meriana malo 712015126...kepelbagian uraian makna marapu ini berujung pada kenyataan para penganut...

35
Kajian Teologis terhadap Pemahaman Warga Kampung Bondo Bukka tentang yang Transenden setelah Berpindah Agama dari Marapu ke Kristen Oleh Meriana Malo 712015126 TUGAS AKHIR Diajukan kepada Program Studi Teologi, Fakultas Teologi guna memenuhi sebagian dari persyaratan untuk mencapai gelar Sarjana Sains dalam bidang Teologi (S.Si.Teol) FAKULTAS TEOLOGI UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA SALATIGA 2019

Upload: others

Post on 02-Sep-2021

1 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

Kajian Teologis terhadap Pemahaman Warga Kampung Bondo Bukka tentang

yang Transenden setelah Berpindah Agama dari Marapu ke Kristen

Oleh

Meriana Malo

712015126

TUGAS AKHIR

Diajukan kepada Program Studi Teologi, Fakultas Teologi guna memenuhi sebagian

dari persyaratan untuk mencapai gelar Sarjana Sains dalam bidang Teologi

(S.Si.Teol)

FAKULTAS TEOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA

SALATIGA

2019

Page 2: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

ii

Page 3: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

iii

Page 4: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

iv

Page 5: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

v

Page 6: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

vi

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Yesus Kristus atas segala berkat, hikmat

dan rahmat-Nya sehinggah penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan

segalanya baik.

Pada kesempatan ini pun penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada

mereka yang selama penulisan tugas akhir ini ikut berperan membantu saya baik

melalui doa dan juga bantuan secara langsung. Karena penulis yakin tanpa bantuan

dari mereka tugas akhir ini tidak akan selesai tepat waktu dan dengan segalanya baik.

Dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan terimah kasih kepada :

1. Kepada keluargaku tercinta, Papa Simon Malo Kiku. Mama Ledia Wolla,

Kakak Yana, Kakak Dani, Kakak Tina, kakak Lina dan adik-adikku Marlin,

Eston, Lita. Terima kasih karena cinta kasihnya, kesabaran, doa serta

dorongan yang selama ini diberikan dan tak hentinya mendoakan saya yang

berada jauh.

2. Kepada Pdt. Dr. Ebenhaizer I. Nuban Timo dan Pdt. Cindy Quartyamina

Koan, M.A selaku pembimbing yang sudah dengan sabar membimbing saya

dan tidak pernah bosan memberikan masukan dan saran untuk penulisan tugas

akhir ini.

3. Kepada seluruh dosen yang berada di Fakultas Teologi UKSW.

4. Kepada kakak Umbu sebagai Alumni UKSW yang telah membantu saya

dalam menyusun hasil penelitian.

5. kepada seluruh warga kampung Bondo Bukka yang telah mengambil bagian

dalam proses wawancara yang dilakukan penulis untuk mendapatkan data dan

juga Kepada jemaat, majelis dan pendeta mengijinkan saya berpelayanan dan

berbagi ilmu pada semua warga

6. Kepada widya, Merymar, Enna bani, Sentya, Anggel yang sudah setia

menemani segala kegilaan dan kegalauan selama kuliah dan penulisan tugas

akhir.

7. Kepada teman-teman angkatan yang dengan setia mendukung saya dari awal

kuliah sampai pada akhir kuliah saya.

Page 7: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

vii

8. Kepada Kakak Eca, kakak Tiara, kakak Lin, Anggel Dima, Vita. yang sudah

mau mendengar keluah kesah saya selama kuliah sampai akhir dari setiap

penulisan selesai.

9. Kepada sepupu saya yang selalu mendukung saya untuk dapat menyelesaikan

proses perkulihan tepat waktu

10. Kepada seluruh angakatan 2015 yang telah sama-sama berjuangan sampai

akhir ini.

11. Terima kasih juga kepada seluruh kelurga tercinta yang berada di Sumba yang

sudah membantu baik dalam doa dan juga bantuan lain dalam proses kuliah

yang dilalui selama empat tahun.

Salatiga, 6 September 2019

Meriana Malo

Page 8: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

viii

Daftar Isi

Halaman Judul……...……………………………………………………………… i

Lembar pengesahan...……………………………………………………………… ii

Pernyataan tidak plagiat…………………………………………………………… iii

Pernyataan persetujuan akses……………………………………………………... iv

Pernyataan persetujuan publikasi…………………………………………………. v

Motto………………………………………………………………………...…….. vi

Kata pengantar…………………………………………………………………….. vii

Daftar isi…………………………………………………………………………… ix

Abstrak…………………………………………………………………………….. x

PENDAHULUAN

Latar belakang masalah…………………………………………….……… 1

Rumusan masalah………………………………………………….……… 4

Manfaat penelitian…………………………………………………..…….. 5

Metode penelitian………………………………………………….……… 5

Sistematika penulisan……………………………………………….……. 6

TEORI

Monotheisme Transenden………………………….…………………..… 7

Politheisme Teritorial………………………………………………..…… 9

Monotheismen Imanen………………………………………………..….. 10

Konversi Agama……………………………………………………….… 12

Hasil Penalitian……………………………………………………………….…. 3

Gambaran umum tempat penelitian…………………………………………….. 14

Orang Sumba dan Agama…………………………………………………….…. 15

Konsep yang Transenden menurut Kepercayaan Marapu……………………… 16

Konsep Transenden bagi Warga yang telah Berpindah Agama dari Marapu ke

Kristen…………………………………………………….……………………….. 17

Kajian Teologis terhadap Perspektif Transenden…………….……………..……. 18

Analisa Pemahaman Warga Kampung Bondo Bukka tentang Allah ketika Berpindah

Agama dari Marapu ke Kristen…………………………………………………… 19

Page 9: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

ix

Penutup……………………………………………………………………………. 20

Kesimpulan…………………………………………………………………….….. 21

Saran……………………………………………………………………….……… 22

Daftar Pustaka……………………………………………………………..…….... 23

Page 10: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

x

Motto

Aku mencintainya karena Dua cinta, cinta

karena diriku dan cinta karena Engkau layak

dicintai

Yesaya 55:8

Sebab rancangan-ku bukanlah

rencanganMu, dan jalan-Mu bukanlah jalan-

ku.

Page 11: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

xi

Abstrak

Tujuan penelitian ini adalah mencari tahu bagimana konsep Allah yang

dipahami warga kampung Bondo Bukka ketika berpindah agama dari Marapu ke

Kristen, telah ditemukan bahwa ada beberapa faktor yang membuat perpindahan

Agama itu terjadi, seperti dalam penulisan ini ditemukan bahwa warga ketika berada

di Marapu banyak mengalami berbagai persoalan kehidupan yang pada akhirnya

warga diharuskan untuk berpindah. Berkaitan dengan perpindahan ini penulis juga

yang mengunakan teori konsep Allah mengambarkan bahwa transenden yang

mengalami proses perubahan ini merupakan transenden yang terus diperbaharuhi

manusia sesuai konteks di mana manusia itu hidup dan berinteraksi. Konsep yang

digambarkan dalam teori konsep Transenden ini ada tiga yaitu Monotheisme

Transenden, Politheisme Teriorial, dan Monotheisme Imanen, Imanen dalam wilayah

batin dari keempat konsep ini merupakan yang sudah berada dalam diri manusia

tetapi konsep ini sangat sulit untuk dimaknai, pemaknanan terhadap konsep lama

sering kali terjadi kesimpangsiuran, pergantian konsep lama memang bukan sesuatu

yang gampang, melainkan manusia harus berhadapan dengan situasi kehidupan yang

membutuhka sesuatu jawaban atas setiap persoalan yang dihadapi sehingga pada

akhirnya konsep lama diganti sesuai apa yang menjadi harapan setiap manusia.

seperti yang dirasakan warga kampung Bondo Bukka yang pada awalnya

mengunakan berbagai cara untuk menghubungkan mereka dengan yang transenden,

namun karena kejauhan dan tidak bisa dijangkau yang transenden tersebut akhirnya

digantikan dengan konsep baru yang bisa dijangkau oleh pribadi mereka, sebagai

subjek warga telah menjadikan beberapa objek sebagai bagian yang

memperjumpakan warga dengan yang transenden namun tidak memberikan

penyembuhan bagi setiap persoalan yang dihadapi.

Kata kunci: Gereja sebagai lembaga terpenting untuk mengerakan suatu pengajaran

yang tidak saja menoton, tetapi bervariasi.

Page 12: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

1

1. Pendahuluan

Latarbelakang

Sumba memiliki pelbagai keragaman, terkhususnya kampung Bondo

Bukka yang berada di Sumba Barat Daya secara nyata beragam dalam entitas

agama. Warga yang dalam kesehariannya menggunakan bahasa Weejewa ini

terdiri dari 85% penganut Kristen, 10% penganut Marapu, 5% penganut

Katolik.1 Menariknya sebagian besar penganut agama Kristen, sebelumnya

merupakan aliran kepercayaan Marapu.

Marapu merupakan sistem kepercayaan asli masyarakat Sumba yang

sampai pada saat ini masih bertahan. Ada beberapa pendapat yang

mengemukakan arti kata Marapu itu sendiri. Onvle berpendapat bahwa

Marapu berasal dari dua suku kata Ma berarti yang dan rapu yang berarti

dihormati, disembah dan didewakan.2 Andreas Yewangoe menduga bahwa

kata Marapu berasal dari kata Ma yang berarti yang dan rappu yang berarti

tersembunyi, dengan demikian Marapu berarti yang tersembunyi atau tidak

dapat dilihat. Pendapat lain muncul dari F. D. Welem mengatakan bahwa

Marapu adalah kepercayaan terhadap dewa-dewa atau ilah tertinggi atau

arwah nenek moyang dan kekuatan-kekuatan sakti. Kepelbagian uraian makna

Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu

memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

pertolongan dan perlindungan jika disembah, sebaliknya jika tidak disembah

maka akan memberikan malapetaka bagi manusia.3

Lebih lanjut dalam Marapu sendiri warga kampung Bondo Bukka

memahami Yang Transenden melalui objek-objek yang ada yang kemudian

diwujudkan dalam berbagai bentuk. Ada berupa patung, berupa perhiasan atau

1 Wawancara dengan Hendrik Bora Rewa, Kepala Desa, Kadiwanno. 8 Agustus 2018. Pukul

17.00 WITA

2 F.D. Wellem, injil dan Marapu, Suatu Studi Historis-Teologis tentang Perjumpaan Injil

dengan Masyarakat Sumba Pada Periode 1876-1990, (Jakarta: Gunung Mulia, 2004), 46.

3 Harun Hadiwijono, Religi Suku Murba di Indonesia, (Jakarta: Gunung Mulia, 2006), 26.

Page 13: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

2

Mamuli “sebuah simbol reproduksi perempuan berupa anting dan liontin” ada

berupa lambang bulan, lambang matahari serta binatang-binatang yang ada di

darat maupun di laut, termasuk tumbuh-tumbuhan. Benda-benda ini disimpan

di atas loteng dari Rumah agar tidak mudah disentuh. Tempat penyimpanan

kerap kali dianggap suci atau keramat, karena tempat tersebut diyakini sebagai

tempat bersemayam para leluhur yang menjadi perantara antara manusia

dengan yang transenden.

Orang Sumba mengenal Marapu dengan dua tingkatan. Tingkatan paling

tinggi adalah Mori Langit, Mori Tana. Marapu ini menjadi alamat dari setiap

permohonan yang memutuskan permohonan itu diterima atau ditolak. Marapu

paling tinggi tingkatannya ini diyakini tidak pernah tidur, Ia tetap

memperhatikan manusia yang memohon kepada-Nya. Ia disebut sebagai

Marapu dappa teki ngara, dappa suma tamo, momo wiwi make mata “Ia yang

bermata besar dan bertelinga lebar untuk memperhatikan dan mendengarkan

keluhan manusia”. Marapu lain pada tingkatan selanjutnya adalah Marapu

Mori Tana. Ia adalah Marapu yang menjaga dusun atau kampung dan juga

menjaga kebun. Ia diyakini sebagai Mori Tana karena Ia memiliki kekuatan

untuk menciptakan segala sesuatu, dari yang tidak ada menjadi ada yang

sedang didiami manusia, dan diyakini sebagai pemelihara segala ciptaannya

dan penjaga dusun atau kampung. Marapu ini harus diberikan sesajian berupa

makanan, diberikan persembahan dalam bentuk hasil panenan yang digantung

pada tiang persembahan.4

Adapun hal lain yang perlu dipahami terkait dua tingkatan Marapu ini

menyangkut tata cara penyebutannya, nama Marapu tertinggi sering kali tidak

boleh disebutkan nama-Nya. Hal ini disebabkan Ia diyakini sebagai pencipta

alam semesta yang bersemayan ditempat yang jauh yakni di langit ketujuh.

Manusia tidak serta merta dapat berkontak langsung dengan Marapu tertinggi

ini, demikian sebaliknya dibutuhkan perantara antara keduanya. Meskipun

4 Wawancara dengan Ama Wolla, Tokoh Adat, Kampung Bondo Bukka, Sumba Barat Daya,

2 Juni 2018. 08.00 WITA

Page 14: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

3

demikian orang Sumba percaya bahwa Marapu tertinggi itu baik hati dan suka

mengampuni orang yang mau bertobat. Bahkan saat kematian tiba, Ia akan

menerima manusia.5 Berbeda dengan Marapu Mori Tana, yang dipahami

sebagai tuan tanah, dalam hal ini warga harus memberikan sesajian untuk

Marapu tersebut agar segala bentuk usaha yang dilakukan mendapatkan hasil

yang memuaskan. Ia diyakini mempunyai kuasa untuk memberikan hasil yang

terbaik untuk setiap usaha manusia, sehingga ketika warga mengumpulkan

hasil panenan, maka terlebih dahulu hasil tersebut dipersembahkan kepada

Mori Tana.

Adanya konsep Transenden yang tidak mudah dijangkau dalam Marapu;

inilah yang menjadi celah bagi penganut Marapu secara khusus yang berada di

kampung Bondo Bukka untuk mulai memikirkan upaya mewujudkan

kerinduan dalam rangka menyatukan hubungan dengan Allah. Pengalaman

inilah yang membuat mereka berpindah agama dari penganut Marapu menjadi

penganut Kristen Protestan. Konsep Allah yang begitu jauh tidak dapat

dijangkau dalam ajaran Marapu dirasakan sebagai di mana persoalan yang

trasenden itu dinilai kurang campur tangan untuk membantu warga

menyelesaikan berbagai masalah mereka seperti masalah ekonomi,

pendidikan, kesehatan.

Kekristenan yang masuk ke Sumba pada tahun 1881-1883 telah

menyebabkan banyak perubahan. Perubahan terbesar yakni terkait

pemahaman tentang Allah sebagai pribadi yang dekat dengan umat-Nya.

Allah yang Maha Besar mau menghadirkan diri-Nya dengan mengambil rupa

manusia melalui putra tunggal-Nya Yesus Kristus demi menyelamatkan umat

manusia dari ketertindasan untuk memperoleh kebebasan. Inilah yang menjadi

penyebab perpindahan penganut Marapu ke Kristen Protestan di kampung

Bondo Bukka.

5 Dharmaputra T. Palekahelu, Marapu Kekuatan di Balik kekeringan (Salatiga: Program

Doktor Studi Pembangunan Universitas Kristen Setya Wacana, 2010), 15

Page 15: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

4

Menurut Karen Armstrong, Konsep Allah akan selalu diperbaharuhi

manusia sesuai konteks di mana ia hidup sesuai pengalaman iman. Dalam hal

ini iman manusia adalah iman yang terus bertumbuh, terus mencari tahu

segala sesuatu yang tidak mampu secara spontan dibuktikan, sehingga ide

lama ditinggalkan dan digantikan oleh ide baru. Hal ini dikarenakan

ketidakpuasan manusia dalam mencari kepastian terhadap terhadap persoalan

yang membutuhkan jawaban serta rasa kagum terhadap konsep yang baru

terus berlangsung, untuk mencapai kesempurnaan. Manusia adalah makluk

spritual dalam hal ini manusia berusaha mencari sesuatu sebagai

pengabdiannya yang mampu memberikan dampak dalam kehidupan mereka.

Karen Armstrong mengatakan bahwa manusia sebagai homo sapiens juga

merupakan homo religious.6 Dalam hal ini manusia ingin mencapai

kesempurnaan yang ada di luar dirinya.

Pencarian makna Transenden inilah yang membawa penganut Marapu di

kampung Bondo Bukka menjadi Kristen. Mereka juga mengakui dengan

berbagai perkembangan dan juga kemajuan yang ada membawa mereka

kepada sesuatu hal yang harus diperbaharui. Konsep Allah yang mereka

pahami adalah Allah yang selalu berubah, dalam artian di Marapu mereka

memahami Allah sebagai realitas tertinggi yang diberikan sesajian untuk

segala penyembahan yang ada, tetapi ketika mereka berada di Kristen

Protestan hal ini tidak lagi dilakukan karena Yesus yang merespon manusia

bahkan banyak berkorban untuk menyelamatkan manusia dari ketertindasan

untuk membawa mereka dalam kemenangan. Yesus adalah sosok yang

mereka pahami sama seperti manusia dan nyata hidup dalam penderitaan

untuk memperjuangkan keselamatan manusia.

Setelah menjadi penganut Kristen Protestan, warga kampung Bondo

Bukka dalam kesehariannya seolah masih menyertakan beberapa ajaran

Marapu yang sebelumnya mereka pahami. Di antaranya: ketika musim panen

6 Karen Armstrong, Sejarah Tuhan, Kisah 4.000 Tahun Pencarian Tuhan dalam Agama-

Agama Manusia, (Bandung, Mizan 2011), 20.

Page 16: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

5

warga memberikan persembahan berupa hasil panen tersebut di dalam gereja,

sebagai simbol bahwa Tuhan telah memberikan berkat dalam rupa

penghasilan; cara berdoa warga juga masih menyebutkan nama para nenek

moyang seperti dalam acara-acara sederhana; ketika memotong ayam maka

usus ayam tersebut masih dilihat sebagai penentu nasib; begitu juga rumah

tempat tinggal mereka masih diisi dengan benda-benda keramat. Praktek-

praktek inilah yang menimbulkan pertanyaan penulis tentang seperti apa pola

pemahaman warga kampung Bondo Bukka menganut Kristen. Adakah dalam

penghayatan iman Kristen Protestan, mereka memahami seutuhnya konsep

Allah sesuai kepercayaan Kristen Protestan atau pengaruh ajaran Marapu yang

pernah dulu mereka anut yang di bawa dalam kekristenan. Berdasarkan

paparan di atas, maka penulis bermaksud meneliti mengenai pemahman warga

kampung Bondo Bukka tentang Allah setelah berpindah agama dari Marapu

ke Kristen Protestan.

Berdasarkan penjelasan latar belakang yang telah dijelaskan maka yang

menjadi pertanyaan sentral dalam penelitian ini adalah; Bagaimana konsep

Transenden dipahami warga kampung Bondo Bukka setelah berpindah Agama

dari Marapu ke Kristen?

Mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana konsep Transeden itu

dipahami oleh masyarakat Sumba terkhususnya warga kampung

Bondo Bukka saat berpindah agama dari Marapu ke Kristen.

Secara Teoritis : kajian ini bertujuan memberikan wawasan yang baru bagi

pembaca dalam segala bidang yang berkaitan dengan konteks di mana manusia itu

hidup dan berinteraksi. menambah wawasan bagi pembaca dalam memahami konsep

Allah secara kontekstual, dalam berbagai perkembangan yang ada.

Secara Praktis: Bagi peneliti menambah wawasan dalam memahami Allah dalam

konteks yang selalu baru, dan juga bagaimana menerima serta menyikapi segala hal

yang terjadi berkaitan dengan kehidupan masyarakat yang mengalami perpindahan

agama seperti dalam penelitian ini yaitu perpindahan dari Marapu ke Kristen.

Page 17: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

6

Dalam penelitian ini metode yang akan digunakan adalah metode deskriptif

dengan pendekatan kualitatif. Deskriptif bertujuan untuk mendeskripsikan segala

sesuatu yang terjadi pada masa lampau, dengan menemukan hal-hal apa yang terjadi

sampai saat ini. Metode ini akan digunakan peneliti untuk mendeskripsikan konsep

Allah seperti apa yang dianut oleh masyarakat selama mereka berada di Marapu dan

ketika mereka berpindah di Kristen. Untuk mendapatkan data yang lebih mendalam

maka sang at dibutuhkan pendekatan kualitatif.7

Metode kualitatif sangat diperlukan untuk memperdalam penelitian ini. Dalam

hal ini sangat ditentukan oleh data yang bersifat empirik berdasarkan intelektual.

Objek yang akan diteliti adalah warga kampung Bondo bukka yang berpindah agama

dari Marapu ke Kristen. Dalam hal ini sangat perlu metode deskriptif yang akan

menggambarkan segala kejadian yang terjadi dengan warga yang menganut Marapu

dan berpindah ke Kristen.

Penelitian akan dilakukan kepada masyarakat yang sudah dengan sah pindah

dari Marapu ke Kristen. Dalam pengambilan data, cara yang akan digunakan adalah

wawancara yang mendalam. Dengan wawancara yang mendalam peneliti akan

menemukan data-data yang akurat. Selain itu juga untuk memperkuat data-data yang

ada maka peneliti juga akan mengunakan studi pustaka.

Penulis akan membagi tulisan ini kedalam lima bagian, yakni sebagai berikut:

Bagian pertama, Membahas tentang Pendahuluan yang meliputi Latar belakang,

rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian dan

sistematika penulisan. Bagian kedua: Membahas tentang teori konsep Allah yang

dipahami manusia tiap-tiap zaman yang berusaha menggantikan persepsi tentang

Allah, konsep perubahan yang terjadi dari monotheisme transenden, politheisme

teritorial dan monotheisme imanen. Bagian ketiga membahas tentang hasil penelitian

sesuai dengan situasi kehidupan masyarakat Sumba Barat Daya khususnya kampung

7 Hadari Nanawi dan Mimi Martini, Penelitian Terapan (Yogyakarta: Gajah Mada University

Press, 1994), 73.

Page 18: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

7

BondoBukka dalam memahami konsep Allah dari Marapu ke Kristen. Bagian

keempat, berisi tentang analisis hasil penelitian berdasarkan teori. Bagian kelima

berisi tentang penutup yang meliputi kesimpulan berupa temuan-temuan yang

diperoleh dari hasil penelitian, pembahasan, analisis dan saran-saran yang berupa

kontribusi serta rekomendasi untuk penelitian selanjutya.

2. Landasan Teori.

Konsep Allah Transenden menurut Monotheisme Transenden

Konsep Allah yang dipergunakan dalam PL, dapat diuraikan ke dalam tiga

sub kelompok, yaitu: Adonai, EL dengan berbagai atribut (Elohim, EL-Shaddai, EL-

Olam, EL-Berit) dan yahweh/Yahweh Tsebaoot. Dalam deretan nama-nama itu

dicatat dua nama sebagai pokok, yakni EL dan Yahweh. Adonai adalah bentuk kata

jamak dari kata Adon yang berarti “tuan, pemilik, penguasa, junjungan”.

Hubungannya dengan nama Allah digunakan dalam bentuk jamak dengan diberi

akhiran pemilik orang pertama tunggal. Secara harafiah berarti tuan-tuanku.8

Sedangkan kata El adalah nama dewa yang menjadi kepala pantheon (dewan para

dewa). EL dihormati sebagai yang mahatinggi (Elyon), dan yang mahakuasa

(Hasyaddai) dan yang maha kekal (Ha olam).9 Sedangkan Yahweh merupakan

sebutan umum bagi Allah dalam kehidupan bangsa-bangsa Semit, nama Yahweh

dapat dikatakan merupakan sebutan yang secara khusus lahir dalam konteks

kepercayaan bangsa Israel. Jika dilihat siapakah yang bernama Allah itu adalah nama

dewa tertinggi bangsa Arab bersama-sama dewi ALLATTA dan DEWI ALLUZZA

yang disembah sejak dahulu kala.10

Konsep Allah adalah pribadi yang kekal, yang tidak berubah, mengatasi

waktu dan tahan dari berbagai dinamika perubahan yang ada, menurut Karen

Armstrong konsep dan dinamika terhadap konsep Allah itu berubah dari zaman-ke

zaman, tiap zaman atau tiap periode di mana manusia memahami konsep terhadap

8 Towns Elmer L. Nama-nama Allah: Mengungkap Rahasia Nama-nama Allah dalam

Perjanjian Lama untuk Menolong Anda Mengenal Dia Secara Lebih Mendalam, (Yogyakarta:

Yayasan ANDI, 1995). 177. 9 Marthinus Theodorus Mawene, Perjanjian Lama dan Teologi Kontekstual,(PT. BPK

Gunung Mulia, 2012), 27-36 10

Herlianto, Siapakah yang Bernama Allah Itu?,(Jakarta: Gunung Mulia.2002).2-6

Page 19: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

8

Allah tidak lagi fungsional maka diam-diam konsep yang lama itu ditinggalkan.11

Lalu manusia mulai mengkonstruksi atau mendesain konsep baru yang menolong

manusia bertahan hidup secara bermakna dalam masyarakat. Inilah yang menjadi

gagasan utama dari setiap perubahan yang terjadi sesuai konteks manusia hidup dan

berintraksi. Perkembangan gagasan tentang Allah berubah sesuai sejarah

perkembangan manusia.

Monotheisme transenden adalah penyebab utama yang tak terpahami dan tak

terlihat, Dia sebagai pencipta, pendukung, pengendali sejarah, Dia juga sebagai

peletak dasar kehidupan, perancang hukum-hukum yang mengatur tata tertib kosmos

dan relasi antara segenap ciptaannya. Allah dalam konsep ini adalah Allah yang

sangat jauh tidak dijangkau oleh dunia manusia, Dia terlalu mulia, manusia tidak

serta merta berkontak dengan diri-Nya.12

Konsep Monotheisme Transenden

menciptakan segalaa sesuatu lalu pergi, Dia meninggalkan dunia, sejarah, alam

semesta, ciptaan. Dia tidak peduli lagi dengan hidup menurut norma-norma dan

aturan-aturan hukum yang telah ditetapkan. Namun konsep Allah monotheisme ini

merupakan konsep sejati tentang Allah karena sebagai pencipta. ketika Allah

monotheisme pergi merupakan konsep pertama yang mendasari atas setiap kehidupan

manusia, ketika Tuhan itu pergi muncullah konsep kedua karena manusia banyak

berhadapan dengan berbagai persoalan-persoalan dan konflik yang terus berlangsung

di dunia yang tidak bisa diatasi dengan kekuatan sendiri. Manusia membutuhkan

Allah untuk mendampingi, mengubah dalam mencari solusi dari setiap persoalan

yang dihadapi, tetapi Allah yang sejati telah pergi, karena manusia membutuhkan

Allah yang menolong, dan Allah sejati sudah pergi maka di hadirkan motif kedua

tentang konsep Allah yaitu politheisme teritorial.13

Konsep Politheisme Teritorial

Politheisme Teritorial merupakan konsep yang ada dekat dengan manusia,

tiap- tiap ilah mempunyai makna atas kehidupan manusia, yang dipahami sebagai

dewa laut, dewa perang, dewa darat, dewa ekonomi, itu karena gagasan monotheisme

11

Karen Armstrong, Sejarah Tuhan, 27. 12

Karen Armstrong, sejarah Tuhan, 47 13

Armstrong, Sejarah Tuhan, 49.

Page 20: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

9

manusia tidak bisa memecahkan masalah karena Allah monotheisme itu pergi jauh,

lalu manusia menciptakan politheisme. berbagai banyak dewa tetapi satu Tuhan

tertentu dan diakui yang mampu monolong manusia untuk tetap hidup. Tetapi

ternyata dewa-dewa itu dalam politheisme yang teritorial berkonflik satu sama yang

lain sehingga konflik antar bangsa sama dengan perang antar dewa itu tidak

menolong dia untuk bertumbuh dan membangun masyarakat yang sehat, di tengah

hirup pikuk politheisme itu muncullah Abraham yang memperkenalkan gagasan

Allah yang baru yaitu gagasan Allah yang ketiga yang Monotheisme itu ditarik

kembali pada manusia, karena itu dia bukan lagi monotheisme Transedental,

melainkan konsep monotheisme imanen.

Konsep Transenden menurut Monotheisme Imanen

Ketika terjadi kesimpangsiuran konsep politheisme teritorial tentang Allah

yang berseliweran di Timur Tengah, muncullah ide baru yang diperkenalkan kembali

oleh Abraham, Isak, Yakub dan berpuncak pada Musa yang memperkenalkan konsep

yang baru. Allah yang diperkenalkan Abraham memberikan gagasan yang begitu

menghidupkan manusia dan menolong seseorang keluar dari persoalan-persoalan,

tetapi hal itu saja tidak cukup bagi manusia, ini yang merupakan konsep ketiga

mengenai Allah. pada saat yang sama di india mengembangkan satu konsep lagi

yaitu konsep monotheisme imanen yang bekerja di wilayah batin yang merupakan

konsep keempat mengenai Allah.14

Ini bukan Allah dalam Yesus Kristus melainkan

Allah yang dikonsepkan oleh orang Buddha, Hindu di India yang mempunyai

kesamaan dengan konsep Yesus Kristus.

Ketika datangnya kekristenan Paulus, Matius, Markus, Lukas. Para penulis

kitab perjanjian baru mengkombinasi ketiga konsep yaitu yang transedental jauh,

imanen dalam sejarah, imanen dalam batin yang kemudian dikonsepkan dalam Allah

tritunggal, inilah konsep yang terus menerus diperbaharui manusia dari zaman ke

zaman dan yang diakui manusia sebagai perubahan yang bermakna dan bernilai. Karl

Raner mengatakan bahwa untuk mencapai yang trasenden tersebut manusia, sama

halnya dengan proses mendaki gunung, yang menjadi tujuan utama adalah gunung,

14

Armstrong, Sejarah Tuhan, 57.

Page 21: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

10

namun ada beberapa tindakan yang harus dilakukan seorang pendaki gunung untuk

mencapai puncak, dan gerakan menuju puncak hanya bisa dicapai jika manusia

mengambil tindakan.15

Demikian halnya pencarian iman manusia adalah berusaha

merasakan hal-hal yang terbatas untuk mencapai yang tak terbatas.

Konversi Agama

Dari segi etimologisnya konversi agama terjadi, secara umum dapat dipahami

sebagai perubahan agama atau kepercayaan seseorang. Kata konversi berasal dari

bahasa Latin “conversio” berarti tobat, pindah serta berubah (agama atau

kepercayaan). Max Heirich mengatakan bahwa, konversi agama adalah suatu

tindakan di mana seseorang atau sekelompok orang berpindah ke suatu sistem

kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya.16

Menurut Lewis R. Rambo, memberikan definisi dari konversi agama yaitu perubahan

sederhana yang terjadi dari ketiadaan suatu sistem kepercayan yang dianut menjadi

terciptanya suatu komitmen kepercayaan, dari anggota dalam agama dengan satu

sistem kepercayaan kepada sistem kepercayaan yang lain, atau dari satu orientasi

kepada orientasi yang lain dalam satu sistem kepercayaan tunggal.17

Perpindahan agama sering terjadi karena berbagai persoalan yang dihadapi.

Orang yang melakukan perpindahan agama sama dengan orang berada di

persimpangan jalan. Ia harus memilih akan berpindah ke dalam agama Kristen

dengan dunia yang tidak diketahui dan sama sekali baru atau tetap tinggal didunia

yang sudah diketahuinya. Karena faktor-foktor sosial, berpindah agama diharuskan

untuk dapat terjadi. Ketika perpindahan tersebut tidak dibekali dengan pengajaran-

pengajaran agama Kristen. faktor psikologis yang ditimbulkan oleh faktor eksternsal

dan internal yang menimbulkan semacam tekanan batin yang mempengaruhi warga

lalu terdorong untuk mencari jalan keluar yaitu ketenangan batin yang memberikan

kekuatan lain yang mampu memberikan ketenangan jiwa.18

Dalam hal ini dipahami

sebagai perpindahan status yang pada akhirnya membawa konsep lama di dunia

15

Karl Rahner, kanisius (Anggota IKAPI), 15 16

D. O.C Hendropuspito, Sosiologi Agama(Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006), 78. 17

Lewis R.Rambo, Understanding Religious Conversion (London: Yale University, 1993), 6. 18

Thouless, pengantar psikologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persad, 2000).

Page 22: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

11

yang baru. Perpindahan agama harus dipahami benar oleh yang bersangkutan, dan hal

itu yang menjadi tanggungjawab gereja dalam tugas melayani bagaimana

memberikan penjelasan tentang konversi agama sesuai konteks di mana masyarakat

hidup dan berinteraksi. Lewis mengatakan bahwa studi dari konversi harus diikut

sertakan dengan mencakup budaya, sosial, dan sistem agama.19

Pengalaman terhadap konversi agama, merupakan pengalaman bahwa ada

dunia yang lama yang telah dirasakan setiap orang, namun karena adanya perubahan

dan cara pandang keyakinan seseorang terhadap agama dan kepercayaannya, sikap

kepercayaan lama ditinggalkan dan mulai menyesuaikan dengan dunia baru, dalam

hal ini konversi agama sudah dipandang sebagai pertumbuhan atau perkembangan

spiritualitas yang mengandung perubahan arah yang berarti terhadap ajaran dan

tindakan agama.20

Perubahan yang terjadi yang harus benar-benar diperhatikan

gereja, bagaimana mengambil sebuah tindakan dalam memahami konteks yang selalu

baru.

Menurut kamus bahasa Indonesia, agama merupakan suatu sistem yang

mengatur keimanan dan peribadatan kepada Tuhan yang Maha Esa. Dalam hal ini

secara sosiologis, agama merupakan suatu tradisi yang dipahami oleh manusia sesuai

konteks di mana ia hidup dan berinteraksi. Agama merupakan salah satu bagian yang

terpenting dalam kehidupan manusia. Manusia hidup dan berinteraksi dengan suatu

kepercayaan yang sudah mengikat, dalam hal ini manusia tidak bisa menjadi dirinya

sendiri jika tidak digerakan oleh yang transenden, transenden sesuatu yang ada di

luar diri manusia.

Kesimpulan:

Dari ketiga konsep ini akan digunakan kedua konsep yaitu politheisme dan

imanen. Konsep ini merupakan bagian dari konsep yang dipahami warga Sumba

ketika berada di Marapu lalu berpindah di Kristen, bagaimana cara pandang mereka

terhadap konsep yang baru dalam perubahan-perubahan yang dijumpai dan dimaknai

secara berbeda. Teori konsep Allah ini sangat bermanfaat untuk melihat bagaimana

19

Rambo, Understanding Religious, 7. 20

Zakiyah Daradjhat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta; PT. Bulan Bintang, 2005), 138.

Page 23: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

12

konsep Allah dalam praktek-praktek gaya yang lama, namun juga bisa berubah sesuai

konteks di mana manusia hidup, hal ini juga merupakan kesadaran manusia atas

setiap tindakan-tindakan dalam memaknai setiap perjumpaan yang ada dan juga

problem-problem kehidupan yang tidak bisa diselesaikan.

3. Gambaran Umum Tempat Penelitian

Sumba adalah sebuah pulau, menurut mitos orang Sumba disebut “ Tana

Humba”,” Tana Zumba”, “Tana Suba”, “Tana Sumba”. Masing-masing nama

tersebut sesuai dengan dialek beberapa wilayah, tetapi yang artinya sama yaitu Tana

Asli. Kata Humba, Zumba, Suba, atau Sumba menurut cerita tua-tua adat (rato)

adalah nama salah seorang penduduk yang pertama kali menginjak kakinya di pulau

Sumba. Pulau Sumba terdiri dari tiga daerah tingkat III yaitu Sumba Timur dengan

Ibu kotanya Waingapu, Sumba Barat Ibu kota Waikabubak, dan dengan Sumba Barat

Daya Ibu kota Waitabula. Selain daerah di dataran Sumba ini khususnya di daerah

Sumba Barat Daya memiliki bahasa daerah yang berbeda-beda, alat komunikasi

antara penduduk di daerah Tingkat III Sumba Barat Daya dipergunakan bahasa

Indonesia.

Wewewa Timur merupakan salah satu kecamatan di kabupaten Sumba Barat

Daya yang terletak dibagian barat berbatasan dengan ibu kota Sumba Barat

Waikabubak sekitar 10 km. Gereja Kristen Sumba (GKS) yang terdapat di Wewewa

Timur yakni enam Jemaat. Jemaat Elopada, jemaat Ombarade, jemaat Taggaba,

jemaat Mondomia, jemaat Waikapoda, jemaat Tana Kumbuka, jemaat Wanno Ritta.

Karena penelitian ini berpusat pada kampung Bondo Bukka yang menjadi cabang dari

jemaat Waikapoda maka penulis lebih banyak berbicara tentang pemahaman warga

kampung tentang konsep Allah yang dipahami dari Marapu ke Kristen. Pengaruh

kepercayaan suku Sumba masih cukup kuat dan merupakan tantangan yang dihadapi

oleh gereja. Walaupun seseorang telah menjadi Kristen, tetapi cara hidupnya masih

dibayangi atau dipengaruhi oleh nilai-nilai kepercayaan asli dan budayanya. Faktor

adat istiadat seperti kepercayaan Marapu sangat mempengaruhi kehidupan mereka

baik dalam kehidupan berjemaat maupun bermasyarakat.

Page 24: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

13

Orang Sumba dan Agama

Liliweri mengatakan bahwa agama atau sistem kepercayaan suatu masyarakat

adalah salah satu bentuk dari kebudayaan yang diterima tanpa sadar atau tanpa

dipikirkan dan proses pewarisannya dilakukan melalui komunikasi dan peniruan dari

satu generasi ke generasi berikutnya.21

Oleh karena itu, untuk memahami agama

dengan baik, membutuhkan pemahaman tentang kebudayaan, baik batasan

kebudayaan maupun bentuk-bentuk kebudayaan.

Marapu dipahami oleh orang-orang yang berpindah dari kepercayaan Marapu

ke Kristen ternyata tidak dapat melepaskan begitu saja unsur-unsur kepercayaan yang

telah melekat di dalam dirinya sekalipun telah menjadi Kristen. Keraguan akan

keselamatan ada pada diri mereka, supaya benar-benar merasa diselamatkan maka

dilakukan ritual-ritual Marapu dan tetap meminta didoakan secara Kristen. Pengaruh

kepercayaan Marapu bagi kehidupan jemaat asal Marapu sangat besar.22

Mengenai hubungan Marapu dengan manusia dan ekologi, Jimmy

mengatakan setiap mitos mempunyai makna penting bagi kehidupan penganutnya

yaitu terkait manusia, alam dan sang ilah tertinggi. Hal ini dikarenakan kepercayaan

Marapu sangat menekankan betapa penting alam dan ciptaan lainnya.23

Demikian

halnya Dharmaputra T. Palekahelu, Jimmy mengatakan para penganut Marapu

percaya apabila mareka mempercayai dan mematuhi perintah Marapu beserta mitos

yang ada, maka mereka akan mendapatkan berbagai hal yang baik dalam kehidupan

mereka sehari-hari.24

Namun apabila mereka tidak mematuhinya, maka akan ada

banyak hal buruk yang menimpa mereka. Marapu diyakini hadir dalam benda-benda

khusus seperti perhiasan budaya, rumah yang ditinggali, rumah yang tidak ditinggali.

Marapu pun hadir pada pohon-pohon tertentu dan pada hewan-hewan tertentu. Oleh

21

Dharmaputra T. Palekahelu, Marapu Kekuatan dibalik Kekeringan. Kabupaten Sumba

Timur. 12. 22

Oe. H. Kapita, Masyarakat Sumba dan Adat Istiadatnya (Jakarta:BPK Gunung Mulia,

1976), 122. 23

Jimmy Marcos Immanuel, Marapu dalam Bencana Alam: Pemaknaan dan Respon

Masyarakat Wunga, Sumba Timur Indonesia (Yogyakarta: CRCS, 2013), 9. 24

Palekahelu, Marapu Kekuatan, 17

Page 25: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

14

karena itu, penganut kepercayaan Marapu meyakini bahwa roh nenek moyang mereka

tetap tinggal di sekitar mereka, untuk menjaga dan melindungi mereka.

Menurut wawancara yang didapatkan perpindahan itu terjadi dikarenakan ada

beberapa faktor yang dialami warga Sumba, sebagai berikut: 1.faktor keluarga, dalam

hal ini terjadi berbagai persoalan seperti sakit penyakit yang diderita oleh anak-anak

dan juga orang tua, kesulitan dalam membiayai uang sekolah, kurangnya pengakuan

kaum kerabat yang sudah terlebih dahulu masuk kekristenan, kesepian karena

sebagian orang telah menganut kekristenan; 2. faktor kemiskinan, kondisi ekonomi

sosial yang tidak memungkinkan, dan juga kurangnya pendidikan. 3. Faktor

banyaknya ritus-ritus yang dilakukan yang membutuhkan biyaya yang sangat banyak,

tetapi di dalam kekristenan tidak memerlukan korban dan hanya membawa

persembahan sukarelaan. Dari beberapa faktor inilah yang membuat warga mencari

konsep yang baru di dalam kekristenan untuk memperoleh jawaban atas setiap

pergumulan yang dihadapi.25

Menurut Samiyono mengatakan bahwa orang Sumba tidak dapat

membebaskan dirinya dari belenggu kebudayaan.26

Ketika perpindahan itu terjadi

kadang tidak semua hal mereka sadari, sehingga hal-hal demikian tidak lagi

diperhatikan dan akhirnya ajaran itu tetap menjadi keharusan yang dilakukan di

dalam kekristenan karena ia meyakini bahwa hal itu penting karena faktor-faktor

sosial, berpindah agama diharuskan untuk dapat terjadi. Namun hal ini juga

merupakan kesadaran batin bahwa mereka sedang memperlihatkan kuasa yang

transenden yang menjangkau mereka melalui Sang Putranya Yesus Kristus yang

datang dalam rupa manusia untuk membawa keselamatan.

Konsep yang Transenden menurut Ritus Kepercayaan Marapu

Kepercayaan Marapu menurut warga kampung Bondo Bukka sendiri

merupakan penyembahan terhadap arwah nenek moyang yang dilakukan sebuah

ritual di bali tongga “ruang tamu” yaitu tempat seluruh penyembahan seperti tanam

25

Wawancara dengan Ama Jappa, tokoh adat yang telah berpindah Agama, Sumba Barat

Daya, kampung Bondo Bukka 19 Juni 2019, pukul 16.30 WITA 26

Dorkas Djami & David Samiyana, Maramba dan Ata (Salatiga: Program Studi Teologi Universitas

Kristen Setya Wacana, 2009), 6.

Page 26: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

15

padi, panen, anak sekolah, dan berbagai proses adat lainnya akan dilakukan di bali

toga ketika semua disetujui dan dimintai berkat maka persembahan yang diberikan

akan disimpan di tempat yang aman.

Ta dingo tempat penyembahan dan permohonan keluarga, keluarga dapat

menyampaikan setiap permohonannya ketika memulai pekerjaan dan juga

permohonan lainnya. Pa Beika adalah tempat penyembahan keluarga. Beberapa

tempat dalam rumah ini yang menjadi tempat ritual warga kampung Bondo Bukka

menyampaikan setiap permohonan mereka kepada Marapu dappa teki ngara, dappa

suma tamo, momo wiwi, make mata “tidak dapat dilihat dan tidak sembarangan

disebut namanya” untuk menghubungkan setiap permohonan yang disampaikan di

bali toga, ta dingo, Pa beika, maka dipakailah roh-roh nenek moyang laki-laki dan

perempuan yaitu Bulu Gullu Wola, Wini Teda Sapa, roh nenek moyang inilah sebagai

penghubung atau kaito papaduge, kalerre papadolage liimu, “yang menjadi

penghubung dari orang tua, ke orang tuanya, sampai kepada orang tua nenek moyang

yang paling pertama”.27

Selain ritual yang dilakukan di dalam rumah ada juga ritual yang dilakukan di

luar rumah, yaitu Marapu wanno, yang ditempatkan di tengah kampung, untuk

mengelilingi seluruh kampung yang bertugas sebagai penjaga, Marapu Wanno bukan

roh nenek moyang, melainkan bagian dari yang tidak disebutkan namanya.28

Penyembahan kepada Marapu Wanno ini hanya dlakukan satu kali selama 7 tahun

berjalan. Marapu Binna “pintu kampung” merupakan bagian terpenting dari setiap

rasa sukacita warga kampung, seperti dalam acara tarik batu kubur, bangun rumah.

Jika di kebun Marapu Wanno ditempatkan di katowwa oma “pintu masuk kebun” dan

di Sawah „‟simbol batu‟‟ setiap permohonan dan penyembahan yang dilakukan di

sawah, kebun ditujukan kepada yang tidak kelihatan.29

27

Bagian ini merupakan hasil wawancara penulis dengan warga yang telah berpindah agama

yaitu 6 ketua adat, 19 Juni 2019, pukul 08.00 WITA 28

Wawancara 6 orang ibu sebagai petani, 19 Juni 2019, pukul 15.00 WITA 29

Wawancara dengan 2 orang pegawai, 20 Juni 2019, pukul 18.00 WITA . 3 orang pemuda

23 Juni 2019, pukul 17.00 WITA. Hasil wawancara ini dilakukan oleh penulis mencari tahu konsep

Allah yang transenden di Marapu dan konsep yang transenden di dalam Kristen setelah berpindah

Page 27: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

16

Akhir dari setiap permohonan yang ada adalah Marapu Muttu “kilat” Marapu

ini yang dijuluki sebagai yang tidak kelihatan dan tidak disebutkan namanya. Adanya

pemahaman bahwa Marapu Muttu ini tidak bisa disebutkan namanya karena ia

dianggap paling berkuasa, jika kilat terjadi itu sangat menakutkan, seperti nyala api

yang begitu panas yang bisa menghabiskan banyak nyawa. Marapu muttu ini

ditempatkan pada tempat yang tidak kelihatan, ada sebuah bola “kerajinan tangan“

yang di dalamnya diisi dengan kain atau benda-benda antik yang dipakai untuk

penyembahan kepada yang tidak kelihatan.

Makna dari setiap permohonan ini agar mendapatkan jawaban atas setiap

permohonan yang disampaikan kepada roh-roh nenek moyang, banyak sekali upaya

warga untuk mencapai realitas tertinggi tersebut, bahkan berbagai hal ditempuh untuk

mendapatkan jawaban dari setiap permohonan yang disampaikan kepada roh-roh

nenek moyang, untuk mendapatkan jawaban atas setiap harapannya.30

Warga

kampung Bondo Bukka tidak terlepas dari mempersembahkan korban dan sesajian di

tempat-tempat yang memang dikhususkan untuk setiap permohonan. Dalam beberapa

permohonan yang disampaikan harus disertai dengan sumpah, sumpah ini hanya

berlaku di rumah adat sendiri, jika mereka di luar kampung maka sumpah itu tidak

berlaku.

Konsep yang Transenden bagi Warga yang telah Berpindah Agama dari

Marapu ke Kristen

Warga kampung Bondo Bukka adalah warga yang pada awalnya menganut

kepercayaan Marapu. Dari beberapa orang yang diwawancarai mengatakan bahwa

ketika terjadinya perpindahan dikarenakan yang transenden kurang

memperhatikan kehidupan mereka, ketika mereka berada dalam kepercayaan

Marapu ada banyak persoalan yang mereka lalui, bahkan banyak tantangan

kehidupan seperti tidak lolos sekolah, banyak mengalami sakit penyakit, tidak ada

ketenangan dalam hidup, bahkan dalam menyelesaikan persoalan harus ada yang

agama hasil wawancara dibahasakan kembali oleh penulis karena waktu wawancara dialek yang

digunakan merupakan dialek khas Sumba Barat Daya. 30

Wawancara 2 majelis jemaat, 21 Juni 2019, pukul 14.00 WITA dengan 8 orang bapa

sebagai tukang bagunan, 23 Juni 2019, pukul 10.00 WITA

Page 28: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

17

dikorbankan untuk Marapu agar mendapat kehidupan yang abadi.31

Dalam hal ini

warga mengalami kesusahan utang di mana-mana untuk memberikan korban.

Namun berbeda ketika berada di Kristen segala bentuk permohonan hanya

dihubungkan dengan pengantara doa dan keyakinan bahwa yang imanen itu

mampu menjawab melalui Putra-Nya Yesus Kristus. Kekristenan bagi warga

kampung Bondo Bukka adalah jawaban atas setiap pergumulan mereka, seperti

dalam ajaran kekristenan marilah kepadaku semua yang berbeban berat aku akan

memberikan kelegahan itulah yang menjadi harapan setiap warga kampung Bondo

Bukka ketika berpindah agama.32

Kenyataan yang dijumpai selama ini yang dilakukan warga kampung Bondo

Bukka, seperti melihat usus ayam sebagai penentu nasib, masih menyebutkan

nama nenek moyang dalam doa, memberikan persembahan kepada leluhur. Ini

merupakan suatu konsep yang baru dalam kekristenan, bagaimana melihat setiap

tindakan manusia terhadap yang tertinggi sudah mulai kembali pada realitas

sesungguhnya, dalam hal ini warga kampung Bondo Bukka memiliki kesadaran

akan akal pikiran bahwa yang ada di luar sana sudah dekat melalui dunia batin

manusia telah menjadi subjek utama yang menentukan realitas yang jauh sebagai

yang utama. Warga telah mengalami konteks yang berbeda di mana kekristenan

sebagai sarana, atau wadah bagi masyarakat memperkenalkan yang jauh itu sudah

dekat dengan mereka.33

Fokus utama warga kampung Bondo Bukka saat ini adalah menjadi Kristen

adalah pilihan, jadi apapun yang terjadi di dalam kekristenan adalah

tanggungjawab iman, bagaimana mempersatukan hubungan dengan Yesus yang

mampu menyelamatkan manusia dari keterpurukan hidup dan menjadikan diri

yang transenden yang tidak terjangkau menjadi manusia imanen yang bisa

31

Wawancara dengan Ama Nona, Warga yang Berpindah Agama, Sumba Barat Daya, Bondo

Bukka. 19 Juni 2019, pukul 11.00 WITA. 32

Wawancara dengan Kornelis Yelu Dama, penganut Agama Marapu yang menjadi Majelis

Jemaat, 21 Juni 2019, pukul 12.00 WITA. 33

Wawancara Dengan Bapak Soleman, Ketua Adat di kampung Bondo Bukka.21 Juni 2019.

08.25 WITA.

Page 29: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

18

dijangkau oleh manusia. Dalam hal ini transenden yang begitu jauh tidak lagi jauh

di dalam kekristenan namun dekat sekali dengan manusia, Dia sudah mengambil

rupa yang sama dengan manusia dan mengembalikan relasi yang baik dengan

transenden yang jauh tersebut.

Kajian Teologi terhadap Perspektif Transenden.

Marapu merupakan kepercayaan Asli orang Sumba. Perjumpaan injil dengan

warga kampung Bondo Bukka yang membawa mereka memahami konsep yang

transenden dalam konsep yang baru. Hal ini yang harus diperhatikan dalam ranah

teologi, bagaimana memperkenalkan konsep yang baru agar bisa diterima dan

diikuti oleh warga yang berpindah agama.34

Dalam kepercayaan Marapu

pernyataan kehendak dan perintah yang transenden disampaikan kepada manusia

melalui hati babi, kerbau, dan tali perut ayam. Demikian halnya perintah-perintah

yang transenden itu ditemukan di dalam Alkitab.

Konsep yang transenden ini adalah bagian yang mempermudah warga untuk

memahami konsep transenden yang sama halnya diberitakan pengabar injil, dalam

hal ini konsep yang lama menjadi konsep yang terus diperbaharui manusia sesuai

konteks ia hidup, menghayati setiap perjumpaan yang ada dan mengutamakan

batin sebagai wadah utama yang tetap menjelaskan keberadaan yang transenden

dalam rupa Yesus Kristus yang memperkenalkan dirinya sebagai terang,

memberikan jawaban atas setiap pergumulan manusia. Manusia tidak lagi menjadi

takut, tatapi manusia sudah mempunyai kesadaran memperkenalkan Allah yang

tersembunyi menjadi dekat dengannya.35

Seperti tertulis dalam 1 Yoh 1:5, “… Allah adalah terang dan di dalam Dia

sama sekali tidak ada kegelapan.” Allah adalah terang berarti Allah

memperlihatkan Diri-Nya, menyatakan Diri-Nya kepada manusia. Ia menyatakan

dan menampakan Diri-Nya secara tegas dan sepenuh-Nya di dalam pribadi Yesus

Kristus,“Ia yang sudah melihat Aku sudah pula melihat Bapa”. Dalam hal ini

Yesus adalah cinta berarti datang untuk menolong saat pertolongan itu diperlukan,

34 Iswara Rintis, Teologi Untuk Semua orang, (Yayasan Baptis Indonesia 2010), 19.

35 Wawancara dengan Ama Yelu, tokoh ada kampung Bondo Bukka, 24 Juni 2019, pukul

08.30 WITA

Page 30: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

19

dalam hal ini datang untuk menyelamatkan mereka yang sedang berada dalam

kesukaran. Pengakuan warga yang membedakan mereka tentang Allah di Marapu

dengan Allah di Kekristenan korban dan sesajian yang diberikan atas setiap

permohonan warga yang disampaikan kepada yang transenden.

4. Analisis Pemahaman Warga kampung Bondo Bukka tentang Allah ketika

Berpindah Agama dari Marapu ke Kristen

Warga kampung Bondo Bukka yang berpindah agama memiliki latar belakang

pemahaman yang berbeda-beda tentang konsep transenden dari yang awal Allah

menciptakan segala sesuatu dan pada akhirnya Dia kembali kepada dunia

keabadiannya, dan manusia mulai mempraktekan berbagai praktek-praktek lama

dengan cara yang berbeda yang menggambarkan sesuatu yang ada di luar mereka,

seperti konsep politheisme teritorial bagaimana manusia menyembah ilah-ilah

yang menghubungkan mereka dengan yang transenden. Demikian halnya yang

dilakukan warga kampung Bondo Bukka berusaha memperlihatkan bahwa ritual

dan sesajian yang diberikan kepada dewa tertinggi mempraktekkan bahwa mereka

masih menganut kepercayaan yang sama dengan konsep politheisme teritorial.

Ketika konsep politheisme tidak memberikan kontribusi dengan apa yang

diharapkan warga dan begitu rumit untuk dijelaskan, mulai dari situlah muncul

konsep yang baru. Kerinduan dan juga harapan untuk mendapatkan jalan keluar

dari setiap persoalan dan juga pergumulan warga akhirnya dengan munculnya

konsep yang baru yaitu konsep imanen di wilayah batin, maka dari situlah warga

yang tadinya melakukan ritual dan memberikan sesajian kepada dewa yang

disembah tidak lagi bermakna dan bernilai, melainkan yang imanen yang bisa

dijangkau manusia adalah yang bermakna karena mampu memberikan jawaban

atas setiap pergumulan-pergumulan warga.

Warga akhirnya disadarkan kembali bahwa Allah yang jauh itu kembali

menyatakan diri-Nya melalui Yesus Kritus. Hal ini melihat dari penyataan mereka

bahwa ada kesadaran terhadap konsep politheisme dan imanen, di mana yang jauh

itu sudah menjangkau kehidupan warga dan melakukan pembaharuan dalam diri

dengan cara menjumpai kembali warga dengan pribadi yang berbeda dan mampu

Page 31: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

20

membebaskan dari persoalan-persoalan yang dihadapi yang sama dengan konsep

imanen yaitu Yesus Kristus yang hadir dalam realitas nyata.

Warga kampung Bondo Bukka menyadari bahwa begitu banyak perbedaan

yang terjadi yang pada awalnya berada di Marapu seperti memberikan banyak

sesajian, korban kepada arwah nenek moyang sebagai satu-satunya penghubung

tidak lagi dirasakan di dalam kekristenan, Nampak bahwa di dalam kekristenan hal

memberikan sesajian tidak diperkenankan, melainkan bagaimana transenden yang

tidak terjangkau telah menjangkau sendiri manusia dalam rupa yang sama dengan

manusia. Mitos-mitos itu memang mengekspresikan makna batin warga namun

tidak memberikan jawaban yang pasti untuk segala pergumulan warga, melainkan

cara menyembah yang transenden itu lebih banyak mengorbankan banyak tenaga

untuk mengekspresikan keberadaan-Nya, tetapi dengan kehadiran yang imanen

konsep yang transenden sudah dirasakan kebaikannya dalam bentuk

menyelamatkan manusia dari setiap persoalan yang dialami.

Warga juga menyadari bahwa yang tadinya banyak ritus-ritus yang dilakukan

dalam Marapu yang harus memberikan persembahan dalam bentuk

mengorbankan banyak hal dan harus dilakukan ritual, terjadi perbedaan yang

ditemukan di dalam ke Kristenan, bahwa di dalam ke Kristenan hal memberikan

persembahan merupakan sukarelaan dari hati sesuai kesangguapan, bukan sesuatu

paksaan, tidak seperti yang dirasakan dalam Marapu, ketika memberikan

persembahan harus sesuai dengan standar yang di sebutkan oleh ketua adat.

Kekristenan telah menyediakan berbagai bentuk bantuan dan juga program lainnya

sebagai sarana untuk menjawab setiap pergumulan warga kampung Bondo Bukka,

seperti menyediakan pelayanan kasih kepada anak-anak, bantuan diakonia, dan

juga disediakan sekolah gratis bagi yang tidak mampu.

Konversi agama begitu berpengaruh dengan kehidupan warga, dalam artian

warga telah mengalami perubahan dan juga cara pandang keyakinan terhadap

kepercayaannya, sikap kepercayaan lama ditinggalkan dan mulai menyesuaikan

dengan dunia baru, perkembangan dan pertumbuhan spritualitas mengalami

perubahan arah terhadap ajaran dan tindakkan agama, sesuai konteks manusia

Page 32: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

21

hidup dan berinteraksi berdasarkan kesadaran konteks yang dimaknai sebagai

konteks yang bernilai.

5. Penutup

Kesimpulan:

Setelah melalui proses analisis berdasarkan teori konsep Allah, Marapu

merupakan ajaran masa lalu yang dianut oleh sebagian warga kampung yang

berpindah agama Kristen. Masa lalu warga ketika menganut kepercayaan Marapu

sangat dihantui dengan berbagai persoalan-persoalan yang membuat mereka merasa

seperti dipenjarakan oleh waktu. Ini berarti segala sesuatu yang terjadi di luar

kesanggupan, tidak mampu memaknai maksud dari segala sesuatu yang menimpa

kehidupan warga, mereka tidak merasa damai dan juga ketegangan hidup selalu

menimpa warga, lantaran harus berhadapan dengan masalah-masalah. Warga merasa

bahwa yang transenden tidak peduli dengan kehidupan mereka, mereka

membutuhkan penyembuhan, tetapi harus ada imbalan yang dikorbankan, itulah yang

dirasakan warga ketika berada di Marapu.

Setelah konsep Allah yang imanen diperkenalkan, kesadaran mereka kembali

dipulihkan ketika menerima konsep yang baru. Kekristenan begitu berharga

memberikan jaminan dengan apa yang menjadi kerinduan warga. Konsep yang baru

telah menyadarkan mereka bahwa yang jauh sudah dekat dengan diri mereka, Dia

datang dalam rupa yang sama dengan manusia yaitu Yesus Kristus, memberikan

kehidupan kekal dan mampu meyembuhkan luka lama setiap warga. Yesus Kristus

sosok sangat bermakna dan bernilai, Ia begitu jelas menampakkan diri dan membawa

terang untuk menolong setiap orang. Dia juga sudah berada dalam kesadaran warga,

mampu mengatasi segala kelemahan warga dan menjadi terang dari dunia kegelapan.

Saran :

a) Perlunya pelayanan katekesasi yang memperbanyak porsi bahasa

ataupun tatapan muka terkait topik Allah (imanen) dalam kekristenan

bagi jemaat asal Marapu yang telah berpindah menjadi Kristen.

b) Gereja diharapkan mampu memberikan pengajaran tentang konsep

Allah yang terus diperbaharui manusia, agar warga tidak punya

Page 33: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

22

anggapan negatif dengan ajaran lama, tetapi itu bagian dari

pertumbuhan iman warga.

Page 34: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

23

Daftar pustaka

Andrianus Sunarko Ofm. Teologi Kontekstual. Obor, Angota IKAPI. Jakarta.

2016

Dharmaputra T. Palekahelu. Marapu: di balik kekeringan. Kabupaten Sumba

Timur,2010

D. O.C Hendropuspito, Sosiologi Agama, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006.

Ebenhaezer I. Nuban Timo, Allah Menahan Diri Tetapi Pantang Berdiam

Diri, Jakarta: BPK Gunung Mulia. 2015.

F.D. Welem, Injil dan Marapu, Suatu Studi Historis-Teologis tentang

Perjumpaan Injil dengan Masyarakat Sumba pada Periode 1876-1990, Jakarta:

Gunung Mulia, 2004.

Harun Hadiwijono, Religi Suku Murba di Indonesia, Jakarta: Gunung Mulia,

2006.

Hadari Nanawi dan Mimi Martini, Penelitian Terapan, Yogyakarta: Gajah

Mada University press, 1994.

Herlianto, Siapakah yang Bernama Allah Itu?, Jakarta: Gunung Mulia, 2002.

Iswara Rintis, Teologi Untuk Semua Orang, Yayasan Baptis Indonesia. 2010.

Jimmmi Marcos Immanuel. Marapu dalam Bencana Alam. Pemaknaan dan

respon masyarakat wunga Sumba Timur Indonesia. Yogyakarta, CRCS UGM, 2013.

Karen Armstrong. Sejarah Tuhan: Kisah Pencarian Tuhan dalam Agama-

Agama Manusia. Bandung. PT Mizan angota IKAPI.2001.

Lewis R. Rambo, Understending Religious Conversion, London: Yale

University, 1993.

Oe. H. Kapita, Masyarakat Sumba dan Adat Istiadatnya, Jakarta: BPK

Gunung Mulia, 1976.

Towns Elmer L. Nama-nama Allah: Mengungkapkan Rahasia Nama-Nama

Allah dalam Perjanjian Lama untuk Menolong Anda Mengenal Dia Secara Lebih

Mendalam, Yogyakarta; Yayasan ANDI, 1995.

Urban, Linwood, Sejarah Ringkas Pemikiran Kristen, Jakarta, BPK Gunung

Mulia, 2003.

Page 35: Meriana Malo 712015126...Kepelbagian uraian makna Marapu ini berujung pada kenyataan para penganut agama Marapu memahami bahwa dewa-dewa yang dihormati tersebut dapat memberikan

24

Suharyo Pr. Pengantar Injil Sinoptik. . Yogyakarta, Kanisius. 1987.

Zakiyah Daradjhat, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta: PT. Bulan Bintang, 2005.

Wawancara

Hasil wawancara ini dilakukan oleh penulis mencari tahu konsep Allah yang

transenden di Marapu dan konsep yang transenden di dalam Kristen setelah berpindah

agama hasil wawancara dibahasakan kembali oleh penulis karena waktu wawancara

dialek yang digunakan merupakan dialek khas Sumba Barat Daya.

Wawancara Dengan Bapak Soleman, Ketua Adat di kampung Bondo Bukka.21 Juni 2019.

08.25 WITA.

Wawancara dengan Ama Yelu, tokoh ada kampung Bondo Bukka, 24 Juni 2019, pukul 08.30

WITA. Wawancara 2 majelis jemaat, 21 Juni 2019, pukul 14.00 WITA dengan 8 orang bapa

sebagai tukang bagunan, 23 Juni 2019, pukul 10.00 WITA

Wawancara dengan Ama Nona, Warga yang Berpindah Agama, Sumba Barat Daya, Bondo

Bukka. 19 Juni 2019, pukul 11.00 WITA.

Wawancara dengan Kornelis Yelu Dama, penganut Agama Marapu yang menjadi Majelis

Jemaat, 21 Juni 2019, pukul 12.00 WITA.

Bagian ini merupakan hasil wawancara penulis dengan warga yang telah berpindah agama

yaitu 6 ketua adat, 19 Juni 2019, pukul 08.00 WITA

Wawancara 6 orang ibu sebagai petani, 19 Juni 2019, pukul 15.00 WITA

Wawancara dengan 2 orang pegawai, 20 Juni 2019, pukul 18.00 WITA . 3 orang pemuda 23

Juni 2019, pukul 17.00 WITA.