laporan praktikum biologi perilaku-agonistik cupang

Download Laporan Praktikum Biologi Perilaku-Agonistik Cupang

Post on 28-Dec-2015

249 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI PERILAKUPERILAKU AGONISTIK IKAN CUPANG (Betta splendens)

Disusun Oleh :Nama: Rifki Muhammad IqbalNIM: 1211702067Nama Asisten : Tiessa PertiwiNama Dosen: Ucu Julita, M.SiTanggal Praktikum: 26 November 2013Tanggal Pengumpulan: 2 November 2013

JURUSAN BIOLOGIFAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG2013BAB IPENDAHULUAN1.1. Latar BelakangPerilaku agonistik merupakan salah satu bentuk konflik yang menunjukkan perilaku atau postur tubuh atau penampilan yang khas (display) yang melibatkan mengancam (threat), perkelahian (fighting), melarikan diri (escaping), dan diam (freezing) antarindividu dalam populasi atau antarpopulasi. Populasi untuk mengetahui perilaku agonistik ini digunakanlah ikan cupang adu sebagai hewan uji. Pada ikan cupang adu (Betta splendens) merupakan jenis ikan laga, individu jantan yang dapat sangat agresif terhadap jantan lainnya dalam sebuah arena bertarung. Dengan adanya akuarium sebagai media bertarung, maka diharapkan dapat dengan mudah diamati perilaku agonistik diantara ikan cupang jantan.Seiring dengan perkembangan zaman untuk memahami hewan telah membuat etologi topik yang berkembang pesat, dan sejak pergantian abad ke-21, sebelum pemahaman yang terkait dengan berbagai bidang seperti komunikasi hewan, menggunakan nama pribadi simbolis, hewan emosi, budaya hewan,belajar,dan bahkan seksual telah dipahami dengan baik. Dengan demikian, mempelajari perilaku ikan. Pada ikan cupang (Betta Splendens) merupakan salah satu aspek penting untuk dipahami dalam hal permodelan dalam perilaku agonistik.1.2. TujuanTujuan dari praktikum ini adalah untuk mengamati perilaku agonistik diantara ikan cupang jantan.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

Perilaku agonistik adalah perilaku yang berhubungan dengan konflik, termasuk berkelahi (fighting), melarikan diri (escaping), dan diam (freezing) (Lehner, 1996). Perilaku agonistik meliputi pula beragam ancaman atau perkelahian yang terjadi antar individu dalam suatu populasi (Campbell et al, 2003). Perilaku agonistik berkaitan erat dengan agresivitas, yaitu kecenderungan untuk melakukan serangan atau perkelahian (Scott, 1969). Bentuk-bentuk perilaku tersebut dapat berupa postur tubuh maupun gerakan yang diperlihatkan oleh individu pemenang maupun individu yang kalah dalam kontes perkelahian. Invidu yang aggressive dan mampu menguasai arena perkelahian (teritori) akan memunculkan individu yang kuat (dominan) dan lemah (submissive/ subordinat) (Kikkawa & Thorne, 1974).Menurut hasil penelitian Peter K. Mcgregon, ada sifat yang ditimbulkan dari ikan cupang jantan. Dimana, pada ikan cupang jantan ini, memiliki sifat daya perhatiannya terhadap ikan cupang betina cukup tinggi. Sinyal yang ditimbulkan saat ikan cupang jantan berhadapan dengan ikan cupang betina, yaitu dengan mengibaskan ekor sirip derngn frekuensi yang cepat (Peter, 2000).Keagresifan lain pada ikan cupang ini, dipisahkan menjadi appetitive, kawin dan pasca kawin (Klein, Figler and Peek 1976). Komponen yang appetitive ini, ditandai dengan perilaku kejenuhan warna tubuh, ereksi penutup overculum, atau insang, orientasi dan gerakan karakteristik (Simpson, 1968). Komponen termasuk menggigit, mengunci rahang antara lawan dan mencolok ekor. Respon yang ditunjukan oleh ikan cupang dari tiap individu, yang berkaitan dengan pembuahan, dapat kita amati dengan uji menggunakan model subjek dalam aquarium yang diberi sekat cermin. Dengan memperhitungkan durasi, dan frekuensi demonstrasi merupakan presiktor dan perkelahian yang nyata (Peter, 2000).Ikan cupang adu (Betta spendens) merupakan anggota dari famili Anabantidae. Anabantidae merupakan satu-satunya famili yang mencakup seluruh ikan berlabirin. Betta splendens memiliki tubuh yang lonjong dengan bagian depan sedikit membulat dan memipih pada bagian belakang. Mulutnya dapat disembulkan dengan lubang mulut terletak serong pada bagian depan kepala. Badan dan kepala bersisik kasar. Ikan betina berwarna kusam, tetapi ikan jantan mempunyai warna metalik yang mengkilat. Ikan cupang jantan maupun betina memiliki sisik gurat sisi berjumlah 29-33 keping (Djuanda, 1981).Ciri ikan cupang jantan matang gonad adalah munculnya bintik bintik hitam yang terdapat di sirip punggung jantan, pada tutup insangnyapun sudah ada garis vertikal warna kemerahan, terlihat sibuk dalam mempersiapkan buih buih dipermukaan sebagai sarang tempat penetasan telur. Umur cupang yang siap untuk melakukan pemijahan yaitu sekitar 6 7 bulan dengan panjang 5 6 cm. induk harus sehat, tidak cacat dan tidak berpenyakit. Sedangkan pada betina , ciri-ciri kematangan gonad dilihat dari besarnya perut betina dan Pada sisi tubuhnya terdapat 2-3 garis vertikal berwarna kelabu (Afandi, 2000).Beberapa parameter perilaku agonistik cupang yang diketahui antara lain :1. Approach (Ap) : mendekat, berenang cepat kemudian berhenti di dekat bayangannya/ ikan lain.2. Bite (Bt) : menggigit lawan.3. Chase (Ch) : mengejar lawan yang melarikan diri.4. Frontal threat (FT) : mengancam dari dapat dengan membuka operculum, dagu direndahkan dan melebarkan sirip dada saat berhadapan dengan lawan.5. Side threat (ST) : mengancam dari pinggir dengan membuka operculum, dagu direndahkan ke arah lawan dan semua sirip dikembangkan.6. Mouth to mouth contact (MC) : kontak mulut ke mulut yaitu dua individu akan saling mendorong, menarik, mencengkram dengan mulut.7. Flight (Fl) : melarikan diri.8. Tail flagging (TF) : mengibaskan ekor.9. Circle (Cl) : bergerak memutar arah setelah mendekati lawan.10. Explore (Ex) : menjelajah area tanpa arah yang jelas.(Ida, 2012).

BAB IIIMETODE

3.1. Alat dan BahanBahanAlat

Ikan cupang (Betta splendens) 4 ekorAquarium (45x25x25 cm)

Air bersihStop watch 1 buah

LabelCermin 1 buah

Botol-botol kecil / botol jam 4 buah

3.2. Cara Kerja1. Pengamatan Morfologi Amati masing-masing individu ikan cupang adu. Kenali dan dicatat perbedaan fisik, antara lain warna tubuh, bentuk sirip (dada, punggung, perut, dubur, ekor) dan ciri khas lainnya (mulut, operculum, gurat sisi, bentuk tubuh) tiap individu . 2. Persiapan dan taggingAquarium yang telah berisi air bagian dibagi menjadi dua bagian oleh sebuah cermin sekat pemisah sebagai kompartemen (a) dan kompartemen (b), dan tiap kompartemen diisi oleh seekor ikan Betta spelendens yang telah diidenttifikasi cirri-cirinya dan jika memungkinkan diberi penandaan pada bagian toraks terlebih dahulu. Diberi penamaan untuk setiap individu (misalnya individu a, individu b,dst) berdasarkan cirri-ciri yang sudah dikenal. Diukur pula masig-masing luasan kedua kompartemen.3. Pengamatan IPada salah satu kompartemen yang berisi cermin (misalnya kompartemen (a) diamati perilaku individu Betta Spelendens (a) dan dicatat semua perilku yang tampak saat individu ikan (a) tersebut melihat bayangannya sendiri di dalam cermin. Dilakukan pegamatan I selama 5 menit. Setelah selesai, dilakukan hal yang sama dengan individu ikan (b) yang berada dalam kompartemen (b) dengan cara membalikan cermin kearah kompartemen (b) selama 5 menit.4. Pengamatan IISetelah pengamatan I selesai, diangkat dinding pemisah/cermin dari aquarium. Saat cermin diangkat dan tidak ada lagi pembatas diantara kedua kompartemen (a) dan (b) dicatat waktunya sebagai waktu ke-0 (t=0). Dilakukan pengamatan segera setelah waktu ke-0 tersebut terhadap perkelahian sebenarnya diantara kedua individu cupang selama 5 menit. Dicatat dan dihitung semua perilaku yang tampak (frekuensi kemunculan untuk tiap perilaku yang berbeda). Berdasarkan hasil pengamatan dan pencatatan sementara, akan ditemukan individu yang memenangkan pertarungan (dominan) dan individu yang kalah (submissive/subordinat).5. Pengamatan IIIDiangkat individu cupang (a) dan (b) dari aquarium, kemudian masing-masing ikan disimpan dalam botol kaca kecil untuk diistirahatkan. Diulangi pengamatan I (percobaan pada cermi) pada individu ikan cupang lainnya, individu (c) dan (d), dan masing-masing selama 5 menit.6. Pengamatan IVDiulangi pengamatan II (percobaan perilaku agonistic) pada individu cupang lainnya yaitu individu ikan (c) dan ikan (d) berdasarkan hasil pengamatan dan pencatatan semenara, dapat ditemukan individu yang memenagkan pertarungan (dominan) dan individu yang kalah (submissive/subordinat).7. Pengamatan VDiangkat kembali individu cupang (c) dan (d) dari aquarium, kemudian masing-masing ikan disimpan dalam botol kaca kecil untuk diistirahatkan selama 5 menit. Setelah itu dilakukan pengamatan perilaku antagonistic antara dua ikan cupang dominan hasil pengamatan pertarungan I da II selama 5 menit. Dapat ditemukan diantara kedua ikan supang tersebut indiviu yang paling domunan yang mampu mendominasu individu lainnya.8. Pengamatan VIDiangkat kembali kedua individu cupang pada pengamatan V dari aquarium kemudian masing-masing ikan disimpan dalm botol kaca kevil untuk diistirahatkan kembali. Setelah itu dilakukan pengamatan agonistic antara dua ikan cupang submissive/subordinat hasil pengamatan pertarungan I dan II selama 5 menit.

BAB IVHASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil PengamatanTabel 1. Foto morfologi ikan cupangFoto ikanKeterangan

Ikan cupang A

Ikan cupang B

Ikan cupang C

Ikan cupang D

Tabel 2. Data hasil pengamatan perilaku agonistik ikan cupang terhadap bayangan di cerminIndividuPerilaku

ApBtChFTSTMCFlTFClEx

A50051090611

B40004441912362

C270027371105185

D270027421018153

Keterangan : Ikan A dan ikan B, ikan cupang aduIkan C dan ikan D, ikan cupang hias

Tabel 3. Data hasil pengamatan perilaku agonistik ikan cupang pada saat pertarungan ikan cupang A dan ikan cupang BIndividuPerilaku

ApBtChFTSTMCFlTFClEx

A505170500325

B250016350065828

Tabel 4. Data hasil pengamatan perilaku agonistik ikan cupang pada saat pertarungan ikan cupang C dan ikan cupang DIndividuPerilaku