bunga rampai romawi - fkm.ui.ac.id ?· faktor lingkungan dan penanganan masalah ... lingkungan...

Download Bunga Rampai Romawi - fkm.ui.ac.id ?· faktor lingkungan dan penanganan masalah ... lingkungan Ford…

Post on 30-Apr-2019

217 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

i

Upaya PenyadaranUpaya PenyadaranGender,

Kesehatan danKesehatan danLingkungan

Bunga RampaiBunga Rampai

PenyuntingBUDI UTOMO

Jakarta, 2009

Pusat Penelitian KesehatanUniversitas Indonesia

ii Bunga Rampai Upaya Penyadaran Gender, Kesehatan dan Lingkungan

JudulBunga RampaiUpaya Penyadaran Gender, Kesehatandan Lingkungan

Penyunting:Budi Utomo

Lay out dan Cover:Martopo Waluyono

Fotografi:Luluk Ishardini

Pertama kali diterbitkan di Jakartapada tahun 2009 olehPusat Penelitian KesehatanUniversitas IndonesiaGedung G. Ruang 211Fakultas Kesehatan MasyarakatKampus Baru UI, DepokJawa Barat 16424Telp. (021) 727 0154, Fax. (021) 727 0153E-mail: chrui@ui.edu

Hak cipta dilindungi. Semua isi buku ini dilarangdiproduksi ulang, disimpan dalam retrievalsystem, atau dikirimkan dalam bentuk atau alatapapun, elektronik, mekanis, fotokopi, rekaman,atau yang lain tanpa izin terlebih dahulu dariPusat Penelitian Kesehatan UI.

2009 Pusat Penelitian Kesehatan UI

ISBN: 978-979-8232-30-5

Terbitan Oktober 2009Cetak di Indonesia

iii

G-help

G-help (Gender Health Environmental Linkages Program) yangdimulai sejak Juni 2006 merupakan suatu wahana kolaborasitukar pikir dan pengalaman organisasi-organisasi yang pedulidengan masalah gender, kesehatan dan lingkungan. Program yangdikoordinasi oleh Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia(PPK UI) dan mendapatkan bantuan dana dari Ford Foundation inimelibatkan mitra 7 Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerakdi bidang seksualitas dan kesehatan reproduksi dan 7 LSM lain yangbergerak di bidang lingkungan dan pembangunan masyarakat. Padaperkembangan lanjut program ini yang melibatkan juga organisasi laindengan kepedulian yang sama merupakan bagian dari upayameningkatkan akses dan meluaskan cakupan pelayanan kesehatanreproduksi; menjamin hak-hak sumberdaya, keadilan dan penghidupanbagi komunitas terpinggirkan dan yang bergantung pada sumberdayaalam. Lebih spesifik, program bertujuan menjembatani hubungandinamis antara masalah gender, kesehatan dan lingkungan dalam rangkamempercepat pencapaian pengurangan kemiskinan di Indonesia.Program diharapkan berkontribusi terhadap program pembangunanberkelanjutan dengan proses terukur dalam mencapai masyarakat yangsehat dan produktif di lingkungan sehat.

G - h e l p

iv Bunga Rampai Upaya Penyadaran Gender, Kesehatan dan Lingkungan

MITRA KERJA

YDA (Yayasan Duta Awam), Yayasan Fatayat NU, YHS (YayasanHotline Surabaya), HuMa (Perkumpulan Untuk Pembaharuan HukumBerbasis Masyarakat dan Ekologis), JAVLEC (Java Learning Center),KONPHALINDO (Konsorsium Nasional Untuk Pelestarian Hutan danAlam Indonesia), Yayasan KONSEPSI (Konsorsium Untuk Studi danPengembangan Partisipasi), Yayasan Rahima, Yayasan Rifka Annisa,GEF-SGP (Global Environment Facility-Small Grants Programme),Yayasan Talenta, KKI WARSI (Komunitas Konservasi IndonesiaWarung Informasi Konservasi), YMA (Yayasan Mitra Aksi), dan YMTR(Yayasan Masyarakat Tertinggal Riau).

Tim G-help

Budi UtomoPurwa Kurnia Sucahya

Dini DachliaDian Sidik Arsyad

Luluk IshardiniDwiastuti Yunita Saputri

Nurul Huriah AstutiLinda Widiyanti

Muhammad Arafat Patria

vK a t a P e n g a n t a r

Kata Pengantar

Masalah gender, keterpurukan kesehatan dan kerusakanlingkungan saling mempengaruhi, tetapi penangananterhadap masalah-masalah ini sering masih berjalan sendiri-sendiri. Penanganan masalah kesehatan sering kurang memperhatikanfaktor lingkungan dan penanganan masalah lingkungan seringmengabaikan aspek kesehatan. Demikian pula masalah gender baiksebagai penyebab maupun sebagai konsekuensi masalah kesehatan danmasalah lingkungan belum terakomodasi optimal dalam programpembangunan kesehatan dan lingkungan.

Dengan latar-belakang di atas, G-help (Gender, Health andEnvironmental Linkages Program) yang dibentuk tahun 2006 telahmemberikan fasilitasi kepada berbagai organisasi kemasyarakatan pedulikesehatan atau lingkungan untuk memasukkan wacana salingketerkaitan antara gender, kesehatan dan lingkungan dalammengembangkan dan melaksanakan program-program mereka. Sebagairefleksi pengaruh dan dampak fasilitasi tersebut, berikut disampaikansekumpulan tulisan yang disiapkan oleh teman-teman dari organisasikemasyarakatan dalam wahana G-help. Tulisan-tulisan ini mengangkatmasalah ketidakadilan gender, keterpurukan kesehatan, dan/ ataukerusakan lingkungan, pengalaman dalam mengatasi masalah tersebut,dan kemudian bagaimana wacana saling keterkaitan gender, kesehatandan lingkungan dimasukkan dalam pendekatan program-programmereka.

Ani Purwati dari Konphalindo berargumen betapa pentingpemenuhan hak perempuan atas informasi lingkungan berkelanjutan.Dibanding laki-laki, perempuan karena peran sosial mereka lebih pekaterhadap masalah lingkungan dan lebih rentan terhadap dampak

vi Bunga Rampai Upaya Penyadaran Gender, Kesehatan dan Lingkungan

kesehatan dan sosial kerusakan lingkungan. Pemenuhan hak tersebutakan membuat perempuan lebih memahami peran mereka dan lebihberdaya mengoptimasi peran mereka dalam penyelamatan lingkungan.

Keterlibatan di wahana G-help membuat Farida Hanum dariYayasan Hotline Surabaya semakin yakin mengenai pentingnyameningkatkan kemampuan menggunakan data dalam mengembangkandan mengelola suatu program pembangunan, termasuk kesehatan.Dengan data, monitoring kemajuan dan evaluasi pencapaian programmereka dalam memberdayakan masyarakat di Desa Licin, KabupatenBanyuwangi, menjadi lebih mudah dan lebih terukur.

Lenni Herawati dari Rifka Annisa Yogyakarta melaporkanpengalaman mereka bahwa efektivitas program peningkatan kesadarangender akan meningkat apabila isu gender dan kekerasan terhadapperempuan dikaitkan langsung dengan isu yang lebih luas yang lebihmudah diterima masyarakat. Mengangkat isu kesehatan atau isulingkungan lebih mudah diterima masyarakat ketimbang isu perempuan.

Dalam upaya pemberdayaan perempuan miskin di desa kawasanhutan, Moh. Taqiuddin dari KONSEPSI Nusa Tenggara Baratmenyampaikan bahwa merubah tatanan sosial budaya untuk keadilangender tidak mudah. Perlu waktu, tenaga dan pikiran yang tak sedikit,dari meluruskan pola pikir laki-laki untuk tidak menganggap remehperempuan, hingga membangkitkan percaya diri perempuan itu sendiri.

Sebagai respon terhadap kenyataan masalah ketidakadilan genderdi desa-desa pinggir hutan di DI Yogyakarta, Fachrudin Rijadi dariJavlec melaporkan bahwa kebijakan Javlec saat ini mensyaratkankesetaraan gender dalam program kerja sama dengan mitra. Tindakanini dianggap sebagai bentuk penerapan wacana saling keterkaitangender, kesehatan dan lingkungan.

Ulfa HM dari Yayasan Mitra Aksi di Jambi menceritakanpengalaman mereka tentang upaya pemberdayaan perempuan dalamperbaikan kesehatan reproduksi. Mereka semakin yakin bahwa

vii

penanganan masalah kesehatan reproduksi perlu memperhatikan pulamasalah terkait lain, termasuk lingkungan dan sosial-budayamasayarakat.

Haleluya Giri Rahmasih dari Yayasan Duta Awam di Solo yangbergerak dalam pemberdayaan petani menyampaikan realitaspeminggiran perempuan petani dalam pembangunan sektor pertaniandi pedesaan. Walaupun bukan lembaga yang khusus menanganiperempuan, kini YDA Solo berupaya melibatkan perempuan pada setiapaktivitas program.

Menurut Nur Achmad dari Rahima di Jakarta, salah satu faktorpelestari ketidakadilan, kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuanadalah pemahaman agama yang bias. Agama masih sering dipahamidengan mengabaikan prinsip dasar kehadiran agama, seperti prinsipkesederajatan manusia, keadilan, musyawarah, kemaslahatan, danpembelaan terhadap mereka yang dilemahkan. Menyikapi ini, Rahimatelah berijtihad untuk menguatkan hak-hak perempuan dan berupayamembangun kehidupan yang adil dan ramah bagi laki-laki danperempuan melalui berbagai langkah dan media, salah satunya denganpenguatan ulama perempuan.

Bambang Teguh Karyanto dari Lembaga Studi Desa untuk PetaniSD INPERS menulis pengalaman mereka dalam pemberdayaanperempuan melalui pengembangan biogas sebagai sumber energialternatif. Biogas mempunyai manfaat tidak saja bagi peningkatanpendapatan keluarga, tetapi juga peningkatan peran sosial-ekonomi danhak perempuan dan pelestarian lingkungan.

Sebagai pimpinan YMTR di Batam, drg. Sri Rupiati melaporkankegiatan program mereka dalam memberdayakan kesehatan reproduksidan ekonomi masyarakat tempatan di Kepulauan Riau. Pelatihan analisismasalah dan pengembangan program yang mereka terima dari G-helptelah menambah pemahaman dan keterampilan kader dan staf dalammengembangkan dan melaksanakan kegiatan-kegiatan program.

K a t a P e n g a n t a r

viii Bunga Rampai Upaya Penyadaran Gender, Kesehatan dan Lingkungan

Semoga tulisan-tulisan ini bermanfaat bagi upaya kitamembangun yang lebih baik menuju masyarakat sehat yang produktif,berkeadilan gender dan sosial serta berwawasan pelestarian lingkungan.Atas nama tim dan mitra G-help, kami mengucapkan terima kasihkepada Dr. Bambang Wispriyono sebagai Dekan Fakultas KesehatanMasyarakat Universitas Indonesia, Dr. Sabarinah Prasetyo sebagaiKepala Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia, Dr. MeiwitaBudiharsana sebagai penanggung jawab terdahulu program kesehatanreproduksi Ford Foundation, dan Dr. Ujjwal Pradhan sebagaipenanggung jawab terdahulu program pembangunan masyarakat danlingkungan Ford Foundation yang telah membantu dan mendukungkegiatan G-help.

Jakarta, Oktober 2009

Prof. Budi UtomoDirektur Program

ix

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................ v

Penyebaran Informasi Berbasis Gender: Memenuhi HakMasyarakat akan Informasi Lingkungan Berkelanjutanoleh Ani Purwati ........