Kongres Kebudayaan Peni Cameron

Download Kongres Kebudayaan Peni Cameron

Post on 19-Oct-2014

3.958 views

Category:

Business

8 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Presentasi Peni Cameron on TDA Milad 3

TRANSCRIPT

<p>Budaya KreatifPeluang, Hambatan &amp; Solusi</p> <p>MAKALAH KONGRES KEBUDAYAAN 2008</p> <p>oleh Peni CameronOktober 2008</p> <p>Kita adalah bulu-bulu kecil dalam kepak sayap Garuda,bagian dari kebhinekaan yang menyatupadukan diri</p> <p>melaluipembentukan bangsa berkarakter</p> <p>dan berbudaya merah putih.</p> <p>Penulis bukan seorang budayawan, tetapi terkait dalam pengembangan industri kreatif 4 tahun belakangan ini. Dalam mengembangkan salah satu indsutri kreatif yaitu animasi, penulis menemui banyak hal yang dapat disampaikan dalam diskusi soal ekonomi kreatif dan industri budaya. Pengamatan dan pengalaman penulis ketika melakukan Road to Animation Festival di 12 kota di Indonesia, ketika menjalin kerja sama dengan lebih dari 20 tv lokal, dan ketika mengembang-kan pemasaran animasi Indonesia, rasanya dapat menjadi modal menularkan kegundahan untuk mencari solusi dalam forum ini. </p> <p>Dengan tema Kongres Kebudayaan 2008 Memajukan Negeri, Menyejahterakan Rakyat penulis perlu menyampaikan pengantar:</p> <p>Memajukan negeri. Negeri yang dimaksud meliputi pluralitas kekayaan tanah air Indonesia. Bangsa Indonesia terbentuk dari berbagai suku, ras, agama, bahasa dan budaya, mendiami ribuan pulau besar dan kecil, yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote yang dahulu termasyur dengan sebutan Nusantara. Secara geografis, Indonesia memiliki letak yang sangat strategis dalam lintasan dunia ditunjang iklim tropis yang hangat dan menyuburkan. Kekayaan Indonesia meliputi, aneka budaya etnis, aneka jenis flora dan fauna, serta sumber alam perut bumi yang melimpah. Dengan kondisi demikian, Indonesia sudah memiliki modal besar untuk bersaing di kancah internasional. </p> <p>Kenyataannya, modal besar tersebut belum maksimal dimanfaatkan karena kurangnya modal lain yang tak kalah penting, yakni karakter dan jatidiri bangsa yang kuat. Karenanya, perlu terus dicari formula pengembangan kebudayaan yang berujung pada penguatan identitas dan kesadaran nasional yang berbasis pluralisme agar terbentuk semangat dan percaya diri yang kuat untuk menyejajarkan diri dengan bangsa-bangsa maju di dunia.</p> <p>Menyejahterakan rakyat. Tujuan manusia menciptakan budaya adalah demi kesejahteraan. Kesejahteraan yang dimaksud meliputi material dan moral, dapat mengandung makna luas meliputi, rasa aman, harga diri, keadilan, martabat manusia, kebebasan (aktualisasi diri, beragama, berkarya dan lain-lain). </p> <p>PEN</p> <p>GA</p> <p>NTA</p> <p>R</p> <p>Di era globalisasi ini, pengembangan kebudayaan Indonesia diarahkan untuk memperkuat karakter bangsa sehingga memiliki kualitas yang memadai dalam bersaing menghadapi tantangan perkembangan zaman. Untuk skala Indonesia yang luas dengan jumlah penduduk yang sangat banyak dan multietnik, kesejahteraan rakyat adalah sebuah beban yang cukup berat. Perlu dicari syarat dan ukuran yang objektif, sehingga dapat diterima oleh seluruh rakyat. Kesejahteraan moral, kadang punya arti dan ukuran yang berbeda, dari sudut pemerintah dan rakyat. Untuk menuju kesejahteraan itu, perlu digali potensi, kreativitas dan keahlian yang bersumber dari kearifan atau falsafah budaya bangsa yang beragam. Sedangkan kesejahteraan material, dapat mengarah meningkatnya perekomian rakyat yang berbasis sumberdaya manusia yang kreatif, dan kekayaan budaya dan lingkungan.</p> <p>Dengan tujuan :</p> <p>1. Memfasilitasi pemetaan dan pembahasan gagasan, aspirasi, minat dan partisipasi bangsa Indonesia khususnya tokoh masyarakat, budayawan, pakar budaya, ilmuwan, dan pemerintah, akan orientasi budayanya demi membangun kebudayaan nasional yang berbasis pluralisme dan multikulturalisme2. Menggali berbagai metode pendekatan budaya yang kompeten untuk menjawab tantangan zaman khususunya dalam arus globalisasi serta era gelombang ekonomi keempat3. Mencari titik temu dan saling pengertian dari kebersamaan Bangsa Indonesia, dengan menggali nilai-nilai luhur budaya bangsa yang dapat memperkuat jatidiri, hingga mampu cepat bangkit dari keterpurukan ekonomi dan mampu bersaing serta berkiprah di dunia internasional4. Membangun keyakinan dan komitmen, bahwa warisan budaya bangsa Indonesia yang luhur dapat menjadi modal utama untuk mengelola kekayaan budaya bangsa demi kesejahteraan rakyat.5. Merumuskan rekomendasi langkah konkrit serta rencana aksi yang terukur bagi para pemangku kepentingan dalam bidang kebudayaan, demi memajukan negeri dan menyejahterakan rakyat</p> <p>Maka untuk itu , penulis mencoba memberikan dan berbagi informasi atas peluang, hambatan dan solusi baik yang telah dilakukan maupun yang sedang dilakukan khususnya dalam bidang animasi yang mudah mudahan dapat dipakai dalam membangun industri budaya/ekonomi kreatif dari sektor lainnya. </p> <p>Peni CameronPEN</p> <p>GA</p> <p>NTA</p> <p>R</p> <p>PENGANTAR</p> <p>DAFTAR ISI</p> <p>BAB I LATAR BELAKANG</p> <p>BAB II PELUANG INDONESIA SEBAGAI NEGARA KAYA</p> <p> INDUSTRI BUDAYA</p> <p> Peluang Industri Budaya</p> <p> Kaitan Perilaku dan Budaya Kreatif</p> <p> Pendidikan Dasar sangat Berperan</p> <p>BAB III STUDI KASUS ANIMASI</p> <p> Peluang Industri Animasi</p> <p> Hambatan dan Akar Permasalahan</p> <p> Solusi</p> <p>BAB IV SINERGI UNTUK SOLUSI</p> <p> Kebutuhan Industri</p> <p> Pembentukan Badan</p> <p> Pola </p> <p> Action Plan</p> <p>BAB V RANGKUMAN</p> <p>BAB VI PENUTUP</p> <p>DA</p> <p>FTA</p> <p>R I</p> <p>SI</p> <p>Sudah disebutkan dengan jelas diatas bahwa, perlunya karakter dan jatidiri bangsa yang kuat untuk menciptakan budaya demi kesejahteraan. Dimana Kesejahteraan yang dimaksud meliputi material dan moral, dapat mengandung makna luas meliputi, rasa aman, harga diri, keadilan, martabat manusia, kebebasan (aktualisasi diri, beragama, berkarya dan lain-lain).</p> <p>Berikut ini adalah beberapa referensi yang penulis gunakan acuan dan sekaligus menyemangati penulisan ini, antara lain :</p> <p> Setelah era informasi, dunia bergeser menyiapkan berbagai langkah untuk membangun ekonomi nya, berdasarkan suatu pendekatan ekonomi kreatif </p> <p>yang tidak lain hanya didasarkan pada kenyataan bahwa kreativitas dan inovasi merupakan sesuatu yang selalu harus ada secara kontinyu bila tetap ingin berkompetisi (Baumol, William J. 2002. The Free-Market Innovation Machine: Analyzing the Growth Miracle of Capitalism. Princeton, NJ: Princeton University Press.)</p> <p> Pergeseran menuju ekonomi kreatif ini, bukan berarti meniadakan segala yang sebelumnya (agro, industri &amp; informasi), tetapi kreativitas &amp; inovasi ini </p> <p>diletakkan sebagai hal yang penting dan utama (driving force) untuk pengembangan ekonomi disemua sektor pembangunan (Bell, Daniel. 1999. The Coming of Post-Industrial Society : A Venture in Social Forecasting. New York: Basic Books )</p> <p> Menurut Castells (Castells, Manuel. 2001. The Internet galaxy: reections on the Internet, business, and society. New York: Oxford University Press.) dalam menghadapi ekonomi kreatif setiap perusahaan ataupun individu harus dapat memanfaatkan semua informasi global (internet) untuk mengembang kan kreativitas dan talenta nya.</p> <p> Bahkan secara lebih ekstrim, Robert Reich berpendapat bahwa keuntungan usaha tidak datang dari volume produk, tetapi justru datang dari kreativitas dan penemuan baru secara kontinyu menjembatani kebutuhan dan solusi dan untuk hal itu pembeli harus membayar lebih (Reich, Robert. 1991. The Work of Nations: Preparing Ourselves for 21stcentury Capitalism. New York: A. A. Knopf.)</p> <p> Sebuah riset yang disponsori oleh Harvard Academy for International and Area Studies pada akhir 1990-an, yang melibatkan ilmuwan-ilmuwan sosial paling senior diantaranya Michael E. Porter, Seymour Martin Lipsett dan Francis Fukuyama, menghasilkan temuan yang kuat bahwa Budaya menen tukan kemajuan dari setiap masyarakat, negara, dan bagsa di seluruh dunia, baik ditinjau dari sisi politik, sosial, maupun ekonomi. Tanpa kecuali. Jika budaya dimaknai sebagai strategi untuk bertahan (surviving) dan me nang (winning), maka untuk bersaing, bertahan dan menang dalam gempuran era globalisasi, suatu bangsa harus memiliki budaya yang bermartabat dan memiliki nilai-nilai budaya tinggi. </p> <p>LATA</p> <p>R BE</p> <p>LAKA</p> <p>NGBAB I</p> <p> Cora du bois, seorang antropolog yang melakukan penelitian nya di pulau Alor, NTT mengatakan bahwa Manusia tanpa budaya adalah mahluk tidak bermakna dan sebaliknya budaya tanpa manusia adalah sesuatu yang tidak berarti . Keduanya, manusia dan budaya adalah sesuatu yang interaktif (Du Bois, 1959.pp.9. Social Forces in Southeast Asia. Cambridge, Mass., Harvard University Press, 1964.)</p> <p>Dan juga beberapa motivator nasional yang kita kenal dari Indonesia meskipunmungkin belum dapat dikatakan sejajar dengan yang seperti tersebut diatas (yang sudah diakui secara Internasional), akan tetapi mereka sudah memulai membuat gerakan dan motivasi soal karakter bangsa, seperti : </p> <p> Andre Wongso Bila kita melunakkan diri kita, maka kita akan menghadapi kehidupan yang keras dan sebaliknya, bila kita keras terhadap diri kita, maka kita akan menghadapi kehidupan yang lunak</p> <p> Mario Teguh Apakah anda melihat jalan menuju terwujudnya mimpi anda dalam pekerjaan anda ? Bila tidak, anda akan cenderung bermimpi dan tidur terus dalam pekerjaan anda</p> <p>Dari pengantar dan latar belakang, kalimat ; perilaku, karakter, budaya akan menjadi spirit dan acuan dari pembicara untuk menyampaikan makalahnya, yaitu:</p> <p> Culture &amp; Personality Membentuk Karakter Bangsa yang Kuat Membuat Kreatif menjadi Budaya Terbentuklah Indsutri Budaya dan menumbuhkan Ekonomi Kreatif. Dengan mencari SOLUSI atas segala PELUANG dan HAMBATAN yang terjadi dengan BERSINERGI dalam studi kasus animasi.</p> <p>LATA</p> <p>R BE</p> <p>LAKA</p> <p>NG</p> <p>INDONESIA NEGARA YANG KAYA ?</p> <p>Ya, NEGARA yang KAYA Penduduk 220 juta orang (secara fisik) 300 etnis suku &amp; budaya &amp; bahasa daerah Kekayaan alam Gunung, hutan, flora, fauna dan seluruh penghuninya Pantai, Laut, Koral, flora dan fauna Laut dan seluruh penghuninya Tanah yang subur Gunung Berapi Punya sejarah dijajah dan merdeka Puluhan ribu Profesor, Doktor, Sarjana Petani, Peternak, Pelaut, Seniman, Buruh, dll </p> <p>Siapa bilang, NEGARA kita MISKIN? Sangat kontradiksi karena kita belum mampu mensejahterakan masyarakat...sehingga mungkin boleh kita keluarkan kalimat : Siapa bilang, NEGARA kita KAYA? </p> <p>Ada rasa panas membara yang menjadi pemicu, kadang, kalau kita dicemooh atau ditindas. Seperti kasus batik yang dicuri dll, tiba tiba saja semua masyarakat jadi pakai batik. Sayangnya bangkitnya kok kebanyakan hanya kalau benar benar tertindas... belum keluar dari hati nurani maupun perlakuan sehari hari.</p> <p>Sebagai contoh dari kekayaan kita tadi : Kalau saja, setahun sekali, 20% dari penduduk Indonesia mempunyai ide kreatif, maka karya yang dihasilkan adalah 45 juta ide inovasi baru tiap tahun.. Kalau saja, tiap tahun tiap daerah/suku membuat satu film soal budayanya, akan dihasilkan 300 film/tahun. Kalau saja, tiap tahun tiap daerah/suku membuat satu lagu soal budayanya, akan dihasilkan 300 lagu/tahun. Kalau saja, mungkin, professor, doctor, master dan lain lain yang pintar2 mau turun gunung, jangan di universitas tapi langsung ke daerah pelosok Kalau saja, semua lokasi berpantai dan berkoral, bisa diperkenalkan, kita bakal punya ratusan wisata laut...</p> <p>Tapi semua perumpamaan dan peluang ini jadi bisa NOL besar, kalau semua pihak mengharapkan pihak lain yang melakukan...</p> <p>Kita bisa jadi KAYA, kalau saja ada dan lebih banyak orang yang mau berpikir dan berbuat LEBIH.</p> <p>Bagaimana caranya kita bisa punya setidaknya 45 juta buah IDE KREATIF tiap tahun ?Apa sebenarnya hambatannya ? Mau dibilang Negara Miskin supaya dapat pinjaman lagi ? Atau siap mau dianggap KAYA karena usaha sendiri ?</p> <p>PELU</p> <p>ANG </p> <p>INDO</p> <p>NESI</p> <p>A SE</p> <p>BAGA</p> <p>I NEG</p> <p>ARA </p> <p>KAYA</p> <p>BAB II</p> <p>&gt; PELUANG INDUSTRI BUDAYA</p> <p>Kita semua sudah tahu tentang Industri Budaya, bagaimana peluangnya untuk memajukan negeri dan mensejahterakan masyarakat. Yang menjadi masalah adalah: Bagaimana menjadikan budaya sebagai industri? Apa yang real? Kira2 dapat dikatakan sebagai berikut :</p> <p> Kalau kita bisa membuat Ketoprak seperti industri broadway di New York dan London..? Atau kalau tari tarian kita mendunia seperti tarian Latin ? Atau kalau bahasa kita bisa diakui menjadi salah satu dari 25 bahasa top Internasional ? Apa sih yang kita inginkan ? Jangan-jangan kita belum tahu apa yang kita inginkan ? Atau seperti Hongkong yang terkenal dengan makanannya ? Atau seperti Singapore yang tiba tiba maju dan terkenal hanya karena bisa mengakomidasi beberapa budaya yang ada di negaranya dengan sangat baik ? Atau seperti China yang menakjubkan dengan performance tarian yang selalu dikombinasikan dengan akrobat-sirkusnya ? Atau seperti film Amerika dengan heronya ? Suatu pandangan serupa dinyatakan oleh Aksoy dan Robins yang menjelaskan bahwa industri film di Holywood menjadi demikian besar bukan hanya karena kemampuan dan kreativitas pembuat2 film tetapi juga karena berbagai usaha untuk mengembangkan pasar dunia untuk menyenangi film Holywood. Membuat budaya Holywood menjadi mendunia (Aksoy, Asu and Kevin Robins. 1992. \Hollywood for the 21st Century: Global Competition for Critical Mass in Image Markets. Cambridge Journal of Economics 16:1-22.)</p> <p>Jarak tempuh Singapore Jakarta hanya satu setengah jam dengan pesawat terbang, tetapi sudah puluhan tahun, kita belum juga dapat memanfaatkan situasi tersebut dengan maksimal.. Sementara itu promosi, baik wisata maupun produk dari negara lain di Indonesia, baik melalui pameran maupun melalui media elek-tronik semakin gencar...</p> <p>Apa/Bagaimana sih yang menjadikan bangga buatan Indonesia tidak sekedar slogan? Apa/Bagaimana sih yang menjadikan membuat lebih berarti daripada membeli ? Apa sih yang menjadikan membeli buatan luar negeri lebih membanggakan daripada buatan Indonesia?</p> <p>&gt; KAITAN PERILAKU dan BUDAYA KREATIF</p> <p>Pembicara mencoba mengaitkan budaya atau perilaku dengan nasehat embah jaman dulu dalam bentuk film yang sudah diperlihatkan pada kita semua. Inti dari film tersebut adalah sbb :PE</p> <p>LUAN</p> <p>G IN</p> <p>DONE</p> <p>SIA </p> <p>SEBA</p> <p>GAI N</p> <p>EGAR</p> <p>A KA</p> <p>YA</p> <p>Film Pertama :Jangan minta minta.. jika diberi, baru diterima, dan kalau diberi yang tidak sesuai atau merugikan, ya jangan diterima dari siapapun juga.. Kalau bisa tanganmu yang ke bawah(member) daripada menengadah (meminta).Setelah menerima, kita harus bilang terima kasih (biasanya diajarkan sejak balita).. lalu arti terima kasih adalah.. sudah terima harus dikasih, dishare kepada orang lain yang membutuhkan. Ini juga berlaku kepada materi yang dikonsumsi fisik mau-pun mental termasuk ilmu pendidikan.</p> <p>Film Kedua :Jangan nyontek.. karena nyontek adalah bagian dari ketidak puasan atas hasil usaha sendiri. Berpikir lebih baik mendapatkan hasil baik dengan mengcopy karya...</p>

Recommended

View more >