hypno parenting

Download Hypno Parenting

Post on 04-Mar-2016

40 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Hynoparenting

TRANSCRIPT

BAGIAN PERTAMA

KONSEP DASAR HYPNOPARENTING

ANAK-ANAK LUAR BIASA YANG BERKEMBANG MENJADI ANAK BIASA

Lho, judulbuku ini bukannya Jalan pintas mencetak anak biasa menjadi luar biasa, kenapa kok di awali dengan sub bahasan anak-anak luar biasa yang berkembang menjadi biasa. Betul arahan buku ini nantinya kita akan mencarikan suatu jalan pintas mebuat anak yang sudah terlanjur biasa, kembali menjadi luar biasa, tetapi sebelumnya mari kita lihat suatu fenomena bahwa sebenarnya anak-anak kita adalah anak yang luar biasa, namun lambat laun dengan berkembangnya usia anak maka kehebatan itu mulai terkikis sedikit demi sedikit.

Manusi adilahirkan dengan perasaan mampu segalanya. Perasaan mampu itu ditunjukkan dengan keberanian melakukan sesuatu. Perhatikan tingkah laku bayi berusia 8-9 bulan ke atas ketika ia baru mulai duduk dan mencoba untuk menirukan orang-orang dewasa disekitarnya. Dia akan mengeksplorasi dunianya dengan penuh keberanian walaupun tubuhnya belum siap untuk itu. Karena di kepalanya ia belum memiliki konsep bahwa ia tidak mampu.

Dia akan terus bersemangat mencoba melakukan segala hal baru denga antusias dan tekun. Bahkan semua dihadapidengan totalitas, penuh semangat, tawa dan airmata. Namun keberaniannya lambat laun mulai memudar seirama dengan pesan-pesan ketidakmampuan yang diterima dari lingkungannya. Sang bayi hampir setiap hari mulai dikenalkan kata-kata jangan, tidak boleh atau tidak biasa. Bahkan biasanya dalam satu hari anak mendapatkan 40 kata jangan atau tidak untuk mengiringi 1 kata YA. Disinilah kemudian sang bayi mulai meragukan potensi dirinya.

Coba kit perhatikan Firman Allah dalam surat At Tiin ayat 4 yang artinya Sesungguhnya telah Kami Ciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Jadi di sini jelas bahwa manusia secara potensi adalah baik, namun ayat ini juga yang secara tidak sadar sering disngsikan. Kalau sudah baik kenapa anakku tidak sepintar si A, si B atau si C, dan beberapa penyesalan akan potensi diri anak yang kurang maksimal. Penyangkalan ini bermula dari perkembangan anak yang tidak sesuai dengan yang diharapkan orang tua, walaupun sebenarnya itu semua adalah produk dari orang tua.

Jika semua punya potensi yang sama, apa yang sebetulnya membedakan antara orang satu dengan lainnya?

Untuk mempermudah menjelaskannya saya ajak Anda untuk membayangkan analogi diri kita sebagai seperangkat komputer atau lebih tepatnya komputer hayati. Kenapa harus komputer, yah karena saya melihat penjelasan ini akan lebih mudah, sebab saya juga yakin saati ini semua orang sudah pernah mengenal komputer sehingga akan lebih familiar.

Saat kita dilahirkan, secara hardware atau perangkat keras yang kita miliki kurang lebih sama. Hardware komputer hayati adalah otak. Kita semua tahu bahwa setiapbayi yang terlahir, memiliki 1 trilliun (1.000.000.000.000) neuron yang menyusun otak, sekitar 100 milyar sel otak aktif dan 900 milyar sel otak pendukung. Dan Tuhan Maha Adil dan Maha Penyayang. Semua anak manusia dibekali dengan jumlah sel otak yang sama. Tidak ada diskon dan tidak ada bonus. Jadi hardware komputer hayati adalah otak kita.

Sebagai perbandingan, seekor lebah yang bisa membangun dan mempertahankan sarang madu, memperhitungkan jarak, mengumpulkan cairan bunga, menghasilkan madu, punya pasangan, memberikan perhatian kepada anaknya dan berkomunikasi dengan lebah lain hanya punya 7.000 neuron. Hal ini mengindikasikan bahwa kita punya kekuatan otak yang sangat besar. Sesungguhnya kita punya banyak neuron, kalaupun Anda punya beberapa juta lebih sedikit daripada orang lain, itu tidak akan membuat perbedaan sama sekali.

Oke, kita sudah ketahui bahwa hardware manusia cenderung sama. Yang membuat perbedaan hanyalah installasi program atau software yang ditanamkan dalam komputer. Dalam komputer hayati software-nya adalah pikiran dan perasaan. Semua program dalam komputer hayati tersimpan dalam hardisk yaitu gudang informasi bawah sadar, disinilah tempat rekaman informasi yang pernah dialami manusia.

Anda tidak perlu khawatir, sebab kita dibekalidengan hardisk yang sangat besar kapasitasnya. Majalah Scientific American, edisi November 2005, memuat satu artikel mengenai hasil penelitian terkinimengenai kapasitas otak dalam menyimpan informasi. Untuk bisa mengisi penuh hardisk otak maka kita harus belajar satu hal baru setiap detik selama 30 juta tahun. Benar, Anda tidak salah baca, selama 30 juta tahun.

Samapai disini kita akan mengetahui bahwa, dengan hardware dan kapasitas hardisk yang sama, tentunya tinggal program apa yang kita install dalam diri kita. Kecanggihan software yang terpasang sangat menentukan prestasi yang dicapai seseorang. Ibaratnya, jika kita menggunakan program WS release 7.0 (Word Star) dan MS Word 2010, hasilnya pastinya akan berbeda. Mengapa? Karena Ms Word jauh lebih canggih dari pada WS.

Semestinya kita harus rajin melakukan upgrade terhadap software hayati yang kita miliki dengan yang lebih baik dan lebih canggih. Namun kenyataanya kita lebih suka dengan software lama yang sudah kompatibel dengan diri kita, bahkan yang lebih parah lagi kita tidak melengkapi software kita dengan program anti virus. Padahal jika ada satu virus saja dalam software akan membuat kerjanya semakin lambat dan mudah hang. Program apapun akan berusaha untuk disabotase agar tidak berjalan maksimal.

Suatu hal yang menyedihkan kita lebih suka melakukan install program yang negatif kepada anak-anak kita. Mana mungkin saya melakukan install program negatif kepada anak saya, saya selalu melakukan program positif. Oke, Anda dapat tarik nafas sejenak tahan dan lepaskan baik kalau sudah rileks mari kita bermain-main sejenak.

Kita memang ingin anak kita sukses, anak kita pintar, namun kadangkita salah dalam memberikan spontan reware, yang akhirnya membentuk satu program dalam diri anak kita. Baik Anda dapat dengan jujur menjawab pertanyaan ini. Oke, dibandingkan orang sukses dan tidak sukses mana yang lebih banyak. Baik, jika jawaban Anda adalah orang yang tidak sukses lebih banyak, ini adalah jawaban umum yang saya dengar dari beberapa peserta pelatihan parenting pada umumnya.

Lalu mengapa bisa demikian? Anda tidak perlu penasaran. Dalam beberapa pelatihan maupun kegiatan parenting saya biasanya memberikan suatu pertanyaan susulan agar Anda tidak penasaran dan pertanyaan itu saat ini saya berikan kepada Anda untuk dijawab dengan baik. Pertanyaannya sangat sederhana, di bawah ini ada gambar kotak, tugas Anda hanya menentukan kotak mana yang paling besar. Oke, tentukan pilihan Anda sekarang !

Oke, kotak mana yang Anda pilih? Anda yakin dengan jawaban itu? Baik semua orang ternyata setuju bahwa kotak yang paling besar adalah kotak B. Seberapa besar keyakinan Anda? Baik jika Anda juga menetapkan 100%. Pertanyaan berikutnya adalah di bawah ini ada gambar kotak, tugas Anda hanya menentukan kotak mana yang paling besar. Oke, tentukan pilihan Anda sekarang !

Oke, kotak mana yang Anda pilih? Anda yakin dengan jawaban itu? Sekali lagi, jika jawaban Anda adalah C, Anda memiliki jawaban yang sama dengan orang pada umumnya. Kenapa Ana sekarang memilih C padahal semua memilih B bahkan dengan kyakinan 100%? Apakah Anda juga akan protes seperti peserta workshop atau seminar parenting dan mengatakan tadi tidak ada C dan opsinya hanya 2. Baiklah Anda masih punya satu pertanyaan yang harus dijawab untuk pertanyaan terakhir ini renungkan dengan baik jawaban Anda. Tugas Anda sama yaitu hanya menentukan kotak mana yang paling besar. Oke, tentukan pilihan Anda sekarang !

Oke, kotak mana yang Anda pilih? Apakah Anda juga sudah mulai ragu dengan jawaban Anda dan juga sudah mulai protes karena belum Anda kotak yang lain, untuk sementara saatini jawabannya adalah D, tapi jangan-jangan nanti ada kotak lain yang lebih besar. Benar, berarti Anda sudah mulai paham dengan apa yang akan saya maksud dengan kesalahan spontan reward yang selalu kita dapatkan dari orang tua, guru maupun lingkungan.

Spontan reware merupakan respon spontan yang kita berikan kepada anak-anak saat dia mampu melakukan sesuatu. Anak-anak senantiasa dibandingkan dengan objek di luar dirinya dan biasanya yang lebih baik dari keadaan anak. Mari kita tilik perjalanan hidup kita kebelakang, saat kita kecil dan belum bisa membaca, maka orang sekitar kita mengatakan lihat itu si A sudah lancar membaca. Maka saat itu kita berusaha untuk bisa membaca. Saat kita sudah berupaya secara maksimal dan elah mampu membaca, apakah upaya tersebut mendapatkan pengakuan?

Oh ternyata tidak, saat kita bisa membaca, maka yang dilihat adalah si B yang sudah bisa matematika. Kita sudah tidak istimewa lagi karena bisa membaca sebab ada si B yang bisa matematika, tetapi karena saat kecil kita benar-benar seorang pejuang sejati, maka ketinggalan tersebut berusaha untuk segera di atasi dan berhasil. BERHASIL? APAKAH BERHASIL? Menurut kita saat itu sudah berhasil, tapi spontan reward yang kita peroleh apa? Lihat si C bahasa Inggrisnya sudah lancar, si D baru kerja 2 tahun sudah bisa beli rumah dan bla bla bla sekian banyak pembanding yang tadinya belum muncul akan senantiasa muncul saat kesuksesan diperoleh. Akhirnya kita melihat bahwa sukses itu sulit, pintar itu sulit semua serba sulit, dan itulah program yang telah terinstall dalam diri kita maupun anak-anak kita.

Tanpa sadar kita telah membuat program gagal dalam diri anak-anak. Lho tapi semua itu saya lakukan untuk memotivasi anak saya agar berhasil, mungkin Anda juga akan melakukan pembelaan yang sama. Saat pertama, anak mungkin termotivasi, namun setelah sekian lama mencoba dan berhasil tetapi tetap gagal karena dihadapkan pembanding baru. Anak mulai berpikir iya betul juga mama (papa, atau siapapun figur otoritas yang mengucapkan) aku memang anak yang .

Saat anak sudah membuat pencitraan pada dirinya, maka program itu sudah terinstall secara