analisis sistem pengendalian internal terhadap penilaian

of 77/77
i Analisis Sistem Pengendalian Internal Terhadap Penilaian Risiko Berbasis Prinsip Kehati-hatian pada Kegiatan Kredit di PD. BPR BKK Ungaran Oleh : AGATA KRISMA KARITAS 232008039 KERTAS KERJA Diajukan kepada Fakultas Ekonomika dan Bisnis Guna Memenuhi Sebagian dari Persyaratan-persyaratan untuk Mencapai Gelar Sarjana Ekonomi FAKULTAS : EKONOMIKA DAN BISNIS PROGRAM STUDI : AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS PROGRAM STUDI AKUNTANSI UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA 2013

Post on 24-Oct-2021

0 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Analisis Sistem Pengendalian Internal Terhadap Penilaian Risiko Berbasis Prinsip Kehati-hatian pada Kegiatan Kredit di PD. BPR BKK UngaranPenilaian Risiko Berbasis Prinsip Kehati-hatian pada
Kegiatan Kredit di PD. BPR BKK Ungaran
Oleh :
Guna Memenuhi Sebagian dari
Yang bertanda tangan di bawah ini :
Nama : AGATA KRISMA KARITAS
Judul : ANALISIS SISTEM PENGENDALIAN
INTERNAL TERHADAP PENILAIAN RISIKO
BERBASIS PRINSIP KEHATI-HATIAN PADA
UNGARAN
Tanggal diuji :
Adalah benar-benar hasil karya saya.
Di dalam skripsi ini tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan atau gagasan
orang lain yang diambil dengan cara menyalin atau meniru dalam bentuk
rangkaian kalimat atau simbol yang saya akui seolah-olah sebagai tulisan saya
sendiri tanpa memberikan pengakuan pada penulis aslinya.
Apabila kemudian terbukti saya ternyata melakukan tidakan menyalin atau meniru
tulisan orang lain seolah-olah hasil pemikiran saya sendiri, saya bersedia
menerima sanksi sesuai peraturan yang berlaku di Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, termasuk pencabutan gelar
kesarjanaan yang telah saya peroleh.
Salatiga, 10 Juli 2013
Kegiatan Kredit di PD. BPR BKK Ungaran
Oleh :
Pembimbing
SALATIGA
2013
iv
ABSTRACT
PD. BPR BKK Ungaran a financial institution is one of the source of
funding and has a very important role in the distribution of fund in the form of
credit (loan)to partien who need funds. In lending to companies and communities
for the benefit of the financing required to implement prudential banking
principles. As well as also required an adequate system of internal controls so as
to provide benefits to improve the effectiveness and efficiency of operations. It is
on the basis of the loan because the bank contains a high risk.
The purpose of this research is to help the PD. BPR BKK Ungaran in
analyzing the internal control system for credit risk assessment based on the
principle of prudence in lending that has been running in PD. BPR BKK
Ungaran. It is expected that the system can reduce the risks that may arise due to
congestion of cash flows resulting from negligence of the bank itself and its
customers.
From the analysis we concluded that the system of internal controls over
credit risk assessment has been running very well for applying the precautionary
principle set by Bank Indonesia. So there is no possibility of losses resulting from
credit activities undertaken in PD. BPR BKK Unggaran.
Keywords: Internal Control System, Precautionary Principle
v
SARIPATI
PD. BPR BKK Ungaran sebagai lembaga keuangan merupakan salah satu
sumber dana dan memiliki peranan yang sangat penting untuk penyaluran dana
dalam bentuk kredit kepada pihak yang membutuhkan dana. Dalam menyalurkan
kredit kepada perusahaan-perusahaan dan masyarakat untuk kepentingan
pembiayaan diwajibkan untuk menerapkan prinsip kehati-hatian bank. Serta
diperlukan pula sistem pengendalian internal yang memadai sehingga dapat
memberi manfaat untuk meningkatkan efektivitas serta efisiensi operasi
perusahaan. Hal ini di dasarkan karena dalam pemberian kredit oleh bank tersebut
mengandung resiko yang tinggi.
Tujuan diadakannya penelitian ini adalah untuk membantu PD. BPR BKK
Ungaran dalam menganalisis sistem pengendalian internal terhadap penilaian
risiko kredit berdasarkan prinsip kehati-hatian terhadap kegiatan kredit yang
selama ini telah berjalan di PD. BPR BKK Ungaran. Sehingga diharapkan dengan
sistem ini dapat memperkecil risiko yang mungkin timbul karena kemacetan arus
kas yang bersumber dari kelalaian bank itu sendiri maupun nasabahnya.
Dari hasil analisis dapat diperoleh kesimpulan bahwa sistem pengendalian
internal terhadap penilaian risiko kredit sudah berjalan sangat baik karena
menerapkan prinsip kehati-hatian yang diatur oleh Bank Indonesia. Sehingga
tidak ada kemungkinan kerugian yang dihasilkan dari kegiatan kredit yang
dijalankan di PD. BPR BKK Ungaran.
Kata Kunci : Sistem Pengendalian Internal, Prinsip Kehati-hatian
vi
risiko dengan menggunakan prinsip kehati-hatian. Dalam melakukan kegiatannya
BPR wajib mematuhi prinsip kehati-hatian, yang antara lain berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia. Maka
penulis melakukan penelitian untuk menganalisis penilaian risiko yang berbasis
prinsip kehati-hatian terhadap kegitan kredit di PD. BPR BKK Ungaran dan
diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan masukan mengenai pemberian
kredit sesuai dengan aturan yang berlaku. Sehingga dapat mengurangi risiko
kredit yang sering terjadi pada jenis bank perkreditan.
Sehingga kertas kerja ini berjudul “Analisis Pengendalian Internal
Terhadap Penilaian Risiko Berbasis Prinsip Kehati-hatian pada Kegiatan
Kredit di PD. BPR BKK Ungaran”. Disusun dalam rangka memenuhi salah
satu syarat untuk memperoleh gelar kesarjanaan Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Jurusan Akuntansi Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga. Tujuan dari
skripsi ini adalah untuk menerapkan teori-teori yang diperoleh selama kuliah dan
berguna untuk menambah wawasan bagi penulis agar siap terjun dalam dunia
kerja yang sesungguhnya.
Dengan kesadaran akan keterbatasan dan kekurangannya dalam penyajian
maupun pembahasan dalam kertas kerja ini, sangat diharapkan saran dan kritik
dari pembaca yang bersifat membangun. Semoga kertas kerja ini dapat bermanfaat
bagi pihak BPR dan pengembangan ilmu akuntansi bagi semua pihak.
Salatiga, 10 Juli 2013
menyelesaikan kertas kerja ini dengan baik.
Selama proses penulisan kertas kerja ini, penulis menyadari terdapat
keterbatasan dalam penulisan kertas kerja ini, sehingga tidak lepas dari dukungan
serta bantuan banyak pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh
karena itu, pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih
dan rasa hormat kepada :
1. Bapak Hari Sunarto, SE., MBA., Ph.D selaku pembimbing dan dekan
Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga.
2. Ibu Like Soegijono, SE., M., Ak., selaku wali studi yang telah mengarahkan
dan memberikan dukungan sampai akhir masa studi penulis.
3. Seluruh dosen dan staf pengajar Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas
Kristen Satya Wacana, yang pernah mengajar dan telah membagi
pengetahuan selama penulis menuntut ilmu sebagai mahasiswa di FEB
UKSW Salatiga.
4. Ayah dan ibu tercinta, Yohanes Supriyanto dan Yuliana Titik Murtingsih
yang selalu memberikan dukungan, nasihat, dan cinta kasihnya tanpa henti
selama menempuh studi serta selalu mendampingi penulis dikala sedang
terjatuh.
5. Bude Ani, Om Wawan, Bulek Wiwit, Om Soegi, Bulek Anna Kristina serta
saudara-saudara lainnya yang tidak dapat penulis sebutkan semua, terima
kasih atas perhatian, motivasi, bantuan serta doa selama menyelesaikan
penulisan ini.
semangat penulis selama proses penulisan ini.
7. Sahabat-sahabat terbaikku, Vivi Kusuma Dewi, Intan Mariana, Lucyana
Caroline Toyo, Elisa Kurnia Dewi, Stefany Angela Putri, Lolita, Noviana
Angela, dan semua teman-teman yang tidak dapat disebutkan semuanya,
terima kasih atas dukungan, perhatian, dan doa yang telah diberikan selama
ini.
8. Dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan. Kiranya Tuhan Yesus
Kristus memberkati kita sekalian.
Salatiga, 10 Juli 2013
Halaman Persetujuan Skripsi .................................................................................iii
Efektivitas Sistem Pengendalian Internal ................................................ 18
METODE PENELITIAN .................................................................................. 22
Jenis Data dan Prosedur Pengumpulan Data ............................................ 22
Teknik dan Langkah Analisis Data .......................................................... 23
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................................ 25
Gambaran Umum Objek Penelitian ........................................................ 25
Analisi Sistem Pengendalian Internal pada Penilain Risiko di PD. BPR
BKK Ungaran ........................................................................................... 28
BKK Ungaran ........................................................................................... 33
PD. BPR BKK Ungaran ........................................................................... 35
x
Tabel 2. Tabel Kelompok Batas Maksimum Pemberian Kredit .......................... 17
Tabel 3. Identifikasi dan Penilaian Risiko Menurut Pedoman Standar Bank
Indonesia ................................................................................................ 29
Tabel 4. Identifikasi Penilaian Risiko pada PD. BPR BKK Ungaran .................. 31
Tabel 5. Tabel Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank .......................... 36
Tabel 6. Tabel Kualitas Aktiva Produktif ............................................................ 38
Tabel 7. Tabel Perkembangan Indikator Perbankan Bank Umum dan BPR di
Provinsi Jawa Tengah ........................................................................... 40
Tabel 9. Tabel Laporan Penyediaan Dana Pihak Terkait .................................... 45
xii
Lampiran 2. Laporan Keuangan Publikasi Triwulanan ...................................... 55
Lampiran 3. Kewajiban Penyediaan Modal Minimum ........................................58
Lampiran 4. Kualitas Aktiva Produktif ............................................................... 60
Lampiran 5. Laporan Batas Maksimum Pemberian Kredit ................................ 63
1
Dalam kehidupan masyarakat dapat dilihat bahwa aktivitas manusia dalam
dunia bisnis tidak lepas dari peranan bank selaku pemberi layanan perbankan bagi
masyarakat. Bank dikenal sebagai lembaga keuangan yang kegiatan umumnya
menerima simpanan giro, tabungan dan deposito. Di samping itu bank juga
dikenal sebagai tempat untuk meminjam uang (kredit) bagi masyarakat yang
membutuhkan. Bank yang lebih mengutamakan layanan pemberian kredit kepada
masyarakat dikenal dengan sebutan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Dengan
adanya BPR masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas layanan ini untuk
meminjam uang yang nantinya dapat digunakan sesuai tujuan awal peminjaman.
BPR adalah bank yang menerima simpanan hanya dalam bentuk deposito
berjangka, tabungan, dan bentuk lainnya yang berkaitan dengan itu. BPR
didirikan dengan dasar pemikiran yaitu, untuk mengurangi kegiatan rentenir di
masyarakat pedesaan dan perkotaan, membantu masyarakat agar lebih mengenal
fungsi bank sebagai lembaga keuangan, tersedianya modal yang cukup dan tenaga
Sumber Daya Manusia (SDM) yang profesional untuk mengolah BPR dan
membantu pemerintah dalam membangun daerah, serta menciptakan lapangan
kerja untuk mengurangi penganggguran. Dengan adanya BPR di tengah-tengah
masyarakat, peranannya dalam memberikan pelayanan perbankan kepada lapisan
masyarakat terendah akan semakin besar.
Salah satu kegiatan bank adalah memberikan kredit. Pemberian kredit
memiliki sebuah resiko yaitu adanya kredit macet. Bahaya yang timbul dari kredit
macet adalah tidak terbayarnya kembali kredit tersebut, baik sebagian maupun
2
seluruhnya karena sebagian besar pendapatan bank berasal dari pendapatan bunga
kredit yang harus dibayarkan oleh debitur. Kemacetan kredit merupakan penyebab
kesulitan terhadap bank itu sendiri yaitu berupa kesulitan terutama yang
menyangkut tingkat kesehatan bank, karena bank wajib menghindarkan diri dari
kredit macet.
Dalam pemberian kredit, sumber pendanaan bank berasal dari bank itu
sendiri, maksudnya adalah modal setoran dari para pemegang sahamnya. Selain
itu sumber pendanaan lain, berasal dari masyarakat dalam bentuk simpanan
tabungan, simpanan giro, dan simpanan deposito dari para nasabah, serta
pinjaman lunak dari lembaga lain. Mengingat resiko kredit macet saat ini yang
cukup tinggi, sehingga setiap bank lebih berhati-hati kepada kredit yang beresiko.
Untuk mengurangi resiko kredit yang mungkin terjadi, diperlukan suatu
pengawasan internal yang handal, sehingga harus lebih berhati-hati dalam
memberikan kredit kepada calon debitur sesuai dengan sistem pengendalian
internal yang berlaku serta prosedur pemberian kredit secara tepat.
Selain itu, bank dalam menyalurkan kredit kepada perusahaan-perusahaan
dan masyarakat untuk kepentingan pembiayaan diwajibkan untuk menerapkan
prinsip kehatihatian bank (prudential banking principles). Pelaksanaan prinsip
kehati-hatian merupakan hal penting guna mewujudkan sistem perbankan yang
sehat, kuat dan kokoh. Hal ini didasarkan karena dalam pemberian kredit oleh
bank tersebut mengandung resiko yang tinggi. Kegiatan perbankan tidak bisa
seluruhnya diserahkan kepada mekanisme pasar, karena kenyataannya pasar tidak
selalu mampu membetulkan dirinya sendiri bila terjadi sesuatu diluar dugaan.
3
Oleh sebab itu, kontrol dari Bank Indonesia terhadap pelaksanaan prinsip kehati-
hatian dalam dunia perbankan menjadi salah satu solusi terbaik dalam menjaga
dan mempertahankan eksistensi perbankan, yang pada akhirnya akan
menumbuhkan kepercayaan dari masyarakat terhadap dunia perbankan itu sendiri.
Karena fungsi Bank Indonesia sebagai pengatur dan pengawas institusi
perbankan, ini ditetapkan untuk sementara waktu sebelum terbentuknya lembaga
pengawas sektor jasa keuangan yang independen.
Pada krisis moneter yang melanda Indonesia pada tahun 1997 ternyata
juga menjadi krisis bagi dunia perbankan nasional. Pada masa ini perbankan
nasional harus mengalami keterpurukan. Pada masa ini kinerja perbankan nasional
harus menurun dengan tajam, penurunan kinerja perbankan ini salah satunya
disebabkan oleh masalah pemberian kredit bank kepada kelompoknya sendiri
yang melampaui batas pemberian kredit. Hal ini diperkuat dengan kenyataan
bahwa hampir semua bank yang dilikuidasi pada masa itu telah melakukan
pelanggaran batas maksimum pemberian kredit. Dalam hal ini Bank Indonesia
memiliki kewenangan untuk melakukan pengendalian moneter yang dapat
dilakukan dengan beberapa cara yang salah satunya adalah dengan mengatur
kredit atau pembiayaan termasuk di dalamnya mengatur batas maksimum
pemberian kredit Kewenangan Bank Indonesia ini didasarkan pada ketentuan
mengenai larangan pelanggaran batas maksimum pemberian kredit yang terdapat
pada Pasal 11 Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan. (Nugroho,
2011)
4
mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen (Mulyadi, 2001). Sistem
pengendalian internal bank merupakan suatu mekanisme pengawasan yang
ditetapkan oleh manajemen bank secara berkesinambungan, yang bertujuan
sebagai kepatuhan terhadap peraturan dan perundang-undangan yang berlaku;
tersedianya informasi keuangan dan manajemen yang benar, lengkap dan tepat
waktu; efisiensi dan efektifitas dari kegiatan usaha bank; serta meningkatkan
efektivitas budaya risiko pada organisasi secara menyeluruh. (Nugroho, 2008).
Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh (Sumaryaningrum, 2009)
melakukan penelitian tentang uji pengendalian internal sistem pemberian kredit
terhadap PD. BPR BKK Banyubiru menyimpulkan bahwa pengawasan oleh
manajemen dan kultur pengendalian PD. BPR BKK Banyubiru telah sesuai
dengan standar sistem pengendalian intern Bank Indonesia. Sistem pengendalian
internal pada sistem pemberian kredit PD. BPR BKK Banyubiru telah melakukan
identifikasi dan penilaian risiko dalam pemberian sistem kreditnya yang sesuai
dengan Bank Indonesia. Namun terdapat kelemahan pada penilaian risiko atas
karyawan yang menangani bagian kredit. Kegiatan pengendalian PD. BPR BKK
Banyubiru telah terpenuhi. Sedangkan untuk pemisah fungsi telah menerapkan
indikator yang ditetapkan oleh Bank Indonesia pada setiap bagiannya. Sistem
akuntansi, informasi, dan komunikasi pada PD. BPR BKK Banyubiru masih
5
lemah karena kurangnya publikasi dalam memberikan kredit dan produk yang
ditawarkan oleh pihak bank. Kegiatan pemantauan pada PD. BPR BKK
Banyubiru masih lemah karena kurangnya pengawasan kepada nasabah sehingga
belum dikatakan maksimal dalam hal pengendalian pada kegiatan pemantauan.
Sehingga dalam hal ini penulis ingin meneliti sistem pengendalian internal
khususnya terhadap penilaian risiko terhadap suatu perbankan. Karena kunci
kesuksesan manajemen bank adalah bagaimana bank melayani dengan sebaik-
baiknya, mereka yang kelebihan uang dan menyimpan uangnya dalam bentuk
giro, deposito, dan tabungan, serta melayani kebutuhan uang masyarakat melalui
pemberian kredit. Kredit merupakan sebuah kepercayaan yang diberikan oleh
bank kepada debitur. Agar pelayanan kredit kepada calon nasabah dapat
terlaksana dengan sebaik sesuai aturan maka diperlukan adanya prosedur
pemberian kredit. Prosedur pemberian kredit merupakan metode dalam tindakan-
tindakan yang berkaitan dengan pemberian kredit.
Berdasarkan bahasan diatas, maka dapat dirumuskan pokok-pokok
masalah dalam penelitian adalah :
kredit di PD. BPR BKK Ungaran?
6
1. Untuk mendeskripsikan secara analitis tentang penerapan sistem
pengendalian internal terhadap penilaian risiko yang ada pada PD.
BPR BKK Ungaran.
2. Untuk mengetahui lebih jelas mengenai penerapan prinsip kehati-
hatian bank dalam proses pemberian kredit di PD. BPR BKK Ungaran.
Selain manfaat yang diperoleh dari penelitian ini untuk :
1. BPR yang diteliti
mendukung sistem pemberian kredit yang diberikan.
2. Pihak akademis
pengetahuan tentang sistem pengendalian internal terhadap prosedur
pemberian kredit perbankan serta dapat sebagai bahan perbandingan bagi
yang tertarik sehingga dapat dikembangkan lebih lanjut.
7
Sistem Pengendalian Intern (SPI) yang efektif merupakan komponen
dalam manajemen bank dan menjadi dasar bagi kegiatan operasional bank yang
sehat dan aman. Sistem pengendalian intern yang efektif dapat membantu
pengurus bank menjaga aset bank, menjamin tersedianya pelaporan keuangan dan
manajerial yang dapat dipercaya, meningkatkan kepatuhan bank terhadap
ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku, serta mengurangi
risiko terjadinya kerugian, penyimpangan dan pelanggaran aspek kehati-hatian
(Filemon, 2011). Terselenggaranya sistem pengendalian internal Bank yang
handal dan efektif menjadi tanggung jawab dari pengurus dan para pejabat Bank.
Bagi suatu manajemen, sistem pengendalian intern merupakan alat
manajemen untuk melaksanakan tanggung jawab utamanya, yaitu melaporkan
informasi keuangan dan operasional yang memadai dan cermat kepada pihak yang
berkepentingan. Sedangkan bagi auditor, sistem pengendalian intern digunakan
untuk mengetahui apakah prosedur dan kebijakan yang telah ditetapkan
manajemen perusahaan telah dilaksanakan sebagaimana mestinya dan jika terjadi
kesalahan, akan dapat diketahui dan diatasi dengan cepat. Oleh karena itu,
dibutuhkan kemampuan seorang manajer yang berpengalaman untuk menjaga
kekayaan organisasi, mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi,
mendorong efesiensi dan dipatuhinya kebijakan manajemen yang merupakan
tujuan dari sistem pengendalian internal.
8
Indonesia (SEBI) No. 5/22/DPNP tanggal 29 September 2003 bahwa sistem
pengendalian internal tersebut terdiri dari lima elemen utama sistem yang satu
sama lain saling berkaitan, sehingga perlu diketahui sebagai berikut yaitu
pengawasan oleh Manajemen dan Kultur Pengendalian; identifikasi dan penilaian
risiko; kegiatan pengendalian dan pemisahan fungsi; sistem akuntansi, Informasi,
dan komunikasi; serta kegiatan pemantauan dan tindakan koreksi penyimpangan.
Menurut peraturan Pemerintah No. 60 tahun 2008 mendefinisikan sistem
pengendalian intern sebagai suatu proses yang integral yang dilakukan secara
terus menerus oleh pimpinan dan pegawai untuk memberikan keyakinan memadai
atas tercapainya tujuan organisai melalui kegiatan yang efektif dan efisien,
keandalan pelaporan keuangan, pengamatan aset negara dan ketaatan terhadap
peraturan perundang-undangan (Puspitaningrum, 2012). Sistem pengendalian
internal bukanlah unit kerja yang berhubungan langsung dengan penghasilan
perusahaan, tetapi jika peran dan fungsi sistem ini berjalan dengan semestinya
maka berhubungan tidak langsung dengan peningkatan penghasilan. Peningkatan
penghasilan ini berasal dari tertibnya pembukuan keuangan sehingga dapat
mencegah terjadinya kehilangan uang perusahaan, menjaga aset perusahaan dari
penyalahgunaan dan kecurangan dan terjaganya mutu pelayanan pelanggan, serta
efisiensi usaha. Efisiensi yang dimaksud adalah hal yang berhubungan dengan
penentuan apakah tujuan perusahaan dicapai dengan penggunaan sumber daya
yang optimal.
manajemen dalam mengawasi dan mengevaluasi sistem pengendalian internal
terhadap sistem pemberian kredit sehingga mengarahkan jalannya prosedur dalam
jalur yang benar. Temuan sistem pengendalain internal tidak selalu negatif tetapi
juga ada temuan positif, temuan positif ini hendaknya disebarluaskan sehingga
dapat menjadi contoh bagi unit kerja yang lain.
Prinsip Kehati-hatian Dalam Melakukan Kegiatan Usaha BPR
Usaha perbankan khususnya Bank Perkreditan Rakyat (BPR) adalah usaha
yang berisiko, dimana sebagian besar dana dihimpun dari masyarakat disalurkan
dalam bentuk kredit yang diberikan, sehingga wajib menerapkan prinsip kehati-
hatian atau yang juga dikenal dengan prudent principles. Setiap rupiah yang
disalurkan dalam bentuk kredit, bank harus berkeyakinan bahwa akan digunakan
oleh debitur sesuai dengan perjanjian dan debitur mau serta mampu
mengembalikannya kepada bank sesuai dengan waktu dan jumlah yang sudah
diperjanjikan. Bank juga harus secara hati-hati dalam pengelolaan portofolio yang
dimiliki, sehingga selalu dalam kondisi baik. Sebagai otoritas perbankan, Bank
Indonesia menetapkan berbagai peraturan yang terkait dengan penerapan prinsip
kehati-hatian bagi bank.
Bank Indonesia dalam melaksanakan kegiatan usaha agar senantiasa sesuai
dengan ketentuan-ketentuan perbankan yang berlaku guna menghindari
penyimpangan praktek perbankan yang tidak sehat dan untuk meminimalisir
10
kerugian yang terjadi pada bank. Berdasarkan SK DIR BI No.26/20/KEP/DIR,
Tanggal 29 Mei 1993 dan SE BI No.26/2/BPPP Tanggal 29 Mei 1993, Cakupan
Prinsip Kehati-hatian, meliputi :
Kualitas Aktiva Produktif (KAP)
1. Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM)
KPMM merupakan salah satu rasio yang digunakan untuk menilai aspek
permodalan yang didasarkan pada CAR (Capital Adiqucy Ratio) yang
ditetapkan oleh Bank Indonesia. Perbandingan ratio tersebut adalah modal
terhadap Aktiva atau Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR). Berdasarkan
Peraturan Bank Indonesia Nomor:8/18/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006
tentang Penyediaan Modal Minimum BPR, ditetapkan sebagai berikut :
BPR wajib menyediakan modal minimum sebesar 8% dari ATMR (Aktiva
Tertimbang Menurut Risiko).
KPMM = Modal X 100%
Aktiva Tertimbang Menurut Risiko
Modal terdiri dari modal inti dan modal pelengkap.
Modal inti terdiri dari: modal disetor; agio; dana setoran modal; modal
sumbangan; cadangan umum; cadangan tujuan; laba ditahan setelah
diperhitungkan pajak; laba tahun-tahun lalu setelah diperhitungkan pajak;
dan laba tahun berjalan diperhitungkan 50% setelah taksiran pajak. Modal
inti diperhitungkan dengan faktor pengurang, berupa goodwill, disagio,
rugi tahun-tahun lalu, rugi tahun-tahun berjalan. Modal pelengkap terdiri
dari cadangan revaluasi aktiva tetap, PPAP umum setinggi-tingginya
sebesar 1,25% dari aktiva tertimbang menurut risiko, modal pinjaman,
pinjaman subordinasi setinggi-tingginya sebesar 50% dari modal inti.
BPR dilarang melakukan distribusi laba jika distribusi dimaksud
mengakibatkan kondisi permodalan BPR tidak mencapai rasio 8%.
BPR yang melanggar KPMM dikenakan sanksi selain diperhitungkan
dalam penilaian tingkat kesehatan BPR juga dikenakan tindakan dalam
rangka pembinaan dan pengawasan bank serta sanksi administratif.
Aktiva tertimbang menurut risiko terdiri dari aktiva neraca BPR yang
diberikan bobot sesuai dengan kadar risiko yang melekat pada setiap pos
aktiva.
12
Sumber : SEBI No. 6/23DPNP tanggal 31 Mei 2004
Dikatakan sangat baik apabila rasio CAR lebih dari sama dengan 12%
sehingga masuk pada golongan peringkat pertama, jika semakin menurun
hingga kurang dari sama dengan 6% maka masuk pada golongan peringkat
ke 5 yang diartikan bahwa rasio CAR sangat buruk dalam menentukan
nilai aspek permodalan di sebuah perbankan.
2. Kualitas Aktiva Produktif (KAP)
Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor:8/19/PBI/2006 tanggal 5
Oktober 2006 tentang Kualitas Produktif dan Pembentukan Penyisihan
Aktiva Produktif BPR dan Peraturan Bank Indonesia nomor 13/26/PBI/2011
tentang Perubahan atas PBI no 8/19/PBI/2006, ditetapkan sebagai berikut :
Aktiva Produktif adalah penyediaan dana BPR dalam Rupiah untuk
memperoleh penghasilan, dalam bentuk Kredit, Sertifikat Bank Indonesia
dan Penempatan Dana Antar Bank.
Rasio Peringkat
dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam
antara BPR dengan pihak peminjam yang mewajibkan pihak peminjam
untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian
bunga.
berharga dalam mata uang Rupiah yang diterbitkan oleh Bank Indonesia
sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek.
Penempatan Dana Antar Bank adalah penanaman dana BPR pada bank
lain dalam bentuk tabungan, deposito berjangka, sertifikat deposito, Kredit
yang diberikan dan penanaman dana lainnya yang sejenis.
Aktiva Produktif yang diklasifikasikan adalah aktiva produktif yang sudah
mengandung potensi tidak memberikan penghasilan atau menimbulkan
kerugian bagi BPR.
Penempatan Dana Antar Bank ditetapkan dalan 4 (empat) golongan, yaitu
Lancar, Kurang Lancar, Diragukan dan Macet.
Agunan Yang Diambil Alih (AYDA) yaitu aktiva yang diperoleh Bank,
melalui lelang atau diluar lelang berdasarkan penyerahan secara suka rela
oleh pemilik agunan dan berdasarkan surat kuasa untuk menjual diluar
lelang dari pemilik agunan dalam hal debitur yang dinyatakan Macet.
14
Kualitas Aktiva Produktif yang ditetapkan oleh BPR dapat diturunkan oleh
Bank Indonesia dengan professional judgement apabila terjadi kondisi
sebagai berikut : Debitur tidak diketahui lagi keberadaannya serta usaha
debitur bangkrut.
Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif adalah cadangan yang harus
dibentuk sebesar persentase tertentu untuk menutup resiko kemungkinan
kerugian yang ditimbulkan akibat penempatan dana dalam bentuk Antar Bank
Aktiva. Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif sesuai PBI NO.
8/19/PBI/2006 tanggal 5 Oktober 2006, yaitu sebagai berikut :
BPR wajib membentuk PPAP berupa PPAP umum dan PPAP khusus.
PPAP umum ditetapkan paling kurang sebesar :
a. 0,5% (lima permil) dari Aktiva Produktif yang memiliki kualitas
Lancar, tidak termasuk Sertifikat Bank Indonesia.
PPAP khusus ditetapkan paling kurang sebesar :
a. 10% dari Aktiva Produktif dengan kualitas Kurang Lancar setelah
dikurangi dengan nilai agunan.
b. 50% dari Aktiva Produktif dengan kualitas Diragukan setelah dikurangi
dengan nilai agunan
c. 100% dari Aktiva Produktif dengan kualitas Macet setelah dikurangi
dengan nilai agunan;
(PPAP) : PPAP yang telah dibentuk
PPAP yang wajib dibentuk
ekonomisnya.
kualitas Kredit setelah dilakukan restrukturisasi.
Restrukturisasi Kredit adalah upaya perbaikan yang dilakukan BPR dalam
kegiatan perkreditan terhadap Debitur yang mengalami kesulitan untuk
memenuhi kewajibannya, yang dilakukan melalui: penjadualan kembali,
persyaratan kembali, dan penataan kembali.
4. Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK)
Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) yang diatur dalam
Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 7/3/PBI/ 2005 yang telah diubah dengan
PBI No. 8/13/PBI/2006 tentang Batas Umum Pemberian Kredit Bank Umum.
Ketentuan ini diatur lebih lanjut pada Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI)
No. 7/14/PBI/DPNP tertanggal 18 April 2005. Bank juga diwajibkan
menerapkan manajemen risiko terutama manajemen risiko terhadap
penyediaan dana kredit kepada pihak terkait maupun terhadap peminjam yang
memiliki eksposur besar. Tujuan dari penetapan BMPK adalah untuk
16
penyebaran risiko (risk spreading) agar tidak terjadi pengumpulan portofolio
pada suatu kelompok tertentu baik yang terkait dengan bank maupun pihak
lain yang tidak terkait dengan bank itu sendiri.
Bank Indonesia juga memuat persayaratan tertentu terkait dengan
BMPK. Pertama, paling sedikit terdapat satu anggota kelompok peminjam
yang sahamnya dimiliki publik sebesar 40% atau lebih. Kedua, perusahaan
yang dimiliki publik telah ditetapkan mendapat insentif pengurangan sesuai
ketentuan perpajakan yang berlaku. Ketiga, porsi kepemilikan publik pada
perusahaan yang dimaksud wajib dipertahankan sampai dengan fasilitas yang
diperoleh perusahaan tersebut lunas, yang wajib dituangkan dalam perjanjian
antara bank dengan debitor. Keempat, saham yang dimiliki publik tidak boleh
secara langsung maupun tidak langsung dimiliki oleh pengendali atau
pemegang saham lainnya. Porsi penyediaan dana kepada perusahaan yang
memenuhi persyaratan tertentu ini tidak boleh lebih kecil dari porsi
penyediaan dana kepada anggota kelompok lainnya. Sementara penyediaan
dana tambahan yang berasal dari peningkatan BMPK terhadap kelompok
peminjam yang memenuhi persyaratan hanya dapat diberikan kepada anggota
kelompok sesuai aturan yang ditetapkan.
Bank Indonesia menyebutkan bahwa Batas Maksimum Pemberian
Kredit dikelompokkan menjadi BMPK untuk Pihak Terkait dengan Bank
serta BMPK untuk Pihak Tidak Terkait dengan bank. Kriteria Pihak Terkait
dan Pihak Tidak Terkait dengan bank dirinci oleh bank Indonesia dalam
17
Desember 1998” (Bab 1, pasal 1).
Tabel 2. Tabel Kelompok Batas Maksimum Pemberian Kredit
Sumber : Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia No.31/177/KEP/DIR
tanggal 31 Desember 1998
kepentingan kelompok sendiri. Jika BMPK diberikan kepada pihak terkait
Peningkatan terhadap BMPK untuk pihak tidak terkait akan mendorong
perusahaan untuk go public. BMPK diberlakukan kepada debitur dalam
rangka penyebaran risiko dan penerapan asas pruden bagi Bank Umum.
Semakin kecil BMPK akan semakin sedikit debitur yang memperoleh kredit
besar, yang artinya resiko kredit bank lebih tersebar karena dengan modal
yang sama, kredit dapat diberikan kepada debitur yang lebih banyak.
Dengan mengetahui batas maksimum pemberian kredit maka sistem
pemberian kredit pun dapat berjalan sesuai dengan aturan yang berlaku.
Sistem pemberian kredit merupakan suatu tindakan yang digunakan oleh
BMPK untuk Pihak Terkait BMPK untuk Pihak Tidak Terkait
BMPK untuk seluruh Pihak
ditetapkan setinggi – tingginya
diberikan kepada pihak tidak terkait
dengan bank tersebut.
membantu dalam permodalan atau membantu pengembangan usahanya.
(Kamus Ekonomi dan Perbankan). Pada dasarnya bank mempunyai tata cara,
persyaratan dan prosedur permohonan kreditnya sendiri-sendiri, namun tetap
saja secara konsisten mengacu pada peraturan perundangan yang berlaku bagi
kalangan perbankan.
tujuan perusahaan yang ditetapkan telah tercapai. Sehingga dalam hal ini,
efektifitas dalam pemberian kredit apakah telah sesuai dengan penentuan sistem
pengendalian internal, karena struktur pengendalian internal terhadap sistem
pemberian dan pengembalian kredit melihat pada aspek-aspek atau langkah-
langkah tertentu, baik positif maupun negatif yang ditimbulkan dari struktur
pengendalian yang telah ada terhadap aktivitas kredit yang berlangsung selama
ini. Perlu diketahui bahwa Sistem Pengendalian Internal juga memiliki kelemahan
yaitu efektifitas yang terbatas. Jadi mungkin saja sistem tersebut tidak dapat
mencegah suatu kesalahan tertentu. Selain itu, Sistem Pengendalian Internal juga
dapat diakali oleh personel, baik secara sendiri-sendiri maupun kolusi. Oleh
karena itu, manajemen perlu menguji apakah Sistem Pengendalian Internal yang
telah dibangun sudah berjalan secara efektif atau belum.
Hasil penelitian studi kasus pada PD BPR Salatiga (Filemon, 2011)
menerapkan SEBI No.5/22/DPNP tanggal 29 September 2003 tentang “Pedoman
19
Pengendalian Intern bagi Bank Umum” sebagai indikator untuk melihat kinerja
BPR dalam menjalankan kegiatan pengendalian internal. Pengendalian internal
yang dilakukan pada penelitian ini sudah mencakup detail hal-hal yang berkaitan
dengan pengendalian internal pada SEBI No.5/22/DPNP tanggal 29 September
2003 tentang “Pedoman Pengendalian Intern bagi Bank Umum” terdiri dari lima
elemen yang pertama yaitu pengawasan oleh Manajemen dan Kultur
Pengendalian, menekankan kepada hubungan antara manajemen puncak dengan
bagian bawahnya dalam stuktur organisasi. Evaluasi mengenai kinerja perusahaan
berhubungan dengan efektivitas pengawasan kredit yang dijalankan oleh Satuan
Pengawasan Kredit yang dilakukan secara berkala tiap minggu di hari Jumat
untuk memperbaiki kinerja dalam rencana kerja satu minggu berikutnya.
Elemen yang kedua yaitu identifikasi dan penilaian risiko, dimaksudkan
untuk mengidentifikasi kelemahan dan menilai penyimpangan secara dini dan
menilai kembali kewajaran kebijakan dan prosedur yang ada di BPR tersebut
secara berkesinambungan. Kaji ulang penelitian risiko kredit dilakukan secara
mingguan, bersamaan dengan perencanaan bagian pemasaran untuk program kerja
satu minggu kedepan. Koordinasi SPI dan marketing dilakukan setiap sore.
Koordinasi dilakukan sebagai evaluasi dan rencana kerja satu minggu kedepan.
Elemen yang ketiga yaitu kegiatan pengendalian dan pemisahan fungsi,
dalam kegiatan pengendalian ini dilakukan oleh Satuan Pengawas Intern biasanya
dilakukan secara insidental. Satuan pengawas intern berkewajiban memberikan
laporan dalam bentuk dokumen resmi kepada Direksi terkait kinerja perusahaan
selama satu bulan. Kaji ulang terhadap penilaian risiko kredit dilakukan secara
20
mingguan oleh Satuan Pengawasan Intern, sedangkan kegiatan analisa terhadap
data operasional dilakukan harian dan dilaporkan bulanan. Untuk menghindari
pemberian tugas yang tidak sesuai maka operlu dipastikan tindakan otorisasi yang
dilakukan oleh fungsi dan jabatan yang tepat. Misalnya di bagian pembulatan
instruksi pencairan kredit sudah terpisahdengan bagian kredit. Fungsi lain seperti
pembukuan atau bagian akuntansi juga terpisah dengan bagian kas atau teller.
Elemen yang keempat yaitu sistem akuntansi, informasi, dan komunikasi,
dalam hal ini Satuan Pengawas Intern melakukan rekonsiliasi terhadap data
akuntansi berdasarkan laporan keuangan dengan sistem informasi manajemen
yang dilakukan secar berkala mengikuti alur evaluasi yang dilakukan oleh Satuan
Pengawas Intern beserta bagian pemasaran setiap minggu. Pencocokan fisik
kekayaan perusahaan dengan catatan yang berkaitan dengan itu sering dilakukan
oleh Satuan Pengawas Intern. Seperti menilai aset-aset yang perlu penangan
ekstra, melakukan penyisihan aktiva dan lain-lain.
Elemen yang kelima yaitu kegiatan pemantauan dan tindakan koreksi
penyimpangan, berdasarkan dengan kegiatan ini, bahwa saat ini hanya memiliki
satu Sumber Daya Manusia yang mengisi posisi Satuan Pengawas Intern. Tetapi
dalam rencana dua tahu ke depan, diproyeksikan posisi Satuan Pengawas Intern
diisi minimal dua SDM. Ruang lingkup yang menjadi program kerja Satuan
Pengawas Intern sehari-hari adalah melakukan pengawasan terhadap laporan
keuangan, approvement pengajuan kredit dan evaluasi terhadapa kinerja kredit.
Untuk meminimalkan risiko kredit yang mungkin terjadi, maka dibentuk
suatu perangkat kerja yang disebut komite kredit. Komite ini dibentuk dibawah
21
Kabag Pemasaran tetapi secara struktural perangkat kerja ini berdiri sendiri dan
bersifat insidental. Posisi struktural yang terlibat dalam komite kredit adalah
Direksi, Kabag Pemasaran dan Satuan Pengawas Intern. Dengan kata lain,
diperlukan suatu pengendalian yang dapat menunjang efektivitas pemberian
kredit.
bidang perkreditan, berati menunjukan sikap kehati-hatian dalam bentuk tubuh
bank tersebut. Untuk mampu berperan sebagai badan usaha yang baik, bank
melalui usaha pemberian kreditnya harus mampu meningkatkan efektifitas sistem
pemberian kerdit dan berusaha sebaik mungkin mengurangi resiko kegagalan
kredit. Jika diteliti lebih dalam, kegagalan kredit terutama disebabkan oleh
lemahnya pengendalian internal.
Satuan pengamatan dalam penelitian ini adalah satuan kerja audit intern
(SKAI). Sedangkan satuan analisisnya adalah PD. BPR BKK Ungaran, Kabupaten
Semarang. Yang beralamatkan Jl. Moch. Yamin, SH No. 1 Ungaran dan aktif
pada setiap jam pukul 08.00-16.00 sedangkan pada hari Sabtu mulai pukul 08.00-
12.00.
Jenis Data dan Prosedur Pengumpulan Data
Jenis data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data
primer dalam penelitian ini adalah hasil wawancara dengan pimpinan dan satuan
kerja perkreditan dari PD. BPR BKK Ungaran mengenai prosedur pemberian
kredit dan syarat untuk mendapatkan kredit dan sistem pengendalian kredit yang
diterapkan dalam pemberian kredit. Sedangkan data sekunder diperoleh dari akte
pendirian PD. BPR BKK Ungaran, struktur organisasi berserta laporan keuangan,
dan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan kegiatan perkreditan PD. BPR
BKK Ungaran. Dalam pengumpulan data ini terdiri dari tahap – tahap sebagai
berikut :
1. Tahap Penelitian Pendahuluan
Pada tahap studi ini pustaka dilakukan untuk mencari landasan teori yang
berhubungan dengan persoalan penelitian.
2. Tahap Penelitian Pokok
Pada tahap ini penulis berusaha memperoleh data yang diperlukan untuk
menganalisis masalah dan menjawab persoalan penelitian yang telah
23
BPR BKK Ungaran yang bertanggung jawab atas kegiatan perkreditan. Dari
data yang diperoleh, akan dilakukan analisis dengan membandingkan antara
tinjauan teori dengan yang terjadi di PD. BPR BKK Ungaran dalam rangka
menjawab persoalan penelitian.
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis
kualitatif deskriptif, yaitu analisis yang dilakukan untuk memberikan gambaran
secara jelas dan rinci, sistematis, dan menyeluruh mengenai segala hal yang
berhubungan dengan pelaksanaan pemberian kredit, serta memperbandingkan
antara prosedur pemberian kredit yang dimiliki PD. BPR BKK Ungaran dengan
teori-teori tentang prosedur pemberian kredit yang berlaku, sehingga dapat
mengurangi risiko kredit macet pada PD. BPR BKK Ungaran, Kabupaten
Semarang.
1. Wawancara
Intern di PD. BPR BKK Ungaran tentang Sistem Pengendalian Internal
terhadap penilaian risiko berbasis prinsip kehati-hatian pada kegiatan
kredit di PD. BPR BKK Ungaran.
24
Indonesia guna menganalisis sistem pengendalian internal di PD. BPR
BKK Ungaran.
Melakukan wawancara kepada staff yang bersangkutan di PD. BPR BKK
Ungaran, sehingga dapat menjawab persoalan penelitian.
4. Pengolahan Data
serta jawaban yang diperoleh dari hasil daftar pertanyaan yang dibuat
mengenai sistem pengendalian internal dalam sistem pemberian kredit di
PD. BPR BKK Ungaran, yang kemudian dibandingkan dengan
standarisasi sistem pengendalian internal yang ditetapkan Bank Indonesia.
5. Analisis dan Kesimpulan
pengendalian internal yang diterapkan di PD. BPR BKK Ungaran dengan
standarisasi yang ditetapkan Bank Indonesia berbasis prinsip kehati-hatian
khususnya pada penilaian risiko. Selanjutnya membuat kesimpulan dari
analisis tersebut.
Salah satu bank yang menyediakan sarana perbankan dan penyalur kredit
pada masyarakat adalah PD. BPR BKK (Badan Kredit Kecamatan). Pengertian
BKK menurut PERDA provinsi Daerah Tingkat I Jawa Tengah No. 11 tahun 1981
pasal 3, yaitu BKK merupakan badan usaha daerah yang
mempertanggungjawabkan pengelola dalam wilayah kabupaten atau kota
masing-masing disetahkan kepada bupati/walikota. BKK sebagai salah satu
bentuk dari Bank Perkreditan Rakyat yang bergerak sebagai unit perbankan dan
pemberi layanan kredit kepada masyarakat.
Badan Kredit Kecamatan (BKK) di Jawa Tengah didirikan berdasarkan
Surat Keputusan Gubernur Kepada Daerah Tingkat I Jawa Tengah, tanggal 4
September 1969 Nomor :
8 / 2 / 4
Dsa G.323 / 1970
12 / 19 / 24
tingkat I Jawa Tengah bersama dengan DPRD memantapkan kehadiran BKK
dengan membuat Perda No.11 Tahun 1981. Perda inipun telah mendapat
pengesahan dari Mendagri SK No. 581.053.3/884, tanggal 17 Desember 1981.
26
Kemudian diundangkan dalam lembaran Daerah Provinsi Daerah Tingkat I Jawa
Tengah No. 107 Tanggal 24 Desember 1981 Seri D No. 103. Dengan demikian
berubahlah statusnya dari proyek menjadi BUMN. Dalam perkembangannya
Perda tersebut telah diubah menjadi Perda Provinsi Jawa Tengah Perda No. 20
tahun 2002 tentang PD BPR BKK di Provinsi Jawa Tengah.
Sejak dikeluarkannya kebijakan pemerintah berupa derugasi Perbankan
tanggal 1 Juni 1983 sampai dengan paket kebijaksanaan pemerintah 25 Maret
1989 beserta penyempurnaan-penyempurnaannya maka PD. BPR Ungaran
meningkatkan statusnya menjadi PD. BPR BKK Ungaran. PD. BPR BKK
Ungaran adalah salah satu lembaga keuangan yang memanfaatkan dana dari
masyarakat yaitu tabungan masyarakat desa (Tamades), dan deposito, kemudian
menyalurkan kembali ke masyarakat dalam bentuk kredit atau pinjaman. Jenis
kredit yang diberikan berupa kredit investasi, kredit modal kerja, kredit
konsumtif, serta kredit KPn. PD. BPR BKK Ungaran didirikan dengan visi
membangun layanan jasa perbankan yang sehat untuk kesehatan masyarakan yang
lebih maju, sehingga diperlukan adanya penanganan khusus untuk peningkatan
kredit, karena kredit mempunyai peranan yang sangat penting dalam kegiatan
ekonomi.
Kantor PD. BPR BKK Ungaran terdiri dari satu kantor pusat dan sembilan
kantor cabang, yaitu PD. BPR BKK Ungaran cabang Klepu, Bawen, Ambarawa,
Jambu, Banyubiru, Sumowono, Tuntang, Bringin, dan Bandungan. PD. BPR BKK
Ungaran dalam melakukan usahanya berdasarkan Demokrasi Ekonomi dan
Prinsip kehati-hatian. Dengan tujuan untuk membangun dan mendorong
27
sebagai salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah dalam rangka meningkatkan
taraf hidup rakyat.
Semarang, yaitu dimiliki oleh pemerintah Provinsi sebesar 51% dan pemerintah
Kabupaten Semarang sebesar 49%. Dalam sistem pendanaan PD. BPR BKK
diatur dalam kebijakan antara pemerintah provinsi dengan pemerintah kabupaten
Semarang yang diselenggarakan melalui APBD. Namun dalam pengelolaannya
PD. BPR BKK bertanggungjawab atas kegiatan operasional perbankan terhadap
pemerintah kebupaten Semarang, akan tetapi untuk pertanggungjawaban aliran
dana aktivitas operasional dan perbankan PD. BPR BKK bertanggungjawab
langsung pada pemerintah provinsi Jawa Tengah. (Sumber : Lembaran Brosur
Promosi PD. BPR BKK Ungaran)
Dalam rangka menjaga dan mengamankan kegiatan usahanya dan
memelihara agar bank tetap sehat, PD. BPR BKK Ungaran telah memiliki satuan
pengawas dari pihak eksternal maupun internal. Pengawasan oleh pihak eksternal
bank meliputi otoritas pengawas Bank (Bank Indonesia) dan auditor eksternal dari
salah satu Kantor Akuntan Publik yang ditunjuk di wilayah Kabupaten Semarang.
Sedangkan pengawas oleh pihak intern bank, mencakup pengawasan dari Dewan
Komisaris Bank, sebagai Wakil pemegang saham dan Satuan Pengawas Internal
yang dikenal dengan sebutan Satuan Kerja Audit Internal (SKAI).
28
Analisis Sistem Pengendalian Internal pada Penilaian Risiko di PD. BPR
BKK Ungaran
membentuk suatu sistem pengendalian internal (SPI), yaitu suatu sistem yang
dirancang untuk memberikan jaminan atas pencapaian sasaran-sasaran yang
meliputi pelaksanaan kegiatan yang hemat, efisian dan efektif, penyajian laporan
keuangan yang layak, terpercaya, dan ketaan terhadap ketentuan yang berlaku.
SPI pada PD. BPR BKK Ungaran dijalankan oleh Satuan Kerja Audit Internal
(SKAI).
Pemeriksaan dilakukan oleh tim SKAI PD. BPR BKK Ungaran pada
setiap cabang yang berlokasi di daerah kecamatan yang berada di wilayah
kabupaten Semarang dengan jangka waktu satu tahun dua kali dan bersifat
mendadak atau yang dikenal dengan istilah Sidak (Pemeriksaan Mendadak).
(Sumber : Hasil Wawancara kepada pihak SKAI). Pemerikaaan dilakukan secara
menyeluruh, mencakup pencegahan, deteksi dan koreksi atau tindak lanjut hasil
pemerikasaan pada setiap divisi atau bagian, yaitu kredit, dana, kas, pembukuan,
dan PDE (Pembukuan Dengan Elektronik). Hasil pemerikasaan dilaporkan pada
Laporan Berita Acara Pemerikasaan yang dikonfirmasikan kepada pimpinan
cabang.
Identifikasi dan penilaian risiko telah diterapkan pada PD. BPR BKK
Ungaran. Untuk memastikan bahwa identifikasi dan penilaian risiko telah efektif,
maka analisis dengan standar pengendalian intern yang diterapkan Bank
Indonesia.
29
Menurut Pedoman Standar Bank Indonesia
Standar Bank Indonesia SPI BPR Hasil Analisis Keterangan
Penilaian risiko dilaksanakan oleh
Direksi dalam rangka identifikasi,
dihadapi Bank untuk mencapai
sasaran Usaha yang ditetapkan.
mempengaruhi pencapaian
terdapat risiko yang belum
dikendalikan, baik risiko yang
sebelumnya sudah ada maupun
risiko yang baru muncul.
Direksi PD. BPR BKK Ungaran telah melakukan identifikasi, menganalisis dan
menilai risiko yang dihadapi oleh bank. Hal ini dilakukan untuk memperkecil
segala risiko yang dapat mempengaruhi pencapaian target dari PD. BPR BKK
Ungaran, salah satu risiko tersebut yaitu kredit macet. Menurut Surat Edaran Bank
Indonesia Nomor 13/23/DPNP tanggal 25 Oktober 2011 risiko adalah potensi
kerugian akibat terjadinya suatu peristiwa (events) tertentu. Risiko Kredit adalah
Risiko akibat kegagalan nasabah atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban
kepada Bank sesuai dengan perjanjian yang disepakati. Untuk menciptakan sistem
pengendalian intern yang efektif guna meminimalisir kredit macet, PD. BPR BKK
Ungaran melakukan identifikasi dan penilaian risiko secara berkala yang
dilakukan setiap 3 bulan sekali oleh Dewan Komisaris, Direksi, dan SKAI.
31
Identifikasi dan penilaian risiko yang ada pada PD. BPR BKK Ungaran dapat
dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4. Identifikasi Penilaian Risiko pada
PD. BPR BKK Ungaran
Jenis Risiko Penetapan Limit Risiko Pengendalian Risiko
1. Risiko Kredit Risiko yang disebabkan oleh debitur. Menerapkan prinsip 5C dalam
menganalisis kredit. Yaitu
character, capacity, capital,
condition, dan colleteral.
karena tingkat suku bunag lebih tinggi
daripada bank atau lembaga kredit lainnya.
Menetapkan suku bunga yang
pencairan kredit besar-besaran.
Menetapkan strategi sesuai
kurang.
karena PD. BPR BKK Ungaran
mengambil barang jaminan.
Menggunakan materai serta
meminta notaris untuk
mencatat apabila barang
jaminan yang diserahkan
Meningkatkan pelayanan dari
menyimpang dari aturan.
Melakukan evaluasi terhadap
efektifitas setiap keputusan
berdasarkan keputusan direksi
Ungaran.
Setelah identifikasi dan penilaian risiko, maka PD. BPR BKK Ungaran
melakukan kaji ulang terhadap segala risiko yang belum dikendalikan baik risiko
yang sebelumnya sudah ada maupun risiko yang baru muncul. PD. BPR BKK
Ungaran melakukan kaji ulang sistem pengendalian internal dengan mengevaluasi
secara berkala dari setiap perubahan lingkungan dan kondisi serta dampak dari
pencapaian target atau efektivitas pengendalian internal dalam kegiatan operasi
dan organisasi PD. BPR BKK Ungaran. Dari hasil analisis dapat disimpulkan
bahwa identifikasi dan penilaian risiko dari PD. BPR BKK Ungaran telah sesuai
dengan standar sistem pengendalian internal Bank Indonesia.
33
BKK Ungaran
prinsip kredit yang sehat. Tahapan proses pemberian kredit merupakan tahapan
yang baku yang harus dilakukan personil yang membidangi perkreditan.
Permohonan kredit wajib diteliti tentang kelengkapan permohonan kreditnya.
Setiap permohonan kredit wajib melampirkan :
a. Foto copy KTP pemohon yang masih berlaku dan atau foto copy
suami/istri bagi pemohon yang sudah menikah.
b. Foto copy Kartu Keluarga pemohon yang masih berlaku.
c. Foto copy dokumen bukti kepemilikan barang agunan.
d. Foto copy SIUP dan Ijin Gangguan (HO) serta TDP bagi Badan Usaha
sebagai aspek sosial ekonomi/lingkungan.
e. Bagi pengajuan Kredit lebih dari Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah)
dilengkapi dengan proposal yang berisi paling tidak latar belakang,
maksud, dan tujuan permohonan Kredit, profil perusahaan, sasaran
permohonan kredit, laporan keuangan bulan terakhir serta susunan
pengurus.
Kredit bagi Pegawai :
a. Foto copy KTP pemohon yang masih berlaku dan atau foto copy
suami/istri bagi pemohon yang sudah menikah.
b. Foto copy Kartu Keluarga pemohon yang masih berlaku.
c. SK terakhir dan atau Taspen.
34
Kredit bagi Pensiun / Kredit beresiko tinggi :
a. Foto copy KTP pemohon yang masih berlaku dan atau foto copy
suami/istri bagi pemohon yang sudah menikah.
b. Foto copy Kartu Keluarga pemohon yang masih berlaku.
c. Buku Karib.
d. Bagi yang berumur lebih dari 65 tahun harus menyerahkan jaminan
tambahan karena tidak bisa terkafer oleh lembaga asuransi apabila terjadi
resiko.
dengan :
a. Foto copy KTP pemohon yang masih berlaku dan atau foto copy
suami/istri bagi pemohon yang sudah menikah.
b. Foto copy Kartu Keluarga pemohon yang masih berlaku.
c. Jaminan dari ketua kelompok yang disertai jaminan riil oleh ketua atau
jaminan bersama (1 jaminan untuk satu kelompok peminjam).
d. Ketua kelompok wajib melakukan monitoring angsuran kredit.
Dalam melakukan penerimaan nasabah, petugas wajb menggunakan
pendekatan berdasarkan risiko dengan mengelompokan nasabah berdasarkan
tingkat risiko terjadinya pencucian uang atau pendanaan terorisme.
Pengelompokan nasabah kredit berdasarkan tingkat risiko sebagaimana dimaksud
paling kurang dilakukan dengan melakukan analisis sebagai berikut, yaitu :
Identitas nasabah, lokasi usaha nasabah, profil nasabah, nilai nasabah, nilai
35
Panduan Keputusan Direksi PD. BPR BKK Ungaran).
Analisis Aspek Prinsip Kehati-hatian PD. BPR BKK Ungaran
BPR adalah lembaga keuangan bank yang menerima simpanan hanya
dalam bentuk deposito berjangka, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang
dipersamakan dengan itu dan menyalurkan dana sebagai usaha BPR. Pemberian
kredit merupakan kegiatan utama bank, namun mengandung risiko yang dapat
berpengaruh pada kesehatan dan kelangsungan usaha bank, sehingga dalam
pelaksanaannya bank harus menerapkan ketentuan-ketentuan perkreditan yang
sehat. Salah satu hal penting yang dianut industri perbankan nasional saat ini
adalah dengan menjalankan prinsip kehati-hatian (prudential principles) seperti
yang tercantum pada Pasal 29 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang
Perubahan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
Berdasarkan SK DIR BI No.26/20/KEP/DIR, Tanggal 29 Mei 1993 dan SEBI
No.26/2/BPPP Tanggal 29 Mei 1993, Cakupan Prinsip Kehati-hatian, meliputi :
1. Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM)
Kewajiban penyediaan modal minimum merupakan rasio yang digunakan
untuk mengukur seberapa besar kemampuan permodalan yang menutup
kemungkinan kerugian di dalam kegiatan perkreditan dan perdagangan surat
36
perseratus) dari aktiva tertimbang menurut risiko. Penyediaan modal terdapat dua
jenis modal yaitu modal inti dan modal pelengkap. Berikut adalah tabel KPMM
pada PD BPR BKK Ungaran :
Tabel 5. Tabel Kewajiban Penyediaan Modal Minimum Bank
(Dalam Ribuan)
1.2 Agio
1.3 Disagio
1.4 Modal sumbangan
1.5 Dana setoran modal 1.6 Cadangan umum 2.357 2.357 2.996 2.996
1.7 Cadangan tujuan 719 719 1.226 1.226
1.8 Laba ditahan 242 242
1.9 Laba tahun-tahun lalu
1.11 Laba tahun berjalan setelah dikurangi 5.234 2.617 6.076 3.038
(max 50% setelah dikurangi taksiran hutang PPh)
1.12 Kkekurangan PPAP
1.15 Goodwill
2 Modal Pelengkap
2.2 Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif Umum 136.30 1.704 111.197 1.387
(max 1,25% dari ATMR)
2.5 Jumlah Modal Pelengkap 1.704 1.390
37
B MODAL MINIMUM (8% x ATMR) 136.305 10.904 111.197 8.896
C JUMLAH KELEBIHAN / (KEKURANGAN) MODAL 8.082 11.353 D RASIO KPMM 13,93% 18,21%
Sumber : Data Keuangan Permodalan PD PBR BKK Ungaran
Berdasarkan hasil tabel di atas menunjukan bahwa KPMM pada tahun
2011 sebesar 13,93% dan pada tahun 2012 KPMM sebesar 18,21% tergolong baik
karena memenuhi ketentuan yang sudah ditetapkan yaitu tidak boleh kurang dari
8%, yang artinya kemampuan permodalan BPR masih baik. Dan menurut tabel
peringkat KPMM yang bersumber dari SEBI No. 6/23DPNP tanggal 31 Mei 2004
mengindikasikan bahwa hasil rasio KPMM yang melebihi dari 12% maka
termasuk dalam peringkat satu (1) sangat memuaskan yang berarti BPR tersebut
tidak mengalami masalah permodalan, di mana Aktiva Tertimbang Menurut
Risiko (ATMR) tidak terlalu tinggi, sehingga rasio KPMM nya bernilai lebih dari
atau sama dengan 8%.
Dalam proses perhitungan kewajiban penyediaan modal minimum
dilakukan setiap bulan oleh Sub. Bid. Perncanaan dan Pelaporan IT yaitu Bp.
Fistiono Sapardjo, Amd. Yang kemudian dilaporkan setiap tiga bulan sekali
kepada Direksi. Dapat dilihat dalam tabel di atas, bahwa perbandingan antara
Desember 2011 dengan Desember 2012 sebesar 4,28% yang mana lebih tinggi
pada tahun 2012. Hal ini berarti kemampuan permodalan untuk menutup
kemungkinan kerugian di dalam kegiatan perkreditan dan perdagangan surat
berharga semakin meningkat.
2. Kualitas Aktiva Produktif (KAP)
Aktiva produktif yaitu penanaman dan BPR dalam bentuk kredit, SBI, dan
penanaman kembali pada bank lain, yang dimaksudkan untuk memperoleh
penghasilan. Sehingga jika disimpulkan semakin besar aktiva produktif maka
semakin besar pula tingkat penghasilan pada Bank tersebut. Berikut adalah tabel
PPAP di PD. BPR BKK Ungaran :
Tabel 6. Tabel Kualitas Aktiva Produktif
(Dalam Jutaan)
Thn/Bln Golongan
Jumlah Kredit
NPL (%)
2011 Oktober 43.626 1.130 1.514 5.516 5,38 151.786 7.724 November 42.208 1.075 1.475 5.593 5,42 150.351 7.685 Desember 141.172 1.073 1.335 5.578 5,35 149.158 7.658
2012 Oktober 31.554 1.182 1.269 6.111 6,11 140.116 7.054 November 128.540 1.283 1.362 6.132 6,39 137.316 6.983 Desember 26.207 1.415 1.174 6.241 6,54 135.037 6.887
Sumber : Data Keuangan KAP PD. PBR BKK Ungaran
Tabel di atas adalah perbandingan 3 bulan terakhir pada tahun 2011 dan
tahun 2012. Dalam pembuatan laporan tersebut merupakan gabungan rincian
untuk 10 kantor, terdiri dari 9 kantor cabang yaitu Ambarawa, Bandungan,
Banyubiru, Bawen, Bringin, Jambu, Klepu, Sumowono dan Tuntang serta 1
kantor Pusat yaitu di Ungaran. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa kualitas
aktiva produktif yang paling besar adalah golongan lancar. Sehingga dapat
39
disimpulkan bahwa jumlah aktiva produktif semakin meningkat dan membaik,
maka kualitas aktiva produktif digolongkan pada kolektibilitas kredit Lancar.
Kualitas kredit dikatakan lancar apabila tidak terdapat tunggakan angsuran
pokok dan/atau bunga selama 3 (tiga) kali periode pembayaran secara berturut-
turut, terdapat tunggakan angsuran pokok dan atau bunga tidak lebih dari satu
bulan dan Kredit belum jatuh tempo. Selain itu dikatakan lancar apabila kualitas
kredit sebelum dilakukan Restrukturisasi Kredit, jika Debitur tidak dapat
memenuhi kondisi yang pertama. Bank wajib membebankan kerugian yang timbul
dari Restrukturisasi Kredit, setelah diperhitungkan dengan kelebihan PPAP karena
perbaikan kualitas Kredit setelah dilakukan restrukturisasi. Sama halnya dalam
perhitungan pelaporan KPMM, bahwa untuk membuat laporan kualitas aktiva
produktif dilakukan setiap bulan oleh Sub. Bid Pengawasan Kredit dan hasilnya
dilaporkan setiap tiga bulan sekali kepada Direksi.
Non Performing Loan (NPL) merupakan rasio yang digunakan untuk
menilai dan mengetahui seberapa besar bank mengalami kredit bermasalah dalam
menjalankan aktivitas operasionalnya. Bank Indonesia menetapkan bahwa suatu
lembaga keuangan termasuk BPR harus mempunyai kinerja NPL yang
dikategorikan sehat atau baik, dimana BPR tidak mengalami kredit macet, bila
rasio NPL kurang dari atau tidak boleh melebihi angka 5%. NPL digunakan Bank
Indonesia untuk menilai aspek kualitas aktiva produktif suatu bank.
Rasio ini dihitung dengan membandingkan kredit bermasalah terhadap
total kredit. Kredit merupakan kredit atau pinjaman yang diberikan kepada pihak
40
ketiga (tidak termasuk kredit pada bank lain). Sedangkan kredit bermasalah adalah
kredit yang kualitas kurang lancar, diragukan, dan macet. Kredit bermasalah
dihitung secara gross (tidak dikirangi PPAP). Angka dihitung per posisi (tidak
disetahunkan). Untuk mengetahui apakah NPL pada suatu perbankan khususnya
pada BPR sudah baik atau belum sesuai dengan aturan yang berlaku, maka dilihat
melalui indikator NPL saat ini. Menurut buku yang berjudul “Kajian Ekonomi
Regional Provinsi Jawa Tengah Triwulan IV Tahun 2012” pada halaman 45
menjelaskan perkembangan indokator NPL perbankan yang berlaku di Provinsi
Jawa Tengah pada tahun 2011 dan 2012, berikut adalah tabel perkembangan
indikator perbankan Bank Umum & BPR di Provinsi Jawa Tengah :
Tabel 7. Tabel Perkembangan Indikator Perbankan Bank Umum
dan BPR di Provinsi Jawa Tengah (Dalam Triliun Rp.)
Indikator Tahun
2011 2012
b. NPL - BPR (%) 6,9 6,1
Kredit – Total 131,4 162,3
b. Kredit – BPR 9,8 11,3
LDR - Perbankan (%) 98,3 104,2
b. LDR - BPR (%) 108,1 107,0
Sumber : DSM, Bank Indonesia, hal.45
41
Dapat dilihat pada di atas, bahwa rata-rata NPL menurut Bank Indonesia
pada tahun 2011 adalah 6,9% sedangkan rata-rata NPL pada BPR tahun 2011
adalah sebesar 5,4%, ini termasuk baik karena berdasarkan kriteria yang
ditentukan oleh Bank Indonesia, NPL suatu bank tidak boleh melebihi angka
6,9% pada saat itu. Hal ini mengidentifikasikan bahwa PD BPR BKK Ungaran
mampu menangani kredit bermasalah dalam manajemennya. Sedangkan untuk
tahun 2012, rata-rata NPL menurut Bank Indonesia sebesar 6,1%, kemudian rata-
rata NPL pada BPR sebesar 6,3% ini termasuk tidak baik karena berdasarkan
kriteria yang ditentukan oleh Bank Indonesia, NPL suatu bank tidak boleh
melebihi angka 6,1% pada saat itu baik kredit dengan kualitas kurang lancar,
diragukan, dan macet.
Bank wajib membentuk penyisihan penghapusan aktiva produktif untuk
menutup resiko kemungkinan kerugian yang ditimbulkan akibat penempatan dana
dalam bentuk Kredit maupun dalam bentuk Antar Bank Aktiva. Dalam
membentuk penyisihan ini, tidak termasuk untuk Surat Berharga Indonesia (SBI).
Berikut adalah tabel PPAP di PD. BPR BKK Ungaran :
42
(Dalam Jutaan)
2011
Oktober 5.822 5.739 100
November 5.895 5.796 100
Desember 5.794 5.918 97,9
Sumber : Data Olahan, 2013
Periode pada tabel di atas adalah perbandingan 3 bulan terakhir pada tahun
2011 dan tahun 2012. Yang menunjukkan pada tahun 2011 PPAP Real dalam
jutaan sebesar 14.788 dan total PPAPWD sebesar 13.063, dengan prosentase
sebesar 100%, hal ini mengidentifikasi bahwa dalam hal cadangan biaya guna
menutup risiko kemungkinan kerugian mengalami kelebihan dana yang berarti ini
sangat baik bagi PD. BPR BKK Ungaran untuk kelancaran penghapusan aktiva
produktif. Kemudian pada tahun 2012, PPAP Real dalam jutaan sebesar 17.511
dan total PPAPWD sebesar 17.453, dengan prosentase sebesar 100%, tidak jauh
berbeda pada tahun 2011 yang mana dalam hal cadangan biaya mengalami
kelebihan dana bagi kelancaran penghapusan aktiva produktif.
Dengan melihat perbandingan tersebut disimpulkan bahwa perkembangan
PPAP semakin meningkat dalam periode tahun berjalan, maka semakin berisiko
pula kemungkinan kerugian yang dialami oleh BPR. Kerugian sebenarnya yang
disebabkan piutang yang dalam kenyataanya tidak perlu ditagih dibebankan pada
43
perkiraan cadangan piutang tak tertagih. Dalam hal cadangan piutang tak tertagih
tidak seluruhnya dipakai untuk menutup kerugian yang disebabkan piutang yang
dalam kenyataannya tidak dapat ditagih, untuk itu maka jumlah kelebihan
cadangan tersebut diperhitungkan sebagai penghasilan, sedangkan dalam hal
jumlah cadangan tersebut yang tidak mencukupi, maka kekurangannya
diperhitungkan sebagai kerugian.
Seperti contoh berikut, dimisalkan Seorang Debitur X memiliki fasilitas
kredit di BPR Y dengan agunan berupa tanah yang diikat dengan hak tanggungan
senilai Rp375.000.000,-. Pada tanggal 2 Januari 2012 fasilitas kredit tersebut
ditetapkan Macet oleh BPR X sehingga agunan tersebut digunakan sebagai faktor
pengurang PPAP sebesar 80% dari nilai agunan yakni sebesar Rp300.000.000,-.
Apabila setelah 2 (dua) tahun yakni pada tanggal 2 Januari 2014 kredit Macet
Debitur X tersebut belum juga terselesaikan atau belum ada upaya penyelesaian
oleh BPR baik dalam bentuk restrukturisasi kredit atau pengambilalihan agunan
maka nilai agunan yang digunakan sebagai faktor pengurang PPAP adalah sebesar
50% dari Rp300.000.000,- yakni sebesar Rp150.000.000,-.
4. Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK)
PD. BPR BKK Ungaran dalam menyediakan dana perlu memperhatikan
prinsip kehatihatian antara lain dengan penyebaran portofolio penyediaan dana
yang diberikan agar risiko penyediaan dana tersebut tidak terpusat pada Peminjam
atau kelompok Peminjam tertentu. Dalam rangka pemantauan penyediaan dana,
BPR menyampaikan laporan Batas Maksimum Pemberian Kredit (BMPK) secara
44
berkala kepada Bank Indonesia. Pelaporan BMPK disampaikan oleh kantor pusat
BPR secara on-line yang mencakup data kantor pusat dan data seluruh kantor
cabang BPR.
Perhitungan BMPK untuk penyediaan dana kepada Pihak Terkait di PD.
BPR BKK Ungaran dilakukan berdasarkan jumlah seluruh baki debet kredit Pihak
Terkait dan seluruh nominal atau baki debet penempatan dana (tabungan,
deposito, dan kredit) kepada seluruh BPR lain Pihak Terkait sebesar 10% (sepuluh
persen) dari modal BPR. Kemudian perhitungan BMPK untuk Penempatan Dana
Antar Bank pada BPR lain Pihak Tidak Terkait dilakukan berdasarkan jumlah
seluruh nominal atau baki debet Penempatan Dana Antar Bank (tabungan,
deposito, dan kredit) di masing-masing BPR Pihak Tidak Terkait sebesar 20%
(dua puluh persen) dari modal BPR. Ada pula perhitungan BMPK untuk
penyediaan dana dalam bentuk kredit kepada satu atau lebih Peminjam Pihak
Tidak Terkait yang merupakan bagian dari kelompok Peminjam Pihak Tidak
Terkait dihitung berdasarkan pemberian kredit kepada masing-masing Peminjam
dan pemberian kredit kepada satu kelompok Peminjam Pihak Tidak Terkait.
BMPK pemberian kredit kepada satu kelompok Peminjam Pihak Tidak Terkait
sebesar 30% (tiga puluh persen) dari modal BPR.
BPR dinyatakan melakukan pelanggaran BMPK apabila terdapat selisih
lebih antara persentase penyediaan dana pada saat direalisasikan terhadap Modal
BPR dengan BMPK yang diperkenankan. BPR tetap dinilai melanggar BMPK
selama pelanggaran BMPK tersebut belum diselesaikan. Dalam hal terdapat
pelanggaran BMPK berupa penyediaan dana dalam bentuk kredit kepada satu atau
45
lebih Peminjam Pihak Tidak Terkait yang merupakan bagian dari kelompok
Peminjam Pihak Tidak Terkait maka pelanggaran BMPK dihitung berdasarkan
penjumlahan pelanggaran atas pemberian kredit kepada masing-masing Peminjam
dan pelanggaran pemberian kredit kepada satu kelompok Peminjam Pihak Tidak
Terkait.
apabila terjadi selisih lebih antara persentase Penyediaan Dana yang telah
direalisasikan terhadap Modal BPR pada saat tanggal laporan dengan BMPK yang
diperkenankan dan tidak termasuk Pelanggaran BMPK. Pelampauan BMPK dapat
disebabkan oleh penurunan modal BPR, penggabungan usaha (merger), peleburan
usaha (konsolidasi), pengambilalihan usaha (akuisisi), perubahan struktur
kepemilikan dan/atau kepengurusan yang menyebabkan perubahan Pihak Terkait
dan/atau kelompok Peminjam, dan/atau perubahan ketentuan. Berikut adalah tabel
laporan penyediaan dana pihak terkait milik PD. BPR BKK Ungaran pada bulan
Desember 2012 yaitu :
NAMA PEMINJAM/BANK
KUALITAS
A. INDIVIDU PEMINJAM NUR WAHONO ADIK
KANDUNG DIREKSI
SUGIARSO DIREKTUR UMUM
SUYANTO KABID DANA 19/10/2012 52.708 0 52.708 1
HERU SUHARYANTO PIMPINAN CABANG
46
I. Jumlah Penyediaan Dana Netto
185.166
0
302.832
Dalam laporan penyediaan dana pihak terkait milik PD.BPR BKK
Ungaran pada bulan Desember 2012 dijelaskan bahwa tidak terdapat pelanggaran
BMPK, yang tertulis sebesar 0,00 %. Hal ini mengidentifikasikan bahwa PD BPR
BKK Ungaran dalam menentukan batas maksimum pemberian kredit sesuai
dengan ketentuan yang berlaku.
BMPK, dan laporan pelanggaran BMPK selalu mencantumkan modal KPMM.
Sehingga dengan adanya modal KPMM dapat menentukan BMPK sesuai dengan
ketentuan yang berlaku. Modal KPMM pada saat itu adalah 20.248.784 sehingga
dapat diketahui untuk pihak terkait BMPK adalah 10% dari modal KPMM yaitu
2.024.878, untuk pihak tidak terkait BMPK adalah 20% dari modal KPMM yaitu
4.049.757, sedangkan untuk pihak kelompok peminjam tidak terkait BMPK
adalah 30% dari modal KPMM yaitu 6.074.635.
47
PENUTUP
Kesimpulan
PD. BPR BKK Ungaran telah menerapkan aspek prinsip kehati-hatian
sejak dilakukannya usaha ini, sehingga terdapat empat (4) syarat yang harus
diterapkan dalam melakukan usaha perbankan khususnya BPR yaitu KPMM,
KAP, PPAP, dan BMPK. Sehingga dari data yang diolah dapat disimpulkan
bahwa sistem pengendalian internal terhadap penilaian risiko berdasarkan aspek
prinsip kehati-hatian yang dilakukan oleh PD. BPR BKK Ungaran untuk periode
2011-2012 telah berjalan sangat baik karena sesuai dengan kriteria yang
ditetapkan oleh Bank Indonesia. Jika dilihat dari prinsip kehati-hatian yang
pertama dalam hal Kewajiban Penyediaan Modal Minimum yang dilakukan oleh
PD. BPR BKK Ungaran periode 2011-2012 dapat disimpulkan bahwa tergolong
sangat baik karena melebihi ketentuan yang ditetapkan yaitu 8% dan masuk pada
peringkat satu (1) yang mana rasio CAR melebihi batas ketentuan yaitu 12%. Hal
ini menunjukan bahwa kemampuan dibidang permodalan sangat baik. Pada
prinsip yang kedua yaitu dilihat dari Kualitas Aktiva Produktif, penelitian
dilakukan dengan membandingkan 3 bulan terakhir pada tahun 2011 dan tahun
2012, yaitu Oktober, November, dan Desember. Dengan melihat perbandingan
rata-rata NPL pada periode tahun 2011 dan 2012.
Dijelaskan bahwa pada periode 2011 rata-rata NPL PD. BPR BKK
Ungaran sebesar 5,4% dan rata-rata NPL Bank Indonesia sebesar 6,9%. Hal ini
mengidentifikasikan bahwa PD BPR BKK Ungaran mampu menangani kredit
bermasalah dalam manajemennya, karena tidak melebihi batas ketentuan menurut
48
Bank Indonesia. Sedangkan pada periode 2012 rata-rata NPL PD. BPR BKK
Ungaran sebesar 6,3% dan rata-rata NPL menurut Bank Indonesia sebesar 6,1%,
meskipun melebihi batas ketentuan yang berlaku namun kelebihan ini tidak terlalu
signifikan sehingga tetap dikatakan baik dalam hal menangani kredit yang
bermasalah dalam manajemennya.
Pada prinsip yang ketiga yaitu dilihat dari Penyisihan Penghapusan Aktiva
Produktif, pada periode 2011 dan 2012 PPAP Real lebih besar daripada
PPAPWD yang berarti bahwa cadangan biaya antisipasi terhadap kerugian, yang
ditempatkan pada pos aktiva pada suatu neraca pada laporan keuangan mengalami
kelebihan pencadangan yang berarti sangat baik bagi PD. BPR BKK Ungaran
untuk menutup risiko jika mengalami kerugian.
Pada prinsip yang terakhir yaitu dilihat dari Batas Maksimum Pemberian
Kredit, menjelaskan pada bulan Desember 2012 yang mana dalam pembagian
BMPK terdapat tiga pihak yang ditentukan yaitu pihak terkait sebesar 10%, pihak
tidak terkait sebesar 20%, dan untuk pihak kelompok peminjam tidak terkait
sebesar 30% dari modal KPMM. Modal KPMM pada saat itu adalah 20.248.784
sehingga dapat diketahui untuk pihak terkait BMPK adalah 10% dari modal
KPMM yaitu 2.024.878, untuk pihak tidak terkait BMPK adalah 20% dari modal
KPMM yaitu 4.049.757, sedangkan untuk pihak kelompok peminjam tidak terkait
BMPK adalah 30% dari modal KPMM yaitu 6.074.635.
pengendalian internal terhadap penilaian risiko pada kegiatan kredit yaitu harus
tetap menerapkan prisip kehati-hatian perbankan selama usaha perbankan masih
tetap berdiri. Dalam mengidentifikasi dan menganalisis penilaian risiko berbasis
prinsip kehati-hatian haruslah orang yang memiliki kemampuan berintelektual
tinggi dalam bidang keuangan. Sehingga mampu mempertahankan kualitas
penilaian risiko untuk tetap bertahan baik. Karena dalam menganalisis penilaian
risiko berbasis prinsip kehati-hatian di PD. BPR BKK Ungaran tidak mengalami
masalah yang berat untuk kegiatan kredit yang dijalaninya.
Implikasi terapan tersebut dapat menjadi masukan bagi PD. BPR BKK
Ungaran utnuk meningkatkan sertra mempertahankan keefektifitasan sistem
pengendalian internal berbasis prinsip kehati-hatian.
Keterbatasan Penelitian
Analisis sistem pengendalian internal terhadap penilaian risiko berbasis
prinsip kehati-hatian pada kegiatan kredit di PD. BPR BKK Ungaran dilakukan
dengan menggunakan observasi dan wawancara. Dalam melakukan observasi,
tidak semua bukti dokumen diberikan. Hal ini dikarenakan PD. BPR BKK
Ungaran tidak bersedia untuk menunjukan keseluruhan dokumen dari pelaksanaan
sistem pengendalian internal terhadap penilaian risiko berbasis prinsip kehati-
hatian. Sehingga keterbatasan dokumen pendukung mempengaruhi tingkat
validasi dari penelitian.
5/22/DPNP tanggal 29 September 2003, http://www.bi.go.id
Bank Indonesia. 1993. Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 26/2/BPPP tanggal
29 Mei 1993, http://www.bi.go.id
Bank Indonesia. 2011. Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/23/DPNP tanggal
25 Oktober 2011, http://www.bi.go.id
Bank Indonesia. 2011. Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 13/24/DPNP tanggal
25 Oktober 2011, http://www.bi.go.id
Pemberian Kredit pada PD. BPR Salatiga. Salatiga: UKSW
Muljono, Teguh Pudjo. 1989. Manajemen Perkreditan Bagi Bank Komersiil.
Yogyakarta: BPFE
Mulyadi. 2001. Sistem Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat
Nugroho, M. Erwin. 2008. Uji Pengendalian Sistem Pemberian Kredit pada PD.
BPR Ungaran Cabang Tuntang. Salatiga: UKSW
Nogroho, Trisetya Wahyu. 2011. Analisis Yudiris Terhadap Regulasi Bank
Indonesia Berkaitan Dengan Manajemen Risiko Sebagai Penerapan
Prinsip Kehati-hatian Perbankan. Salatiga: UKSW
Puspitaningrum, Nela. 2012. Analisis Pengaruh Ukuran Pemerintaah dan Belanja
Modal Terhadap Sistem Pengendalian Internal serta Sistem Pengendalian
Internal Terhdap Opini Auditor. Salatiga: UKSW
Sumaryaningrum, Putri Eva. 2009. Uji Pengendalian Sistem Pemberian Kredit
pada PD. BPR BKK Banyubiru. Salatiga: UKSW
Suyanto, Thomas.; Chalik H,A.; Sukada Made.; Ananda, C Tinon Yunianti.;
Marala, Djuhaepah T. 2003. Dasar-dasar Perkreditan. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama
Kec. Medan Satria Kab. Bekasi 17
Judul Skripsi : Analisis Sistem Pengendalian Internal Terhadap Penilian
Risiko Prinsip Kehati-hatian pada Kegiatan Kredit di PD.
BPR BKK Ungaran
SLTP Negeri 2 Tambun Selatan Lulus Tahun 2005
SMK Strada Budi Luhur Bekasi Lulus Tahun 2008
Riwayat Seminar / Pelatihan :
FEB” Tahun 2009
Tahun 2009
Enterpreneur Mandiri of the Year 2009” Tahun 2008
- Latihan Kepemimpinan Pra Dasar Mahasiswa 2008/2009
- Seminar Kerohanian “Keluargaku Penting Gak Sih ?”
Tahun 2009
- Peserta Pendakian Massal 2965 MDPL Tahun 2010
- Mitra Gahana Going To The Cliff (Peserta) Tahun 2011
- Seminar “How to Build Our Bargaining Power on
International Joint Venture Context” Tahun 2011
- Leadership Outbond Training 3-4 November 2012
52
Investasi” Tahun 2010
2009-2010
53
LAMPIRAN
54
55
Periode: Desember - 2012
3 Antarbank Aktiva
b. Pada BPR 49.105 161.717
4 Kredit yang diberikan
b. Pihak tidak terkait 134.358.870 148.397.618
5 Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif -/- 5.794.168 5.122.583
6 Aktiva dalam valuta asing 0 0
7 Aktiva tetap dan inventaris
a. Tanah dan gedung 724.716 778.791
b. Akumulasi penyusutan gedung -/- 424.426 417.982
c. Inventaris 3.559.201 3.408.074
Jumlah Aktiva 159.446.778 167.632.085
295.168 353.761
2 Tabungan
b. Pihak tidak terkait 39.135.834 37.761.095
3 Deposito berjangka
b. Pihak tidak terkait 65.884.076 65.818.816
4 Kewajiban kepada Bank Indonesia 0 0
5 Antarbank pasiva 27.296.579 39.147.696
56
7 Pinjaman subordinasi 0 0
8 Rupa-rupa Pasiva 1.809.252 1.810.432
9 Ekuitas :
b. Modal yang belum disetor -/- 38.152.503 13.652.502
c. Agio 0 0
d. Disagio -/- 0 0
g. Dana setoran modal 0 0
h. Cadangan revaluasi aktiva tetap 0 0
i. Cadangan umum 2.996.040 2.356.892
j. Cadangan tujuan 1.226.063 719.387
k. Laba yang ditahan -248.872 241.853
l. Saldo Laba (Rugi) tahun berjalan 6.076.194 5.234.336
Jumlah Pasiva 159.446.778 167.632.085
No Pos-Pos Posisi
Lainnya 1,907,571 2,453,070
2 Pendapatan Non Operasional 137,466 209,137
Jumlah Pendapatan 29,907,661 30,702,659
Beban Personalia 7,229,433 7,039,726
4 Beban Non Operasional 144,676 111,275
Jumlah Beban 22,017,134 24,038,725
6 Taksiran Pajak Penghasilan 1,814,333 1,429,598
7 Laba/Rugi Tahun Berjalan 6,076,194 5,234,336
57
No Pos-Pos Posisi
Desember 2012 Posisi
0 0
0 0
5 Pendapatan bunga dalam penyelesaian 4,776,910 4,306,541
6 Lain-Lain 5,616,173 5,701,687
Laporan Kualitas Aktiva Produktif & Informasi Lainnya (Ribuan Rp.)
Keterangan L KL D M Jumlah
1. Penempatan pada bank lain 19,206,058 0 0 0 19,206,058
2. Kredit yang diberikan 0 0 0 0 0
a. Kepada pihak terkait 677,841 0 0 0 677,841
b. Kepada pihak tidak terkait 125,626,000 1,318,339 1,174,013 6,240,518 134,358,870
3. Jumlah aktiva produktif 145,509,899 1,318,339 1,174,013 6,240,518 154,242,769
4. NPL net (%) - - - - 2.72
5. Rasio KPMM (%) - - - - 18.21
7. Return on Asset / ROA (%) - - - - 4.89
PENGURUS BANK PEMILIK BANK Dewan Komisaris: Pemegang Saham:
Prasetyo Aribowo Drs. Husen Direksi: Pemegang Saham Pengendali:
DR. H. Zarul, S.Ag, SH, M.Si Pemerintah Propinsi Jawa Tenga
Sugiarso, SH Pemerintah Kabupaten Semarang Suryo Widodo, Akt, M.Si
58
2011
59
2012
60
DESEMBER
61
64