ersada kita megegeh, teridah ras mehaga ... tabloid karo bulanan edisi 5, maret 2019 edisi maret...

Click here to load reader

Post on 13-Feb-2021

1 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • KATANTARAS 1EDISI 5, Maret 2019Tabloid Karo Bulanan Edisi Maret 2019, No. 5

    KATASUKI

    Ersada Kita Megegeh, Teridah ras Mehaga

    Foto Genius Tarigan (Koleksi Museum Karo Lingga,)

    Penggabungan 3 Desa Siosar Masuk Kecamatan Tiga Panah PEMBENTUKAN DESA BARU TANPA SYARAT

    Surat keputusan itu diterima Bupati Karo Terkelin Bra-hamana tanggal 14 Februari 2019, di Gedung C lantai 2 Ditjen Bina Pemerintahan, Jakarta Selatan, didampingi Asisten 1 Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Suang Karo Karo, Sekwan DPRD Karo Petrus Ginting, Eva Angela, Kabag Pemdes, Data Martina Br Ginting, Camat Tiga Panah Dwikora Sitepu, Camat Naman Teran, Jepta Tarigan, Camat Payung.

    Ditjen Bina Pemerintahan Desa, Nata Irawan, mengatakan jadikanlah ini sebagai anugerah bagi masyarakat Kabupaten Karo, sebab hampir selama 73 tahun hal

    seperti ini belum pernah terjadi. Dan meminta agar Pemkab Kao mem- perhatikan batas batas desa, aktifkan komunikasi dengan Ditjen Bina Pe- merintahan Desa, dan perhatikan do- kumen dokumen yang lama, perhati- kan APBDes-nya, jangan suatu saat menjadi masalah, ujarnya.

    Menurutnya, sejalan dengan peru- bahan itu, maka camat kedepan harus pandai mengfungsikan kepala desa, terlebih saat ini dinasnya lagi merivi- si gaji seluruh perangkat kepala desa. “Mudah mudahan terlaksana, ini ren- cana kami agar gaji kepala desa dan perangkatnya setara dengan gaji PNS,” ungkap Nata tanpa merinci besarnya dan Regulasi yang megaturnya.

    Secara adminitrasi, ketiga desa yang sebelumnya sudah direlokasi ke Siosar pasca bencana erupsi Gunung Sinabung itu, sesungguhnya belum me- menuhi syarat untuk ditetapkan men- jadi pembentukan desa baru. Namun karena faktor historis kearifan lokal dan keunikan Karo, pemerintah pusat mem- pertimbangkan-nya, kata Bupati Karo, seperti dilansir harian Analisa.

    Sementara itu, Kabag Pemdes, Eva Angela sebagai ujung tombak teknis pengajuan pembentukan desa yang disetujui itu, menurutnya sung- guh luar biasa, karena diperlakukan secara khusus tanpa memenuhi syarat. Salah satu dari syarat itu harus me- menuhi jumlah penduduk minimal 800 kepala keluarga. Dengan demiki- an, Pemkab Karo yang pertama kali di seluruh Indonesia yang direstui pe- merintah pusat melakukan pembentu- kan desa baru tanpa memenuhi syarat. Dalam bahasa Karo hal ini bisa dika- takan “telap” Pemkab Karo.

    Tiga desa meliputi Desa Sukame-

    riah, Desa Bakerah dan Desa Sima- cem ditotal kepala keluarganya yang diajukan hanya 370 kepala keluarga. Seharusnya dari segi adminitrasi ini sudah gugur karena tidak memenuhi syarat. Namun karena perlakuan khu- sus, usulan itu dapat diterima dan menjadi pilot projek bagi kapubaten seluruh Indonesia nantinya.

    Sejalan dengan perubahan 3 desa

    itu, Asisten 1 Suang Karo-Karo mengatakan, akan segera menerus- kan arahan Bupati Karo ke jajaran para camat dari ketiga desa itu, untuk mensosialisasikannya. Kare- na ada perubahan struktur jum- lah desa. Kecamatan Namanteran dengan keluarnya dua desa Sima- cem, Bekerah jadi 12 desa. Desa Sukameriah Kecamatan Payung memiliki 8 desa menjadi 7 desa. Untuk Kecamatan Tiga Panah yang sebelumnya memiliki 26 desa ber- tambah tiga desa menjadi 29 desa, jelasnya (Tadukan).

    Tiga desa meliputi Desa Bakerah dan Desa Simacem di Kecamatan Naman dan Desa Sukameriah di Kecamatan Payung, diubah atau ma- suk dalam kawasan Kecamatan Tiga Panah. Sedangkan nama ke 3 desa itu tetap, tidak ada perubahan, sebagaimana tertuang dalam surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor : 140-48 tahun 2019 tanggal 7 Januari 2019.

    Taneh Karo (Katantaras).

    Bagi permadani tempa, si kimbang belangna la teralang. Lit ka tempa sora erdilo gelah min kita reh kuje guna kundul-kundul, pesenang-senang ukur. Endam gambar Juma Talin Serit, kuta Lingga. Motosa make drone si i alakoken bas bulan Desember 2018.

    + Ise pilihmu bas pilpres e pa gi ?

    = Kukataken kari..., bicara la seri pilihenta..., lanai ka

    kita sipindon isap

    + Ih...payo kal Pande...Sipoin don isap em tanda

    keersadanta... Sada dage is apmu ndo !

  • KATANTARAS2 EDISI 5, Maret 2019

    Pimpinan Umum/Pimpinan Redaksi : Simson Gintings, Wakil Pimpinan Umum/ Wkl. Pimpinan Redaksi : Julianus P. Liembeng. Dewan Redaksi : Robinson Sembiring, Yoel Kaban. Artistik : Arthur Sembiring. Photografer : Sadrah Ps., Jupiter Maha. Tata Letak : Yosef Depari. Kontributor : Moses Pinem, Salmen Kembaren, Imanuel Tarigan, Tridah Sembiring, Septa Sembiring, Imanuel Bukit, Emma Sinulingga (Medan), Alex Depari (Kabanjahe) Ezra Deardo Purba (Yog- yakarta), Oren B. Peranginangin (Bandar Lampung). Perwakilan Eropa : Christina Ginting (Munchen). Pimpinan Perusahaan : Asmanta Barus, Sekretaris : Eko Tarigan. Manager Produksi : Jecky Edward Sembiring D., Staf Produksi Julio Ari Napitupulu Alamat Redaksi : Jl. Marsaid I No. 44 Rt.01 Rw.06, Marga Jaya Bekasi Selatan. E-mail : katanta_ras@yahoo.com Rekening BNI No. 0753540507 An. Simson Gintings, Percetakan : Aneska Grafindo

    Redaksi KATANTARAS

    Redaksi menerima kiriman tulisan dari pembaca, berupa cerpen, puisi, dan artikel yang berkaitan dengan suku Karo. Tulisan dapat dalam bahasa Indonesia atau bahasa Karo dan dikirimkan ke email Redaksi : katanta_ras@yahoo.com. Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggungjawab penulis Redaksi berhak mengedit artikel tanpa mengubah isi dan substansi dari tulisan. Hak cipta tulisan tetap menjadi milik penulis. Tulisan yang dimuat tidak mendapat honorarium.

    K A T A N A K A N

    Editorial

    Beralih dari geliat wisata daerah Siosar, di ujung timur Kabupaten Karo juga tak ingin ketinggalan da- lam momen ini. Lembah Seri- bu Bunga, yang berada di desa Barus Jahe. Mencoba peruntun- gandi tengah maraknya wisata yang memanfaatkan keindahan alam. Berada di ketinggian di atas 1000 mdpl Lembah Seri- bu Bunga menawarkan sensasi dingin di kaki Bukit Deleng Ganjang. Tidak hanya bunga, pemandangan tanpa hambatan ke Sinabung, sungai Badigu- lan yang jernih, melengkapi pesona lembah ini. Sekalipun berupa lembah, lokasi ini juga sebenarnya memiliki spot yang tinggi berupa perbukitan.

    Sempurna Barus, Andi Ginting, Tamrin Barus dan Giat Barus pada tahun 2016 meng- gagas Lembah Seribu Bunga. Ide ini muncul untuk mengem- balikan kejayaan pariwisata Barus Jahe yang menurutnya telah mati suri. Karena kurang- nya penggalian potensi. Orang– orang semakin tidak mengenal dan melupakan Barus Jahe yang sempat terkenal dengan wisata Rumah Adatnya. Mereka men- coba memanfaatkan alam dan tempat, bunga dan sayur mer- upakan habitat yang cocok un- tuk dataran tinggi.

    Pada tahun itu juga, mere-

    ka mulai menggemparkan media sosial di Sumatera Utara. Animo dan ekspektasi masyarakat begitu tinggi dalam mencari tahu ke- beradaan terkini lembah tersebut. Sebagai aksi pendukung awal, pengelola juga telah melak- sanakan lomba lintas alam mesra. Pengelola juga telah membangun setidaknya 7 pondok, mendesain camping ground area dan tentun- ya mulai menanam bunga.

    Kunjungan turis local di ta- hun pertama cukup tinggi. Na- mun secara perlahan mulai men- galami penurunan. Hal ini bukan tanpa sebab. Hukumnya adalah antara realitas dan ekspektasi. Harapan pengunjung, dalam bayangan lembah tersebut telah penuh dengan bunga yang be- raneka warna. Namun pengelola menghadapi berberapa kendala.

    “Jumlah pengunjung terus menurun, jarang sekali yang datang kembali karena merasa kurang puas” terang Tamrin Barus yang dihubungi via tele- pon seluler.

    Sebenarnya terdapat 6 orang tenaga pengelola yang siap bekerja untuk pengelolaan Lembah Seribu Bunga. Mereka adalah petani, dan menempat- kan pengelolaan Lembah se- bagai jkerja sampingan. Lem- bah belum mampu memenuhi kebutuhan rumah tangga mere- ka sehingga mereka juga belum

    bisa penuh waktu bekerja.

    Mengubah Manajemen dan Menantikan Seribu Harapan

    Para penggagas menga- takan masalah utama yang mereka hadapi bagi adalah masalah pendanaan. Selama ini, pengelolaan tempat itu mendapat dukungan dari salah satu keluarga dari pengelola se- hingga belum bisa ditata secara maksimal. Sempat juga ingin dikelola Bumdes, namun den- gan berbagai pertimbangan, di- anggap lebih baik jika dikelola oleh kelompok masyarakat.

    Permasalahan lainnya ak- sesibilitas. Infrastruktur berupa jalan yang rusak juga menjadi pertimbangan utama bagi pe- ngunjung. Pemerintah Kabu- paten pernah beruapaya mem- perlbar jalan ke lokasi. Namun terentur pada masalah pembe- basan lahan. Beberapa anggota masyarakat tidak rela lahannya berkurang. Maka usaha pem- bangunan jalan pun terhenti. Padahal bila jalan dipelebaran akan menguntungkan petani yang melintasi jalan tersebut.

    Memang masih dibutuh- kan edukasi bagi masyarakat setempat. Tapi para pengelola belum menyerah. Mereka ma- sih memiliki seribu harapan dari Lembah Seribu Bunga. Mereka mencoba utukl melobi pemerintah desa untuk meman- faatkan anggaran dana desa (ADD) bagi pembangunan in- frastruktur menuju lokasi. Pen- gelola baru dapat mengolah ar- eal 2 hektar dari 7 hektar lahan yang tersedia. Itupun belum sepenuhnya ditanami bunga. Mereka juga tidak menutup pe- luang bagi masuknya investor dari luar.

    Seperti yang telah di- uraikan, pengelolaan Lembah ini perlu ada kreatifitas dari pengelola sembari menantikan datangnya investor. Pemuda Barus Jahe bersama maha- siswa lokal dan juga perantau, perlu menyatukan hati dan kekuatan untuk menghidupkan kembali Barus Jahe sebagai salah satu bagian wisata yang menarik di Kabupaten Karo.

    Selain itu, perlu juga dibangun sistem manajemen pengelolaan yang baru. Sistem pekerjaan bagi pe