5. larutan

Download 5. larutan

Post on 29-Nov-2014

338 views

Category:

Data & Analytics

2 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

laporan kimia dasar

TRANSCRIPT

<ul><li> 1. LARUTAN Retno Adiwijaya, S.Farm. </li> <li> 2. LARUTAN DAN KOMPONENNYA LARUTAN Zat terlarut Pelarut Contoh Gas Gas Udara, semua campuran gas Gas Cair Karbondioksida dalam air Gas Padat Hidrogen dalam platina Cair Cair Alkohol dalam air Cair Padat Raksa dalam tembaga Padat Padat Perak dalam platina Padat Cair Garam dalam air Contoh larutan biner </li> <li> 3. SIFAT KOLIGATIF LARUTAN NONELEKTROLIT Berdasarkan nilai titik didih zat terlarut, larutan dapat dibagi dua : 1. Titik didih zat terlarut lebih kecil daripada pelarutnya, sehingga zat terlarut lebih mudah menguap, misal O2, NH3 dan alkohol dalam air 2. Titik didih zat terlarut lebih besar daripada pelarutnya, dan jika dipanaskan maka pelarut yang lebih dulu menguap. Imi disebut zat terlarut yang tidak mudah menguap, misal gula, urea dan NaCl dalam air. Larutan ke dua mempunyai sifat koligatif. Kata koligatif berasal dari bahasa latin (colligare) yang berarti berkumpul bersama. Sifat koligatif adalah sifat yang disebabkan hanya oleh kebersamaan (jumlah partikel) dan bukan oleh ukurannya. Zat terlarut mempengaruhi sifat larutan dan besarnya pengaruh itu bergantung pada jumlah partikel tersebut. Ada empat sifat koligatif , yaitu (1) penurunan tekanan uap, (2) kenaikan titik didih, (3) penurunan titik beku dan (4) tekanan osmotik. </li> <li> 4. 1. Penurunan Tekanan Uap Jenuh (P) Besarnya tekanan uap jenuh bergantung pada jenis zat dan suhu. Zat yang memiliki gaya tarik-menarik antara partikel besar sukar menguap, dan mempunyai tekanan uap jenuh yang relatif kecil, misalnya garam, gula, glikol, dan gliserol. Zat yang memiliki gaya tarik-menarik antara partikel lemah mudah menguap (volatile), dan mempunyai tekanan uap jenuh yang relatif besar, misalkan etanol dan eter. Selisih antara tekanan uap jenuh pelarut murni dengan tekanan uap jenuh larutan disebut penurunan tekanan uap jenuh (P). P = P0 P Menurut Raoult, untuk larutan-larutan encer dari zat yang tak atsiri, penurunan takanan uap jenuh larutan dirumuskan sebagai : P = XB . P0 dan P = XA . P0 P0 = tekanan uap jenuh pelarut murni, P = tekanan uap jenuh lautan, P = penurunan takanan uap jenuh larutan, XA = fraksi mol zat pelarut, XB = fraksi mol zat tarlarut </li> <li> 5. Contoh Soal: Tekanan uap jenuh air pada 100o C adalah 760 mm Hg. Berapakah tekanan uap jenuh larutan glukosa 10% pada 100o C? (C = 12; O = 16). Jawab: P = Xair . P0 = 0,99 . 760 mmHg = 752,4 mmHg 99,0 056,05 5 X mol056,0mol 180 10 gram10%10Glukosa mol5mol 18 90 gram90%90Air air = + = === === atau P = Xgula . P0 P = 0,056 x 100 = 5,6 mmHg jadi P = 760 5,6 = 752,4 mmHg </li> <li> 6. 2. Kenaikan Titik Didih (Tb) dan penurunan Titik Beku (Tf) Titik didih suatu cairan ialah suhu pada saat tekanan uap jenuh cairan itu sama dengan tekanan luar (tekanan yang dikenakan pada permukaan cairan). Hubungan antara tekanan uap jenuh dengan suhu air dan larutan berair diberikan pada diagram berikut : - Garis C-D = garis didih air. - Garis B-E = garis didih larutan - Garis D-D = perubanan tenanan beku - Garis C-F = garis beku air - Garis B-G = garis beku larutan - Garis F-F = perubanan tenanan didih - Titik B &amp; C = titik triple air &amp; larutan Diagram P-T air dan suatu larutan air Pelarut murni Larutan Cair Gas Padat Tf Tb Titik beku larutan Titik beku pelarut Titik didih larutan Titik didih pelarut Titik tripel larutan 1 atm 0o C Suhu Tekanan A B C G F D E D' F' </li> <li> 7. Kenaikan titik didih larutan (Tb = boiling point elevation) didefinisikan sebagai selisih antara titik didih larutan dengan titik didih pelarut Tb = titik didih larutan titik didih pelarut Oleh karena kenaikan titik didih dan penurunan titik beku sebanding dengan konsentrasi larutan, maka untuk larutan-larutan encer, kenaikan titik didih (Tb) maupun penurunan titik beku (Tf) sebanding dengan kemolalan larutan. Tf = Kf x mTb = Kb x m dan Tb = kenaikan titik didih, Tf = penurunan titik beku, Kb = tetapan kenaikan titik didih molal, Kf = tetapan penurunan titik beku molal, m = kemolalan larutan Tetapan kenaikan titik didih dan penurunan titik beku molal didefinisikan sebagai nilai kenaikan titik didih dan penurunan titik beku yang diukur pada konsentrasi 1 molal. </li> <li> 8. Contoh Soal: Sebanyak 18 gram glukosa (Mr = 180) dilarutkan dalam 500 gram air. Tentukanlah titik didih larutan itu. Kb air = 0,52o C Jawab: mol/kg,20 kg0,5 mol0,1 mLarutankemolalan 1,0 mol/g180 g18 GlukosaMol = = == mol Tb = m x Kb = 0,2 x 0,52o C = 0,104o C titik didih larutan = titik didih pelarut + Tb = 100 + 0,104o C = 100,104o C </li> <li> 9. 3. Tekanan Osmotik Larutan Tekanan osmotik () adalah tekanan yang diberikan kepada larutan sehingga dapat mencegah mengalirnya molekul pelarut memasuki larutan melalui selaput semipermiabel. Menurut Vant Hoff, tekanan osmotik larutan-larutan encer dapat dihitung dengan rumus yang serupa dengan persamaan gas ideal, yaitu : V = nRT = n RT/V = MRTatau dengan, = tekanan osmotik V = volum larutan (dalam liter) n = jumlah mol zat terlarut T = suhu absolut larutan (suhu kelvin) R = tetapan gas (0,08205 L atm mol-1 K-1 M = molaritas larutan </li> <li> 10. Contoh soal: 1. Berapakah tekanan osmotik larutan sukrosa 0,0010 M pada 25oC? Jawab : GG mol0,01n L0,5 n mol/L0,02 V n M mol/L0,02M K300K xatm/molL0,08205xMatm 76 78 MRT = = = = = = 2. Larutan 5 gram suatu zat dalam 500 mL larutan mempunyai tekanan osmotik sebesar 38 cmHg pada 27o C. Tentukanlah massa molekul relatif (Mr) zat itu. Jawab: mol0,01n L0,5 n mol/L0,02 V n M mol/L0,02M K300K xatm/molL0,08205xMatm 76 78 MRT = = = = = = 500g/mol 0,01mol 5g n G Mr Mr G n mol0,01n L0,5 n mol/L0,02 V n M mol/L0,02M K300K xatm/molL0,08205xMatm 76 78 MRT = = == = = = = = = = MRT = 0,0010 mol L-1 x 0,08205 L atm mol-1 K-1 x 298 K = 0,024 atm (18 mm Hg) </li> <li> 11. SIFAT KOLIGATIF LARUTAN ELEKTROLIT Larutan elektrolit memberi sifat koligatif yang lebih besar daripada sifat koligatif larutan nonelektrolit yang berkonsentrasinya sama. Ini disebabkan karena zat elektrolit sebagian atau seluruhnya terurai menjadi ion-ion. Jadi untuk konsentrasi yang sama, larutan elektrolit mengandung jumlah partikel lebih banyak daripada larutan nonelektrolit. Perbandingan antara harga sifat koligatif yang terukur dari suatu larutan elektrolit dengan harga sifat koligatif yang diharapkan suatu larutan nonelektrolit pada konsentrasi yang sama disebut faktor vant Hoff dan dinyatakan dengan lambang i. Satu mol zat non elektrolit dalam larutan menghasilkan satu mol (6,02 x 1023 butir) partikel. Sebaliknya, satu mol elektrolit tipe ion seperti NaCl terdiri atas satu mol ion Na+ dan satu mol ion Cl- , satu mol K2 SO4 terdiri atas dua mol ion K+ dan satu mol ion SO4 2- . </li> <li> 12. Harga i dari elektrolit tipe kovalen ternyata lebih bervariasi, bergantung pada kekuatan elektrolit itu. Hubungan harga i dengan persen ionisasi (derajat disosiasi) dapat diturunkan sebagai berikut. mulamulajumlah mengionyangjumlah = Jumlah yang mengion = jumlah mula-mula x = M x atau A (elektrolit) n B (ion) mula-mula : M - ionisasi : -M +nM setimbang : M(1 ) nM Konsentrasi partikel dalam larutan = M[1 + (n 1)], maka pertambahan jumlah partikel dalam larutan = 1 + (n 1), oleh karena itu, persamaan sifat koligatif larutan menjadi : Tb = Kb x m x i Tf = Kf x m x i = MRT x i </li> <li> 13. Contoh soal: Satu gram MgCl2 dilarutkan dalam 500 gram air. Jika diketahui Kbair = 0,52o C; Kfair = 1,86o C (Mg = 24; Cl = 35,5), tentukanlah nilai : a. titik didih, b. titik beku, c. tekanan osmotik larutan itu pada 25o C jika = 0,9. Jawab: a) Tb = Kb x m x i = 0,52 x 0,022 x 2,8 = 0,032oC titik didih larutan = 100 + 0,032o C = 100,032o C i = 1 + (n 1) = 1 + (3 1) 0,9 = 2,8 MgCl2 Mg+ + 2Cl- b) Tf = Kf x m x i = 1,86 x 0,022 x 2,8 = 0,115o C titik beku larutan = 0 0, 115o C = -0,115o C molal0,021 Kg0,5xg/mol95 g1 pelarutKgxMgClMr MgClmassa m 2 2 == = nilai m dan M sama. c) = MRT x I = 0,022 x 0,08205 x 298 x 2,8 = 1,51 atm. </li> <li> 14. SISTEM KOLOID Sistem koloid adalah campuran homogen antara fase terdispersi dan fase pendispersi Sifat Sistem Dispersi Larutan Koloid Suspensi Bentuk Campuran Bentuk dispersi Penulisan Ukuran diameter partikel Pemeriksaan mokroskop Penyaringan Homogen Dispersi molekuler A(aq) &lt; 10-7 cm tetap homogen dengan mikroskop ultra tidak dapat dengan penyaring apapun Homogen Dispersi padatan A(s) 10-7 10-5 cm heterogen dengan mikroskop ultra dapat disaring dengan penyaring ultra Heterogen Dispersi padatan A(s) &gt; 10 5 cm dengan mata biasa heterogen dapat disaring dengan penyaring biasa </li> <li> 15. No Fasa Terdispersi Fasa Pendispersi Nama koloid Contoh 1 2 3 4 5 6 7 8 Gas Gas Cair Cair Cair Padat Padat Padat Cair Padat Gas Cair Padat Gas Cair Padat Buih Busa padat Aerosol cair Emulsi Emulsi padat Aerosol padat Sol Sol padat Buih sabun, shampoo, deterjen, lerek Karet busa, batu apung Kabut Susu, santan, es krim Mutiara, keju Asap Cat, larutan agar-agar, larutan kanji, lotion Kaca berwarna, campuran logam Jenis-jenis koloid </li> <li> 16. SIFAT KHAS PARTIKEL KOLOID 1. Tyndall, adalah efek penghamburan cahaya oleh partikel koloid. 2. Gerak brown, adalah gerak acak, gerak tidak beraturan dari partikel koloid 3. Adsorpsi, adalah sifat menyerap partikel atau ion atau senyawa lain 4. Koagulasi, penggumpalan partikel koloid dan membentuk endapan 5. Koloid liofil, koloid sol di mana partikel koloid (sebagai fase terdispersi) senang (dapat menarik/mengikat) cairannya (sebagai fase pendispersi). 6. Koloid liofob, kebalikan dari koloid liofil PERISTIWA ELEKTROFORESIS Peristiwa pergerakan partikel koloid yang bermuatan ke salah satu elektroda disebut elektroforesis Elektroforesis dapat digunakan untuk mendeteksi (menentukan) muatan partikel koloid. Jika partikel koloid berkumpul di elektroda positif berarti koloid bermuatan negatif dan jika partikel koloid berkumpul di elektroda negatif berarti koloid bermuatan positif. </li> <li> 17. 1. Cara Kondensasi Cara kondensasi termasuk cara kimia. Pada proses kondensasi, molekul-molekul dari larutan direaksikan menghasilkan suatu senyawa yang sukar larut dalam air dan membentuk partikel koloid a) Reaksi Redoks Pembuatan sol belerang; 2H2S(g) + SO2(aq) 3S(s) + 2H2O(l) PEMBUATAN SISTEM KOLOID b) Reaksi Hidrolisis Pembuatan sol Fe(OH)3; FeCl3(aq) + 3H2O(l) Fe(OH)3(s) + 3HCl(aq) c) Reaksi Substitusi Pembuatan sol As2S3 ; 2H3AsO3(aq) + 3H2S(g) As2S3(s) + 6H2O </li> <li> 18. 2. Cara Dispersi Cara ini dilakukan dengan mengubah partikel ukuran besar menjadi partikel koloid. 3. Cara Mekanik Ini dilakukan dari gumpalan materi yang besar kemudian dihaluskan. Seteleh diperoleh partikel yang halus, kemudian didispersikan dalam medium pendispersi dan ditambahkan zat penstabil. 4. Cara Busur Bredig Mula-mula logam yang akan didispersikan (Au atau Pt) dibuat seperti elektroda, kemudian kedua logam dihubungkan dengan arus listrik dan dicelupkan dalam larutan KCl 0,001 M. Panas yang timbul, mula-mula menguapkan logam kemudian uap logam terkondensasi dalam larutan dan membentuk partikel koloid. 5. Cara Peptisasi Cara ini mengubah endapan yang terjadi dengan diubah menjadi partikel koloid dengan cara penambahan zat kimia (elektrolit). </li> </ul>