pencahayaan makalah 1

Download Pencahayaan makalah 1

Post on 05-Jul-2015

1.217 views

Category:

Documents

32 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PENCAHAYAAN DALAM FOTOGRAFI

DISUSUN OLEH: 1. Ayu Setyamurti 2. Dede Rohendi 3. Eka Galih .P 4. Eka Prasetya 5. Ferry Agriawan

JURUSAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2011KATA PENGANTAR

Puji yukur kehadirat Allah SWT , karena berkat rahmat dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah Dasar-dasar Fotografi dengan judul Pencahayaan Dalam Fotografi dengan baik dan sesuai dengan batas waktu yang telah ditentukan. Ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing mata kuliah Dasar-dasar Fotografi yang telah membimbing kami dalam penyelesaian makalah ini . Makalah Pencahayaan Dalam Fotografi disusun dalam upaya menunjang serta meningkatkan proses belajar mengajar , sehingga diharapkan mencapai hasil yang maksimal . Demikian makalah Pencahayaan Dalam Fotografi kami susun dengan sebaik mungkin. Semoga bermanfaat untuk kita semua . Mohon maaf apabila terdapat kesalahan dan kekurangan dalam penyusunan makalah ini , untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun dalam upaya meningkatkan mutu makalah kami selanjutnya .

Jakarta, Mei 2011

PENDAHULUAN

Latar BelakangCahaya merupakan unsur utama dalam fotografi sehingga tidaklah berlebihan bila seni fotografi dianggap sebagai teknik yang menghasilkan oleh para pelukis cahaya. Cahaya dapat berupa cahaya alami, cahaya dari lampu pijar, maupun cahaya buatan lainnya, seperti lampu kilat (flash).

Rumusan Masalah1. Bagaimana pemanfaatan cahaya di outdoor ? 2. Bagaimana pemanfaatan cahaya di malam hari ? 3. Bagaimana teknik pemotretan pada malam hari ? 4. Apa saja alat yang digunakan dalam pemotretan di malam hari ?

Tujuan1. Mengetahui pemanfaatan cahaya di outdoor ? 2. Mengetahui pemanfaatan cahaya di malam hari ?3. Mengetahui teknik pemotretan pada malam hari ? 4. Mengetahui apa saja alat yang digunakan dalam pemotretan di malam hari ?

PEMBAHASAN

Kualitas cahaya merupakan bagian terpenting dalam dunia fotografi sehingga sifat-sifat cahaya tersebut harus dipahami agar dapat menangkap momen di saat cahaya berbeda dalam kondisi terindah di alam memilki keterbatasan, baik dalam hal kualitasnya maupun timing atau waktu yang sangat tidak dapat diprediksi. Oleh karena cahaya alam akan tersebut sangat sulit diperkirakan kualitasnya, dikembangkan cahaya buatan agar mampu memberikan kepastian kepada fotografer dalam mengekspresikan keindahan cahaya. Kecanggihan teknologi telah banyak membantu para fotografer untuk menangkap momenmomen dalam keadaan yang minim cahaya sekalipun. Teknologi digital saat ini semakin meningktkan kemampuan dasar kamera dalam menangkap cahaya serta memudahkan penggunanya. Namun demikian, pemahaman akan kualitas cahaya beserta sifat-sifatnya tentunya akan semakin meningkatkan kualitas hasil fotgrafi anda. Jika anda selalu mengandalkan pencahayaan dari alam , maka pemahaman timing godel moment akan cahaya alam yang tepat merupakan modal utama untuk menghasilkan kualitas gambar yang baik. Pencahayaan alam mencapai puncak optimal justru saat matahari terbit dan menjelang tenggelam. Waktu tersebut sangat terbatas untuk menentukan momen pengambilan gambar yang tepat.1. Pemanfaatan Cahaya di Outdoor

Outdoor fotografi banyak disebut sebuah seni foto. Outdoor fotografi yang bagus menggunakan kekuatan dari alam, yaitu cahaya. Banyak orang salah persepsi tentang cahaya yang bagus. Banyak fotografer yang menghindari cahaya dari jam 9.00 - 16.00 karena dianggap cahayanya terlalu kuat sehingga hasil foto tidak lagi berseni. Anggapan itu sebenarnya salah, justru cahaya yang baik adalah saat 2 jam sesudah matahari terbit sampai 2 jam sebelum matahari terbenam. Pada saat-saat itu, objek/model akan terlihat seutuhnya.. Cahaya siluet memang bagus karena siluet pasti memunculkan kesan sexy atau misterius. Tapi siluet tidak akan menunjukkan kemampuan fotografer sebenarnya. Penggunaan cahaya dari alam menjadi kunci foto outdoor terlihat mempunyai seni namun banyak juga kendala yang mungkin dihadapi oleh fotografer. Dua kendala pokok datang dari skill fotografernya dan satu kenyataan bahwa kamera adalah terbatas, bukan maha tahu situasi. Sebagai fotografer hendaknya kita tahu seberapa kemampuan kamera kita. Bukan berarti seberapa mahal atau canggih kamera kita, tapi memahami kemampuan dan kekuatan kamera

kita. Untuk menghasilkan foto yang bagus, tidak harus kamera kita berharga puluhan juta. Dengan kamera standar 50 mm pun kita mampu mengahsilkan foto yang bagus. Khusus untuk foto modeling memang sebaiknya menggunakan kamera dengan lensa diatas 50 mm untuk kenyamanan model maupun fotografernya. Fotografer juga perlu menyiapkan trik - trik cahaya dari alam untuk menimbulkan kesan kesan tertentu. Misalnya cahaya kuat dan kontras untuk menimbulkan efek macho atau keras pada model, sedangkan cahaya yang teduh dan lembut untuk menonjolkan sisi feminin dan kelembutan. Penggunakan cahaya rata biasanya digunakan untuk menampilkan ekspresi orang yang sedang gembira karena bisa lebih menguatkan ekspresinya. Penggunaan cahaya kuat mampu menampilkan objek dengan bagus karena semua teksture pada objek itu bisa terlihat. Biasanya cahaya kontras digunakan pada model laki - laki dan cahaya lembut untuk model perempuan. Saat memotret jangan menggunakan bantuan lampu flash jika kita belum ahli trik triknya. Karena pengguanaan lampu flash yang tidak tepat secara otomatis akan mematikan seni dalam foto kita dan menjadikannya sebagai foto dokumentasi biasa. Untuk memotret seorang model juga ada jarak amannya yang disebut jarak intim. Jarak intim seorang model adalah 5 meter. Dalam radius itu, model akan merasa nyaman jika hanya ada orang-orang yang dikenalnya atau tidak ada orang lain lagi. Untuk itulah kenapa sebaiknya menggunakan lensa diatas 50mm agar model merasa nyaman dan mampu menunjukkan ekspresinya senatural mungkin. Berbicara tentang cahaya alam (outdoor lighting) tidak akan terlepas dari tiga hal, yaitu: (1) warna cahaya, (2) intensitas cahaya, dan (3) arah cahaya. Tetapi sebelum kita melangkah lebih jauh, saya mau membatasi tulisan ini, kepada pengaruh ketiga hal itu untuk pemotretan orang (portraiture) tanpa menggunakan bantuan alat tambahan, seperti reflector, screen atau flash lighting. Tulisan ini juga tidak ditujukan untuk pemotretan landscape, human interest ataupun genre fotografi lainnya, meskipun prinsip-prinsip yang dipakai mempunyai kesamaan. Pembatasan ini saya fikir penting agar kita bisa fokus pada pemahaman, pengaruh apa yang dihasilkan olehnya dan bagaimana memanfaatkannya. Memanfaatkannya berarti bagaimana kita memposisikan orang sebagi subject utama foto kita pada posisi yang tepat relatif kepada

matahari sebagai sumber cahaya utama, sehingga apa yang kita inginkan atau yang kita imajinasikan dari pemotretan ini bisa didapat secara memuaskan. (1) Warna cahaya adalah spetrum warna yang melekat bersama gelombang cahaya sehingga memantulkan warna tertentu pada subject yang terkena cahaya tersebut. Pada pagi dan sore hari pantulan cahaya matahari pada subject akan meninggalkan warna kemerahan ketika tertangkap oleh kamera. Sedangkan, pada siang hari, cahaya matahari yang terpantul pada subject akan meninggalkan warna abu-abu. Kondisi ini bisa digambarkan pada skema 1.

Dari skema 1 jelas terlihat perubahan warna cahaya dalam rentang satu hari, Fajar berwarna merah didapatkan ketika matahari berada di batas horizon, antara jam 5 sampai jam 6, warna pagi cenderung orange berkisar antara jam 6 sampai jam 8, warna menjelang siang agak kekuningan berkisar antara jam 8 sampai jam 10 dan warna siang cenderung abu-abu antara jam 10 sampai jam 14. Lalu warna kembali berubah seperti semua dalam rentang waktu yang kirakira sama ke arah malam hari lagi. Beberapa contoh foto berikut mungkin bisa memperkuat perbedaan warna cahaya yang terjadi pada rentang waktu tersebut. namun karena keterbatasan foto yang saya miliki, tidak semua bagian dalam rentang waktu tersebut yang bisa diberikan contohnya.

Gambar 1, foto diambil pagi hari, sekitar jam 7, bisa kita lihat dari bayangan yang tercipta bahwa cahaya matahari langsung mengenai subject dan meninggalkan warna agak oranye. Gambar 2 diambil siang hari, warna yang tercipta terlihat agak abu-abu dan sedikit pucat. Gambar 3 diambil pada sore hari sekitar jam 5 sore hari, cahaya matahari tidak langsung mengenai subjek tetapi warna yang ditinggal tetap agak kemerahan. Dalam fotografi, warna yang agak kemerahan dikenal dengan warna hangat (Warm) sedangkan warna yang agak kebiruan dikenal dengan warna dingin (Cool). Warna yang tertinggal tersebut sejatinya bisa dinetralisir dengan penggunan filter atau White Balance, tetapi ada sebagian fotografer yang lebih senang terlihat apa adanya karena cast warna tersebut memberikan mood tersendiri bagi fotonya. (2) Intensitas cahaya berhubungan dengan keras atau lembutnya cahaya. Semakin tinggi matahari bersinar maka akan semakin keras cahayanya dan kondisi ini akan membuat perbandingan antara cahaya langsung yang memantul pada subject yang menghasilkan bidang terang (Hightlight) dengan bayangan yang dihasilkan (Shadow) akan semakin tinggi rasionya. Atau dengan kata lain semakin keras bayangan yang dihasilkannya. Sebaliknya semakin rendah matahari bersinar maka akan semakin lembut cahayanya dan dengan sendirinya rasio highlight dengan shadow akan semakin kecil. Semakin tinggi rasio antara shadow dan hightlight maka akan semakin riskan foto kita, karena salah satu di antaranya, entah itu highlight atau shadow harus kehilangan detailnya dan ini sangat tergantung dengan dynamic range camera yang kita gunakan. Saat matahari rendah kita bisa langsung memotret orang dengan langsung terkena sinar matahari tetapi pada saat matahari tinggi kita tidak akan bisa menghasilkan foto yang bagus tanpa menggunakan peralatan tambahan, atau dengan menempatkan subject berada dibalik sesuatu seperti pohon atau atap sehingga cahaya matahari tidak langsung mengenai sub