kekuatan hukum hadist

Click here to load reader

Post on 20-Jul-2015

224 views

Category:

Spiritual

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PowerPoint Presentation

nama kelompok:Camilia alya k. Koen garindramega Rahadian f.Rifa nadilaSiti asiyah

Macam macam hadis dalam kekuatan hukum dan cara pengamalannyaMacam macam hadis 1. Hadis Mutawattir 2. Hadis Masyhur3. Hadis AhadKedudukan hadis sebagai sumber hukum islam Sebagai sumber hukum islam, hadis berada satu tingkat di bawah al-Quran, yang harus dijadikan sandaran berikutnya adalah hadis tersebut. Hal ini sebagaimana ada di firman Allah Swt : Q.S al-Hasyr/59:7 yang artinya dan apa apa yang diberikan rasul kepadamu maka terimalah ia. Dan apa - apa yang dilarangnya, maka tinggalkanlah. Demikian pula firman Allah Swt, dalam ayat lain : Q.S. an-Nisa /4:80 yang artinya Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya ia telah menaati Allah Swt. Dan barangsiapa berpaling (darinya), maka (ketahuilah) kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemeliharaan mereka.Hadis juga menetapkan hukum baru yang tidak terdapat pada al-Quran.

Hadis mutawattirHadis yang diriwayatkan oleh banyak perawi dan sudah dipastikan diantara mereka tidak bersepakat dustaContoh hadis : Daripada Abdullah bin Amru bin al-Ash radhiyallahu anhu, bahawa Rasulullah salallahu alaihi wasallam bersabda: Sampaikanlah dariku walau satu ayat, dan ceritakanlah tentang Bani Israil tanpa perlu takut. Dan barangsiapa berbohong ke atasku dengan sengaja maka bersiaplah dia mengambil tempat duduknya di Neraka. (Riwayat Al-Bukhari)

2. Hadis masyhurHadis yang diriwayatkan oleh dua orang sahabat atau lebih yang tidak mencapai derajat mutawwir namun setelah itu tersebar dan riwayatkan oleh sekian tabiin. Contoh hadis : hadis yang artinya orang islam adalah orang - orang yang tidak meganggu orang lain dengan lidah dan tangannya.(h.r. bukhari, muslim dan tirmizi )

3. Hadis Ahad Hadis yang diriwayatkan oleh satu atau dua perawi sehingga tidak mencapai derajat muttawir. Hadis ini dibagi 4:Hadis SahihHadis HasanHadis DaifHadis MauduKekuatan hukum hadistSebagai sumber hukum islam, hadis berada satu tingkat dibawah al-quran. Artinya jika sebuah perkara hukumnya tidak terdapat di dalam al-quran, yang harus dijadikan sandaran berikutnya adalah hadis tersebut. Kekuatan hadits sebagai sumber hukum ditentukan oleh dua segi yaitu segi kebenaran materinya (wurudnya) dan kekutan sunnah yang mengikuti kebenaran pemberitaannya apakah hadits itu mutawatir atau ahad. Hadits sebagai sumber hukum Islam dimaksudkan sebagai tasyri (menetapkan hukum) yang mencakup segala urusan dan permasalahan, apakah itu masalah ibadah, makanan, minuman, politik, peradilan, keluarga dan seterusnya. Dan semua hadits yang diriwayatkan dengan sahih dari Nabi Saw. adalah hukum-hukum yang wajib diikuti sepanjang masa, selama tidak ada qarinah (indikasi) yang menggugurkan kewajiban tersebut.

Memahami Kandungan Hadis dihubungkan dengan Fungsi Nabi MuhammadSAW.1.Sebagai Rasulullah saw.Dalam memahami hadis Nabi saw. seorang pencinta hadis harus memahami dan meneliti hadis Nabi tersebut, apakah hadis itu ketika diucapkan, beliau berkapasitas sebagai Nabi atau Rasul?. Meskipun hal ini sulit untuk dilakukan tapi sangat dibutuhkan dalam memahami hadis-hadis Rasulullah saw. Karena Nabi adalah manusia layaknya manusia yang lain tentunya memiliki sifat sebagaimana manusia umumnya, yang terkadang keliru dalam mengambil sebuah kebijakan mengangkut masalah keduniaan. Hal ini tergambar dalam sabda beliau sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwasanya Ummu Salamah ra., istri Nabi saw, memberitakan dari Rasulullah saw. bahwasanya beliau mendangar pertengkaran di (muka) pintu kamar beliau. Maka beliau keluar menemui mereka, kemudian beliau bersabda: Artinya: Sesungguhnya saya adalah manusia (seperti manusia lainnya). Sesungguhnya orang yang terlibat pertengkaran mendatangi saya, maka mungkin saja sebagian dari kalian (orang-orang yang bertengkar) lebih mampu (berargumen) daripada yang lainnya, maka saya (Nabi) menduga bahwa sungguh dia yang benar, lalu saya putuskan (perkara itu) dengan memenangkannya. Barangsiapa yang telah saya putusnya dengan (mengambil) hak sesama muslim, maka sesungguhnya keputusan itu adalah potongan bara api neraka, maka, (terserah) dia mengambilnya atau menolaknya

2. Sebagai Kepala Negara atau Pemimpin MasyarakatDalam kehidupan bernegara, kehadiran seorang pemimpin adalah sesuatu yang sangat penting untuk menjaga berbagai stabilitas baik politik, ekonomi, keamanan, maupun sosial. Karenanya, setiap negara memiliki aturan tentang persyaratan untuk menjadi seorang pemimpin. Menyangkut masalah kepemimpinan, Nabi saw selaku sebagai kepala negara sangat memperhatikan masalah kepemimpinan. Nabi saw mengharuskan orang-orang mukmin agar taat pada pemimpin walaupun pemimpin tersebut dari budak Habsyi. Nabi juga mensyaratkan agar yang menjadi pemimpin adalah dari suku Quraisy. Hadis tentang kepemimpinan dari suku Quraisy dapat ditemukan dalam kitab hadis yang diriwayatkan oleh Imam al- Bukhari,Imam Muslim,Imam al- Tirmidzi,dan Imam Ahmad bin Hanbal..

.

3.Sebagai HakimAdakalanya suatu hadis dinyatakan Nabi saw dalam kapasitas beliau sebagai hakim atau manusia layaknya manusia yang lain. Sebagai contoh adalah hadis Nabi tentang keterbatasan pengetahuan hakim, berbunyi:

Artinya: Sesungguhnya saya adalah manusia (seperti manusia lainnya). Sesungguhnya orang yang terlibat pertengkaran mendatangi saya, maka mungkin saja sebagian dari kalian (orang-orang yang bertengkar) lebih mampu (berargumen) daripada yang lainnya, maka saya (Nabi) menduga bahwa sungguh dia yang benar, lalu saya putuskan (perkara itu) dengan memenangkannya. Barangsiapa yang telah saya putusnya dengan (mengambil) hak sesama muslim, maka sesungguhnya keputusan itu adalah potongan bara api neraka, maka, (terserah) dia mengambilnya atau menolaknya. (HR. Jamaah). Apa yang berlaku bagi hakim sebagaimana yang dikemukakan oleh Nabi saw. tersebut bersifat universal. Akan tetapi, keputusan yang ditetapkan oleh hakim disuatu segi mungkin bersifat universal, temporal, ataupun lokal, sedangkan di segi yang lain, keputusan hakim itu mungkin benar dan mungkin tidak benar. Dengan demikian, hadis Nabi tersebut dinyatakan oleh Nabi saw. dalam kapasitas beliau sebagai hakim.[15]

4.Sebagai PribadiDalam kapasitas beliau sebagai manusia layaknya manusia yang lain, banyak pernyataan Nabi saw, yang berkaitan dengan beliau ketika beliau menyabdakan hadis tersebut layaknya manusia umumnya. Contoh; : . Artinya: Dari Ubad bin Tamin dari pamannya (Abdullah bin Zaid) bahwasanya dia telah melihat Rasulullah saw. Berbaring dalam mesjid sambil meletakkan kaki yang satu di atas kaki yang lain. (HR. Bukhari,Muslim, dan Ahmad).Secara tekstual, hadis di atas menunjukkan bahwa cara Nabi Saw. Berbaring dalam posisi meletakkan kaki yang satu di atas kaki yang lain. Pada saat itu tampaknya Nabi sedang merasa nyaman dengan berbaring dalam posisi seperti yang digambarkan oleh hadis di atas, meletakkan kaki yang satu di atas kaki yang lain.Perbuatan itu dilakukan oleh Nabi Saw. Dalam kapasitas beliau sebagai pribadi.

Pengamalan haditsYang dimaksud pengamalan hadits adalah mengunakan hadits sebagai fungsinya yakni sebagai hujjah, bayanul Al-Qur'an, ta'qidul-Qur'an dan manhajul amaliyah . Adalah hadits yang berkatagori hadits maqbul (yang diterima) yaitu; Hadits sahih, baik yang lizatihi maupun yang ligairihi dan Hadits hasan baik yang lizatihi maupun yang ligairihi. Jadi Hadits yang berkatagori hadits mardud (hadits da'if) tidak dapat diamalkan. Namun demikian, menurut mayoritas ulama hadits (muhaditsin) tidak semua hadits maqbul tidak dapat diamalkan semuanya. Hal ini bukan karena kurang kemaqbulannya namun karena sebab yang lain. Oleh sebab itu, hadits maqbul itu dibagi dua bagian yaitu:1. Hadits Maqbul wama'mulun bih (hadits yang diterima dan dapat diamalkan)2. Hadits Maqbul waghairu ma'mulun bih (hadits yang diterima tetapi tidak dapat diamalkan)a. Hadits Maqbul wama'mulun bih (hadits yang diterima dan dapat diamalkan)