Tugas Mandiri (Etika Profesi)

Download Tugas Mandiri (Etika Profesi)

Post on 14-Oct-2015

15 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Etika profesi

TRANSCRIPT

<ul><li><p>TUGAS MANDIRI </p><p>Etika Profesi Dokter dalam </p><p>Kasus kelalaian/Malpraktek medik di Indonesia </p><p>Mata Kuliah: Etika Profesi </p><p>Nama Mahasiswa : RUDI </p><p>NIM : 100110015 </p><p>Kode Kelas : 122-LW005-N2 </p><p>Dosen : Nur Afni, S.H., M.Pd. </p><p>UNIVERSITAS PUTERA BATAM </p><p>2013 </p></li><li><p> I </p><p>KATA PENGANTAR </p><p>Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena </p><p>berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun </p><p>makalah ini yang berjudul "Etika Profesi Dokter dalam kasus </p><p>kelalaian/malpraktek medik yang sangat marak di indonesia" tepat pada </p><p>waktunya. </p><p>Adapun makalah ini disusun untuk melengkapi tugas mandiri Mata Kuliah </p><p>Etika Profesi. Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini tidak </p><p>lepas dari bantuan berbagai pihak, terutama ucapan terima kasih kepada kakak </p><p>kelas sebagai pembimbing yang telah menuntun penulis mengenai teknik dalam </p><p>penyusunan sebuah makalah. </p><p>Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat kepada para </p><p>pembaca. Penulis menyadari bahwa makalah ini adakalanya masih kurang dari </p><p>kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik dan saran </p><p>dari pembaca sangat penulis harapkan untuk penyempurnaan makalah </p><p>selanjutnya. </p><p> Batam, 13 JUNI 2013 </p><p> Penulis </p></li><li><p> 1 </p><p>BAB I </p><p>PENDAHULUAN </p><p>A. Latar Belakang </p><p>Perawatan merupakan salah satu profesi tenaga kesehatan yang </p><p>memberikan pelayanan kesehatan langsung baik kepada individu, keluarga </p><p>dan masyarakat. Sebagai salah satu tenaga profesional, keperawatan </p><p>menjalankan dan melaksanakan kegiatan praktek keperawatan dengan </p><p>mengunakan ilmu pengetahuan dan teori keperawatan yang dapat </p><p>dipertanggung jawabkan. Dimana ciri sebagai profesi adalah mempunyai body </p><p>of knowledge yang dapat diuji kebenarannya serta ilmunya dapat </p><p>diimplementasikan kepada masyarakat langsung. </p><p>Pelayanan kesehatan dan keperawatan yang dimaksud adalah bentuk </p><p>implementasi praktek keperawatan yang ditujukan kepada pasien/klien baik </p><p>kepada individu, keluarga dan masyarakat dengan tujuan upaya peningkatan </p><p>kesehatan dan kesejahteraan guna mempertahankan dan memelihara kesehatan </p><p>serta menyembuhkan dari sakit, dengan kata lain upaya praktek keperawatan </p><p>berupa promotif, preventif, kuratif dan rehabilitasi. </p><p>Dalam melakukan praktek keperawatan, perawat secara langsung </p><p>berhubungan dan berinteraksi kepada penerima jasa pelayanan, dan pada saat </p><p>interaksi inilah sering timbul beberapa hal yang tidak diinginkan baik </p><p>disengaja maupun tidak disengaja, kondisi demikian inilah sering </p><p>menimbulkan konflik baik pada diri pelaku dan penerima praktek </p><p>keperawatan. Oleh karena itu profesi keperawatan harus mempunyai standar </p><p>profesi dan aturan lainnya yang didasari oleh ilmu pengetahuan yang </p><p>dimilikinya, guna memberi perlindungan kepada masyarakat. Dengan adanya </p><p>standar praktek profesi keperawatan inilah dapat dilihat apakah seorang </p><p>perawat melakukan malpraktek, kelalaian ataupun bentuk pelanggaran praktek </p><p>keperawatan lainnya. </p></li><li><p> 2 </p><p>Kelalaian (Negligence) adalah salah satu bentuk pelanggaran praktek </p><p>keperawatan, dimana perawat melakukan kegiatan prakteknya yang </p><p>seharusnya mereka lakukan pada tingkatannya, lalai atau tidak mereka </p><p>lakukan. Kelalaian ini berbeda dengan malpraktek, malpraktek merupakan </p><p>pelanggaran dari perawat yang melakukan kegiatan yang tidak seharusnya </p><p>mereka lakukan pada tingkatanya tetapi mereka lakukan. </p><p>Kelalaian dapat disebut sebagai bentuk pelanggaran etik ataupun bentuk </p><p>pelanggaran hukum, tergantung bagaimana masalah kelalaian itu dapat timbul, </p><p>maka yang penting adalah bagaimana menyelesaikan masalah kelalaian ini </p><p>dengan memperhatikan dari berbagai sudut pandang, baik etik, hukum, </p><p>manusianya baik yang memberikan layanan maupun penerima layanan. </p><p>Peningkatan kualitas praktek keperawatan, adanya standar praktek </p><p>keperawatan dan juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia </p><p>keperawatan adalah hal penting. </p><p>Dengan berbagai latar belakang diatas maka kelompok membahas </p><p>beberapa hal yang berkaitan dengan kelalaian, baik ditinjau dari hukum dan </p><p>etik keperawatan, disamping itu juga kelompok membahas bagaimana dampak </p><p>dan bagaimana mencegah serta melindungi klien dari kelalaian praktek </p><p>keperawatan. </p><p>B. Tujuan Penulisan </p><p>Tujuan penulisan makalah ini, secara umum adalah mahasiswa dapat </p><p>memahami kelalaian dalam bidang keperawatan dilihat dari dimensi etik dan </p><p>dimensi hukum. Dan secara khusus mahasiswa dapat menjelaskan tentang </p><p>pengertian, kriteria dan unsur-unsur terjadinya kelalaian, disamping itu juga </p><p>dapat menjelaskan dampak yang terjadi dengan adanya kelalaian serta </p><p>bagaimana mencegah terjadinya kelalaian dalam praktek keperawatan. </p></li><li><p> 3 </p><p>C. Metode Penulisan </p><p>Metode penulisan makalah ini dengan membuat kasus yang sering terjadi di </p><p>ruang rawat keperawatan dan membahasnya, kemudian kelompok </p><p>mendiskusikannya dengan menggunakan studi lieratur kepustakaan. </p><p>D. Sistematika Penulisan </p><p>Penulisan makalah kelompok ini terdiri dari lima bab, yang terdiri dari: </p><p>Bab I, pendahuluan ; yang terdiri dari latar belakang, tujuan penulisan, metode </p><p>penulisan dan sistematika penulisan, Bab II, tinjauan teoritis yang terdiri dari ; </p><p>definisi kelalaian dan malpraktek, jenis-jenis kelalaian, kelalaian dilihat dari </p><p>segi etik dan hukum, Liabilitas dala keperawatan, Bab III; Pembahasan, dibab </p><p>ini akan dibahas kasus yang sering terjadi diruang rawat keperawatan, baik </p><p>dari penyebab terjadinya kelalaian, apa bentuk kelalaian, bagaimana </p><p>mencegah dan menangani bila timbul kelalaian. Bab IV merupakan penutup, </p><p>terdiri dari kesimpulan dan saran. </p></li><li><p> 4 </p><p>BAB II </p><p>TINJAUAN TEORITIS </p><p>A. Beberapa Definisi </p><p>1. Hukum dalam keperawatan </p><p>Hukum adalah kumpulan peraturan yang berisi kaidah-kaidah hukum, </p><p>sedangkan etika adalah kumpulan peraturan yang berisi kaidah-kaidah non </p><p>hukum, yaitu kaidah-kaidah tingkah laku (etika) (Supriadi, 2001). </p><p>Hukum adalah A binding custom or practice of acommunity: a rule of </p><p>conduct or action, prescribed or fomally recognized as binding or </p><p>enforced by a controlling authority (Websters, 2003). </p><p>Banyak sekali definisi-definisi yang berkaitan dengan hukum, tetapi yang </p><p>penting adalah hukum itu sifatnya rasionalogic, sedangkan tentang hukum </p><p>dalam keperawatan adalah kumpulan peraturan yang berisi kaidah-kaidah </p><p>hukum keperawatan yang rasionalogic dan dapat dipertanggung jawabkan. </p><p>Fungsi hukum dalam keperawatan, sebagai berikut: </p><p>a. Memberi kerangka kerja untuk menetapkan kegiatan praktek </p><p>perawatan apa yang legal dalam merawat pasien. </p><p>b. Membedakan tanggung jawab perawat dari profesi kesehatan lain </p><p>c. Membantu menetapkan batasan yang independen tentang kegiatan </p><p>keperawatan </p><p>d. Membantu mempertahankan standar praktek keperawatan dengan </p><p>membuat perawat akontabilitas dibawah hukum yang berlaku </p><p>2. Malpraktek </p><p>Balcks law dictionary mendefinisikan malpraktek sebagai professional </p><p>misconduct or unreasonable lack of skill atau failure of one rendering </p><p>professional services to exercise that degree of skill and learning </p><p>commonly applied under all the circumstances in the community by the </p></li><li><p> 5 </p><p>average prudent reputable member of the profession with the result of </p><p>injury, loss or damage to the recipient of those services or those entitled to </p><p>rely upon them. </p><p>Bila dilihat dari definisi diatas maka malpraktek dapat terjadi karena </p><p>tindakan yang disengaja (intentional) seperti pada misconduct tertentu, </p><p>tindakan kelalaian (negligence), ataupun suatu kekurang-</p><p>mahiran/ketidakkompetenan yang tidak beralasan (Sampurno, 2005). </p><p>Malpraktek dapat dilakukan oleh profesi apa saja, tidak hanya dokter, </p><p>perawat. Profesional perbankan dan akutansi adalah beberapa profesi yang </p><p>dapat melakukan malpraktek. </p><p>3. Kelalaian (Negligence) </p><p>Kelalaian tidak sama dengan malpraktek, tetapi kelalaian termasuk dalam </p><p>arti malpraktik, artinya bahwa dalam malpraktek tidak selalu ada unsur </p><p>kelalaian. </p><p>Kelalaian adalah segala tindakan yang dilakukan dan dapat melanggar </p><p>standar sehingga mengakibatkan cidera/kerugian orang lain (Sampurno, </p><p>2005). </p><p>Sedangkan menurut amir dan hanafiah (1998) yang dimaksud dengan </p><p>kelalaian adalah sikap kurang hati-hati, yaitu tidak melakukan apa yang </p><p>seseorang dengan sikap hati-hati melakukannya dengan wajar, atau </p><p>sebaliknya melakukan apa yang seseorang dengan sikap hati-hati tidak </p><p>akan melakukannya dalam situasi tersebut. </p><p>Negligence, dapat berupa Omission (kelalaian untuk melakukan sesuatu </p><p>yang seharusnya dilakukan) atau Commission (melakukan sesuatu secara </p><p>tidak hati-hati). (Tonia, 1994). </p></li><li><p> 6 </p><p>Dapat disimpulkan bahwa kelalaian adalah melakukan sesuatu yang </p><p>harusnya dilakukan pada tingkatan keilmuannya tetapi tidak dilakukan </p><p>atau melakukan tindakan dibawah standar yang telah ditentukan. Kelalaian </p><p>praktek keperawatan adalah seorang perawat tidak mempergunakan </p><p>tingkat ketrampilan dan ilmu pengetahuan keperawatan yang lazim </p><p>dipergunakan dalam merawat pasien atau orang yang terluka menurut </p><p>ukuran dilingkungan yang sama. </p><p>B. Jenis-jenis kelalaian </p><p>Bentuk-bentuk dari kelalaian menurut sampurno (2005), sebagai berikut: </p><p>1. Malfeasance : yaitu melakukan tindakan yang menlanggar hukum atau </p><p>tidak tepat/layak, misal: melakukan tindakan keperawatan tanpa indikasi </p><p>yang memadai/tepat </p><p>2. Misfeasance : yaitu melakukan pilihan tindakan keperawatan yang tepat </p><p>tetapi dilaksanakan dengan tidak tepat </p><p>Misal: melakukan tindakan keperawatan dengan menyalahi prosedur </p><p>3. Nonfeasance : Adalah tidak melakukan tindakan keperawatan yang </p><p>merupakan kewajibannya. </p><p>Misal: Pasien seharusnya dipasang pengaman tempat tidur tapi tidak </p><p>dilakukan. </p><p>Sampurno (2005), menyampaikan bahwa suatu perbuatan atau sikap tenaga </p><p>kesehatan dianggap lalai, bila memenuhi empat (4) unsur, yaitu: </p><p>1. Duty atau kewajiban tenaga kesehatan untuk melakukan tindakan atau </p><p>untuk tidak melakukan tindakan tertentu terhadap pasien tertentu pada </p><p>situasi dan kondisi tertentu. </p><p>2. Dereliction of the duty atau penyimpanagan kewajiban </p><p>3. Damage atau kerugian, yaitu segala sesuatu yang dirasakan oleh pasien </p><p>sebagai kerugian akibat dari layanan kesehatan yang diberikan oleh </p><p>pemberi pelayanan. </p></li><li><p> 7 </p><p>4. Direct cause relationship atau hubungan sebab akibat yang nyata, dalam </p><p>hal ini harus terdapat hubungan sebab akibat antara penyimpangan </p><p>kewajiban dengan kerugian yang setidaknya menurunkan Proximate </p><p>cause </p><p>C. Liabilitas dalam praktek keperawatan </p><p>Liabilitas adalah tanggungan yang dimiliki oleh seseorang terhadap setiap </p><p>tindakan atau kegagalan melakukan tindakan. Perawat profesional, seperti </p><p>halnya tenaga kesehatan lain mempunyai tanggung jawab terhadap setiap </p><p>bahaya yang timbulkan dari kesalahan tindakannya. Tanggungan yang </p><p>dibebankan perawat dapat berasal dari kesalahan yang dilakukan oleh perawat </p><p>baik berupa tindakan kriminal kecerobohan dan kelalaian. </p><p>Seperti telah didefinisikan diatas bahwa kelalaian merupakan kegagalan </p><p>melakukan sesuatu yang oleh orang lain dengan klasifikasi yang sama, </p><p>seharusnya dapat dilakukan dalam situasi yang sama, hal ini merupakan </p><p>masalah hukum yang paling lazim terjadi dalam keperawatan. Terjadi akibat </p><p>kegagalan menerapkan pengetahuan dalam praktek antara lain disebabkan </p><p>kurang pengetahuan. Dan dampak kelalaian ini dapat merugikan pasien. </p><p>Sedangkan akuntabilitas adalah konsep yang sangat penting dalam praktik </p><p>keperawatan. Akuntabilitas mengandung arti dapat mempertaggung jawabkan </p><p>suatu tindakan yang dilakukan dan dapat menerima konsekuensi dari tindakan </p><p>tersebut (Kozier, 1991). </p><p>D. Dasar hukum perundang-undangan praktek keperawatan. </p><p>Beberapa perundang-undangan yang melindungi bagi pelaku dan penerima </p><p>praktek keperawatan yang ada di Indonesia, adalah sebagai berikut: </p><p>1. Undang undang No.23 tahun 1992 tentang kesehatan, bagian kesembilan </p><p>pasal 32 (penyembuhan penyakit dan pemulihan) </p><p>2. Undang undang No.8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen </p></li><li><p> 8 </p><p>3. Peraturan menteri kesehatan No.159b/Men.Kes/II/1998 tentang Rumah </p><p>Sakit </p><p>4. Peraturan Menkes No.660/MenKes/SK/IX/1987 yang dilengkapi surat </p><p>ederan Direktur Jendral Pelayanan Medik No.105/Yan.Med/RS. </p><p>Umdik/Raw/I/88 tentang penerapan standard praktek keperawatan bagi </p><p>perawat kesehatan di Rumah Sakit. </p><p>5. Kepmenkes No.647/SK/IV/2000 tentang registrasi dan praktik perawat </p><p>dan direvisi dengan SK Kepmenkes No.1239/Menkes/SK/XI/2001 tentang </p><p>registrasi dan praktik perawat. </p><p>Perlindungan hukum baik bagi pelaku dan penerima praktek keperawatan </p><p>memiliki akontabilitas terhadap keputusan dan tindakannya. Dalam </p><p>menjalankan tugas sehari-hari tidak menutup kemungkinan perawat berbuat </p><p>kesalahan baik sengaja maupun tidak sengaja. Oleh karena itu dalam </p><p>menjalankan prakteknya secara hukum perawat harus memperhatikan baik </p><p>aspek moral atau etik keperawatan dan juga aspek hukum yang berlaku di </p><p>Indonesia. Fry (1990) menyatakan bahwa akuntabilitas mengandung dua </p><p>komponen utama, yakni tanggung jawab dan tanggung gugat. Hal ini berarti </p><p>tindakan yang dilakukan perawat dilihat dari praktik keperawatan, kode etik </p><p>dan undang-undang dapat dibenarkan atau absah (Priharjo, 1995) </p><p>E. Tanggung jawab profesi perawat </p><p>Perawat adalah salah satu pekerjaan yang memiliki ciri atau sifat yang sesuai </p><p>dengan ciri-ciri profesi. Saat ini Indonesia sudah memiliki pendidikan profesi </p><p>keperawatan yang sesuai dengan undang-undang sisdiknas, yaitu pendidikan </p><p>keprofesian yang diberikan pada orang yang telah memiliki jenjang S1 di </p><p>bidang keperawatan, bahkan sudah ada pendidikan spesialis keperawatan. </p><p>Organisasi profesi keperawatan telah memiliki standar profesi walaupun </p><p>secara luas sosialisasi masih berjalan lamban. Karena Tanggung jawab dapat </p><p>dipandang dalam suatu kerangka sistem hirarki, dimulai dati tingkat individu, </p><p>tingkat institusi/profesional dan tingkat sosial (Kozier,1991) </p></li><li><p> 9 </p><p>Profesi perawat telah juga memiliki aturan tentang kewenangan profesi, </p><p>yang memiliki dua aspek, yaitu kewenangan material dan kewenangan formil. </p><p>Kewenagan material diperoleh sejak seseorang memperoleh kompetensi dan </p><p>kemudian ter-registrasi, yang disebut sebagai Surat ijin perawat (SIP) dalam </p><p>kepmenkes 1239. sedangkan kewenangan formil adalah ijin yang memberikan </p><p>kewenangan kepada perawat (penerimanya) untuk melakukan praktek profesi </p><p>perawat, yaitu Surat Ijin Kerja (SIK) bila bekerja didalam suatu institusi dan </p><p>Surat Ijin Praktik Perawat (SIPP) bila bekerja secara perorangan atau </p><p>kelompok. (Kepmenkes 1239, 2001) </p><p>Kewenangan profesi haruslah berkaitan dengan kompetensi profesi, tidak </p><p>boleh keluar dari kompetensi profesi. Kewenangan perawat melakukan </p><p>tindakan diluar kewenangan sebagaimana disebutkan dalam pasal 20 </p><p>Kepmenkes 1239 adalah bagian dari good samaritan law yang memang diakui </p><p>diseluruh dunia. Otonomi kerja perawat dimanifestasikan ke dalam adanya </p><p>organisasi profesi, etika profesi dan standar pelayanan profesi. Oragnisasi </p><p>profesi atau representatif dari masyrakat profesi harus mampu melaksanakan </p><p>self-regulating, self-goverming dan self-disciplining, dalam rangka </p><p>memberikan jaminan kepada masyarakat bahwa perawat berpraktek adalah </p><p>perawat yang telah kmpeten dan memenuhi standar. </p><p>Etika pr...</p></li></ul>