embriologi kelenjar tiroid 2077

Download EMBRIOLOGI KELENJAR TIROID 2077

Post on 28-Nov-2015

80 views

Category:

Documents

5 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Mengenai Embriologi Kelenjar Tiroid

TRANSCRIPT

EMBRIOLOGI KELENJAR TIROIDPada embrio usia 4 minggu, divertikulum ventral (tiroid) yang berasal dari endodermal dapat diidentifikasi diantara lengkungan pertama dan kedua di dasar faring. Juga terletak diantara tuberkulum impar dan copula. (Tuberkulum impar bersama-sama dengan bejolan di lingual menjadi 2/3 bagian anterior dari lidah, dan copula merupakan precursor dari 1/3 posterior lidah.) Divertikulum ventral berkembang menjadi kelenjar tiroid. Selama masa perkembangan tuberkulum ventral turun kearah kaudal didalam jaringan mesodermal. Pada minggu ke-5, hubungan antara divertikulum tiroid dan dasar faring mulai menghilang. Pada minggu ke-6, hubungan antara divertikulum tiroid dan dasara farong telah mengalami obliterasi dan atrofi. Jika pada saat kelahiran hubungan tersebut tetap ada, dapat menimbulkan adanya kista duktus tiroglosus. Traktus ini berjalan dari superfisial, atau profuda kearah hyoid dan mencapai foramen caecum. (gambar 10-4).

Gambar 10-4 Embrio berusia 4 minggu

Tabel 10-2. Perkembangan Embrionik lidah

EMBRIOLOGI LIDAHLidah berasal dari jaringan ectodermal (bagian 2/3 anterior) dan entodermal (bagian posterior). Pada minggu ke-4, dua benjolan lingual terdapat di lengkungan pertama, dan sebuah benjolan; tuberkulum impar, berada diantara lengkungan pertama dan kedua. Ketiga bagian ini berkembang menjadi 2/3 anterior lidah. Pada saat yang sama benjolan lainnya berada diantara lengkungan kedua dan ketiga, dinamakan copula. Copula berkembang menjadi 1/3 posterior lidah. Pada minggu ke-7, bagian-bagian yang berasal area cervical yang lebih tinggi berdiferensiasi menjadi otot velunter lidah, papilla sirkumvalata berkembang diantara minggu ke- 8 dan ke-12 serta papilla filiform dan fungiform berkembang pada minggu ke-11 (table 10-2).

EMBRIOLOGI TONSIL DAN ADENOID1. Tonsila palatina (minggu ke-8) berkembang dari kantong kedua (ventral atau dorsal).2. Tonsila lingual (minggu ke-6) berkembang dari ectodermal diantara lengkungan kedua dan ketiga secara ventral.3. Adenoid (minggu ke-16) berkembang sebagai infiltrasi sub-epitelial dari limfosit.

EMBRIOLOGI KELENJAR LIUR1. Kelenjar parotis (minggu ke-5,5) berasal dari ectodermal dari kantong pertama.2. Kelenjar sub-maksila (minggu ke-6) berasal dari ectodermal dari kantong pertama.3. Kelenjar sub-lingual (minggu ke-8) berasal dari ectodermal dari kantong pertama.

EMBRIOLOGI HIDUNGPlacode hidung berasal dari ectodermal dan tampak diantara minggu ke-3 dan ke-4 masa gestasional (gambar 10-5A). menarik untuk diketahui bahwa pada tahap ini, mata telah ditempatkan, precursor aurikula yang berada dibawah prosesus mandibula, dan mulut adalah lebar. Dengan demikian, perkembangan embrionik yang abnormal pada tahap ini dapat menghasilkan karakteristik-karakteristik ini pada kehidupan post-natal.Pada minggu ke-5, placode menjadi berada dibawah permukaan dan tampak sebagai lubang yang mengalami invaginasi. Lubang nasal meluas hingga kebelakang mencapai rongga mulut namun dipisahkan oleh oleh membran bucconasal (gambar 10-5B). membran ini mengalami ruptur pada minggu ke-7 dan 8 masa gestasional untuk membentuk nares posterior. Kegagalan pada tahap perkembangan ini menyebabkan terjadinya atresia koana. Lubang nasal meluas hingga kebelakang juga keatas kearah otak bagian anterior. Epitelium disekitar otak bagian anterior menebal dan akan menjadi sel saraf olfaktorius.

Gambar 10-5 Perkembangan placode nasal. A. embrio usia 4 minggu B. embrio usia 5 minggu

Secara anterior, prosesus maksilaris ergabung dengan prosesus nasal bagian medial dan lateral untuk membentuk nares anterior. Penggabungan antara prosesus maksilaris dan prosesus nasalis lateral juga menciptakan sebuah lekukan yang disebut lekukan nasolakrimal. Epitelium yang terletak diatas lekukan tersebut akan tertutupi dan saat terserap, duktus nasolakrimal akan terbentuk, membuka pada aspek anterior meatus inferior. Duktus tersebut berkembang secara sempurna pada saat kelahiran.

Gambar 10-6. Perkembangan septum nasal

Prosesus frontonasal (mesodermal) merupakan prekursor septum nasal (gbr 10-6). Palatum primitif (premaksila) yang terletak secara anterior juga merupakan derivatif dari prosesus frontonasal (mesodermal). Secara posterior (gambar 10-7), septum terletak dibalik rongga mulut sampai minggu ke-9, dimana tumpukan palatum dari maksila bertumbuh kearah medial untuk bergabung dan bersama-sama dengan septum untuk membentuk palatum sekunder. Palatum durum dibentuk pada minggu ke-8 sampai 9 (gambar 10-8), dan palatum mole besrta uvula selesai dibentuk pada minggu ke-11 hingga 12.

Gambar 10-7. Perkembangan lebih lanjut dari septum nasal

Dari minggu ke-8 hingga minggu ke-24 masa kehidupan embrionik, lubang hidung ditutupi oleh sumbatan epitelial. Kegagalan dalam meresorbsi epitelium ini mengakibatkan atresia atau stenosis nares anterior.Bersama-sama dengan dinding lateral prekursor nasal, maksiloturbinal merupakan yang paling pertama muncul, diikuti oleh perkembangan 5 etmoturbinal dan 1 nasoturbinal. Tabel 10-3 memberikan gambaran derivatif dari tiap organ embrionik, dan tabel 10-4 memberikan jadwal perkembangan mereka.

EMBRIOLOGI LARINGGambar 10-9 memberikan gambaran perkembangan embrionik laring diantara minggu ke-8 dan minggu ke-28 masa kehidupan fetus.Keseluruhan sistem respirasi merupakan perkembangan diluar faring primitif. Pada mnggu ke-3,5, sebuah lekukan yang disebut lekukan laringotrakeal berkembang menjadi embrio pada aspek ventral dari perut. Lekukan ini hanya merupakan bagian posterior dari hipobranchial dan terletak mendekati lengkungan keempat daripada lengkungan ketiga. Selama masa perkembangan embrionik, struktur tuba nantinya akan menjadi struktur 2 tuba, tuba yang original akan mengalami obliterasi yang disebabkan oleh profilerasi epitelium, ketika resorbsi terjadi, tuba kedua dibentuk dan tuba pertama akan mengalami rekanulisasi. Dengan demikian, jika ada malformasi akan melibatkan kedua tuba. Proses petumbuhan ini mencatat bahwa lebih dari 90% fistula trakeoesofageal dihubung-hubungkan dengan atresia esofafgus. Selama masa perkembangan jaringan mesemkim yang bertumbuh kearah medial, menjepit lekukan ini akan menciptakan pembukaan yang terpisah. Dengan pematangan lebih lanjut, 2 tuba yang terpisah, esofagus dam apparatus laringotrakeal dibentuk.

Tabel 10-3. Embrionik Anlagen dan Derivatifnya

Pembukaan laringotrakeal ini merupakan aditus laringeal primitif dan berada diantara lengkungan keempat dan kelima. Pembukaan sagital diubah untuk menjadi pembukaan yang berbentuk T oleh pertumbuhan 3 massa jaringan. Yang pertama adalah jaringan hipobranchial, yang akan muncul pada minggu ke-3. Struktur mesodermal ini akan merangsang pertumbuhan furkula, yang nantinya akan berkembang menjadi epiglottis. Pertumbuhan keduda dan ketiga adalah massa aritenoid, yang akan muncul pada minggu ke-5. Kemudian, setiap pembengkakan aritenoid memberikan 2 pembengkakan yang pada nantinya akan menjadi matang menjadi kartilago kornikulata dan kuneifrom.Seiring berkembangnya massa pada saat antara minggu ke-5 dan 7, lumen laringeal akan mengalami obliterasi. Pada minggu ke-9, lumen dengan bentuk oval aktif kembali aktif. Kegagalan dalam rakanulisasi, masih dapat menyebabkan atresia atau stenosis dari laring. Ventrikel dibentuk pada minggu ke-12.Dua massa aritenoid dipisahkan oleh ikatan interaritenoid yang nantinya akan mengalami obliterasi. Kegagalan dalam obliterasi tersebut terjadi pada posterior kearah kartilago cricoids, dan membuka hingga esofagus. Ini yang menjadi penyebab aspirasi berat pada bayi baru lahir.

Tabel 10-4. Jadwal Perkembangan Nasal

Tabel 10-5 menunjukkan perkembangan muskular dan kartilago dari laring. Otot laringeal merupakan derivatif dari mesoderm lengkongan ketiga dan keempat dan diiniervasi oleh saraf kesepuluh. Laring anak-anak berada padadaerah antara cervical vertebra kedua dan ketiga. Pada dewasa, terletak di berlawanan arah dengan tubuh cervical vertebra ke-5. Tabel 10-6 menggambarkan perkembangan sinus-sinus paranasalis.

Gambar 10-9. Perkembangan laring pada fetus

OSIFIKASI RANGKA LARINGEALHyoidOsifikasi dari 6 pusatMulai pada saat kelahiran; selesai dalam 2 tahunTiroidMulai pada umur 20 23 tahun; mulai pada margin inferiorMeluas kearah posteriorMargin superior tidak pernah mengalami osifikasi.CricoidMulai pada umur 25 30 tahunTidak komplitBermula pada margin inferiorAritenoidMulai pada umur 25 30 tahunCELAH TELINGA TENGAHEmbriologi Telinga dan Deformitas Kongenital (Tabel 10-7A dan B )1. Embriologi telinga a. Telinga luar b. Telinga tengah c. Telinga dalam d. Nervus fasialis2. Deformitas konggenital a. Insiden b. Tuli pendengaran congenital c. Sindrom-sindrom lainnya d. Mikrosia, atresia e. Deformitas telinga luar f. Evaluasi tuli pendengaran kongenital. g. Audiologi3. Radiologi4. Manajemen a. Rekonstruksi Pina b. Atresia c. Perawatan alternatif

Tabel 10-5. Perkembangan Muskulus dan Kartilago Laringeal dengan Usia Embrionik

Tabel 10-6. Perkembangan Sinus Paranasalis

Tabel 10-7A. Embriologi Telinga

Tabel 10-7A. Lanjutan

Tabel 10-7B. Mikrosia-Atresia