laporan 1 internship pkm dr

10
I. LATAR BELAKANG Puskesmas merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya. Sebagai penyelenggara pembangunan kesehatan, puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan per orangan dan upaya kesehatan masyarakat, yang ditinjau dari Sistem Kesehatan Nasional merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Sebagai salah satu perangkat pemerintahan yang berkecimpung dalam kesehatan, Puskesmas memiliki program P2PM yang bertugas untuk melakukan pemberantasan penyakit menular, salah satunya adalah diare. Diare adalah penyebab nomor satu kematian anak di dunia. The United Nations Children’s Fund (UNICEF) memperkirakan bahwa setiap 30 detik ada anak meninggal karena diare. Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan Masyarakat di Indonesia baik ditinjau dari angka kesakitan dan angka kematian serta kejadian luar biasa (KLB) yang ditimbulkan. Diare akut adalah buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan konsistensi cair dan berlansung kurang dari 1 minggu. Diare juga merupakan sindrome yang menyertai berbagai penyakit tertentu atau akibat gangguan pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh adanya gangguan gizi,

Upload: afifah-nur-rasyidah

Post on 14-Feb-2015

271 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: Laporan 1 Internship Pkm Dr

I. LATAR BELAKANG

Puskesmas merupakan Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan

kesehatan di wilayah kerjanya. Sebagai penyelenggara pembangunan kesehatan,

puskesmas bertanggung jawab menyelenggarakan upaya kesehatan per orangan dan

upaya kesehatan masyarakat, yang ditinjau dari Sistem Kesehatan Nasional

merupakan pelayanan kesehatan tingkat pertama. Sebagai salah satu perangkat

pemerintahan yang berkecimpung dalam kesehatan, Puskesmas memiliki program

P2PM yang bertugas untuk melakukan pemberantasan penyakit menular, salah

satunya adalah diare.

Diare adalah penyebab nomor satu kematian anak di dunia. The United

Nations Children’s Fund (UNICEF) memperkirakan bahwa setiap 30 detik ada anak

meninggal karena diare. Penyakit diare masih merupakan masalah kesehatan

Masyarakat di Indonesia baik ditinjau dari angka kesakitan dan angka kematian serta

kejadian luar biasa (KLB) yang ditimbulkan. Diare akut adalah buang air besar lebih

dari 3 kali dalam 24 jam dengan konsistensi cair dan berlansung kurang dari 1

minggu. Diare juga merupakan sindrome yang menyertai berbagai penyakit tertentu

atau akibat gangguan pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh adanya

gangguan gizi, alergi, kekurangan enzim pencernaan, gangguan mental, dan

kekhawatiran. Atau secara tidak sengaja zat yang bersifat konstifasi ikut

terkonsumsi. Gangguan terjadinya diare sangat beragam dapat disebabkan oleh

pengaruh salah satu atau gabungan dari 3 mekanisme yang terdiri atas proses

osmotis, gangguan transport air elektrolit dan perubahan mortilitas usus. Diare

merupakan salah satu penyakit paling sering menyerang anak di seluruh dunia,

termasuk Indonesia.

Diperkirakan angka kejadian di Negara berkembang berkisar 3,5-7 episode

per anak pertahun dalam 2 tahun pertama kehidupan dan 2-5 episode per anak per

tahun dalam 5 tahun pertama kehidupan. Penyebab diare antara lain infeksi (bakteri,

virus, protozoa, dan parasit), alergi, malabsorbsi, keracunan bahan makanan, pbat

dan defisiensi imun. Diare memperlihatkan gejala berupa keadaan frekuensi buang

Page 2: Laporan 1 Internship Pkm Dr

air besar lebih dari 4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak dengan

konsistensi feses encer, dapat berwarna hijau atau dapat bercampur lendir dan darah.

Epidemiologi pathogen diare bervariasi sesuai dengan lokasi geografis. Anak – anak

di Negara berkembang banyak yang terinfeksi oleh bakteri pathogen dan parasit,

sementara dinegara maju lerbih banyak terinfeksi oleh rotavirus. Beberapa penelitian

yang telah dilakukan didapatkan enteropatogen dari diare memperlihatkan hasil

prevalensi rotavirus 30 %, E. Coli patogen 45,9%, E. Coli Toksigenik 14, 3%,

Salmonella 22,3%, Shigella 1,2%, Campylobacter 5,8% dan V. Cholera 1,2%.

Dibeberapa penelitian yang dilakukan diIndonesia mendapatak prevalensi infeksi

rotavirus sebnyak 45,5 % pada anak berusia 1-60 bulan yang menderita diare akut.

Menurut Schwartz, tanda dan gejala diare pada anak antara lain termasuk

dalam gejala umum yaitu, berak cair atau lembek dan sering adalah gejala khas

diare, muntah (biasanya menyertai diare pada gastroenteritis akut), demam (dapat

mendahului atau tidak mendahului gejala diare), gejala dehidrasi (mata cekung,

ketegangan kulit menurun, dan apatis bahkan gelisah). Sedangkan yang termasuk

dalam gejala spesifik adalah Vibrio cholera(diare hebat, warna tinja seperti cucian

beras dan berbau amis), dan Disenteriform (tinja berlendir dan atau berdarah). Hal

yang penting dan perlu diperhatikan dari diare adalah komplikasi yang sering terjadi

berupa dehidrasi. Derajat dehidrasi akibat diare menurut Widoyono dibedakan

menjadi tiga, yaitu 1. Tanpa dehidrasi, biasanya anak merasa normal, tidak rewel,

masih bisa bermain seperti biasa. Umumnya karena diarenya tidak berat, anak masih

mau makan dan minum seperti biasa, 2. Dehidrasi ringan atau sedang, menyebabkan

anak rewel atau gelisah, mata sedikit cekung, turgor kulit masih kembali dengan

cepat jika dicubit, 3. Dehidrasi berat, anak apatis (kesadaran berkabut), mata cekung,

pada cubitan kulit turgor kembali lambat, nafas cepat, anak terlihat lemah.

Dengan adanya program P2PM di Puskesmas, diharapkan kasus – kasus yang

berkaitan dengan dengan penyakit menular karena infeksi salah satunya diare ini bisa

di deteksi sedini mungkin dan menjadi tugas utama Puskesmas untuk menjadi lini

pertama bidang kesehatan agar tidak terjadi suatu out break dimasyarakat, maupun

komplikasi dari diare yang sangat mematikan berupa dehidrasi.

Page 3: Laporan 1 Internship Pkm Dr

II. PERMASALAHAN

Permasalahan yang ada berupa orang tua pasien kurang mengerti bagaimana

pengelolaan, pencegahan diare serta kurang mengerti mengenai dehidrasi sebagai

komplikasi dari diare.

Dilakukan kunjungan rumah pada salah satu pasien diwilayah kerja Puskesmas

Dharmarini pada tanggal 9/4/2013.

1. Identitas pasien

Nama : An. G

Umur : 9 bulan

BB : 8,8 Kg

Jenis kelamin: Perempuan

2. Anamnesis

RPS: Seorang anak perempuan, 3 tahun, datang ke Puskesmas

dengan keluhan sejak 2 hari lalu mencret > 4 kali, cair > ampas, lendir

(+), darah (-), muntah 1 kali, demam (+), makan/minum (+) berkurang,

BAK (+) biasa, masih minum ASI.

RPD: Riwayat penyakit serupa (+) setelah dibawa ke puskesmas

keluhan membaik, riwayat alergi (-).

RPK: Keluarga pasien tidak ada yang menderita keadaan yang sama

dengan pasien.

3. Pemeriksaan Fisik

Keadaan Umum: Komposmentis

Status gizi: gizi baik

Vital sign: N: 96 x/mnt, RR: 24 x/mnt, S: 36,70C.

Pemeriksaan fisik: pasien tampak cukup, mata cekung (-), mukosa

lembab (+), abdomen supel, turgor baik, peristaltik (+) , akral hangat,

perfusi baik.

4. Diagnosis

Diare Akut Tanpa Dehidrasi

Page 4: Laporan 1 Internship Pkm Dr

III. PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

Metode penyuluhan secara langsung kepada orang tua dan anggota keluarga

yang lain yang berhubungan langsung dengan pasien dipilih sebagai intervensi yang

akan paling efektif. Hal ini dimaksudkan agar mereka mengetahui apa saja penyebab,

gejala, pengelolaan, komplikasi dari diare dan bagaimana mencegah penyakit dan

komplikasi yang akan terjadi pada diare.

Intervensi dilakukan dengan cara melakukan Home Visit (Kunjungan Rumah)

dan melakukan wawancara secara langsung kepada orang tua pasien. Kemudian

dilakukan suatu edukasi kepada orang tua pasien mengenai diare, bahwasanya:

1. Diare akut adalah buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan

konsistensi cair dan berlansung kurang dari 1 minggu.

2. Penyebab dari diare antara lain infeksi (bakteri, virus, protozoa, dan parasit),

alergi, malabsorbsi, keracunan bahan makanan, obat dan defisiensi imun.

3. Diare memperlihatkan gejala berupa keadaan frekuensi buang air besar lebih dari

4 kali pada bayi dan lebih dari 3 kali pada anak dengan konsistensi feses encer,

dapat berwarna hijau atau dapat bercampur lendir dan darah.

4. Perawatan pada anak yang diare yang bisa dilakukan dirumah adalah dengan

memberikan lebih banyak cairan daripada biasanya hingga diare

berhenti (ASI), membawa anak jika diare masih berlanjut atau disertai

dengan tanda – tanda dehidrasi berupa anak rewel atau gelisah, malas

untuk minum ASI, mata sedikit cekung, kulit mengkerut, nafas cepat, dan anak

terlihat lemah, segera dibawa ke Pelayanan Kesehatan terdekat.

5. Komplikasi yang sering terjadi adalah dehidrasi (ringan, sedang, berat,

hipotonik, isotonik, hipertonik), asidosis metabolik, syok hipovolemik,

hipokalemia, hipoglikemia, kejang dan kegagalan ginjal mendadak.

6. Pencegahan yang bisa dilakukan oleh orang tua adalah menjaga

kesehatan ibu dan anak dan kebersihan payudara ibu jika masih

menyusui.

Page 5: Laporan 1 Internship Pkm Dr

IV. MONITORING DAN EVALUASI

Monitoring dan evaluasi dilakukan dengan memberikan pertnyaan

balik kepada orang tua setelah dokter menjelaskan tentang diare akut,

pengelolaan, komplikasi dan pencegahan dari diare akut guna

mengetahui seberapa besar orang tua dapat menerima informasi yang

telah diberikan. Berdasarkan jumlah banyaknya kunjungan penderita

kepuskesmas setelah diberikan edukasi, hasilnya pasien dan orang tuanya

memberikan respon yang baik. Hal ini menandakan bahwa orang tua

pasien telah menerima dan memahami informasi yang teklah

disampaikan oleh dokter.

Page 6: Laporan 1 Internship Pkm Dr

Komentar/Feedback

Temanggung, April 2013

Mengetahui,

Pendamping Dokter Internship Peserta

dr. Novelia Dian T. dr. Afifah Nur Rasyidah

NIP. 19621104 199010 2001

Page 7: Laporan 1 Internship Pkm Dr

LAPORAN KEGIATAN USAHA KESEHATAN MASYARAKAT (UKM)

E1. PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN PENYAKIT MENULAR

Oleh:

dr. Afifah Nur Rasyidah

Angkatan IX

(PERIODE 11 MARET 2013 – 11 JULI 2013 )

PUSKESMAS DHARMARINI

TEMANGGUNG

(PERIODE 11 MARET 2013 – 11 JULI 2013 )