hukum perkawinan

Download HUKUM PERKAWINAN

Post on 10-Jul-2015

239 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Hukum perkawinan ialah pertalian yang sah antara seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk waktu yang lama. Perkawinan ini tercipta karena adanya hubungan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang saling mencintai. Karena perkawinan ini diwajibkan oleh Allah untuk umatnya. Perkawinan Undang-undang dipandang sebagai suatu perkumpulan. Perkawinan yang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dalam kitab undang-undang hukum perdana dan syarat. Syarat serta peraturan Agama di kesampingkan suatu azaz lagi dari BW bahwa poligami dilarang. Larangan ini termasuk ketertiban umum,artinya bila dilarang slalu diancam dengan pembatalan perkawinan yang dilangsungkan. B. RUMUSAN MASALAH Dalam penulisan makalah ini penulis membahas tentang perkawinan, arti sebuah perkawinan,syarat-syarat untuk perkawinan,apa-apa saja hak dan kewajiban seorang istri kepada suaminya begitu juga hak seorang suami terhadap istrinya,hal-hal yang harus dipersiapkan untuk melangsungkan pernikahan,percampuran kekayaan suami dan istri,perjanjian kerkawinan dan pemisah kekayaan antara keduanya. C. TUJUAN PENULISAN Penulis menulis makalah ini bertujaun untuk : Menyelesaikan tugas yang diberi dosen. Memberi pemahaman mengenai pengertian hukum perkawinan Menjelaskan tentang hak dan kewajiban istri dan suami. Menjelaskan percampuran kekayaan antara suami dan istri Menjelaskan alasan-alasan seorang suami boleh menceraikan isrtinya 1

BAB II HUKUM PERKAWINAN 1. Arti Dan Syarat-Syarat Untuk Perkawinan Perkawinan,ialah pertalian yang sah antara seorang laki-laki dan perempuan untuk waktu yang lama. Undang-undang memandang perkawinan hanya dari hubungan keperdataan, demikian pasal 26 Burgerlijk Wetboek. Syarat-syarat untuk dapat sahnya perkawinan,ialah : a. Kedua pihak harus telah mencapai umur yang ditetapkan dalam undangundang,yaitu untuk seorang lelaki 18 tahun dan untuk seorang perempuan 15 tahun. b. Harus ada persetujuan bebas antara kedua pihak. c. Untuk seorang perempuan yang sudah pernah kawin harus lewat 300 hari dahulu sesudah putusan kawinan pertama d. Tidak ada larangan dalam undang-undang bagi kedua pihak e. Untuk pihak yang masih di bawah umur ,harus ada izin dati orang tua atau wali. Tentang hal larangan untuk kawin dapat diterangkan,bahwa seorang tidak diperbolehkan kawin dengan saudaranya, meskipun saudara tiri,seorang tidak diperbolehkan kawin dengan iparnya, seorang paman dilarang kawin dengan keponakannya,dan sebagainya. Untuk anak-anak yang lahir di luar perkawinan,tetapi diakui oleh orang tuanya, berlaku pokok aturan sama dengan pemberian izin,kecuali jikalau tidak terdapat kata sepakat antara kedua orang tua,hakim dapat di minta campur tangan,dan kakek nenek tidak menggantikan orang tua dalam hal pemberian izin. Untuk anak yang sudah dewasa,tetapi belum berumur 30 tahun masih juga diperlukan izin dari orang tuanya. Tetapi kalau mereka ini tidak mau memberikan izinnya, anak dapat memintanya dengan perantaraan hakim. Dalam waktu tiga minggu,hakim akan memanggil orang tua dan anak untuk didengar dalam sidang

2

tertutup. Jikalau orang tua tidak datang menghadap,perkawinan baru dapat dilangsungkan setelah lewat tiga bulan. Sebelumm perkawinan dilangsungkan, harus dilakukan terlebih dahulu : a. pemberitahuan (aangifte) tentang kehendak akan kawin kepada pegawai pencatat sipil (Ambtenaar Burgerlijk Stand),yaitu pegawai yang nantinya akan melangsungkan pernikahan, b. pengumuman (arkondiging) oleh pegawai tersebut tentang akan dilangsungkan pernikahan itu. Kepada beberapa orang oleh undang-undang diberi hak untuk mencegah atau menahan (stuiten) dilangsungkan pernikahan,yaitu : a. kepada suami atau istri serta anak-anak dari sesuatu pihak yang berhak kawin b. kepada orangtua kedua belah pihak c. kepada jaksa Seorang suami dapat menghalang-halangi perkawinan yang kedua dari istrinya dan sebaliknya si istri dapat menghalang-halangi perkawinan yang kedua dari suaminya,sedangkan anak-anak pun dapat mencegah perkawinan yang kedua dari si ayah maupun ibunya. Orang tuadapat mencegah pernikahan,jikalau anaknya belum dapat izin dari mereka. Juga diperkenan kan sebagai alas an bahwa setelah mereka memnerikan izin barulah mereka mengetahui yang calon menantunya telah ditaruh di bawah curatele. Kepada jaksa diberikan hak untuk menjegah berlangsungnya perkawinan yang sekiranya akan melanggar larangan-larangan yang bersifat menjaga ketertiban umum. Caranya mencegah perkawinan itu ialah dengan memasukan perlawanan kepada hakim. Pegawai pencatat sipil lalu tidak boleh melangsungkan pernikahan sebelum ia menerima putusan hakim.

3

Surat-surat yang harus diserahkan kepada pegawai Pencatat Sipil agar ia dapat melangsungkan pernikahan,ialah : 1. Surat kelahiran masing-masing pihak 2. surat pernyataan dari peawai pencatat Sipil tentang adanya izin orang tua, izin mana juga dapat diberikan dalam surat perkawinan sendiri yang akan dibuat itu. 3. proses verbal dari mana ternyata perantaraan Hakim dalam hal perantaraan ini dibuthkan. 4. surat kematian suami atau istri atau putusan perceraian perkawinan lama. 5. surat keterangan dari pegawai Pencatatan Sipil yang menyatakan telah dilangsungkan pengumuman dengan tiada perlawanan dari sesuatu pihak. 6. dispensasi dari residen (Mentri Kehakiman),dalam hal ada suatu larangan untuk kawin. Pegawai Pencatan Sipil berhak menolak untuk melangsungkan

pernikahan,apabila ia menganggap surat-surat kurang cukup. Dalam hal yang demikian, pihak-pihak yang berkepentingan dapat memajukan permohonan kepada hakim untuk menyatakan bahwa surat-surat itu sudah mencukupi. Suatu perkawinan yang dilangsungkan di luar negri,sah apabila dilangsungkan menurut cara-cara yang berlaku di negri asing yang bersangkutan,asal saja tidak dilanggar larangan-larangan yang bersifat menjaga ketertiban umum di negri kita sendiri. Dalam satu tahun setelah mereka tiba di Indonesia,perkawinan harus didaftarkan dalam daftar Burgerlike Stand di tempat kediamannya. Ada kemungkinan,misalnya karena kekhilafan, suatu pernikahan telah dilangsungkan, pada hal ada syarat-syarat yang tidak dipenuhi atau ada laranganlarangan yang te;ah terlanggar. Misalnya, salah satu pihak masih terikat oleh suatu perkawinan lama, atau perkawinan yang telah dilangsungkan oleh pegawai pencatatan sipil yang tidak berkuasa, atau lain dan sebagainya. Perkawinan

4

semacam itu dapat dibatalkan oleh hakim, atas tuntutan orang-orang yang berkepentingan atau atas tuntutan jaksa, tetapi selama pembatalan ini belum dilakukan, perkawinan tersebut berlaku sebagai suatu perkawinan yang sah. Meskipun suatu pembatalan itu pada asasnya bertujuan mengembalikan keadaan seperti pada waktu perbuatan yang dibatalkan itu belum terjadi, tetapi dalam hal suatu perkawinan dibatalkan, tidak boleh kita beranggapan seolah-olah tidak pernah terjadi suatu perkawinan, karena terlalu banyak kepentingan dari berbagai pihak harus dilindungi. Dari itu, dalam sautu hal perkawinan dibatalkan, undang-undang telah menetapkan sebagai berikut : 1. Jika sudah dilahirkan anak-anak dari perkawinan tersebut, anak-anak ini tetap mempunyai kedudukan sebagai anak yang sah. 2. pihak yang berlaku jujur tetap memperoleh dari perkawinan itu hak-hak yang semesti di dapatnya sebagai suami atau istri dalam perkawinan yang dibatalkan itu. 3. Juga orang-orang pihak ketiga yang berlaku jujur tidak boleh dirugikan karine pembatalan perkawinan itu. Pada asanya suatu perkawinan harus dibuktikan dengan surat perkawinan. Hanya, apabila daftar-daftar pencatat sipil telah hilang, diserahkan kepada hakim untuk menerima pembuktian secara lain, asal saja menurut keadaan yang nampak keluar dua orang laki-laki perempuan dapat dipandang sebagai suami istri, atau menurut perkataan undang-undang : asal ada suatu Bezit van den huwelijken staat. 2. Hak Dan kewajiban suami istri Suami istri harus setia satu sama lain, Bantu-membantu berdiam bersamasama, saling memberikan nafkah dan bersama-sama mendidik anak-anak. Perkawinan oleh undang-undang dipandang sebagai suatu perkumpulan (ecehtuerenninging). Suami ditetapkan menjadi kepala atau pengurusnya. Suami mengurus kekayaan mereka bersama disamping berhak juga mengurus kekayaan si istri, menentukan tempat kediaman bersama, melakukan kekuasaan orang tua

5

dan selanjutnya memberikan bantuan (bijstand) kepada si istri dalam hal melakukan perbuatan-perbuatan hukum. Yang belakangan ini, berhubungan dengan ketentuan dalam hukum perdata eropah, bahwa seorang perempuan yang telah kawin tidak cakap untuk bertindak sendiri di dalam hukum. Kekuasaan seorang suami di dalam perkawinan itu dinamakan maritale macht (dari bahasa prancis mari = suami). Pengurusan kekayaan si istri itu, oleh suami harus di lakukan sebaikbaiknya (als een goet huissvader) dan si istri dapat minta pertanggung jawaban tentang perngurusan itu. Kekayaan suami untuk ini menjadi jaminan, apabila ia sampai dihukum mengganti kekurang-kekurangan atau kemerosotan kekayaan si istri yang terjadi karena kesalahannya. Pembatasan yang terang dari kekuasaan suami dalam hal mengurus kekayaan istrinya tidak terdapat dalam undangundang, melainkan ada suatu pasal yang menyatakan, bahwa suami tidak diperbolehkan menjual atau menggadai benda-benda yang tidak bergerak kepunyaan si istri tanpa izin dari si istri (pasal 105 ayat 5 B.W.). meskipun begitu, sekarang ini menurut pendapat kebanyakan ahli hukum menjual dan mengadaikan yang bergerak dengan tidak seizin si isteri juga tidak diperkenankan apabila melampoi batas pengertian mengurus. Pasal 140, membuka kemungkinan bagi si isteri untuk (sebulum melangsungkan pernikahan) mengadakan perjanjian bahwa ia berhak untu mengurus sendiri kekayaannya. Juga dengan pemisahan kekayaan atau dengan pemisahan meja dan tempat tidur si isteri dengan sendirinya memperoleh kembali haknya untuk mengurus kekayaan sendiri. Jikalau suami di berikan bantuan, suami isteri itu berhak bersama-sama : si isteri untuk dirinya

View more