bab ii landasan teori a. penelitian sejenis yang relevanrepository.ump.ac.id/1357/3/eka septianti -...

19
BAB II LANDASAN TEORI A. Penelitian Sejenis yang Relevan Penelitian Jenis-jenis Makna Kata Pada Lirik Lagu Banyumasan Ciptaan Bapak Rasito Purwo Pangrawit memiliki kesamaan dan perbedaan dengan penelitian sejenis yang relevan. Peneliti mengambil empat penelitian sejenis yang relevan, yaitu penelitian berjudul Kajian Semantik pada Syair Lagu Kesenian Tradisional Kleningan Mekar Rahayu di Desa Sukarahayu, Kecamatan Langen Sari, Kota Banjar oleh Sunyiartiningsih, Jenis Makna Kosa Kata Khusus Penyakit pada Rubrik Fokus Kita dalam Majalah Dokter Kita bulan Oktober-November 2014 dan Saran Implementasinya dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMK oleh Pipit Noviana Sari, Jenis Makna dan Penamaan Nama Panggilan Unik Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah Purwokerto Tahun 2015-2016 oleh Yudhi Amriati, dan Aspek-aspek Makna dalam Lirik Lagu Suporter Persibangga tahun 2015 oleh Aji Dwi Pratikno. Di bawah ini merupakan penjelasan dari keempat jenis penelitian yang relevan. 1. Penelitian dengan judul Kajian Semantik pada Syair Lagu Kesenian Tradisional Kleningan Mekar Rahayu di Desa Sukarahayu, Kecamatan Langen Sari, Kota Banjar Penelitian tersebut di atas dilakukan oleh Sunyiartiningsih mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (2013). Penelitian tersebut memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan. Persamaan penelitian yang akan 6 JENIS-JENIS MAKNA ...,EKA SEPTIANTI,FKIP UMP 2017.

Upload: truongkhanh

Post on 02-Mar-2019

222 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

6

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Penelitian Sejenis yang Relevan

Penelitian Jenis-jenis Makna Kata Pada Lirik Lagu Banyumasan Ciptaan

Bapak Rasito Purwo Pangrawit memiliki kesamaan dan perbedaan dengan

penelitian sejenis yang relevan. Peneliti mengambil empat penelitian sejenis yang

relevan, yaitu penelitian berjudul Kajian Semantik pada Syair Lagu Kesenian

Tradisional Kleningan Mekar Rahayu di Desa Sukarahayu, Kecamatan Langen

Sari, Kota Banjar oleh Sunyiartiningsih, Jenis Makna Kosa Kata Khusus Penyakit

pada Rubrik Fokus Kita dalam Majalah Dokter Kita bulan Oktober-November

2014 dan Saran Implementasinya dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMK

oleh Pipit Noviana Sari, Jenis Makna dan Penamaan Nama Panggilan Unik

Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Muhammadiyah

Purwokerto Tahun 2015-2016 oleh Yudhi Amriati, dan Aspek-aspek Makna

dalam Lirik Lagu Suporter Persibangga tahun 2015 oleh Aji Dwi Pratikno. Di

bawah ini merupakan penjelasan dari keempat jenis penelitian yang relevan.

1. Penelitian dengan judul Kajian Semantik pada Syair Lagu Kesenian

Tradisional Kleningan Mekar Rahayu di Desa Sukarahayu, Kecamatan

Langen Sari, Kota Banjar

Penelitian tersebut di atas dilakukan oleh Sunyiartiningsih mahasiswa

Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Program Studi Pendidikan Bahasa dan

Sastra Indonesia (2013). Penelitian tersebut memiliki persamaan dan perbedaan

dengan penelitian yang akan dilakukan. Persamaan penelitian yang akan

6

JENIS-JENIS MAKNA ...,EKA SEPTIANTI,FKIP UMP 2017.

7

dilakukan dengan penelitian sebelumnya yaitu sama-sama menganalisis lirik lagu

berdasarkan kajian semantik, khususnya tentang jenis-jenis makna. Perbedaan

dengan penelitian yang dilakukan peneliti terletak pada objek dan sumber data

penelitian. Objek penelitian yang akan dilakukan adalah jenis-jenis makna kata

pada lirik lagu kesenian Banyumasan karya Bapak Rasito Purwo Pangrawit

sedangkan objek peneliti sebelumnya adalah makna, informasi, dan maksud

dalam syair lagu kesenian kleningan.

2. Penelitian dengan judul Jenis Makna Kosa Kata Khusus Penyakit pada

Rubrik Fokus Kita dalam Majalah Dokter Kita bulan Oktober-November

2014 dan Saran Implementasinya dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

di SMK

Penelitian tersebut di atas dilakukan oleh Pipit Noviana Sari mahasiswa

Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Program Studi Pendidikan Bahasa dan

Sastra Indonesia (2015). Penelitian tersebut memiliki persamaan dan perbedaan

dengan penelitian yang akan dilakukan. Persamaan penelitian tersebut dengan

penelitian yang akan dilakukan yaitu sama-sama menganalisis jenis-jenis makna

berdasarkan kajian semantik. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh

peneliti terletak pada data dan sumber data penelitian. Data penelitian yang akan

dilakukan adalah jenis-jenis makna kata pada lirik lagu Banyumasan sedangkan

data penelitian sebelumnya menggunakan kosa kata khusus penyakit pada rubrik

“Fokus Kita”. Sumber data yang digunakan oleh peneliti juga berbeda dengan

peneliti sebelumnya. Peneliti menggunakan lirik lagu Banyumasan sebagai

sumber data penelitian sedangkan penelitian sebelumnya menggunakan rubrik

“Fokus Kita” sebagai sumber data.

JENIS-JENIS MAKNA ...,EKA SEPTIANTI,FKIP UMP 2017.

8

3. Penelitian dengan judul Jenis Makna dan Penamaan Nama Panggilan

Unik Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas

Muhammadiyah Purwokerto Tahun 2015-2016

Penelitian tersebut di atas dilakukan oleh Yudhi Amriati mahasiswa

Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Program Studi Pendidikan Bahasa dan

Sastra Indonesia (2016). Penelitian tersebut memiliki persamaan dan perbedaan

dengan penelitian yang akan dilakukan. Persamaan penelitian yang akan

dilakukan dengan penelitian sebelumnya yaitu sama-sama menganalisis Jenis-

jenis makna berdasarkan kajian semantik. Perbedaan dengan penelitian yang

dilakukan peneliti terletak pada objek, data, dan sumber data penelitian. Objek

penelitian yang akan dilakukan adalah jenis-jenis makna kata dalam lirik lagu

Banyumasan sedangkan objek penelitian sebelumnya adalah jenis makna dan

jenis penamaan nama panggilan unik mahasiswa. Data penelitian yang akan

dilakukan adalah kata-kata sedangkan data penelitian sebelumnya adalah nama

panggilan unik. Sumber data yang digunakan oleh peneliti berbeda dengan

peneliti sebelumnya. Peneliti menggunakan lirik lagu Banyumasan sebagai

sumber data penelitian sedangkan penelitian sebelumnya menggunakan

mahasiswa sebagai sumber data.

4. Penelitian dengan judul Aspek-aspek Makna dalam Lirik Lagu Suporter

Persibangga tahun 2015

Penelitian tersebut di atas dilakukan oleh Aji Dwi Pratikno mahasiswa

Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Program Studi Pendidikan Bahasa dan

Sastra Indonesia (2016). Penelitian tersebut memiliki persamaan dan perbedaan

dengan penelitian yang akan dilakukan. Persamaan penelitian tersebut dengan

JENIS-JENIS MAKNA ...,EKA SEPTIANTI,FKIP UMP 2017.

9

penelitian yang akan dilakukan yaitu sama-sama menganalisis lirik lagu

berdasarkan kajian semantik. Perbedaan dengan penelitian yang dilakukan peneliti

terletak pada objek dan sumber data penelitian. Objek penelitian yang akan

dilakukan adalah jenis-jenis makna kata pada lirik lagu Banyumasan sedangkan

objek penelitian sebelumnya aspek-aspek makna. Selain itu, sumber data yang

digunakan oleh peneliti juga berbeda dengan peneliti sebelumnya. peneliti

menggunakan lirik lagu Banyumasan sebagai sumber data penelitian sedangkan

penelitian sebelumnya menggunakan lirik lagu suporter Persibangga.

B. Makna

1. Pengertian Makna

Menurut Soedjito (1990: 51), makna ialah hubungan antara bentuk dan

barang atau hal yang diacunya. Pendapat mengenai pengertian makna di atas pada

dasarnya sama dengan pendapat yang dikemukakan oleh Keraf (1987: 129),

makna adalah hubungan antara tanda berupa lambang bunyi ujaran dengan hal

atau barang yang dimaksudkan. Dari uraian tersebut dapat dilihat bahwa dua ahli

pada dasarnya memiliki pendapat yang sama, walaupun dengan redaksi yang

berbeda. Dapat di simpulkan bahwa makna adalah hubungan antara bunyi yang

diartikan dengan sesuatu yang diwakilinya. Karena itu, apabila bunyi yang

berartikulasi itu tidak mewakili sesuatu atau tidak mempunyai sesuatu atau tidak

mempunyai hubungan dengan sesuatu, baik yang bersifat abstrak maupun

kongkret, maka dapat diartikan bunyi itu tidak bermakna.

Sausure dalam Chaer (2007: 285-289), makna adalah “pengertian” atau

“konsep” yang dimiliki atau terdapat pada sebuah tanda linguistik. ada juga teori

yang menyatakan bahwa makna itu tidak lain dari daripada suatu referen yang

JENIS-JENIS MAKNA ...,EKA SEPTIANTI,FKIP UMP 2017.

10

diacu oleh kata atau leksem. Hanya perlu dipahami bahwa tidak semua kata atau

leksem seperti agama, kebudayaan, dan keadilan dapat menampilkan referennya

secara konkret. Sesuatu yang diwakili oleh bunyi yang berartikulasi itu bisa

berupa benda, peristiwa, keadaan, dan gejala alam lainnya yang berada di luar

bunyi itu sendiri. Di antara gejala alam itu ada benda diangkasa, memancarkan

cahaya yang bisa menerangi siang, terbit di ufuk timur dan tenggelam di ufuk

barat. Kejadian itu oleh orang Indonesia ditandai dengan bunyi (m-a-t-a-h-a-r-i).

Oleh karena itu meskipun pada malam hari kita tidak melihat benda itu, tetapi

nilai mendengar atau mengucapkan urutan bunyi kata itu, bersama-sama terjadi

proses asosiasi dalam pikiran kita antara urutan bunyi tersebut dengan benda tadi.

Berdasarkan uraian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa makna kata adalah

hubungan timbal balik antara deretan bunyi berartikulasi dengan suatu hal atau

barang yang ditunjuk atas dasar kesepakatan masyarakat.

2. Jenis Makna

Chaer (2002: 59-60) mengungkapkan bahwa jenis atau tipe makna itu

memang dapat dibedakan berdasarkan kriteria dan sudut pandang. Berdasarkan

jenis semantiknya dapat dibedakan antara makna leksikal dan makna gramatikal,

berdasarkan ada tidaknya referen pada sebuah kata/leksem dapat dibedakan

adanya makna referensial dan nonreferensial, berdasarkan ada tidaknya nilai rasa

pada sebuah kata/leksem dapat dibedakan adanya makna denotatif dan makna

konotatif, berdasarkan ketepatan maknanya dikenal adanya makna kata dan

makna istilah atau makna umum dan makna khusus. Lalu berdasarkan kriteria lain

JENIS-JENIS MAKNA ...,EKA SEPTIANTI,FKIP UMP 2017.

11

atau sudut pandang lain dapat disebutkan adanya makna-makna konsep, asosiatif,

idiomatik, peribahasa, dan makna kias.

a. Makna Leksikal

Chaer (2013: 60), makna leksikal adalah makna yang sesuai dengan hasil

observasi alat indra atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan

kita. Misalnya, kata kepala makna leksikalnya adalah bagian tubuh yang di atas

leher (pada manusia dan beberapa jenis hewan yang merupakan tempat otak, pusat

jaringan saraf, dan beberapa pusat indra). Makna ini tampak jelas dalam kalimat

Kepalanya hancur kena pecahan granat, atau dalam kalimat kepalanya terkena

bola. Kata kepala pada dua kalimat tersebut jelas merujuk pada bagian tubuh di

atas leher, bukan kepada yang lain. Tetapi dalam kalimat yang menjadi tikus di

gudang kami ternyata berkepala hitam bukanlah dalam makna leksikal karena

tidak merujuk pada binatang tikus melainkan pada seorang manusia, yang

perbuatannya memang mirip dengan perbuatan tikus.

b. Makna Gramatikal

Chaer (2013: 60), berbeda dengan makna leksikal, makna gramatikal baru

ada kalau terjadi proses gramatikal, seperti afiksasi, reduplikasi, komposisi, atau

kalimatisasi. Misal proses afiksasi awalan ter- pada kata bawa dalam kalimat buku

Andi terbawa Ratna. Awalan ter- pada kata terbawa mempunyai makna

gramatikal “ketidaksengajaan”. Makna gramatikal itu bermacam-macam. Setiap

bahasa mempunyai sarana atau alat gramatikal tertentu untuk menyatakan makna-

JENIS-JENIS MAKNA ...,EKA SEPTIANTI,FKIP UMP 2017.

12

makna gramatikal itu. Penyimpangan makna dan bentuk-bentuk gramatikal yang

sama lazim juga terjadi dalam berbagai bahasa. Dalam bahasa Indonesia misalnya,

bentuk-bentuk kesedihan, ketakutan, kegembiraan, dan kesenangan memiliki

makna gramatikal yang sama, yaitu hal yang disebut kata dasarnya.

c. Makna Referensial

Menurut Chaer (2013: 63), perbedaan makna referensial dan nonreferensial

berdasarkan ada atau tidaknya referen dari kata-kata itu. Bila kata-kata itu

mempunyai referen yaitu sesuatu di luar bahasa yang di acu oleh kata itu maka

kata tersebut disebut kata bermakna referensial. Apabila makna itu tidak

mempunyai referen maka kata itu disebut kata bermakna nonreferensial. Contoh:

kata meja dan kursi termasuk kata yang bermakna referensial karena keduanya

mempunyai referen, yaitu sejenis perabot rumah tangga yang disebut “meja” dan

“kursi”. Kata kuda termasuk kata yang bermakna referensial karena mempunyai

referen, yaitu hewan berkaki empat yang biasa digunakan untuk bekerja.

d. Makna Nonreferensial

Menurut Chaer (2013: 63), makna nonreferensial adalah makna yang tidak

memiliki referen atau acuan. Kata tugas seperti preposisi dan konjungsi adalah

kata-kata yang termasuk kata bermakna nonreferensial. Kata-kata yang termasuk

preposisi dan konjungsi, juga kata tugas lainnya tidak mempunyai referen, maka

banyak orang menyatakan kata-kata tersebut tidak memiliki makna. Kata-kata

tersebut hanya memiliki fungsi atau tugas. Contoh: kata karena, dan, atau, dan

JENIS-JENIS MAKNA ...,EKA SEPTIANTI,FKIP UMP 2017.

13

tetapi ini termasuk kata yang bermakna nonreferensial karena tidak memiliki

referen atau acuan.

e. Makna Denotatif

Chaer (2013: 65), makna denotatif adalah makna asli, makna asal, atau

makna sebenarnya yang dimiliki oleh kata atau leksem. Makna denotatif memiliki

pengertian yang sama dengan makna leksikal dan makna referensial, yaitu makna

yang sesuai dengan hasil observasi menurut penglihatan, penciuman,

pendengaran, perasaan, atau pengalaman lainnya. Makna denotatif ini

menyangkut informasi-informasi faktual objektif. Contoh: kata perempuan dan

wanita keduanya memiliki makna denotatif yang sama, yaitu manusia dewasa

bukan laki-laki. Begitu juga kata gadis dan perawan; kata istri dan bini. Kata

gadis dan perawan memiliki makna denotatif yang sama yaitu „wanita yang belum

bersuami‟ atau „belum pernah bersetubuh‟; sedangkan kata istri dan bini memiliki

makna denotatif yang sama yaitu „wanita yang mempunyai suami‟.

f. Makna Konotatif

Chaer (2013: 65), makna konotatif adalah makna lain yang ditambahkan

pada makna denotatif yang berhubungan dengan nilai rasa perorangan atau

kelompok orang pengguna bahasa tersebut. Makna konotatif sebuah kata dapat

berbeda satu kelompok masyarakat yang satu dengan kelompok masyarakat yang

lain, sesuai dengan pandangan hidup dan norma-norma penilaian kelompok

tersebut. Contoh: kata babi di daerah-daerah yang penduduk mayoritasnya

beragama Islam, memiliki konotatif negatif karena binatang tersebut menurut

JENIS-JENIS MAKNA ...,EKA SEPTIANTI,FKIP UMP 2017.

14

hukum Islam adalah haram dan najis. Sebaliknya di daerah-daerah yang

penduduknya mayoritas bukan Islam, seperti di Pulai Bali atau di pedalaman Irian

Jaya, kata babi tidak berkonotatif negatif.

g. Makna Kata

Chaer (2013: 70), menyatakan adanya perbedaan makna kata dan makna

istilah berdasarkan ketepatan makna kata itu dalam penggunaannya secara umum

ke khusus. Dalam penggunaan bahasa secara umum seringkali kata-kata itu

digunakan secara tidak cermat sehingga maknanya bersifat umum. Tetapi dalam

penggunaan secara khusus, dalam bidang kegiatan tertentu, kata-kata itu

digunakan secara cermat sehingga maknanya pun menjadi tepat. Makna kata itu

baru jelas apabila sudah digunakan dalam suatu kalimat. Apabila lepas dari

konteks kalimat, makna kata itu menjadi umum dan kabur. Contoh: kata tahanan,

kata tahanan bisa saja bermaksud adalah „orang yang ditahan‟, tetapi bisa juga

„hasil perbuatan menahan‟.

h. Makna Istilah

Chaer (2013: 70), berbeda dengan kata yang maknanya masih bersifat

umum, makna istilah memiliki makna yang tetap dan pasti. Ketepatan dan

kepastian makna istilah itu karena makna istilah hanya digunakan dalam bidang

kegiatan atau keilmuan tertentu. Jadi, tanpa konteks kalimatnya pun makna istilah

itu sudah pasti. Contoh: kata tahanan di atas, sebagai kata, makna kata tahanan

masih bersifat umum, tetapi sebagai istilah misalnya dalam bidang hukum makna

JENIS-JENIS MAKNA ...,EKA SEPTIANTI,FKIP UMP 2017.

15

kata tahanan itu sudah pasti, yaitu orang yang ditahan sehubungan dengan suatu

perkara dan istilah dalam bidang kelistrikan kata tahanan itu bermakna daya yang

menahan arus listrik.

i. Makna Konseptual

Kamus Besar Bahasa Indonesia mengungkapkan yang dimaksud dengan

konsep adalah rancangan; ide atau pengertian yang diabstrakkan dari peristiwa

konkret; gambaran mental dari objek, proses, atau apa pun yang ada di luar

bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain. Konseptual

diartikan sebagai hal-hal yang berhubungan dengan konsep. Chaer (2013: 72) juga

menuliskan dalam bukunya makna konseptual yaitu makna yang dimiliki oleh

sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Dapat dikatakan pula

bahwa, makna konseptual merupakan makna yang ada pada kata yang tidak

tergantuk pada konteks kalimat tersebut. Makna konseptual juga disebut dengan

makna yang terdapat dalam kamus. Contoh dari makna konseptual adalah kata

„ibu‟ yakni „manusia berjenis kelamin perempuan dan telah dewasa‟. Jadi,

sebenarnya makna konseptual ini sama dengan makna referensial, makna leksikal,

dan makna denotatif. Contoh: kata kuda, kata kuda ini memiliki makna konseptual

“sejenis binatang berkaki empat yang biasanya dijadikan sebagai alat transportasi

tradisional”.

j. Makna Asosiatif

Chaer (2013: 72), makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah kata

berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan keadaan di luar bahasa.

JENIS-JENIS MAKNA ...,EKA SEPTIANTI,FKIP UMP 2017.

16

Contoh: kata melati berasosiasi dengan makna „suci‟, „kesucian‟. Contoh lain kata

merah berasosiasi dengan makna „berani‟. Makna asosiatif ini sesungguhnya sama

dengan perlambang-perlambang yang digunakan oleh suatu masyarakat bahasa

untuk menyatakan suatu konsep lain. Maka dengan demikian, dapat dikatan melati

digunakan sebagai perlambang „kesucian‟ dan merah digunakan sebagai

perlambang „keberanian‟.

k. Makna Idiomatikal

Menurut Chaer (2013: 74), menyatakan bahwa untuk lebih memahami yang

dimaksud dengan makna idiomatikal, perlu diketahui dulu apa yang dimaksud

dengan idiom. Idiom adalah satuan-satuan bahasa (kata, frasa, atau kalimat) yang

maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna leksikal unsur-unsurnya maupun

makna gramatikal satuan-satuan tersebut. Makna idiomatikal adalah makna

sebuah satuan bahasa (kata, frasa, atau kalimat) yang “menyimpang” dari makna

leksikal atau makna gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Contoh: menjual gigi

sebuah leksem dengan makna “tertawa keras-keras”. Membanting tulang sebuah

leksem dengan makna “bekerja keras”. Meja hijau sebuah leksem dengan makna

“pengadilan”.

l. Makna Peribahasa

Menurut Chaer (2013: 74), makna peribahasa masih dapat diramalkan

karena adanya asosiasi atau tautan antara makna leksikal dan gramatikal unsur-

unsur pembentuk peribahasa itu dengan makna lain yang menjadi tautannya. Jadi

JENIS-JENIS MAKNA ...,EKA SEPTIANTI,FKIP UMP 2017.

17

makna peribahasa adalah makna yang masih dapat ditelusuri atau dilacak dari

makna unsur-unsurnya karena adanya asosiasi antara makna asli dengan makna

sebagai peribahasa. Contoh: besar pasak dari pada tiang “keadaan pengeluaran

belanja lebih besar jumlahnya daripada pendapatan”, tong kosong nyaring

bunyinya “orang yang tiada berilmu biasanya banyak cakapnya”, dan bagai padi,

semakin berisi, semakin merunduk “orang pandai, orang yang banyak ilmunya

biasanya pendiam, merunduk dan tidak pongah”.

m. Makna Kias

Chaer (2013: 60-78), penggunaan istilah kiasan ini sebagai oposisi dari arti

sebenarnya. Oleh karena itu, semua bentuk bahasa (baik kata, frase, maupun

kalimat) yang tidak merujuk pada arti sebenarnya (arti leksikal, arti konseptual,

atau arti denotatif) disebut mempunyai arti kiasan. Jadi, bentuk-bentuk seperti

putri malam dalam arti „bulan‟, raja siang dalam arti „matahari‟, daki dunia dalam

arti „harta, uang‟, membanting tulang dalam arti „bekerja keras‟, semuanya

memiliki arti kiasan. Antara bentuk dan ujaran dengan makna yang diacu ada

hubungan kiasan, perbandingan atau persamaan. Gadis cantik disamakan dengan

bunga; matahari yang menyinari bumi pada siang hari disamakan dengan raja dan

sebagainya. Tamu yang tidak diundang dalam arti „maling‟ dan sipantat kuning

dalam arti „kikir‟ tamu yang tidak diundang dapat dikatakan memiliki arti kiasan;

tetapi si pantat kuning tidak memiliki arti kias karena tidak ada yang dikiaskan.

JENIS-JENIS MAKNA ...,EKA SEPTIANTI,FKIP UMP 2017.

18

n. Makna lokusi, ilokusi, perlokusi

Dalam kajian tindak tutur (speech act) dikenal adanya makna lokusi, makna

ilokusi, dan makna perlokusi. Yang dimaksud dengan makna lokusi adalah makna

yang dikatakan dalam ujaran, makna harfiah, atau makna apa adanya. Sedangkan

yang dimaksud makna ilokusi adalah makna yang dipahami oleh pendengar.

Sebaliknya, yang dimaksud makna perlokusi adalah makna yang diinginkan

penutur. Contoh: kalau seseorang kepada tukang afdruk foto dipinggir jalan

bertanya “Bang, tiga kali empat, berapa?”. Makna secara lokusi kalimat tersebut

adalah keingintahuan si penutur tentang tiga kali empat. Namun, makna perlokusi,

makna yang diinginkan si penutur adalah bahwa si penutur ingin tahu berapa

biaya mencetak foto ukuran tiga kali empat sentimeter. Apabila si pendengar,

yakni tukang afdruk foto itu memiliki makna ilokusi yang sama dengan makna

perlokusi dari segi penanya, tentu dia akan menjawab, contohnya, “dua ribu”,

“tiga ribu”. Tetapi kalau makna ilokusinya sama dengan makna lokusi dari ujaran

“tiga kali empat berapa”, dia pasti akan menjawab “dua belas”, bukan jawaban

yang lain. Dalam kajian tindak tutur, sebuah ujaran sekaligus dapat bermakna

lokusi, ilokusi, dan perlokusi.

C. Lirik Lagu Banyumasan

1. Pengertian Lirik Lagu

Menurut Moeliono (2007: 678), lirik mempunyai dua pengertian yaitu

karya sastra puisi yang berisi curahan perasaan pribadi dan sususan sebuah

nyanyian. Lirik (dalam lagu) adalah rangkaian pesan verbal yang tertulis dengan

sistematika tertentu untuk menimbulkan kesan tertentu juga, isi pesan verbal

JENIS-JENIS MAKNA ...,EKA SEPTIANTI,FKIP UMP 2017.

19

tersebut mewakili gagasan penulis (lirik) yang merupakan respon terhadap

lingkungan fisik manusia. Dalam menyampaikan pesan kepada pendengar, penulis

menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi. Menurut Berger (2010: 1), kata-

kata dipakai sebagai tanda dari suatu konsep atau ide. Dalam hal ini, ada satu

tujuan komunikasi yang harus diingat, yakni bahwa tanda “bermakna” sesuatu

rangkaian kata-kata tersebut berbentuk lirik. Lirik merupakan reaksi simbolik dari

manusia yang merupakan respon dari segala sesuatu yang terjadi dan dirasakan

oleh lingkungan fisiknya. Kondisi lingkungan juga ditangkap oleh pikiran yang

menghasilkan gagasan atau ide dan dituangkan dengan bahasa atau kata-kata.

Makna dalam lirik merupakan ungkapan perasaan yang dilakukan

pengarang. Lirik inilah yang sekarang dikenal sebagai puisi dan sajak, yakni karya

sastra yang berisi ekspresi (curahan) perasaan pribadi yang lebih mengutamakan

cara mengekspresikannya. Moeliono (2007: 624) lagu adalah ragam suara

berirama. Lagu dapat dipadu dengan lirik sehingga jelas apa yang disampaikan

oleh pencipta lagu. Melalui lagu, manusia dapat mengekspresikan perasaan,

harapan, aspirasi dan cita-cita, yang mempresentasikan pandangan hidup dan

semangat. Lagu sebagai media yang universal dan efektif, dapat menuangkan

gagasan, pesan, dan ekspresi pencipta kepada pendengarnya melalui lirik,

komposisi musik, pemilihan instrumen musik, dan cara membawakannya. Lagu

dapat berupa ungkapan kegembiraan, protes terhadap suatu hal, kemarahan,

kegundahan, dan sebagainya. Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa

lirik lagu curahan perasaan pribadi yang dituliskan dengan kata-kata yang

merupakan respon dari segala sesuatu yang terjadi dan dirasakan oleh lingkungan

fisiknya (yang diperngaruhi oleh akal sehat dan rasionalitas).

JENIS-JENIS MAKNA ...,EKA SEPTIANTI,FKIP UMP 2017.

20

2. Ciri-ciri Lagu Banyumasan

Untuk membedakan asal darimana lagu tersebut, peneliti menemukan ciri-

ciri yang dapat membedakan lagu Banyumasan dengan lagu yang bukan dari

Banyumas, sebagai berikut:

a. Bahasa Banyumasan

Bahasa yang digunakan di dalam lirik lagu karya Bapak Rasito

menggunakan bahasa Banyumasan atau dialek Banyumasan. Dialek Banyumasan

atau sering disebut Bahasa Ngapak (oleh masyarakat di luar Banyumas) adalah

kelompok bahasa Jawa yang dipergunakan di wilayah barat Jawa Tengah,

Indonesia. Logat bahasanya agak berbeda dibanding dialek bahasa Jawa lainnya.

Hal ini disebabkan bahasa Banyumasan masih berhubungan erat dengan bahasa

Jawa Kuna (Kawi).

Bahasa Banyumasan terkenal dengan cara bicaranya yang khas. Dialek ini

disebut Banyumasan karena dipakai oleh masyarakat yang tinggal di wilayah

Banyumasan. Dibandingkan dengan bahasa Jawa dialek Yogyakarta dan

Surakarta, dialek Banyumasan banyak sekali bedanya. Perbedaan yang utama

yakni akhiran 'a' tetap diucapkan 'a' bukan 'o'. Jadi jika di Solo orang makan 'sego'

(nasi), di wilayah Banyumasan orang makan 'sega'. Selain itu, kata-kata yang

berakhiran huruf mati dibaca penuh, misalnya kata enak oleh dialek lain bunyinya

ena, sedangkan dalam dialek Banyumasan dibaca enak dengan suara huruf 'k'

yang jelas, itulah sebabnya bahasa Banyumasan oleh masyarakat di luar

Banyumas disebut sebagai bahasa Ngapak atau Ngapak-ngapak.

JENIS-JENIS MAKNA ...,EKA SEPTIANTI,FKIP UMP 2017.

21

b. Di nyanyikan oleh pesindhen/sindhen

Pesindhen/sindhen menunjuk pada seseorang yang menjadi peraga, sebagai

vokalis utama, yang kebanyakan peraganya wanita. Istilah sindhen ada yang

memberi batasan pengertian sebagai vokal solo putri yang menyertai karawitan.

Kehadiran seorang pesindhen merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan

atau kesuksesan dalam sebuah pertunjukan (karawitan). Melalui kualitas dan

profesionalitasnya, seperti karakter, kharisma, virtuositas serta daya tariknya

seorang pesindhen mampu menghidupkan sebuah pertunjukan. Dalam

kenyataannya menunjukkan bahwa hampir setiap pertunjukan, baik karawitan

konser maupun sebagai karawitan pertunjukan wayang dan sebagainya, kehadiran

pesindhen cenderung menjadi fokus perhatian khalayak.

c. Senggakan

Dari cara penyajiannya, senggakan di dalam karawitan memiliki kesan

rame. Dengan demikian senggakan dapat diartikan vokal bersama atau tunggal

dengan menggunakan cakepan parikan atau serangkaian kata-kata (terkadang

tanpa makna). Berfungsi untuk mendukung terwujudnya suasana ramai dalam

sajian suatu gendhing. Senggakan ini bersifat sangat lentur, artinya bisa ditafsir

oleh siapa saja dengan pengertian apa saja asal logis dan kontekstual. Kedudukan

senggakan di dalam gendhing-gedhing Banyumasan sangat penting mengingat

gendhing-gendhing Banyumasan merupakan gendhing vokal, sehingga tanpa

senggak akan terasa sepi.

Senggakan yang digunakan dalam gendhing-gendhing Banyumasan adalah

berupa senggakan tanpa lagu, senggakan yang mengikuti pola tabuhan kendhang

JENIS-JENIS MAKNA ...,EKA SEPTIANTI,FKIP UMP 2017.

22

dan senggakan pematut. Senggakan tanpa lagu biasanya diterapkan pada sajian

irama lancar dengan mengikuti ritme sabetan balungan. Cakepan yang digunakan

pada umumnya berupa suku kata seperti “ut, ho, oh, eh, ah, yah” dan lain-lain.

Senggakan yang mengikuti pola tabuhan kendhang penerapannya sewaktu-waktu

menyesuaikan pola tabuhan kendhang. Cakepan yang digunakan biasanya berupa

frase tertentu seperti “telululu, ho’yah-ho’yah, hae-hae, domak tingting jos, esod-

esod, eh-oh-eh, ep-op-ep” dan lain-lain. Adapun senggakan pematut diterapkan

pada irama lancar dan irama dadi yang pada umumnya menggunakan cakepan

“dhowa lolo loing”. Selain senggakan-senggakan di atas ada juga interaktif atau

diaolog antara sindhen dengan penggerong atau pengrawit.

D. Kesenian

1. Pengertian Kesenian

Kata seni dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007: 1037), mempunyai

arti „kecil dan halus atau karya yang diciptakan dengan keahlian yang luar biasa‟.

Menurut Schopenhauer (dalam Yeniningsih, 2007: 215), seni adalah segala usaha

untuk menciptakan bentuk-bentuk menyenangkan. Seni mengarah pada suatu

tujuan, yaitu mengungkapkan perasaan manusia. Hal tersebut berkaitan dengan

apa yang dialami oleh seorang seniman atau pelaku seni ketika menciptakan suatu

karya seni. Dalam penciptaan itulah akan dihasilkan berbagai cabang seni seperti

seni musik, tari, rupa, dan sebagainya. Sedangkan arti kesenian adalah segala

sesuatu mengenai atau yang berkaitan dengan seni.

Seni pertunjukan adalah karya seni yang melibatkan aksi individu atau

kelompok di tempat dan waktu tertentu. Seni pertunjukan yang dimaksud di sini

JENIS-JENIS MAKNA ...,EKA SEPTIANTI,FKIP UMP 2017.

23

adalah seni pertunjukan yang dikonsep sebagai satu kesatuan pertunjukan yang

mempunyai tema dan tujuan tertentu, baik untuk kepentingan orang banyak,

maupun bagi seni itu sendiri. Jenis-jenis seni pertunjukan biasanya meliputi seni

musik, seni tari, seni rupa, seni drama. Seni pertunjukan merupakan sebuah

ungkapan budaya, wahana untuk menyampaikan nilai-nilai budaya dan

perwujudan norma-norma, estetik-estetik yang berkembang sesuai dengan zaman,

dan wilayah dimana bentuk seni pertunjukan itu tumbuh dan berkembang

(Susetyo, 2009: 1). Dari beberapa pengertian seni di atas dapat disimpulkan

bahwa seni adalah ungkapan perasaan manusia yang melibatkan perorangan atau

individu maupun kelompok untuk menciptakan sesuatu (karya seni) yang

menyenangkan. Seni dibagi menjadi beberapa cabang, yaitu seni musik, seni tari,

seni rupa, seni drama.

2. Seni Musik

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007: 766), musik merupakan

ilmu atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan, kombinasi, dan hubungan

temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan

kesenambungan. Menurut Supriatna (2006: 12), musik pada dasarnya adalah

bunyi hasil rekayasa dari berbagai macam ide atau gagasan yang diolah oleh

manusia, selanjutnya diwujudkan dalam bentuk karya. Dalam wikipedia musik

adalah suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan

keharmonisan terutama dari suara yang dihasilkan dari alat-alat yang dapat

menghasilkan irama. Walaupun musik adalah sejenis fenomena intuisi, untuk

mencipta, memperbaiki dan mempersembahkannya adalah suatu bentuk seni.

JENIS-JENIS MAKNA ...,EKA SEPTIANTI,FKIP UMP 2017.

24

Mendengar musik adalah sejenis hiburan. Musik adalah sebuah fenomena yang

sangat unik yang bisa dihasilkan oleh beberapa alat musik

(http://id.wikipedia.org/wiki/musik,tahun).

Dari berbagai pengertian musik di atas dapat disimpulkan bahwa musik

adalah rangkaian nada-nada atau bunyi yang disusun sedemikian rupa, diatur

dengan cara tertentu sehingga menampilkan alunan suara yang sesuai dengan

keinginan penciptanya. Musik dapat mempengaruhi jiwa pendengarnya. Musik

mampu mendamaikan hati, dapat dijadikan sebagai terapi rekreatif. Musik

mengandung irama yang harmonis sehingga membuat pendengar seakan mengerti

apa yang dirasakan pencipta.

E. PETA KONSEP

JENIS-JENIS MAKNA KATA PADA

LIRIK LAGU BANYUMASAN KARYA

BAPAK RASITO PURWO PANGRAWIT

Makna

Musik

Kesenian

Kata

Jenis Makna

Lirik Lagu

23

JENIS-JENIS MAKNA ...,EKA SEPTIANTI,FKIP UMP 2017.