lecture note hukum bisnis

Click here to load reader

Post on 13-Aug-2015

86 views

Category:

Documents

5 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

PENGANTAR HUKUM BISNISPENDAHULUAN Sudah merupakan kodrat bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri, harus hidup bersama dalam suatu masyarakat yang terorganisasi untuk mencapai tujuan bersama. Agar tujuan dimaksud tercapai sebagaimana mestinya dan tidak terjadi perbenturan kepentingan, maka diperlukan norma/kaidah sosial yang mengatur. Norma/kaidah sosial adalah suatu pedoman atau peraturan hidup yang menentukan bagaimana manusia harus bertingkah laku dalam masyarakat agar tidak merugikan orang lain. Norma/kaidah sosial ini dapat dikelompokkan menjadi dua bentuk yaitu : 1. Norma/kaidah sosial kehidupan pribadi, yang bersangkutan dengan aspek dimana yang termasuk dalam kelompok ini

adalah norma agama dan norma kesusilaan. 2. Norma/kaidah sosial yang bersangkutan dengan aspek kehidupan antar pribadi dimana yang termasuk dalam kelompok ini adalah norma sopan santun dan norma hukum. Dengan demikian, terdapat 4 (empat) tersebut secara ringkas adalah1

norma/kaidah yang mengatur

kepentingan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Keempat norma 1. Kaidah Agama/Kepercayaan. Kaidah ini ditujukan terhadap kewajiban manusia kepada Tuhan, yang bersumber dari ajaran agama, dan yang melanggar kaidah agama diancam dengan sanksi.

2. Kaidah Kesusilaan.1

Peter Mahmud Marzuki, Pengantar Ilmu Hukum, Kencana Predana Media Group, Jakarta, 2008, hal 85.

Kaidah kesusilaan ditujukan kepada manusia agar terbentuk kebaikan akhlak pribadi guna penyempurnaan manusia dan manusia dilarang melakukan perbuatan jahat, sumbernya adalah dari manusia itu sendiri dan cenderung lepada sikap batiniah. 3. Kaidah Sopan Santun. Kaidah sopan santun didasarkan atas kebiasaan, kepatutan atau kepantasan yang berlaku dalam masyarakat. Kaidah ini ditujukan kepada sikap lahir pelakunya yang konkrit demi ketertiban masyarakat. Kaidah sopan santun membebani manusia dengan kewajiban. 4. Kaidah Hukum. Kaidah hukum ditujukan kepada pelaku yang konkrit yakni pelaku pelanggaran yang nyata-nyata berbuat, bukan untuk penyempurnaan manusia ditujukan kepada kewajiban tetapi untuk kepentingan masyarakat. Isi kaidah hukum kepada manusia dan juga memberikan hak. Meskipun kaidah agama/kepercayaan, kaidah kesusilaan dan kaidah sopan santun sudah ada, kaidah hukum (selanjutnya disebut hukum) masih diperlukan oleh masyarakat guna mengatur segala kepentingan, baik yang sudah atau yang belum diatur oleh ketiga norma kaidah lainnya. Hal ini disebabkan karena : 1. Masih banyak kepentingan manusia yang belum diatur oleh ketiga norma selain norma hukum. 2. Sanksi yang diberikan oleh ketiga norma/kaidah selain norma hukum dirasakan tidak begitu memberatkan, dan untuk norma agama sanksi akan diterima setelah manusia meninggal.

sikap lahiriah manusia, bukan sikap batiniah, dan membebani

PENGERTIAN HUKUM, BISNIS DAN HUKUM BISNIS

1. H U K U M Untuk membuat definisi yang tepat mengenai hukum tidaklah mudah karena sedemikian luas cakupan dan/atau ruang lingkupnya. Banyak ahli hukum telah memberikan definisi tentang hukum, namun definisinya tergantung dari sudut mana mereka melihatnya. Sebagai pegangan berikut beberapa definisi hukum : a. Menurut Utrecht, hukum adalah himpunan peraturan (perintahperintah dan larangan-larangan) b. Menurut Meyers, semua aturan yang pengurus tata tertib suatu yang mengandung pertimbangan masyarakat dan oleh karena itu harus ditaati oleh masyarakat; kesusilaan, ditujukan kepada tingkah laku manusia dalam masyarakat yang menjadi pedoman bagi penguasa negara dalam melakukan tugasnya; c. Menurut SM. Amin, kumpulan peraturan yang terdiri dari norma dan sanksi-sanksi, dan tujuan hukum adalah mengadakan ketertiban dalam pergaulan manusia sehingga keamanan dan ketertiban terpelihara. d. Soerjono Soekanto dan Purnadi Purbacaraka dengan menjelaskan pengertian yang diberikan oleh masyarakat terhadap hukum, hukum diartikan sebagai : 1) ilmu pengetahuan 2) suatu disiplin 3) kaidah 4) tata hukum 5) petugas (law enforcement) 6) keputusan penguasa 7) proses pemerintahan dan 8) nilai-nilai. Dari berbagai pendapat diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa hukum itu meliputi beberapa unsur, yaitu :

1. Peraturan tingkah laku 2. Diadakan oleh badan resmi 3. Bersifat memaksa 4. Adanya sanksi yang tegas 2. E K O N O M I Para pakar ekonomi juga sudah banyak memberikan definisi tentang ekonomi tetapi belum ada pengertian yang sama tetang arti ekonomi tersebut. Menurut M. Manulang sebagaimana yang dikutip oleh Elsi Kartika Sari dan Advendi Simangunsong2 mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ilmu ekonomi adalah suatu ilmu yang mempelajari masyarakat dalam usahanya untuk mencapai kemakmuran. Kemakmuran adalah suatu keadaan dimana manusia dapat memenuhi kebutuhannya, baik barang-barang maupun jasa. Selanjutnya menurut Rachmad Soemitro3 yang dimaksud dengan hukum ekonomi adalah sebagian dari keseluruhan norma yang dibuat oleh pemerintah atau penguasa sebagai suatu personifikasi dari masyarakat yang mengatur kehidupan kepentingan ekonomi masyarakat yang saling berhadapan. Dengan demikian dapat diketahui bahwa hukum ekonomi tidak dapat diaplikasikan sebagai suatu bagian dari salahsatu cabang ilmu hukum, melainkan merupakan kajian secara interdisipliner dan multidimensional. Hukum ekonomi lahir disebabkan karena semakin pesatnya pertumbuhan dan perkembangan ekonomi nasional maupun internasional. Seluruh Negara di dunia ini menjadikan hukum sebagai alat untuk mengatur dan membatasi kegiatan ekonomi dengan tujuan agar perkembangan perekonomian tidak merugikan hak-hak dan kepentingan masyarakat. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa hukum itu tidak hanya berupa pengaturan terhadap aktivitas ekonomi, tetapi juga bagaimana pengaruh ekonomi terhadap hukum.4

2

Elsi Kartika Sari & Avendi Simangunsong, Hukum Dalam Ekonomi, PT Gramedia Widiasarana, Jakarta, 2007, hal. 4. 3 Ibid, hal. 5 4 Abdul Manan, Aspek Hukum dalam Penyelenggaraan Investasi di Pasar Modal Syariah Indonesia, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2009, hal. 6.

Hubungan hukum dengan ekonomi

bukan hubungan satu arah, tetapi

hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi. Kegiatan ekonomi yang tidak didukung oleh hukum akan mengakibatkan terjadi kekacauan, sebab apabila para pelaku ekonomi dalam mengejar keuntungan tidak dilandasi dengan norma hukum, maka akan menimbulkan kerugian salah satu pihak dalam melakukan kegiatan ekonomi. Terdapat ahli hukum yang mengatakan bahwa hukum selalu berada dibelakang kegiatan ekonomi, setiap kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh seseorang pasti kegiatan itu diikuti oleh norma hukum yang menjadi rambu pelaksanaannya. Hukum yang mengikuti kegiatan ekonomi ini merupakan seperangkat norma yang mengatur hubungan kegiatan ekonomi dan ini selalu dipengaruhi oleh system ekonomi yang dianut oleh suatu negara. Untuk Indonesia dasar kegiatan hukum ekonomi terletak pada Pasal 33 UUD 1945 dan beberapa peraturan deviratif lainnya. Hukum dan ekonomi ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan dan saling melengkapi. Di Negara maju, sebelum produk ekonomi diterjunkan ke pasar bebas terlebih dahulu dibuat aturan hukum untuk melindungi produk ekonomi oleh masyarakat. Misalnya, dalam bidang produk handphone, masyarakat dilarang keras menggunakan handphone ditempat umum yang memerlukan ketenangan, seperti di perpustakaan, di rumah sakit, di tempat ibadah, dan juga dilarang menggunakan handphone dikala menyetir mobil kecuali dengan memasang alat tambahan yang dipasang di mobil sehingga tidak mengganggu ketika mengendarai mobil. Apabila larangan ini dilanggar, maka pelaku dihukum dengan hukuman berat. Di Indonesia hal ini belum dilakukan karena masih banyak produk ekonomi telah diluncurkan tetapi hukum belum dibuat menyertai produk ekonomi dimaksud. Orang bebas menggunakan handphone semaunya, disembarang tempat dan situasi. Demikian juga dengan produk ekonomi lain, seperti computer dan penggunaan alat-alat elektronik dalam bidang ekonomi. Sebagian besar produk tersebut belum ada hukum yang mengaturnya guna menuju kepada ketertiban dan kedamaian.

Era globalisasi yang melanda dunia saat ini telah membuat pergaulan masyarakat dunia semakin terbuka, batas-batas Negara dalam pengertian ekonomi dan hukum semakin erat. Kedua hal ini selalu berjalan secara bersamaan. Oleh karena itu, segala hal yang berhubungan dengan kegiatan ekonomi yang telah dibahas dalam GATT, WTO dan lembaga ekonomi internasional lainnya harus menjadi pertimbangan serius dalam membangun hukum ekonomi Indonesia. Hal ini penting karena prinsip management across berbeda saat ini tidak bisa dibendung lagi dan bergerak terus kearah satu pemahaman bagaimana meratakan ekonomi dunia. Negara-negara yang mengasingkan diri dari pergaulan ekonomi dunia, tidak meratifikasi hukum ekonomi internasional menjadi hukum ekonomi nasional, maka Negara tersebut akan ketinggalan zaman. 3. B I S N I S Bisnis seringkali diekspresikan sebagai suatu urusan atau kegiatan dagang. Kata Bisnis diambil dari bahasa Inggeris Business yang berarti kegiatan usaha. Secara luas kata bisnis sering diartikan sebagai keseluruhan kegiatan usaha yang dijalankan oleh orang atau badan secara teratur dan terus menerus, yaitu berupa kegiatan mengadakan barang atau jasa maupun fasilitas untuk diperjual belikan, dipertukarkan, atau disewa gunakan dengan tujuan mendapatkan keuntungan. Secara garis besar, kegiatan bisnis dapat dikelompokkan atas 5 (lima) bidang usaha yaitu5 : a. Bidang Industri b. Bidang Perdagangan c. Bidang Jasa d. Bidang Agraris e. Bidang Ekstraktif Selanjutnya kegiatan bisnis yang terjadi dalam masyarakat sangat luas sekali yang meliputi bidang-bidang usaha sperti, pertanian, perhotelan,5

Richard Burton Simatupang, Aspek Hukum dalam Bisnis, Rineka Cipta, Jakarta, 2003, hal. 1

peternakan, kecantikan, pergudangan, sebagainya.

perikanan,

pariwisata,

kehutanan,

kesehatan,

perkebunan, pendidikan, dan