panel precast

Download panel precast

Post on 13-Oct-2015

136 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

menjelaskan tentang tata cara pemasangan panel precast. dimana pada saat ini perkembangan teknologi telah mampu mengefisienkan waktu sehingga pekerjaaan konstruksi menjadi lebih cepat

TRANSCRIPT

BAB IPENDAHULUANA. Latar BelakangPada zaman sekarang ilmu pengetahuan dan teknologi telah mempengaruhi berbagai macam aspek kehidupan sehari-hari, salah satunya adalah ilmu pengetahuan mengenai penerapan teknologi struktur . Hal ini dapat dilihat dari pekerjaan struktur yang makin lama semakin canggih dengan bantuan teknologi yang selalu berkembang. Dimana salah satu perkembangan teknologi yang paling berkembang adalah teknologi beton precast. Hal ini berbanding lurus dengan adanya peningkatan yang pesat dalam penggunaan teknologi precast. Akan tetapi, penggunaan teknologi precast tersebut harus didukung dengan perencanaan yang matang untuk menghasilkan produk yang optimal dan tepat guna sehingga tidak terjadi pelanggaran dalan aturan struktur gedung bertingkat sesuai Standart Nasional Indonesia (SNI) yang telah di tetapkan.Diperlukan Perencanaan dan penanganan secara serius untuk kendala dan resiko kegagalan produk precast. Untuk menangani masalah tersebut maka dalam perencanaan harus didukung dengan data-data yang spesifik dan pedoman pelaksanaan pekerjaan beton bertulang yang sesuai diindonesia.Proyek pembangunan Gedung Kantor Landmark Pluit ini merupakan salah satu gedung bertingkat dengan konsep super blok dengan waktu pelaksanaan yang relatif singkat dengan tingkat kesulitan yang tinggi, salah satunya adalah cuaca dan kondisi tanah yang kurang mendukung untuk dilaksanakan pekerjaan bekisting konvensional maka dalam proyek ini direncanakan untuk menggunakan bekisting precast untuk mengatasi beberapa kendala yang muncul dalam pelaksanaan proyek.

B. Tujuan

Tujuan dari penelitian ini, antara lain:Mengetahui Efektivitas penerapan Metode Analisis Pertukaran Waktu dan Biaya (Time Cost Trade Off Analysis) dapat digunakan untuk penyelesaian masalah keterlambatan di suatu proyek konstruksi

C. Metodologi1. Studi Pustaka Studi pustaka merupakan suatu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan jalan membaca buku, jurnal, atau referensi lainnya yang berhubungan dengan permasalahan yang dibahas. 2. Wawancara Wawancara dapat didefinisikan sebagai Suatu cara untuk mengumpulkan data dengan mengajukan pertanyaan langsung kepada informan atau seorang autoritas (seorang ahli atau yang berwenang dalam suatu masalah)(4). Sedangkan menurut sifat pengumpulan data dalam penulisan Tugas Akhir ini termasuk data sekunder. Data sekunder dapat didefinisikan sebagai Data yang bukan diusahakan sendiri pengumpulannya oleh peneliti. Data ekunder berasal dari tangan kedua, ketiga dan seterusnya, artinya melewati satu atau lebih pihak yang bukan peneliti sendiri.(7)I.4 Batasan Masalah Mengingat banyaknya masalah pondasi yang timbul dalam proyek penyusunan Tugas Akhir ini serta keterbatasan data-data maupun ilmu yang dikuasai, maka perlu dipakai batasan masalah yang meliputi:1. Perencanaan pondasi pilecap dan tiebeam dibahas2. Pengolahan data dilapangan dan data laboratorium tidak dibahas3. Rencana Anggaran Biaya tidak dibahas.I.5 Sistematika PembahasanBab I Pendahuluan, membahas tentang latar belakang, tujuan, serta ruang lingkup yang membatasi hal-hal yang akan dikaji dan dilakukan dalam penelitian. Kemudian Bab II Tinjauan Pustaka, yang berisikan tentang dasar-dasar yang berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan. Studi literatur terdiri dari data teknis, perhitungan struktur serta metode yang akan digunakan. Dilanjutkan ke Bab III Landasan Teori, membahas tentang penjelasan pengerjaan penelitian ini dari awal hingga akhir yang akan dilakukan secara sistematis atau berurutan. Metodologi mencakup hal-hal yang akan digunakan dalam penelitian. Serta Bab IV Pembahasan Precast Bekisting Pilecap dan Tie Beam, bagian ini berisi tentang pembahasan mengenai perencanaan, sampai dengan pelaksanaan pekerjaan precast bekisting pilecap dan tie beam. Dilanjutkan ke Bab V Penutup,yang berisikan kesimpulan hasil penelitian dan sara-saran untuk perbaikan pada penelitian selanjutnya.

BAB IITINJAUAN PUSTAKAII.1 SEJARAH PERKEMBANGAN SISTEM PRECASTBeton adalah material konstruksi yang banyak dipakai di Indonesia, jika dibandingkan dengan material lain seperti kayu dan baja. Hal ini bisa dimaklumi, karena bahan-bahan pembentukannya mudah terdapat di Indonesia, cukup awet, mudah dibentuk dan harganya relative terjangkau. Ada beberapa aspek yang dapat menjadi perhatian dalam sistem beton konvensional, antara lain waktu pelaksanaan yang lama dan kurang bersih, control kualitas yang sulit ditingkatkan serta bahan-bahan dasar cetakan dari kayu dan triplek yang semakin lama semakin mahal dan langka.Sistem beton Precast adalah metode konstruksi yang mampu menjawab kebutuhan di era ini. Pada dasarnya system ini melakukan pengecoran komponen di tempat khusus di permukaan tanah (fabrikasi), lalu dibawa ke lokasi (transportasi ) untuk disusun menjadi suatu struktur utuh (ereksi). Keunggulan system ini, antara lain mutu yang terjamin, produksi dan pembangunan yang cepat, ramah lingkungan dan rapi dengan kualitas produk yang baik.Sistem Precast telah banyak diaplikasikan di Indonesia, baik yang sistem dikembangkan di dalam negeri maupun yang didatangkan dari luar negeri. Sistem Precast yang berbentuk komponen, seperti tiang pancang, balok jembatan, kolom plat pantai.

II.2 PERKEMBANGAN SISTEM PRECAST DI DUNIASistem Precast berkembang mula-mula di negara Eropa. Struktur Precast pertama kali digunakan adalah sebagai balok beton PRECAST untuk Casino di Biarritz, yang dibangun oleh kontraktor Coignet, Paris 1891. Pondasi beton bertulang diperkenalkan oleh sebuah perusahaan Jerman, Wayss & Freytag di Hamburg dan mulai digunakan tahun 1906. Tahun 1912 beberapa bangunan bertingkat menggunakan system Precast berbentuk komponen-komponen, seperti dinding .kolom dan lantai diperkenalkan oleh John.E.Conzelmann.Struktur komponen Precast beton bertulang juga diperkenalkan di Jerman oleh Philip Holzmann AG, Dyckerhoff & Widmann G Wayss & Freytag KG, Prteussag, Loser dll. Sstem Precast taha gempa dipelopori pengembangannya di Selandia Baru. Amerika dan Jepang yang- dikenal sebagai negara maju di dunia, ternyata baru melakukan penelitian intensif tentang system Precast tahan gempa pada tahun 1991. Dengan membuat program penelitian bersama yang dinamakan PRESS ( Precast seismic Structure System).

II.3 PERKEMBANGAN SISTEM PRECAST DI INDONESIAIndonesia telah mengenal system Precast yang berbentuk komponen, seperti tiang pancang, balok jembatan, kolom dan plat lantai sejak tahun 1970an. Sistem Precast semakin berkembang dengan ditandai munculnya berbagai inovasi seperti Sistem Column Slab (1996), Sistem L-Shape Wall (1996), Sistem All Load Bearing Wall (1997), Sistem Beam Column Slab (1998), Sistem Jasubakim (1999), Sistem Bresphaka (1999) dan sistem T-Cap (2000).

II.4 DEFENISI PRECAST CONCRETE ( BETON PRECAST )Precast Concrete Beton Precast adalah suatu metode percetakan komponen secara mekanisasi dalam pabrik atau workshop dengan memberi waktu pengerasan dan mendapatkan kekuatan sebelum dipasang.Precast Concrete atau Beton pra-cetak menunjukkan bahwa komponen struktur beton tersebut : tidak dicetak atau dicor ditempat komponen tersebut akan dipasang. Biasanya ditempat lain, dimana proses pengecoran dan curing-nya dapat dilakukan dengan baik dan mudah. Jadi komponen beton pra-cetak dipasang sebagai komponen jadi, tinggal disambung dengan bagian struktur lainnya menjadi struktur utuh yang terintegrasi.

Karena proses pengecorannya di tempat khusus (bengkel frabrikasi), maka mutunya dapat terjaga dengan baik. Tetapi agar dapat menghasilkan keuntungan, maka beton pra-cetak hanya akan diproduksi jika jumlah bentuk typical-nya mencapai angka minimum tertentu, sehingga tercapai break-event-point-nya. Bentuk typical yang dimaksud adalah bentuk-bentuk yang repetitif, dalam jumlah besar.

II.5 PERMASALAHAN UMUM PADA PENGEMBANGAN SISTEM PRECASTAda 5 masalah utama dalam pengembangan system Precast :1. Kerjasama dengan perencana di bidang lain yang terkait, terutama dengan pihak arsitektur dan mekanikal/elektrikal/plumbing.2. Sistem ini relative baru.3. Kurang tersosialisasikan jenisnya, produk dan kemampuan system Precast yang telah ada.4. Keandalan sambungan antarkomponen untuk system Precast terhadap beban gempa yang selalu menjadi kenyataan. 5. Belum adanya pedoman perencanaan khusus mengenai tata cara analisis, perencanaan serta tingkat kendala khusus untuk system Precast yang dapat dijadikan pedoman bagi pelaku konstruksi

II.6 SISTEM PRECAST BETONPada pembangunan struktur dengan bahan beton dikenal 3 (tiga) metode pembangunan yang umum dilakukan, yaitu system konvensional, system formwork dan system Precast.Sistem konversional adalah metode yang menggunakan bahan tradisional kayu dan triplek sebagai formwork dan perancah, serta pengecoran beton di tempat. Sistem formwork sudah melangkah lebih maju dari system konversional dengan digunakannya system formwork dan perancah dari bahan metal. Sistem formwork yang telah masuk di Indonesia, antara lain System Outinord dan Mivan. Sistem Outinord menggunakan bahan baja sedangkan Sistem Mivan menggunakan bahan alumunium.Pada system Precast, seluruh komponen bangunan dapat difabrikasi lalu dipasang di lapangan. Proses pembuatan komponen dapat dilakukan dengan kontol kualitas yang baik.

II.7 SISTEM KONEKSI1. SAMBUNGANPada umumnya sambungan sambungan bisa dikelompokkan sebagai berikut :a. Sambungan yang pada pemasangan harus langsung menerima beban ( biasanya beban vertical ) akibat beban sendiri dari komponen .b. Sambungan yang pada keadaan akhir akan harus menerima beban-beban yang selama pemasangan diterima oleh pendukung pembantu.c. Sambungan pada mana tidak ada persyaratan ilmu gaya tapi harus memenuhi persyaratan lain seperti : kekedapan air, kekedapan suara.d. Sambungan-sambungan tanpa persyaratan konstruktif dan semata-mata menyediakan ruang gerak untuk pemasangan .

2. IKATANCara mengikatkan atau melekatkan