tingkat kematangan gonad ikan bilih (mystacoleucus padangensis)

Click here to load reader

Post on 12-Nov-2014

1.327 views

Category:

Science

3 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Untuk mengetahui Tingkat kematangan Gonad dan Indeks Kematangan Gonad Ikan bilih

TRANSCRIPT

  • 1. Laporan Praktikum Biologi Perikanan KEMATANGAN GONAD IKAN BILIH (Mystacoleucus padangensis) MELALUI IKG DAN DAN TKG Dosen Penanggung Jawab Indra Lesmana, S.Pi, M.Si Ani Suryanti, S.Pi, M.Si Oleh Tiur Natalia Manalu 120302028 VI / B LABORATORIUM BIOLOGI PERIKANAN PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2014
  • 2. 2 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Ikan bilih (Mystacoleucus padangensis) merupakan ikan endemik yang hidup di Danau Singkarak, Sumatera Utara. Introduksi ikan bilih ke Danau Toba, Sumatera Utara dilakukan setelah ahli peneliti perikanan mempertimbangkan hasil kajian ikan bilih di habitat aslinya, Danau Singkarak dan hasil kajian yang dilakukan di Danau Toba sebagai kandidat perairan untuk introduksi ikan bilih. Walaupun telah dilakukan kajian tentang bioekologi termasuk kesesuaian untuk pemakanan, pemijahan, asuhan dan pembesaran ikan bilih sampai dengan kemungkinan dampaknya terhadap populasi ikan asli dan hasil tangkapan tetapi umumnya masyarakat mempertanyakan keberadaan dan pertumbuhan ikan bilih yang sangat cepat apakah dapat merusak ekosistem perairan Danau Toba mengingat ikan bilih bukan spesies ikan asli perairan Danau Toba. Pertanyaan tersebut muncul akibat sangat terbatasnya informasi bioekologi ikan yang hidup di perairan Danau Toba. Kajian bioekologi ikan bilih perlu dilakukan agar tercapai pengelolaannya yang berkelanjutan di perairan Danau Toba (Panjaitan, 2010). Bentuk badan ikan bilih sangat mirip dengan ikan genggehek (Jawa Barat) atau wader (Jawa Tengah dan Timur), yaitu Mystacoleucus merginatus yang banyak terdapat di perairan umum Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Juga mirip dengan ikan wader cakul (Jawa Tengah dan Timur), beunteur (Jawa Barat) atau pora-pora (Sumatera Utara), yaitu Pontius binotatus. Karena ikan pora-pora di Danau Toba tidak pernah tertangkap lagi sejak tahun 1990-an, maka masyarakat sekitar danau tersebut menyebut ikan bilih sebagai ikan pora-pora. Nama pora- pora yang sebenarnya adalah ikan bilih terus melekat dan populer sampai sekarang. Harga ikan bilih yang ekonomis tinggi menjadikan ikan ini sebagai komoditas ekspor dalam bentuk kering ke negara jiran, Malaysia dan Singapura. Ikan bilih melakukan reproduksi atau pemijahan dengan mengikuti aliran air di sungai yang bermuara di danau. Induk jantan dan betina beruaya ke arah sungai dengan kecepatan arus berkisar antara 0,3-0,6 m/detik dan kedalaman antara 10- 20 cm. Habitat pemijahan adalah perairan sungai yang jernih, dengan suhu air
  • 3. 3 relatif rendah, berkisar 24,0-26,0C, dasar sungai yang berbatu kerikil dan atau pasir (Antoni, 2010). Salah satu faktor yang diduga sebagai penyebab penurunan kepadatan populasi ikan bilih adalah tingginya tingkat eksploitasi. Tingkat eksploitasi ikan bilih telah mencapai 77,84% atau 416,90 ton dari stok ikan bilih yaitu 542,46 ton, batas maksimum eksploitasi 60%. Tingginya tingkat eksploitasi ikan di perairan dapat dilihat dari ukuran individu ikan yang tertangkap, terutama yang telah ma- tang gonad, dimana ukurannya semakin kecil dari tahun ke tahun. Semakin tinggi frekuensi dan intensitas penangkapan ikan betina dalam kondisi matang gonad atau bertelur, maka penambahan individu baru ke dalam perairan semakin berkurang. Jenis dan jumlah alat tangkap yang dioperasikan nelayan, juga menentukan kepadatan populasi ikan di perairan. Jenis alat tangkap yang dominan digunakan nelayan dalam kegiatan penangkapan adalah jaring insang atau jaring langli. Ukuran mata jaring yang digunakan nelayan dalam kegiatan penangkapan ikan bilih terlalu kecil sehingga ikan bilih banyak tertangkap dalam kondisi bertelur dan pada ukuran ikan pertama kali matang gonad (Panjaitan, 2010). Pertumbuhan dapat di defenisikan sebagai perubahan ukuran panjang, berat dan volume dalam jangka waktu tertentu. Pertumbuhan ikan biasanya ditunjukkan dari penambahan panjang dan berat yang biasanya bertujuan untuk mengetahui pola pertumbuhan atau tampilan ikan di alam. Pola pertumbuhan dalam pengelolaan sumberdaya perikanan sangat bermanfaat dalam penentuan selektivitas alat tangkap agar ikan-ikan yang tertangkap hanya yang berukuran layak tangkap. Dalam hubungannya dengan pertumbuhan, analisa hubungan panjang-berat dimaksudkan untuk mengukur variasi berat harapan untuk panjang tertentu dari ikan secara individual atau kelompok individu sebagai suatu petunjuk tentang kegemukan, kesehatan, perkembangan gonad dan sebagainya. Tampilan pertumbuhan diperoleh berdasarkan nilai b yang merupakan slope regresi antara logaritma hubungan panjang dan berat (Nofrita, dkk., 2013). Agar kelestarian populasi ikan Bilih tetap terjamin maka dibutuhkan pengelolaannya. Aspek penting untuk kelestarian populasi ikan Bilih adalah aspek reproduksi yang merupakan aspek dasar biologi ikan. Keberhasilan reproduksi ikan akan menunjukkan kelangsungan populasi ikan tersebut dalam lingkungan
  • 4. 4 ikan tersebut. Pengetahuan fekunditas dan indeks gonad somatik (IGS) merupakan salah satu aspek yang memiliki peran penting dalam biologi perikanan, dimana fekunditas berkaitan erat dengan studi dinamika populasi, produksi serta stock recruitment, sedangkan nilai IGS digunakan untuk memprediksi kapan ikan tersebut akan siap dilakukannya pemijahan. Nilai IGS tersebut akan mencapai batas kisaran maksimum pada saat akan terjadinya pemijahan. Pemijahan sebagai salah satu bagian dari reproduksi merupakan mata rantai daur hidup yang menentukan kelangsungan hidup spesies. Penambahan populasi ikan bergantung pada keberhasilan. Ikan Bilih perlu dilestarikan melalui pengelolaan habitat serta pemanfaatan yang memperhatikan reproduksi ikan Bilih (Patrioni, dkk., 2010). 1.2 Tujuan Praktikum Adapun tujuan dari praktikum yang berjudul Tingkat Kematangan Gonad Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis) Melalui IKG dan TKG adalah untuk mengetahui secara langsung kuantitas dan morfologi telur ikan bilih (Mystacoleucus padangensis), mampu mengidentifikasi telur secara histologi menggunakan mikroskop, mampu melakukan perhitungan dan analisis IKG (Indeks Kematangan Gonad), untuk mengetahui TKG (Tingkat Kematangan Gonad) ikan bilih berdasarkan hasil identifikasi, untuk mengetahui hubungan TKG dan IKG serta kaitannya dengan faktor lingkungan perairan ikan bilih (Mystacoleucus padangensis). 1.3 Manfaat Praktikum Adapun manfaat dari praktikum ini adalah sebagai syarat untuk mengikuti praktikum Biologi Perikanan serta sebagai sumber informasi bagi yang membutuhkan.
  • 5. 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Morfologi Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis) Menurut Antoni (2010), ciri-ciri morfologi ikan bilih adalah: 1) sirip punggung mempunyai jari-jari keras (berduri) yang rebah ke muka, kadang kadang duri ini tertutup oleh sisik sehingga tidak kelihatan jika tidak diraba. Sirip dubur tidak mempunyai jari-jari keras, hanya terdapat 8-9 jari-jari lemah, 2) badan bulat panjang dan pipih, tinggi badan 2-3 cm, panjang badan maksimum 11,6 cm, 3) sisiknya kecil-kecil dan tipis, terdapat 37-39 baris antara tengah-tengah dasar sirip punggung dan gurat sisi (lateral line), 4) tubuh ditutupi oleh sisik yang berwarna keperak-perakan. Punggung dan ekor bagian sebelah sirip berwarna kehitam-hitaman. Secara sistematik ikan bilih termasuk ke dalam klasifikasi sebagai berikut: Kingdom : Animalia Filum : Chordata Kelas : Actinopterygii Ordo : Cypriniformes Famili : Cyprinidae Genus : Mystacoleucus Species : Mystacoleucus padangensis Panjang ikan Bilih dewasa berkisar antara 58,00-107,00 mm dengan panjang rata-rata 89,00 mm. Berat badan ikan bilih sekitar 3,00-10,50 gr dengan rata-rata 6,80 gr. Tinggi badan rata-rata 18,50 mm dan ekor bertipe homocercal. Jari-jari pada sirip punggung, dada, dan perut masing-masing terdiri dari jari-jari keras 1 buah dan jari-jari lemah 8-9 buah. Pada garis sisi (linea literalis) terdapat sisi yang bersifat sikloid sebanyak 35 buah dan di atas garis sisi sebanyak 5 buah. Sisik daerah perut sampai ekor bagian bawah berwarna putih keperakan. Sedangkan sisik diatas garis sisi atau bagian punggung berwarna agak gelap (kecoklatan) (Yanti, 2012). Perkembangan populasi ikan bilih yang cepat selain didukung oleh tersedianya makanan alami terutama fitoplankton dan dentritus juga tersedianya
  • 6. 6 daerah pemijahan yang banyak tersebar di muara-muara sungai yang masuk ke danau. Sesudah masa larva berakhir bentuk ikan hampir serupa dengan induk. Beberapa bagian tubuhnya meneruskan pertumbuhannya. Pada umumnya perubahan tadi hanya merupakan perubahan kecil saja seperti panjang sirip dan kemontokan ikan. Selain itu terdapat pula perubahan yang bersifat sementara misalnya perubahan yang berhubungan dengan kematangan gonad. Perubahan- perubahan itu dinamakan pertumbuhan allometrik atau heterogenik. Apabila pada ikan terdapat perubahan terus menerus secara proporsionil dalam tubuhnya dinamakan pertumbuhan isometrik atau isogenik (Antoni, 2010). 2.2 Kematangan Gonad Tingkat kematangan gonad adalah tahapan perkembangan gonad sebelum dan sesudah ikan memijah. Informasi mengenai tingkat kematangan gonad diperlukan untuk mengetahui perbandingan ikan yang matang gonad dengan ikan yang belum matang gonad dari stok ikan di perairan, selain itu dapat mengetahui waktu pemijahan, lama pemijahan dalam setahun, frekuensi pemijahan dan umur atau ukuran ikan pertama kali matang gonad. Ukuran matang gonad tiap spesies ikan berbeda-beda dan juga pada spesies yang sama jika tersebar pada lintang yang berbeda lebih dari lima derajat akan mengalami perbedaan ukuran dan

View more