referat anion gap

Download Referat Anion Gap

Post on 07-Jul-2015

952 views

Category:

Documents

12 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

REFERAT

ANION GAP

Oleh : Dokter Muda Periode 25 Oktober 14 November 2010 Kelompok A dan D

LABORATORIUM /SMF EMERGENCY MEDICINE FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2010

Anion Gap

REFERAT

Oleh : Dokter Muda Periode 25 Oktober 14 November 2010 Kelompok A dan D

Annisaa Mayangsari Syaiful Arief Kristina Dyah Lestari Bernard S. S. P. Nur Handy Megawanto Ahmad Azam

0310710023 0310710142 0310710086 0410710025 0410710105 0410714003

LABORATORIUM /SMF EMERGENCY MEDICINE FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2010

3

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Keseimbangan asam basa atau disebut juga sebagai homeostatis pH merupakan salah satu fungsi tubuh yang esensial. Nilai pH dari suatu larutan adalah hasil dari pengukuran konsentrasi ion hidrogen. Konsentrasi ion hidrogen dalam sampel darah arteri normal adalah 0,00004 meq/L. Karena konsentrasi ion H+ sangat rendah, maka ion H+ sering dinyatakan sebagai logaritma pH dengan skala 0 hingga 14, dimana pH 7 merupakan nilai pH netral. Pengaturan kesimbangan ion hidrogen dalam beberapa hal sama dengan pengaturan ion-ion lain dalam tubuh. Untuk mencapai homeostatis pH harus ada keseimbangan antara asupan dan pembuangan ion hidrogen dari tubuh. Seperti pada ion-ion lain, ginjal memainkan peranan kunci dalam pengaturan pengeluaran ion hidrogen. Pengaturan ion hidrogen yang tepat bersifat penting karena hampir semua aktivitas sistem enzim dalam tubuh dipengaruhi oleh konsentrasi ion hidrogen. Gangguan keseimbangan asam-basa, baik dengan gangguan primer pada komponen metabolik ataupun respiratorik, merupakan kasus emergensi yang umum terjadi. Perubahan kecil pada keseimbangan asam-basa dapat menyebabkan gangguan yang bermakna pada sistem tubuh, karena sebagian besar enzim hanya dapat berfungsi pada rentang pH yang sempit, dan keseimbangan asam-basa juga sangat mempengaruhi keseimbangan elektrolit serta hormon dalam tubuh. Tubuh mempunyai 3 sistem utama untuk mengatur konsentrasi ion hidrogen dalam cairan tubuh untuk mencegah asidosis atau alkalosis. Sistem pertama adalah sistem penyangga asam basa kimiawi dalam cairan tubuh, yang dengan segera bergabung dengan asam atau basa untuk mencegah perubahan konsentrasi ion hidrogen yang berlebihan. Sistem kedua adalah sistem pernapasan (paru/komponen respiratorik) yang mengatur pembuangan CO2 dari cairan ekstraselular. Sistem ketiga, ginjal (komponen metabolik) yang dapat mengeksresikan urin asam atau urin alkali sehingga menyesuaikan kembali konsentrasi ion hidrogen cairan ekstraselular menuju normal selama asidosis atau alkalosis.

4

Untuk dapat memberikan terapi yang tepat pada gangguan keseim-bangan asam-basa, maka diperlukan diagnosis yang tepat pula. Langkah-langkah untuk menentukan diagnosis gangguan keseimbangan asam-basa adalah sebagai berikut 1) menentukan asidosis atau alkalosis, 2) menentukan gangguan primer pada komponen metabolik atau respiratorik, 3) pada gangguan respiratorik ditentukan apakah gangguan akut atau kronik, 4) pada asidosis metabolik dilakukan pengukuran anion gap, 5) pada asidosis metabolik dengan peningkatan anion gap ditentukan adakah proses metabolik lain yang terjadi, kemudian 6) ditentukan apakah sistem respirasi mengkompensasi gangguan metabolik dengan adekuat atau tidak. Pengukuran anion gap adalah cara cepat di klinis untuk mempersempit diagnosis diferensial penyebab asidosis metabolik dan dapat memberikan gambaran prognosis dari perjalanan penyakit penderita. Anion Gap adalah perkiraan relatif dari kumpulan anion yang tidak terukur, dan digunakan untuk menentukan apakah asidosis metabolik terjadi akibat akumulasi asam non-volatil atau akibat hilangnya bikarbonat. Anion gap adalah selisih antara total ion positif dan ion negatif di dalam tubuh. Asidosis metabolik adalah suatu gangguan klinis berupa peningkatan kadar asam dalam tubuh. Asidosis metabolik dapat terjadi melalui 2 mekanisme dasar yaitu kegagalan ginjal membuang produk asam (H+) dan peningkatan produksi asam dalam darah misalnya asam laktat atau kehilangan bikarbonat dari saluran gastrointestinal. Asidosis metabolik hanya merupakan manifestasi klinis dari suatu panyakit yang mendasarinya. Oleh karena itu, pemberian terapi asidosis metabolik tanpa pemberian terapi terhadap penyakit yang mendasarinya tidak akan memberikan hasil yang maksimal. Berdasarkan anion gap, asidosis metabolik terbagi menjadi 2 yaitu High Anion Gap Metabolic Acidosis (HAGMA) dan Normal Anion Gap Metabolic Acidosis (NAGMA). Kondisi HAGMA merupakan pertanda prognosis yang buruk, di mana terjadi peningkatan risiko kematian. Untuk lebih memahami peranan anion gap dalam membantu penegakan diagnosis penyebab asidosis metabolik, maka dalam referat ini akan dibahas lebih lanjut mengenai anion gap pada asidosis metabolik.

5

1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah fisiologi sistem asam basa tubuh? 2. Apa saja jenis-jenis gangguan asam basa? 3. Bagaimanakah penjelasan mengenai anion gap? 4. Bagaimanakah penggunaan anion gap di klinik dalam membantu menegakkan diagnosis penyebab asidosis metabolik? 1.3 Tujuan 1. Untuk mengetahui fisiologi sistem asam basa tubuh. 2. Untuk mengetahui jenis-jenis gangguan asam basa. 3. Untuk mengetahui penjelasan mengenai anion gap. 4. Untuk mengetahui penggunaan anion gap di klinik dalam membantu menegakkan diagnosis penyebab asidosis metabolik

. .

6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 2.1.1

Fisiologi Sistem Asam Basa Definisi Asam basa Pengaturan ion hidrogen yang tepat merupakan hal yang penting karena hampir semua aktivitas sistem enzim dalam tubuh dipengaruhi oleh konsentrasi ion hidrogen. Ion hidrogen adalah proton tunggal bebas yang dilepaskan dari atom hidrogen. Molekul yang mengandung atomatom hidrogen yang dapat melepaskan ion-ion hidrogen dalam larutan dikenal sebagai asam. Satu contoh adalah asam hidroklorida (HCl) yang berionisasi dalam air membentuk ion-ion hidrogen dan ion klorida. Demikian juga dengan asam karbonat (H2CO3) berionisasi dalam air membentuk ion H+ dan ion bikarbonat (HCO3-). Basa adalah ion atau molekul yang dapat menerima ion hidrogen. Sebagai contoh ion bikarbonat HCO3- adalah suatu basa karena ion tersebut dapat bergabung dengan satu ion hidrogen untuk membentuk H2CO3. Protein dalam tubuh juga berfungsi sebagai basa karena beberapa asam amino yang membangun protein dengan muatan akhir negatif siap menerima ion-ion hidrogen1. a. Input asam Berbagai produk metabolit perantara di dalam tubuh dan makanan yang kita makan merupakan asam organic yang dapat terionisasi sehingga menghasilkan ion hidrogen dalam tubuh. Beberapa contoh asam organic antara lain asam amino, asam lemak, asam laktat yang dihasilkan dari metabolisme anaerob, dll. Sumber utama asam dalam tubuh tiap harinya berasal dari produksi CO2 dari respirasi aerob. CO2 sendiri bukan termasuk asam akan tetapi CO2 bergabung dengan air dan membentuk asam karbonat yang selanjutnya terdisosiasi menjadi H+ dan HCO3-.

o

CO2 + H2O

H2CO3

H+

+

HCO3-

Setiap harinya metabolisme CO2 menghasilkan 12.500 meq ion hidrogen sehingga dapat dikatakan bahwa CO2 yang dihasilkan dari respirasi aerob sangat berpengaruh pada pH tubuh.

7

b. Input basa Makanan dan beberapa produk metabolisme hanya sedikit menghasilkan basa dan jumlahya tidak sebanyak jumlah asam yang juga diproduksi dari proses metabolisme2. 2.1.2 Sistem Keseimbangan Asam basa (pH Homeostasis) Tubuh mempunyai 3 sistem utama yang mengatur konsentrasi ion hidrogen dalam tubuh untuk mencegah terjadinya acidosis maupun alkalosis. 1) sistem penyangga asam basa kimiawi dalam cairan tubuh (sistem buffer) yang dengan segera bergabung dengan asam atau basa untuk mencegah perubahan konsentrasi ion hidrogen yang berlebihan; 2) sistem pernapasan yang mengatur pembuangan CO2 dari cairan ekstraselular, dan 3) Ginjal yang dapat mengseksresikan urin asam atau urin alkali sehingga menyesuaikan kembali konsentrasi ion hidrogen cairan ekstraselular menuju normal selama terjadi asidosis atau alkalosis2. Saat terjadi perubahan dalam konsentrasi ion hidrogen sistem penyangga cairan tubuh bekerja tersebut. dalam waktu singkat untuk tidak meminimalkan perubahan Sistem penyangga

mengeliminasi ion akan tetapi hanya menjaga agar mereka tetap terikat sampai keseimbangan tercapai kembali. Garis pertahanan kedua yakni sistem pernafasan juga bekerja dalam beberapa menit untuk mengeliminasi CO2. Kedua garis pertahanan ini menjaga konsentrasi ion hidrogen dari perubahan yang terlalu besar sampai garis pertahanan ketiga yang bereaksi lebih lambat, yakni ginjal yang dapat mengeliminasi asam dan basa dari tubuh. Walaupun ginjal bereaksi paling lambat, ginjal merupakan sistem pengatur asam basa yang paling kuat selam beberapa jam hingga beberapa hari. 2.1.2.1 Sistem Penyangga Cairan tubuh Suatu penyangga adalah zat apapun yang secara terbalik dapat mengikat ion-ion hidrogen.Tanpa adanya sistem penyangga, maka penambahan asam dapat menghasilkan perubahan pH yang signifikan. Dengan adanya sistem penyangga perubahan pH yang terjadi hanya

8

bersifat moderat atau mungkin dapat diabaikan. Bentuk umum dari reaksi penyangga adalah: o Penyangga + H+ penyangga H Sistem penyangga ditemukan di intrasel maupun di dalam plasma, yang termasuk ke dalam penyangga intrasel adalah protein, ion fosfat dan hemoglobin. Hemoglobin bertindak sebagai penyangga produksi H+ melalui reaksi CO2 dengan H2O. Sejumlah bikarbonat yang dihasilkan dari metabolisme CO2, bertindak sebagai sistem penyangga ekstraselular. Sistem penyangga bikarbonat terdiri dari larutan air yang mengandung dua zat yakni asam lemah (H2CO3) dan garam bikarbonat seperti NaHCO3. H2CO3 dibentuk dalam tubuh oleh reaksi CO2 dengan H2O o CO2 + H2Okarbonik anhidrase

H2CO3

1

Selain sistem penyangga bikarbonat, fosfat juga merupakan