6 bab ii landasan teori a. kajian teori pembahasan teori yang

Download 6 BAB II LANDASAN TEORI A. Kajian Teori Pembahasan teori yang

Post on 26-Jan-2017

214 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 6

    BAB II

    LANDASAN TEORI

    A. Kajian Teori

    Pembahasan teori yang akan diuraikan dalam penelitian ini adalah teori-

    teori yang berkaitan dengan penelitian ini, yaitu sebagai berikut:

    1. Pengaturan Tempat Duduk

    a. Pengertian Pengaturan Tempat Duduk

    Menurut Sidi (Asmani, 2010:117) pengaturan tempat duduk

    dalam pembelajaran lebih bervariasi, termasuk kerja kelompok, kerja

    perorangan, dan klasikal.

    Pengaturan atau penataan tempat duduk adalah salah satu upaya

    yang dilakukan oleh guru dalam mengelola kelas. Dengan penataan

    tempat duduk yang baik maka diharapkan akan menciptakan kondisi

    belajar yang kondusif, dan juga menyenangkan bagi siswa. Penataan

    lingkungan kelas yang tepat berpengaruh terhadap tingkat keterlibatan

    dan partisipasi siswa dalam proses pembelajaran. Lebih jauh, diketahui

    bahwa tempat duduk berpengaruh jumlah terhadap waktu yang

    digunakan siswa untuk menyelesaikan tugas yang diberikan.

    Sesuai dengan maksud pengelolaan kelas sendiri bahwa

    pengelolaan kelas merupakan upaya yang dilakukan oleh pembelajar

    (guru) dalam menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif,

    melalui kegiatan pengaturan pembelajar (siswa) dan barang/ fasilitas.

    Selain itu pengelolaan kelas dimaksudkan untuk menciptakan,

    memelihara tingkah laku pembelajar (siswa) yang dapat mendukung

    proses pembelajaran. Maka dengan demikian pengelolaan kelas berupa

    penataan tempat duduk pembelajar (siswa) sebagai bentuk pengelolaan

    kelas dapat membantu menciptakan proses pembelajaran yang sesuai

    dengan tujuan.

  • 7

    b. Jenis-jenis Pengaturan atau Penataan Tempat Duduk

    Pengaturan tempat duduk terdiri dari bemacam-macam jenis.

    Silberman (2001:13) menunjukkan penataan tempat duduk siswa

    yang dapat dipilih dalam proses pembelajaran adalah: model huruf U,

    corak tim, meja konferensi, lingkaran, susunan chevron, auditorium,

    dan model tradisional.

    Berikut adalah penjelasan dari masing-masing jenis pengaturan

    tempat duduk:

    1) Huruf U

    Gambar 2.1. Tempat Duduk Model Huruf U

    Formasi kelas bentuk huruf U sangat menarik dan mampu

    mengaktifkan para siswa, sehingga mampu membuat mereka

    antusias untuk mengikuti pelajaran. Dalam hal ini guru adalah

    orang yang paling aktif dengan bergerak dinamis ke segala arah

    dan langsung berinteraksi secara langsung, sehingga akan

    mendapatkan respon dari pendidik secara langsung.

    2) Corak Tim

    Gambar 2.2. Tempat Duduk Model Corak Tim

  • 8

    Pada model ini, meja-meja dikelompokkan setengah

    lingkaran atau oblong di ruang tengah kelas agar memungkinkan

    guru melakukan interaksi dengan setiap tim (kelompok siswa).

    Guru dapat meletakkan kursi-kursi mengelilingi meja-meja guna

    menciptakan suasana yang akrab. Siswa juga dapat memutar kursi

    melingkar menghadap ke depan ruang kelas untuk melihat guru

    atau papan tulis.

    3) Meja Konferensi

    Gambar 2.3. Tempat Duduk Model Meja Konferensi

    Formasi konferensi sangat bagus digunakan dalam metode

    debat saat membahas suatu permasalahan yang dilontarkan oleh

    pendidik, kemudian membiarkan para siswa secara bebas

    mengemukakan berbagai pendapat mereka. Dengan begitu akan

    didapatkan sebuah kesimpulan atau bahkan dapat memunculkan

    permasalahan baru yang bisa dibahas lagi pada pertemuan

    berikutnya.

    4) Lingkaran

    Gambar 2.4. Tempat Duduk Model Lingkaran

  • 9

    Dalam model ini, tempat duduk siswa disusun dalam bentuk

    lingkaran sehingga mereka dapat berinteraksi berhadap-hadapan

    secara langsung. Model lingkaran seperti ini cocok untuk diskusi

    kelompok penuh.

    5) Susunan Chevron

    Gambar 2.5. Tempat Duduk Model Susunan Chevron

    Bentuk chevron mungkin bisa sangat membantu dalam usaha

    mengurangi jarak di antarsiswa maupun antar siswa dengan guru,

    sehingga siswa dan guru mempunyai pandangan yang lebih baik

    terhadap lingkungan kelas dan mampu aktif dalam pembelajaran di

    kelas. Formasi ini memberikan sudut pandang baru bagi siswa,

    sehingga mereka mampu menjalani proses belajar-mengajar dengan

    antusias, menyenangkan, dan terfokus.

    6) Auditorium

    Gambar 2.6. Tempat Duduk Model Auditorium

  • 10

    Formasi auditorium merupakan tawaran alternatif dalam

    menyusun ruang kelas. Meskipun bentuk auditorium menyediakan

    lingkungan yang sangat terbatas untuk belajar aktif, namun hal ini

    dapat dicoba untuk mengurangi kebosanan siswa yang terbiasa

    dalam penataan ruang secara konvensional (tradisional). Jika

    tempat duduk sebuah kelas dapat dengan mudah dipindah-

    pindahkan, maka guru dapat membuat bentuk pembelajaran ala

    auditorium untuk membentuk hubungan yang lebih erat, sehingga

    memudahkan siswa melihat guru.

    7) Tradisional

    Gambar 2.7. Tempat Duduk Model Tradisional

    Formasi Tradisional adalah formasi yang biasa kita temui

    dalam kelas-kelas tradisional yang memungkinkan para siswa

    duduk berpasangan dalam satu meja dengan dua kursi. Namun,

    model ini sangat memiliki keterbatasan yaitu pandangan teman

    yang berada di kelas terutama di belakang sering terganggu.

    Mobilitas siswa juga tidak bisa leluasa.

    c. Kelebihan dan Kekurangan Masing-masing Jenis Pengaturan atau

    Penataan Tempat Duduk

    1) Huruf U

    Kelebihan : guru dapat menjangkau seluruh peserta didik

    sehingga pembelajaran dapat maksimal.

    Kekurangan : kondisi ini digunakan untuk kelas yang jumlah

    siswanya tidak terlalu banyak.

  • 11

    2) Corak Tim

    Kelebihan : memungkinkan guru melakukan interaksi dengan

    setiap tim (kelompok siswa). Siswa juga dapat

    mendiskusikan masalah belajarnya dengan siswa

    satu kelompoknya dan dapat memaksimalkan

    kegiatan belajarnya dengan baik.

    Kekurangan : kondisi kelas biasanya ramai dan materi yang

    disampaikan tidak dapat disampaikan secara

    maksimal dalam kondisi kelas yang demikian.

    3) Meja Konferensi

    Kelebihan : menjadikan mudah permasalahan yang dianggap

    berat atau sulit karena didiskusikan secara bersama.

    Kekurangan : dapat mengurangi peran penting siswa.

    4) Lingkaran

    Kelebihan : sistem ini dapat menyelesaikan permasalahan

    kelompok secara bersama dengan peserta didik yang

    jumlahnya banyak, dapat menjadikan mudah

    permasalahan yang dianggap berat atau sulit.

    Kekurangan : pembelajaran kurang efektif dalam penerimaan dan

    pemberian tugas, karena siswa umumnya lebih suka

    bermain.

    5) Susunan Chevron

    Kelebihan : mengurangi jarak di antarsiswa maupun antar siswa

    dengan guru, sehingga siswa dan guru mempunyai

    pendangan yang lebih baik terhadap lingkungan

    kelas dan mampu aktif dalam pembelajaran.

    Kekurangan : -

    6) Auditorium

    Kelebihan : mengurangi kebosanan siswa yang terbiasa dalam

    penataan ruang secara konvensional (tradisional).

    Kekurangan : lingkungan yang sangat terbatas untuk belajar aktif.

  • 12

    7) Tradisional

    Kelebihan : siswa mampu di jangkau oleh pandangan guru, kelas

    tampak ledih teratur dan rapi, serta guru dapat

    mengawasi dari depan.

    Kekurangan : guru biasanya kurang memperhatikan siswa yang

    ada di belakang. Siswa yang tempat duduknya di

    belakang tidak dapat menerima pelajaran secara

    maksimal.

    d. Tujuan Pengaturan Tempat Duduk

    Menurut Hamid (2011:126) pengaturan bangku atau tempat

    duduk dilakukan untuk memenuhi empat tujuan pembelajaran, yaitu:

    1) Aksesibilitas yang membuat siswa mudah menjangkau alat atau sumber belajar yang tersedia.

    2) Mobilitas yang membuat siswa dan guru mudah bergerak dari satu bagian ke bagian lain dalam kelas.

    3) Interaksi yang memudahkan terjadinya komunikasi antara guru, siswa, maupun antarsiswa.

    4) Variasi kerja siswa yang memungkinkan siswa bekerja sama secara perorangan, berpasangan, atau berkelompok.

    2. Minat

    a. Pengertian Minat

    Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada

    suatu hal dan aktivitas, tanpa ada yang menyuruh (Slameto, 2010:180).

    Menurut Djaali (2007:122) minat adalah perasaan yang ingin tahu,

    mempelajari, mengagumi, atau memiliki sesuatu. Sedangkan menurut

    Rahman (2004:262) minat adalah kecenderungan untuk memberikan

    perhatian dan bertindak terhadap orang, aktivitas atau situasi yang

    menjadi obyek dari minat tersebut dengan disertai perasaan senang.

    Crow dan crow mengatakan bahwa minat berhubungan dengan gaya

    gerak yang mendorong seseorang untuk menghadapi atau berurusan

    dengan orang lain, benda, kegiatan, pengalaman, yang dirangsang oleh

    kegiatan itu sendiri (Djaali, 2007:121).

  • 13

    Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa minat

    adalah kecenderungan atau keinginan yang tinggi terhadap sesuatu

    yang ingin dicapai.

    b. Jenis-jenis Minat

    Minat terdiri dari beberapa jenis. Menurut Djaali (2007:122)

    minat dibagi dalam enam jenis yaitu:

    1) Realistis Orang realistis umumnya mapan, kasar, praktis, berfisik kuat,

    dan sering sangat atletis, memiliki koordinasi otot yang baik

    dan terampil. Akan tetapi ia kurang mampu menggunakan

    medium komunikasi verbal dan kurang memiliki keterampilan

    berkomunikasi dengan orang lain.

    2) Investigative Orang investigative termasuk orang yang berorientasi

    keilmuan. Mer

Recommended

View more >