analisis proksimat pada sediaan pelet pakan hewan

50
ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN PELIHARAAN BERBAHAN DASAR LIMBAH JEROAN IKAN SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm) Program Studi Farmasi Oleh : Raysha Mcseer NIM : 168114113 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2020 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Upload: others

Post on 25-Oct-2021

15 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN PELIHARAAN BERBAHAN DASAR LIMBAH JEROAN IKAN

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm)

Program Studi Farmasi

Oleh :

Raysha Mcseer

NIM : 168114113

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2020

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 2: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

i

ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN PELIHARAAN BERBAHAN DASAR LIMBAH JEROAN IKAN

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh gelar Sarjana Farmasi (S.Farm)

Program Studi Farmasi

Oleh :

Raysha Mcseer

NIM : 168114113

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2020

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 3: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

iv

HALAMAN PERSEMBAHAN

Aku persembahkan tulisan dari penelitianku yang jauh dari kata sempurna

ini untuk Almamaterku tercinta Fakultas Farmasi Universitas Sanata

Dharma Yogyakarta, kedua orangtuaku, saudara/i kandungku dan keluarga

besarku.

”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib

baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki

kehidupan Akherat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan

barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki

ilmu”

(HR. Turmudzi)

Better to feel how hard education is at this time rather than fell the bitterness of

stupidity,

later. - Google -

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 4: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

x

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ................................................................................................ i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................................... ii HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................ iii HALAMAN PERSEMBAHAN ............................................................................ iv PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ................................................................. v LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI................................. vi PRAKATA ............................................................................................................ vii DAFTAR ISI ........................................................................................................... x DAFTAR TABEL .................................................................................................. xi DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xii DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................................ xiii ABSTRAK ........................................................................................................... xiv ABSTRACT ............................................................................................................ xv PENDAHULUAN .................................................................................................. 1 METODE PENELITIAN ........................................................................................ 3 HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................................... 9 KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................................. 20 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 21 LAMPIRAN .......................................................................................................... 25 BIOGRAFI PENULIS .......................................................................................... 41

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 5: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

xi

DAFTAR TABEL

Tabel I. Pembuatan kurva larutan standar ............................................................ 5 Tabel II. Formula Pelet Jeroan Ikan ...................................................................... 9 Tabel III. Absorbansi dan Kadar Protein Sampel Jeroan Ikan .............................. 15 Tabel IV. Absorbansi dan Sampel Pelet Jeroan Ikan ............................................ 19

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 6: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

xii

DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Pelet Jeroan Ikan . ............................................................................... 10 Gambar 2. Reaksi protein ketika ditambahkan reagen biuret ............................... 13 Gambar 3. Hasil Kurva Kalibrasi Bovin Serum Albumin .................................... 14 Gambar 4. Reaksi hidrolisis selulosa dengan H2SO4 . .......................................... 17 Gambar 5. Reaksi Glukosa Dengan Fenol Pada Suasana Asam ........................... 18 Gambar 6. Grafik Kurva Baku Glukosa ................................................................ 19

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 7: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

xiii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Pelet jeroan ikan ............................................................................... 25 Lampiran 2. Penetapan kadar abu pelet jeroan ikan ............................................. 26 Lampiran 3. Penetapan kadar air pelet jeroan ikan ............................................... 29 Lampiran 4. Penetapan kadar protein pelet jeroan ikan ........................................ 31 Lampiran 5. Penetapan kadar lemak pelet jeroan ikan ......................................... 35 Lampiran 6. Penetapan kadar karbohidrat pelet jeroan ikan ................................. 38

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 8: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

xiv

ABSTRAK

Jeroan ikan merupakan limbah perikanan yang dapat dimanfaatkan untuk memperoleh nilai guna yang lebih tinggi. Jeroan ikan mengandung sebesar 14,01% protein dan 20% lipid. Jeroan ikan dapat dimanfaatkan sebagai pakan hewan peliharaan. Oleh karena itu, dibuat pakan hewan peliharaan dalam bentuk pelet yang paling banyak dijumpai di pasaran. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental. Pada penelitian ini, dilakukan beberapa penetapan terhadap parameter persyaratan mutu pakan hewan yang baik berdasarkan SNI-8509-2018. Hasil penetapan kadar abu ditetapkan dengan metode dry ashing sebesar 10,55%, kadar air yang ditetapkan dengan metode termogravimetri sebesar 4,75%, kadar protein yang ditetapkan dengan metode biuret sebesar 49,73%, kadar lemak yang ditetapkan dengan metode soxhletasi sebesar 10,06% dan kadar karbohidrat yang ditetapkan dengan metode fenol sulfat sebesar 45,4%. Berdasarkan hasil yang telah diperoleh, kandungan nutrisi pada sediaan pelet jeroan ikan telah sesuai dengan ketentuan persyaratan mutu pakan hewan yang baik berdasarkan SNI-8509-2018. Kata kunci : Analisis proksimat, jeroan ikan, kandungan nutrisi pakan hewan,

pelet pakan hewan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 9: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

xv

ABSTRACT

Fish offal is fishery waste that can be used to obtain a higher use value. Fish offal contains 14.01% protein and 20% lipids. Fish offal can be used as pet food. Therefore, pet feed in the form of pellets is the most commonly found on the market.

This research is an experimental research. In this study, several determinations were made on the parameters of the requirements for good quality animal feed based on SNI-8509-2018. The results of the determination of the ash content were determined by the dry ashing method at 10.55%, the water content determined by the thermogravimetric method was 4.75%, the protein content determined by the biuret method was 49,73%, the fat content determined by the soxhletation method was 10,06% and the carbohydrate content determined by the phenol sulfate method was 45,4%.

Based on the results obtained, the nutritional content of fish offal pellet preparations is in accordance with the requirements for good quality animal feed based on SNI-8509-2018.

Key words: Proximate analysis, fish offal, animal feed nutritional content, animal feed pellets.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 10: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

1

PENDAHULUAN

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki banyak potensi

sumber daya alam. Salah satu sumber daya alam yang melimpah adalah pada

sektor kelautan dan perikanan. Sektor perikanan merupakan salah satu bidang

dengan tingkat perkembangan yang begitu pesat. Hal ini terlihat pada produksi

perikanan yang terus meningkat. Menurut Kementerian Kelautan dan Perikanan

(2018), produksi perikanan Indonesia mengalami peningkatan sebesar 11% dari

tahun sebelumnya. Tingkat konsumsi ikan di dalam negeri pun telah mencapai

50,65 kg/kapita/tahun. Indonesia juga telah mengekspor hasil perikanan sebesar

5,0 USD miliar pada tahun 2018. Hal ini menunjukkan bahwa sektor perikanan di

Indonesia memiliki potensi yang sangat besar (Kementerian Kelautan dan

Perikanan, 2018. A.).

Ikan merupakan salah satu sumber protein yang sangat dibutuhkan oleh

manusia, karena kandungan proteinnya tinggi, serta mengandung asam amino

esensial yang diperlukan oleh tubuh. Disamping itu, nilai biologisnya mencapai

90%, dengan jaringan pengikat sedikit sehingga mudah dicerna (Natsir dan Latifa,

2018). Produksi perikanan secara keseluruhan menekankan pada penggunaan

daging ikan. Pada pengelolaan industri perikanan, hanya 65% hasil produksi bisa

dimanfaatkan sedangkan sisanya menjadi limbah (Fryathama et al., 2016).

Limbah ini berupa bagian-bagian ikan yang tidak dimanfaatkan seperti kepala,

tulang, dan jeroan. Limbah perikanan mengandung nutrisi yang tidak berbeda dari

bahan utamanya dan telah banyak juga diteliti pemanfaatannya. Pembuatan

tepung ikan adalah contoh kegiatan pemanfaatan limbah berupa tulang dan kepala

ikan yang sering dilakukan oleh masyarakat namun kurang mampu memanfaatkan

jeroan, bahkan tidak termanfaatkan sama sekali sehingga terbuang begitu saja

(Fryathama et al., 2016).

Jeroan ikan merupakan limbah perikanan yang belum dimanfaatkan secara

optimum untuk memperoleh nilai guna dan nilai tambah yang lebih tinggi. Jeroan

ikan umumnya dibuang dan menyebabkan pencemaran pada perairan dan udara.

Menurut Susanto dan Fahmi (2012) menyatakan bahwa kandungan protein pada

daging ikan mencapai 17-22% dengan rata-rata 19% dan penelitian yang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 11: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

2

dilakukan oleh Bahalwan (2013) menyatakan bahwa kandungan protein pada

jeroan ikan adalah sebesar 4,35%.

Beberapa penelitian telah dilakukan untuk memanfaatkan jeroan ikan

sebagai pakan hewan. Salah satu penelitian yang dilakukan di Belanda

menemukan bahwa jeroan ikan memiliki kandungan berupa air, protein, lemak,

abu, serat kasar dan nitrogen. Protein berguna sebagai pembentuk dan penguat

otot, sedangkan lemak digunakan sebagai sumber energi dan pembentukan

cadangan lemak (Terpstra, 2015). Penelitian sejenis yang dilakukan di Indonesia

menemukan bahwa dalam jeroan ikan mengandung 14,01% protein dan 20% lipid

(Jayanti et al., 2018). Berdasarkan penelitian tersebut meyakinkan bahwa jeroan

ikan dapat dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan pakan hewan.

Pakan hewan peliharaan adalah pakan yang dibuat dengan formulasi

tertentu berdasarkan pertimbangan pembuatnya. Pakan hewan peliharaan

sebaiknya dibuat berdasarkan pada pertimbangan kebutuhan nutrisi hewan,

sumber dan kualitas bahan dasar, serta nilai ekonomis (Niode et al., 2017). Salah

satu pakan hewan peliharaan yang paling banyak dijumpai di pasaran adalah pelet

(Zaenuri et al., 2014).

Persyaratan mutu pakan hewan berdasarkan SNI-8509-2018 menyatakan

bahwa pakan hewan yang baik mengandung ≤12,00% kadar air, ≤14,00% kadar

abu, ≥16,00% protein kasar, ≥2,00% lemak kasar dan ≥14,00% karbohidrat.

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan analisis proksimat yaitu penetapan kadar

abu, air, protein, lemak, dan karbohidrat dalam sediaan pelet pakan hewan

peliharaan yang berbahan dasar limbah jeroan ikan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 12: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

3

METODE PENELITIAN Jenis rancangan penelitian adalah eksperimental. Data kuantitatif yang

dikumpulkan berupa persentase rata-rata kadar abu, kadar air, protein, lemak dan

karbohidrat pada sediaan pelet pakan hewan peliharaan berbahan dasar limbah

jeroan ikan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Instrumen,

Laboratorium Farmakognosi Fitokimia, dan Laboratorium Teknologi dan

Formulasi Sediaan Farmasi Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah neraca analitik (Pioneer), oven (Kirin),

waterbath, cawan porselen, bunsen, tanur pengabuan (Alkmaar), desikator,

erlenmeyer (Pyrex), labu alas bulat (Pyrex), kertas saring, alat soxhlet,

spektrofotometer uv-vis (Shimadzu uv mini 1240), batang pengaduk, labu takar

(Pyrex), tabung reaksi (Pyrex), wadah pelet, pipet volume (Pyrex), glassfirm,

pipet tetes dan alat-alat gelas (Pyrex).

Bahan yang digunakan adalah pelet jeroan ikan, H2SO4 pekat (teknis

98%), akuades, alkohol 95% (teknis), petroleum eter (teknis), glukosa (Pro

Analisa), fenol 5% (teknis) dan BSA (Bovin Serrum Albumin) (Pro analisa).

Penetapan kadar abu dalam sediaan pelet pakan hewan peliharaan

Cawan yang akan digunakan dikeringkan terlebih dahulu 30 menit dalam

oven pada suhu 100-105°C. Setelah itu didinginkan dalam desikator selama 30

menit lalu ditimbang (B1). Sampel sebanyak 5 gram dimasukkan dalam cawan

yang telah diketahui beratnya, lalu dibakar diatas bunsen atau kompor listrik

sampai tidak berasap. Setelah itu dimasukkan dalam tanur pengabuan, kemudian

dibakar pada suhu 400 °C sampai didapat abu berwarna abu-abu atau sampel

beratnya tetap. Kemudian suhu tanur pengabuan dinaikkan sampai 550 °C selama

12-24 jam. Lalu sampel didinginkan dalam desikator selama 30 menit dan

ditimbang (B2). Perhitungan penetapan Kadar abu sebagai berikut:

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 13: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

4

Kadar abu (%) = B2−B1berat sampel

x 100%

(Hafiludin, 2011).

Penetapan kadar air dalam sediaan pelet pakan hewan peliharaan

Cawan yang akan digunakan dikeringkan dalam oven pada suhu 100-

105°C selama 30 menit. Setelah itu didinginkan dalam desikator selama 30 menit

lalu ditimbang. Sampel ditimbang sebanyak 5 gram (B1) dalam cawan tersebut

lalu dikeringkan dalam oven pada suhu 100-105°C sampai tercapai berat tetap (8-

12 jam). Sampel didinginkan dalam desikator selama (30 menit) lalu ditimbang

(B2). Perhitungan penetapan kadar air sebagai berikut:

Kadar air (%) = B2−B1Berat sampel

x 100%

(Hafiludin, 2011).

Penetapan kadar protein dalam sediaan pelet pakan hewan peliharaan

I. Pembuatan Larutan Induk

Bovin Serrum Albumin (BSA) ditimbang sebanyak 1 gram, dilarutkan

dengan aquades dalam labu ukur 10 ml sampai tanda batas, sehingga diperoleh

larutan induk dengan konsentrasi 10% b/v.

A. Penentuan panjang gelombang optimum

Larutan standar BSA dimasukkan kedalam tabung reaksi dengan

konsentrasi 3%, yaitu dengan cara mengambil sebanyak 1,5 ml larutan

BSA ditambahkan 0,8 ml pereaksi Biuret kemudian dicukupkan volume

menjadi 5 ml dengan penambahan aquades. Larutan didiamkan selama ±

10 menit (agar bereaksi) lalu serapan diukur pada panjang gelombang

500–600 nm. Panjang gelombang yang diperoleh kemudian dicatat sebagai

serapan maksimum yang akan digunakan pada penelitian ini.

B. Pembuatan kurva standar

Enam tabung reaksi disiapkan. Tabung pertama diisi larutan blanko

(pelarut). Pada tabung yang lain diisi larutan dengan komposisi sebagai

berikut:

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 14: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

5

Tabel I. Pembuatan kurva larutan standar

Setelah tepat 10 menit, diukur absorbansi masing-masing larutan

dengan spektrofotometer uv-vis pada panjang gelombang maksimum

(Qalsum et al., 2015).

C. Pengukuran kadar protein sampel

1. Sampel ditimbang sebanyak 25 gram lalu dihaluskan dengan mortir dan

stemper, dilarutkan dengan aquadest, kemudian dimasukkan sambil

disaring ke gelas kimia 250 ml.

2. Pengukuran kadar protein dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Sampel protein diambil sebanyak 2,5 ml, ditambahakn reagen biuret

sebanyak 0,8 ml dan aquadest sebanyak 1,7 ml. Larutan kemudian

divorteks dan ditunggu selama 30 menit hingga membentuk warna ungu

sempurna. Ukur dan catat absorbansi pada panjang gelombang

maksimum yaitu 526 nm.

(Keppy dan Allen, 2016).

Perhitungan penetapan kadar protein sebagai berikut:

Berat protein: Volume sampel x Konsentrasi protein sampel

Kadar protein: Berat proteinBerat sampel

x 100%

(Hasan, 2010).

Larutan induk (mL)

Pereaksi biuret (mL)

Aquades(mL) Konsentrasi BSA (%)

0 0,8 4,2 0 0,5 0,8 3,7 1 1 0,8 3,2 2

1,5 0,8 2,7 3 2 0,8 2,2 4

2,5 0,8 1,7 5

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 15: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

6

Penetapan kadar lemak dalam sediaan pelet pakan hewan peliharaan

Labu alas bulat dibebas lemakkan dengan menggunakan alkohol 95%, lalu

dipanaskan dalam oven, dinginkan dalam desikator kemudian ditimbang. Sampel

pelet jeroan ikan ditimbang sebanyak 3 g, sampel dibungkus dengan kertas saring

dan dimasukkan ke dalam alat soxhlet. Kemudian ditambahkan 200 ml petroleum

eter ke dalam labu alas bulat dan hubungkan rangkaian alat soxhlet, selanjutnya

dilakukan penyarian sampel selama 8 jam sampai sampel menjadi jernih. Pelarut

yang ada pada labu alas bulat di uapkan sampai hampir kering. Kemudian

masukkan ke dalam oven pada suhu 1000C selama 30 menit lalu dinginkan di

desikator selama 30 menit. Ditimbang bobot lemaknya (Suriani, 2015).

Perhitungan penetapan kadar lemak sebagai berikut:

Kadar lemak (%) = (B−A)Berat sampel

x 100%

(Hafiludin, 2011).

Penetapan kadar karbohidrat dalam sediaan pelet pakan hewan peliharaan

A. Preparasi sampel

Sampel pelet pakan hewan ditimbang sebanyak 1 gram dan

menambahkan 10 mL aquades sambil mengaduknya. Menambahkan 13 mL

H2SO4 52% dan mengaduknya selama 20 menit menggunakan magnetic stirer

dan menutup gelas kimia dengan kapas yang telah dibasahi dengan air.

Menambahkan aquades sebanyak 100 mL dan menyaringnya ke dalam labu

takar 250 mL. Menambahkan aquades sampai tanda batas tera labu ukur 250

mL (Qalsum et al., 2015).

B. Pengukuran kadar karbohidrat

Larutan glukosa standar dibuat dengan konsentrasi masing-masing 0,

100, 200, 300, 400, dan 500 ppm. Sebanyak 0,5 mL dari masing-masing

larutan dimasukkan dalam tabung yang terpisah, kemudian direndam dalam

air, lalu ditambahkan 0,5 mL fenol 5% dan 2,5 ml H2SO4 pekat dengan hati-

hati melalui dinding tabung. Larutan-larutan tersebut kemudian dibiarkan

selama 10 menit, lalu divorteks dan dibiarkan kembali selama 20 menit.

Kemudian diukur absorbannya dengan spektrofotometer pada panjang

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 16: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

7

gelombang 490 nm, kemudian dibuat persamaan linearnya sebagai kurva

standar. Pengukuran sampel dilakukan dengan cara memasukkan 0,5 mL

larutan sampel ke dalam tabung, lalu direndam dalam air, kemudian

ditambahkan 0,5 mL fenol 5% dan 2,5 mL H2SO4 secara hati-hati. Proses

selanjutnya sama seperti pada larutan glukosa standar, kemudian nilai

pengukuran yang diperoleh diplot pada kurva standar (Bintang, 2018).

Perhitungan penetapan kadar karbohidrat sebagai berikut:

Kadar glukosa (%) = Faktor pengenceran X konsentrasi glukosa X 100%

(Yuliani, 2017).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 17: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

8

Analisis Hasil

Analisis hasil dari penelitian ini dilakukan dengan menetapkan beberapa

parameter ketentuan persyaratan mutu pakan hewan yang baik berdasarkan SNI-

8509-2018. Parameter ketentuan persyaratan mutu tersebut adalah kadar abu,

kadar air, protein, lemak dan karbohidrat. Data penetapan kadar abu ini diperoleh

berdasarkan penimbangan zat tertinggal hasil pembakaran. Penetapan kadar air

diperoleh berdasarkan perbedaan antar berat sebelum dan sesudah dipanaskan.

Penetapan protein yang diperoleh berdasarkan pada tingginya intensitas cahaya

yang diserap oleh spektrofotometer. Hal ini memperlihatkan tingginya kandungan

protein yang terdapat di dalam sediaan tersebut. Selain itu, lemak diperoleh

berdasarkan hasil proses pemisahan komponen berupa lemak dalam larutan

berdasarkan perbedaan kelarutannya (solubilitas). Penetapan karbohidrat

berdasarkan hasil perhitungan kadar dari nilai absorbansi yang dihasilkan pada uji

spektrofotometri uv-vis.

Data kuantitatif yang diperoleh adalah berdasarkan perhitungan

penetapan kandungan nutrisi pakan hewan peliharaan berbahan dasar limbah

jeroan ikan, sebagai berikut:

A. Kadar Abu

Kadar abu (%) = B2−B1berat sampel

x 100%

B. Kadar Air

Kadar air (%) = B2−B1Berat sampel

x 100%

C. Protein

Berat protein: Volume sampel x Konsentrasi protein sampel

Kadar protein (%): Berat proteinBerat sampel

𝐱 𝟏𝟎𝟎%

D. Lemak

Kadar lemak (%) = (B−A)Berat sampel

𝐱 𝟏𝟎𝟎%

E. Karbohidrat

Kadar glukosa (%) = Faktor pengenceran X konsentrasi glukosa X 100%

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 18: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

9

HASIL DAN PEMBAHASAN

Perolehan Pelet Jeroan Ikan

Pelet jeroan ikan yang digunakan berasal dari peneliti Maria Felix Zita Ina

Bulu (2020) dengan judul skripsi “Optimasi Tepung Tapioka dan Tepung Molases

pada Pelet Pakan Kucing dan Anjing Berbahan Jeroan Ikan dengan Metode

Desain Faktorial”. Formula yang digunakan sebagai berikut :

Tabel II. Formula Pelet Jeroan Ikan Bahan Pelet Bobot

Tepung jeroan ikan 20 g Tepung tapioka 15 g Tepung molases 5 g Dedak padi 9,20 g Bungkil kedelai 23,30 g CPO (crude palm oil) 2,80 g DCP (dicalcium phospat) 0,75 g Garam 0,10 g Premix 0,50 g DL-metionin 0,10 g Kapur (CaCO3) 0,75 g Aquadest 42,5 mL

Pembuatan pelet jeroan ikan ini dilakukan di Laboratorium Formulasi dan

Teknologi Sediaan Farmasi (FTSF) Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.

Pada pembuatan pelet ini, peneliti tersebut melakukan pencampuran semua bahan

yang terdapat pada (Tabel 2.) sebanyak 77,5 gram. Bahan-bahan tersebut

dicampur dari bobot terendah hingga tetinggi agar tercampur merata kecuali CPO,

molases dan tapioka. Molases dicampurkan dengan 17,5 mL aquadest dan diaduk

sampai merata. Molases yang telah tercampur rata ini kemudian dituangkan

kedalam bahan-bahan yang sudah dicampurkan terlebih dahulu. Selanjutnya,

tepung tapioka ditambahkan 25 mL aquadest, diaduk hingga larut dan dipanaskan

diatas water bath dengan suhu 1000 C. Tepung tapioka yang dipanaskan tersebut

kemudian menjadi gel yang selanjutnya dicampurkan pada campuran bahan

sebelumnya. Bahan-bahan tersebut kemudian ditambahkan CPO lalu dicampur

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 19: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

10

lagi sampai merata. Adonan sediaan yang sudah jadi kemudian dicetak

menggunakan pencetak pelet. Sediaan yang telah dicetak kemudian dioven selama

2,5 jam pada suhu 1000C. Pada penelitian ini, peneliti memperoleh pelet sebanyak

120,114 gram. Pelet jeroan ikan yang sudah jadi ini kemudian disimpan dalam

wadah tertutup rapat dan kering dengan penambahan silica gel yang bertujuan

untuk menyerap lembab di dalam wadah penyimpanan tersebut. (Lampiran 1).

Gambar 1. Pelet Jeroan Ikan (Maria Felix Zita Ina Bulu, 2020).

Penetapan Kadar Abu Pelet Jeroan Ikan

Abu didefinisikan sebagai residu yang dihasilkan pada proses pembakaran

organik berupa senyawa anorganik dalam bentuk oksida, garam dan juga mineral.

Abu-abu yang dihasilkan dalam bahan tersebut adalah sisa pembakaran sempurna

dari suatu bahan yang menggambarkan banyaknya mineral yang tidak terbakar

menjadi zat yang dapat menguap (Herman, Rusli, Ilimu, Hamid dan Haeruddin,

2011). Mineral merupakan komponen anorganik yang terdapat dalam tubuh

makhluk hidup. Mineral dapat dibedakan menjadi 2 yaitu mineral organik dan

anorganik. Mineral anorganik adalah mineral yang sangat tidak dibutuhkan oleh

tubuh seperti timbal hitam (Pb), iron oxide (besi teroksidasi), merkuri, dan arsenik

(Desthi, 2019).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 20: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

11

Penetapan kadar abu pada pelet jeroan ikan ini ditetapkan dengan

menggunakan metode dry ashing atau pengabuan kering dengan menggunakan

alat yaitu tanur pengabuan (furnase). Prinsip dari penetapan kadar abu diawali

dengan cara membakar sampel dalam tungku pengabuan (furnase) dengan

memvariasikan suhu pemanasan sampai mendapatkan abu yang berwarna putih.

Pada penelitian ini menggunakan suhu sekitar 6000 C selama 8-12 jam. Bahan

yang diabukan harus pada suhu yang tinggi karena jika menggunakan suhu

pengabuan yang rendah, panas yang diterima oleh bahan hanya dapat mengabukan

sebagian mineral yang ada di permukaan sehingga penurunan kadar abu bahan

relatif kecil. Sedangkan pada suhu pengeringan yang lebih tinggi dengan waktu

yang lebih lama, panas yang diterima oleh bahan selain digunakan untuk

mengabukan mineral pada permukaan bahan, juga dapat mengabukan mineral

yang terikat di dalam bahan (Herman, Rusli, Ilimu, Hamid dan Haeruddin, 2011).

Penetapan kadar abu yang dilakukan pada pelet jeroan ikan ini bertujuan

untuk memastikan bahwa tidak terdapat residu-residu anorganik seperti timbal

hitam (Pb), iron oxide (besi teroksidasi), merkuri, dan arsenik dalam jumlah

banyak didalam pelet jeroan ikan tersebut. Penetapan kadar abu harus dilakukan

karena bahan dasar pembuatan pelet tersebut berasal dari ikan yang merupakan

biota perairan dengan frekuensi tinggi terpapar oleh mineral anorganik melalui

rantai makanan (Edward, 2017).

Hasil rata-rata yang diperoleh pada pengujian kadar abu ini sebesar

10,55% sehingga dapat disimpulkan bahwa kadar abu pada jeroan ikan ini telah

memenuhi ketentuan persyaratan kandungan kadar abu yang baik menurut SNI-

8509-2018 yaitu sebesar ≤ 14%. (Lampiran 2).

Penetapan Kadar Air Pelet Jeroan Ikan

Kadar air merupakan banyaknya air yang terkandung dalam bahan yang

dinyatakan dalam persen (Jayanti et al, 2018). Kadar air juga merupakan salah

satu karakteristik yang sangat penting dalam bahan pakan, karena air dapat

mempengaruhi wujud, tekstur, dan cita rasa bahan pakan. Kadar air dalam bahan

pakan ikut menentukan kesegaran dan daya awet bahan pakan tersebut. Kadar air

yang tinggi mengakibatkan mudahnya bakteri, kapang, dan khamir untuk

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 21: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

12

berkembang biak sehingga akan terjadi perubahan pada bahan pakan (Aventi,

2015). Penetapan kadar air pada pelet jeroan ikan ini dilakukan dengan metode

termogravimetri yaitu penguapan air yang ada dalam bahan dengan jalan

pemanasan. Pemanasan berasal dari oven dengan suhu 100-1050C selama 8-12

jam. Penetapan kadar air ini bertujuan untuk memastikan kesegaran dan daya awet

pelet jeroan ikan (Leviana dan Paramita, 2017).

Hasil rata-rata yang diperoleh pada pengujian kadar air ini sebesar 4,75%

sehingga dapat disimpulkan bahwa kadar air pada jeroan ikan ini telah memenuhi

ketentuan persyaratan kandungan kadar air yang baik menurut SNI-8509-2018

yaitu sebesar ≤12% (Lampiran 3).

Penetapan Kadar Protein Pelet Jeroan Ikan

Protein adalah makromolekul polipeptida yang tersusun dari sejumlah L-

asam amino yang dihubungkan oleh ikatan peptida. Suatu molekul protein disusun

oleh sejumlah asam amino dengan susunan tertentu dan bersifat turunan. Asam

amino terdiri atas unsur-unsur karbon, hidrogen, oksigen, dan nitorogen. Molekul

protein juga mengandung fosfor, belerang, dan ada jenis protein yang

mengandung unsur logam seperti tembaga dan besi (Probosari, 2019).

Protein merupakan suatu polipeptida yang mempunyai bobot molekul

yang sangat bervariasi. Di samping bobot molekul yang bervariasi, protein

mempunyai sifat yang berbeda pula. Ada protein yang mudah larut dalam air dan

ada juga yang sukar larut dalam air. Rambut dan kuku adalah suatu protein yang

tidak larut dalam air dan tidak mudah bereaksi, sedangkan protein yang terdapat

dalam bagian putih telur mudah larut dalam air dan mudah bereaksi (Hasan,

2010).

Protein sebagai sumber energi memberikan 4 Kkal per gramnya. Jumlah

total protein adalah sekitar 19% dari berat daging, 45% dari protein tubuh adalah

otot (Rosaini et al.,2015). Menurut SNI-8509-2018, kandungan protein yang baik

dalam pakan hewan peliharaan adalah ≥16,00%. Untuk menetapkan kadar protein

yang terdapat didalam pelet jeroan ikan maka digunakan metode biuret. Prinsip

metode ini adalah pengidentifikasian suatu objek dengan menggunakan kriteria

warna. Dalam percobaan ini, menggunakan kriteria warna ungu dari protein.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 22: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

13

Untuk mendapat warna, maka larutan protein direaksikan dengan unsur tembaga

dalam reagen biuret dalam lingkungan alkali sehingga didapatkan larutan protein

yang berwarna ungu pada masing-masing konsentrasi. Warna dari larutan protein

berbeda-beda dari berbagai konsentrasi. Semakin besar konsentrasi yang

digunakan maka semakin pekat warna yang terbentuk, dan sebaliknya (Jubaidah et

al., 2016). Reaksi biuret ini bersifat spesifik, artinya hanya senyawa yang

mengandung ikatan pepetida saja yang akan bereaksi dengan pereaksi Biuret. Hal

ini dikarenakan biuret dibentuk dengan pemanasan urea dan mempunyai struktur

mirip dengan struktur peptida dari protein (Machin, 2012).

Gambar 2. Reaksi protein ketika ditambahkan reagen biuret (Bio-OER, 2021).

Protein standar yang digunakan adalah BSA (Bovine Serum Albumin) atau

albumin serum sapi. Albumin merupakan salah satu jenis protein globuler yang

larut dalam air dan terkoagulasi oleh panas. BSA dalam penelitian ini berfungsi

untuk membuat kurva standar. BSA digunakan karena stabilitas untuk

meningkatkan sinyal dalam tes, kurangnya efek dalam reaksi biokimia, biaya

rendah, dan karena jumlah besar maka dapat segera dimurnikan dari darah sapi,

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 23: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

14

serta merupakan produk sampingan dari industri ternak (Jubaidah et al., 2016).

Penelitian ini menggunakan panjang gelombang pada daerah 526 nm dengan nilai

absorbansi 0,806, maka radiasi sinar yang dipakai adalah sinar visual. Hasil

pengidentifikasian pada spektrofotometer ini kemudian mendapat harga

absorbansi pada masing-masing konsentrasi. Hal ini dapat dilihat pada gambar 3

sebagai berikut :

Gambar 3. Hasil Kurva Kalibrasi Bovin Serum Albumin

Berdasarkan gambar di atas, semakin besar konsentrasi maka semakin

banyak protein yang diserap atau diabsorbsi, sehingga harga absorbansi yang

didapat semakin besar juga. Dari hasil data yang diperoleh, akan didapatkan suatu

kurva antara absorbansi larutan protein dengan konsentrasinya. Kurva tersebut

membentuk suatu garis lurus yang linear. Persamaan regresi yang didapat yaitu

Y= 0,155x + 0,096 dengan R = 0,999 yang mendekati angka 1 sehingga nilai

hubungan antara konsentrasi dan absorbansi cukup baik, hal ini karena konsentrasi

BSA yang digunakan telah sesuai.

Pengukuran kurva kalibrasi yang telah mendapatkan hasil ini kemudian

dilakukan pengukuran penetapan kadar protein terhadap sampel yaitu pelet jeroan

ikan untuk mengetahui kadar protein yang terkandung didalam pelet tersebut.

y = 0,155x + 0,096r= 0,999

0

0,2

0,4

0,6

0,8

1

0 1 2 3 4 5 6

Abso

rban

si

Konsentrasi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 24: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

15

Tabel III. Absorbansi dan Kadar Protein Sampel Jeroan Ikan Replikasi Absorbansi Kadar protein (%)

1 0,490 49,99

2 0,486 49,40

3 0,485 49,40

Berdasarkan tabel diatas, Hasil rata-rata yang diperoleh pada pengujian

kadar protein ini sebesar 49,73% sehingga dapat disimpulkan bahwa kandungan

kadar protein pada jeroan ikan ini telah memenuhi ketentuan persyaratan

kandungan kadar protein yang baik menurut SNI-8509-2018 yaitu sebesar ≥16%

(Lampiran 4).

Penetapan Kadar Lemak Pelet Jeroan Ikan

Lemak adalah senyawa organik yang tidak larut dalam air, namun larut

dalam pelarut organik sebagai sumber energi terpenting untuk pertumbuhan dan

keberlangsungan hidup hewan (Iskandar dan Fitriadi, 2017). Menurut Desthi

(2019), lemak merupakan zat gizi makro yang mencakup asam lemak dan

trigliserida serta berfungsi sebagai pelezat makanan. Analisis terhadap kadar

lemak bertujuan untuk mengetahui kemungkinan daya simpan produk karena

lemak berpengaruh pada perubahan mutu selama penyimpanan (Setyaji et al.,

2012). Pada sediaan pelet ini, kandungan lemak berasal dari bahan dasarnya yaitu

jeroan ikan. Menurut Jayanti et al. (2018), kandungan lemak pada jeroan ikan

adalah sebesar 20% sehingga dengan menjadikan jeroan ikan sebagai bahan dasar

pembuatan pelet tersebut dapat membantu meningkatkan selera makan hewan

peliharaan.

Penetapan kadar lemak pada pelet jeroan ikan ini ditetapkan dengan

proses ekstraksi. Ekstraksi adalah proses pemisahan komponen-komponen dalam

larutan berdasarkan perbedaan kelarutannya (solubilitas) (Pratama, Widarta, dan

Darmayanti, 2017). Proses ekstraksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah

metode soxhletasi. Prinsip Soxhletasi adalah penyaringan yang berulang-ulang

sehingga hasil yang didapat sempurna dan pelarut yang digunakan relatif sedikit.

Pelarut organik dapat menarik senyawa organik dalam bahan alam secara

berulang-ulang (Anam, Agustini, dan Romadhon, 2014). Kelebihan dari metode

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 25: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

16

soxhletasi adalah dapat mengekstrak minyak lebih banyak, pelarut yang

digunakan lebih sedikit dan waktu ekstraksi lebih singkat. Efektivitas ekstraksi

suatu senyawa oleh pelarut sangat tergantung kepada kelarutan senyawa tersebut

dalam pelarut, sesuai dengan prinsip suatu senyawa akan terlarut pada pelarut

dengan polaritas yang sama. Penggunaan jenis pelarut dapat memberikan

pengaruh terhadap rendemen senyawa yang dihasilkan. Jenis pelarut yang sering

digunakan untuk ekstraksi minyak yang bersifat non-polar adalah n-hexan,

isopropil alkohol, dan petroleum ether (Pratama, Widarta, dan Darmayanti, 2017).

Pelarut yang digunakan peneliti untuk mengekstrak lemak adalah petroleum eter.

Pada penelitian ini, Hasil rata-rata yang diperoleh adalah sebesar 10,06%

sehingga dapat disimpulkan bahwa kandungan kadar lemak pada jeroan ikan ini

telah memenuhi ketentuan persyaratan kandungan kadar lemak yang baik menurut

SNI-8509-2018 yaitu sebesar ≥2%. (Lampiran 5).

Penetapan Kadar Karbohidrat Pelet Jeroan Ikan

Karbohidrat merupakan sumber kalori utama dalam tubuh makhluk hidup.

Karbohidrat banyak terdapat dalam bahan pangan nabati. Bahan pangan nabati

yang merupakan sumber karbohidrat adalah biji-bijian serealia dan umbi-umbian

(Thaha et al., 2018). Melalui fotosintesa, tanaman merubah karbon dioksida

menjadi karbohidrat, yaitu bentuk selulosa, pati, dan gula-gula. Sebagian besar

karbohidrat, terutama golongan monosakarida dan disakarida seperti glukosa,

fruktosa, galaktosa dan laktosa mempunyai sifat mereduksi. Sifat mereduksi dari

karbohidrat disebabkan oleh adanya gugus aldehida atau gugus keton bebas dan

gugus –OH bebas (Qalsum et al., 2015).

Serat kasar merupakan bagian dari karbohidrat yang tidak dapat dicerna

dan bukan nutrisi penting bagi hewan. Serat kasar akan menimbulkan pengotoran

dalam wadah kultur, akan tetapi tetap diperlukan untuk memudahkan pengeluaran

feses. Jika terlalu banyak serat kasar (>10%) akan mengakibatkan daya cerna

menurun, penyerapan menurun, meningkatnya sisa metabolisme, dan penurunan

kualitas air kultur (Iskandar dan Fitriadi, 2017).

Kadar karbohidrat diukur dengan menggunakan metode fenol sulfat.

Prinsip dari metode ini adalah gula sederhana dan oligosakarida dapat bereaksi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 26: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

17

dengan fenol dalam asam sulfat pekat menghasilkan warna jingga kekuningan

yang stabil. Dimana oligosakarida dihidrolisis menjadi monosakarida oleh asam

sulfat pekat dan menghidrasinya sehingga membentuk senyawa furfural yang

beraksi dengan fenol menghasilkan warna jingga. Karbohidrat standar yang

digunakan adalah glukosa. Glukosa adalah monosakarida dengan rumus kima

C6H12O6 terdapat sebagai glikosida di dalam tubuh binatang, sebagai disakarida-

disakarida dan polisakarida-polisakarida di dalam tubuh tumbuh-tumbuhan.

Glukosa dapat dibuat dari pati-patian bahkan selulosa dan proses pembuatannya

dapat dihidrolisa dengan asam maupun enzim (Yusrin dan Mukaromah, 2010).

Hidrolisis merupakan reaksi kimia yang memecah molekul menjadi dua

bagian dengan penambahan molekul air (H2O), dengan tujuan untuk

mengkonversi polisakarida menjadi monomer-monomer sederhana. Satu bagian

dari molekul memiliki ion hidrogen (H+) dan bagian lain memiliki ion hidroksil

(OH-). Umumnya hidrolisis ini terjadi saat garam dari asam lemah atau basa

lemah (atau keduanya) terlarut di dalam air. Akan tetapi, dalam kondisi normal

hanya beberapa reaksi yang dapat terjadi antara air dengan komponen organik.

Penambahan asam, basa, atau enzim umumnya dilakukan untuk membuat reaksi

hidrolisis dapat terjadi pada kondisi penambahan air tidak memberikan efek

hidrolisis. Asam, basa maupun enzim dalam reaksi hidrolisis disebut sebagai

katalis, yakni zat yang dapat mempercepat terjadinya reaksi (Osvaldo, Panca, dan

Faizal, 2012). Berikut merupakan reaksi hidrolisis selulosa dengan H2SO4 :

Gambar 4. Reaksi hidrolisis selulosa dengan H2SO4 (Osvaldo, Panca, dan

Faizal, 2012).

Proses ini bertujuan memecah ikatan lignin, menghilangkan kandungan

lignin dan hemiselulosa, merusak struktur krital dari selulosa serta meningkatkan

porositas bahan. Rusaknya struktur kristal selulosa akan mempermudah terurainya

sellulosa menjadi glukosa. Selain itu, hemisellulosa turut terurai menjadi senyawa

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 27: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

18

gula sederhana: glukosa, galaktosa, manosa, heksosa, pentosa, xilosa dan

arabinosa (Osvaldo, Panca, dan Faizal, 2012).

Penentuan kadar gula total dilakukan dengan metode fenol. Metode dan

reaksi pada metode fenol analog dengan uji Molisch. Penambahan asam sulfat

pekat menyebabkan polisakarida terhidrolisis menjadi monosakarida yang

kemudian terdehidrasi membentuk furfural. Furfural akan berikatan dengan 2

molekul fenol. Reaksi lebih lanjut akan menyebabkan terbentunya ikatan rangkap

yang lebih terkonjugasi (Gambar 5.). Hal ini mengakibatkan terbentuknya warna

jingga yang menjadi dasar penentuan gula total secara spektrofotometri pada 490

nm (Sasongko, Lumbantobing, Rifani, dan Gotama, 2019). Berikut merupakan

reaksi glukosa dengan fenol pada suasana asam:

Gambar 5. Reaksi Glukosa Dengan Fenol Pada Suasana Asam (Yusrin dan Mukaromah, 2010)

2

H+

-H2O

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 28: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

19

Berdasarkan kurva kalibrasi glukosa (Gambar 6.) diperoleh persamaan

regresi y = 0,003x + 0,597. Persamaan tersebut kemudian digunakan untuk

menghitung kadar karbohidrat dalam sampel.

Gambar 6. Grafik Kurva Baku Glukosa

Tabel IV. Absorbansi dan Sampel Pelet Jeroan Ikan Replikasi Absorbansi Kadar karbohidrat (%)

1 1,959 45,4

2 1,959 45,4

3 1,959 45,4

Berdasarkan persamaan regresi tersebut, hasil rata-rata yang diperoleh

pada pengujian kadar karbohidrat ini sebesar 45,4% sehingga dapat disimpulkan

bahwa kandungan kadar karbohidrat pada jeroan ikan ini telah memenuhi

ketentuan persyaratan kandungan kadar karbohidrat yang baik menurut SNI-8509-

2018 yaitu sebesar ≥14%. (Lampiran 6).

y = 0,003x + 0,597r = 0,990

0

0,5

1

1,5

2

2,5

0 100 200 300 400 500 600

Abso

rban

si

Konsentrasi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 29: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

20

KESIMPULAN DAN SARAN

a. Kesimpulan

1. Berdasarkan hasil yang telah diperoleh dalam penelitian ini, sediaan pelet

pakan hewan peliharaan berbahan dasar limbah jeroan ikan mengandung

10,55% kadar abu, 4,75% kadar air, 49,73% protein, 10,06% lemak, dan

45,4% karbohidrat.

2. Berdasarkan hasil yang telah diperoleh maka dapat disimpulkan bahwa

kandungan nutrisi pada sediaan pelet jeroan ikan telah sesuai dengan

ketentuan persyaratan kandungan pakan hewan yang baik menurut SNI-

8509-2018.

b. Saran

Peneliti menyarankan untuk dilakukannya penetapan terhadap kadar

kalsium (Ca), fosfor (P), energi tercerna (DE), lisin, metionin, dan sistin pada

sediaan pelet pakan hewan peliharaan berbahan dasar limbah jeroan ikan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 30: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

21

DAFTAR PUSTAKA Anam, C., Agustini, Tri W., dan Romadhon. 2014. Pengaruh Pelarut Yang

Berbeda Pada Ekstraksi Spirulina Platensis Serbuk Sebagai Antioksidan Dengan Metode Soxhletasi. Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan. Volume 3, Nomer 4. Halaman 106-112.

Aventi, 2015. Penelitian Pengukuran Kadar Air Buah. Jurnal Seminar Nasional Cendikiawan. ISSN: 2460-8696. Bahalwan, Farida, 2013. Analisis Kadar Protein Pada Bakasang dari Jeroan Ikan Cakalang (Katsuwonus Pelamis Lin). Jurnal Biology Science & Education. Vol. 2 No. 1 ISSN 2252-858X. Bintang, M., 2018. BIOKIMIA Teknik Penelitian. Penerbit Erlangga, Jakarta, Indonesia. Bio-OER. 2021. Proteins (Proteins Are Polymers of Amino Acids).

https://bio.libretexts.org/Bookshelves/Biotechnology/Bio-OER_(CUNY)/02%3A_Chemistry/2.09%3A_Proteins. Diakses pada tanggal 6 Januari 2021.

Desthi, Diah I., Idi, Setiyobroto, dan Rini, Wuri A., 2019. HUBUNGAN ASUPAN MAKAN DAN AKTIVITAS FISIK DENGAN STATUS GIZI PELETON INTI SMP N 5 YOGYAKARTA. Tesis. Poltekkes Kemenkes Yogyakarta.

Dika, Ahmad F., Brahmana, Eti M., dan Purnama, Arief A., 2017. Uji Kandungan Protein Dan Lemak Pada Ikan Bada (Pisces: Rasbora Spp.) Di Sungai Kumu Kecamatan Rambah Hilir Kabupaten Rokan Hulu. Jurnal Mahasiswa FKIP Universitas Pasir Pengaraian. Vol. 3 No. 1. Edward, 2017. Kajian Awal Kadar Merkuri (Hg) Dalam Ikan dan Kerang di Teluk

Kao, Pulau Halmahera. Depik Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan, Pesisir dan Perikanan. Volume 6 Number 3.

Fryathama, I., Sukmiwati, M., dan Sumarto, 2016, Pemanfaatan Jeroan Ikan Patin (Pangasius Hypoptalmus) Dengan Penambahan Kulit Pisang Kepok (Musa Acuminata Balbisiana) Pada Pembuatan Pupuk Organik Cair. Jurnal Teknologi Perikanan. Hafiludin, 2011. Karakteristik Proksimat Dan Kandungan Senyawa Kimia Daging Putih Dan Daging Merah Ikan Tongkol. Jurnal Kelautan. Volume 4 No. 1. ISSN: 1907-9931. Hasan, Kartika, 2010. Penetapan Kadar Protein Dengan Metode Spektrofotometri Dan Kadar Lemak Dengan Metode Sokletasi Pada Terung Kopek Ungu Dan Terung Kopek Hijau. Skripsi. UIN ALLAUDIN. Makassar. Herman, H., Rusli, R., Ilimu, E., Dan Hamid, R., 2011. Analisis Kadar Mineral

Dalam Abu Buah Nipa (Nypa Fructicans) Kaliwanggu Teluk Kendari Sulawesi Tenggara. Journal Of Tropical Pharmacy And Chemistry. 1 (2):163-170.

Hildawianti, T., Vanny, M. A., dan Abram, Paulus A., 2017. Analisis Kandungan Nitrogen (N) Dan Posforus (P) Pada Limbah Jeroan Ikan Mujair (Oreochromis Mosambicus) Danau Lindu. J. Akademika Kim. 6 (3): 148.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 31: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

22

Iskandar, R., dan Fitriadi, S., 2017. Analisa Proksimat Pakan Hasil Olahan Pembudidayaan Ikan Di Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan. ZIRAA’AH. Volume 42 Nomor 1. e-ISSN 2355-3545. Ismi, Risti S., Pujaningsih, Retno I., dan Sumarsih, S., 2017. Pengaruh Penambahan Level Molases Terhadap Kualitas Fisik Dan Organoleptik Pellet Pakan Kambing Periode Penggemukan. Jurnal Ilmiah Peternakan Terpadu. Vol. 5 (3): 58-63. Jayanti, Zella D., Herpandi, dan Lestari, D., 2018. Pemanfaatan Limbah Ikan Menjadi Tepung Silase dengan Penambahan Tepung Eceng Gondok (Eichhornia crassipes). Jurnal Teknologi Hasil Perikanan. Vol. 7 No. 1 : 86-87. ISSN : 2302-6936. Jubaidah, S., H, Nurhasnawati., H, Wijaya., 2016. Penetapan Kadar Protein

Tempe Jagung (Zea mays L.) dengan kombinasi kedelai (Glycine max (L.) Merill) Secara Spektrofotometri Sinar Tampak. Jurnal Ilmiah Manuntung. 2(1): 111-119.

Juniyanto, Mohammad I. R. R., Susilawati, I., Supratman, H., 2015. Ketahanan Dan Kepadatan Pelet Hijauan Rumput Raja (Pennisetum Purpuphoides) Dengan Penambahan Berbagai Dosis Bahan Pakan Sumber Karbohidrat. Student e-Journals. Vol. 4 No. 2. Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2018. A. Produkvitas Perikanan Indonesia. https://kkp.go.id/wp-content/uploads/2018/01/KKP-Dirjen-PDSPKPFMB- Kominfo-19-Januari-2018.pdf. diakses tanggal 14 September 2019. Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2018. B .GEMARIKAN (Gemar Memasyarakatkan Makan Ikan): Upaya Peningkatan Gizi Sejak Dini. https://kkp.go.id/djpt/ppnsungailiat/artikel/6676-gemarikan-gemar- memasyarakatkan-makan-ikan-upaya-peningkatan-gizi-sejak-dini. Diakses tanggal 12 Oktober 2019. Keppy, N. K., & Allen, M. W., 2016. The Biuret Method for The Determination of

Total Protein Using on Evaluation Array 8-Position Cell Charger. http://www.acm2.com/prilojenia/UV-VISAplication/Biuret%20analysis.pdf. Diakses pada tanggal 13 Oktober 2020.

Kusumanto, I., dan Hidayat, Mhd. Ihsan, 2018. Analisis Tekno Ekonomi Pembuatan Pelet Ikan dari Sampah Organik Di Kota Pekanbaru. Jurnal Sains, Teknologi dan Industri. Vol. 15 No. 2. ISSN 2407-0939, pp. 121- 130. La Apu, R., 2017. Pemanfaatan Limbah Jeroan Ikan Cakalang (Katsuwonus Pelamis) Sebagai Bahan Subtitusi Tepung Ikan Terhadap Kinerja Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis Niloticus). Tesis. Universitas Hasanudin Makasar. Makasar. Leviana, W., dan Paramita, V., 2017. Pengaruh Suhu Terhadap Kadar Air Dan Aktivitas Dalam Bahan Pada Kunyit (Curcuma Longa) Dengan Alat Pengering Electrical Oven. METANA. Vol. 13 (2):37-34. ISSN: 1858- 2907. Machin, A., 2012. Potensi Hidrolisat Tempe Sebagai Penyedap Rasa Melalui

Pemanfaatan Ekstrak Buah Nanas. Biosaintifika. ISSN 2085-191X.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 32: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

23

Munthe, I., Isa, M., Sulasmi, Herrialfian, dan Rusli, 2016. Analisis Kadar Protein Ikan Depik (Rasbora Tawarensis) Di Danau Laut Tawar Kabupaten Aceh Tengah. Jurnal Medika Veterinaria. Vol. 10 No. 1. ISSN: 0853-1943. Natsir, Nur A., dan Latifa, S., 2018. Analisis Kandungan Protein Total Ikan Kakap Merah dan Ikan Kerapu Bebek. Jurnal Biology Science & Education. Vol. 7 No. 6 ISSN 2252-858X. Niode, Abdul R., Nasriani, dan Irdja, Ad Mahmudy, 2017. Pertumbuhan Dan Kelangsungan Hidup Benih Ikan Nila (Oreochromis Niloticus) Pada Pakan Buatan Yang Berbeda. Jurnal Ilmiah Media Publikasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Osvaldo Z. S., Panca Putra S., M. Faizal. 2012. Pengaruh Konsentrasi Asam Dan

Waktu Pada Proses Hidrolisis Dan Fermentasi Pembuatan Bioetanol Dari Alang-Alang. Jurnal Teknik Kimia. No. 2, Vol. 18.

Pratama, Ratna N., Widarta, I Wayan R., dan Darmayanti, Luh Putu T. 2017. Pengaruh Jenis Pelarut dan Waktu Ekstraksi Dengan Metode Soxhletasi Terhadap Aktivitas Antioksidan Minyak Biji Alpukat (Persea americana Mill.). Media Ilmiah Teknologi Pangan (Scientific Journal of Food Technology). Vol. 4, No.2, 85 – 93.

Probosari, E., 2019. Pengaruh Protein Diet Terhadap Indeks Glikemik. Journal of Nutrition and Health. Vol. 7 No. 1. ISSN 2622-8483. Purnama, Robby C., Retnaningsih, A., dan Aprianti, I., 2019. Perbandingan

Kadar Protein Susu Cair Uht Full Cream Pada Penyimpanan Suhu Kamar Dan Suhu Lemari Pendingin Dengan Variasi Lama Penyimpanan Dengan Metode Kjeldhal. Jurnal Analisis Farmasi. Vol. 4 No. 1.

Qalsum, U., Muhammad, Anang W., dan Supriadi, 2015. Analisis Kadar Karbohidrat, Lemak Dan Protein Dari Tepung Biji Mangga (Mangifera Indica L) Jenis Gadung. J.Akad.Kim. 4(4): 168-174. ISSN: 2302-6030. Rosaini, H., Rasyid, R., dan Hagramida, V., 2015. Penetapan Kadar Protein Secara Kjeldahl Beberapa Makanan Olahan Kerang Remis (Corbiculla Moltkiana Prime.) Dari Danau Singkarak. Jurnal Farmasi Higea. Vol. 7 No. 2. Sasongko, A., Lumbantobing, Deosdado Farrel H., Rifani, A., dan Gotama, B.,

2019. Pemanfaatan Limbah Kulit Singkong untuk Produksi Oligosakarida melalui Hidrolisis Kimiawi. JURNAL SAINS TERAPAN. VOL. 5 NO.1.

Setyaji, H., Suwita, V., dan Rahimsyah, A., 2012. Sifat Kimia Dan Fisika Kerupuk Opak Dengan Penambahan Daging Ikan Gabus (Ophiocephalus striatus). Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri SAINS. Volume 14, Nomor 1, Hal. 17-22. ISSN: 0852-8349. Sihite, Herlina H., 2013. Studi Pemanfaatan Limbah Ikan Dari Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Dan Pasar Tradisional Nauli Sibolgamenjadi Tepung Ikan Sebagai Bahan Baku Pakan Ternak. Jurnal Teknologi Kimia Unimal. 2:2. 43-54. Standar Nasional Indonesia, 2018. Pakan Kelinci Pertumbuhan Atau Muda. Badan Standarisasi Indonesia. Jakarta.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 33: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

24

Suhadana, Made, 2010. Pemanfaatan Jeroan Ikan Tongkol Sebagai Bahan Baku Pembuatan Pepton Secara Enzimatis. Skripsi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Suparjo, 2010. Analisis Bahan Pakan Secara Kimiawi: Analisis Proksimat dan Analisis Serat. Laboratorium Makanan Ternak. Jambi: Fakultas Peternakan Universitas Jambi. Suriani, 2015. Analisis Proksimat Pada Beras Ketan Varietas Putih (Oryza sativa glutinosa). Journal UIN Alauddin. Makasar. Susanto, E., dan Fahmi, S., 2012. Senyawa Fungsional dari Ikan: Aplikasinya Dalam Pangan. Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan. Vol. 1 No. 4. Terpstra, Antonius H. M., 2015. The Composition and Production of Fish Feed. Scripsit. Netherlands. Thaha, Abdul R., Zainal, Hamid, K. St., dan Ramadhan, Denny S., 2018. Analisis Proksimat dan Organoleptik Penggunaan Ikan Malaja sebagai Pembuatan Kerupuk Kemplang. Jurnal MKMI. Vol. 14 No. 1. Wibowo, Imam R., Darmanto, YS, Anggo, Apri D., 2014. Pengaruh Cara Kematian Dan Tahapan Penurunan Kesegaran Ikan Terhadap Kualitas Pasta Ikan Nila (Oreochromis Niloticus). Jurnal Pengolahan dan Bioteknologi Hasil Perikanan. Volume 3 Nomer 3. Halaman 95-103. Yuliani, D., 2017. Buku Petunjuk Praktikum Biokimia I. Fakultas Sains dan

Teknologi. Universitas Islam Negeri Maulana Ibrahim. Malang. Yusrin dan Mukaromah, Ana H., 2010. Proses Hidrolisis Onggok Dengan Variasi

Asam Pada Pembuatan Ethanol. PROSIDING SEMINAR NASIONAL UNIMUS. ISBN: 978. 979.704.883.9.

Zaenuri, R., Suharto, B., dan Haji, Alexander Tunggul S., 2014. Kualitas Pakan Ikan Berbentuk Pelet dari Limbah Pertanian. Jurnal Sumber Daya Alam & Lingkungan.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 34: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

25

LAMPIRAN Lampiran 1. Pelet jeroan ikan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 35: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

26

Lampiran 2. Penetapan kadar abu pelet jeroan ikan Pada penetapan ini, peneliti melakukan replikasi sebanyak tiga kali lalu

menghitung rata-rata ketiga replikasi tersebut.

Perhitungan kadar abu pelet jeroan ikan (Replikasi 1)

Berat wadah = 93,02 g

Berat wadah + isi = 98,15 g (B2)

Berat wadah + isi + pengabuan = 93,49 g (B1)

% kadar abu = 𝐵2−𝐵1𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑤𝑎𝑑𝑎ℎ

𝑥 100%

= 98,15−93,4993,02

𝑥 100%

= 5,01%

Replikasi 1

Sebelum pengabuan Setelah pengabuan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 36: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

27

Perhitungan kadar abu pelet jeroan ikan (Replikasi 2)

Berat wadah = 40,64 g

Berat wadah + isi = 46,05 g (B2)

Berat wadah + isi + pengabuan = 41,28g (B1)

% kadar abu = 𝐵2−𝐵1𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑤𝑎𝑑𝑎ℎ

𝑥 100%

= 46,05−41,2840,64

𝑥 100%

= 11,74%

Replikasi 2

Sebelum pengabuan Setelah pengabuan

Perhitungan kadar abu pelet jeroan ikan (Replikasi 3)

Berat wadah = 22,88 g

Berat wadah + isi = 28,17 g (B2)

Berat wadah + isi + pengabuan = 24,76 g (B1)

% kadar abu = 𝐵2−𝐵1𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑤𝑎𝑑𝑎ℎ

𝑥 100%

= 48,17−24,7622,88

𝑥 100%

= 14,90%

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 37: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

28

Replikasi 3

Sebelum pengabuan Setelah pengabuan

Replikasi 1 5,01%

Replikasi 2 11,73%

Replikasi 3 14,90%

x̅ 10,55%

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 38: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

29

Lampiran 3. Penetapan kadar air pelet jeroan ikan

Pada penetapan ini, peneliti melakukan replikasi sebanyak tiga kali lalu

menghitung rata-rata ketiga replikasi tersebut.

Perhitungan kadar air pelet jeroan ikan (Replikasi 1)

Berat wadah = 87,95 g

Berat wadah + isi = 92,95 g (B2)

Berat Sampel = 5 g

Berat wadah + isi + pemanasan 12 jam = 92,85 g (B1)

% kadar air = 𝐵2−𝐵1𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

𝑥 100%

= 92,95−92,855

𝑥 100%

= 2%

Perhitungan kadar air pelet jeroan ikan (Replikasi 2)

Berat wadah = 87,94 g

Berat wadah + isi = 93,070 g (B2)

Berat Sampel = 5,13 g

Berat wadah + isi + pemanasan 12 jam = 92,74 g (B1)

% kadar air = 𝐵2−𝐵1𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

𝑥 100%

= 93,070−92,745,13

𝑥 100%

= 6,4%

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 39: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

30

Perhitungan kadar air pelet jeroan ikan (Replikasi 3)

Berat wadah = 92,98g

Berat wadah + isi = 98,12 g (B2)

Berat Sampel = 5,14 g

Berat wadah + isi + pemanasan 12 jam = 97,82 g (B1)

% kadar air = 𝐵2−𝐵1𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

𝑥 100%

= 98,12−97,825,14

𝑥 100%

= 5,73%

Replikasi 1 2%

Replikasi 2 6,4%

Replikasi 3 5,83%

x̅ 4,74%

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 40: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

31

Lampiran 4. Penetapan kadar protein pelet jeroan ikan

Pada penetapan ini, peneliti melakukan replikasi sebanyak tiga kali lalu

menghitung rata-rata ketiga replikasi tersebut.

Kurva Baku Pelet Jeroan Ikan

Konsentrasi (%) Absorbansi

0 0,002

1 0,261

2 0,399

3 0,556

4 0,709

5 0,881

a 0,096

b 0,155

r 0,999

Y= bx + a

= 0,155x + 0,096

Penimbangan sampel pelet jeroan ikan

Berat wadah : 62,2012 g

Berat wadah + isi : 87,6087 g

Berat wadah + sisa: 62,2064 g

Isi: 25,4023 g

Pengukuran absorbansi sampel pelet jeroan ikan

Replikasi 1 : 0,490

Replikasi 2 : 0,486

Replikasi 3 : 0,485

Panjang gelombang 526 nm

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 41: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

32

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 42: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

33

Replikasi 1

y = bx + a

0,490 = 0,155x + 0,096

0,394 = 0,155x

x = 0,3940,155

x = 2,54 𝑔 𝑚𝐿⁄

Berat protein : volume sampel x konsentrasi

: 5 mL x 2,54 𝑔 𝑚𝐿⁄

: 12,7 g

% kadar protein : 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑟𝑜𝑡𝑒𝑖𝑛𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

𝑥 100%

: 12,7 𝑔25,4023 𝑔

𝑥 100%

: 49,99 %

Replikasi 2

y = bx + a

0,486 = 0,155x + 0,096

0,39 = 0,155x

x = 0,390,155

x = 2,52 𝑔 𝑚𝐿⁄

Berat protein : volume sampel x konsentrasi

: 5 mL x 2,52 𝑔 𝑚𝐿⁄

: 12,6 g

% kadar protein : 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑟𝑜𝑡𝑒𝑖𝑛𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

𝑥 100%

: 12,6 𝑔25,4023 𝑔

𝑥 100%

: 49,60%

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 43: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

34

Replikasi 3

y = bx + a

0,486 = 0,155x + 0,096

0,39 = 0,155x

x = 0,390,155

x = 2,52 𝑔 𝑚𝐿⁄

Berat protein : volume sampel x konsentrasi

: 5 mL x 2,52 𝑔 𝑚𝐿⁄

: 12,6 g

% kadar protein : 𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑝𝑟𝑜𝑡𝑒𝑖𝑛𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

𝑥 100%

: 12,6 𝑔25,4023 𝑔

𝑥 100%

: 49,60%

Replikasi 1 49,99%

Replikasi 2 49,60%

Replikasi 3 49,60%

x̅ 49,73%

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 44: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

35

Lampiran 5. Penetapan kadar lemak pelet jeroan ikan

Pada penetapan ini, peneliti melakukan replikasi sebanyak tiga kali lalu

menghitung rata-rata ketiga replikasi tersebut.

Perhitungan kadar lemak pelet jeroan ikan (Replikasi 1)

Berat wadah sampel = 0,248 g

Berat wadah + isi = 3,620 g

Isi = 3,373 g

Berat labu alas bulat sebelum soxhlet = 152,20

g (A)

Berat labu alas bulat setelah soxhlet = 152,58

g (B)

% kadar lemak = 𝐵−𝐴𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

𝑥 100%

= 152,58−152,203,373

𝑥 100%

= 11,27%

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 45: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

36

Replikasi 2

Berat wadah sampel = 0,237g

Berat wadah + isi = 2,955 g

Isi = 2,718 g

Berat labu alas bulat sebelum soxhlet = 152,18 g

(A)

Berat labu alas bulat setelah soxhlet = 152,46 g

(B)

% kadar lemak = 𝐵−𝐴𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

𝑥 100%

= 152,46−152,182,718

𝑥 100%

= 10,30%

Perhitungan kadar lemak pelet jeroan ikan (Replikasi 3)

Berat wadah sampel = 0,242g

Berat wadah + isi = 3,031 g

Isi = 2,789 g

Berat labu alas bulat sebelum soxhlet =

153,16 g (A)

Berat labu alas bulat setelah soxhlet =

153,40 g (B)

% kadar lemak = 𝐵−𝐴𝐵𝑒𝑟𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙

𝑥 100%

= 153,40−153,162,789

𝑥 100%

= 8,61%

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 46: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

37

Replikasi 1 11,27%

Replikasi 2 10,30%

Replikasi 3 8,61%

x̅ 10,06%

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 47: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

38

Lampiran 6. Penetapan kadar karbohidrat pelet jeroan ikan

Pada penetapan ini, peneliti melakukan replikasi sebanyak tiga kali lalu

menghitung rata-rata ketiga replikasi tersebut.

Kurva Baku Karbohidrat

Konsentrasi (ppm) Absorbansi

0 0,403

100 0,820

200 1,245

300 1,572

400 1,811

500 2,036

a 0,597

b 0,003

r 0,990

Y = bx + a

Y= 0,003x + 0,597

Penimbangan sampel pelet jeroan ikan

Berat wadah : 0,2245 g

Berat wadah + isi : 1,2523 g

Berat wadah + sisa: 0,2246 g

Isi: 1,0277 g

Pengukuran absorbansi sampel pelet jeroan ikan

Replikasi 1 : 1,959

Replikasi 2 : 1,959

Replikasi 3 : 1,959

Panjang gelombang 490 nm

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 48: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

39

Replikasi 1

y = bx + a

1,959 = 0,003x + 0,597

1,3616= 0,003x

x = 1,36160,003

x = 453,86 ppm

x = 0,454 𝑔 𝐿⁄

% kadar karbhidrat = Faktor pengenceran X

konsentrasi glukosa X 100%

= 1 X 0,454 𝑔 𝐿⁄ X 100%

= 45,4%

Replikasi 2

y = bx + a

1,959 = 0,003x + 0,597

1,3616= 0,003x

x = 1,36160,003

x = 453,86 ppm

x = 0,454 𝑔 𝐿⁄

% kadar karbhidrat = Faktor pengenceran X

konsentrasi glukosa X 100%

= 1 X 0,454 𝑔 𝐿⁄ X 100%

= 45,4%

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 49: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

40

Replikasi 3

y = bx + a

1,959 = 0,003x + 0,597

1,3616= 0,003x

x = 1,36160,003

x = 453,86 ppm

x = 0,454 𝑔 𝐿⁄

% kadar karbhidrat = Faktor pengenceran X

konsentrasi glukosa X 100%

= 1 X 0,454 𝑔 𝐿⁄ X 100%

= 45,4%

Replikasi 1 45,4%

Replikasi 2 45,4%

Replikasi 3 45,4%

x̅ 45,4%

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Page 50: ANALISIS PROKSIMAT PADA SEDIAAN PELET PAKAN HEWAN

41

BIOGRAFI PENULIS Penulis bernama lengkap Raysha Mc Seer merupakan

anak kedua dari tiga bersaudara pasangan Rudy H.

Mochsen dan Mardiana Hadji. Lahir di Atambua pada

tanggal 10 Maret 1998. Riwayat pendidikan penulis

skripsi berjudul “Analisis Proksimat Pada Sediaan

Pelet Pakan Hewan Peliharaan Berbahan Dasar

Limbah Jeroan Ikan” diawali SDI Tanah Merah 1

Atambua (2003-2009), SMPN 1 Atambua (2009-2012),

dan melanjutkan pendidikan menengah atas di SMAS St.

Thomas Aquinas Weetabula (2012-2015). Pada tahun 2016, penulis melanjutkan

pendidikan di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Selama

kuliah penulis pernah menjadi asisten praktikum Farmasi Fisika (2019) dan

Pharmaceutical care 3 (2020). Penulis juga aktif dalam beberapa kegiatan

organisasi, student club dan kepanitiaan diantaranya bendahara II dalam

kepengurusan Unit Kegiatan Mahasiswa Taekwondo periode 2016/2017, ketua

Herbal Garden Team periode 2017/2018, koordinator divisi sponsorship dalam

kegiatan Future Pharmacist in Action #3, koordinator divisi medis dalam kegiatan

Kejuaraan Taekwondo USD CUP 2017, koordinator divisi Sponsorship dalam

acara Aksi Osteoporosis Day 2017, anggota divisi sponsorship kepanitiaan

Seminar Nasional 2017, panitia Herbal Cosmetic Competition 2017 dan anggota

divisi medis dalam acara Aksi Kanker Tulang 2017.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI