traksi tulang

Download traksi tulang

Post on 19-Jan-2016

313 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BerandaRabu, 16 Maret 2011 Traksi dan Gips Diposkan oleh Amel_Lia BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Saat ini, penyakit muskuloskeletal telah menjadi masalah yang banyak dijumpai di pusat-pusat pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Bahkan WHO telah menetapkan dekade ini (2000-2010) menjadi Dekade Tulang dan Persendian. Penyebab fraktur terbanyak adalah karena kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas ini, selain menyebabkan fraktur, menurut WHO, juga menyebabkan kematian 125 juta orang setiap tahunnya, dimana sebagian besar korbannya adalah remaja atau dewasa muda. Terdapat beberapa pengertian mengenai fraktur, sebagaimana yang dikemukakan para ahli melalui berbagai literature. Menurut FKUI (2000), fraktur adalah rusaknya dan terputusnya kontinuitas tulang, sedangkan menurut Boenges, ME., Moorhouse, MF dan Geissler, AC (2000) fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang. Back dan Marassarin (1993) berpendapat bahwa fraktur adalah terpisahnya kontinuitas tulang normal yang terjadi karena tekanan pada tulang yang berlebihan. Ada beberapa cara yang digunakan dalam penanganan pertama pada kasus fraktur diantaranya adalah dengan traksi dan gips. Traksi adalah tahanan yang dipakai dengan berat atau alat lain untuk menangani kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot. Dengan tujuan untuk menangani fraktur, dislokasim atau spasme otot dalam usaha untuk memperbaiki deformitas dan mempercepat penyembuhan. Sedangkan gips merupakan salah satu pengobatan konservatif pilihan (terutama pada fraktur) dan dapat digunakan di daerah terpencil dengan hasil yang cukup baik bila cara pemasangan, indikasi, kontraindikasi serta perawatan setelah pemasangan diketahui dengan baik.

1.2. Tujuan 1. Untuk mengetahui berbagai macam jenis traksi. 2. Untuk mengetahui prinsip dan mekanisme traksi. 3. Untuk mengetahui cara-cara pemasangan GIPS. 4. Untuk mengetahui kelebihan, kekurangan dan perawatan GIPS.

1.3. Manfaat 1. Mahasiswa mampu mengetahui berbagai macam jenis traksi. 2. Mahasiswa mampu mengetahui prinsip dan mekanisme traksi. 3. Mahasiswa mampu mengetahui cara-cara pemasangan GIPS. 4. Mahasiswa mampu mengetahui kelebihan, kekurangan dan perawatan GIPS. BAB II PEMBAHASAN

2.1. Traksi Traksi adalah tahanan yang dipakai dengan berat atau alat lain untuk menangani kerusakan atau gangguan pada tulang dan otot. Traksi adalah pemasangan gaya tarikan ke bagian tubuh. Traksi digunakan untuk meminimalkan spame otot, untuk mereduksi, mensjajarkan, dan mengimubilisasi fraktur; untuk mengurangi deformitas, dan untuk menambah ruangan di antara kedua permukaan patahan tulang. Traksi harus diberikan dengan arah dan besaran yang diinginkan untuk mendapatkan efek terapeutik. Faktor-faktor yang mengganggu keefektifan tarikan traksi harus dihilangkan. Kadang, traksi harus dipasang dengan arah yang lebih dari satu untuk mendapatkan garis tarikan yang diinginkan. Dengan cara ini, bagian garis tarikan yang pertama berkontraksi terhadap garis tarikan lainnya. Garis-garis tarikan tersebut dikenal sebagai vektor gaya. Resultanta gaya tarikan yang sebenarnya terletak di tempat di antar kedua garis tarikan tersebut. Efek traksi yang dipasang harus dievaluasi dengan sinar-X, dan mungkin diperlukan penyesuaian. Bila otot dan jaringan lunak sudah rileks, berat yang digunakan harus diganti untuk memperoleh gaya tarikan yang diinginkan.

B. Traksi pada tulang Traksi pada tulang biasanya menggunakan kawat Krischner (K-wire) atau batang dari Steinmann lokasi-lokasi tertentu, yaitu : Proksimal tibia. Kondilus femur. Olekranon. Kalkaneus (jarang dilakukan karena komplikasinya). Traksi pada tengkorak. Trokanter mayor. Bagian distal metakarpal.

Jenis-jenis traksi tulang Traksi tulang dengan menggunakan kerangka dari Bohler Braun pada fraktur orang dewasa (gambar b.1). Thomas splint dengan pegangan lutut atau alat traksi dari Pearson (gambar b.2). Traksi tulang pada olekranon, pada fraktur humerus (gambar b.3). Traksi yang digunakan pada tulang tengkorak misalnya Gradner Well Skull Calipers, Crutchfield cranial tong (gambar b.4).

Indikasi penggunaan traksi tulang : Apabila diperlukan traksi yang lebih berat dari 5 kg. Traksi pada anak-anak yang lebih besar. Pada fraktur yang bersifat tidak stabil, oblik atau komunitif. Fraktur-faktur tertentu pada daerah sendi. Fraktur terbuka dengan luka yang sangat jelek dimana fiksasi eksterna tidak dapat dilakukan. Dipergunakan sebagai traksi langsung pada traksi yang sangat berat misalnya dislokasi panggul yang lama sebagai persiapan terapi definitif. Komplikasi traksi tulang : Infeksi, misalnya infekis melalui kawat/pin yang digunakan. Kegagalan penyambungan tulang (nonunion) akibat traksi yang berlebihan. Luka akibat tekanan misalnya Thomas splint pada tuberositas tibia. Parese saraf akibat traksi yang berlebihan (overtraksi) atau bila pin mengenai saraf.

. GIPS 2.2.1. Pemasangan GIPS (plaster of Paris) Gips merupakan suatu bahan kimia yang pada saat ini tersedia dalam lembaran dengan komposisi kimia (CaSO4)2 H2O + 3 H2O = 2 (SaSO42H2O) dan bersifat anhidrasi yang dapat mengikat air sehingga membuat kalsium sulfat hidrat menjadi solid/keras. Pada saat ini sudah tersedia gips yang sangat ringan. Pemasangan gips merupakan salah satu pengobatan konservatif pilihan (terutama pada fraktur) dan dapat dipergunakan di daerah terpencil dengan hasil yang cukup baik bila cara pemasangan, indikasi, kontraindikasi serta perawatan setelah pemasangan diketahui dengan baik. 2.2.2. Bentuk-bentuk Pemasangan GIPS Beberapa bentuk pemasangan gips yang dapat dilakukan adalah : 1. Bentuk lembaran sehingga gips menutup separuh atau dua pertiga lingkaran permukaan anggota gerak. 2. Gips lembaran yang dipasang pada kedua sisi antero-posterior anggota gerak sehingga merupakan gips yang hampir melingkar. 3. Gip sirkuler yang dipasang lengkap meliputi seluruh anggota gerak.4. Gips yang ditopang dengan besi atau karet dan dapat dipakai untuk menumpu atau berjalan pada patah tulang anggota gerak bawah (gambar 2.1.2).

Gambar 2.1.2. Gambar skematis gips yang dapatdipakai untuk menumpu atau berjalan

2.2.3. Indikasi Indikasi pemasangan gips adalah : 1. Untuk pertolongan pertama pada faktur (berfungsi sebagai bidal). 2. Imobilisasi sementara untuk mengistirahatkan dan mengurangi nyeri misalnya gips korset pada tuberkulosis tulang belakang atau pasca operasi seperti operasi pada skoliosis tulang belakang. 3. Sebagai pengobatan definitif untuk imobilisasi fraktur terutama pada anak-anak dan fraktur tertentu pada orang dewasa. 4. Mengoreksi deformitas pada kelainan bawaan misalnya pada talipes ekuinovarus kongenital atau pada deformitas sendi lutut oleh karena berbagai sebab. 5. Imobilisasi untuk mencegah fraktur patologis. 6. Imobilisasi untuk memberikan kesempatan bagi tulang untuk menyatu setelah suatu operasi misalnya pada artrodesis. 7. Imobilisas setelah operasi pada tendo-tendo tertentu misalnya setelah operasi tendo Achilles. 8. Dapat dimanfaatkan sebagai cetakan untuk pembuatan bidai atau protesa. 2.2.4. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemasangan gips adalah : 1. Gips yang pas tidak akan menimbulkan perlukaan. 2. Gips patah tidak bisa digunakan. 3. Gips yang terlalu kecil atau terlalu longgar sangat membahayakan klien. 4. Jangan merusak atau menekan gips. 5. Jangan pernah memasukkan benda asing ke dalam gips/ menggaruk. 6. Jangan meletakkan gips lebih rendah dari tubuh terlalu lama. 2.2.5. Kelebihan Kelebihan pemakaian gips adalah : 1. Mudah didapatkan. 2. Mura dan mudah dipergunakan oleh setiap dokter. 3. Dapat diganti setiap saat. 4. Dapat dipasang dan dibuat cetakan sesuai bentuk anggota gerak. 5. Dapat dibuat jendela/lubang pada gips untuk membuka jahitan atau perawatan luka selama imobiliasi. 6. Koreksi secara bertahap jaringan lunak dapat dilakukan membuat sudut tertentu. 7. Gips bersifat rediolusen sehingga pemeriksaan foto rontgen tetap dapat dilakukan walaupun gips terpasang. 8. Merupakan terapi konservatif pilihan untuk menghindari operasi. 2.2.6. Kekurangan Di samping kelebihannya, terdapat pula beberapa kekurangan pemakaian gips yang perlu diperhatikan yaitu : 1. Pemasangan gips yang ketat akan memberikan gangguan atau tekanan pada pembuluh darah, saraf atau tulang itu sendiri. 2. Pemasangan yang lama dapat menyebabkan kekakuan pada sendi dan mungkin dapat terjadi. a. Disus osteoporosis dan atrofi. b. Alergi dan gatal-gatal akibat gips. c. Berat dan tidak nyaman dipakai oleh penderita. 2.2.7. Perawatan GipsHal-hal yang perlu diperhatikan setelah pemasangan gips adalah : 1. Gips tidak boleh basah oleh air atau bahan lain yang mengakibatkan kerusakan gips. 2. Setelah pemasangan gips harus dilakukan follow u yang teratur, tergantung dari lokalisasi pemasangan. 3. Gips yang mengalami kerusakan atau lembek pada beberapa tempat, harus diperbaiki.

2.3. Asuhan Keperawatan pada Traksi 2.3.1. Pengkajian 1. Status neurovascularMisal :-Warna -Suhu-Pengisian kapiler-Kemampuan bergerak -Edema -Denyut nadi2. Kulit Misal :-Dekubitus -Kerusakan jaringan kulit.3. Fungsi respirasi Misal :-Frekuensi -Reguler/irregular 4. Fungsi gastrointestinal Misal :-Konstipasi -Dullness5. Fungsi perkemihan Misal :-Retensi urine -ISK 6. Fungsi kardiovbaskuler Misal :-HR -TD -Perfusi ke daerah traksi. -Akral dingin. 7. Status nutrisi Misal :-Anoreksia.

2.3.2. Diagnosa Keperawatan1. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan traksi atau immobilisasi. 2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan imobilisasi. 3. Kurang perawatan diri makan, hygiene, toileting, berhubungan dengan traksi. 2.3.3. Intervensi Dx. 1 : 1.Kaji skala nyeri. 2. Bantu klien melakukan mobilisasi pada ekstremitas yang tidak ditraksi. 3. Anjurkan klien melakukan teknik distraksi dan relaksasi4. Kolaborasi pemberian analgesic. Dx. 2 : 1.Kaji respon klien terhadap aktifitas. 2. Kaji TT setelah melakukan aktifitas. 3. Mengajarkan