filsafat pendidikan islam “ pandangan imam al-ghazali terhadap pendidikan islam” - akidah...

8
[Get a Cbox] refresh name e-mail / url message Go help · smilies · cbox 18 POPULAR POST PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA ABBASIYAH FILSAFAT ISLAM AL-GHAZALI DAN PEMIKIRAN FILSAFATNNYA AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH AL-ASY’ARI DAN AL- MATURIDI ILMU KALAM SYI'AH (TOKOH DAN AJARANNYA) SEJARAH MUNCULNYA ILMU KALAM DAN KERANGKA BERFIKIR ALIRAN-ALIRAN KALAM BERITA HOT Kvitova antarkan Ceko ke final Piala Fed - 4/19/2015 Home My Frontpage About All About This Blog Contact Us Sharing With Me Akidah About Akidah Filsafat About Filsafat Umum About Umum

Upload: muhamad-nazmi-sutarman

Post on 29-Sep-2015

20 views

Category:

Documents


11 download

DESCRIPTION

gbyyfbtyvtdvdghbk

TRANSCRIPT

  • HomeDaftar Isi

    FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM Pandangan Imam Al-Ghazali TerhadapPendidikan IslamWednesday, 15 May 2013 0 komentar

    Oleh: Syafieh, M. Fil. I

    A. Pendahuluan

    Studi tentang kebudayaan islam yang berkaitan dengan pemikiran islam klasik memperoleh perhatian yang

    cukup besar bagi kalangan akademisi pada dekade terakhir. Buku-buku yang ditulis pada bidang ini nampak

    semakin banyak, baik yang merupakan karya sendiri yang merupakan hasil dari penelitian mendalam maupun

    yang merupakan hasil dari terjemahan buku-buku klasik, baik yang berbahasa arab maupun bahasa inggris.

    Banyak karya-karya tokoh ilmuwan muslim yang dipakai sebagai referensi oleh ilmuwan Eropa sampai hampir

    tujuh abad. Salah satu pemikiran era islam klasik yang banyak dikaji oleh para peneliti adalah pemikiran Imam

    al-Ghazali. Namun, kebanyakan studi tentang al-Ghazali lebih menekankan pada sosok beliau sebagai

    seorang teolog, filosof, sufi, dan faqih, sehingga beliau lebih sering dikenal sebagai ahli dalam bidang

    kelimuan tersebut. Padahal, pandangan al-Ghazali dalam bidang pendidikan islam yang tertuang dari karya-

    karyanya seperti, Ihya Ulumuddin, Ayyuha al-Walad dan sebagainya, memberikan pengaruh yang cukup

    signifikan bagi tokoh-tokoh pendidikan setelahnya.

    Pemikiran al-Ghazali dalam bidang pendidikan islam ini menjadi warisan khazanah intelektual yang tak kalah

    penting dengan bidang lain yang digelutinya. Lalu, apa saja pemikiran Sang hujjah al-Islam (bukti kebenaran

    islam) dalam pendidikan islam. Makalah ini mencoba mengungkap pandangan-pandangan, pemikiran dan

    konsep pendidikan islam menurut Zayn al-Din, Imam al-Ghazali.

    B. Sejarah Singkat Kehidupan Al-Ghazali

    Sejarah merupakan bagian penting dari perjalanan sebuah umat, bangsa, negara, maupun individu.

    Keberadaan sejarah merupakan bagian dari proses kehidupan itu sendiri. Melalui sejarah, manusia dapat

    mengambil banyak pelajaran dari proses kehidupan suatu umat, bangsa atau individu.[1] Sebelum menelusuri

    lebih jauh tentang gagasan dan pemikiran al-Ghazali dalam dunia pendidikan, perlu mengenal sejarah hidup

    beliau.

    1. Riwayat Hidup Al-Ghazali

    Dalam buku yang ditulis sendiri oleh al-Ghazali,[2] dijelaskan bahwa nama lengkapnya adalah, Abu Hamid

    Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Ath-Thusi An-Naysaburi. Ia lahir dikota Thus, yang merupakan kota

    kedua setelah Naysabur yang terletak di wilayah Khurasan, pada tahun 450 H atau 1058 M. ayahnya adalah

    seorang sufi yang sangat wara[3] yang hanya makan dari usaha tangannya sendiri. Kerjanya adalah memintal

    wool dan menjualnya sendiri. Ia meninggal sewaktu anaknya itu masih kecil dan sebelum meninggal ia

    menitipkan anaknya pada seorang sufi lain untuk mendapat bimbingan dan pendidikan.[4]

    Al-Ghazali mempunyai seorang saudara yang bernama Ahmad. ketika ayahnya meninggal, sahabatnya segera

    melaksanakan wasiat ayah al-Ghazali. Kedua anak ini dididik dan disekolahkan, dan setelah harta pusaka

    peninggalan ayah mereka habis, mereka dinasehati agar meneruskan mencari ilmu semampu-mampunya.

    Sejak kecil al-Ghazali dikenal sebagai anak yang senang menuntut ilmu pengetahuan dan penggandrung

    mencari kebenaran, maka tidaklah mengherankan jika sejak masa kanak-kanak ia telah belajar dengan

    sejumlah guru dari kota kelahirannya. Masa kecilnya dimulai dengan belajar Fiqh[5] pada ulama terkenal yang

    bernama Ahmad Ibn Muhammad Ar-Razakani di Thus kemudian belajar kepada Abu Nashr al-Ismaili di Jurjan

    ABOUT ME

    SYAFIEH YANTI

    Follow 76

    View my complete profile

    CHAT WITH ME

    19 Apr 15, 06:17 PM

    ahmad: hahhaa 19 Apr 15, 06:17 PM

    ahmad: thank bawa kayu thank you19 Apr 15, 06:07 PM

    ahmad: good?9 Apr 15, 07:52 AM

    [email protected]: Trimakasih paksudah membantu saya tulisan bapak

    [Get a Cbox] refresh

    name e-mail / url

    message Go

    help smilies cbox

    18

    POPULAR POST

    PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA ABBASIYAH

    FILSAFAT ISLAM AL-GHAZALI DAN PEMIKIRANFILSAFATNNYA

    AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH AL-ASYARI DAN AL-MATURIDI

    ILMU KALAM SYI'AH (TOKOH DAN AJARANNYA)

    SEJARAH MUNCULNYA ILMU KALAM DAN KERANGKABERFIKIR ALIRAN-ALIRAN KALAM

    BERITA HOT

    Kvitova antarkan Ceko ke final Piala Fed - 4/19/2015

    Home

    My Frontpage

    About

    All About This Blog

    Contact Us

    Sharing With Me

    Akidah

    About Akidah

    Filsafat

    About Filsafat

    Umum

    About Umum

  • dan akhirnya ia kembali ke Thus lagi.[6]

    Sebagai gambaran kecintaannya akan ilmu pengetahuan, dikisahkan pada suatu hari dalam perjalananpulangnya ke Thus, beliau dan teman-temannya dihadang oleh sekawanan pembegal yang kemudianmerampas harta dan kebutuhan yang mereka bawa. Para pembegal merebut tas al-Ghazali yang berisi buku-buku yang ia senangi, kemudian ia meminta dengan penuh iba pada kawanan pembegal itu agar sudi kiranyamengembalikan tasnya, karena beliau ingin mendapatkan berbagai macam ilmu pengetahuan yangterkandung didalamnya. Kawanan itupun merasa iba dan kasihan padanya sehingga mengembalikan tas itu.Dan setelah peristiwa itu, ia menjadi semakin rajin mempelajari dan memahami kandungan kitab-kitabnya danberusaha mengamalkannya. Bahkan beliau selalu menyimpan kitab-kitab itu disuatu tempat khusus yangaman.[7]

    Setelah belajar di Thus, ia lalu melanjutkan belajar di Naysabur, tempat dimana ia menjadi murid Al-JuwainiImam Al-Haramain hingga gurunya itu wafat.[8]Dari beliau, dia belajar Ilmu Kalam, Ushul Fiqh dan IlmuPengetahuan Agama lainnya.[9]Pada periode ini, ia berusaha dengan sungguh-sungguh sehingga dapatmenamatkan pelajarannya dengan singkat. Gurunya membanggakan dan mempercayakan kedudukannyapadanya. Ia membimbing murid-murid mewakili gurunya sambil menulis buku.[10]Dengan kecerdasan dankemauan belajarnya yang luar biasa serta kemampuannya dalam mendebat segala sesuatu yang tidak sesuaidengan penalaran yang jernih, Al-Juwaini kemudian memberikan predikat bahrun mughriq (laut yang dalamnan menenggelamkan).[11]

    Dari Naysabur, pada tahun 478 H/1085 M, al-Ghazali kemudian menuju Muaskar[12]untuk bertemu denganNidzam al-Mulk, yang merupakan perdana menteri Sultan Bani Saljuk.[13]Dengan semakin mencuatnya namaal-Ghazali, Nidzam al-Mulk kemudian memerintahkannya pergi ke Bagdad untuk mengajar di Al-Madrasah An-Nidzamiyyah, dimana semua orang mengagumi pandangan-pandangannya yang pada akhirnya ia menjadiImam bagi penduduk Irak setelah sebelumnya menjadi Imam di Khurasan. Namun, ditengah ketenarannyasebagai seorang ulama, disisi lain pada saat ini ia mengalami fase skeptisisme[14] yang membuatkeadaannya terbalik. Ia kemudian meninggalkan Bagdad dengan segala kedudukan dan fasilitas kemewahanyang diberikan padanya untuk menyibukkan dirinya dengan ketakwaan.[15]

    Perjalanannya kemudian berlanjut menuju Damaskus dimana ia banyak menghabiskan waktunya untukberkhalwah, beribadah dan beritikaf. Dari sini ia kemudian menuju Baitul Maqdis untuk menunaikan ibadahhaji. Setelah itu, ia kemudian kembali ke Naysabur atas desakan Fakhrul Mulk, anak Nidzam Al-Mulk untukkembali mengajar.[16]Hanya saja, ia menjadi guru besar dalam bidang studi lain, tidak seperti dahulu lagi.Selama periode mengajarnya yang kedua ini, ia juga menjadi Imam ahli agama dan tasawuf serta penasehatspesialis dalam bidang agama.[17]

    Setelah mengajar diberbagai tempat seperti Bagdad, Syam dan Naysaburi, Pada tahun 500 H/1107 M, al-Ghazali kemudian kembali kekampung halamannya, banyak bertafakkur, menanamkan ketakutan dalam kalbusambil mengisi waktunya dengan mengajar pada madrasah yang ia dirikan disebelah rumahnya untuk parapenuntut ilmu dan tempat khalwat bagi para sufi. Dan pada hari senin, 14 jumadal akhirah 505 H/18 desember1111 M, Imam al-Ghazali berpulang ke rahmatullah ditanah kelahirannya, Thus dalam usia 55 tahun.[18]

    2. Karya-karya Al-Ghazali

    Imam al-Ghazali adalah seorang ulama dan pemikir besar yang sangat produktif dalam menulis. Jumlah kitabdan risalah-risalah yang ditulisnya sampai kini belum disepakati secara definitif oleh para penulis sejarahnya.Hingga ada yang mengatakan bahwa ia memiliki 999 buah tulisan, ini memang sulit dipercaya, tapi siapapunyang mengenal dirinya dan keluasan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, kemungkinan ia akan percaya.

    Muhammad bin Al-Hasan din Abdullah Al-Husaini Al-Wasithi dalam Ath-Thabaqat Al-Aliyyah fi Manaqib Al-Syafiiyyah menyebutkan bahwa karya al-Ghazali berjumlah 98 karangan. As-Subki dalam Thabaqat Al-Syafiiyyah menyebutkan sebanyak 58 karangan. Thasy Kubra Zadeh dalam Miftah Al-Saadah wa Mishbah Al-Siyadah menyebutkan bahwa karyanya mencapai 80 buah.[19]

    Kitab-kitab yang ditulis oleh Imam al-Ghazali meliputi berbagai macam bidang keilmuan, seperti al-Quran,akidah, ilmu kalam, ushul fiqh, fiqh, tasawwuf, mantiq, falsafah, kebatinan dan lain sebagainya. AbdurrahmanBadawi dalam bukunya Mualafat Al-Ghazali (Kairo, 1961), membagi kitab yang berkaitan dengan al-Ghazalikedalam tiga kelompok. Pertama, kelompok kitab yang dapat dipastikan merupakan karangan al-Ghazalisendiri sebanyak 72 kitab. Kedua, kelompok kitab yang diragukan sebagai karyanya sebanyak 22 kitab. Ketiga,kelompok kitab yang dipastikan bukan karyanya terdiri atas 31 kitab.[20]

    Dari sekian banyak kitab yang menjadi karya Imam al-Ghazali, beberapa diantaranya yang banyak dibaca dandijadikan rujukan, bahkan diterjemahkan kedalam bahasa-bahasa asing adalah:

    1. Ihya Ulumuddin (Menghidupkan ilmu-ilmu agama)

    2. Tahafut al-Falasifah (Keruntuhan para filosof)

    3. Al-Munqidz min al-Dholal (Penyelamat dari kesesatan)

    4. Ayyuhaal-Walad (Wahai anak)

    5. Bidayah al-Hidayah

    6. Fayshal al-Tafriqah bayna Al-Islam al-Zandaqah

    7. Al-Wajiz

    Inilah sejumlah kecil dari sekian banyak karya besar seorang ulama besar yang bergelar Hujjah al-Islam yangtidak mungkin disebut secara keseluruhan. Maka tidaklah mengherankan, karena keluasan dan keragamanilmu pengetahuan yang dimilikinya itulah, ia kemudian diberi gelar sebagai Zayn al-Din (Hiasan Agama).

    C. Pemikiran Al-Ghazali tentang Pendidikan Islam

    Untuk mengetahui pemikiran al-Ghazali dalam bidang pendidikan, lebih dahulu kita harus mengetahui dan

    Menlu Irak jelaskan ISIS dan bantah konflik Syiah-Sunni - 4/19/2015

    Polisi tembak mati dua perampok diCijantung - 4/19/2015

    Irak ajak RI gabung dengan koalisiantiterorisme - 4/19/2015

    Besok kubu Agung hadirkan dua mantan hakimkonstitusi - 4/19/2015

    BLOG TEMAN

    IPTEK

    Epistemologi

    Kajian Keislaman

    Kumpulan emak2 Blogger

    Studi Islam

    Sejarah Muslim India

    FOLLOWERS

    Join this sitew ith Google Friend Connect

    Members (45) More

    Already a member? Sign in

  • memahami pandangan al-Ghazali yang berkenaan ilmu pengetahuan dengan berbagai aspeknya, antara laintujuan pendidikan, kurikulum, metode, pendidik dan murid.

    Pendidikan, yang kata itu dilekatkan pada kata islam didefinisikan secara berbeda-beda oleh orang yangberbeda-beda sesuai dengan pendapatnya masing-masing. Tetapi semua pendapat itu bertemu dalam satupandangan, bahwa pendidikan adalah suatu proses dimana suatu bangsa mempersiapkan generasimudanya untuk menjalankan kehidupan dan untuk memenuhi tujuan hidup secara efektif dan efisien.[21]Selain mewariskan nilai-nilai budaya dari generasi ke generasi untuk memelihara identitas masyarakat,pendidikan juga bertugas mengembangkan potensi manusia untuk dirinya sendiri dan masyarakatnya.[22]

    Dalam kitab Ihya Ulumuddin, al-Ghazali memulai pandangannya dengan nada provokatif tentang keutamaanbagi mereka yang memiliki ilmu pengetahuan dengan mengutip al-Quran surat al-Mujadilah ayat 11, yangartinya:

    Artinya: Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmupengetahuan beberapa derajat. (QS. Al-Mujadilah:11)[23]

    Provokasi ini kemudian dilanjutkannya dengan hadis Nabi yang bernada majaz metaforik yang dikemukakanoleh Ibnu Abbas tentang keutamaan ilmuwan atas orang awam, pernyataan tersebut adalah:

    Li al-ulama darajah fauqo al-muminina bisabi miah darajah ma bayna al-darajataini masirah khamsahmiah am.

    Artinya: Para orang-orang yang berilmu memiliki derajat diatas orang-orang mukmin sebanyak tujuh ratusderajat, jarak di antara dua derajat tersebut adalah perjalanan lima ratus tahun.

    Konsep pemikiran al-Ghazali tentang pendidikan lebih cenderung bersifat empirisme, hal ini disebabkankarena ia sangat menekankan pada pengaruh pendidikan terhadap anak didik. Menurutnya, pendidikanseorang anak sangat tergantung kepada orang tua yang mendidiknya. Lebih lanjut, dapat dikatakan bahwadalam peranannya, pendidikan sangat menentukan kehidupan suatu bangsa dan pemikirannya.

    Dengan melihat dan memahami beberapa karyanya yang berkaitan dengan pendidikan, dapat dikatakanbahwa al-Ghazali adalah penganut asas kesetaraan dalam dunia pendidikan, ia tidak membedakan kelaminpenuntut ilmu, juga tidak pula dari golongan mana ia berada, selama dia islam maka hukumnya wajib, tidakterkecuali bagi siapapun. Dapat dikatakan pula, bahwa ia adalah penganut konsep pendidikan tabula rasa(kertas putih), dimana pendidikanlah yang bisa mewarnai seorang anak yang bagai kertas putih tersebutdengan hal-hal yang benar. Hal tersebut tercermin dalam salah satu kitabnya, Ihya Ulumuddin yangmengatakan bahwa seorang anak ketika lahir masih dalam keadaan fitrah (suci).

    1. Tujuan Pendidikan

    Menurut Nizar,[24] al-Ghazali menjadikan transinternalisasi ilmu dan proses pendidikan merupakan saranautama untuk menyiarkan ajaran islam, memelihara jiwa, dan taqarrub ila Allah. Lebih lanjut dikatakan, bahwapendidikan yang baik merupakan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mendapatkan kebahagiaandunia akhirat.

    Intinya, pendidikan menurut al-Ghazali bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, sebagaimanatujuan penciptaan manusia yang termaktub dalam QS. Al-Dzariyat: 56.[25] Tujuan pendidikan ini dapatdiklasifikasikan dalam 3 kategori, yaitu: (1) Tujuan mempelajari ilmu pengetahuan semata-mata untuk ilmupengetahuan itu sendiri sebagai wujud ibadah kepada Allah SWT; (2) Tujuan utama pendidikan islam adalahpembentukan akhlaq al-karimah; (3) Tujuan pendidikan islam adalah mengantarkan peserta didik mencapaikebahagiaan dunia dan akhirat.[26] Perumusan ketiga tujuan pendidikan tersebut dapat menjadikan programpendidikan yang dijalankan bersinergi dengan tujuan penciptaan manusia dimuka bumi ini, yaitu untukberibadah pada Allah sehingga pada gilirannya mampu mengantarkan peserta didik pada kedekatan diridengan Allah SWT.

    Menurut Nata,[27]pendidikan islam itu secara umum mempunyai corak spesifik yaitu adanya cap agama danetika yang terlihat nyata pada sasaran-sasaran dan sarananya, tetapi tanpa mengabaikan masalahkeduniawian. Dan al-Ghazali pada prinsipnya sejalan dengan trend-trend keagamaan semacam ini, namundisatu sisi ia tetap memberikan ruang yang cukup dalam sistem pendidikan bagi perkembangan duniawi,dengan catatan bahwa masalah-masalah dunia hanya dimaksudkan sebagai jalan untuk menuju kebahagiaanhidup di alam akhirat yang lebih utama dan kekal.

    Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan dalam pandangan al-Ghazali adalahmemanfaatkan pengetahuan yang ditujukan untuk mendapatkan kemanfaatan dari pengetahuan itu sendiriyang dengannya dapat menjaga keseimbangan alam semesta ini dengan melestarikan kehidupan manusiadan alam sekitarnya, juga sekaligus sebagai sebuah aplikasi dari tugas penciptaan manusia di muka bumi.Pemanfaatan pengetahuan itu semata-mata adalah bertujuan untuk taabbud kepada Allah SWT, Tuhansemesta alam.

    2. Kurikulum

    Kurikulum, dalam pengertian sederhana berarti mata pelajaran yang diberikan kepada anak didik untukmenanamkan sejumlah pengetahuan agar mampu beradaptasi dengan lingkungannya.[28][28][28] Pandanganal-Ghazali tentang kurikulum dapat diketahui berdasarkan pandangannya dalam membagi ilmu pengetahuanmenjadi tiga kategori besar, yaitu: (1) Ilmu yang tercela yang tidak pantas dipelajari (al-mazmum), seperti sihir,nujum, ramalan, dan lain sebagainya. (2) Ilmu yang terpuji yang pantas untuk dipelajari (al-mahmud) yangmeliputi ilmu yang fardlu ain untuk dipelajari dan ilmu yang hanya fardlu kifayah untuk dipelajari. (3) Ilmu terpujidalam kadar tertentu atau sedikit, dan tercela jika mempelajarinya secara mendalam, seperti ilmu logika,filsafat, ilahiyyat dan lain-lain.

    Menurut Nata,[29] yang dimaksud dari kategorisasi ketiga ilmu tersebut adalah sebagai berikut: Pertama, ilmu-ilmu tercela. Yang termasuk ilmu ini dalam pandangan al-Ghazali ialah ilmu yang tidak ada manfaatnya baikdunia maupun akhirat dan terkadang hanya membawa mudharat bagi orang yang memilikinya, maupun bagi

  • orang lain. Ilmu sihir misalnya dapat memisahkan persahabatan antar sesama manusia, menimbulkandendam, permusuhan dan kejahatan. Sementara ilmu nujum menurut al-Ghazali dapat dibagi menjadi dua,yaitu ilmu nujum berdasarkan perhitungan (hisab), dan ilmu nujum berdasarkan istidlaly[30][30][30]. Tapi beliaumasih memberi toleransi dengan mengatakan seperlunya saja demi kebaikan, seperti ilmu nujum untukmengetahui letak kiblat.

    Kedua, ilmu-ilmu terpuji. Al-Ghazali menjelaskan bahwa ilmu ini ialah ilmu-ilmu yang erat kaitannya denganperibadatan dan macam-macamnya. Ia membagi jenis ilmu ini menjadi dua bagian, yaitu: yang fardlu ain, yaituilmu agama dengan segala jenisnya, mulai dari kitab Allah, ibadat pokok, hingga ilmu syariat yang dengannyaia akan paham apa yang harus ditinggalkan dan apa yang harus dilakukan. Sedangkan yang fardlu kifayahadalah semua ilmu yang tidak mungkin diabaikan untuk kelancaran semua urusan, seperti ilmu kedokteran,ilmu hitung dan lain-lain. Menurutnya, jika tidak ada yang mempelajari ilmu itu maka berdosalah seluruhnya,tetapi jika telah ada seseorang yang menguasainya dan dapat mempraktekkannya maka tuntutan wajibnyapuntelah lepas dari yang lain.

    Ketiga, ilmu-ilmu yang terpuji dalam kadar tertentu atau sedikit, dan tercela jika mempelajarinya secaramendalam, karena dengan mempelajarinya dapat menyebabkan terjadinya kesemrawutan dan kekacauanantara keyakinan dan keraguan yang dapat membawa pada kekafiran, seperti ilmu filsafat. Ilmu ini tidaklahwajib bagi setiap orang, karena menurut tabiatnya tidak semua orang dapat mempelajari ilmu itu dengan baik.Ia berpendapat bahwa orang yang mempelajari ilmu tersebut bagai anak kecil yang masih menyusu, dan akansakit apabila diberikan makanan yang bermacam-macam yang belum dapat dicerna oleh perutnya.

    Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pada prinsipnya, al-Ghazali lebih menekankan pada muatan ilmu-ilmu keagamaan dengan segala cabangnya dan juga ilmu-ilmu yang erat kaitannya dengan kemaslahatanmanusia pada umumnya. Sehingga menurut al-Ghazali, selayaknya seorang pelajar pemula mempelajari ilmuagama asasi terlebih dahulu sebelum mempelajari ilmu furu. Ilmu kedokteran, matematika dan ilmu terapanlain harus mengalah pada ilmu agama dalam pandangannya, karena ilmu agama meliputi keselamatan diakhirat, sedangkan yang terapan hanya untuk keselamatan di dunia. Ia juga lebih menekankan pada segipemanfaatan ilmu pengetahuan dengan berdasarkan pada tujuan iman dan taqarrub pada Allah SWT. Hal inimenjadi wajar dengan melihat latar belakang kehidupan beliau sebagai seorang sufi.

    3. Metode

    Menurut al-Ghazali metode perolehan ilmu dapat dibagi berdasarkan jenis ilmu itu sendiri, yaitu ilmu kasbi danilmu ladunni. (1) Ilmu kasbi dapat diperoleh melalui metode atau cara berfikir sistematik dan metodik yangdilakukan secara konsisten dan bertahap melalui proses pengamatan, penelitian, percobaan dan penemuan,yang mana memperolehnya dapat menggunakan pendekatan talim insani. (2) Ilmu ladunni dapat diperolehorang-orang tertentu dengan tidak melalui proses perolehan ilmu pada umumnya tetapi melalui prosespencerahan oleh hadirnya cahaya ilahi dalam qalbu, yang mana memperolehnya adalah menggunakanpendekatan talim rabbani.

    Selain itu, al-Ghazali juga memakai pendekatan behavioristik dalam pendidikan yang dijalankan. Hal ini terlihatdari pernyataannya, jika seorang murid berprestasi hendaklah seorang guru mengapresiasi murid tersebut,dan jika melanggar hendaklah diperingatkan, bentuk apresiasi gaya al-Ghazali tentu berbeda denganpendekatan behavioristik dalam Eropa modern yang memberikan reward dan punishment-nya dalam bentukkebendaan dan simbol-simbol materi. Al- Ghazali menggunakan tsawab (pahala) dan uqubah (dosa) sebagaireward and punishment-nya. Disamping itu, ia juga mengelaborasi dengan pendekatan humanistik yangmengatakan bahwa para pendidik harus memandang anak didik sebagai manusia secara holistik danmenghargai mereka sebagai manusia. Bahasa al-Ghazali tentang hal ini adalah bagaimana seorang guruharus bersikap lemah lembut dan penuh kasih sayang pada murid selayaknya mereka adalah anak kandungsendiri.[31] Dengan ungkapan seperti ini tentu ia menginginkan sebuah pemanusiaan anak didik oleh guru.Lebih lanjut dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah sebagai kerja yang memerlukan hubungan yang eratantara dua pribadi, yaitu guru dan murid. Dengan demikian, faktor keteladanan merupakan metode pengajaranyang utama dan sangat penting dalam pandangannya.[32]

    Menurut al-Ghazali, pendidikan tidak semata-mata sebagai suatu proses yang dengannya guru menanamkanpengetahuan yang diserap oleh siswa, yang setelah proses itu masing-masing guru dan murid berjalan dijalan mereka yang berlainan. Lebih dari itu, ia adalah interaksi yang saling mempengaruhi danmenguntungkan antara guru dan murid dalam tataran sama, yang pertama mendapatkan jasa karenamemberikan pendidikan dan yang terakhir dapat mengolah dirinya dengan tambahan pengetahuan yangdidapatkannya.

    4. Pendidik

    Dalam pandangan al-Ghazali, pendidik merupakan orang yang berusaha membimbing, meningkatkan,menyempurnakan dan mensucikan hati sehingga menjadi dekat dengan Khaliqnya. Ia juga memberikanperhatian yang sangat besar pada tugas dan kedudukan seorang pendidik. Hal ini tercermin dalam tulisannya:

    Sebaik-baik ikhwalnya adalah yang dikatakan berupa ilmu pengetahuan. Hal itulah yang dianggap keagungandalam kerajaan langit. Tidak selayaknya ia menjadi seperti jarum yang memberi pakaian kepada orang lainsementara dirinya telanjang, atau seperti sumbu lampu yang menerangi yang lain sementara dirinya terbakar.Maka, barang siapa yang memikul beban pengajaran, maka sesungguhnya ia telah memikul perkara yangbesar, sehingga haruslah ia menjaga etika dan tugasnya.[33]

    Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pendidik yang dapat diserahi tugas mengajar adalah seorangpendidik yang selain memiliki kompetensi dalam bidang yang diajarkan yang tercermin dalam kesempurnaanakalnya, juga haruslah yang berakhlak baik dan memiliki fisik yang kuat. Disamping syarat-syarat umum ini, iajuga memberikan kriteria-kriteria khusus, yaitu:

    1. Memperlakukan murid dengan penuh kasih saying.

    2. Meneladani Rasulullah dalam mengajar dengan tidak meminta upah.

    3. Memberikan peringatan tentang hal-hal baik demi mendekatkan diri pada Allah SWT.

    4. Memperingati murid dari akhlak tercela dengan cara-cara yang simpatik, halus tanpa cacian, makian dan

  • kekerasan. Tidak mengekspose kesalahan murid didepan umum.

    5. Menjadi teladan bagi muridnya dengan menghargai ilmu-ilmu dan keahlian lain yang bukan keahlian danspesialisasinya.

    6. Menghargai perbedaan potensi yang dimiliki oleh muridnya dan memperlakukannya sesuai dengantingkat perbedaan yang dimilikinya itu.

    7. Memahami perbedaan bakat, tabiat dan kejiwaan murid sesuai dengan perbedaan usianya.

    8. Berpegang teguh pada prinsip yang diucapkannya dan berupaya merealisasikannya sedemikian rupa.[34]

    5. Murid

    Dalam kaitannya dengan peserta didik atau dengan kata lain yaitu murid, lebih lanjut al-Ghazali menjelaskanbahwa mereka adalah makhluk yang telah dibekali dengan potensi atau fitrah untuk beriman kepada AllahSWT. Fitrah itu sengaja disiapkan oleh Allah SWT sesuai dengan kejadian manusia yang tabiat dasarnyaadalah cenderung kepada agama tauhid (islam).[35] Untuk itu, seorang pendidik betugas mengarahkan fitrahtersebut agar dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan tujuan penciptaannya sebagai manusia.

    Dalam pandangan al-Ghazali, murid memiliki etika dan tugas yang sangat banyak, yang dapat disusun dalamtujuh bagian, yaitu:

    1. Mendahulukan kesucian jiwa daripada kejelekan akhlak.

    2. Mengurangi hubungan keluarga dan menjauhi kampung halamannya sehingga hatinya hanya terikatpada ilmu.

    3. Tidak bersikap sombong terhadap ilmu dan menjauhi tindakan tidak terpuji kepada guru, bahkan iaharus menyerahkan urusannya kepadanya.

    4. Menjaga diri dari mendengarkan perselisihan diantara manusia.

    5. Tidak mengambil ilmu terpuji selain mendalaminya hingga ia dapat mengetahui hakikatnya.

    6. Mencurahkan perhatian terhadap ilmu yang terpenting, yaitu ilmu akhirat.

    7. Hendaklah tujuan murid itu ialah untuk mnghiasi batinnya dengan sesuatu yang akan mengantarkannyakepada Allah SWT. [36]

    D. Kesimpulan

    Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali Ath-Thu>si An-Naysa>buri> atau yang lebih dikenal denganal-Ghazali adalah seorang ulama besar yang lahir dikota Thus, Khurasan pada tahun 450 H atau 1058 M.Ayahnya adalah seorang sufi yang bekerja sebagai pemintal wool, ia meninggal sewaktu al-Ghazali masihkecil. Al-Ghazali mulai belajar di kota kelahirannya Thus, lalu kemudian melanjutkannya di Naysabur padaulama terkenal, Al-Juwaini Imam Al-Haramain. Kehidupannya kemudian banyak diisi dengan kegiatanmengajar diberbagai kota mulai dari Baghdad, Damaskus, Syam hingga kembali kekampung halamannya diThus, tempat dimana ia wafat pada tahun 505 H/1111 M.

    Imam al-Ghazali adalah seorang pemikir besar yang sangat produktif dalam menulis. Jumlah kitab dan risalah-risalah yang ditulisnya sampai kini belum disepakati secara definitif oleh para penulis sejarahnya. banyakkitabnya yang dibaca dan dijadikan rujukan, bahkan diterjemahkan kedalam bahasa-bahasa asing, sepertiIh}ya Ulumuddin, Tahafut al-Falasifah, Ayyuha al-Walad dan lain sebagainya.

    Menurut al-Ghazali, pendidikan bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, begitupunpemanfaatannya mestilah bertujuan untuk taabbud kepada Allah SWT. Beliau membagi ilmu pengetahuanmenjadi tiga kategori, yaitu ilmu yang tercela, ilmu yang terpuji dan ilmu terpuji dalam kadar tertentu atausedikit, dan tercela jika mempelajarinya secara mendalam. Lebih lanjut, al-Ghazali memakai pendekatanbehavioristik dalam metode pendidikannya dan mengelaborasinya dengan pendekatan humanistik. Ia jugamemberikan perhatian yang sangat besar pada tugas seorang pendidik dan murid. Menurutnya, pendidik danmurid haruslah menjaga etika dan tugas-tugas mulianya agar dapat mengantarkannya pada kedekatakan AllahSWT sesuai dengan tujuan penciptaannya dimuka bumi ini.

    E. Saran

    Kami menyadari bahwa makalah kami jauh dari sempurna. Oleh karena itu, untuk perbaikan makalah ini kamiminta masukan dan kritikan yang membangun dari kelompok lain. Trims

    DAFTAR PUSTAKA

    Abdullah, M. Amin. Antara Al-Ghazali dan Kant: Filsafat Etika Islam. Bandung: Mizan, 2002.

    Al-Ghazali. Mutiara Ih}ya Ulumuddin: Ringkasan Yang Ditulis Sendiri Oleh Sang Hujjatul Islam. Cet. XV.Diterjemahkan oleh Irwan Kurniawan. Bandung: Mizan, 2003.

    Azra, Azyumardi. Esei-esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998.

    Daudy, Ahmad. Kuliah Filsafat Islam. Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1989.

    Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya. Jakarta: CV. Naladana, 2004.

    Nata, Abuddin. Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam: Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada, 2000.

  • Nizar, Samsul. Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis. Jakarta: Ciputat Pers, 2002.

    Shihab, Umar. Kontekstualitas Al-Quran: Kajian Tematik Atas Ayat-ayat Hukum Dalam Al-Quran. Cet. V.Jakarta: Penamadani, 2008.

    Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan Islam. Jakarta: Prenada Media Kencana, 2005.

    Syukur, Fatah NC. Sejarah Peradaban Islam. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2010.

    Tim Redaksi Bahasa Indonesia. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Pusat Bahasa, 2008.

    [1]Fatah Syukur NC, Sejarah Peradaban Islam (Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2010), 3.

    [2]Al-Ghazali, Mutiara Ihya Ulumuddin: Ringkasan Yang Ditulis Sendiri Oleh Sang Hujjatul Islam (Bandung:Mizan, 2003), 9.

    [3]Patuh dan taat kepada Allah, lihat Tim Redaksi Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta:Pusat Bahasa, 2008), 1616.

    [4]Ahmad Daudy, Kuliah Filsafat Islam (Jakarta: PT. Bulan Bintang, 1989), 97.

    [5]Al-Ghazali, Mutiara (Bandung: Mizan, 2003), 9.

    [6]Abuddin Nata, Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam: Seri Kajian Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada, 2000), 82.

    [7]Ibid.

    [8]M. Amin Abdullah, Antara Al-Ghazali dan Kant: Filsafat Etika Islam (Bandung: Mizan, 2002), 28.

    [9]Nata, Pemikiran Para Tokoh, 83.

    [10]Al-Ghazali, Mutiara Ihya, 9.

    [11] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam: Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis (Jakarta: Ciputat Pers,2002), 87.

    [12]Muaskar adalah suatu lapangan besar luas disebelah Kota Naysabur dimana didirikan barak-barak militeroleh Nidzam al-Mulk. Disini al-Ghazali diterima dengan penuh kehormatan karena kemampuannya dalammendebat para ulama setempat dalam Munazharah. Lihat Daudy, Kuliah Filsafat, 97.

    [13]Nata, Pemikiran Para Tokoh, 83.

    [14] Abdullah, Antara Al-Ghazali, 29.

    [15]Al-Ghazali, Mutiara Ihya, 10.

    [16]Daudy, Kuliah Filsafat, 98.

    [17]Nata, Pemikiran Para Tokoh, 84.

    [18]Daudy, Kuliah Filsafat, 99.

    [19]Al-Ghazali, Mutiara Ihya, 11.

    [20]Daudy, Kuliah Filsafat, 99.

    [21]Azyumardi Azra, Esei-esei Intelektual Muslim dan Pendidikan Islam (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1998), 3.

    [22]Umar Shihab, Kontekstualitas Al-Quran: Kajian Tematik Atas Ayat-ayat Hukum Dalam Al-Quran (Jakarta:Penamadani, 2008), 152.

    [23]Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya (Jakarta: CV. Naladana, 2004), 793.

    [24] Nizar, Filsafat Pendidikan, 87.

    [25]Suwito, Sejarah Sosial Pendidikan Islam (Jakarta: Prenada Media Kencana, 2005), 83.

    [26]Nizar, Filsafat Pendidikan, 87.

    [27]Nata, Pemikiran Para Tokoh, 86.

    [28]Suwito, Sejarah, 84.

    [29]Nata, Pemikiran Para Tokoh, 89-92.

    [30]Yaitu semacam astrology dan meramal nasib berdasarkan petunjuk bintang. Ilmu ini menurut al-Ghazalitercela menurut syara, karena dapat menyebabkan manusia menjadi ragu pada Allah, lalu menjadi kafir.

    [31]Al-Ghazali, Mutiara Ihya, 35.

    [32]Nata, Pemikiran Para Tokoh, 95.

    [33]Al-Ghazali, Mutiara Ih}ya, 35.

    [34]Nata, Pemikiran Para Tokoh, 96-99.

  • Tweet 0 0 9Share this article :

    [35]Nizar, Filsafat Pendidikan, 89.

    [36]Al-Ghazali, Mutiara Ihya, 32-35.

    Diposkan oleh Syafieh Yanti di 10:14

    Label: Filsafat Pendidikan Islam

    Post a Comment

    Enter your comment...

    Comment as: Google Account

    Publish Preview

    Daftar Isi Blog

    December 2014

    [03] PERISTIWA PERANG SALIB DAN INVASI MONGOL PADA MASA ABBASIYAH

    November 2014

    [30] FILSAFAT NILAI PRAGMATISME JOHN DEWEY[28] RESPON AGAMA YAHUDI TERHADAP MODERNITAS

    May 2014

    [27] SARANA ILMIAH (BAHASA, MATEMATIKA, LOGIKA, DAN STATISTIKA)[12] KONSEP AL-KASB AL-ASYARIYYAH DAN MODERNISASI DALAM ISLAM

    March 2014

    [02] SILABUS MATA KULIAH FILSAFAT UMUM

    February 2014

    [27] SILABUS MATA KULIAH FILSAFAT ILMU[26] MEMBONGKAR KEDOK LIBERALISME ISLAM DI INDONESIA[03] BANI UMAYYAH II : PERKEMBANGAN ISLAM DI SPANYOL ANDALUSIA

    January 2014

    [10] PERKEMBANGAN ISLAM PADA MASA ABBASIYAH

    September 2013

    [30] METODOLOGI STUDI ISLAM: MANUSIA DAN AGAMA[23] METODOLOGI STUDI ISLAM[22] PEMIKIRAN MODERN DALAM ISLAM SEBUAH KENISCAYAAN[21] SILABUS MATA KULIAH PMDI

    July 2013

    [06] SEJARAH AL-QURAN DALAM PANDANGAN THEODOR NOLDEKE (1836-1930)

    June 2013

    [02] MULLA SADRA DAN GAGASAN TEOSOFI TRANSENDEN

    May 2013

    [27] H. M. RASYIDI DAN HARUN NASUTION: TOKOH KALAM KONTEMPORER INDONESIA

    Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template

    Copyright 2011. Akidah Filsafat - All Rights Reserved

    Template Created by Creating Website Published by Mas Template

    Proudly powered by Blogger

    21Like

    Recommend this on Google

    Prev Post Next Post Home