daftar .daftar pustaka abdullah, irwan, ... fakta tulang bawang era soeharto ... pembangunan proyek

Download DAFTAR .DAFTAR PUSTAKA Abdullah, Irwan, ... Fakta Tulang Bawang era Soeharto ... pembangunan proyek

If you can't read please download the document

Post on 02-Mar-2019

212 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

208

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Irwan, 2009, Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan, Yogyakarta :

Pustaka Pelajar.

Alasuustari, P., 1995, Researching Culture : Qualitative Method and Cultural

Studies, London : Sage.

Ana, Sri Handayani, 1994, Transmigrasi di Indonesia dalam perspektif Sejarah,

Jember : Universitas Jember.

Anderson, Bennedict, 1991. Imagined Communities : Reflection on the Origins

and Spread of nationalism, London : Verso.

Ang, Ien, 1985, Watching Dallas : Soap Opera and The Melodramatic

Imagination, London : Matheun.

Arikunto, Suharsimi, 2010, Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktik,

Jakarta : Rineka Cipta.

Barker, Chris, 2000, Cultural Studi : Theory and Practice, London : Sage.

Bourdieu, P. 1997, Outline of A Theory and Practice, Cambridge : Cambridge

University Press.

Budiman, Kris, 2002, Di Depan Kotak Ajaib : Menonton Televisi Sebagai Praktik

Konsumsi, Yogyakarta : Galang press.

Cresswell, John.,W, 1994, Qualitative Inquiry and Design Research: Choosing

Among Five Tradition, USA : Sage Publication Inc.

Garna, K. Judistira, 1999, Metode Penelitian Pendekatan Kualitatif, Bandung :

Primaco akademia.

Geertz, Clifford, 1973, The Interpretation of Culture, New York : Basic Book.

Giddens, Anthony, 1992, The Transformation of Intimacy, Cambrigde : Polity

Press.

_______________, 1991, Modernity And Self Identity, Cambridge : Polity Press.

Hall, Stuart, 1981, Encoding/Decoding, dalam Stuart Hall, A. Lowe dan Paul

Willis (ed), Culture, Media, Language, London : Hutchinson

___________, 1992, The Question of Cultural Identity, dalam S. hall, D. Held

& T. McGrew (ed), Modernity and its Future, London : Edward Arnold.

207

sebagai orang Jawa dan orang Lampung diakui dan tetap memperoleh hak-hak

yang sama untuk berpartisipasi dalam aktivitas sosial-politik. Antara komunitas

Lampung dan Jawa serta suku-suku lainnya yang hidup di sana, bersifat egaliter,

berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah. Tidak terdapat hak

istimewa/previledge sebagai tuan rumah/pribumi dan pendatang/tamu. Arena

kontestasi bersifat terbuka dan hanya merupakan pertarungan kualitas

kepemimpinan.

206

kepompong lokalitas kesukuan dan bermetamorfosa menjadi kupu-kupu

Indonesia.

Keempat, Dalam era multikultural, globalisasi menggiring hampir semua

negara ke dalam situasi multikultur. Hampir tidak terdapat sebuah negara dengan

penduduk homogen yang terdiri dari satu jenis etnik saja. Tiap-tiap negara

memiliki ragam penduduk dan ragam budaya dengan nilai-nilai yang berbeda.

Tentu saja, pertanyaannya tidak berhenti pada sejauh mana masyarakat

memenuhi norma-norma keadilan, kebebasan individu dan demokrasi

permusyawaratan ?. Tetapi pada bagaimana prinsip demokrasi dijunjung dengan

tetap mengijinkan kearifan lokal hidup berkembang. Multikulturalisme

memberikan jawaban tepat akan problematika politik sosial Tulang Bawang

Barat.

Secara garis besar, multikulturalisme melompati definisi lama pluralisme

yakni sekedar pengakuan terhadap keanekaragaman, kemajemukan dan

kebinekaan yang sudah terkonstruksi jauh-jauh hari sebelum Indonesia merdeka.

Kerajaan-kerajaan kuno Indonesia bahkan Orde Baru mengakui hal tersebut,

bahwa di sana terdapat berbagai macam ras, suku agama, golongan dan

kelompok-kelompok budaya tertentu. Fakta Tulang Bawang era Soeharto

menyisakan persoalan etnifikasi orang Lampung dan memberikan ruang bagi

timbulnya Jawanisasi. Multikulturalisme disamping mengakui potensi

keragaman, ia juga memberikan peluang berekspresi menurut jati diri masing-

masing dengan saling berkomunikasi satu sama lain dengan meniadakan

dominasi maupun mematikan oleh satu kepada yang lain. Identitas kultural

205

bahwa mereka bukanlah tuan rumah abadi yang berkuasa absolut atas kontrol

pemerintahan daerah dan klaim kepemilikan tanah. Otonomi daerah hendaknya

tidak menjadi pintu masuk tirani politik yang menampilkan diri dengan wajah

kearifan lokal Piil Pesenggiri kepada para pendatang. Piil Pesenggiripun

hendaknya jangan dijadikan instrumen intimidasi sosial demi menekan, menakut-

nakuti dan merebut tanah yang sudah menjadi milik orang lain. Piil Pesenggeri

bukanlah ideologi yang beralih rupa menjadi senjata tajam yang lantas

kemudian dipergunakan untuk menikam orang lain. Piil Pesenggiri bukan pula

ideologi komunitas tetapi hanya sebatas filsafat, etika dan nilai-nilai tradisi yang

memungkinkan dalam dirinya alpa, salah atau sudah tidak up to date.

Selanjutnya, otonomi daerah seyogyanya dijadikan arena fair play

layaknya pertandingan sepakbola dimana mereka yang terbaiklah yang dapat

menjadi juara, bukan karena dasar pertimbangan klub yang bertanding pemilik

stadion atau banyaknya suporter di sudut-sudut tribun.

Suksesnya jalur pendidikan akan kesadaran identitas keindonesiaan

ditunjukkan oleh narasumber-narasumber asal Lampung maupun Jawa yang telah

mengenyam pendidikan tinggi. Bagi mereka, Piil Pesenggiri menjadi salah kaprah

jika dijadikan modal sosial untuk melakukan penetrasi dan marginalisasi terhadap

suku-suku lain di tanah Tulang Bawang. Pun pada saat yang sama, anak-anak

transmigran/PUJAKESUMA merasa bahwa identitasnya sudah mencair bukan

lagi sebagai orang Jawa dan orang Lampung tetapi sebagai orang Indonesia.

Mereka dengan modal pendidikannya telah berhasil keluar dari selubung

204

suku-suku bangsa baik yang jumlah populasinya besar maupun kecil memiliki

garis demarkasi yang jelas tetapi elastis. Orang Lampung adalah orang Lampung,

dan Jawa tetaplah Jawa tetapi mereka dalam figura keindonesiaan. Oleh sebab

itu, pembangunan proyek identitas keindonesiaan adalah suatu proses budaya

yang terus menerus. Ia harus dikerjakan, diolah, didisain sedemikian rupa

sehingga sampai pada arah dan tujuan yang dicita-citakan oleh UUD 1945.

Ketiga, otonomi daerah, identitas keindonesiaan, nasionalisme adalah

produk modernitas berlawanan dengan identitas kelokalan, kepemimpinan adat

/kesukuan yang adalah produk tradisional. Jika modernitas mengandalkan

rasionalitas yang identik dengan produk pencerahan maka kebalikannya,

tradisionalitas lebih pada dogma kesukuan maupun agama yang terkadang bersifat

jumud dan anti-kritik dan cocok diberlakukan pada masyarakat tradisional

homogen. Sebagai produk modernitas yang mengandalkan rasionalitas maka

proyek pembangunan identitas kebangsaan/keindonesiaan sebagai instrumen

untuk melawan tumbuhnya politik identitas sempit ala otonomi daerah adalah

pendidikan. Proyek identitas adalah proyek yang tidak pernah berhenti selama

negara yang bersangkutan masih berdiri tegak. Oleh sebab itu, mengajar dan

mendidik dan membentuk orang Indonesia merupakan proses yang bersifat long

life education. Di sekolahan, pasar-pasar, lingkungan kantor, pusat-pusat

perniagaan keindonesiaan hendaknya diutamakan daripada kesukuan. Orang-

orang Jawa sudah harus mulai menghargai masyarakat Lampung dengan

meninggalkan kejawaanya ketika beranjak dari pintu rumah mereka dengan

berbahasa Indonesia. Demikianpun orang Lampung hendaknya mulai menyadari

203

militer dan birokrasi otoritarianistik. Disini KORAMIL, KODIM, kantor-kantor

aparat pemerintahan menjadi agen langsung penerjemah, penafsir dan penopang

dari ide identitas keindonesiaan. Tidak ketinggalan, partai-partai politik semisal

GOLKAR, PPP maupun PDI melakukan hal yang sama meskipun hasilnya jauh

berbeda dengan hasil yang dilakukan dari lembaga-lembaga pertama. Penataran-

penataran P4, propaganda keberhasilan ekonomi melalui siaran-siaran RRI,

KELOMPENCAPIR menjadi salah satu medium pemerintahan Soeharto

memperkenalkan gagasan keindonesiaan. Akan tetapi masyarakat lokal Lampung

menanggapi cara Orde Baru dengan berbeda. Bagi mereka identitas keindonesiaan

yang diperkenalkan dan dipromosikan Orde Baru bertolak belakang dengan

praktik di lapangan dimana menurutnya, telah terjadi ide dan gerakan Jawanisasi.

Camat, wedana, bupati hingga gubernur dipilih dari orang Jawa. Polisi-polisi dan

BABINSA dan KORAMIL, KODIM juga kebanyakan berasal dari Jawa. Belum

lagi seragam batik yang wajib dipergunakan tiap hari Jumat oleh birokrat-birokrat

juga guru-guru dan murid sekolah. Yang mereka rasakan jauh dari rasa

keindonesiaan tetapi jawanisasi.

Merujuk pada Benedict Anderson, definisi bangsa/nation adalah

komunitas politis dan dibayangkan sebagai sesuatu yang bersifat terbatas secara

inheren sekaligus berkedaulatan. Bangsa adalah sesuatu yang terbayang karena

anggota bangsa sekecil apapun tidak akan tahu dan takkan kenal sebagian besar

anggota lainnya dan tidak akan bertatap muka dengan mereka. Tetapi masing-

masing membayangkan dalam sebuah arena imajiner yang disatukan oleh

bayangan akan kebersamaan mereka. Kebangsaan bersifat terbatas karena anggota

202

Untuk itu terdapat saran yang barangkali relevan dan patut untuk direnun