cak januari 2015

Download CAK Januari 2015

Post on 07-Apr-2016

225 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Catatan Arek Kampus Edisi Januari 2015

TRANSCRIPT

  • E D I S I D E S E M B E R 2 0 1 4K O R A N C I V I TA S A K A D E M I K A I T S

    I N S P I R A T I F . S O L U T I F . T E R P E R C A Y A

    CATATAN AREK KAMPUS

    Hari menjelang siang di Sukolilo Surabaya, ketika seo-rang pria paruh baya dengan celana hitam dan seragam batik hijau sibuk dengan tugasnya mengepel lantai utama Masjid Manarul Ilmi. Nampak wajah yang begitu bersahaja sedang memberikan senyum dan men-yapa para jamaah yang berada di area Masjid.

    Pria kelahiran 41 tahun silam itu bernama lengkap

    Muhammad Suparjo. Cak Jo panggilan akrabnya. Cak Jo memulai cerita bahwa, ia telah bertugas di masjid Manarul sejak 21 tahun yang lalu, Umur saya saat itu 19 tahun ketika di-tawari menjadi Muadzim karena memang kondisi saat itu Masjid sedang butuh muadzim seka-ligus mengurus Masjid secara keseluruhan.

    21 tahun adalah waktu yang tidak sebentar untuk meng-

    abdi di Masjid dari masa orde baru hingga sekarang, Cak Jo menjadi saksi perkembangan manarul hingga perjuangan teman-teman Muslim pada zaman tersebut. Tidak heran dari tahun ke tahun, Cak Jo dekat dengan aktivis mahasiswa pen-gurus Jamaah Masjid Manarul Ilmi (JMMI) yang merupakan suatu perkumpulan mahasiswa muslim di ITS.

    CAK JO: 21 TAHUN MENGABDI DI MANARUL ILMICATATAN FADIA FADZLIYANA SAIFUDDIN

    Cak Jo SUMBER: ibrsewalensa

    Pemilihan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya periode 2015-2019 dimulai semenjak bulan Desember 2014 kemarin. Diperkirakan 18.800 sivitas akademika menyalurkan hak pilihnya di Plaza Dr. Angka dan beberapa titik lain di areal kampus. Sekitar 17.000 ma-hasiswa, 1.000 dosen, dan 800 karyawan turut mengambil bagian pada pencoblosan yang berlangsung hingga Rabu 10 Desember 2014.

    Keseluruhan tahap proses pemilihan Rektor ITS untuk masa jabatan 2015-2019, meli-puti penjaringan, penyaringan, dan pemilihan, kemudian diatur dengan Peraturan Senat ITS.

    Peraturan Senat ITS membagi civitas akademika menjadi tiga unsur: mahasiswa, karyawan,

    dan dosen. Bobot suara ma-hasiswa bernilai 1, sedangkan bobot karyawan dan dosen mas-ing-masing 3 dan 5. Pemilihan oleh civitas akademika ITS akan menyaring bursa calon rektor menjadi 5 bakal calon rektor dengan perolehan suara tertinggi.

    Tahap selanjutnya dalam pemilihan rektor ITS adalah pemilihan oleh Senat ITS. Dari 5 bakal calon rektor yang ter-pilih akan disaring menjadi 3 calon rektor ITS. Ketiga calon rektor tersebut akan diserahkan ke Mendikbud untuk diseleksi. Pada pemilihan rektor, ber-dasarkan Permendikbud Nomor 33 Tahun 2012, senat meme-gang 65% suara sedangkan Mendikbud memegang 35% suara.

    (Bersambung ke hal 11)

    PEMILIHAN REKTOR MEMASUKI BABAK AKHIRCATATAN FADIA FADZLIYANA SAIFUDDIN

    (Bersambung ke hal 11)

    Ketiga calon rektor ITS berfoto bersama. Joni Hermana, Djauhar Manfaat, dan Eko Budi Djatmiko (urut dari kiri ke kanan) SUMBER: okezone.com

  • I T S U P D AT E

    BUS LISTRIK ITS LENGKAPI KOMPONEN ECO-CITY

    SUMBER: ITS Online

    Hadirnya Bus Listrik buatan Institut Teknologi Sepuluh Nopember disambut positif oleh Ir Tri Risma Harini MT, Wali Kota Surabaya. Pasalnya, Bus Listrik ITS dinilai mendukung Surabaya sebagai kota metropolitan berwawasan lingkungan. Hal tersebut diungkapakannya pada

    acara peresmian Bus Listrik ITS dalam Surabaya Car-Free-Day , Minggu (11/23).

    Eco-City di Surabaya sudah terealisasi dengan adanya bus listrik, terimakasih ITS, ungkap Risma senang. Betapa tidak, adanya bus listrik tersebut memang menjadi jawaban

    atas berbagai polemik krisis bahan bakar minyak (BBM) di Indoensia. Bahkan, Risma me-ngungkapkan kehadiran bus ini telah memperjelas gamba-rannya terhadap Surabaya se-bagai Eco-City.

    Saat ditanya mengenai ren-cana menjadikan mobil listrik ITS sebagai transportasi massal di Surabaya, Risma menjawab dengan ekspresi wajah optimis. Terutama untuk mobil pribadi. Kalau bus listrik ini bisa dikem-bangkan, berarti mobil pribadi juga bisa dikembangkan, ujar Risma.

    Menanggapi hal tersebut, Dr Muhammad Nur Yuniarto me-nerangkan dibutuhkan tahap penyempurnaan lebih lanjut ter-hadap mobil tersebut. Ketua Tim Penelitian Mobil Listrik ITS ini mengaku berbagai uji kelayakan dan uji coba jalan juga sudah dilakukan. Bahkan rencananya, bus hasil kerjasama antara ITS dengan PT Telkomsel tersebut

    akan resmi beroperasi sebagai bus kampus setelah diuji coba untuk rute pertamanya, Minggu (30/11).

    Lebih lanjut, Nur men-jelaskan dengan ukuran 2,1 kali 6 meter, bus tersebut mampu menampung sebanyak 26 pen-umpang. Selain itu, adanya sumber tenaga tambahan be-rupa panel surya yang berada di atap bus juga menambah kesan cangih bus yang menelan dana Rp 1,5 milyar itu.

    Di akhir, pihaknya juga op-timis panel surya tersebut nan-tinya akan menyuplai energi sebesar 20 persen dan sisanya disuplai oleh baterai. Pun de-mikian, bus tersebut telah mampu menempuh jarak se-jauh 160 kilometer setelah diisi penuh selama delapan sampai sepuluh jam. Tak hanya itu, dalam jangka waktu satu tahun ke depan kami juga akan mem-bangun stasiun pengisinya, papar Nur. (ao/man)

    (sumber: www.its.ac.id)

    SPIE ITS GELAR KULIAH TAMU 3D WAYANG KULITCATATAN FAUZI BAHRUDIN

    The Society of Photo-optical Instrumentation Engineers (SPIE) Chapter ITS beker-jasama dengan Optical Society of America (OSA), menggelar kuliah tamu dengan tema When Arts Meet Technology di Jurusan Teknik Fisika, Jumat (19/12/14).

    Dalam acara tersebut, panitia mengundang langsung salah satu pakar optik, yaitu Dr. Gea Oswah Fatah Parikesit. Ia menggangkat topik 3D Wayang Kulit: Traditional Shadow Pupperty Meets Modern Display Technology sebagai bahasan pada kuliah tamu tersebut.

    Untuk memudahkan pe-serta kuliah dalam memahami idenya, Gea menyuruh para pe-serta untuk melakukan simulasi sederhana dengan mengangkat salah satu tangan sejajar dengan pandangan mata. Kemudian, mata sebelah kiri dan kanan ditutup bergantian. Ketika mata kanan ditutup, tangan

    seolah-olah bergeser sedikit ke kanan.Dan ketika mata kiri ditutup, akan bergeser sebali-knya. Tapi berbeda jika objek yang dipandang lebih jauh. Pergeserannya akan lebih se-dikit. Begitulah cara Anda mengetahui dekat atau jauh, ujar dosen Jurusan Teknik Fisika (JTF), Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.

    Dengan menggunakan konsep eye-crossing, alumnus Technische Universiteit Delft Belanda ini menggunakan dua sumber cahaya dengan warna yang berbeda. Pada praktiknya, Gea memilih filter warna merah dan cyan untuk memberikan pandangan berbeda pada mata kiri dan mata kanan, sehingga terjadi eye-crossing. Dengan kondisi penglihatan seperti itu, otak akan menerjemahkan objek tampak seperti tiga dimensi.

    Efek tiga dimensi dalam hal ini bukan memberikan tampilan

    wayang kulit yang flat kemudian menjadi berbentuk. Tetapi yang dimaksud adalah memberikan efek seolah-olah wayang kulit tersebut keluar dari layar, tambahnya.

    Gea memaparkan dua metode yang digunakan, adalah metode non-flat screen dengan-curved & cornered screen dan non-static lights dengan spec-

    tral & spatial control. Pada ap-likasinya, konsep wayang kulit tiga dimensi ini diharapkan tidak hanya menjadi jurnal saja, namun juga menjadi pertun-jukkan sungguhan. Lebih jauh lagi, ini adalah pendidikan optik untuk mendorong rasa keingin-tahuan mahasiswa, paparnya. (fzb)

    Bu Risma bersama Pak Triyogi ketika launching Molina

    Budaya Wayang Kulit Tradisional SUMBER: Wikipedia

    2 C A K | J A N U A R I 2 0 1 5

  • I T S U P D AT E

    Usai sudah serangkaian ke-giatan mentoring di semester ganjil ini. Secara resmi men-toring wajib bagi mahasiswa muslim ITS 2014 ditutup oleh Badan Pelaksanaan Mentoring (BPM) Jamaah Masjid Manarul Ilmi (JMMI) ITS, Minggu (7/12). Bertempat di Gedung Robotika ITS, acara yang bertajuk Mentoring Klasikal tersebut menghadirkan Ustadz Solikhin Abu Izzudin sebagai pembicara. Tak hanya itu, kegiatan tersebut kemudian diakhiri dengan Ujian Akhir Semester (UAS) mento-ring yang dilakukan serentak di semua jurusan di ITS.

    Kurang lebih 2000 mahasiswa muslim ITS mengikuti acara yang bertema From Zero to Hero ini. Tidak tanggung-tang-gung, pemateri pada mento-ring klasikal ini adalah seorang

    penulis buku terkenal yang juga pakar mentor pelatihan spiritual, Ustadz Solikhin Abu Izzudin.

    Dalam pemaparannya, pria yang pernah menulis delapan buku ini mengungkapkan bahwa untuk menjadi seorang pahlawan maka harus berangkat dari bawah dahulu. Dalam menapaki langkah menuju hero tersebut dibutuhkan sifat yang jauh dari rasa sakit hati, iri hati, dan dengki.

    Selain itu, sebagai pemuda yang sedang berjuang menata masa depan juga harus mempu-nyai sifat produktif. Maksudnya, mumpung masih muda dan kuat maka jangan menggunakan waktunya untuk tidur saja. Perlu aksi dan semangat yang membara, jangan cuman bicara dan dijadikan angan-angan saja,

    apalagi kebanyakan tidur, jelas pria asal Solo ini.

    Dikatakan Solikhin, untuk visi from zero to hero sendiri yakni meliputi ungkapan big is powerful, medium is wonderful dan small is beautiful. Artinya, untuk bisa menjadi besar dan kuat maka harus dimulai dari hal terkecil dahulu. Apabila bisa membuat hal kecil tersebut menjadi baik maka akan terlihat indah. Selanjutnya aksi kecil kita tadi pasti akan berkem-bang menjadi sebuah keajaiban besar yang belum pernah kita bayangkan, lanjut pria penulis buku berjudul From Zero to Hero ini.

    Kemudian, Solikhin juga menyadari jika permasalahan yang sering terjadi di kalangan pemuda adalah sedih, galau, dan gelisah. Menurutnya, hal itu ter-jadi karena memang perasaan anak muda masih terbilang labil dan acap kali berubah pikiran. Tetapi, ia yakin apabila ada seorang pemuda bisa melawan kesedihannya itu maka pemuda itu akan lebih kuat lagi di masa yang akan datang.

    Koordinator acara Mentoring Klasikal tersebut, Manas Zulfikar