. Tumbuhan lain yang sering dimanfaatkan adalah jamur yang banyak tumbuh di dalam hutan, kebun atau di ladang. Terdapat 174 jenis tumbuhan yang dikenali sebagai tumbuhan penghasil pangan.

5.2.4.1 Makanan Utama Padi gunung adalah tanaman pokok masyarakat Paser dan hanya dipanen sekali dalam setahun. Walaupun tidak ada larangan menjual padi, masyarakat Paser tidak menjual padi mereka. Padi yang telah dipanen disimpan dan hanya digiling jika akan digunakan, sisanya akan disimpan sebagai benih pada masa tanam selanjutnya. Masyarakat Paser mengenal 14 jenis padi dan ketan yang ditanam di ladang. Setidaknya terdapat dua jenis yang ditanam di ladang masyarakat, satu merupakan padi biasa dan jenis yang lainnya adalah ketan. Kedua jenis ini harus ada di dalam satu ladang karena menurut kepercayaan masyarakat, padi dan ketan melambangkan laki-laki dan perempuan sehingga kedua jenis ini harus ada untuk mencapai keseimbangan. Beberapa jenis padi yang digunakan oleh masyarakat diantaranya adalah beras bagu, beras briwit, beras donto, beras dupa, beras jabay, beras jambu, beras mayas, beras ptien, beras raden darat, beras ulur, ketan mayas, ketan santong, ketan tlien, lao dan rore.

5.2.4.2 Tumbuhan Penghasil Buah Diluar makanan pokok, tumbuhan pangan yang mendapat nilai terpenting berasal dari kelompok buah. Nilai paling tinggi adalah durian, dari 4 kelompok diskusi di desa Rantau Layung dan Mului, masing-masing 3 kelompok di tiap desa memilih durian sebagai jenis terpenting. merupakan salah satu sumber pendapatan. Hal ini dikarenakan durian

Terdapat cukup banyak buah yang dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu sebanyak 69 jenis buah. Buah-buahan ini umumnya tumbuh di kebun dan tidak semuanya berasal dari pohon, misalnya saja letan yang merupakan buah dari tanaman liana. Selain untuk konsumsi sendiri, terkadang buah-buhan ini dijual. Beberapa jenis yang sering dijual adalah jenis asam (Mangifera sp.), durian dan langsat. Kalimantan merupakan pusat dari persebaran durian yang memiliki keanekaragaman jenis terbesar. Terdapat 19 jenis durian liar dari keseluruhan 27 jenis yang tersebar di kawasan Malesia (11 jenis di Malaysia dan 7 jenis di Sumatra) (Kartikawati 2004). Beberapa jenis durian yang biasa dimanfaatkan adalah ketungon/krantungan, duyan (Durio zibethinus), paken, lai dan layung (Durio dulcis). Diantara jenis durian tersebut, lahung/layung merupakan jenis endemik yang hanya ada di Kalimantan (Kartikawati 2004). Jenis buah lain yang merupakan endemik kalimantan adalah asam payang (Mangifera pajang Kostermans.) (Puri 2001). Musim buah terjadi selama kira-kira satu bulan, pada saat tersebut masyarakat akan bersama-sama pergi ke hutan untuk memungut hasil hutan ini. Peralatan yang digunakan adalah lanjung besar yang bisa memuat 20-30 buah durian sekali angkut. Seringkali banyak buah yang ditinggalkan saja di dalam hutan karena jumlahnya sangat banyak. Durian bisa dijual dengan harga Rp 1500 Rp 2000/buah. Pohon buah ini juga memiliki peran penting dalam menyediakan makanan bagi lebah madu. Jika pada musim buah terlalu banyak turun hujan atau sebaliknya terlalu kering, maka dapat dipastikan bunga yang ada akan sedikit dan sarang lebah tidak terisi penuh.

5.2.4.3. Tumbuhan Penghasil Sayur-sayuran Untuk kebutuhan sayur-sayuran beberapa ditanam di ladang, antara lain bayam, timun dan gambas. Sayur-sayuran yang lain diambil dari kebun dan merupakan tumbuhan liar, antara lain jenis paku, pring, dan beberapa jenis rotan. Bagian yang dikonsumsi biasanya adalah umbut dan pucuk daun.

Jenis jamur yang dimanfaatkan juga cukup banyak, sebanyak 26 jenis jamur dikenal dan dikonsumsi oleh masyarakat. Jamur yang dikonsumsi biasanya diambil di ladang dan menempel pada kayu lapuk.

5.2.4.5. Tumbuhan Penghasil Minuman Tidak seperti masyarakat Dayak lain, masyarakat Paser tidak mengenal budaya minum tuak karena masyarakatnya beragama Islam. Sebagai gantinya, minuman yang paling digemari adalah kopi. Tanaman kopi yang ditanam di kebun lebih banyak digunakan untuk konsumsi sendiri. Hampir setiap kali sehabis makan masyarakat Paser meminum kopi atau teh dengan proporsi gula yang banyak. Hal ini menjadikan gula dan kopi sebagai kebutuhan sehari-hari yang paling sering digunakan. Tumbuhan lain yang juga terkadang dijadikan bahan minuman adalah aren.

5.2.5. Tumbuhan Penghasil Pakan ternak Ternak yang paling banyak dipelihara oleh masyarakat adalah ayam. Ternak besar seperti kerbau dan sapi sangat jarang ditemukan. Makanan yang diberikan untuk ternak mereka adalah padi, jagung dan rumput.

5.2.6. Tumbuhan Penghasil Zat Warna dan Tanin Beberapa jenis tumbuhan yang dikenal oleh masyarakat sebagai penghasil zat warna antara lain adalah pucuk daun jering yang digunakan untuk mewarnai rotan menjadi hitam, begitu juga dengan daun ulin sedangkan sopang digunakan untuk menghasilkan warna merah. anyaman. Pada masa ini, tumbuhan penghasil zat warna dan tanin sudah jarang sekali digunakan oleh masyarakat yang lebih memilih menggunakan zat pewarna yang dijual di pasaran karena lebih praktis. Dari wawancara yang dilakukan, tidak ada yang menggunakan pewarna tradisional untuk mewarnai anyaman. Segi kepraktisan menjadi alasan utama, karena untuk memperoleh pewarna secara Umumnya tumbuhan digunakan untuk mewarnai rotan sehingga menghasilkan warna yang indah ketika dijadikan

tradisional memerlukan waktu dan usaha yang lebih sehingga pewarna yang dijual dalam kemasan menjadi pilihan utama.

5.2.7. Tumbuhan Untuk Kegunaan Adat Masyarakat di sekitar Hutan Lindung Gunung Lumut masih memiliki kepercayaan terhadap roh-roh leluhur dan penjaga alam. Hal ini tercermin dalam banyaknya upacara yang diselenggarakan untuk menghormati leluhur ataupun agar terhindar dari bala. lain. Penggunaan tumbuhan dalam upacara ini sangat penting artinya, bahkan ada beberapa jenis tumbuhan yang menjadi syarat dalam suatu upacara tertentu, seperti misalnya agathis atau dalam bahasa lokal dikenal sebagai jombu. Bila tidak ada agathis maka suatu upacara dapat dianggap tidak sah. Pentingnya nilai agathis tercermin dari hasil diskusi kelompok Mului. Tiga dari 4 kelompok yang ada memilih agathis sebagai jenis terpenting. Sedangkan kelompok Rantau Layung memandang silar dan kelapa sebagai tumbuhan adat yang paling penting. Dari hasil tersebut terlihat adanya perbedaan tingkat kepentingan pada masingmasing desa. Kecuali agathis yang tumbuh di hutan dan sulit ditemukan, tumbuhan lain yang digunakan untuk adat terdapat di sekeliling rumah atau berada di kebun. Tumbuhan adat ini juga digunakan untuk melindungi rumah dan diletakkan dalam suatu wadah untuk menjaga rumah dari roh-roh jahat dan sebagai harapan agar padi yang dihasilkan dapat berlimpah. Namun kini beberapa orang memilih untuk tidak meletakkan wadah tersebut di rumah mereka walaupun masih mempercayai adanya roh-roh leluhur. Terdapat 41 jenis tumbuhan (Lampiran 1) yang digunakan untuk kegunaan adat, baik untuk upacara maupun untuk keperluan adat

5.2.8. Tumbuhan Penghasil Kayu Bakar Kayu Bakar merupakan sumberdaya yang penting bagi masyarakat yang tidak memiliki sumber energi lain seperti listrik, minyak tanah atau gas. Kayu bakar dapat diperoleh dengan mudah dan tidak memerlukan biaya yang mahal atau bahkan tidak memerlukan biaya apapun. Masyarakat di lokasi penelitian

yaitu disekitar kawasan HLGL memanfaatkan kayu bakar sebagai sumber energi yang murah. Kayu bakar menjadi sumber bahan bakar yang penting. Hal serupa berlaku di daerah Malinau, Kalimantan Timur yang dilakukan oleh Kuspradini (1999). Terdapat 37 jenis kayu yang digunakan (lihat Tabel 4). Kayu bakar menjadi pilihan utama karena sumber energi lain harganya kurang terjangkau dan sulit didapatkan. Ketersediaan kayu bakar di sekitar lingkungan tempat tinggal juga menjadi kemudahan lain dalam memperoleh sumberdaya ini. Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa lokasi pengambilan kayu bakar adalah ladang dan kebun. Sebenarnya semua kayu dapat dijadikan kayu bakar namun ada beberapa jenis yang lebih disukai karena kemudahannya terbakar dan tidak menimbulkan banyak asap. Jenis yang paling disukai sebagai kayu bakar adalah sungkai, terlihat dari hasil diskusi kelompok di desa Rantau Layung dan Mului. Dari 8 kelompok yang ada, semuanya memilih sungkai untuk kayu bakar. Masyarakat memilih kayu yang mudah terbakar dan tidak menghasilkan asap yang banyak, seperti juga yang diungkapkan oleh Kuspradini (1999). Tidak adanya sumber energi lain terutama untuk memasak, menjadikan kebutuhan akan kayu bakar ini sebagai kebutuhan yang penting karena dipergunakan setiap hari.

5.2.9. Tumbuhan Penghasil Bahan Bangunan Bahan bangunan masyarakat di lokasi penelitian hampir seluruhnya menggunakan kayu, jarang sekali yang menggunakan semen atau beton. Oleh karena itu, kayu merupakan bahan utama dalam membangun rumah dan pondok ladang. Kayu yang digunakan untuk membangun pondok dan rumah memiliki kualitas yang berbeda, untuk pondok tidak diperlukan kayu yang tahan lama karena hanya digunakan selama masa menjaga ladang saja. Kayu yang paling disukai untuk dijadikan bahan bangunan adalah ulin, terutama sebagai tiang bangunan. Masyarakat Mului dan Rantau Layung menggunakan sumberdaya kayu yang ada di sekitar desa mereka namun masyarakat Belimbing umumnya membeli kayu tersebut dari orang lain karena

hutan yang menyediakan kayu untuk bangunan letaknya cukup jauh dari desa mereka, dengan demikian hutan di sekitar desa mereka tidak menjadi penyedia utama. Rumah yang dibangun untuk pemukiman dapat bertahan selama bertahun bahkan berpuluh tahun sedangkan penggunaan bahan bangunan untuk rumah ladang dilakukan setiap tahun pada saat pembukaan ladang. Dari hasil diskusi diketahui bahwa 3 kelompok Mului memilih ulin sebagai tumbuhan yang bernilai paling penting untuk kegunaan bangunan dan 1 kelompok lain memilih meranti. Sedangkan setiap kelompok di Rantau Layung memilih Ulin sebagai bahan bangunan paling penting, terutama untuk membangun jembatan sebagai akses utama jalan menuju Rantau Layung. Terlihat bahwa kecenderungan memakai ulin masih tinggi, namun selama penggunaannya tidak untuk tujuan komersil diharapkan keberadaan ulin masih mencukupi.

5.2.10. Tumbuhan Penghasil Tali, Anyaman dan Kerajinan Terdapat 24 jenis tumbuhan yang digunakan untuk membuat anyaman, tali dan kerajinan. Berdasarkan hasil diskusi kelompok, semua peserta memilih rotan sebagai jenis terpenting untuk kegunaan anyaman. Tergantung dari keperluan anyaman, jenis tumbuhan yang dipakaipun berbeda. Tumbuhan lain yang digunakan untuk anyaman tidak sekuat rotan dan tidak tahan lama. Untuk keperluan anyaman keranjang, maka jenis rotan dan bambu yang paling sering dipakai sedangkan untuk membuat rumah ayam, maka jenis bomban yang umum digunakan. Untuk mempercantik anyaman yang dibuat, ikut juga dianyam anggrek kuning sebagai aksen namun ini jarang sekali dilakukan karena anggrek kuning sulit ditemukan. Terdapat 5 jenis rotan yaitu dalun, dendek, liwo, pontun, soko, dan 4 jenis bambu yaitu bambu buluh, bluon, lempake dan tolang yang digunakan sebagai bahan pembuat anyaman. Rotan seringkali digunakan sebagai bahan pengikat rumah ladang karena terkenal kuat. Tali yang dibuat dari bahan rotan juga digunakan untuk memanjat pohon madu pada saat pengumpulan madu.

Masyarakat selalu menggunakan tali rotan untuk memanjat karena kuat untuk menahan beban. Selain sebagai pembuat anyaman, rotan memiliki arti tersendiri. Penanaman rotan merupakan bagian dari sistem perladangan berpindah dan merupakan sumber utama bahan baku mentah bagi industri furnitur dan kerajinan tangan. Namun, adanya perubahan kebijakan dan juga pembangunan di sektor lain telah menggeser kebun rotan menjadi bentuk penggunaan lain, terlebih lagi harga rotan yang menurun (Pambudhi 2004). Walaupun demikian, keberadaan kebun rotan tetap penting karena kompetisi akan lahan rendah karena mereka cocok dengan sistem ladang yang merupakan perekonomian utama di daerah terse