makalah kelangkaan air

of 24/24
MAKALAH EKONOMI SUMBER DAYA ALAM & LINGKUNGAN “MENGATASI KELANGKAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA” Nama : Lavinia Elisa Berliana NIM : 7111412109 EKONOMI PEMBANGUNAN B 2012 FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

Post on 14-Nov-2015

28 views

Category:

Documents

22 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

makalah tentang kelangkaan aiar di indonesia

TRANSCRIPT

MAKALAH EKONOMI SUMBER DAYA ALAM & LINGKUNGAN

MENGATASI KELANGKAAN SUMBER DAYA AIR DI PULAU JAWA

Nama

: Lavinia Elisa Berliana

NIM

: 7111412109

EKONOMI PEMBANGUNAN B 2012

FAKULTAS EKONOMIUNIVERSITAS NEGERI SEMARANGBAB I

PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Masalah

Air merupakan kebutuhan vital bagi masyarakat karena menyangkut kebutuhan/ hajat hidup orang banyak. Sumberdaya air adalah kepentingan bersama yang perlu dipelihara dengan baik. Kebutuhan akan air di Jawa terus meningkat disebabkan karena jumlah penduduk yang terus meningkat, juga tuntutan kualitas kehidupan yang semakin membaik menyebabkan konsumsi air juga bertambah. Disisi lain penyediaan sumberdaya air terus menurun disebabkan terjadinya deplesi dan degradasi lingkungan terutama disebabkan laju kerusakan, penebangan hutan dan alih fungsi lahan yang tidak terkendali yang semata-mata ditujukan untuk mencapai target hasil pembangunan secara fisik dan ekonomis tanpa memperhitungkan dampak kerugian sosial dan kerusakan lingkungan.. Salah satu contoh adalah luas hutan alam di DAS Bengawan Solo berkurang secara signifikan, yakni sekitar 31 persen hanya dalam kurun waktu lima tahun (2002-2007) dan beralih menjadi daerah perkebunan atau tanah terbuka serta permukiman yang meningkat menjadi 26 persen. Pada tahun 2003 telah terjadi kekeringan di 12 kabupaten di Jawa Barat, yaitu Indramayu, Tasikmalaya, Cirebon, Kuningan, Ciamis, Sumedang, Garut, Bandung, Cianjur, Sukabumi, Serang, dan Pandeglang. Sementara di Jawa Tengah enam kabupaten, yaitu Pati, Sragen, Boyolali, Wonogiri, Cilacap, dan Rembang. Di Jawa Timur ada dua kabupaten, yaitu Lamongan dan Tulungagung. Pulau Jawa, tergolong pulau yang kritis air (water stress area) setiap penduduk di Jawa hanya terpenuhi kebutuhan airnya dalam satu tahun sebesar 1.750 M per kapita. Standar titik kritis air karena pemenuhan kebutuhan airnya berada di bawah 2.000 M per kapita per tahun yang dipersyaratkan. Pada tahun 1995, Ismail Seralgeldin, wakil presiden Bank Dunia, mencatat semacam prediksi mengenai masa depan perang: Jika perang abad ini banyak diakibatkan oleh persengketaan minyak, perang masa depan akan dipicu oleh air. Cerita kekurangan air tidak hanya terjadi di Indonesia terlebih di Pulau Jawa , tetapi terjadi juga di Israel, India, Bolivia, Cina, Kanada, Meksiko, Ghana, dan Amerika Serikat. New York Times (16 April 2001), mengangkat feature tentang kelangkaan air di Texas, sebagaimana Seralgeldin, bahwa Texas kini bukan minyak yang menjadi cairan emas, melainkan air.

Dengan semakin menonjolnya masalah kelangkaan air di berbagai belahan dunia pendekatan sektoral dalam pengelolaan air dianggap tidak memadai. Dalam berbagai forum seperti World Water Forum yang pertama tahun 2001 dicetuskan perlunya pendekatan keterpaduan dalam pengelolaan sumberdaya air atau Integrated Water Resources Management (IWRM). Demikian pula Article 26 of Plan of Implementation of The World Summit on Sustainable Development (WSSD), Johannesburg, tahun 2002, mengingatkan agar semua negara pada akhir tahun 2005 memiliki IWRM plan and Water efficiency strategy. Strategi tersebut tidak saja diperlukan dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan seperti mengurangi kemiskinan, memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan perrtumbuhan ekonomi, dan melindungi ekosistem tetapi juga dalam rangka mengatasi tantangan aktual seperti kekeringan, kebanjiran, perebutan air, dan masalah sanitasi.Dalam menanggapi deklarasi Johannesburg tersebut fokus pembahasan selanjutnya adalah reformasi dalam pengelolaan terpadu sumberdaya air. Yang dimaksud dengan reformasi adalah proses transformasi kelembagaan baik yang menyangkut perundang undangan, peraturan dan hubungan antara berbagai lembaga dan aktor pembangunan yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembangunan. Hal ini menyangkut proses pengelolaan sumberdaya air untuk mengatasi kelangkaan air.

1.2 Rumusan Masalah 1. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi kelangkaan air?

2. Bagaimana cara mengatasi kelangkaan air?

1.3 Tujuan

Tujuan pembuatan makalah ini antara lain adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kelangkaan air bersih dan cara mengatasinya.BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sumber Daya Alam (SDA)Sumber Daya Alam (SDA) adalah seluruh potensi yang dimiliki alam dan dapat dikembangkan dalam proses produksi sehingga dapat digunakan untuk kebutuhan hidup manusia.Sumber daya alam (SDA) terbentuk karena adanya kekuatan alamiah, misalnya tanah, air, udara, dan bahan tambang. Oleh karena itu, pada dasarnya sumber daya alam (SDA) telah tersedia bersama terbentuknya bumi ini. Namun, potensi sumber daya alam (SDA) tersebut tidak akan bermanfaat jika tidak diolah. Sebagai contoh, minyak bumi merupakan benda cair yang mungkin dianggap tidak bermanfaat, sampai manusia mempelajari cara menggunakannya, mengambil atau menyedot dari dalamtanah,dan memisahkannya hingga menjadi bermacam-macam bahan bakar.Penggolongan SDA pada umummnya didasarkan pada terbentuknya yang dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sumber daya alam (SDA) yang dapat diperbaharui dan sumber daya alam (SDA) yang tidak dapat diperbaharui.

SDA yang Dapat Diperbarui(Renewable Resources):SDA yang dapat diperbarui (renewable resources) adalah sumber daya alam yang dapat pulih keberadaannya atau dapat dikembalikan persediaannya dalam waktu yang cepat. Contoh SDA yang dapat diperbarui adalah air. Udara, cahaya matahari, tanah (kesuburannya). tanaman pertanian. dan kehutanan.

SDA yang Tidak Dapat Diperbarui(Unrenewable Resources):SDA yang tidak dapat diperbarui (Unrenewable Resources) adalah sumber daya alam yang tidak dapat pulih keberadaannya atau tidak dapat dikembalikan persediaannya. Jenis SDA ini pada umumnya benda atau materi yang berasal dari alam yang memerlukan waktu yang sangat lama dalam pemulihannya. Sebagai contoh, batu bara dan minyak bumi merupakan SDA yang setiap hari dieksploitasi dan dipakai oleh manusia. sementara persediaannya tetap. Padahal. Untuk mengembalikan SDA tersebut memerlukan waktu ribuan bahkan jutaan tahun.

2.2 Teori Kelangkaan (Scarcity) Ohlsson, (2000) dalam tulisannya Water Conflicts and Sosial Resource Scarcity menampilkan index mengenai Hydrological Water Stress Index (HWSI) dan Sosial Water Stress Index (SWSI). Ia memprediksi bahwa antara 1995 hingga 2025 terus terjadi peningkatan tekanan atas sumberdaya alam menuju kelangkaan yang semakin parah di berbagai negara, khususnya negara miskin. Dilihat dari perspektif kelangkaan, sumberdaya sebagai pemicu konflik dalam melihat akar permasalahan di sejumlah negara miskin atau daerah terbelakang. 2.3 Sumberdaya Air di Pulau Jawa 2.3.1 Kondisi Daerah Aliran Sungai

Pada tahun 1992 DAS kritis di Indonesia berjumlah 39 DAS, dan tahun 1998 meningkat menjadi 59 DAS, saat ini dari total 62 DAS kritis, 26 DAS ada di Pulau Jawa. Dari 26 DAS kritis di Pulau Jawa tersebut terdapat 8 DAS utama yang total luasnya mencapai separuh dari luas Pulau Jawa. Status penggunaan lahan pada DAS utama ini didominasi oleh lahan budidaya dan perkotaan sebagaimana disajikan dalam Tabel 1. Penggunaan lahan pertanian (padi sawah) sebesar 50 % bahkan untuk DAS Bengawan Solo telah mencapai 90%. Pada DAS Citarum dan Brantas luas daerah perkotaannya hampir mencapai 30%. Sedang luas tutupan vegetasi hanya 18%, hal ini jauh lebih rendah dari yang dipersyaratkan yaitu minimal 30%.

Karakteristik debit sungai sepanjang tahun di Pulau Jawa (regim hidrologi) menunjukkan variasi yang tinggi, baik untuk regim aliran sungai maupun antar sungai. Rasio debit maksimum dan minimum bervariasi antara 20 - 100 kali. Keadaan ini menunjukkan bahwa sungai-sungai di Pulau Jawa sangat rentan terhadap bahaya banjir dan kekeringan. Data lahan pertanian di Indonesia antara tahun 1986-2002 telah terjadi peningkatan dari 7.77 juta hektar pada tahun 1986 menjadi 8.52 juta hektar pada tahun 1996 dan kembali menjadi 7.77 juta hektar pada tahun 2002. Sedangkan untuk pertanian lahan kering relatif tidak berubah sekitar 11-13 juta hektar. Lahan perkebunan mengalami peningkatan dari 8.77 juta hektar tahun 1986 menjadi 19.91 juta hektar pada tahun 2001. Konversi lahan pertanian pada kurun waktu 1981-1999 mencapai 1.6 juta hektar (sekitar 1 juta hektar terjadi di Pulau Jawa).Tabel 1. Karakteristik Beberapa Sungai Di Jawa

Sumber: Catalogue of River, Vol 1,2,3 & 4 2.3.2 Penyediaan Air Baku Pemanfaatan sumberdaya air bagi kebutuhan manusia semakin hari semakin meningkat, disisi lain kerusakan dan pencemaran sumberdaya air semakin meningkat pula, sebagai implikasi dari pertumbuhan penduduk dan industrialisasi. Apabila tingkat kebutuhan air semakin tinggi maka dikuatirkan ketersediaan air tidak mencukupi. Pada saat ini diperkirakan terdapat lebih dari 2 milyar manusia per hari terkena dampak kekurangan air di lebih dari 40 negara didunia. Satu milyar orang yang tidak mendapatkan air yang memadai dan 2,4 milyar tidak mendapat sanitasi yang layak. Implikasinya jelas pada munculnya penyakit, kekurangan makanan, konflik kepentingan antara penggunaan dan keterbatasan air dalam aktivitas-aktivitas produksi dan kebutuhan sehari-hari.Gardner-Outlaw and Engelman (1997), memprediksi bahwa pada tahun 2050 setiap 1 dari 4 orang akan terkena dampak kekurangan air bersih. Ketersediaan air di Pulau Jawa sebesar 1.750 M/kapita/tahun, di bawah standar kecukupan minimal yaitu 2.000 M/kapita/ tahun. Jumlah ini diperkirakan akan semakin menurun hingga 1.200 M /kapita/ tahun pada 2020. Data dari LIPI menyebutkan, kebutuhan air untuk industri akan melonjak sebesar 700% pada 2025. Untuk perumahan naik rata-rata 65% dan untuk produksi pangan naik 100%. Pada tahun 2000, untuk berbagai keperluan di Pulau Jawa diperlukan setidaknya 83,378 miliar meter kubik air bersih. Sedangkan potensi ketersediaan air, baik air tanah maupun air permukaan hanya 30,569 miliar meter kubik. Ia mengingatkan, pada tahun 2015 krisis air di Pulau Jawa akan jauh lebih parah karena diperkirakan kebutuhan air akan melonjak menjadi 164,671 miliar meter kubik. Sedangkan potensi ketersediaannya cenderung menurun. Di daerah perkotaan seperti Jakarta saja, masih banyak warga yang belum mendapatkan fasilitas air bersih. Jakarta dialiri 13 sungai, terletak di dataran rendah dan berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Seiring dengan pertumbuhan penduduk Jakarta yang sangat pesat, berkisar hampir 9 juta jiwa, maka penyediaan air bersih menjadi permasalahan yang rumit. Dengan asumsi tingkat konsumsi maksimal 175 liter per orang, dibutuhkan 1,5 juta meter kubik air dalam satu hari. Neraca Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI Jakarta tahun 2003 menunjukkan, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) diperkirakan baru mampu menyuplai sekitar 52,13 persen kebutuhan air bersih untuk warga Jakarta.2.4 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kelangkaan Air 2.4.1 Konversi Lahan

Sudah menjadi alasan klasik bahwa meningkatnya jumlah penduduk di Indonesia khususnya Pulau Jawa menyebab-kan tekanan sosial ekonomi terhadap lahan pertanian, antara lain:a. Rata-rata 50.000 ha lahan pertanian teknis setiap tahun dikonversikan menjadi lahan non pertanian. Lahan pertanian kelas satu yang dikonversikan untuk penggunaan lahan non pertanian tersebut sangat sulit untuk dicari gantinya ditempat lain, karena lahan-lahan yang tersisa tinggal lahan marginal yang miskin. b. Untuk mengganti lahan subur 50.000 ha yang hilang diperlukan lahan marginal

250.000 ha agar produksi padi tidak berkurang.

c. Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) semakin meningkat dari tahun ke tahun, khususnya di Pulau Jawa. Perubahan pola penggunaan lahan dari lahan pertanian ke lahan non pertanian mengakibatkan berkurangnya area hutan, semakin intensifnya pemanfaatan lahan dan kurangnya usaha konservasi tanah dan

air,serta belum jelasnya arah dan implementasi pembangunan dalam mengatasi permasalahan sumberdaya air secara nasional. d. Adanya fragmentasi pengelolaan antarinstansi pemerintah dan sulitnya koordinasi. e. Pengelolaan sumberdaya air yang masih berorientasi pada sisi penyediaan. 2.4.2 Pencemaran Air

Saat ini pencemaran air sungai, danau dan air bawah tanah meningkat dengan pesat.

Sumber pencemaran yang sangat besar berasal dari manusia, dengan jumlah 2 milyar ton

sampah per hari, dan diikuti kemudian dengan sektor industri dan perstisida dan penyuburan

pada pertanian (Unesco, 2003). Sehingga memunculkan prediksi bahwa separuh dari populasi

di dunia akan mengalami pencemaran sumber-sumber perairan dan juga penyakit berkaitan

dengannya.

Hilman Masnellyarti, Deputi Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan

Pengendalian Kerusakan Lingkungan Kementerian Negara Lingkungan Hidup mengungkapkan bahwa kelangkaan air bersih disebabkan pula oleh pencemaran limbah di

sungai. Diperkirakan, 60 persen sungai di Indonesia, terutama di Sumatera, Jawa, Bali, dan

Sulawesi, tercemar berbagai limbah, mulai dari bahan organik hingga bakteri coliform dan

fecal coli penyebab diare.

Sungai-sungai di Pulau Jawa umumnya berada pada kondisi memprihatinkan akibat

pencemaran limbah industri dan limbah domestik. Padahal sebagian besar sungai itu merupakan sumber air bagi masyarakat, untuk keperluan mandi, cuci, serta sumber baku air

minum olahan (PAM). Di Jakarta misalnya, dari hasil penelitian oleh Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup2.5 Usaha Mengatasi Kelangkaan Air (Usaha Perbaikan)

Berikut merupakan usaha atau upaya mengatasi kelangkaan air bukan hanya di Pulau Jawa tetapi bisa dilaksanakan untuk ruang lingkup yang lebih besar misalnya untuk kelangkaan di Indonesia: 2.5.1 Pengaturan Kelembagaan Pengelolaan Air Permasalahan krisis air bukan sematamata fenomena alami, tetapi manusia melanggar carrying capacity cadangan dan potensi air tawar. Amdal kurang dijadikan acuan

dalam penggunaan sumberdaya alam. Apalagi sebagian besar kegiatan manusia cenderung menggunakan air permukaan sebagai sumber air baku, mengingat biaya pengelolaannya yang relatif murah dibandingkan pemanfaatan air tanah.Prinsip dan proses Pengelolaan Terpadu Sumber Daya Air IWRM (Integrated Water Resources Management) yang mencakup aspek kebijakan dan peraturan perundang-undangan, kelembagaan dan perangkat manajemen telah direkomendasikan para ahli SDA dalam World Water Forum (WWF) II dan WWF III sebagai pendekatan yang tepat dalam menghadapi tantangan dalam Pengelolaan SDA pada abad ke 21 yang diwarnai dengan peningkatan kebutuhan akan sumber daya air dan sumber daya alam lainnya, meningkatnya kompetisi penggunaan air yang dominan serta meningkatnya tuntutan masyarakat tentang reformasi institusi untuk pelaksanaan good governance. Adapun prinsip-prinsip dasarnya keterpaduan dalam IWRM mencakup dua komponen utama, yaitu :

1. Keterpaduan pada sistem alam (natural system).Keterpaduan sistem alam, mencakup enam aspek keterpaduan, yakni;

a. Keterpaduan berbagai kepentingan daerah hulu dan daerah hilir. b. Keterpaduan pengelolaan kualitas dan kuantitas. c. Keterpaduan pengelolaan air permukaan dan air bawah tanah. d. Keterpaduan penggunaan lahan dan pengelolaan siklus hidrologis. e. Keterpaduan pengelolaan green water dan blue water. f. Keterpaduan pengelolaan air tawar dengan daerah pantai.2. Keterpaduan sistem manusia mencakup sedikitnya tiga aspek keterpaduan :

a. Keterpaduan kebijakan nasional antar sektor b. Keterpaduan seluruh stakeholders dalam perencanaan dan pengambilan

keputusan c. Keterpaduan antara pengelolaan air dan air limbah. Adapun Kriteria utama keterpaduan, adalah ;

1. Efisiensi ekonomi berkaitan dengan kelangkaan air, terbatasnya pembiayaan,

dan pencemaran air;

2. Keadilan berkaitan dengan hak setiap orang untuk mempunyai akses dan memenuhi

kebutuhan akan air sebagai kebutuhan dasarnya3. Keberlanjutan (sustainability) lingkungan dan ekologi, sehingga tidak

Mengorbankan kepentingan generasi yang akan datang.2.5.2 Pengelolaan DAS Terpadu Kerusakan DAS terus meningkat dengan cepat. Jika pada tahun 1984 terdapat kerusakan 22 DAS kritis dan super kritis, tahun 1992 meningkat menjadi 29 DAS, 1994 menjadi 39 DAS, 1998 menjadi 42 DAS, 2000 menjadi 58 DAS dan tahun 2003 menjadi 62 DAS yang rusak super kritis dan kritis. Diperkirakan 13% dari 458 DAS di Indonesia dalam kondisi kritis saat ini. Berdasarkan citra satelit Landsat tahun 2000, luas lahan kritis dan kerusakan hutan di Indonesia mencapai 54,65 juta hektar yang terdiri dari 9,75 juta hektar hutan lindung, 3,9 juta hektar hutan konservasi dan 41 juta hektar hutan produksi. Sedangkan kerusakan lahan di luar kawasan hutan mencapai 41,69 juta hektar. Laju kerusakan hutan terus meningkat setiap tahunnya. Sebelum diberlakukannya otonomi daerah, yakni pada periode 1995 1997, laju kerusakan hutan mencapai 1,6 juta hektar per tahun, namun setelah reformasi dan otonomi daerah kerusakan lebih besar yaitu mencapai 2,3 juta hektar per tahun.

Pengelolaan DAS sudah dilakukan sejak tahun 1969 hingga sekarang, namun demikian kerusakan DAS terus meningkat. Salah satu faktor penyebab kegagalan adalah mekanisme yang top-down dan belum terpadunya pengelolaan DAS. Faktor eksternalitas dalam konservasi DAS selalu menimbulkan masalah karena tidak adanya azas keadilan. Masyarakat di hulu dituntut untuk mengkonservasi dan dibatasi pembangunnya, namun yang menikmati justru masyarakat di hilir. Belum adanya peraturan perundangan yang mengatus mekanisme insentif dari hilir ke hulu menyebabkan ketidakberhasilan di dalam pengelolaan DAS.

Upaya pengelolaan DAS terpadu pertama dilaksanakan di DAS Citandui pada

tahun 1981, dimana berbagai kegiatan lintas sektoral dan lintas disiplin dilakukan. Selanjutnya pengelolaan DAS terpadu dilakukan di DAS Brantas dan Jratunseluna. Kegiatan konservasi tanah untuk mencegah erosi dan banjir seluruhnya dibiayai oleh pemerintah. Konsep partisipasi mulai diterapkan tahun 1994, dalam penyelenggaraan Inpres penghijauan dan reboisasi, walaupun masih dalam taraf perencanaan.2.5.3 Pengaturan Jumlah dan Distribusi Penduduk

Untuk mengurangi beban tekanan penduduk terhadap Pulau Jawa perlu dilaksanakan program pengembangan ekonomi di luar Jawa untuk mendorong perpindahan penduduk ke luar Jawa. Program ini sangat penting selain dapat mengurangi beban Pulau Jawa terhadap tekanan penduduk juga akan mempercepat proses pembangunan di luar Jawa. Untuk menanggapi program ini, maka pembangunan infrastruktur dasar di KTI merupakan kebutuhan pokok yang harus dilakukan. Demikian juga pendistribusian penduduk di Pulau Jawa belum baik, masih

banyak kawasan yang sensitif terhadap erosi/longsor dan daerah tangkapan air hujan, seperti daerah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) penduduknya sangat padat, sehingga program penyebaran penduduk di Pulau Jawa juga perlu dilakukan untuk

menghindari tekanan penduduk bagi daerahdaerah yang dikonservasi.2.5.4 Rehabilitasi Hutan dan Lahan

Pembangunan infrastruktur transportasi terutama jalan, bandar udara, pelabuhan, dan lain-lain, diperkirakan sampai tahun 2025 akan menyebabkan

Pengurangan areal persawahan di Jawa sebesar 4%. Kecenderungan ini harus ditekan karena akan menyebabkan berkurangnya suplai beras di Indonesia. Produktivitas padi satu hektar sawah di Jawa berbanding dengan produksi 6 hektar sawah di Sumatera dan 8 hektar di Kalimantan.

Berkurangnya areal hutan dan alih fungsi lahan mengharuskan perlunya rehabilitasi hutan di hulu DAS kritis, terutama pada areal yang sensitif terhadap terjadinya aliran permukaan seperti di DAS Ciliwung, Cimanuk, Bengawan Solo,

Brantas, dan lain-lain. Demikian juga program penghijauan lahan masyarakat melalui Gerakan Rehabilitasi Lahan (Gerhan) perlu digalakan dengan memberikan insentif terhadap masyarakat berupa penyediaan bibit unggul dan cepat tumbuh.

2.5.5 Peningkatan Efisiensi Penggunaan AirAir yang jatuh ke permukaan tanah dan potensial menimbulkan banjir harus

diupayakan agar dapat meresap ke dalam tanah, oleh karena itu permukaan DAS harus maksimal menyerap air. Air hujan yang secara optimal meresap ke dalam tanah itu nantinya akan mengisi sumber- sumber air yang ada di danau, situ, sungai, dan waduk. Namun demikian penggundulan hutan yang semakin lama semakin ke arah hulu sungai membuat kemampuan DAS menyerap air berkurang. Jumlah air permukaan yang mengalir menjadi lebih banyak, dengan menggunakan istilah run off

coefficient, yaitu jumlah air yang mengalir dibanding jumlah air hujan yang turun

sehingga dapat berakibat menimbulkan kerusakan hutan. Menurut Roestam, untuk

daerah DAS berhutan, run-off coefficient mencapai 0,1-0,15, atau dari 100 mm air

hujan yang masuk ke badan air seperti sungai hanya 10 mm. Kemampuan penyerapan ini tergantung pada penggunaan tanah, kalau dilihat dari kacamata kebijakan tergantung rencana tata ruang. Penelitian agronomis dan inovasi teknis mutlak diperlukan untuk menanggulangi permasalahan ini. Dinas Pertanian perlu membuat semacam demplot percontohan budidaya padi yang efisien dalam penggunaan air di sejumlah desa. Hal ini perlu untuk membuka pemikiran petani bahwa pola tanam dengan pengairan sepanjang musim sebetulnya tidak efektif.

Menurut Michael Gorbachev, mantan Presiden Uni Sovyet dan penerima hadiah Nobel, sekitar 70% konsumsi air di dunia dipergunakan oleh sektor pertanian.

Menurunnya daya dukung sumberdaya air di Pulau Jawa harus diatasi dengan peningkatan efisiensi penggunaan air.Efisiensi dapat dilakukan melalui pemanfaatan ganda (multiple use) dan pengehematan pemakaian air. Pemanfaatan ganda dapat dilakukan melalui pembangunan waduk/ bendungan atau damdam sepanjang sungai. Beberapa sungai di Jawa belum dilengkapi dengan waduk, seperti Sungai Cimanuk, Ciliwung, Sungai Ciujung, Sungai Progo, dan lain-lain. Adanya waduk/bendung selain pemanfaatan air secara multi fungsi (PLTA, irigasi, dan air baku air bersih) juga menghindari terjadinya aliran air dari hulu ke hilir yang tanpa pemanfaatan dan juga menghindari terjadi banjir di wilayah hilir.

2.5.6 Pengaturan Ruang Melalui Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW)

Setiap Provinsi dan Kabupaten/Kota di Pulau Jawa harus menetapkan Rencana

Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang disesuaikan dengan potensi SDA dan pengurangan risiko bencana sesuai dengan Undang-undang Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Undang-undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Luas hutan di Pulau Jawa saat ini hanya 21%. Padahal

Untuk menunjang fungsi hidroorologis (pengendalian banjir, erosi, dan kekeringan),

diperlukan minimal 30% luasan wilayahnya berupa hutan atau ruang terbuka hijau.

Terkait dengan hal tersebut diatas maka bagi Provinsi/Kabupaten/Kota yang luas hutan/ ruang terbuka hijau belum mencapai 30% dalam penyusunan RTRW nya harus

disesuaikan dengan ketentuan diatas. Sesuai dengan UU 26/2007, provinsi paling lambat tahun 2009 dan kabupaten/kota tahun 2010 harus sudah mempunyai RTRW

yang ditetapkan melalui Peraturan Daerah (Perda).2.5.7 Kesepakatan Internasional

Dalam kesepakatan pembangunan yang berkelanjutan di Johanesburg 2002 dan Agenda 21 ada tiga pilar utama yang harus diperhatikan dalam melakukan pembangunan, yakni: pembangunan sosial, pertumbuhan ekonomi, dan perlindungan lingkungan. Tujuan utamanya adalah penghapusan kemiskinan dan pengubahan pola konsumsi dan produksi untuk melindungi keberlanjutan lingkungan. Sedangkan sasaran tahun 2005 adalah setiap negara termasuk Indonesia perlu menyepakati langkah tindakan pengelolaan sumberdaya air secara terintegrasi, efisien, dan mendorong penggunaan air secara sustainable serta memecahkan masalah kekurangan air di kawasannya, yang dilaksanakan melalui;

a. Pengembangan Daerah Aliran Sungai (DAS) secara terintegrasi.

b. Pengelolaan air tanah.c. Menerapkan usaha mengefisienkan penggunaan air.

d. Merangsang pendaur ulangan air,

e. Mengembangkan berbagai instrumen kebijakan yang mencakup; pengaturan, pemantauan, langkah sukarela, informasi, pengelolaan tataguna lahan dan ruang, perolehan biaya recovery, dan pendekatan daerah aliran sungai,

f. Menggali dan mengusahakan difusi teknologi dan pengembangan kapasitas untuk caracara inkonvensional dalam konservasi air,

g. Mengusahakan desalinasi air laut, daur ulang air, dan menuai air dari kabut pantai perlu diusahakan melalui kerjasama teknologi dan pendanaan antar negara,

h. Mengembangkan kemitraan publik-privat atau bentuk kemitraan lain yang sesuai,

dengan memprioritaskan air untuk penduduk miskin.

i. Meningkatkan pengelolaan sumberdaya air dan pemahaman daur air melalui; penelitian penelitian yang diperluas, dan pengkajian teknologi, antara lain remote sensing dan teknologi satelit.j. Mematok tahun 2003 sebagai Tahun Internasional untuk Air Bersih dan menggalakkan kerjasama nasional, regional, dan global untuk menyelamatkan dan mengembangkan sumberdaya air. Berkerkaitan dengan adanya kesepakatan-

kesepakatan internasional tersebut, diperlukan upaya pembaharuan pengelolaan sumberdaya air Indonesia.2.5.8 Penghematan SDA

Kelangkaan SDA memerlukan langkah penghematan dalam pemakaian SDA bukan hanya di Pulau Jawa tetapi setiap pemakaian harus melakukan penghematan. Pemilihan teknologi proses produksi harus mempertimbangkan kebutuhan air. Pada bagian ini agak sulit dilakukan karena pemilihan teknologi sangat tergantung pada pengguna, kecuali ada insentif dari penggunaannya.2.5.9 Pemantauan SDA Teknologi pemantaua SDA diperlukan, untuk identifikasi kelebihan air dan

kekurangan air. Kelebihan SDA dapat menimbulkan banjir atau luapan atau genangan pada suatu wilayah. Teknologi pemantauan dapat berupa teknologi radar cuaca atau menggunakan sistem monitoring konvensional dengan sistem radio atau satelit

Pemakaian teknologi monitoring digunakan untuk mitigasi dan adaptasi bencana.

Pada musim kering, teknologi pemantauan radar lebih efektif digunakan karena dapat mendeteksi keberadaan awan pada suatu wilayah. Informasi ini diperlukan untuk membantu mengambil keputusan dalam menentukan lokasi hujan buatan pada suatu wilayah. Teknologi monitoring air tanah yang ada saat ini hanya mengukur penurunan tinggi permukaan air tanah. Saat ini air tanah masih banyak digunakan diperkotaan, namun perlindungan sumberdaya air tanah belum optimal, sehingga terjadi cone depresion pada beberapa wilayah yang mempunyai kecenderungan makin parah dari

tahun ke tahun. Oleh karena itu perlu dikembangkan sistem monitoring yang dilengkapi dengan alert system dengan mempertimbangkan tinggi muka air tanah yang aman untuk suatu wilayah.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan1. Daya dukung sumberdaya air di Pulau Jawa mengalami penurunan karena terus

meningkatnya angka pertumbuhan penduduk serta pembangunan ekonomi yang

hanya mencapai sisi target fisik dan ekonomis tanpa memperhatikan penurunan

potensi lingkungan.2. Penurunan daya dukung sumberdaya air di Pulau Jawa harus segera diatasi, apabila

dibiarkan kondisi ini akan menimbulkan problem yang serius karena Pulau Jawa selain berpenduduk terbesar di Indonesia tetpai juga merupakan pusat aktivitas

ekonomi di Indonesia.

3. Dalam mengatasi permasalahan menurunnya daya dukung sumberdaya air di Pulau

Jawa, upaya yang perlu dilakukan antara lain adalah : (a) Pengaturan kelembagaan

pengelolaan air, (b) Pengelolaan DAS terpadu, (c) Pengaturan jumlah dan distribusi

penduduk, (d) Rehabilitasi hutan dan lahan, (e) Peningkatan efisiensi penggunaan air dan pencegahan pencemaran air, (e) Pengaturan tata ruang wilayah dengan

menetapkan 30% wilayahnya harus berupa hutan atau ruang terbuka hijau,

dan, (f) Kesepakatan Internasional, (g) Penghematan SDA, (h) Pemantauan SDA.Indonesia harus berupaya menempatkan reformasi dalam kerangka keterpaduan pengelolaan sumberdaya air bukan hanya untuk Pulau Jawa tetapi untuk semua wilayah di Indonesia. Dalam Pengelolaan Sumber Daya Air diperlukan teknologi untuk mempercepat

proses, meningkatkan akurasi dalam pengelolaan, mempermudah dalam pengambilan keputusan untuk melakukan adaptasi bencana.