HALUSINASI 4

Download HALUSINASI 4

Post on 27-Jun-2015

279 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>BAB II LANDASAN TEORI</p> <p>A. Konsep Dasar 1. Pengertian Halusinasi adalah penerapan tanpa adanya rangsangan apapun pada panca indra seseorang pasien, yang terjadi pada keadaan sadar atau bangun, dasarnya mungkin organic, fungsional, psikotik ataupun histerik (W.F Marammis, 1998 hal 199) Halusinasi adalah pengalaman panca indra tanpa adanya rangsangan, artinya individu mendengar suara-suara atau bisikan-bisikan tanpa adanya rangsangan dari luar dan orang lain tidak mendengarnya. (Kelliat Budi Anna, 2001 hal 44) Halusinasi adalah persepsi sensori yang palsu yang tidak disentralkan dengan stimulasi eksternal yang nyata, mungkin terdapat atau tidak terdapat interprestasi waham tentang pengalaman halusinasinya (Kaplan dan Sodoek 1997 hal 462). Dari beberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan Halusinasi Pendengaran adalah individu merasa mendengar suara orang yang membicarakan, mengejek, menertawakan atau mengancam dirinya, padahal tidak ada suara disekitarnya.</p> <p>2. Psikodinamika a. Etiologi 1). Halusinasi dapat terjadi pada klien dengan gangguan jiwa</p> <p>seperti Schizoprenia, depresi atau keadaan psikosa lainnya, dimensia, keadaan delirium dan kondisi yang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lainnya. Menurut Mary Durant Thomas, 1991. Halusinasi juga dapat terjadi dengan epilepsi,kondisi infeksi sistemik dan penggunaan metabolik. Halusinasi dapat juga dialami sebagai efek samping dari berbagai pengobatan yang meliputi anti depresi, antikolinergik, anti inflamasi, dan antibiotik. Sedangkan obat-obatan halusinogen dapat membuat terjadinya halusinasi sama seperti pemberian obat diatas. Halusinasi dapat terjadi pada saat individu normal, yaitu pada individu yang mengalami isolasi, perubahan sensori seperti kebutaan, kurangnya pendengaran atau adanya permasalahan pada saat pembicaraan. 2). Halusinasi terjadi akibat kemampuan kognitif yang terganggu.</p> <p>Hal ini dikarenakan informasi atau beban sensori terlalu berlebihan atau overload, dan menghasilkan halusinasi Menurut Mc. Farland dan Thomas, 1991.</p> <p>a) Teori Psikoanalisa Halusinasi terjadi karena defisit fungsi ego atau pertahanan diri, sehingga terjadi konflik psikologis. Dan penggunaan mekanisme pertahanan seperti distori, denial, dan proyeksi (halusinasi). b) Teori Lingkungan Halusinasi dapat terjadi bila seseorang berada dalam situasi atau lingkungan yang penuh dengan stresor. Bila individu tersebut tidak dapat mengatasi dan hanya berfokus pada kecemasan yang diakibatkan stressor,maka individu tersebut akan melamun dan berangan-angan, bila didiamkan berlarut-larut akan menyebabkan halusinasi. c) Teori Biologi Halusinasi akibat struktur otak yang abnormal sehingga tidak mampu menerima stimulus dengan baik, faktor genetik juga menjadi penyebab besar dan faktor biokimia yang mempengaruhi otak dengan adanya dopamin. 3). Halusinasi disebabkan karena adanya gangguan pada otak. a) Teori Biologi Otak tidak berkembang secara sempurna, menurunnya volume otak dan fungsi abnormal. Menurut Stuard and Laraia. Sehingga kesulitan dalam memfilter otak mengalami sensori dan kesulitan dalam memproses informasi.</p> <p>b) Teori Psikologi Halusinasi dapat ditimbulkan oleh hubungan antar anggota keluarga atau khususnya anak dengan orang tua yang tidak harmonis, adanya konflik keluarga, kegagalan dalam</p> <p>menyelesaikan tahap awal perkembangan psikososial, koping stres yang tidak adekuat sehingga menimbulkan gangguan orientasi realita. c) Teori Sosial Kultural dan Lingkungan Menjelaskan bahwa halusinasi dapat disebabkan oleh stres yang diakumulasi akibat faktor lingkungan, seperti tidak keharmonisan. b. Manifestasi Klinik 1) 2) Bicara senyum dan tertawa sendiri. Mengatakan mendengar sesuatu, melihat, menghidu,</p> <p>mengecap, dan merasa sesuatu yang tidak nyata. 3) 4) nyata. 5) Pembicaraan kacau, kadang tidak masuk akal, sikap curiga dan Merusak diri sendiri/ orang lain / lingkungan. Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan hal yang tidak</p> <p>bermusuhan. 6) 7) 8) Tidak dapat memusatkan perhatian Menarik diri,menghindari orang lain Sikap curiga dan bermusuhan</p> <p>9) 10) 11) 12) 13)</p> <p>Sulit membuat keputusan, ketakutan Menyalahkan diri dan orang lain Mudah tersinggung, jengkel, marah Muka merah kadang pucat Ekspresi wajah tegang</p> <p>c. Jenis Halusinasi Halusinasi pendengaran Pasien mendengar suara dan bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata dan orang lain tidak mendengar Halusinasi pendengaran Pasien melihat bambar yang jelas/samar-samar tanpa stimulus yang nyata dan otang lain tidak melihat Halusinasi penciuman Pasien mencium bau yang muncul dari sumber tertentu tanpa stimulus yang nyata dan orang lain tidak menciumnya Halusinasi pemgecapan Pasien merasa makan sesuatu tanpa stimulus yang nyata dan orang lain tidak melihat pasien memakan sesuatu yang nyata Halusinasi perabaan Pasien merasakan sesuatu pada kulitnya tanpa stimulus yang nyata</p> <p>d. Proses Proses halusinasi dapat berkembang menja 4 fase: 1) Fase Pertama: Menenangkan-ansietas tingkat sedang.secara</p> <p>umum halusinasi bersifat menyenangkan Karakteristik: orang yang menderita halusinasi mengalami</p> <p>peningkatan emosi, seperti ansietas, kesepian, merasa bersalah dan perasaan takut serta mencoba untuk berfokus pada kenyamanan untuk mengurangi kecemasannya. Orang tersebut merasakan/mengetahui bahwa pikiran dan pengalaman sensorinya dalam kontrol sadar (jiwa kecemasan teratasi non psycotic) Perilaku yang dapat di observasi: a) Tertawa tidak pada tempatnya b) Pergerakan bibir tanpa menimbulkan suara c) Pergerakan mata dengan cepat d) Respon verbal lambat e) Diam membisu dan linglung ( asik sendiri ) 2) Fase kedua: menyalahkan ansietas tingkat berat.</p> <p>Halusinasi umumnya menjadi ancaman Karakteristik: pengalaman sensori menjadi ancaman yang</p> <p>menakutkan. Orang yang menderita halusinasi mulai merasakan hilang kontrol dan mulai menjauhi diri dari sumber yang ada. orang tersebut</p> <p>merasakan kebingungan oleh penglaman sensori dan menarik diri dari orang lain. Perilaku yang dapat di observasi: a) Meningkatkan sistem syaraf otomatis, tanda-tanda kecemasan seperti meningkatnya tekanan darah,respirasi dan ritme jantung. b) Bentuk perhatian mulai terbatas dan menyempit. c) Asyik sendiri dengan pengalaman sensori dan hilangnya kemampuan untuk membedakan halusinasi dari realita. 3) Fase ketiga : Mengendalikan ansietas tingak berat</p> <p>Pengalaman sensori menjadi penguasa Karateristik: orang yang menderita halusinasi menyerah untuk mengalah melawan pengalamanya. Bentuk halusinasi menjadi suatu kebutuhan. Orang tersebut dapat mengalami hidup menyendiri jika pengalaman sosialnya berakhir (psycotic). Perilaku yang dapat diobservasi: a) petunjuk yang berasal dari halusinasinya akan diikuti b) kesulitan bersosialisasi dengan orang lain c) perhatiannya hanya beberapa detik atau menit d) gejala-gejala fisik dari kecemasan berat seperti tremor, ketidakmampuan mengikuti petunjuk dan berkeringat 4) Fase keempat : menaklukan-ansietas tingkat panik.</p> <p>Biasanya menjadi terfokus dan menjadi berbaur dengan delusi.</p> <p>Karakteristik: pengalaman sensori dapat menjadi ancaman ketika orang tersebut tidak mengikuti perintah. Halusinasi dapat berakhir dalam beberapa jam atau hari jika tidak ada intervensi terapeutik (psychotic berat). Perilaku yang dapat di observasi: a) b) c) bentuk terol seperti panik potensial kuat untuk bunuh diri atau pembunuhan aktifitas fisik yang mengarah pada bentuk halusinasi</p> <p>seperti agitasi, tindakan kekerasan, menarik diri atau katatonia d) tidak dapat berespon terhadap pengarahan atau</p> <p>petunjuk yang kompleks. e. Rentang Respon</p> <p>Respon perilaku klien dengan halusinasi dapat diidentifikasi sepanjang rentang respon.</p> <p>Respon adaptif - Pikiran logis - Persepsi akurat - Emosi konsisten - Perilaku cocok - Hubungan sosial harmonis Kadang proses</p> <p>Respon maladaptif Ggn. Proses</p> <p>pikiran terganggu Ilusi Emosi</p> <p>pikir Halusianasi Kerusakan</p> <p>proses pikiran dengan pengalaman Isolasi sosial</p> <p>berlebihan / berkurang</p> <p>-</p> <p>Perilaku yang</p> <p>tidak biasa Respon adaptif dari kelima perubahan tersebut adalah sebagai berikut : 1) Perubahan proses pikir Klien yang terganggu pikirannya sering berperilaku koheren. 2) Perubahan pola persepsi Persepsi dapat diartikan sebagai reaksi dari respon tubuh terhadap rangsangan dari luar, kemudian diikuti oleh pengenalan dan pemahaman tentang orang, benda dan lingkungan. Perubahan pola persepsi dapat terjadi pada satu atau lebih bagian tubuh yaitu pendengaran, pengecapan, perabaan, dan penciuman. 3) Perubahan pada afek dan emosi Afek berkaitan dengan emosi tubuh individu, perubahan afek terjadi karena pasien berusaha membuat jarak dengan perasaan tertentu. Perubahan afek yang biasa terjadi adalah datar, tumpul, tidak sesuai , berlebihan dan ambivalen. 4) Perubahan motorik Perilaku motorik dapat dimanifestasikan dengan peningkatan atau penurunan kegiatan motorik, impulsif. 5) Perubahan sosial Perkembangan hubungan sosial yang tidak adekuat menyebabkan kegagalan individu untuk belajar dan mempertahankan interaksi.</p> <p>e. Komplikasi Komplikasi yang biasa terjadi pada klien dengan halusinasi adalah : 1). 2). 3). 4). 5). 6). 7). 8). Gangguan proses informasi. Klainan prilaku. Alam perasaan abnormal. Gangguan hubungan pasangan. Kurang merasa percaya diri. Rasa bermusuhan. Perubahan dalam kejadian kehidupan. Kehilangan motivasi.</p> <p>B.</p> <p>Asuhan Keperawatan Halusinasi merupakan gangguan persepsi yang sangat ekstrim dan bahkan sangat umum dalam Schizoprenia. Klien yang mengalami halusinasi sukar untuk mengontrol dirinya sehingga klien dengan halusinasi sukar untuk berhubungan dengan orang lain. Dalam memberikan asuhan keperawatan terhadap klien halusinasi, seorang perawat harus mempunyai kesadaran diri yang tinggi agar dapat mengenal dan menerima serta mengevaluasi perasaan sendiri sehingga dapat menggunakan dirinya secara therapeutik.Pemberian asuhanan keperawatan terhadap klien dengan halusinasi perawat harus berkata jujur, empati, terbuka, dan selalu memberi penghargaan, tetapi tidak boleh tenggelam, juga menyangkal</p> <p>halusinasi yang klien miliki. Asuhan keperawatan dimulai dari tahap pengkajian sampai evaluasi. 1. Pengkajian keperawatan</p> <p>Pada tahap ini perawatan menggali faktor-faktor seperti predisposisi, faktor presipitasi, perilaku, sumber koping dan mekanisme koping. a. Faktor predisposisi Adalah faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress. Hal dapat diperoleh baik dari klien maupun dari keluarganya mengenai faktor perkembangan, social kultural, biokimia, psikologis, biologi, yaitu faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress: 1) Faktor Perkembangan</p> <p>Jika seseorangan mengalami hambatan dalam tugas perkembangan dan hubungan internasional dengan orang lain terganggu, maka individu akan dihadapi dengan stress dan kecemasaan pada dirinya. 2) Faktor Sosial kultural</p> <p>Berbagai faktor dan lingkungan dan di masyarakat dapat menyebabkan orang merasa diasingkan atau disingkirkan sehingga klien merasa kesepian dalam lingkungan dimana dia berada, walaupun dia ada dalam lingkungan sekitarnya yang ramai.</p> <p>3)</p> <p>Faktor Biokimia</p> <p>Faktor biokimia ini mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa, dimana teori biokimia menyatakan adanya</p> <p>peningkatan dari dopamine neurotransmiter yang diperkirakan menghasilkan gejala penningkatan aktivitas yang berlebihan sehingga dapat menghasilkan zat halusinogenik. 4) Faktor Psikologis</p> <p>Hubungan interpersonal yang tidak harmonis akan mengakibatkan akan mengakibatkan stress dan kecemasan, orang yang mengalami psikosis akan mengakibatkan atau menghasilkan hubungan yang penuh dengan kecemasan tinggi. Peran ganda yang bertentangan dan sering diterima oleh anak mengakibatkan stress dan kecemasan yang tinggi dan berakhir dengan gangguan orientasi realita. 5) Faktor biologi</p> <p>Dalam Schizoprenia belum diketahui gen apa yang berpengaruh, tetapi hasil penelitia menunjukan bahwa faktor keluarga menujukan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini. b. Faktor presipitasi Yaitu stimulus yang diekspresikan oleh individu sebagai suatu tantangan, ancaman/tuntutan yang memerlukan energi ekstra yang digunakan untuk koping.</p> <p>Adanya rangsangan lingkungan yang sering yaitu partisipasi klien dalam kelompok, terlalu lama diajak komunikasi, objek yang ada di lingkungan. 1). Perilaku</p> <p>Respon klien terhadap halusinogen dapat berupa bicara sendiri, tersenyum, tertawa sendiri, curiga. Ketakutan perasaan tidak aman, gelisah, dan bingung, perilaku merusak diri, ancaman, dirinya atau orang lain. Oleh karena itu aspek penting dalam melaksanakan intervensi keperawatan yaitu dengan mengupayakan suatau proses interaksi yang menimbulkan pengalaman interpersonal yang</p> <p>memuaskan klien tidak menyendiri sehingga klien selalu berinteraksi dengan lingkungan dan halusinasi tidak berlangsung. 2). Sumber koping</p> <p>Sumber koping seseorang individual dan alamiah serta tergantung pada luasnya gangguan neurobilogical. Sumber koping tersebut sebagai modal untuk memecahkan atau menyelesaikan masalah. Dukungan sosial dan keyakinan budaya serta dukungan keluarga, dapat membantu seseorang menginterprestasikan pengalaman yang menimbulkan stress dan mengadopsi strategi koping yang berhasil. 3). Mekanisme Koping</p> <p>Tiap upaya yang diarahkan pada pelaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri. Dalam menghadapi rasa cemas pada</p> <p>klien halusinasi biasanya digunakan mekanisme proyeksi yang dapat memberikan kemampuan pada ego untuk mengatasi rangsangan yang mengancam dari luar sehingga mengurangi kecemasan. c. Masalah keperawatan yang timbul pada klien sebagai berikut :</p> <p>1). Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan . 2). Perubahan persepsi sensori:halusinasi pendengaran. 3). Isolasi sosial :menarik diri. 4). Gangguan Konsep diri:harga diri rendah. d. Pohon Masalah Resiko menciderai diri sendiri: orang lain dan lingkungan</p> <p>Perubahan sensoripersepsi : halusinasi pendengaran</p> <p>Isolasi sosial: menarik diri</p> <p>Gangguan Konsep diri:Harga diri rendah</p> <p>2.</p> <p>Diagnosa Keperawatanan a. Resiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan b/d halusinasi pendengaran.</p> <p>b. Perubahan sensori persepsi: halusinasi pendengaran b/d isolasi social:menarik diri. c. Isolasi sosial:menarik diri b/d harga diri rendah</p> <p>3.</p> <p>Intervensi Tindakan Keperawatan</p> <p>a. Diagnosa I: resiko menciderai diri sendiri, orang lain dan lingkungan berhubungan dengan halusinasi pendengaran. Tujuan umum: klien tidak menciderai diri, orang lain dan lingkungan. Tujuan khusus: 1). a). b). c). Klien dapat membina hubungan saling percaya. Sapa klien dengan ramah baik verbal dan non verbal. Perkenalkan diri dengan sopan. Tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang</p> <p>disukai klien. d). e). adanya. f). dasar 2). a). b). Klien dapat mengenal halusinasinya Adakan kontak sering dan singkat s...</p>