kasus ford&firestone

Download Kasus Ford&Firestone

Post on 05-Jul-2015

522 views

Category:

Documents

11 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Modul 10 Konsep Etika dalam Fungsi Produksi

Selain harus menjamin keamanan produk, bisnis mempunyai kewajiban lain lagi terhadap konsumen. Disini kita akan menyoroti tiga kewajiban moral lain yang masing-masing berkaitan dengan kualitas produk, harganya, dan pemberian label serta pengemasan (labeling and packaging). 1. Kualitas produk Dengan kualits produk di sini dimaksudkan bahwa produk sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh produsen (melalui iklan atau informasi lainnya) dan apa yang secara wajar boleh diharapkan oleh konsumen. Konsumen berhak atas produk yang berkualitas, karena ia membayar untuk itu. Dan bisnis berkewajiban untuk menyampaikan produk yang berkualitas, misalnya produk yang tidak kadaluarsa (bila ada batas waktu seperti obat-obatan atau makanan). Salah satu cara yang biasanya ditempuh untuk menjamin kualitas produk adalah memberikan garansi. Kita bisa membedakan dua macam garansi : eksplisit dan implisit. Garansi bersifat eksplisit, kalau terjamin begitu saja dalam keterangan yang menyertai produk. Contohnya adalah kasus Pendinginan bergaransi. Garansi eksplisit menyangkut ciri-ciri produk, masa pemakaian, kemampuannya, dan sebagainya. Bila produk rusak dalam jangka waktu tertentu, si penjual melibatkan diri untuk memperbaikinya atau menggantikannya dengan produk baru. Garansi bersifat implisit, kalau secara wajar bisa diandaikan, sekalipun tidak dirumuskan dengan terang-terangan. Hal itu terjadi, bila dalam iklan dikatakan bahwa pisau atau perabot rumah tangga lain bebas karat, saya berhak mendapat pisau baru atau uang dikembalikan, kalau pisau yang saya beli pada kenyataannya berkarat. Atau jika saya membeli sepeda, ciri itu termasuk hakikat produk. Jika sepeda yang saya beli tidak mempunyai ciri itu, saya berhak dapat menggantikannya dengan sepeda baru atau uang dikembalikan. Sebuah contoh bagus tentang garansi implisit adalah instant camera dari Kodak di Amerika Serikat. Karena Polaroid meraras memiliki paten atas sistem kamera itu, mereka mengajukan Kodak ke pengadilan dan menang. Kodak dihukum untuk menarik kamera itu dari pasaran. Tetapi serentak juga Kodak

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dra. H. Popon Herawati, M.Si.

ETIKA BISNIS

1

dihukum untuk menarik kamera tersebut, sebab mereka tidak lagi dapat memperoleh film. Pembeli-pembeli itu dulu secara implisit boleh mengandaikan bahwa film akan tersedia untuk kameranya. Jika hal itu dengan mendadak tidak mungkin lagi, mereka boleh mengharapkan kompensasi dalam bentuk kamera tipe lain atau uang dikembalikan. Akhirnya boleh dicatat lagi bahwa kualitas produk tidak saja merupakan suatu tuntutan etis melainkan juga suatu syarat untuk mencapai sukses dalam bisnis. Sebagaimana sering terjadi, disinipun etika sejalan dengan bisnis yang baik. Salah satu contoh dapat diambil dari riwayat perusahaan Amerika, Xerox, perintis dalam industri mesin fotokopi. Pada tahun 1980-an Xerox mendapat persaingan keras dari beberapa merk mesin fotokopi Jepang, hingga pangsa pasar mereka anjlok dari 86 persen pada tahun 1974 menjadi 16,6 persen pada tahun 1984. Xerox mulai mawas diri dan melalui sebuah penelitian mendalam sampai pada kesimpulan bahwa sebabnya ialah kekalahan dalam kualitas. Pimpinan Xerox mulai melontarkan program ketat untuk meningkatkan kualitas. Dalam waktu agak singkat mereka bisa mencapai angka 38 persen untuk kepuasan pelanggan. Dan akhirnya xerox berhasil memimpin lagi pasaran mesin fotokopi dengan harga terjangkau di Amerika Serikat. David Kerns, pimpinan Xerox, menjelaskan:Pada Xerox kami memahami harapan pelanggan. Itulah aksioma yang seumur dengan bisnis itu sendiri. Namun demikian, di Amerika banyak perusahaan melupakan hal itu. Xerox adalah salah satu di antara mereka. Tetapi dengan memfokuskan lagi pada kualitas, kami telah mengubah keadaan itu. Pada tahun 1989 Presiden George Bush menyerahkan kepada divisi mesin fotokopi dari Xerox satu dari dua penghargaan yang disebut Malcolm Baldrige National Quality Award yang diadakan atas prakarsa Kongres Amerika untuk menghargai perusahaan Amerika. 2. Harga Harga yang adil merupakan sebuah topik etika yang sudah tua. Dalam zaman Yunani kuno, masalah etis ini sudah dibicarakan dengan cukup mendalam oleh Aristoteles dan pemikirannya dalam hal ini diteruskan selama Abad Pertengahan. Dalam zaman modern, struktur ekonomi tentu menjadi jauh lebih kompleks. Karena itu masalah harga pun menjadi suatu kenyataan ekonomis sangat kompleks yang ditentukan oleh banyak faktor sekaligus, namun masalah ini tetap diakui mempunyai implikasi etis yang penting. Karena

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dra. H. Popon Herawati, M.Si.

ETIKA BISNIS

2

kompleksitasnya, tidak bisa diharapkan implikasi-implikasi etis itu disini akan dibicarakan dengan tuntas. Kita harus membatasi diri pada beberapa catatan saja. Harga merupakan buah hasil perhitungan faktor-faktor seperti biaya produksi, biaya investasi, promosi, pajak, ditambah tentu laba wajar. Dalam sistem ekonomi pasar bebas, sepintas lalu rupanya harga yang adil adalah hasil akhir dari perkembangan daya-daya pasar. Kesan spontan adalah bahwa harga yang dihasilkan oleh tawar-menawar sebagaimana dilakukan di pasar tradisional, di mana si pembeli sampai pada maksimum harga yang mau ia bayar dan si penjual sampai pada minimum itu bertemu. Dalam hal ini mereka tentu dipengaruhi oleh para pembeli dan penjual lain menawarkan barangnya dengan harga lebih murah, tentu saja para pembeli akan pindah ke tempat itu. Harga bisa dianggap adil karena disetujui oleh semua pihak yang terlibat dalam proses pembentukannya. Pengaruh pasar memang merupakan prinsip etis yang penting dalam menentukan harga. Akan tetapi, tidak bisa diakatakan bahwa pasar merupakan satu-satunya prinsip untuk menetapkan harga yang adil, sebagaimana dipikirkan oleh liberalisme (Adam Smith dan pengikutnya). Agar menjadi adil, harga tidak boleh merupakan buah hasil mekanisme pasar secara murni. Ada beberapa alasan mengapa prinsip pasar tidak cukup. Pertama, pasar praktis tidak pernah sempurna. Misalnya, dalam situasi modern di mana kuasa ekonomis sering berkonsentrasi dalam tangan beberapa pengusaha, mudah terjadi produsen memberi kesan menentukan harga sesuai dengan permintaan pasar, sedangkan pada kenyataannya mereka berkolusi untuk secara sepihak menetapkan harga yang menguntungkan bagi mereka. Kedua, disini juga para konsumen seringkali dalam posisi lemah untuk membandingkan harga serta menganalisis semua faktor yang turut mentukan harga. Misalnya, bisa terjadi si pembeli mengira bahwa produk lebih mahal merupakan produk lebih berkualitas pula, sedangkan pada kenyataannya kualitas kedua produk itu sama. Ketiga, alasan terpenting adalah bahwa cara menentukan harga menurut mekanisme pasar saja bisa mengakibatkan fluktuasi harga terlalu besar. Bisa terjadi, pada suatu saat si konsumen dapat membeli produknya dengan harga murah, tatapi dalam waktu singkat barangkali ia harus membeli produk yang sama dengan harga sangat mahal. Fluktuasi harga terlalu besar akan merugikan baik konsumen maupun produsen, karena bagi konsumen kebutuhan hidup terancam tidak terpenuhi dan

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dra. H. Popon Herawati, M.Si.

ETIKA BISNIS

3

bagi produsen kesinambungan bisnis dibahayakan. Petani atau produsen dari produk industri bisa bangkrut, karena tiba-tiba mengalami defisit akibat harga terlalu rendah. Khusus untuk sektor seperti pertanian stabilitas harga sangat terlalu rendah. Khusus untuk sektor seperti pertanian stabilitas harga sangat mendesak, karena produk-produknya biasanya cepat busuk, sehingga tidak bisa disimpan lama. Karena itu stabilitas harga perlu diakui juga sebagai prinsip untuk menentukan adil tidaknya harga. Dalam situasi modern, harga yang adil terutama merupakan hasil dari penerapan dua prinsip tersebut : pengaruh pasar dan stabilitas harga. Secara khusus menjadi tugas pemerintah untuk mencari keseimbangan antara harga pasar bebas dan perlunya stabilitas. Yang jelas ialah bahwa kompetisi bebas dalam hal harga dengan demikian cukup dibatasi. Tetapi sulit untuk ditentukan bagaimana konkretnya harga yang adil. Untuk dapat menemukan sebuah kompas moral di bidang ini, paling-paling dapat ditunjukkan kepada pikiran fundamental dari etikawan Immanuel Kant bahwa manusia selalu harus dihormati sebagai suatu tujuan sendiri dan tidak pernah boleh diperlakukan sebagai sarana belaka. Dalam konteks harga, hal itu berarti bahwa para pembeli harus dihormati sebagai manusia dan tidak boleh diperlakukan sebagai sapi perah yang dapat dipermainkan seenaknya. Tujuan ini lebih mudah tercapai, bila proses pembentukan harga sedapat mungkin berlangsung dalam suasana terbuka. Seperti sering terjadi dalam etika, di sini pun tuntutan etis lebih mudah didekati dari segi negatif (apa yang tidak boleh dilakukan) daripada segi positif (apa yang seharusnya dilakukan). Jika terasa sulit untuk dipastikan apa yang harus dimengerti dengan harga yang adil, kita bisa berusaha untuk menentukan dalam hal mana harga pasti dapat dianggap tidak adil. Bersama Garret dan Klonoski kita dapat mengatakan bahwa harga menjadi tidak adil setidak-tidaknya karena empat faktor berikut ini : penipuan, ketidaktahuan, penyalahgunaan kuasa, manipulasi emosi. Mari kita memandang empat faktor ini dengan lebih rinci. Penipuan terjadi bila beberapa produsen atau distributor bekolusi untuk menentukan harga (conspiratorial price fixing). Perilaku bisnis ini bertentangan dengan etika pasar bebas (bagi kita prinsip pertama : pengaruh pasar). Biasanya penipuan macam itu akan dilakukan dengan maksud mencari untung yang tidak wajar. Tetapi, bahkan bila dilakukan dengan maksud baik (misalnya: melindungi pengusaha kecil), praktek itu harus dianggap kurang etis. Sifat kurang etis ini

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Dra. H. Popon Herawati, M.Si.

ETIKA BISNIS

4

tidak disebabkan karena t

Recommended

View more >