menghitung dosis obat

Download Menghitung Dosis Obat

Post on 22-Jul-2015

4.291 views

Category:

Documents

39 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Menghitung Dosis ObatObat untuk anak biasanya dihitung menurut berat badan. Ada yang dihitung kebutuhan sehari dibagi 3 dosis, ada yang dihitung per kali, lalu diberikan tiga dosis. Sayangnya kemasan obat sering tidak seragam. Kapsul A dan B dari obat yang sama berisi dosis yang lain. Satu sendok dapat berisi miligram obat yang berbeda. Penurun demam Obat standar biasanya parasetamol (generik) yang dijual dengan nama dagang Tempra, Panadol, Sanmol, Bodrexin dll. Dosis parasetamol adalah 10-15 mg/kgBB/kali. Misalnya anak dengan berat badan 10 kg memerlukan parasetamol 100-150 mg setiap kali pemberian. Sayangnya, takaran parasetamol berbeda-beda. Satu sendok 5 ml dapat berisi parasetamol 125 mg, 160 mg, atau 250 mg (bentuk Forte). Setiap 0,1 ml drops berisi parasetamol 10 mg. Masa kerja parasetamol agak pendek, sehingga sering memerlukan 4 kali pemberian/hari. Parasetamol tidak merangsang lambung, tetapi pemberian terlalu banyak dan terlalu lama menyebabkan gangguan fungsi hati. Obat standar lain misalnya ibuprofen (Proris). Dosis adalah 10 mg/kgBB/kali. Setiap sendok obat 5 ml dari Proris Suspensi berisi 100 mg, sedangkan Proris Forte berisi 200 mg. Proris sebaiknya diberikan setelah makan untuk menghindari iritasi lambung. Obat pilek Yang paling sering adalah pseudo-ephedrin, misalnya Alco, Actifed, Neo-Triaminic. Kemasan dalam bentuk drops memudahkan pemberian untuk anak kecil. Untuk bayi kurang dari 1 tahun diberikan 0,2-0,4 ml setiap kali, boleh diulang 3 kali sehari. Obat ini menyebabkan mengantuk. Obat batuk Obat batuk hitam masih menjadi standar. Boleh diberikan. Selain itu sering digunakan Bisolvon atau Mucopect untuk mengencerkan lendir. Obat diare Sebenarnya sebagian besar diare disebabkan oleh virus dan akan sembuh sendiri dalam 3-4 hari. Obat terpenting adalah menjaga agar tidak terjadi kekurangan cairan tubuh. Pemberian larutan gula-garam merupakan hal paling penting. Pedialyte merupakan cairan gula-garam yang komposisinya sudah disesuaikan dengan kebutuhan anak. Berikan sebanyak jumlah feses yang keluar, kira-kira 30-50 cc setiapo mencret. Bila menggunakan oralit, harus di encerkan karena komposisi oralit dirancang untuk orang dewasa. Oralit untuk 200 ml diencerkan sampai 300 ml. Takaran obat sering menyusahkan. Drops. Sering digunakan untuk memberikan obat berbentuk cair untuk bayi. Ada pipet dengan ukuran, misalnya 0,4 ml; 0,3 ml. Ada pula pipet yang digunakan untuk menghtung tetesan, misalnya 3 x 10 tetes. Obat berbentuk tetesan jangan diberikan langsung ke mulut

bayi karena bisa kelebihan bila obat menetes dengan cepat.Pipet juga jangan langsung, karena pipet menjadi kotor bila tersentuh mulut. Sendok obat. Satu sendok the dimaksudkan sama dengan satu sendok obat, yang berkuran 5 ml. Biasanya ada gars di tengah menunjukkan 2,5 ml. Satu sendok makan artinya 15 ml. Puyer. Dokter di Indonesia masih suka memberi puyer. Biasakan untuk meminta copy resep sehingga kita tahu apa yang diberikan kepada bayi. Buka puyer dan tuangkan isinya ke dalam sendok kecil. Lalu berikan air, di aduk dengan sendok kecil lain sampai larut. Pemberian puyer agak repot karena seringkali rasanya pahit, obat sulit larut dan lain-lain. Puyer yang terkena udara sering menjadi basah karena sifatnya menarik air, jangan digunakan lagi. PENENTUAN DOSIS OBAT AWAS OVER D0SIS ! DOSIS OBAT Teori Y, dosis obat diukur dr Miligram per Kilogram berat badan pasien (mg/kg). Contoh : INH (isoniazid) obat TBC (tuberculosis) diberikan kpd anak dgn dosis antara 5-10 mg. Bila berat badan anak 10 kg, maka dosisY berkisar 50-100 mg, atau bisa diambil dosis tengahY 75 mg. Pd praktikY, dosis jg ditentukan brdasarkn pertimbangan : Usia, Kondisi pasien, Riwayat kesehatan pasien & keluargaY, AdaY obat penyerta, dll. KETERBATASAN & KESALAHAN TAKARAN Hal ini biasa terjadi pd jenis obat cair/sirup. Disebabkan krn tdk ada ukuran tepat pd alat penakar atau pemahaman singkatan takaran dosis yg salah serta pemahaman satuan ukuran dosis yg kurang. Contoh : 1. Sirup mesti diminum 3 x sehari 0,5 cc. Namun dlm pipet takaran tdk trcantum ukuran tsb. Atau dipipet yg tertulis malah 2,5 ml & 5 ml 2. Obat diminum 1,5 sdt. Yg salah, "sdt" diartikan sbg "sendok teh", padahal yg dimaksud adlh "sendok takar". Walhasil yg trjadi adlh, obat ditakar dgn sendok teh.

Satuan takar "cc" (centimeter cubic) = "ml" (mililiter). Jadi bila dlm resep trtulis 5 cc = 5ml. Solusi trbaik utk alat takar obat cair adlh Gelas Takar, yg memiliki ukuran takar dari 2,5 ml - 10 ml. Sebab, sendok takar sirop hanya memiliki 2 ukuran, yaitu 2,5 ml & 5 ml Sbg alat takar obat cair, Pipet memiliki ukuran sndiri2. 1. Ukuran pd Pipet sirop vitamin = 0,3 ml - 0,6 ml. 2. Ukuran pd Pipet obat penurun panas = 0,4 ml - 0,8 ml 3. Ukuran pd Pipet obat anti jamur = 0,5 ml - 1 ml Apotik wajib mmberikan pipet sesuai dgn dosis obat yg diresepkan dokter agar bs dipakai kalangan awam. Jika ukuran pipet tdk sesuai, boleh ditukar. DAMPAK SALAH TAKAR A. Bila takaran dosis kurang 1. Penderita lama sembuhY. Kalaupun sembuh hanya smentara 2. BiasaY kuman penyakit dlm tubuh menjadi lbh kuat B. Bila takaran dosis brlebihan Bila yg dikonsumsi adlh obat keras, keadaan ginjal & lever terganggu/tdk sehat akan menyebabkan keracunan dan over dosis; krn obat tsb tdk bisa dinetralkan oleh ginjal & lever

Menghitung Dosis Obatadmin Dec 12 |00:00

Obat untuk anak biasanya dihitung menurut berat badan. Ada yang dihitung kebutuhan sehari dibagi 3 dosis, ada yang dihitung per kali,

lalu diberikan tiga dosis. Sayangnya ekmasan obat sering tidak seragam. Kapsul A dan B dari obat yang sama berisi dosis yang lain. Satu sendok dapat berisi miligram obat yang berbeda.

Penurun demamObat standar biasanya parasetamol (generik) yang dijual dengan nama dagang Tempra, Panadol, Sanmol, Bodrexin dll. Dosis parasetamol adalah 10-15 mg/kgBB/kali. Misalnya anak dengan berat badan 10 kg memerlukan parasetamol 100-150 mg setiap kali pemberian. Sayangnya, takaran parasetamol berbeda-beda. Satu sendok 5 ml dapat berisi parasetamol 125 mg, 160 mg, atau 250 mg (bentuk Forte). Setiap 0,1 ml drops berisi parasetamol 10 mg. Masa kerja parasetamol agak pendek, sehingga sering memerlukan 4 kali pemberian/hari. Parasetamol tidak merangsang lambung, tetapi pemberian terlalu banyak dan terlalu lama menyebabkan gangguan fungsi hati. Obat standar lain misalnya ibuprofen (Proris). Dosis adalah 10 mg/kgBB/kali. Setiap sendok obat 5 ml dari Proris Suspensi berisi 100 mg, sedangkan Proris Forte berisi 200 mg. Proris sebaiknya diberikan setelah makan untuk menghindari iritasi lambung.

Obat pilekYang paling sering adalah pseudo-ephedrin, misalnya Alco, Actifed, Neo-Triaminic. Kemasan dalam bentuk drops memudahkan pemberian untuk anak kecil. Untuk bayi kurang dari 1 tahun diberikan 0,2-0,4 ml setiap kali, boleh diulang 3 kali sehari. Obat ini menyebabkan mengantuk.

Obat batukObat batuk hitam masih menjadi standar. Boleh diberikan. Selain itu sering digunakan Bisolvon atau Mucopect untuk mengencerkan lendir.

Obat diareSebenarnya sebagian besar diare disebabkan oleh virus dan akan sembuh sendiri dalam 3-4 hari. Obat terpenting adalah menjaga agar tidak terjadi kekurangan cairan tubuh. Pemberian larutan gula-garam merupakan hal paling penting. Pedialyte merupakan cairan gula-garam yang komposisinya sudah disesuaikan dengan kebutuhan anak. Berikan sebanyak jumlah feses yang keluar, kira-kira 30-50 cc setiapo mencret. Bila menggunakan oralit, harus di encerkan karena komposisi oralit dirancang untuk orang dewasa. Oralit untuk 200 ml diencerkan sampai 300 ml.

Takaran obat sering menyusahkan.Drops. Sering digunakan untuk memberikan obat berbentuk cair untuk bayi. Ada pipet dengan ukuran, misalnya 0,4 ml; 0,3 ml. Ada pula pipet yang digunakan untuk menghtung tetesan, misalnya 3 x 10 tetes. Obat berbentuk tetesan jangan diberikan langsung ke mulut bayi karena bisa kelebihan bila obat menetes dengan cepat.Pipet juga jangan langsung, karena pipet menjadi kotor bila tersentuh mulut. Sendok obat. Satu sendok the dimaksudkan sama dengan satu sendok obat, yang berkuran 5 ml. Biasanya ada gars di tengah menunjukkan 2,5 ml. Satu sendok makan artinya 15 ml. Puyer. Dokter di Indonesia masih suka memberi puyer. Biasakan untuk meminta copy resep sehingga kita tahu apa yang diberikan kepada bayi. Buka puyer dan tuangkan isinya ke dalam sendok kecil. Lalu berikan air, di aduk dengan sendok kecil lain sampai larut. Pemberian puyer agak repot karena seringkali rasanya pahit, obat sulit larut dan lain-lain. Puyer yang terkena udara sering menjadi basah karena sifatnya menarik air, jangan digunakan lagi.

KUMPULAN DOSIS OBATANTIASMA & BRONKHODILATOR 1. Golongan obat : ADRENEGIK SELEKTIF Beta-2 SALBUTAMOL Dosis :

DEWASA

- Dosis lazim th/ = 2-4 mg/x - Dosis max = 8 mg

ANAK

- Dosis lazim th/ = < 2 thn : 0,2 mg/kgBB (4x/hari) - 2-6 thn : 1-2 mg - 6-12 thn : 2 mg Pemakaian : 3 4 x / hari

Sediaan : Tab 2 mg, 4 mg TERBUTALIN (sulfat) Dosis :

DEWASA

- Dosis lazim th/ = 2,5 mg - Dosis max = 5 mg

ANAK

- Dosis lazim th/ = < 7 thn : 0,075 mg - 7 15 thn : 2,5 mg Pemakaian : 2 3 x / hari Sediaan : BRASMATIC, Tab 2,5 mg , Syrup 1,5 mg/5 ml 2. Golongan obat : XANTIN AMINOFILIN Dosis :

DEWASA

- Dosis lazim th/ = 100-300 mg - Dosis max = 300-600 mg

ANAK: Dosis lazim th/ = 5 mg/kgBB

Pemakaian : 3- 4 x / hari Sediaan : Inj 24 mg/ml amp 10 ml, Tab 200 mg TEOFILIN Dosis :

DEWASA

- Dosis lazim th/ = 130 150 mg - Dosis max = 500 mg

ANAK

- Dosis lazim th/ = < 1 thn : 65 75 mg - 6 -12 thn : 65 -150 mg Pemakaian : 3 4x / hari Sediaan : AMILEX Syrup 130 mg/15 ml, Tab 150 mg, NITRASMA KapTab 150 mg MUKOLITIK 3. Golongan obat : MUKOLITIK BROMHEKSIN Dosis :

DEWASA: Dosis lazim th/ = 4-8 mg ANAK: unknown

Pemakaian : 3 x / hari Sediaan : BRONEX Tab 8 mg, BISOLVON Inj 2mg/ml, Eliksir 4 mg/5 ml, Kapsul 8 mg, Syrup 10mg/5 ml ASETILSISTEIN Dosis :

DEWASA: Dosis lazim th/ = 200 mg ANAK: Dosis lazim th/ = 100 mg

Pemakaian : 3 x / hari Sediaan : Fluimucil Granula 200 mg/kantong, Kapsul 200 mg, Tablet Eff. 600 mg, Fluimucil Pediatric Granula 100 mg /kantong KARBOSISTEIN

Dosis :

DEWASA: Dosis lazim th/ = 750 mg ANAK

- Dosis lazim th/ = 2 5 thn : 62,5 125 mg (4x) - 6 12 thn : 250 mg Pemakaian : 3 4 x / hari Sediaan : MUCOTAB Syrup 250 mg / 5 ml, Tab 375 mg, MUCOPRONT Syrup 300 mg / 5 ml, MUCICLAR Syrup 100 mg / 5 ml AMBROKSOL Dosis :

DEWASA: Dosis lazim th/ = 15 30 mg ANAK: unknown

Pemakaian : 3 x / hari Sediaan : Syrup 15 mg/ml, Tab 30 mg, MUCOS Syrup 30 mg/ml ANALGETIK ANTIPIRETIK 4. Golongan obat : PARA AMINO FENOL PARACETAMOL Dosis :

DEWASA

- Dosis lazim th/ = 500 1000 mg - Dosis max = 4000 mg/hari

ANAK

- 3 bln 1 thn : 60 120 mg

- 1 5 thn : 120 250 mg - 6 12 thn : 250 500 mg (maksimum 4 dosis / 24 jam) Pemakaian : 4 x / hari ( tiap 4-6 jam /hari ) Sediaan : Tab 500 mg, Syrup 120 / 5 ml 5. Golongan obat : SALISILAT (p.c) ASETOSAL / ASPIRIN Dosis :

DEWASA

- Dosis lazim th/ = 300 900 mg - Dosis max = 4 gram / hari

ANAK: kontraindikasi: REYE SYNDROME

Pemakaian : 4 x / hari (tiap 4-6 jam /hari ) Sediaan : Tab 100 mg, 500 mg 6. Golongan obat : AINS (p.c) IBUPROFEN Dosis :

DEWASA

ANTI INFLAMASI - Dosis lazim th/ = 1,2 1,8 g/hari - Dosis max = 2,4 gram / hari (terbagi dlm 3 4 dosis) ANALGETIK - Dosis lazim th/ = 0,6 1,2 g / hari (terbagi dlm 3 4 dosis)

ANAK: 20 40 mg/kgBB/hari (dosis terbagi) JUVENIL ARTHRITIS

( TIDAK DIANJURKAN Untuk ANAK BB < 7 kg ) Pemakaian : 3 4 x / hari Sediaan : Tab 200 mg, 400 mg FENOPROFEN Dosis :

DEWASA

- Dosis lazim th/ = 200 600 mg - Dosis max = 3 gram / hari

ANAK: Tidak boleh

Pemakaian : 3 4 x / hari Sediaan : NALFON Kapsul 300 mg, KapTab Ss. 600 mg NATRIUM DIKLOFENAK Dosis :

DEWASA

- Dosis lazim th/ = 75 150 mg/hari - Dosis max = 150 mg / hari

ANAK

- 1-12 tahun, JUVENIL ARTHRITS, p.o / p.rect, - 1 3 mg/kgBB/hari (dalam dosis terbagi) Pemakaian : 2 3 x / hari Sediaan : Tab 25 mg, 50 mg INDOMETASIN

Dosis :

DEWASA: 50 200 mg/hari (dalam dosis terbagi) ANAK : Tidak dianjurkan

Pemakaian : 2 4 x / hari Sediaan : Kapsul 25 mg ANTIHISTAMIN 7. Golongan obat : ANTI HISTAMIN (AH-1) KLORFENIRAMIN MALEAT ( CTM ) Dosis :

DEWASA

- Dosis lazim th/ = 4 mg - Dosis max = 24 mg/hari

ANAK

- < 1 thn : tidak dianjurkan - 1 2 thn : 1 mg 2 x/hari - 2 5 thn : 1 mg tiap 4 6 jam, Dosis max = 6 mg/hari - 6 12 thn : 2 mg tiap 4 6 jam, Dosis max = 12 mg/hari Pemakaian : 4 x / hari ( realtif, tergantung kebutuhan) Sediaan : Tab 4 mg DIFENHIDRAMIN KLORIDA Dosis :

DEWASA: 25 50 mg ANAK: 5 mg/kgBB/hari

Pemakaian : 3 x / hari Sediaan : Inj 10 mg/ml, Syrup 12,5 mg/5 ml DEKSKLORFENIRAMIN MALEAT Dosis :

DEWASA: 2 mg ANAK

- 2 6 thn : 0,5 mg - 6 12 thn : 1 mg Pemakaian : 3 4 x / hari Sediaan : POLARAMINE Tab 2 mg, Syrup 2 mg/5 ml 8. Golongan obat : ANTI HISTAMIN (AH-1) NON SEDATIF LORATADIN Dosis :

DEWASA: 10 mg / hari ANAK

- 2-12 thn (dibawah 30 kg) : 5 mg/hari - Lebih dari 30 kg : 10 mg/hari Pemakaian : 1 x / hari Sediaan : Tab 10 mg, CLARITIN Tab 10 mg, Syrup 5 mg/5 ml ASTEMIZOL Dosis :

DEWASA: 10 mg/hari

ANAK: 6 12 thn : 5 mg/hari

Pemakaian : 1 x / hari Sediaan : PROALERT Syrup 5 mg/5 ml, Tab 10 mg TERFENADIN Dosis :

DEWASA: 60 120 mg / hari ANAK

- 3 6 thn : 15 mg 2x / hari - 6 12 thn : 30 mg 2x / hari Pemakaian : 1 2 x / hari Sediaan : NADANE Tab 60 mg, Tab Forte 120 mg, Suspensi 30 mg / 5 ml 9. Golongan obat : ANTI HISTAMIN (AH-2) SIMETIDIN Dosis :

DEWASA

- Dosis lazim th/ = 400 800 mg (2x) - Dosis max = 2,4 g / hari

ANAK: > 1 thn : 25 30 mg/kgBB/hari

Pemakaian : 2 x / hari Sediaan : Tab 200 mg RANITIDIN Dosis :

DEWASA: 150 300 mg (2x)

ANAK: 2 4 mg/kgBB/hari (2x), Max 300 mg/hari

Pemakaian : 2 x / hari Sediaan : Tab 150 mg, ZANTADIN Tab 300 mg FAMOTIDIN Dosis :

DEWASA: 20 40 mg ANAK: Tidak Dianjurkan

Pemakaian : 1 x / hari (sebelum tidur malam) Sediaan : Tab 20mg. 40 mg ANTIBIOTIKA 10. Golongan obat : MAKROLID ERITROMISIN Dosis :

DEWASA

- Dosis lazim th/ = 250 500 mg (tiap 6 jam) ATAU - 500 1000 mg (tiap 12 jam) - Dosis max = 4 g/ hari

ANAK

- Dosisi lazim th/ = < 2 thn : 125 mg (tiap 6 jam) - 2-8 thn : 250 mg (tiap 6 jam) - > 8 Thn : sama dgn Dosis Dewasa Pemakaian : 2 4 x / hari Sediaan : Kapsul 250 mg. 500 mg, Syrup 200 mg / 5 ml

KLARITROMISIN Dosis :

DEWASA

- 250 mg tiap 12 jam ( selama 7 hari ) - 500 mg tiap 12 jam ( selama 14 hari ) Inf BERAT

ANAK

- BB < 8 kg : 7,5 mg 2x/hari - 8 11 kg (1-2 thn) : 62,5 mg 2x/hari - 12 19 kg (3 6 thn) : 125 mg 2x/hari - 20 29 kg (7 9 thn) : 187,5 mg 2x/hari - 30 40 kg (10 12 thn) : 250 mg 2x/hari Pemakaian : 2 x / hari Sediaan : ABBOTIC KapTab 250 mg, 500 mg, Dry Syrup 125 mg/ 5 ml AZITROMISIN Dosis :

DEWASA: 500 mg 1 x / hari, (selama 3 hari) ANAK

- > 6 bulan : 10 mg/kgBB, 1x / hari ( u/ 3 hari ) - BB 26 35 kg : 300 mg, 1x / hari ( u/ 3 hari ) - BB 36 45 kg : 400 mg, 1x / hari ( u/ 3 hari ) Pemakaian : 1x / hari Sediaan : ZITHROMAX KapTab 250 mg, 500 mg,

Inj 276 mg/vial, Dry Syrup 600 mg/15 ml, 900 mg/22,5 ml 11. Golongan obat : KUINOLON SIPROFLOKSASIN Dosis :

DEWASA

- ISPA : 250 750 mg - ISK : 250 500 mg - (untuk kasus akut: 250 mg 2x/hari, slm 3 hari)

ANAK: TIDAK DIANJURKAN

Pemakaian : 2x / hari Sediaan : Tab 250 mg, 500 mg ASAM NALIDIKSAT Dosis :

DEWASA

- 1 g tiap 6 jam (selama 7 hari) - Infeksi kronis : 500 mg tiap 6 jam

ANAK

- > 3 bulan, 50 mg/kgBB/hari - jangka panjang : 30 mg/kgBB/hari Pemakaian : 2 x/ hari Sediaan : Tab Se. 500 mg 12. Golongan obat : TETRASIKLIN TETRASIKLIN

Dosis :

DEWASA: 250 500 mg tiap 6 jam ANAK: Tidak Dianjurkan !

Pemakaian : 2 x / hari Sediaan : Kapsul 250 mg, 500 mg DOKSISIKLIN Dosis :

DEWASA

- 100-200 mg - Acne : 50 mg/hari selama 6-12 minggu

ANAK: Tidak Dianjurkan !

Pemakaian : 1 x / hari Sediaan : Kapsul 100 mg OKSITETRASIKLIN Dosis :

DEWASA: 250 500 mg tiap 6 jam ANAK: Tidak Dianjurkan !

Pemakaian : 2x / hari Sediaan : Inj 50 mg/vial, Salep Mata 1%, Salep 3% @ tube 5 gr 13. Golongan obat : PENISILIN (a.c) AMPISILIN Dosis :

DEWASA

- 250 1000 mg tiap 6 jam - ISK : 500 mg tiap 8 jam

ANAK: Setengah Dosis Dewasa

Pemakaian : 3-4 x / hari Sediaan : KapTab 250 mg, 500 mg, Dry Syrup 125 mg/5 ml, 250 mg/ 5 ml, Serbuk Inj. 500 mg/vial, 1000 mg/ vial AMOKSISILIN Dosis :

DEWASA: 250 500 mg tiap 8 jam ANAK: < 10 tahun : 125 250 mg tiap 8 jam

Pemakaian : 3 x / hari Sediaan : Kapsul 250 mg, KapTab 500 mg, Dry Syrup 125 mg/5 ml, 250 mg/ 5 ml FENOKSIMETIL PENISILIN ( Penc-V) Dosis :

DEWASA: 500 750 mg tiap 6 jam ANAK

- < 1 thn : 62,5 mg - 1 5 thn : 125 mg - 6 12 thn : 250 mg Pemakaian : 4 x / hari (tiap 6 jam) Sediaan : Tab 250 mg. 500 mg

14. Golongan obat : SULFONAMID-TRIMETOPRIM KOTRIMOKSAZOL Dosis :

DEWASA

- Dosis lazim th/ = 960 mg tiap 12 jam - Dosis Max = 1,44 g tiap 12 jam

ANAK

- Dibawah 2 tahun & ibu hamil TIDAK dianjurkan - 6 12 tahun 480 mg - 6 bulan 5 thn : 240 mg - 6 minggu 5 bulan : 120 mg Pemakaian : 2x / hari (tiap 12 jam) Sediaan : Suspensi 240 mg/5ml fl = 60 ml, Tab 480 mg, 120 mg 15. Golongan obat : KLORAMFENIKOL KLORAMFENIKOL Dosis :

DEWASA

- 500 mg - 50 mg/kgBB/hari

ANAK: 50 100 mg/kgBB/ hari

Pemakaian : 4 x / hari Sediaan : Kapsul 250 mg, Suspensi 125 mg/5 ml (60 ml)

TIAMFENIKOL Dosis :

DEWASA: 1 g/kgBB/hari bagi 4 dosis ANAK: 25 mg/kgBB/ hari bagi 4 dosis

Pemakaian : 4 x / hari Sediaan : Kapsul 250 mg, 500 mg AMUBISID 16. Golongan obat : METRONIDAZOL METRONIDAZOL Dosis :

DEWASA: 800 mg tiap 8 jam selama 5 hari ANAK

- 1 3 thn : 200 mg tiap 8 jam - 3 7 thn : 200 mg tiap 6 jam - 7 10 thn : 200 400 tiap 8 jam Pemakaian : 3 4 x / hari Sediaan : Tab 250 mg, 500 mg TINIDAZOL Dosis :

DEWASA: 2 g/ hari selama 2-3 hari ANAK: 50-60 mg/kgBB/hari selama 3 hari

OBAT, DOSIS & JADWAL PEMBERIAN DLM PRESKRIPSI DOKTERFiled under: farmasi kedokteran - Administrator @ 2:36 am

OBAT, DOSIS & JADWAL PEMBERIAN DLM PRESKRIPSI DOKTER

Kuliah Ibu Mae Sri Hartati Wahyuningsih tgl 6 dan 7 September 2004

Sebagai calon dokter, kuliah farmasi kali ini bertujuan agar kita dapat memahami pengetahuan obat sebagai penunjang keberhasilan penatalaksanaan kesehatan. Materi yang akan dibahas meliputi batasan obat, kategori obat, derivate obat, dosis obat, dan cara pemberian obat.

I. BATASAN OBAT

Sebagai bahan kimia, obat identik dengan racun. Yang membedakan adalah cara pemberian dan dosisnya. Bila indeks terapinya sempit, seperti digoksin dan xantine, tingkat toksisitasnya akan semakin tinggi. Berdasarkan Permenkes RI No. 242/1990, OBAT JADI: merupakan sediaan atau paduan bahan-bahan yang siap digunakan untuk mempengaruhi/menyelidiki sistem fisiologi atau keadaan patologi dalam rangka penetapan diagnosis, pencegahan, penyembuhan, pemulihan, peningkatan kesehatan dan kontrasepsi. Kegunaan obat, antara lain: Diagnosis Contohnya barium sulfat (BaSO4) yang digunakan sebagai cairan kontras dalam pemeriksaan radiology untuk melihat fungsi organ tertentu. Pencegahan

Misalnya Vaksin yang diberikan pada adik bayi. Mengurangi/menghilangkan gejala Untuk menghilangkan gejala simtomatis ada golongan analgetika yang udah kita kenal seperti Antalgin, Paracetamol. Menyembuhkan penyakit Diantaranya antibiotic, yang harus kita tegaskan aturan minumnya agar tak terjadi resistensi. Memperelok tubuh Obat jerawat, pemutih kulit,dll.

II. KATEGORI OBAT

1. MENURUT UU FARMASI Obat Bebas Obat ini dijual bebas biasanya bertanda lingkaran hijau. Obat Bebas Terbatas Tandanya lingkaran biru, jenis ini dapat diperoleh tanpa resep dokter namun ada pembatasan aturan minum yang biasanya dicantumin di kemasan. Contohnya: antimo, procold,dll. Obat Keras Harus dengan resep dokter, bertanda lingkaran merah dengan huruf K di tengahnya. Obat Narkotika Kemasannya bertanda lingkaran putih dengan palang merah di tengahnya.

2. MENURUT BENTUK FISIK Obat Baku (bahan baku) Merupakan substansi yang belum dicampur dengan bahan lain. Diistilahkan formula magistralis. Obat Jadi (Obat standart/generik)_ Formula officinalis.:Obat dengan komposisi dan nama teknis standar seperti dalam buku Farmakope Indonesia atau buku resmi lain yang ditetapkan pemerintah. Obat Paten (Obat jadi dengan nama dagang)_ Formula spesialistis, Obat ini terdaftar dengan nama pabrik atau yang dikuasakan. Obat Asli (Obat tradisional) :Merupakan obat-obat yang didapat lansung dari bahan-bahan alami, istilahnya reservoir. Banyak tanaman asli Indonesia yang terbukti berkhasiat secara klinis misalnya, anti hipertensi kapsol yang berasal dari Kapsus.sp, digoxin dari digitalis purpurea, vincristin, vinblastine dari tapak dara, dll. (hiks.. kenapa yang mematenkan justru orang asingL ayo..semangat !) Obat Baru (belum diketahui khasiat dan keamanan) Jangan sekali-kali meresepkan ini, ya.. Obat ini masih butuh uji klinik untuk dapat beredar di masyarakat.

3. MENURUT CARA PEMBERIAN Obat dalam : Obat ini masuk ke dalam sirkulasi sistemik, baik per oral, i.v, i.m, dll. Obat luar : Biasanya dimasukkan ke tubuh melalui kulit (dioleskantopical), dalam resep ditulis u.e = usus externus

4. MENURUT KHASIAT/EFEK OBAT Berdasarkan efek farmakologinya obat-obatan diklasifikasikan mejadi kelas terapi menurut DOEN (Daftar Obat Essensial Nasional). Contoh: Phenobarbital Tempat kerja dalam tubuh Bekerja pada SSP Aktivitas terapeutik/penerapannya Sedatif-hipnotikMekanisme kerja farmakologi Depresan SSP Sumber asal atau sifat obat Turunan asam berbiturat

5. BERDASARKAN SIFAT KIMIA OBAT

ASAM > Acetosal, Barbital, Vitamin C > Acetosal, Barbital, Vitamin C > Acetosal, Barbital, Vitamin C BASA > Alukol, Bisacodil, HCT > Alukol, Bisacodil, HCT > Alukol, Bisacodil, HCT GARAM > NaCl, Papaverin HCl> NaCl, Papaverin HCl > NaCl, Papaverin HCl ESTER > Kloramfenikol palmitat, Glyceril guayacolat> Kloramfenikol palmitat, Glyceril guayacolat > Kloramfenikol palmitat, Glyceril guayacolat KRISTAL MENGANDUNG AIR > Ampicillin trihidrat, Codein HCl > Ampicillin trihidrat, Codein HCl

> Ampicillin trihidrat, Codein HCl > Acetosal, Barbital, Vitamin C > Alukol, Bisacodil, HCT> NaCl, Papaverin HCl > Kloramfenikol palmitat, Glyceril guayacolat > Ampicillin trihidrat, Codein HCl TATANAMA OBAT (Sesuai monografi FI_ Farmakope Indonesia) NAMA LATIN : Acidum acetyl salicylicum, Acetaminophenum, Methampyronum NAMA INDONESIA : Asam asetil salisilat, Asetaminofen, metampiron NAMA GENERIK : Asetosal, Parasetamol, Antalgin

(Sesuai monografi FI_ Farmakope Indonesia) III. DERIVAT OBAT Sekelompok/segolongan obat yang diturunkan/ berasal dari senyawa yang sama (senyawa induk) masing-masing mempunyai struktur/rumus kimia yang berbeda. Umumnya digunakan untuk sekelompok obat yang mempunyai khasiat sama. Turunan ini didapatkan dari hasil "manipulasi molekuler" suatu senyawa induk dengan struktur kimia tertentu. Tujuan dibuat derivate adal;ah untuk mendapatkan obat baru dengan: efek sama, dengan potensi lebih tinggi, dan efek samping obat lebih kecil. Contohnya; penicillin ampicillin efek berbeda Obat lain. Contoh : sulfanilamidum yang merupakan anti infeksi, carbonic anhydrase inhibitor, dapat diturunkan menjadi: 1. sulfisimidinum yang merupakan anti infeksi dengan penambahan PABA 2. chlortiazide ( saluric) lalu fursemide yang merupakan diuretik kuat 3. chlorpropamidum yang merupakan antidiabetikum oral.

IV. DOSIS OBAT

Adalah sejumlah obat dalam satuan berat/isi/ unit yang memberikan efek terapetik pada penderita dewasa.

MACAM-MACAM DOSIS ~ dosis lazim adalah dosis yang biasa diberikan untuk suatu obat. ~ dosis terapeutik adalah range dosis yang masih aman untuk terapi.

Dosis yang lain: : Dosis toksik : dosis di atas dosis terapi sehingga dapat menimbulkan toksisitas Dosis letalis : dosis toksik yang bila diberikan dapat mengakibatkan kematian Dosis permulaan : dosis permulaan yang diberikan kepada penderita (initial dose) Dosis pemeliharaan : dosis obat yang berfungsi untuk menjaga agar kadar obat dalam darah tetap berada dalam dosis terapeutik (maintenance dose) Dosis maksimum : dosis di antara dosis terapeutik & dosis toksik, tapi blm bersifat toksik serius

: FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI DOSIS 1. FAKTOR OBAT:

Sifat Fisika : Kelarutan obat (air/lipid); Bentuk (Kristal/Amorf) :

Sifat Kimia : Asam, Basa, Garam, Ester, PH : Toksisitas

2. FAKTOR CARA PEMBERIAN:

o Oral : Dimakan / Diminum : : o Parenteral : Subkutan, im, iv : : o Rektal, Vaginal, Uretral o Lokal, Topikal 3. FAKTOR PENDERITA:

o Umur : Anak, dewasa, geriatrik o BB : Normal, obesitas o Ras : Metabolisme obat o Sensitivitas individual 4. INDIKASI DAN PATOFISIOLOGI PENYAKIT: Penyebab penyakit Keadaan patofisiologis

DOSIS OBAT UNTUK ANAK(Pediatrik)

KATEGORI ANAK: Anak premature : lahir kurang 35 minggu Anak baru lahir : Neonatus s/d 28 hari Bayi : infant s/d 1 tahun Balita : 1-5 tahun Anak : 6-12 tahun

PENENTUAN DOSIS ANAK Dalam menentuklan dosis anak, ada beberapa masalah yang harus kita perhatikan. Organ (hepar, ginjal, SSP) belum berfungsi secara sempurna, metabolisme obat belum maksimal Distribusi cairan tubuh berbeda dengan orang dewasa Neonatus >29,7% dari dewasa Bayi 6 bulan >20,7% dari dewasa Anak s/d 7 th. >5,5% dari dewasa Faktor lain yang perlu diperhatikan

Farmakokinetika obat (ADME) Perbedaan absorpsi (perbedaan kepadatan sel) Perbedaan distribusi (% cairan ekstrasel & cairan tubuh total Perbedaan metabolisme (ensimatik yang belum sempurna) Perbedaan ekskresi (glomerulus belum berkembang lengkap)

CARA MENGHITUNG DOSIS ANAK (PEDIATRIC THERAPEUTIC Ada lebih dari 30 rumus untuk menghitung dosis yang akan diberikan pada anak. Di antaranya sbb. 1. DASAR PERBANDINGAN ATAS UKURAN FISIK ANAK SECARA INDIVIDUAL Ada 2 cara, yaitu: a. Sesuai dengan berat badan anak (Kg) b. Sesuai dengan LPTa (m2)

2. DASAR PERBANDINGAN DENGAN DOSIS DEWASA a.Perbandingan umur (dewasa 20-24tahun) n Rumus Young (anak 20% BB ideal, akibatnya ada perbedaan komposisi komponen tubuh dengan BB normal. Menurut Rische, BB ideal = (T-100) x 0,9 (Kg) ; T = Tinggi (cm)

Yang harus diperhatikan dalam penghitungan dosis: Lipofilisitas obat Jika suatu obat bersifat lipofilik maka distribusi obat naik , T 1/2 eliminasi lebih lama. Mis. Benzodiazepin Daya larut obat dalam lemak kecil. Perhitungan dosis didasarkan pada Berat badan tanpa lemak (BBTL). Mis. Digitoxin, kanamycin, Streptomycin Daya larut obat dalam lemak besar. Perhitungan dosis didasarkan Berat badan nyata (BBN). Mis. Thiopental DOSIS UNTUK GERIATRIK (Umur > 65 tahun) Ketika umur bertambah, terjadi perubahan fisiologi dan patologi tubuh yang menentukan perubahan konsentrasi obat di dalam tubuh karena perubahan fase farmakokinetika = ADME.

Penentuan dosis obat: 1. Dasar : Pola MIC Pola kurva log dosis respon 2. Dasar: Clearance individual

DOSIS LAZIM/TERAPEUTIK (tertulis dalam pustaka) Dosis sekali : Bisacodyl, 5-10 mg/dosis tunggal Dosis sehari : Diazepam,5-30 mg dalam dosis terbagi; Dexamethason, 0,5-2 mg/hari. Dosis/kgbb/kal :Etambutol, 15-25 mg/kgbb/ dosis tunggal. Dosis/kgbb/hari :Ampisilin, 50-150 mg/kgbb/ hari. Dalam dosis terbagi tiap 6 jam

Dosis untuk efek berbeda :Ex:Phenobarbital Sedative-hipnotik:30mg/3-4dd; Antikonvulsan:30-60mg/2-3 dd. Ex:Phenobarbital Sedative-hipnotik:30mg/3-4dd; Antikonvulsan:30-60mg/2-3 dd. V. JADWAL PEMBERIAN OBAT Hal-hal yang harus kita pertimbangkan adalah sbb. 1. Tujuan terapi / Indikasi penyakit sistemik / lokal onset dan durasi 2. Kondisi pasien menerima / menyenangkan aman, dapat menelan dll. 3. Sifat fisika-kimia obat Stabilitas Iritasi

MACAM-MACAM CARA PEMBERIAN OBAT OR A L PARENTERAL INHALASI MEMBRAN MUKOSA KULIT/TOPIKAL

Farmakogenetika, Metode Baru Penentu Dosis ObatBoston (23 Feb.'09). Sebuah sistem baru yang digunakan untuk menentukan dosis warfarin, yakni obat pengencer darah, dapat membantu mencegah pembekuan darah yang berbahaya, dan juga menghindarkan pasien dari pendarahan yang parah. Beberapa pasien membutuhkan lebih dari dua kali dosis mingguan daripada pasien lainnya, sehingga metode baru penentuan dosis ini akan membantu memperkirakan dengan lebih baik tentang siapa yang memerlukan lebih banyak dosis dan siapa yang memerlukan lebih sedikit. Dosis warfarin yang tepat adalah penting, karena obat ini pada hakikatnya adalah racun tikus, dan dapat mencegah pembekuan darah. Dosis yang terlalu tinggi akan menyebabkan pasien mengalami pendarahan hingga meninggal, sementara dosis yang terlalu rendah akan menyebabkan stroke atau serangan jantung akibat bekuan darah. Penelitian ini, yang dipimpin oleh Dr. Teri Klein dari Stanford University di California, memeriksa informasi klinik dan genetik dari 4043 pasien guna

menghasilkan sebuah algoritma komputer yang dapat memperkirakan pasien mana yang membutuhkan dosis yang lebih tinggi atau yang lebih rendah. Pendekatan baru ini dinamakan "farmakogenetika", yang menggunakan informasi genetika pasien untuk memperkirakan tanggapan tubuh para pasien terhadap obat-obatan. Para ilmuwan mengatakan bahwa algoritma tersebut dengan akurat mengidentifikasikan sejumlah besar pasien yang memerlukan dosis warfarin sebesar 21 mg atau kurang per minggunya, dan juga sejumlah pasien yang memerlukan dosis sebesar 49 mg atau lebih per minggunya. "Farmakogenetika memiliki peran yang potensial untuk meningkatkan manfaat dan mengurangi bahaya bagi orang yang tanggapan terhadap obatnya tidak tergolong 'rata-rata' ", kata Dr. Janet Woodcock dan Lawrence Lesko dari US FDA. Memahami Obat Obat tidak hanya memiliki efek terapi tetapi juga efek samping yang tidak diharapkan. Efek samping obat ini bisa ringan (pusing, mual atau gatal) dan bisa sangat berbahaya, merusak organ hati (hepatotoksik), merusak ginjal (neprotoksik) atau berpotensi menimbulkan sel cancer (carcinogenic). Dokter akan memilihkan obat dengan efek samping minimal yang aman bagi pasiennya. Setiap obat mempunyai DOSIS TERAPI (dosis yang memberikan efek perbaikan/menyembuhkan), DOSIS MAKSIMAL (batas dosis yang masih dibolehkan/aman bagi pasien) dan DOSIS LETHAL (dosis yang membuat pasien mati). Makin pendek jarak dosis lethal suatu obat makin berbahaya. Contohnya, obat tidur, obat anti diabetes, obat hipertensi. Disamping itu ada sejumlah obat/tanaman obat yang memiliki efek khas yaitu EFEK ADIKSI, bisa membuat orang yang mengkonsumsinya menjadi ketagihan atau ketegantungan. Kelompok obat ini digolongkan sebagai OBAT BERBAHAYA. Dokter hanya memberikan obat ini untuk kasus tertentu (misalnya nyeri hebat pada pasien patah tulang, nyeri pada kanker, kesulitan tidur). Itupun dalam pengawasan yang ketat, baik dosisnya maupun lama pemberiannya. Yang termasuk golongan obat dengan efek adiksi adalah NARKOTIKA (morfin), PSIKOTROPIKA dan Zat Adiktif lainnya. Rokok (Nikotin) dan kopi (Cafein) termasuk memiliki efek adiksi yang ringan.

Jadi, obat itu bisa BERMANFAAT, jika dipakai sesuai indikasinya (tujuan spesifik dari efek obat), sesuai dosisnya dan mempertimbangkan efek samping obat terhadap kondisi fisik organ dari setiap pasien. Dokterpun butuh waktu yang panjang, kuliah selama 6-7 tahun agar bisa memakai obat untuk kebaikan dan kesembuhan penyakit pasien. Dan, obat akan SANGAT BERBAHAYA jika dipakai oleh para remaja dan orang-orang yang tidak memahami obat. Adiksi/Ketergantungan Orang akan mengalami ketergantungan jika minum obat dalam jangka waktu tertentu. Butuh ratusan batang rokok dan puluhan gelas kopi serta waktu yang lama untuk membuat seseorang ketagihan terhadap rokok dan kopi. Narkoba? Hanya butuh beberapa tablet! Bahkan narkoba generasi baru memiliki efek adiksi yang sangat kuat. Hanya minum sekali atau dua kali sudah langsung ketagihan. Jika sudah ketagihan orang akan sulit untuk keluar. Coba lihat, peringatan bahaya apapun yang ditulis dibungkus rokok, orang tetap membeli rokok dan tetap asyik merokok! Ketergantungan fisik dan psikis Peningkatan dosis Gejala putus obat Over dosis Ketergantungan Fisik Zat obat ini dianggap oleh tubuh sebagai salah satu unsur yang harus ada, disamping hormon, enzym, oksigen dan zat makanan. Tanpa adanya obat ini dalam darah, sistem organ-organ tubuh menjadi kacau balau. Ketergantungan Psikis Memori otak penderita terhadap obat sangat dominan. Setiap hari yang dipikirkan lebih dahulu adalah obat. Tidak ada lagi sekolah, pekerjaan, cita-cita bahkan masa depan. Sahabat, pacar, keluarga bahkan orang tua tidak lagi penting. Yang paling penting adalah obat! Peningkatan Dosis Untuk menimbulkan efek yang diinginkan (halusinasi, mimpi indah, bayangan indah) penderita membutuhkan sejumlah dosis. Dosis ini akan meningkat terus, 2 butir obat, 4 tablet akhirnya belasan tablet harus diminum. Yang berbahaya adalah jika peningkatan dosis ini mendekati atau mencapai DOSIS LETHAL! Ini tidak disadari oleh penderita. Gejala Putus Obat Penderita akan mengalami kondisi ini jika obat menghilang dalam darah dan penderita tidak mendapatkan obat. Gejala yang muncul adalah unjuk rasa dari setiap organ. Sakit kepala, mual-muntah-bahkan mencret tidak terkendali. Sesak nafas, berdebar-debar. Nyeri hebat disetiap titik ditubuhnya. Gelisah, ketakutan dan sulit tidur.

Anehnya sakit yang ribuan volt ini langsung lenyap begitu penderita mendapatkan obat. Gejala putus obat adalah pengalaman yang menakutkan bagi penderita. Ini menjadi satu alasan penderita melakukan apa saja hanya untuk mendapatkan obat, untuk menghindarkan dirinya dari gejala putus obat. Setiap pemakai obat kronis pasti pernah mengalami episode ini. Over Dosis Para pengguna Narkoba yang kronis sesungguhnya berada sangat dekat dengan area ini. Over dosis sering kali terjadi dan ini tidak disadari oleh penderita. Peningkatan dosis yang terjadi secara perlahan-lahan atau mencoba memakai jenis narkoba edisi baru dengan dosis yang biasa dipakai. Padahal setiap obat dosisnya tidak sama. Efeknya bisa berbeda. Dalam dosis toksik (over dosis) obatobatan ini menekan pusat nafas di otak. Kematian terjadi oleh karena depresi pusat pernafasan. Pemberian oksigen atau nafas buatan dalam kondisi emergensi tidak akan menolong, sebab masalahnya ada di pusat pernafasan di otak, bukan diparu-parunya. Jika tidak diobati, semua pemakai narkoba akan FINISH dan game over dititik ini. Efek Buruk dan Komplikasi Narkoba Gangguan/kegagalan hati Gangguan/kegagalan ginjal HIV-AIDS Pemakaian jarum suntik bergantian, tidak steril Hepatitis Cita-cita dan masa depan anak hilang

Keracunan DEFINISI KERACUNAN ASETAMINOFEN Lebih dari 100 jenis produk yang mengandung asetaminofen bisa dibeli secara bebas, tanpa resep dokter. Sediaan untuk anak-anak tersedia dalam bentuk sirup, tablet dan kapsul. Asetaminofen bisa ditemukan dalam beberapa obat berikut: Tylenol Anacin-3 Liquiprin Panadol Tempra. Kandungan asetaminofenn dalam beberapa jenis sediaan obat dan kekuatannya: Supositoria (tablet/kapsul yang dimasukkan ke dalam anus atau vagina) : 120 mg, 125 mg, 300 mg, 600 mg - Tablet kunyah : 80 mg - Kekuatan normal : 325 mg - Kekuatan ekstra : 500 mg - Elixir: 325 mg/sendok teh, 160 mg/sendok teh, 120 mg/ sendok teh

- Sirup : 160 mg/sendok teh, 130 mg/sendok teh - Obat tetes : 100 mg/mL, 120 mg/2,5 mL Asetaminofen adalah obat yang sangat aman, tetapi bukan berarti tidak berbahaya. Sejumlah besar asetaminofen akan melebihi kapasitas kerja hati, sehingga hati tidak lagi dapat menguraikannya menjadi bahan yang tidak berbahaya. Akibatnya, terbentuk suatu zat racun yang dapat merusak hati. Keracunan asetaminofen pada anak-anak yang belum mencapai masa puber, jarang berakibat fatal. Pada anak-anak yang berumur lebih dari 12 tahun, overdosis asetaminofen bisa menyebabkan kerusakan hati. Gejala keracunan asetaminofen terjadi melalui 4 tahapan: 1. Stadium I (beberapa jam pertama) : belum tampak gejala 2. Stadium II (setelah 24 jam) : mual dan muntah; hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa hati tidak berfungsi secara normal 3. Stadium III (3-5 hari kemudian) : muntah terus berlanjut; pemeriksaan menunjukkan bahwa hati hampir tidak berfungsi, muncul gejala kegagalan hati 4. Stadium IV (setelah 5 hari) : penderita membaik atau meninggal akibat gagal hati. Gejalanya lainnya yang mungkin ditemukan: - berkeringat - kejang - nyeri atau pembengkakan di daerah lambung - nyeri atau pembengkakan di perut bagian atas - diare - nafsu makan berkurang - mual dan/atau muntah - rewel - koma. Gejala mungkin baru timbul 12 jam atau lebih setelah mengkonsumsi asetaminofen. Tindakan darurat yang dapat dilakukan di rumah adalah segera memberikan sirup ipekak untuk merangsang muntah dan mengosongkan lambung. Di rumah sakit, dimasukkan selang ke dalam lambung melalui hidung untuk menguras lambung dengan air. Untuk menyerap asetaminofen yang tersisa, bisa diberikan arang aktif melalui selang ini. Kadar asetaminofen dalam darah diukur 4-6 jam kemudian. Jika anak telah menelan sejumlah besar asetaminofen (terutama jika kadarnya dalam darah sangat tinggi), biasanya diserikan asetilsistein untuk mengurangi efek racun dari asetaminofen, yang diberikan setelah arang dikeluarkan. Kegagalan hati bisa mempengaruhi kemampuan darah untuk membeku, karena itu diberikan suntikan vitamin K1 (fitonadion). Mungkin perlu diberikan transfusi plasma segar atau faktor pembekuan.

Prognosis tergantung kepada jumlah asetaminofen yang tertelan dan tindakan pengobatan. Jika pengobatan dimulai dalam waktu 8 jam setelah keracunan, atau dosis yang tertelan masih dibawah dosis racun, maka prognosisnya sangat baik. KERACUNAN ASPIRIN Aspirin atau obat yang mirip dengan Aspirin (salisilat) biasanya tidak dianjurkan diberikan kepada anak-anak dan remaja karena memiliki resiko terjadinya sindroma Reye. Tetapi pada penyakit tertentu (misalnya artritis rematoid juvenil) pemberian Aspirin kepada anak-anak/remaja dibenarkan/diperlukan. Aspirin ditemukan pada: Aspirin Ecotrin Anacin (kaplet dan tablet) Alka Seltzer Bufferin. Overdosis Aspirin (salisilisme) pada anak yang telah meminum Aspirin dosis tinggi selama beberapa hari biasanya lebih berat. Bentuk salisilat yang paling beracun adalah minyak wintergreen (metil salisilat), yang merupakan komponen dari obat gosok dan larutan penghangat. Seorang anak dapat meninggal karena menelan kurang dari 1 sendok teh metil salisilat murni. Gejala awal dari salisilisme adalah mual dan muntah, diikuti dengan pernafasan yang cepat, hiperaktivitas, peningkatan suhu tubuh dan kadang kejang. Anak menjadi mengantuk, mengalami kesulitan dalam bernafas dan pingsan. Kadar Aspirin yang tinggi dalam darah menyebabkan anak menjadi sering berkemih, dan hal ini bisa menyebabkan dehidrasi. Dilakukan pengurasan lambung sesegera mungkin. Jika anak dalam keadaan sadar, diberikan arang aktif melalui mulut atau melalui selang yang dimasukkan ke dalam lambung. Untuk mengatasi dehidrasi ringan, anak diharuskan minum sebanyak mungkin (susu maupun jus buah). Untuk dehidrasi yang lebih berat, diberikan cairan melalui infus. Demam diatasi dengan kompres hangat. Untuk mengatasi perdarahan bisa diberikan vitamin K1. Prognosis tergantung kepada kadar salisilat dalam darah. Kadar yang bisa menimbulkan keracunan adalah 150-300 mg/kg berat badan.

KERACUNAN BAHAN KAUSTIK Yang dimaksud dengan bahan kaustik adalah asam dan alkali kuat. Bahan kaustik (jika tertelan) bisa menyebabkan luka bakar dan secara langsung menyebabkan kerusakan pada mulut, kerongkongan serta lambung. Beberapa keperluan rumah tangga yang mengandung bahan kaustik adalah pembersih jamban dan sabun pencuci piring; beberapa diantaranya mengandung bahan kaustik yang paling berbahaya, yaitu natrium hidroksida dan asam sulfat. Bahan tersebut terdapat dalam bentuk padat maupun cair. Pada sediaan padat, rasa panas yang ditimbulkan menempel pada permukaan yang lembab sehingga anak segera berhenti memakannya. Sedangkan sediaan cair tidak menempel, lebih mudah ditelan dan bisa menyebabkan kerusakan pada seluruh bagian kerongkongan. Segera timbul nyeri dan sifatnya bisa berat. Daerah yang terbakar menjadi bengkak dan menelan menimbulkan nyeri. Pernafasan menjadi dangkal, dengan denyut nadi yang cepat dan lemah. Kadang pembengkakan menyebabkan tersumbatnya saluran udara. Sering terjadi syok (tekanan darah sangat rendah). Bahan kaustik menyebabkan keruskan pada dinding kerongkongan atau lambung. 1 minggu atau lebih setelah keracunan, pada dinding kerongkongan maupun lambung yang mengalami kerusakan bisa terjadi perforasi (pembentukan lubang), yang kemungkinan disebabkan oleh muntah maupun batuk. Anak yang berhasil melalui masa awal kerusakan pada akhirnya bisa meninggal akibat infeksi karena bahan kaustik dari kerongkongan merembes ke dalam rongga dada. Meskipun pada awalnya hanya menimbulkan gejala yang rignan, tetapi beberapa minggu kemudian bisa terjadi penyempitan pada kerongkongan. Pada kasus berat dengan bahan kaustik yang sangat kuat, kematian terjadi akibat: - tekanan darah yang sangat rendah - penyumbatan saluran pernafasan - perforasi kerongkongan - kerusakan jaringan - peradangan paru-paru. Dengan bantuan endoskopi bisa diketahui beratnya kerusakan yang telah terjadi pada kerongkongan sehingga dapat ditentukan tindakan yang harus segera diambil. Untuk melarutkan bahan kaustik, sebaiknya anak diberik minum sebanyak mungkin, yang terbaik adalah minum susu. Susu tidak hanya bersifat melindungi dan melembutkan selaput lendir, tetapi juga merupakan pengganti dari protein jaringan yang merupakan target dari bahan kaustik. Baju yang terkena bahan kaustik segera dilepas dan kulit yang terkena segera dicuci bersih. Sebaiknya tidak dilakukan perangsangan muntah dan pengurasan lambung karena bisa

memperburuk kerusakan yang telah terjadi. Antibiotik diberikan jika anak mengalami demam atau terdapat tanda-tanda perforasi kerongkongan. Pada kasus yang ringan, anak didorong untuk minum sebanyak mungkin cairan. Jika anak tidak mau minum, cairan bisa diberikan melalui infus. Jika saluran pernafasan tersumbat oleh pembengkakan kerongkongan, mungkin perlu dilakukan trakeostomi (pembuatan lubang pada trakea). Jika terjadi penyempitan, dilakukan pembedahan untuk memasukkan sebuah selang ke dalam kerongkongan agar kerongkongan tidak menutup sepenuhnya; terapi dilatasi bisa dilakukan beberapa bulan kemudian. Untuk mengurangi peradangan, bisa diberikan kortikosteroid. KERACUNAN TIMAH HITAM Keracunan timah hitam (plumbisme) biasanya merupakan suatu keadaan kronis (menahun) dan kadang gejalanya kambuh secara periodik. Kerusakan yang terjadi bisa bersifat permanen (misalnya gangguan kecerdasan pada anakanak dan penyakit ginjal progresif pada dewasa). Timah hitam ditemukan pada Pelapis keramik Cat Batere Solder Mainan. Pemaparan oleh timah hitam dalam jumlah relatif besar bisa terjadi melalui beberapa cara: Menelan serpihan cat yang mengandung timah hitam Membiarkan alat logam yang mengandung timah hitam (misalnya peluru, pemberat tirai, pemberat alat pancing atau perhiasan) tetap berada dalam lambung atau persendian, dimana secara perlahan timah hitam akan larut Meminum minuman asam atau memakan makanan asam yang telah terkontaminasi karena disimpan di dalam alat keramik yang dilapisi oleh timah hitam (misalnya buah, jus buah, minuman berkola, tomat, jus tomat, anggur, jus apel) Membakar kayu yang dicat dengan cat yang mengandung timah hitam atau batere di dapur atau perapian Mengkonsumsi obat tradisional yang mengandung senyawa timah hitam Menggunakan perabotan keramik atau kaca yang dilapisi timah hitam untuk menyimpan atau menyajikan makanan Minum wiski atau anggur yang terkontaminasi oleh timah hitam Menghirup asap dari bensin yang mengandung timah hitam Bekerja di tempat pengolahan timah hitam tanpa menggunakan alat pelindung (seperti respirator, ventilasi maupun penekan debu).

Pemaparan timah hitam dalam jumlah yang lebih kecil, terutama melalui debu atau tanah yang telah terkontaminasi oleh timah hitam, bisa meningkatkan kadar timah hitam pada anak-anak; karena itu perlu diberikan pengobatan meskipun tidak ditemukan gejala. Pada dewasa, serangkaian gejala yang khas bisa timbul dalam waktu beberapa minggu atau lebih, yaitu berupa perubahan kepribadian, sakit kepala, di dalam mulut terasa logam, nafsu makan berkurang dan nyeri perut samar-samar yang berakhir dengan muntah, sembelit serta nyeri kram perut. Pada dewasa jarang terjadi kerusakan otak. Pada anak-anak, gejalanya diawali dengan rewel dan berkurangnya aktivitas bermain selama beberapa minggu. Kemudian gejala yang serius timbul secara mendadak dan dalam waktu 1-5 hari menjadi semakin memburuk, yaitu berupa: - muntah menyembur yang berlangsung terus menerus - berjalan goyah/limbung - kejang - linglung - mengantuk - kejang yang tak terkendali dan koma. Gejala kerusakan otak tersebut terutama terjadi akibat pembengkakan otak. Baik pada anak-anak maupun dewasa bisa terjadi anemia. Beberapa gejala bisa menghilang secara spontan, tetapi jika kembali terjadi pemaparan oleh timah hitam, gejalanya akan kembali memburuk. Resiko tinggi ditemukan pada anak-anak yang tinggal di rumah tua/lama yang dicat dengan cat yang mengandung timah hitam. Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan kadar timah hitam di dalam darah. Untuk memperkuat diagnosis, dilakukan pengukuran jumlah timah hitam yang dibuang melalui air kemih, analisa contoh sumsum tulang serta rontgen perut dan tulang panjang. Kapsul succimer akan berikatan dengan timah hitam dan membantu melarutkannya di dalam cairan tubuh sehingga dapat dibuang ke dalam air kemih. Efek sampingnya adalah ruam kulit, mual, muntah, diare, nafsu makan berkurang, terasa logam di mulut dan kelainan pada fungsi hati (kadar transaminase). Jika kadar timah hitam cukup tinggi sehingga kemungkinan akan terjadi kerusakan otak, maka penderita segera dirawat. Dimercaprol dan kalsium dinatrium edetat diberikan melalui serangkaian suntikan. Pengobatan dilakukan selama 5-7 hari untuk menghindari berkurangnya cadangan logam yang penting dalam tubuh (terutama seng). Dimercaprol seringkali menyebabkan muntah, karena itu diberikan cairan infus. Pengobatan ini mungkin perlu diulangi dengan selang waktu tertentu. Setelah pengobatan dihentikan, kadar timah hitam dalam darah biasanya kembali meningkat karena timah hitam yang tersisa di dalam jaringan tubuh dilepaskan. Untuk membantu membuangnya, penisilamin per-oral diberikan 2 hari setelah pemberian kalsium

dinatrium edetat. Untuk menggantikan hilangnya logam lain selama pemakaian penisilamin, seringkali diberikan suplemen zat besi, seng dan tembaga. Efek samping dari kalsium dinatrium edetat kemungkinan terjadi akibat berkurangnya seng, yaitu berupa kerusakan ginjal, kadar kalsium darah yang tinggi, demam serta diare. Kerusakan ginjal biasanya bersifat sementara. Penisilamin bisa menyebabkan ruam kulit, proteinuria (protein dalam air kemih) dan penurunan jumlah sel darah putih. Efek tersebut bersifat sementara dan akan menghilang pada saat pemakaian penisilamin dihentikan. Pada beberapa penderita, dimercaprol bisa menyebabkan hemolisis (penghancuran sel darah merah). Obat-obat tersebut tidak digunakan sebagai tindakan pencegahan pada pekerja timah hitam atau siapapun yang terpapar oleh kadar timah hitam yang tinggi, karena dapat meningkatkan penyerapan timah hitam. Yang terpenting adalah mengurangi pemaparan oleh timah hitam. Jika anak-anak memiliki kadar timah hitam sebesar 10 mikrogram/dL atau lebih, maka sebaiknya pemaparan oleh timah hitam dikurangi. Pemulihan sempurna mungkin memerlukan waktu beberapa bulan sampai beberapa tahun, dan kemungkinan akan meninggalkan efek saraf yang permanen. Setelah mengalami keracunan timah hitam, sistem saraf dan otot bisa tidak berfungsi sebagaimana mestinya, Sistem pembuluh darah dan ginjal juga bisa mengalami gangguan. Anak yang bertahan hidup bisa mengalami kerusakan otak yang permanen. KERACUNAN ZAT BESI Sejumlah besar zat besi bisa menyebabkan diare, muntah, peningkatan jumlah sel darah putih dan kadar gula darah yang tinggi. Jika dalam waktu 6 jam pertama tidak timbul gejala dan kadar zat besi di dalam darah rendah, maka kecil kemungkinan terjadinya keracunan. Zat besi ditemukan pada: Fero-sulfat (Feosol, Slow Fe) Fero-glukonat (Fergon) Fero-fumarat (Femiron, Feostat) Suplemen mineral Suplemen vitamin. Gejala overdosis zat besi biasanya terjadi melalui beberapa tahap: 1. Stadium 1 (dalam waktu 6 jam) - muntah - rewel

- diare - nyeri perut - kejang - mengantuk - penurunan kesadaran - perdarahan lambung (gastritis hemoragika) akibat iritasi saluran pencernaan. Jika kadar zat besi di dalam darah tinggi, juga bisa terjadi: - pernafasan dan denyut nadi cepat - tekanan darah rendah - peningkatan keasaman darah. Tekanan darah yang sangat rendah atau penurunan kesadaran selama 6 jam pertama menunjukkan bahwa keadaannya sangat serius. 2. Stadium 2 (dalam waktu 10-14 jam), terjadi perbaikan semu yang berlangsung selama 24 jam. 3. Stadium 3 (antara 12-48 jam). Bisa terjadi syok (tekanan darah sangat rendah), aliran darah ke jaringan berkurang dan kadar gula darah turun. Kadar zat besi dalam darah mungkin normal, tetapi pemeriksaan menunjukkan adanya kerusakan hati. Gejala lainnya adalah: - demam - peningkatan jumlah sel darah putih - kelainan perdarahan - kelainan konduksi listrik di jantung - disorientasi - gelisah - mengantuk - kejang - penurunan kesadaran. Bisa terjadi kematian. 4. Stadium 4 (setelah 2-5 minggu) : bisa terjadi komplikasi seperti penyumbatan usus, sirosis atau kerusakan otak. Jika hasil pemeriksaa darah menunjukkan kadar zat besi yang rendah, dilakukan observasi selama 6 jam dan jika tidak timbul gejala, anak tidak perlu dirawat. Jika kadar zat besi tinggi atau timbul gejala, maka anak perlu dirawat. Di rumah sakit dilakukan pengurasan lambung. Digunakan arang aktif, meskipun tidak banyak menyerap zat besi. Mungkin perlu dilakukan pencucian usus untuk membuang zat besi. Suntikan deferoksamin (yang akan mengikat zat besi di dalam darah) diberikan kepada anak yang memiliki kadar zat besi tinggi atau menunjukkan gejala. Kekurangan zat besi akibat pengobatan dan perdarahan bisa menyebabkan anemia. Rontgen lambung atau usus bagian atas dilakukan 6 minggu atau lebih setelah keracunan, untuk mengetahui adanya penyempitan organ akbiat iritasi lapisan saluran pencernaan.

Prognosis biasanya baik, hanya sekitar 1% yang meninggal. Resiko kematian pada anak yang mengalami syok dan kesadarannya menurun adalah sebesar 10%. Kematian bisa terjadi bahkan dalam waktu 1 minggu setelah keracunan, tetapi jika dalam waktu 48 jam gejala-gejalanya telah hilang, maka akan terjadi pemulihan sempurna. KERACUNAN HIDROKARBON Hidrokarbon adalah senyawa organik yang hanya terdiri dari hidrogen dan karbon. Hidrokarbon banyak ditemukan di dalam minyak bumi, gas alam dan batubara. Keracunan hidrokarbon biasanya terjadi karena anak menelan hasil penyulingan minyak bumi, seperti bensin, minayk tanah, pengencer cat dan hidrokarbon terhalogenasi (misalnya karbon tetraklorida yang banyak ditemukan di dalam larutan dan pencair dry-cleaning atau etilen diklorida). Kematian banyak terjadi pada remaja yang dengan sengaja menghirup atsiri. Sejumlah kecil bahan tersebut (terutama dalam bentuk cairan yang mudah mengalir) bisa masuk ke dalam paru-paru dan menyebabkan kerusakan pada paru-paru. Cairan yang lebih kental, yang digunakan pada semir furnitur, sangat berbahaya karena bisa menyebabkan iritasi dan pneumonia aspirasi yang berat. Gejalanya terutama menyerang paru-paru dan usus; pada kasus yang sangat berat juga menyerang otak. Pada awalnya anak mengalami batuk dan tersedak, kemudian pernafasan menjadi cepat. Kulitnya tampak kebiruan karena berkurangnya kadar oksigen dalam darah. Selanjutnya terjadi muntah dan batuk yang menetap disertai megap-megap. Pada anak yang lebih besar, sebelum terjadinya muntah, mereka mengeluh merasa terbakar/panas di lambung. Gejala neurologis meliputi mengantuk, koma dan kejang. Gejala yang lebih berat ditemukan pada anak yang telah menelan cairan yang lebih encer, minyak anjing laut mineral atau h idrokarbon halogenasi (misalnya karbon tetraklorida). Bisa terjadi kerusakan pada ginjal dan sumsum tulang. Pada kasus yang berat, terjadi pembesaran jantung, denyut jantung yang tidak teratur dan henti jantung. Peradangan paru-paru yang cukup berat biasanya menyebabkan kematian dalam waktu 24 jam. Pemulihan pneumonia berlangsung dalam waktu 1 minggu; tetapi jika penyebabnya adalah karena menelan minyal anjing laut mineral, masa pemulihan biasanya memerlukan waktu 5-6 minggu. Pada kasus yang berat, pneumonia dapat dilihat pada rontgen dada dalam waktu 2 jam setelah keracunan; pada 90% kasus, pneumonia bisa terlihat pada rontgen dada dalam

waktu 6-8 jam. Jika dalam waktu 24 jam tidak tidak timbul gejala pneumonia, maka tidak akan terjadi pneumonia. Kerusakan atau infeksi ginjal bisa terlihat dari hasil penghitungan sel darah putih dan analisa air kemih. Untuk memperkuat diagnosis dan membantu menentukan rencana pengobatan, dilakukan pengukuran kadar oksigen dan karbondioksida dalam darah arteri. Jika anak berada dalam keadaan sadar, segera minum segelas susu untuk melarutkan bahan yang tertelan dan mengurangi peradangan lambung. Jika terdapat tanda-tanda pneumonia (misalnya pernafasan cepat, denyut jantung cepat atau batuk), anak harus dibawa ke rumah sakit. Jika terjadi pneumonia diberikan terapi oksigen, ventilator, cairan infus dan pengawasan ketat.

ANTIDOTUM & ZAT ANTITOKSIKAntidotum adalah penawar racun, sedangkan antitoksik adalah penawar terhadap zat yang beracun (toksik) terhadap tubuh.

ANTIDOTUMAntidotum lebih difokuskan terhadap over dosis atau dosis toksik dari suatu obat. Kondisi suatu obat dapat menimbulkan keracunan bila digunakan melebihi dosis amannya. Selain itu, perbedaan metabolisme tubuh setiap orang terhadap dosis obat juga mempengaruhi. Obat dapat menjadi racun bila dikonsumsi dalam dosis berlebihan. Dalam hal ini, obat tidak akan menyembuhkan melainkan berbahaya. Umumnya akan timbul efek sampingnya. Praktisi kesehatan seperti dokter dan apoteker harus berhati-hati dalam memilih dosis obat yang sesuai dengan kondisi penderita. Obat yang sama dapat diberikan dalam dosis yang berbeda kepada bayi, anak-anak, dewasa dan usia lanjut. Hal ini disebabkan perbedaan kesempurnaan pembentukan organ-organ tubuh terutama hati dalam tiga jenis manusia tersebut. Pengobatan terhadap keracunan obat yang umum untuk keracunan yang terjadi kurang dari 24 jam yaitu dengan membilas lambung bila obat baru ditelan, memuntahkan obat sampai tindakan khusus untuk mempercepat pengeluaran obat dari tubuh. Setelah bilas lambung, karbon aktif dan suatu pencahar perlu diberikan.

Pada keracunan yang parah dibutuhkan antidotum yang memang terbukti menolong terhadap efek keracunan obat tertentu, misal asam Folinat untuk keracunan metotrexat. Nalokson, atropin, chelating agent, natrium tiosulfat, metilen biru merupakan antidotum spesifik yang sangat ampuh dan sering menimbulkan reaksi pengobatan yang dramatis. Namun, sebagian terbesar kasus keracunan harus dipuaskan dengan pengobatan gejalanya saja, dan inipun hanya untuk menjaga fungsi vital tubuh, yaitu pernafasan dan sirkulasi darah. Racun akan didetoksikasi oleh hepar secara alamiah dan racun atau metabolitnya akan diekskresi melalui ginjal dan hati. Selama keracunan hanya perlu dipertahankan pernapasan dan sistem kardiovaskuler (fungsi vital).

ZAT ANTITOKSIKSaat ini manusia sering terkena zat-zat toksik baik dari makanan, air dan lingkungan. Di rumah pun bukan berarti tidak berbahaya karena masih ada kemungkinan keracunan insektisida maupun herbisida. Tergantung dari sifat yang dimiliki oleh zat toksik tersebut, sehingga bisa terserap melalui lambung, usus, paru-paru dan atau kulit. Untungnya, hati (liver) memiliki kemampuan mendetoksifikasi zat-zat toksik tersebut sehingga dapat dikeluarkan melalui urine, empedu dan udara. Namun, apabila kecepatan penyerapan melebihi kecepatan ekskresinya, zat toksik itu akan menumpuk dalam konsentrasi kritis dan mengakibatkan munculnya efek toksik dari zat tersebut. Zat-zat tosik seperti sulfida, arsenik, logam berat dapat masuk ke dalam tubuh dan menyebabkan efek keracunan. Untuk itu, dibutuhkan zat antitoksik seperti Desferrioksamin Metansulfonat untuk keracunan besi akut.

Air Kelapa Atasi Keracunan ObatTags: air kelapa, anafilaktik, atasi keracunan, keracunan obat, manfaat air kelapa, mengatasi keracunan, syokAir kelapa selain mengandung berbagai ion yang sangat dibutuhkan oleh tubuh, juga memiliki kemampuan untuk menawarkan racun yang masuk ke dalam tubuh. Air kelapa ini sudah lama digunakan oleh nenek moyang untuk mengobati berbagai penyakit seperti: panas dalam, demam, kekurangan cairan, dll. Selain itu, air kelapa juga dapat digunakan untuk mengatasi keracunan obat. Keracunan obat ini dapat menimbulkan berbagai gejala dan tanda (symptom and sign), mulai dari urtikaria, Syndrom Steven Johnson (SJS). Di mana pada keadaan ini timbulnya berbagai

kelainan pada kulit yaitu keluarnya bintik-bintik kemerahan dan terasa gatal. Selain itu gejala keracunan obat lainnya pada keadaan lebih berat dapat menimbulkan Syok Anafilaktik (=shock anafilactic) yang dapat membahayakan keselamatan jiwa penderita. Gejala mulai dari ringan sampai berat seperti: penglihatan terasa gelap, tekanan darah menurun, denyut nadi cepat sampai menimbulkan hilangnya kesadaran. Dan bila tidak ditangani segera akan menimbulkan kematian. Keracunan obat ini dapat terjadi di mana saja. Bila kita mengalami hal tersebut atau ada orang lain yang mengalami keracunan obat, cara yang terbaik adalah dengan membawa orang tersebut ke Rumah Sakit segera. Di fasilitas kesehatan biasanya sudah disediakan berbagai obat yang dapat digunakan untuk mengatasi syok anafilaktik ini. Akan tetapi, bila hal di atas tidak mungkin dilakukan cara yang terbaik adalah dengan meletakkan penderita pada posisi kepala lebih rendah dari anggota badan (posisi trendelenburg). Posisi ini bertujuan untuk meningkatkan tekanan perfusi di dalam jaringan otak (cerebral). Tindakan selanjutnya adalah dengan memberi minum orang tersebut dengan Air Kelapa. Berdasarkan pengalaman saya sendiri, penggunaan air kelapa ini sangat manjur untuk mengatasi berbagai keracunan yang disebabkan oleh obat, baik itu obat yang dibeli di warung atau di toko obat oleh penderita maupun dari petugas kesehatan. Bila Anda berobat dengan petugas kesehatan atau di Rumah Sakit, biasanya dilakukan uji kulit (skin test) terlebih dahulu untuk menguji apakah seseorang alergi terhadap obat tersebut atau tidak. Namun, bila Anda membeli obat di warung atau toko obat, Anda tidak tahu apakah alergi atau tidak terhadap obat yang dikonsumsi. Oleh karena itu, penggunaan Air Kelapa untuk mengatasi keracunan obat ini layak untuk digunakan. Semakin cepat, semakin baik.