penetapan prioritas masalah

6
Penetapan Prioritas Masalah Ditemukannya lebih dari satu masalah maka harus ditentukan prioritas masalah karena adanya keterbatasan dana dan sumber daya. Penetapan prioritas masalah dilakukan dengan menggunakan kriteria matriks seperti pada tabel dibawah. Prioritas masalah ditetapkan dengan sistem skoring dan akan dinilai beberapa kriteria: a) Pentingnya masalah (importancy) yang terdiri dari: Besarnya masalah (Prevalence = P) Akibat yang ditimbulkan masalah (severity) = S Kenaikan besarnya masalah (rate of increase) = RI Keuntungan sosial karena selesainya masalah (social benefit) = SB Derajat keinginan masyarakat tidak terpenuhi (degree of unmeet needs) = DU Rasa prihatin masyarakat terhadap masalah (public concern) = PB Suasana politik (political climate) = PC c) Kelayakan teknologi (technilcal feasibility) = T d) Sumber daya yang tersedia (Resources availability) = R Untuk setiap kriteria diberikan nilai dalam rentang 1 (tidak penting) hingga 5 (sangat penting). Masalah yang menjadi prioritas utama ialah masalah dengan nilai tertinggi. No Daftar Masalah Importance T R Jumlah P=I x T x R P S RI DU SB PB PC 1. Rendahnya angka penjaringan suspek 4 3 3 5 5 2 3 3 3 225

Upload: meryco

Post on 06-Nov-2015

78 views

Category:

Documents


21 download

DESCRIPTION

v

TRANSCRIPT

Penetapan Prioritas MasalahDitemukannya lebih dari satu masalah maka harus ditentukan prioritas masalah karena adanya keterbatasan dana dan sumber daya. Penetapan prioritas masalah dilakukan dengan menggunakan kriteria matriks seperti pada tabel dibawah. Prioritas masalah ditetapkan dengan sistem skoring dan akan dinilai beberapa kriteria:a) Pentingnya masalah (importancy) yang terdiri dari: Besarnya masalah (Prevalence = P) Akibat yang ditimbulkan masalah (severity) = S Kenaikan besarnya masalah (rate of increase) = RI Keuntungan sosial karena selesainya masalah (social benefit) = SB Derajat keinginan masyarakat tidak terpenuhi (degree of unmeet needs) = DU Rasa prihatin masyarakat terhadap masalah (public concern) = PB Suasana politik (political climate) = PCc) Kelayakan teknologi (technilcal feasibility) = Td) Sumber daya yang tersedia (Resources availability) = RUntuk setiap kriteria diberikan nilai dalam rentang 1 (tidak penting) hingga 5 (sangat penting). Masalah yang menjadi prioritas utama ialah masalah dengan nilai tertinggi.

NoDaftar MasalahImportanceTRJumlahP=I x T x R

PSRIDUSBPBPC

1.Rendahnya angka penjaringan suspek433552333225

2.Proporsi pasien TB paru positif diantara semua pasien TB paru tercatat / diobati322452333189

3.Rendahnya angka penemuan kasus545552333261

Dari penetapan prioritas berdasarkan teknik kriteria matriks diatas maka prioritas masalah yang dipilih adalah Rendahnya angka penemuan kasus. Adapun urutan prioritas masalah yang berhasil ditetapkan adalah sebagai berikut :1. Rendahnya angka penemuan kasus 2. Rendahnya angka penjaringan suspek3. Proporsi pasien TB paru positif diantara semua pasien TB paru tercatat / diobati Rendahnya angka penemuan kasus merupakan masalah yang menjadi prioritas. Angka penemuan kasus menggambarkan jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dan diobati dalam wilayah puskesmas. Rendahnya angka penemuan kasus berarti banyaknya kasus suspek TB yang tidak diperiksa lebih lanjut ataupun karena jumlah suspek/penderitanya yang sedikit, ataupun dikarenakan kesalahan pemeriksaan laboratorium. terjaring dan kurangnya keaktifan puskesmas dalam upaya penjaringan suspek TB. Berdasarkan alasan-alasan diatas, akibat yang ditimbulkan (severity) oleh rendahnya angka penemuan kasus diberikan nilai paling besar.. Angka penjaringan suspek TB berarti angka penemuan suspek TB yang dahaknya diperiksa pada wilayah puskesmas dengan memperhatikan kecenderungannya dari waktu ke waktu. Rendahnya angka penjaringan suspek TB ini bisa dikarenakan banyak hal seperti kurang upaya puskesmas dalam menjaring suspek TB, kurangnya pengetahuan masyarakat tentang TB, kurangnya sumber daya untuk melakukan penyuluhan dan penjaringan kepada masyarakat. Puskesmas sebagai sentra layanan kesehatan primer seharusnya menjadi lini pertama penjaringan kasus suspek TB. Diharapkan kasus-kasus suspek yang ada dapat dijaring oleh puskesmas sehingga dapat di periksa dengan pemeriksaan BTA sehingga dapat diobati. Selain memberikan pelayanan TB berupa pemeriksaan dan pengobatan, puskesmas juga diharapkan mampu melakukan pencegahan TB, salah satunya dengan mengadakan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat. kurangnya angka kunjungan penderita TB ke puskesmas, dapat diartikan masih banyak yang kasus diare yang tidak teridentifikasi sehingga tindak lanjut berupa penyuluhan pencegahan TB tidak sampai pada penderita dan keluarga. Kurangnya pengetahuan penderita dan keluarga mengenai pencegahan TB dapat meningkatkan risiko penularan ke keluarga dan bahkan ke masyarakat sekitar, terlebih lagi jika kegiatan penyuluhan ke masyarakat tidak berjalan. Atas alasan-alasan diatas, karena itulah masalah tersebut diberikan nilai severity menengah. Proporsi pasien TB BTA positif diantara semua pasien TB paru yang ditemukan atau diobati menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis pasien, serta kepekaan menetapkan kriteria suspek. Angka dari proporsi pasien TB BTA positif masih sedikt dibawah standar yang ditetapkan jadi oleh karena itu severitynya dimasukan kedalam derajat rendah.Kenaikan besar masalah (Rate of Increase) untuk angka penemuan kasus pada tahun 2012 adalah 20% dari nilai idealnya sebesar 70%, berarti ada kesenjangan sebesar 50%. Akan tetapi dari evaluasi pada tahun 2011, angka pencapaian hanya mencapai 14% dengan tolak ukur yang sama sebesar 70%. Jika dikaitkan dengan evaluasi pada tahun 2011, menunjukan adanya perbaikan dalam program penemuan kasus baru dan meningkat sebesar 6% sehingga Rate of Increase cakupan pelayanan diberikan nilai yang lebih rendah dari masalah yang lain. Masalah rendahnya penjaringan suspek TB memiliki nilai pada tahun 2011 sebesar 713/100000 penduduk menurun menjadi 696/100000 penduduk, ini dipikirkan akibat kecenderungan tidak ada perbaikan masalah dari tahun ke tahun. Sedangkan untuk Proporsi pasien TB BTA positif diantara semua pasien TB paru yang ditemukan atau diobati terjadi peningkatan yang signifikan dari tahun 2011 dan 2012 yaitu sebesar 25% menjadi 64%. Derajat keinginan masyarakat yang tidak terpenuhi (Degree of unmeet need) untuk masalah rendahnya angka penemuan kasus baru, penjaringan suspek TB, dan proporsi pasien TB BTA positif diantara semua pasien TB paru yang ditemukan atau diobati. Kesembuhan merupakan harapan utama dari seorang penderita, oleh karena itu dibutuhkan tidakan yang tepat untuk kasus TB yang sesuai dengan standar, termasuk penjaringan suspek TB. Masyarakat juga menginginkan penularan TB dapat diminimalisasi. Untuk mewujudkannya, tidak cukup dengan pelayanan TB dalam puskesmas saja, tetapi juga dibutuhkan peran serta masyarakat baik dalam berbagai aspek (pelayanan, penyuluhan, dan pencegahan), dengan salah satu bentuk nyata seperti pelayanan oleh kader. Keuntungan sosial (social benefit) yang diperoleh jika masalah rendahnya angka penemuan kasus baru dan penjaringan suspek TB dapat diselesaikan sampai mendapat nilai terbesar. Adanya penyelesaian terhadap kedua masalah tersebut diharapkan dapat memutus rantai penularan TB karena kasus-kasus TB yang ada dapat teridentifikasi dan mendapat penanganan yang tepat dan tindak lanjut berupa penyuluhan tentang pencegahan penularan TB. Perhatian masyarakat (public concern) terhadap permasalahan TB secara umum masih kurang. Pasien masih banyak yang tidak mengetahui bahwa dirinya menderita TB dan berobat ke puskesmas. Cakupan penjaringan dan penemuan kasus TB hal ini adalah keadaan yang mempengaruhi kesadaran masyarakat untuk mencegah penularan dan berobat ke puskesmas. Pemerintah telah membentuk program pengobatan gratis untuk semua penderita TB, oleh karena itu ketiga masalah mendapat nilai PC (political climate) yang sama, sebagai bagian dari program pengobatan gratis untuk semua penderita TB. Dari penilaian teknis (technical feasibility), tidak data mengenai angka kesalahan laboratorium, karena hal ini memang tidak dilakukan pencatatan oleh puskesmas. Untuk pencatatan dan pelaporan yang lain dicatat dan dilaporkan dengan baik. Untuk ketersediaan sumber daya (resources availability), kurangnya penjaringan dan penemuan kasus suspek TB, karena puskesmas sebenarnya memiliki kader, namun karena tugas promosi kesehatan lainnya juga banyak, sementara untuk penambahan kader khusus untuk TB masih tidak ada.