bab i_ppg kecamatan gamping

Click here to load reader

Post on 02-Jan-2016

164 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB IPENDAHULUAN

1. Latar BelakangPembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari upaya peningkatan kualitas kehidupan manusia dan masyarakat Indonesia. Untuk mencapai keberhasilan pembangunan kesehatan tersebut diperlukan kebijakan pembangunan kesehatan yang lebih dinamis dan proaktif dengan melibatkan semua faktor terkait, pemerintah, swasta dan masyarakat.Gampingadalah sebuahkecamatandiKabupaten Sleman Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia,. Kecamatan Gamping Sleman merupakan sebagai kawasan penyangga pengembangan kota Yogyakarta ke arah barat. Pusat kecamatan Gamping berada di dusun Patukan, KelurahanAmbarketawang. Pemerintah Kecamatan Gamping merupakan kecamatan bertipe B (Pola Maksimal).Kecamatan Gamping terbagi dalam 5 kelurahan, 59 dusun, 187 Rukun Warga (RW), dan 529 Rukun Tetangga (RT), dengan luas wilayah kurang lebih 2683 Ha. Kecamatan Gamping memiliki penduduk tidak kurang dari 69.998 jiwa, yang terdiri dari 34.878 laki-laki, dan 35.120 perempuan, dengan 13.891 Kepala Keluarga. Secara topografi, wilayah kecamatan gamping relatif datar kecuali di sebagian wilayah selatan Kecamatan Balecatur dan Ambarketawang yang berupa pegunungan. Sebanyak 1.348 Ha tanah terletak dibawah 100 mdpl, 1.577 ha lainnya terletak di ketinggian 100-499 mdpl.Kecamatan Gamping memiliki Sarana Kesehatan yang berupa Kantor Pelayanan Kesehatan Kecamatan yang terdiri dari 5 Kantor Pembantu yang terletak di masing-masing kelurahan. 6 Apotek, dan 2 Laboratorium Klinik. Sarana pendidikan di Kecamatan Gamping meliputi 44 TK, 40 SD, 1 SLB Dasar, 6 SMP, dan 6 SMA, dan 2 Perguruan Tinggi. Di antara sekolah pendidikan tersebut adalah SMA 1 Gamping, SMK Maritim Putra Samudra,SMA Proklamasi 1945, SMEA YPKK, Sekolah Tinggi Pertanahan Negara (STPN), dan Politeknik Kesehatan Yogyakarta.Masalah gizi masih merupakan masalah serius yang dihadapi sebagian besar penduduk Indonesia. Kekurangan energi dan protein, Anemia, Obesitas, Kekurangan vitamin A, gangguan Kekurangan Yodium merupakan masalah gizi yang masih menjadi perhatian yang serius oleh pemerintah Indonesia. Kebijakan-kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pencegahan dan penanganan masalah gizi di Indonesia telah ditetapkan, seperti suplementasi Fe, suplementasi Vitamin A dosis tinggi, garam beryodium, dan pembagian makanan tambahan (PMT). Namun, permasalahan gizi masih banyak terdapat di Indonesia.Berdasarkan perkembangan masalah gizi, di Sleman pada tahun 2011 diperkirakan sekitar 62.009 balita yang dipantau menurut indikator BB/U (berat badan menurut umur) terdapat status gizi buruk 0,50%, gizi kurang 8,27%, gizi baik 88,52%, gizi lebih 2,72%. (Dinkes, 2011)Masalah gizi yang tersebut di atas merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penanggulangannya tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Konsumsi zat gizi yang salah serta adanya kejadian infeksi penyakit merupakan penyebab dari masalah gizi. Konsumsi zat gizi yang salah serta adanya kejadian infeksi penyakit erat kaitannya dengan rendahnya perekonomian di tingkat rumah tangga yang merupakan imbas dari krisis ekonomi dan politik serta SDM yang rendah.Berbagai permasalahan yang telah disampaikan di atas menjadikan dasar mahasiswa melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) Pengumpulan data dasar di kecamatan Gamping, Sleman, Yogyakarta yang selanjutnya hasil dari pengumpulan data dasar akan digunakan untuk bahan pertimbangan untuk melakukan intervensi gizi di daerah tersebut.

1. Tujuan 0. Tujuan UmumMengetahui informasi mengenai jenis dan besar masalah pada balita, usila dan ibu hamil serta faktor terkait sebagai bahan masukan dalam menyusun rencana intervensi gizi di Kecamatan Gamping. 0. Tujuan Khusus0. Diketahui keadaan umum geografis Kecamatan Gamping.0. Diketahui keadaan demografi penduduk Kecamatan Gamping.0. Diketahui pencapaian pembangunan kesehatan di Kecamatan Gamping.0. Diketahui status ekonomi penduduk Kecamatan Gamping.0. Diketahui penggunaan garam penduduk Kecamatan Gamping.0. Diketahui cara penyimpanan garam penduduk Kecamatan Gamping.0. Diketahui sex rasio balita.0. Diketahui penyakit pada balita.0. Diketahui tingkat pengetahuan gizi ibu balita0. Diketahui status gizi balita0. Diketahui kecukupan zat gizi yang dikonsumsi balita.0. Diketahui hubungan antara pengetahuan gizi ibu balita dan pemberian ASI Ekslusif terhadap sakit pada balita selama 1 bulan terakhir.0. Diketahui hubungan antara pengetahuan, pendidikan, dan pekerjaan orang tua terhadap status gizi balita.0. Diketahui hubungan antara kejadian sakit pada balita terhadap status gizi balita.0. Diketahui hubungan antara kecukupan energi dan protein terhadap status gizi pada balita.0. Diketahui tingkat pengetahuan ibu hamil tentang gizi 0. Diketahui status gizi KEK ibu hamil berdasarkan LILA.0. Diketahui prosentase gangguan kehamilan.0. Diketahui kecukupan zat gizi ibu hamil. 0. Diketahui sex ratio pada usila.0. Diketahui status gizi pada usila.0. Diketahui aktivitas fisik usila.0. Diketahui kebiasaan makan usila.0. Diketahui penyakit pada usila.

1. Manfaat0. Bagi Mahasiswaa. Sebagai lahan pembelajaran intervensi gizi.b. Sebagai latihan konsultasi.c. Menerapkan ilmu yang telah diperoleh pada saat kuliah, khususnya mata kuliah Perencanaan Program Gizi (PPG).0. Bagi Masyarakat Kecamatan Gampinga. Memberi informasi tentang masalah gizi balita, ibu hamil, dan usila.b. Menambah pengetahuan mengenai pangan dan gizi

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

1. Kesehatan Kesehatan adalah keadaan sejahtera bagi badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan, menyatakan bahwa kesehatan sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia dan diarahkan untuk mempertinggi derajat kesehatan. Dengan memperhatikan peranan kesehatan di atas, diperlukan upaya yang lebih memadai bagi peningkatan derajat kesehatan dan pembinaan penyelenggaraan upaya kesehatan secara menyeluruh dan terpadu. Status kesehatan dan gizi dipengaruhi oleh lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan genetik. Lingkungan adalah area dari seluruh kondisi dan pengaruh-pengaruh luar yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan suatu organisasi. Faktor lingkungan antara lain lingkungan fisik, biologis dan sosial memegang peranan yang terbesar dalam menentukan status kesehatan dan gizi. Secara umum lingkungan ini dibedakan atas 2 macam yaitu :0. Lingkungan fisik adalah lingkungan alamiah yang terdapat di sekitar manusia. Lingkungan fisik ini banyak macamnya misalnya cuaca, musim, keadaan geografis dan struktur geologi.0. Lingkungan non fisik adalah lingkungan yang muncul sebagai akibat adanya interaksi antar manusia, misalnya faktor sosial, budaya, biologis norma, nilai dan adat-istiadat.Faktor yang cukup berpengaruh terhadap status kesehatan dan gizi adalah faktor perilaku yang berkaitan dengan pengetahuan dan pendidikan yang menentukan perilaku seseorang atau kelompok untuk berperilaku sehat dan tidak sehat.Faktor pelayanan kesehatan memegang peranan yang lebih kecil dalam menentukan status kesehatan dan gizi dibandingkan dengan kedua faktor tersebu.Faktor keturunan mempunyai pengaruh yang lebih kecil dibandingkan faktor lingkungan, perilaku dan pelayanan kesehatan. Dengan demikian disarankan dalam peningkatan status kesehatan dan gizi disamping peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehtan dan gizi harus disertai dengan upaya perbaikan lingkungan dan perilaku masyarakat yang berdampak positif pada status kesehatan dan gizi.

1. Gizi dan Pembangunan Visi pembangunan kesehatan nasional yaitu masyarakat sehat dan mandiri menuju Indonesia sehat 2010. Suatu gambaran masyarakat yang ingin dicapai dalam perwujudan Indonesia sehat 2010 yaitu masyarakat yang berbentuk perorangan, keluarga dan komunitas yang sehat serta mandiri mampu memelihara kesehatannya.

Misi Pembangunan Kesehatan Nasional yaitu :0. Meningkatkan status kesehatan perorangan, keluarga, komunitas dan masyarakat.0. Menanggulangi berbagai masalah kesehatan masyaraket sesuai dengan skala prioritas.0. Menggalang kerjasama dengan berbagai potensi untuk penyelenggaraan progam kesehatan masyarakat.0. Meningkatkan peran serta dan kemandirian masyarakat dalam pemeliharaan kesehatan.Secara makro, peningkatan aktivitas ekonomi untuk mengurangi jumlah penduduk miskin merupan suatu keharusan. Kemiskinan dan gizi buruk adalah suatu fenomena yang saling terkait. Karena itu, meningkatkan status gizi masyarakat terkait erat dengan peningkatan aktivitas ekonomi. Peningkatan penduduk miskin berbanding lurus dengan peningkatan angka balita yang menderita gizi buruk. Segenap upaya para orang tua dan pemerintah untuk mengurangi dan mengantisipasi terjadinya gizi buruk pada balita, dinisbahkan untuk menciptakan generasi unggul yang nantinya mengawal pembangunan Nasional. Sebab, keberhasilan pembangunan Nasional bergantung pada generasi saat ini.

1. Masalah GiziMasalah gizi yang sering dijumpai di beberapa negara berkembang yaitu kekurangan energi, protein dan zat besi. Kekurangan vitamin A juga sering dijumpai tetapi tidak disemua negara. Kekurangan gizi lain yang sempat berpengaruh terhadap kesehatan yaitu Iodium, Vitamin D dan Vitamin C. pengamatan awal seharusnya dipusatkan pada keadaan kekurangan yang sangat menonjol dan paling dominan. Boleh jadi ada beberapa kekurangan gizi yang tidak nyata berpengaruh pada kesehatan, tetapi ini diperlukan untuk penelitian dari sistim kewaspadaan pangan dan gizi. (roedjito,1990).1. Kurang Energi Protein (KEP)2. Definisi Kurang Energi Protein (KEP)Kurang energi protein (KEP) yaitu seseorang yang kurang gizi yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi protein dalam makan sehari-hari dan atau gangguan penyakit tertentu sehingga tidak memenuhi angka kecukupan gizi (AKG). Anak disebut KEP apabila berat badannya kurang dari 80% indeks BB untuk baku standar WHO-NCHS (Depkes RI, 1998).2. Penyebab Kurang Energi Protein (KEP)KEP adalah manifestasi dari kurangnya asupan protein dan energi, dalam makanan sehari-hari yang tidak memenuhi angka kecukupan gizi (AKG), dan biasanya juga diserta adanya kekurangan dari beberapa nutrisi lainnya. Disebut malnutrisi primer bila kejadian KEP akibat kekurangan asupan nutrisi, yang pada umumnya didasari oleh masalah sosial ekonomi, pendidikan serta rendahnya pengetahuan dibidang gizi. Malnutrisi sekunder bila kondisi masalah nutrisi seperti diatas disebabkan karena adanya penyakit utama, seperti kelainan bawaan, infeksi kronis ataupun kelainan pencernaan dan metabolik, yang mengakibatkan kebutuhan nutrisi meningkat, penyerapan nutrisi yang turun dan atau meningkatnya kehilangan nutrisi.Makanan yang tidak adekuat, akan menyebabkan mobilisasi berbagai cadangan makanan untuk menghasilkan kalori demi penyelamatan hidup, dimulai dengan pembakaran cadangan karbohidrat kemudian cadangan lemak serta protein dengan melalui proses katabolik. Jika terjadi stres katabolik (infeksi) maka kebutuhan akan protein akan meningkat, sehingga dapat menyebabkan defisiensi protein yang relatif, jika kondisi ini terjadi pada saat status gizi masih diatas -3 SD (-2SD--3SD), maka terjadilah kwashiorkor (malnutrisi akut atau decompensated malnutrition). Pada kondisi ini penting peranan radikal bebas dan anti oksidan. Bila stres katabolik ini terjadi pada saat status gizi dibawah -3 SD, maka akan terjadilah marasmik-kwashiorkor. Kalau kondisi Kekurangan ini terus dapat teradaptasi sampai dibawah -3 SD maka akan terjadilah marasmik (malnutrisi kronik atau compensated malnutrition). Dengan demikian pada KEP dapat terjadi : gangguan pertumbuhan, atrofi otot, penurunan kadar albumin serum, penurunan hemoglobin, penurunan sistem kekebalan tubuh, penurunan berbagai sintesa enzim.2. Gejala Klinis KEP Secara klinis KEP terdapat dalam 3 tipe yaitu :1) Kwashiorkor, ditandai dengan : edema, yang dapat terjadi di seluruh tubuh, wajah sembab dan membulat, mata sayu, rambut tipis, kemerahan seperti rambut jagung, mudah dicabut dan rontok, cengeng, rewel dan apatis, pembesaran hati, otot mengecil (hipotrofi), bercak merah ke coklatan di kulit dan mudah terkelupas (crazy pavement dermatosis), sering disertai penyakit infeksi terutama akut, diare dan anemia.2) Marasmus, ditandai dengan : sangat kurus, tampak tulang terbungkus kulit, wajah seperti orang tua, cengeng dan rewel, kulit keriput, jaringan lemak sumkutan minimal/tidak ada, perut cekung, iga gambang, sering disertai penyakit infeksi dan diare.3) Marasmus kwashiorkor, campuran gejala klinis kwashiorkor dan marasmus.2. Deteksi KEPKEP dapat dideteksi dengan cara antropometri yaitu mengukur BB dan umur yang dibandingkan dengan indeks BB untuk standar WHO-NCHS sebagaimana tercantum dalam KMS (Depkes RI, 1998).1) Deteksi Klinik : anamnesis (terutama anamnesis makanan, tumbuh kembang, serta penyakit yang pernah diderita) dan pemeriksaan fisik (tanda-tanda malnutrisi dan berbagai defisiensi vitamin)2) Deteksi Laboratorik : terutama Hb, albumin, serum ferritin3) Anthropometrik : BB/U (berat badan menurut umur), TB/U (tinggi badan menurut umur), LILA/U (lingkar lengan atas menurut umur), BB/TB (berat badan menurut tinggi badan), LLA/TB (lingkar lengan atas menurut tinggi badan)4) Analisis diet2. Penanggulangan KEPPelayanan gizi balita KEP pada dasarnya setiap balita yang berobat atau dirujuk ke rumah sakit dilakukan pengukuran berat badan, tinggi badan dan LILA untuk menentukan status gizinya, selain melihat tanda-tanda klinis dan laboratorium. Penentuan status gizi maka perlu direncanakan tindakan sebagai berikut : 1) Balita KEP ringan, memberikan penyuluhan gizi dan nasehat pemberian makanan di rumah (bilamana pasien rawat jalan, dianjurkan untuk memberi makanan di rumah (bayi umur < 4 bulan) dan terus diberi ASI sampai 3 tahun.2) Balita KEP sedang :1. Penderita rawat jalan : diberikan nasehat pemberian makanan dan vitamin serta teruskan ASI dan pantau terus berat badannya.1. Penderita rawat inap : diberikan makanan tinggi energi dan protein, dengan kebutuhan energi 20-50% diatas kebutuhan yang dianjurkan (angka kecukupan gizi/AKG) dan diet sesuai dengan penyakitnya.1. Balita KEP berat : harus dirawat inap dan dilaksanakan sesuai pemenuhan kebutuhan nutrisinya. Pelayanan gizi (Depkes RI, 1998)2. Kegiatan penanggulangan KEP balitaKegiatan penanggulangan KEP balita meliputi :1) Penjaringan balita KEP yaitu kegiatan penentuan ulang status gizi balita beradsarkan berat badan dan perhitungan umur balita yang sebenarnya dalam hitungan bulan pada saat itu.Cara penjaringan yaitu balita dihitung kembali umurnya dengan tepat dalam hitungan bulan, balita ditimbang berat badannya dengan menggunakan timbangan dacin, berdasarkan hasil perhitungan umur dan hasil pengukuran BB tersebut tentukan status gizi dengan KMS atau standar antropometri.2) Kegiatan penanganan KEP balita meliputi program PMT balita adalah program intervensi bagi balita yang menderita KEP yang ditujukan untuk mencukupi kebutuhan zat gizi balita gar meningkat status gizinya sampai mencapai gizi baik (pita hijau dalam KMS), pemeriksaan dan pengobatan yaitu pemeriksaan dan pengobatan untuk mengetahui kemungkinan adanya penyakit penyerta guna diobati seperlunya sehingga balita KEP tidak semakin berat kondisinya, asuhan kebidanan/keperawatan yaitu untuk memberikan bimbingan kepada keluarga balita KEP agar mampu merawat balita KEP sehingga dapat mencapai status gizi yang baik melalui kunjungan rumah dengan kesepakatan keluarga agar bisa dilaksanakan secara berkala, suplementasi gizi/ paket pertolongan gizi hal ini diberikan untuk jangka pendek. Suplementasi gizi meliputi : pemberian sirup zat besi; vitamin A (berwarna biru untuk bayi usia 6-11 bulan dosis 100.000 IU dan berwarna merah untuk balita usia 12-59 bulan dosis 200.000 IU); kapsul minyak beryodium, adalah larutan yodium dalam minyak berkapsul lunak, mengandung 200 mg yodium diberikan 1x dalam setahun.2. Penatalaksanaan KEP Prosedur tetap pengobatan dirumah sakit : Prinsip dasar penanganan 10 langkah utama (diutamakan penanganan kegawatan).1) Penanganan hipoglikemi2) Penanganan hipotermi3) Penanganan dehidrasi4) Koreksi gangguan keseimbangan elektrolit5) Pengobatan infeksi6) Pemberian makanan7) Fasilitasi tumbuh kejar8) Koreksi defisiensi nutrisi mikro9) Melakukan stimulasi sensorik dan perbaikan mental10) Perencanaan tindak lanjut setelah sembuh2. Anemia a. Definisi AnemiaAnemia adalah keadaan dimana jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pembawa oksigen) dalam sel darah merah berada dibawah normal. Sel darah merah mengandung hemoglobin, yang memungkinkan mereka mengangkut oksigen dari paru-paru dan mengantarkannya ke seluruh bagian tubuh. Anemia menyebabkan berkurangnya jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin dalam sel darah merah, sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen dalam jumlah sesuai yang diperlukan tubuh. Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar 30 kg/m2. Untuk orang Asia, kriteria obesitas apabila IMT > 25kg/m2. Korelasi antara IMT dengan lemak tubuh sangat erat ( r 0,7-0,8 ). Untuk praktisnya pengukuran lemak tubuh digunakan lingkar pinggang atau indeks masa tubuh. Berbagai komplikasi obesitas lebih erat hubungannya dengan obesitas sentral, yang penetapannya paling baik dengan mengukur lingkar pinggang. Apabila lingkar pinggang > 90 cm pada pria dan > 80 cm pada wanita, sudah termasuk obesitas sentral (untuk orang Asia). Masa kini banyak orang beranggapan kegemukan dapat mengurangi keindahan tubuh, mengurangi kelincahan gerak tubuh dan sering lebih mudah menimbulkan kelelahan. Selain itu kelebihan berat badan dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan dan dihubungkan dengan meningkatnya bermacam penyakit seperti : diabetes mellitus (DM) (penyakit gula), hipertensi, penyakit jantung koroner dan stroke. Pada wanita bisa terjadi kelainan haid, keputihan, kemandulan serta penyakit kulit di lipatan paha dan payudara. Obesitas juga sering dihubungkan dengan gangguan pernapasan, rematik, varises, hernia dan penyakit batu empedu.Para peneliti mendapatkan risiko untuk menderita DM baik pada pria maupun wanita menjadi naik beberapa kali berhubungan dengan kenaikan IMT. Terdapat hubungan yang kuat antara IMT dengan hipertensi. Wanita yang obese memiliki risiko hipertensi 3 - 6 kali dibanding wanita dengan berat badan normal. Kelebihan berat badan juga berhubungan dengan kematian (20-30&) karena penyakit kardiovaskuler. Pria dan wanita yang overweight atau obese mempunyai risiko 2-3 kali terkena penyakit kardiovaskuler. Pada remaja berisiko lebih dari 2 kali lipat meninggal karena penyakit jantung koroner pada masa dewasa. Obesitas juga mengurangi kualitas hidup, seperti stroke, artritis (radang sendi), batu empedu, kesulitan bernafas, masalah kulit, infer- tilitas, masalah psikologis, mangkir kerja dan pemanfaatan sarana kesehatan.Di Indonesia, penelitian yang dilakukan oleh Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) th.2004 mendapatkan angka prevalensi obesitas (IMT=/>30 kg/m2) 9,16 % pada pria dan 11,02 % pada wanita. Prevalensi lingkar pinggang =/> 90cm sebesar 41,2% pada pria dan =/> 80cm sebesar 53,3% pada wanita. Bila tren seperti sekarang ini berjalan terus, maka tahun 2025 tidak mustahil 40 % dari penduduk Indonesia akan menyandang gelar "obese".Saat ini kita hidup pada masa berat badan lebih ( IMT 23 - 24,9 ) dan obesitas. ( IMT 25 - 30 ) sudah menjadi suatu epidemi, dengan dugaan peningkatan prevalensi obesitas akan mencapai 50 % pada tahun 2025 bagi negara-negara maju.b. Faktor TerjadinyaTerjadinya obesitas karena faktor genetik dan lingkungan. Anak yang obesitas biasanya berasal dari keluarga yang obesitas. Bila kedua orang tua obese, sekitar 80% anak-anak mereka akan menjadi obese. Bila salah satu orang tua obese, menjadi 40% dan bila orang tuanya tidak obese prevalensi obese untuk anak turun menjadi 14%. Sampai saat ini sudah diketahui 7 gen penyebab obesitas pada manusia : leptin receptor, melanocortin receptor-4 (MC4R), alpha melanocyte stimulating hormone (alpha MSH), prohormone convertase-1 (PC-1), leptin, Barder5t-Biedl, dan Dunnigan partial lypo-dystrophy.Faktor lingkungan yang berperan sebagai penyebab terjadinya obesitas adalah perilaku makan, aktivitas fisik, trauma (neurologik atau psikologik), obat-obatan (golongan steroid), sosial ekonomi.

c. Penanganan Obesitas merupakan hasil dari proses yang berjalan menahun, sehingga penanganannya tidak akan efektif bila hanya dalam waktu singkat. Penurunan berat badan sampai 1 kg per minggu sudah cukup sebagai parameter keber-hasilan penurunan berat badan. Kita harus mewaspadai adanya sindroma Yoyo, yaitu penurunan berat badan yang berlebihan akan menyebabkan defisit energi mendadak dan akan berisiko naiknya kembali berat badan. Penurunan berat badan bersifat individual, tergantung pada umur, berat badan awal dan adanya usaha penurunan berat badan sebelumnya serta ada tidaknya penyakit penyerta. Sasaran penurunan berat badan yang realistik adalah 5-10% dari berat badan awal dalam kurun waktu 6-12 bulan. Garis besar penanganan obesitas terdiri dari intervensi diet, aktivitas fisik, perubahan perilaku, Farmakoterapi dan Intervensi bedah.d. Intervensi Diet.Pengaturan makan merupakan tiang utama penanganan obesitas, oleh sebab itu perlu ditekankan pada penderita bahwa kosistensi pengaturan makan jangka panjang sangat menentukan keberhasilan pengobatan. Keberhasilan pengobatan dievaluasi minimal dalam jangka waktu 6 bulan. Dua macam nutrisi medik yang efektif untuk menurunkan berat badan, yaitu Low Calorie balance Diets (LCD),Very Low Calorie Diets (VLCD), Low Calorie balance Diets (LCD).Hal ini dapat dicapai dengan mengurangi asupan lemak dan karbohidrat. Dapat diberikan 1200-1600 kkal/hari dengan protein 1 g/kg BB, lemak 20-25% dari kalori total dan sisa- nya karbohidrat. Beberapa rekomendasi praktis dapat dilakukan untuk mencapai sasaran diet : makan setidaknya 5-7 porsi buah dan sayuran perhari. Makan 25-30 gram serat perhari (dari buah/sayur, roti gandum, sereal, pasta dan kacang-kacangan. Untuk sumber karbohidrat hasil proses, pilihlah roti gandum.Minum sedikitnya 8 gelas sehari. Makan sedikitnya 2 porsi perhari hasil olahan susu rendah lemak. Pilih protein rendah lemak seperti ayam tanpa kulit, kalkun dan produk kedelai. Sebaiknya makan daging lebih sedikit. Makan ikan setidaknya 2 kali seminggu. Asupan garam maksimum 2.400 mg perhari.e. Aktivitas Fisik Aktivitas fisik aktif berupa aktivitas yang rutin, merupakan bagian penting dari program penurunan berat badan. Olahraga juga dapat mengurangi rata-rata angka kesakitan dan kematian beberapa penyakit kronik. Dokter dapat menekan-kan urgensinya aktivitas fisik pada penderita, dan menyarankan untuk melakukan aktivitas fisik paling sedikit 150 menit perminggu. Latihan fisik saja sudah dapat menurunkan berat badan rata-rata 2-3 kg. Perubahan perilaku merupakan usaha maksimal untuk menerapkan aspek non -parmakologis dalam pengelolaan penyakit. Perencanaan makan dan kegiatan jasmani merupakan aspek penting dalam terapi non-farmakologis.Penderita agar menyadari untuk mengubah perilaku, karena keberhasilan penurunan berat badan ini sangat dipengaruhi oleh faktor dirinya sendiri, kedisiplinan mengikuti program diet serta kesinambungan pengobatan. Motivasi penderita sangat menentukan keberhasilan upaya penurunan berat badan.f. Farmakoterapi.Tiga mekanisme dapat digunakan untuk mengklasifikasi obat-obatan untuk terapi obesitas adalah terapi yang mengurangi asupan makanan, yang mengganggu metabolisme dengan cara mempengaruhi proses pra atau pascaabsorbsi. Terapi yang meningkatkan pengeluaran energi atau termogenesis.Obat yang tersedia saat ini Orlistat : yang menghambat lipase pankreas (enzim yang dihasilkan kelenjar ludah perut) dan akan menyebabkan penurunan penyerapan lemak sampai 30%. Efedrin dan kafein : meningkatkan pengeluaran energi, akan meningkatkan konsumsi oksigen sekitar 10% selama beberapa jam. Pada uji klinis efedrin dan kafein menghasil kan penurunan berat badan lebih besar dibanding kelompok plasebo. Diperkirakan 25 - 40% penurunan berat badan oleh karena termogenesis dan 60-75% karena pengurangan asupan makanan. Efek samping utama adalah peningkatan nadi dan perasaan berdebar-debar yang terjadi pada sejumlah penderita.Sibutramin, menurunkan energy intake dan mempertahankan penurunan pengeluaran energi setelah penurunan berat badan. Pada penelitian ternyata terbukti sibutramin menurunkan asupan makanan dengan cara mempercepat timbulnya rasa kenyang dan mempertahankan penurunan pengeluaran energi setelah penurunan berat badan.g. Intervensi Bedah.Intervensi bedah untuk mengatasi masalah obesitas sebenarnya telah diterapkan sejak th.1960 dengan bedah pintas lambung. Hanya karena teknologi bedah saat itu masih terbatas, membuat operasi ini hampir selalu berujung pada kematian pasien. Ada beberapa pilihan pembedahan seperti Laparoscopic Adjustable Gastric Binding, Vertical Banded Gastroplasty, Roux-en-Y gastric bypass. Laparoscopic Adjustable Gastric Binding, merupakan tindakan bedah generasi mutakhir untuk menangani penderita dengan obesitas yang berat, dimana hanya dengan membuat lubang/irisan kecil diperut (diameter 0,5-1,0 cm). Dengan pita/ plaster silikon yang dilekatkan seputar lambung bagian atas, sehingga terbentuk satu kantong kecil. Apabila penderita makan, kantong kecil tadi akan cepat penuh dan ini akan memberikan sensasi kenyang.Pengosongan makanan dari kantong kecil tersebut akan secara pelan-pelan melalui ikatan yang dibuat dan penderita tidak akan merasa lapar sampai beberapa jam. Dengan intervensi bedah ini, diharapkan dapat menurunkan berat badan dari 20 kg sampai lebih dari 100kg.

BAB IIIMETODE PENGUMPULAN DATA

A. Jenis dan Rancangan Jenis pengumpulan data ini adalah observasional dengan rancangan penelitian cross sectional.

B. Lokasi dan WaktuLokasi pengambilan data adalah di Kecamatan Gamping, pada tiga dusun, yaitu Plumbon, Sorowajan dan Karangbendo. Waktu pengambilan data pada tanggal 8 13 November 2010.

C. Populasi dan Sampel1. PopulasiPopulasi dalam pengumpulan data dasar ini adalah semua balita, ibu hamil, dan usila di Kecamatan Gamping, Kecamatan Gamping Kabupaten Bantul, Yogyakarta.2. SampelSampel yang diambil adalah sebagian dari balita, ibu hamil, dan Usila yang berada di Kecamatan Gamping, Kecamatan Gamping. Pengambilan sampel dengan cara purposive sampling dengan ketentuan setiap mahasiswa 20 balita, 10 lansia dan 5 ibu hamil.Khusus untuk pengambilan sampel ibu hamil disesuaikan dengan jumlah ibu hamil yang ada.

a) Balita sebanyak 260 balitaDusun Sorowajan: 80 balitaDusun Plumbon: 80 balitaDusun Karangbendo : 100 balitab) Ibu hamil sebanyak 34 orangDusun Sorowajan: 8 orangDusun Plumbon: 14 orangDusun Karangbendo : 12 orangc) Usila sebanyak 130 orangDusun Sorowajan: 40 orang Dusun Plumbon: 40 orang Dusun Karangbendo: 50 orang

D. Data yang Dikumpulkan1. BalitaPada balita data yang dikumpulkan meliputi data :a. Berat Badanb. Tinggi Badanc. Umur (Tanggal lahir)d. Jenis Kelamine. Penyakit yang diderita dalam 1 bulan terakhirf. Pemberian ASI g. Tingkat Pengetahuan Ibu Balita atau pengasuhh. Intake Energi Balitai. Intake Protein Balitaj. Intake Karbohidrat balitak. Intake Lemak balita2. Ibu HamilPada Ibu Hamil data yang dikumpulkan meliputi data : a. LILA (Lingkar Lengan Atas)b. Berat badanc. Umur ibu d. Umur kehamilan e. Tinggi badanf. Status gizi Ibu hamilg. Paritas h. Intake energi ibu hamili. Intake protein ibu hamilj. Intake Fe ibu hamilk. Tingkat pengetahuan ibu hamill. Tingkat pendidikan ibu hamil3. UsilaPada usila data yang dikumpulkan meliputi data :a. Berat Badanb. Tinggi Badan atau rentang lenganc. Umur d. Jenis Kelamine. Status gizi dengan IMTf. Kebiasaan makan lansiag. Aktivitas fisik (olah raga)h. Status kesehatan atau penyakit yang diderita.

E. Definisi Operasional1. Masalah Gizi pada Balitaa. Status Gizi BalitaAdalah tingkat keadaan gizi anak usia 0-5 tahun yang dinyatakan sebagai persen perbandingan berat badan balita tersebut dengan baku berat badan menurut umur (WHO-NCHS).Parameter: 1) Gizi Lebih >+ 2SD2) Gizi Baik -2 SD sampai +2SD3) Gizi Kurang 110%Skala: ordinald. Intake Karbohidrat BalitaAdalah jumlah karbohidrat dari makanan setiap hari yang dinyatakan sebagai persen perbandingan rata-rata intake karbohidrat dengan kecukupan karbohidrat tiap individu perhari.

Parameter:4) Kurang jika asupan kalori < 80%5) Baik/Cukup/Normal jika asupan kalori 80-110%6) Lebih jika asupan kalori > 110%Skala: ordinale. Intake Lemak BalitaAdalah jumlah lemak dari makanan setiap hari yang dinyatakan sebagai persen perbandingan rata-rata intake lemak dengan kecukupan lemak tiap individu perhari.

Parameter:7) Kurang jika asupan kalori < 80%8) Baik/Cukup/Normal jika asupan kalori 80-110%9) Lebih jika asupan kalori > 110%Skala: ordinalf. Pengetahuan Gizi Ibu Balita atau Pengasuhnya Adalah pengetahuan ibu balita atau pengasuhnya tentang gizi yang diukur dari kemampuan ibu dalam menjawab soal-soal atau pertanyaan kuesioner yang diajukan Parameter:1) Kurang jika skor < 75%2) Baik jika skor >75%Skala : Ordinal2. Masalah Gizi pada Ibu Hamila. Status Gizi Ibu HamilAdalah gambaran keadaan gizi dari bumil yang dinilai dengan indeks LILA.Parameter : 23,5 cm= Tidak beresiko KEK < 23,5 cm= Beresiko KEKSkala : Ordinalb. Intake Protein Ibu HamilAdalah gambaran jumlah intake protein dalam makanan setiap hari, yang dinyatakan sebagi % perbandingan rata-rata intake protein dengan kecukupan protein tiap kelompok perhari.Intake Protein = 100%Parameter : 1) Kurang jika asupan kalori < 80%2) Baik/Cukup/Normal jika asupan kalori 80-110%3) Lebih jika asupan kalori > 110%Skala: ordinalc. Intake Energi Ibu Hamil1) Kurang jika asupan kalori < 80%2) Baik/Cukup/Normal jika asupan kalori 80-110%3) Lebih jika asupan kalori > 110%Skala: Ordinald. Pengetahuan Gizi Ibu Hamil Adalah pengetahuan ibu hamil tentang gizi yang diukur dari kemampuan ibu dalam menjawab soal-soal atau pertanyaan evaluasi yang diajukan.Parameter :1) Kurang jika skor 75%Skala : Ordinal3. Massalah Gizi pada Usilaa. Status Gizi UsilaAdalah gambaran keadaan gizi usila yang dinilai dengan indeks massa tubuh (IMT).Parameter : Kurus, IMT 25,00IMT = Skala : Ordinal

F. Jenis dan Cara Pengumpulan Data1. Jenis Dataa. Data primer1) Balita Meliputi data berat badan, tinggi badan, umur, jenis kelamin, pemberian ASI, pola makan, serta pengetahuan ibu balita atau pengasuh balita. 2) Ibu Hamil Meliputi data usia kehamilan, konsumsi tablet Fe, LILA (Lingkar Lengan Atas), berat badan, umur ibu, tinggi badan, tingkat pengetahuan ibu hamil.3) UsilaMeliputi data jenis kelamin, berat badan, tinggi badan atau rentang lengan atau tinggi lutut, umur, status gizi, fekuensi oleh raga dalam satu minggu, kebiasaan makan, dan penyakit yang diderita responden.2. Data sekunder Data monografi dan demografi Kecamatan Gamping

2. Cara Pengumpulan Dataa. Data primerData primer yang berupa identitas keluarga dan sampel, tingkat pengetahuan, riwayat penyakit yang pernah diderita diperoleh dengan wawancara menggunakan kuesioner. Sedangkan status gizi untuk balita dengan menimbang berat badan menggunakan timbangan injak dan timbangan dacin. Pengukuran tinggi badan menggunakan metlin atau microtoice. Sedangkan untuk mengukur rentang lengan menggunakan alat metlin. Data konsumsi makanan atau asupan gizi diperoleh dengan recall menu selama 1 hari.b. Data sekunderData sekunder diperoleh dari kecamatan, kelurahan, dan Puskesmas setempat.

G. InstrumenData Gizi pada Balitaa. Status GIzi1) Tinggi Badan : Mikrotoa atau metlin2) Berat Badan : Timbangan injak dan dacin3) Umur : Kuesionerb. Asupan Gizi (energi dan protein) dengan pencatatan recall 1 x 24 jam, menggunakan form recall.c. Pengetahuan ibu atau pengasuh dan pemberian ASI dengan menggunakan kuesioner.

3. Data Gizi pada Ibu Hamila. Status Gizi:1) Mengukur LILA (Lingkar Lengan Atas): Pita ukur LILA2) Umur dengan menggunakan kuesionerb. Asupan Gizi (energi dan protein) dengan pencatatan recall 1 x 24 jam, menggunakan form recall.c. Pengetahuan Gizi Ibu Untuk mengukur pengetahuan gizi Ibu maka dengan menggunakan kuesioner3. Usila Status gizi usila:a. Tinggi Badan: Mikrotoa atau metlinb. Rentang Lengan: Metlinc. Berat Badan: Timbangan injak dan dacind. Umur: Kuesioner

H. Pengolahan dan Analisa Data1. Pengolahan Dataa. EditingPengoreksian data yang meliputi kelengkapan pengisian atau jawaban yang tidak jelas yang dilakukan di tempat pengumpulan data sehingga dapat dilakukan perbaikan. b. Coding Pengklasifikasikan hasil dengan cara memberi kode pada masing-masing item untuk memudahkan pembacaan.c. TabulasiAdalah memasukkan data hasil penelitian ke dalam tabel sesuai dengan kriteria yang ditentukan.

2. Analisa DataAnalisa data dengan menggunakan analisis deskriptif dan tabel silang untuk mengetahui hubungan antar variabel.

BAB IVHASIL DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum1. Keadaan GeografiKecamatan Gamping dengan luas wilayah 819,333 Ha dan mencakup 11 dusun. 2. Demografi (Kependudukan : Jumlah Penduduk Total, Jumlah Askeskin)Wilayah Kecamatan Gamping dibagi menjadi 11 dusun. Jumlah penduduk dari pendataan bulan November 2010 sebanyak 32.693 jiwa (Laki-laki 16.347 jiwa atau 50,006% dan perempuan 16.346 atau 49,998%) dengan jumlah kepala keluarga 8685 KK (KK laki-laki : 7603 KK dan KK perempuan: 1082 KK), sedangkan jumlah penduduk miskin sebanyak 11.974 (36,62%).Tabel 1: Distribusi Penduduk dengan Jaminan Kesehatandi Kecamatan Gamping Tahun 2010NoJenis JamkesmasJumlahProsentase (%)

1Askes3431,05

2Jamkesmas6.12418,73

3Jamkesos1.7635,39

4Belum terjamin24.46374,83

(sumber: Puskesmas Gamping III)Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa sebanyak 74,83 % penduduk di belum mempunyai jaminan kesehatan. Sedangkan untuk penduduk miskin dari 11.947 jiwa penduduk miskin yang mendapatkan jaminan kesehatan sebanyak 7887 jiwa atau baru mencapai 65,87 % dari total penduduk miskin, jaminan kesehatan untuk masyarakat miskin terdiri dari Jamkesmas dan Jamkesos. Data peserta Jamkesmas yang dikirim ke Puskesmas Gamping III sebesar 6124, sedang yang terdaftar di SK Bupati Bantul hanya 6079 peserta (kapitasi Jamkesmas sejumlah 6079). Jumlah peserta Jamkesos sebanyak 1.763 turun sebesar 540 dibanding tahun sebelumnya.3. Pencapaian Pembangunan Kesehatana. Derajat Kesehatan (Angka Kematian, Angka Kesakitan, Status Gizi)(1) Data Sepuluh Besar Penyakit

Gambar 1. Data 10 Besar Penyakit di Kecamatan Gamping Tahun 2009Sumber : Puskesmas Gamping III, 2009Total penyakit menurut jumlah kunjungan sebanyak 19.705. Grafik di atas menunjukkan prosentase penyakit terbesar adalah penyakit Comond Cold/JOO (22%) Sama dengan tahun sebelumnya, tetapi dengan prosentase turun sebesar 12%. Jika tahun 2008 peringkat ke2 adalah penyakit jaringan gigi untuk tahun ini adalah penyakit Myalgia/M79.1 sebesar 9% kunjungan. Tetapi penyakit yang berhubungan dengan mulut dan gigi masih cukup tinggi.(2) SKDN BALITADari data posyandu yang dikumpulkan diperoleh data SKDN sebagai berikut :

Gambar. 2 Data SKDN di Kecamatan GampingSumber : Puskesmas Gamping III, 2009 Grafik di atas menunjukkan jumlah kunjungan balita ke posyandu sebesar 62,72% (D/S) hal ini menunjukkan partisipasi masyakat masih kurang. Sedang balita yang naik berat badannnya (N/D) sebesar 62,34 %, angka ini menunjukkan keadaan kesehatan Balita masih kurang.

(3) Status Gizi Balita Bulan Pebruari di Puskesmas Gamping III Gambar 3. Data Status Gizi Balita di Kecamatan Gamping Bulan Pebruari Tahun 2009Sumber : Puskesmas Gamping III, 2009Jumlah Balita keseluruhan di wilayah Puskesmas Gamping III pada bulan Pebruari 2009 sebanyak 1998 sedangkan yang datang menimbang sebayak 1626 Balita (81,38%). Penilaian status gizi menggunakan pedoman WHO-NCHS, dengan standar tersebut, dapat dilihat bahwa status Gizi Balita laki-laki dan perempuan hampir tidak ada perbedaan. Jumlah Balita dengan Gizi Baik 72,23% , balita gizi buruk sebesar 0,15%, Baita gizi kurang 6,76%, Balita gizi lebih sebesar 2,10%.(4) ASI EksklusifBelum semua bayi umur 0-6 bulan di wilayah Puskesmas Gamping III diberi ASI Eksklusif, hanya sekitar 60 %. Tetapi angka ini sudah mengalami kenaikan dibanding tahun 2008 yang hanya sebesar 48,29%. Kemungkinan kenaikan ini disebabkan di beberapa dusun sudah dibentuk Kelompok Pendukung Ibu Menyusui, yang kegiatan di dalamnya memberikan pengetahuan kepada ibu dari masalah kehamilan sampai masalah pemberian makan pada anak. 4. Status Ekonomi SampelJumlah sampel pada penelitian data dasar adalah 336 Kepala Keluarga yang terbagi atas:a. Keluarga miskin= 28,87% (97 KK)b. Keluarga tidak miskin= 71,13% (239 KK)

Gambar 4. Proporsi Keluarga Miskin dan Tidak Miskin di Kecamatan Gamping Kecamatan Gamping Tahun 2010

5. Penggunaan Garam Sampel1) Penggunaan Garam Beryodium SampelJumlah sampel pada penelitian data dasar adalah 336 Kepala Keluarga yang terbagi atas:a. Keluarga yang menggunakan garam beryodium memenuhi syarat adalah 83,93% (282 KK)b. Keluarga yang menggunakan garam beryodium tidak memenuhi syarat adalah 14,29% (48 KK)c. Keluarga yang tidak menggunakan garam beryodium adalah 1,79% (6 KK)

Gambar 5. Proporsi Penggunaan Garam Beryodium di Kecamatan Gamping Tahun 2010

2) Penggunaan garam beryodium pada keluarga miskinJumlah sampel pada penelitian data dasar adalah keluarga miskin sebesar 97 Kepala Keluarga yang terbagi atas:a. Keluarga miskin yang menggunakan garam beryodium memenuhi syarat adalah 89% (86 KK)b. Keluarga miskin yang menggunakan garam beryodium tidak memenuhi syarat adalah 11% (11 KK)c. Tidak ada keluarga miskin yang tidak menggunakan garam beryodium

Gambar 6. Proporsi Penggunaan Garam Beryodium Pada Keluarga Miskin di Kecamatan Gamping Tahun 20103) Penggunaan garam beryodium pada keluarga tidak miskinJumlah sampel pada penelitian data dasar adalah keluarga tidak miskin sebesar 239 Kepala Keluarga yang terbagi atas:a. Keluarga tidak miskin yang menggunakan garam beryodium memenuhi syarat adalah 82% (196 KK)b. Keluarga tidak miskin yang menggunakan garam beryodium tidak memenuhi syarat adalah 15% (36 KK)c. Keluarga tidak miskin yang tidak menggunakan garam beryodium adalah 3% (7 KK)

Gambar 7. Proporsi Penggunaan Garam Beryodium Pada Keluarga Tidak Miskin di Kecamatan Gamping Tahun 2010

6. Cara Penyimpanan Garam Sampel1) Cara penyimpanan garam beryodium (>30 ppm)Keluarga yang menggunakan garam beryodium >30 ppm, sebesar 282 Kepala Keluarga, yaitu:a. Keluarga yang menyimpan garam beryodium tertutup tidak kena sinar matahari adalah 61% (172 KK)b. Keluarga yang menyimpan garam beryodium tertutup terkena sinar matahari adalah 30% (85 KK)c. Keluarga yang menyimpan garam beryodium dibiarkan terbuka adalah 9% (25 KK)

Gambar 8. Proporsi Penyimpanan Garam Beryodium >30 ppm di Kecamatan Gamping Tahun 2010

2) Cara penyimpanan garam beryodium (