makalh wasiat hidup

Click here to load reader

Post on 09-Jul-2015

553 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

KATA PENGANTAR

Bioetika adalah ilmu tentang moral,yang merupakan disiplin ilmu tentang baik buruk, benar salah suatu sikap perbuatan seorang individu Seharusnya kita sebagai manusia yang atau instansi dari segi moralitas. menegakkan kata berperikemanusiaan

hati,membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Adapun judul makalah Bioetika ini adalah Wasiat Hidup,telah disusun semaksimal mungkin,semoga bermanfaat bagi pembaca.Penulis menyadari makalah ini belum sempurna,oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari rekan rekan mahasiswa dan bimbingan dari Bapak Dosen demi penyempurnaan makalah ini. Akhirnya kepada Allah SWT kita berserah diri semoga kita semua selalau berada dalam lindungan dan bimbinganNya. Amin.

1

DAFTAR ISI

Kata pengantar Daftar isi BAB I.PENDAHULUAN. BAB II.PEMBAHASAN......................................................................... A. Pengertian wasiat.... B. Dsar Hukum... C. Hukum Wasiat... D. Syarat syarat dan Rukun wasiat. E. Cara melahsanakan wasiat...... F. Batalnya Wasiat. G. Pencabutan Wasiat..... H. Beberapa Ketentuan Teknis I. Wasiat Wajibah... J. Syarat syarat Wasiat Wajibah BAB III. KESIMPULAN.............. BAB III. PENUTUP.... DAFTAR PUSTAKA

2

BAB I PENDAHULUAN Pada waktu manusia dilahirkan ke dunia ini telah tumbuh tugas baru dalam kehidupanya.Dalam arti sosiologis manusia menjadi pengemban hak dan kewajiban,selama manusia masih hidup di dalam masyarakat,dia mempunyai tempat di dalam masyarakat disertai dengan hak hak dan kewajiban terhadap orang atau anggota lain dari masyarakat itu dan terhadap benda benda yang berada dalam masyarakat itu.Manusia dalam perjalanan hidupnya di dunia ini mengalami tiga peristiwa penting,yaitu:waktu ia dilahirkan,waktu ia kawin dan waktu ia meninggal dunia Pada umumnya setiap orang mempunyai hak untuk membuat surat ini boleh di cabut kembali selama dia (si pewasiat) masih hidup. Dasar hukum pelaksanan wasiat dapat dilihat dalam Al-Quran Surat Al-Baqarah (2) ayat 180.Artinya:Diwajibkan atas kamu,apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda tanda) maut,jika ia meninggalkan harta yang banyak berwasiat untuk ibu bapak dan karib kerabat secara maruf,(ini adalah) kewajiban atas orang orang yang bertaqwa. Jika harta warisan yang ditinggalkan oleh pewasiat jatuh kepada pihak lain yang sama sekali bukan ahli warisnya,atau permasalahan dari segi jumlah harta yang diwasiatkan ,sering kali menimbulkan persoalan diantara para ahli waris dengan yang bukan ahli waris,akan tetapi sesuai surat wasiat,orang yang bukan ahli waris tersbut mendapat harta wasiat.Maka dalam agama Islam ada hukum wasiat,syarat syarat wasiat,dan cara pelaksanaan wasiat,agar terhindar dari pertikaian dan dilaksanakan dengan dasar taqwa kepada Allah SWT. Walaupun wasiat berdasarkan Hukum Islam adalah salah satu tugas pokok atau wewenang Peradilan Agama (pasal 49 Undang Undang No 3 Tahun 2006),namun diantara atau akta

wasiat,yang di dalamnya terkandung kemauan terakhir dari pihak yang membuatnya dan hal

3

perkara yang diajukan ke Pengadilan Agama jarang sekali bahkan hampir tidak ada yang diselesaikan melalui Pengadilan Agama,mungkin karena wasiat dianggap perbuatan baik,dan tidak diperlukan akta sebagai alat bukti nilai objektif. Wasiat yang diatur dalam Kompilasi Hukum Islam dimuat dalam Bab V Pasal 194209.Ketentuan wasiat yang diatur di dalamnya menyangkut mereka yang berhak berwasiat,jenis jenis wasiat,hal hal yang boleh dan tidak boleh dalam wasiat.

4

BAB II PEMBAHASAN

A . Pengertan Wasiat Menurut pengertian bahasa umum:pesan.Sedang menurut istilah Syariah ialah:Pesan terhadap sesuatu yang baik,yang harus dilaksanakan sesudah seseorang meninggal.Atau tindakan seeorang terhadap harta peninggalannya yang disandarkan kepada keadaan setelah meninggal.Kata wasiat disebut dalam Al Quran seluruhnya sebanyak 25 kali. Dalam penggunaannya ,kata wasiat berarti :berpesan,menetapkan dan Syura,42:13,al-Ahqaf,46:15),dan mensyariatkan memerintah (QS,alpengertian Anam,6:151,152,152,al-Nisa,4:132),mewajibkan(QS.al-Ankabut,29:8,Luqman,31:14,al(Al-Nisa4:11).Dengan istilah,Sayid Sabiq mengemukakan :Pemberian seseorang kepada orang lain,berupa benda,uang atau manfaat,agar si penerima memiliki pemberian itu setelah si pewasiat meninggal. Satu pendapat mengemukakan bahwa wasiat adalah pemilikan yang disandarkan pada sesudah meninggalnya si pewasiat dengan jalan tabarru (kebaikan tanpa menuntut imbalan) Pengertian ini untuk membedakan wasiat dengan hibah.Jika hibah berlaku sejak si pemberi menyerahkan pemberiannya,dan diterima oleh yang menerimanya,maka wasiat berlaku setelah si pemberi meninggal.Ini sejalan dengan definisi FuqahaHanafiyah:Wasiat adalah tindakan seseorang memberikan hak kepada orang lain untuk memiliki sesuatu baik berupa benda atau manfaat secara sukarela (tabarru),yang pelaksanaannyanditangguhkan setelah peristiwa kematian orang yang memberi wasiat. Fuqaha (ulama fiqih ) Malikiyah,Syafiiyah dan Hanabilah memberi definisi yang lebih rinci; yaitu suatu transaksi yang mengharuskan si penerima wasiat berha memiliki 1/3 harta peninggalan si pemberi setelah meninggal,atau mengharuskan penggantian hak 1/3 harta si pewasiat kepada penerima.

5

Kompilasi Hukum Islam mendefenisikan wasiat sebagai berikut:Pemberian suatu benda dari pewaris kepada orang lain atau lembaga yang akan berlaku setelah pewaris meninggal dunia(Pasal 171 huruf f KHI) Di dalam terminology hukum perdata positif,sering disebut dengan istilah testament .Namun demikian ada perbedaan perbedaan prinsipil antara wasiat menurut Hukum Islam dengan testament,terutama yang menyangkut criteria dan persyaratannya.Kompilasi mengambil jalan tengah ,yaitu meskipun wasiat merupakan transaksi tabarru,agar pelaksanaannya mempunyai kekuatan hokum,perlu ditata sedemikian rupa,agar diperoleh ketertiban dan kepastian hukum.Karenanya tidak ada dalam syariat Islam sesuatu wasiat yang wajib di lakukan dengan jalan putusan hakim. Supaya tadak terjadi kesalahpahaman,wasiat hendaknya tertlis bila mampu menulis.Sebab bagi ahli waris yang tidak menyaksikan wasiat itu dapat menemukan data,dan untuk menjaga penyalahgunaan,(HR.Bukhari dan Muslim).Waspat tidak boleh lebih dari 1/3 dari harta yang ditinggalkan,setelah selesai dikeluarkan biaa pelaksanaanjenazah dan melunasi utang-utangnya.(HR.Bukhari dan Muslim).Atau jika pewasiat tidak dapat menulis ,hendaknya ia mendatangkan dua orang saksi laki-laki yang adil,dipercaya dan jujur untuk menyaksikan wasiat yang ia berikan kepada orang yang ia tunjuk.

6

B .Dasar Hukum Para ulama mendasarkan wasiat kepada Al Quran, Sunnah dan Ijtima Dalam konteks Hukum Islam di Indonesia, kompilasi merupakan aturan yang dipedomani. 1. Al-Quran. Firman Allah SWT ,QS.al Baqarah ,2:180 yang artinya Diwajibkan atas kamu apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tanda-tanda)maut,jika ia meninggalkan harta uyang banyak,bertwasiat untuk ibu bapak,dan karib kerabatnya secara maruf. (Ini adalah) kewajiban atas orangorang yang bertaqwa. QS.al-Baqarah 2:240 Dan orang orang yang akan meninggal diantaramu danmeninggalkan isteri,hendaklah berwasiat untuk isteri isterinya,(yaitu)diberi nafkah hingga setahun lamanya dengan tidak disuruh pindah (dari rumahnya),akan tetapi jika mereka pindah (sendiri) maka tidak ada dosa bagimu(wali atau waris dari yang meninggal ) membiarkan mereka berbuat maruf terhadap diri mereka. QS. Al Maidah, 5:106, Hai orang orang yang beriman apabila salah seorang kamu menghadapi kematian,sedang dia akan berwasiat,maka hendaknya (wasiat itu)disaksikan oleh dua orang saksi yang adil diantara kamu,atau dua orang yang berlainan agama dengan kamu jika kamu dalam perjalanan di muka bumi lalu ditimpa bahaya kematian. Ayat ayat di atas menunjukkannsecara jelas mengenai hukum wasiat dan teknis pelaksanannya,secara materi yang menjadiobjek wasiat.Namun demikian para ulama berbeda pendapat dalam memahami dan menafsirkan hokum wasiat.Tentang kedudukan wasiat dalam Islam akan diuraikan setelah dasar dasar hukum wasiat. 2. Al-Sunnah

7

Riwayat Al Bukhari dan Muslim dari Ibn Umar ra,: Rasulullah SAW.bersabda: Bukanlah hak seorang muslim yang mempunyai sesuatu yang ingin diwasiatkan bermalam (diperlambat) selama dua malam,kecuali wasiatnya telah dicatat di sisi Nya. Riwayat Al- Bukhari dari Saad Ibn Abi Waqqas : Nabi SAW,datang menjengukku ketika di Mekkah,beliau tampaknya kurang senang meninggal di bumi yang ditinggalkan, dan beliau bersabda: Semoga Allah mengasihimu Ibn Afra . Aku bertanya: Wahai Rasullah SAW, aku akan berwasiat dengan seluruh hartaku . Beliau menjawab :Jangan. Separuh ,tanyaku. Jangan ,jawab beliau. Aku bertanya: Sepertiga? Kata beliau: Sepertga,sepertiga adalah banyak.Sesungguhnya kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya (kecukupan) adalah lebih baik daripada meninggalkan mereka dalam keadaan meminta minta kepada orang lain.Sesungguhnya kamu ketika menginfakkan sesuatu adalah merupakan sadaqah hingga sesuap nasi yang engkau suapkan kepada mulut isterimu.Dan semoga Allah akan mengangkatmu.sehingga orang lain dapat memperoleh manfaat dari kamu,sementara sebagian lain menderita,dan hari itu tidak ada lain kecuali seorang anak perempuan. Imam Muslim meriwayatkan dalam redaksi yang lebih ringkas,isinya sejalan.Dalam versi lain lagi,al-Bukhari meriwayatkan Saad Ibn Waqqas berkata: Aku menderita sakit kemudian Nabi SAW.mengunjungiku dan aku tanyakan: Wahai Rasulullah SAW.berdoalah tuan kepada Allah semoga Dia tidak menolakku .Beliau bersbda: Semoga Allah meninggikan (derajadmu),dan manusia lain akan memperoleh manfaat dari akmu . Aku bertanya : Aku ingin mewasiatkan hartaku separuh,namun akau ada seorang anak perempuan. Beliau menjawab: Separuh itu banyak . Aku bertanya (lagi): Sepertiga ?. Beliau menjawab :Sepertiga,sepertiga adalah banyak atau besar .Beliau bersabda; Orang orang berwasiat sepertiga,dan yang demikian itu boleh bagi