dampak pembangunan perumahan terhadap perekonomian indonesia

Download Dampak Pembangunan Perumahan terhadap Perekonomian Indonesia

Post on 31-Oct-2014

673 views

Category:

Real Estate

5 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Kajian ini diharapkan dapat memebri masukan bagi tinjauan kebijakan perumahan di Indonesia. dilaksanakan bekerjasama dengan Biro Perencanaan dan Anggaran Kementerian Perumahan Rakyat

TRANSCRIPT

  • 1. PERANAN SEKTOR PERUMAHAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA Disiapkan oleh Djoni Hartono Program Pascasarjana Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia sebagai bahan masukan tinjauan terhadap kebijakan pembangunan perumahan dan kawasan permukiman hasil kerjasama dengan Biro Perencanaan dan Anggaran Kementerian Perumahan Rakyat Tahun 2011
  • 2. Ringkasan Eksekutif PERANAN SEKTOR PERUMAHAN TERHADAP PEREKONOMIAN INDONESIA Pemerintah Indonesia telah mencanangkan pengembangan sektor perumahan sebagaisalah satu prioritas pembangunan nasional yang tercantum dalam RPJM 2010-2014 dantertuang dalam substansi inti sendiri. Setidaknya terdapat tiga argumen yang mendukungkebijakan pemerintah tersebut. Pertama, rumah merupakan salah satu kebutuhan dasarmanusia yang menjadi hak bagi tiap warga negara sebagaimana yang diamanatkan dalamUndang-Undang Dasar (UUD) 1945 pasal 28H. Argumen kedua terkait dengan asaspemerataan bagi seluruh warga negara. Masyarakat berpendapatan rendah biasanya memilikiakses yang terbatas terhadap rumah. Rumah merupakan salah satu pengeluaran terbesardalam anggaran rumah tangga. Ketika pemerintah mampu menyediakan perumahan murah(dalam hal ini yang terjangkau oleh rumah tangga miskin), rumah tangga miskin akan mampumengalokasikan keuangannya ke kebutuhan dasar lainnya, seperti kesehatan atau pendidikan.Dengan kondisi kesehatan yang lebih baik dan pendidikan yang lebih tinggi tentu akanmembuka peluang bagi masyarakat miskin untuk mendapatkan kesejahteraan yang lebih baikdan keluar dari kemiskinan. Ketiga, pengembangan sektor perumahan akan memberikandampak langsung dan tidak langsung terhadap perekonomian melalui efek pengganda.Argumen yang terakhir inilah yang menjadi fokus penelitian dengan tujuan utama untukmenghitung dampak investasi sektor perumahan terhadap perekonomian Indonesia. Penelitian ini menganalisis dampak investasi sektor perumahan dengan menggunakanmetode Social Accounting Matrix (SAM). Tahap pertama dalam penelitian ini adalahmelakukan modifikasi dari Tabel SNSE yang diterbitkan BPS guna memunculkan sektorperumahan secara lebih detail yang direpresentasikan dengan sektor bangunan tempat tinggaldan sektor sarana dan prasarana perumahan. Tahap selanjutnya adalah menghitung matrikspengganda neraca SAM yang selanjutnya digunakan untuk menghitung dampak dari opsikebijakan yang mungkin diambil pemerintah terkait dengan investasi pada sektor perumahan.Terdapat tiga opsi kebijakan yang dapat dilakukan pemerintah dan dianalisa pada penelitianini, yakni (i) mengalokasikan dana sebesar 5 trilyun rupiah pada sektor bangunan tempattinggal; (ii) mengalokasikan dana sebesar 5 trilyun rupiah pada sektor sarana dan prasaranaperumahan; dan (iii) mengalokasikan dana pada sektor bangunan tempat tinggal dan sektorsarana dan prasarana perumahan masing-masing sebesar 2,5 trilyun rupiah. Secara umum hasil simulasi menunjukkan bahwa secara umum opsi kebijakaninvestasi pada sektor bangunan tempat tinggal lebih unggul dibandingkan dengan opsi 1
  • 3. kebijakan lainnya. Hal tersebut dapat dilihat dengan dampak positif yang relatif lebih besarbaik pada output sektoral, pendapatan faktor produksi, pendapatan rumah tangga danpenyerapan tenaga kerja. Selain itu, jika dilihat dampaknya terhadap PDB Indonesia makadiperkirakan kebijakan investasi pada sektor bangunan tempat tinggal sebesar 5 trilyun rupiahmampu mendorong perekonomian untuk tumbuh 0,30 persen lebih tinggi dibandingkandengan tanpa adanya kebijakan investasi. Ekspektasi peningkatan PDB tersebut lebih besarjika dibandingkan dengan opsi kebijakan kedua dan ketiga yang masing-masing memilikidampak sebesar 0,27 persen dan 0,28 persen. Jika dilihat dampak investasi sektor perumahan terhadap output sektoral maka dapatdisimpulkan bahwa dampak dari ketiga opsi kebijakan memiliki pola dan struktur yanghampir mirip. Kebijakan investasi pada sektor perumahan memiliki dampak positif yangrelatif cukup merata pada output sektor lain, yakni sekitar 0,1 0,3 persen. Hasil simulasimenunjukkan bahwa jika berdasarkan persentase perubahan output, dampak positif terbesardari investasi sektor perumahan pada ketiga skenario akan dirasakan oleh sektorpertambangan dan penggalian lainnya dan sektor kehutanan sebesar masing-masing antara0,39 persen sampai dengan 1.02 persen. Namun perlu dicatat bahwa dampak yang besartersebut lebih dikarenakan nilai dasar kedua sektor yang relatif sangat kecil dibandingkansektor lainnya dan struktur output kedua sektor tersebut. Salah satu pengguna utama outputsektor pertambangan dan penggalian lainnya dan sektor kehutanan adalah sektor perumahan.Selanjutnya jika dilihat dari nilai nominal perubahan output, dua sektor yang menerimadampak positif paling besar adalah sektor industri kimia (didalamnya termasuk semen) dansektor industri kertas dan barang dari logam. Hal tersebut sejalan dengan struktur input darikedua sub-sektor perumahan, dimana memiliki keterkaitan yang erat dengan sektor industrikimia dan sektor industri kertas dan barang dari logam. Hal lain yang cukup menarik adalahadalah rendahnya keterkaitan antara sub sektor konstruksi. Dalam hal ini adalah keterkaitanyang lemah antara sektor bangunan tempat tinggal, sektor sarana dan prasarana perumahandan sektor konstruksi lainnya. Hal tersebut ditunjukkan oleh dampak positif terkecil yangditerima oleh sektor sarana dan prasarana rumah dan sektor bangunan lainnya ketika opsikebijakan yang dipilih adalah investasi pada sektor bangunan tempat tinggal dan sebaliknyadampak positif terkecil akan diterima oleh sektor bangunan tempat tinggal dan sektorbangunan lainnya ketika opsi kebijakan yang dipilih adalah peningkatan investasi pada sektorsarana dan prasarana rumah. Investasi pada sektor perumahan diestimasikan juga memiliki dampak positif yangcukup signifikan pada pendapatan faktor produksi. Hasil simulasi menunjukkan bahwaseluruh tipe tenaga kerja akan menerima peningkatan pendapatan paling sedikit 0,19 persen.Dampak positif terbesar akan dirasakan oleh faktor produksi tenaga kerja manual/operatorsesuai dengan karakter sektor perumahan yang lebih banyak melibatkan tenaga kerjalapangan. Tenaga kerja manual/operator baik itu di desa maupun di kota, formal ataupuninformal diperkirakan akan mendapatkan kenaikan pendapatan antara 0,30 persen hingga0,45 persen. Peningkatan pendapatan faktor produksi tersebut tentu saja berimplikasi padapeningkatan pendapatan rumah tangga dengan besaran yang hampir mirip berkisar antara0,21 persen sampai dengan 0,29 persen. Secara lebih detail, kebijakan investasi sektorperumahan tersebut diestimasikan juga mampu meningkatkan pendapatan kelompok rumahtangga miskin hingga 0,27 persen untuk opsi pertama, dan masing-masing sebesar 0,24persen dan 0,25 persen untuk opsi kedua dan ketiga. 2
  • 4. Kebijakan investasi pada sektor perumahan diestimasikan juga akan menciptakanlapangan pekerjaan lebih dari 120 ribu orang untuk opsi kebijakan manapun. Penciptaanlapangan pekerjaan terbesar akan dihasilkan oleh kebijakan investasi pada sektor bangunantempat tinggal yakni sebesar 142.371 orang. Penciptaan lapangan pekerjaan terbesar keduadihasilkan oleh skenario ketiga yakni sebesar 134.806 orang. Sementara itu, jika pemerintahmemilih untuk mengalokasikan dana sebesar 5 trilyun rupiah seluruhnya pada sektor saranadan prasarana rumah maka akan menciptakan lapangan pekerjaan yang relatif lebih kecildibandingkan dengan skenario lainnya, yakni sebesar 127.240 orang. Secara lebih detail,hasil simulasi menunjukkan bahwa investasi sektor perumahan mampu mendorongpenyerapan tenaga kerja di sektor lain jauh lebih besar dibandingkan dengan sektor itusendiri. Selain itu, berdasarkan hasil simulasi juga dapat ditunjukkan bahwa kemampuaninvestasi sektor perumahan untuk menciptakan lapangan kerja di sektor itu sendiri tidak jauhberbeda antara satu opsi kebijakan dengan lainnya. Terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan pemerintah yang dapat diturunkan darihasil penelitian ini. Pertama, kebijakan investasi pada sektor bangunan tempat tinggalmerupakan pilihan kebijakan yang paling baik dilakukan oleh pemerintah. Selainmemberikan dampak positif yang relatif lebih besar terhadap perekonomian Indonesia,ketersediaan akan bangunan tempat tinggal juga berpotensi akan memberikan pengaruhpositif bagi psikologis dan kesehatan rumah tangga. Hal tersebut tentu saja akan berpengaruhterhadap produktifitas, namun hal ini tidak termasuk dalam cakupan studi. Kedua, jikapemerintah ingin mendorong sektor perumahan secara keseluruhan maka pemerintah harusmempertimbangkan kebijakan kombinasi investasi pada sub-sub sektor perumahan. Haltersebut dikarenakan investasi pada sektor bangunan tempat tinggal ternyata tidak serta mertaakan mendorong peningkatan sektor sarana dan prasarana perumahan dan sebaliknyadikarenakan keterkaitan antar sektor yang lemah. Ketiga, pemerintah perlu memperhatikan sektor-sektor yang mensuplai input sektorperumahan. Jika sektor yang memproduksi input utama sektor perumahan tidak mampumengimbangi pertumbuhan sektor perumahan dan sektor lainnya, maka ekspektasipeningkatan output yang disajikan oleh analisis IO akan sulit tercapai. Hasil studi inimenunjukkan bahwa terjadi peningkatan output yang cukup signifikan pada sektor-sektoryang berperan sebagai feeder sektor perumahan jika dihitung dengan nilai nominalperubahan. Selain itu, pemerintah juga perlu mempertimbangkan gencarnya pembangunan

Recommended

View more >