Tugas Mandiri Etika Profesi

Download Tugas Mandiri Etika Profesi

Post on 29-Nov-2015

84 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Makalah Etika Profesi , Contoh pelanggaran Etika Profesi Pegawai Negeri Sipil (PNS)A. Latar BelakangPegawai Negeri Sipil (PNS) adalah orang yang diangkat oleh negara dan kemudian dipekerjakan untuk kepentingan melayani masyarakat. Orang yang diangkat menjadi PNS tersebuut digaji oleh masyarakat melalui pajak, dimana gaji mereka itu dialokasikan dari Anggaran Pemasukan dan Pengeluaran Belanja Negara. PNS adalah salah satu instansi yang melekat dari eksistensi atau keberadaan lembaga eksekutif, lembaga yang menjalankan kebijakan yang dirumuskan oleh lembaga legislatif.Setelah adanya Reformasi 1998, terjadi perubahan paradigma kepemerintahan. Pegawai Negeri Sipil yang sebelumnya dikenal sebagai alat kekuasaan pemerintah, kini diharapkan menjadi unsur aparatur negara yang profesional dan netral dari pengaruh semua golongan dari partai politik (misalnya menggunakan fasilitas negara untuk golongan tertentu) serta tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Untuk menjamin netralitas tersebut, pegawai negeri dilarang menjadi anggota atau pengurus partai politik. Pegawai Negeri Sipil memiliki hak memilih dalam Pemilu, sedangkan anggota TNI maupun Polri, tidak memiliki hak memilih atau dipilih dalam Pemilu. Berdasarkan PP Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pegawai Negeri Sipil yang menjadi anggota partai politik jo PP Nomor 12 Tahun 1999.

TRANSCRIPT

<p>TUGAS MANDIRI</p> <p>Pelanggaran Kode Etik PNS</p> <p>Mata Kuliah : Etika Profesi</p> <p>Nama Mahasiswa: Dina Septiana</p> <p>NPM : 100810095Kode Kelas: Karol Teovani Lodan, S.AP, M.AP.UNIVERSITAS PUTERA BATAM </p> <p>2013</p> <p>KATA PENGANTARSegala puji bagi Allah SWT atas kemudahan yang diberikanNya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Pelanggaran Kode Etik PNS ini dengan baik. Makalah ini diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Etika Profesi.</p> <p>Penulis menyampaikan terima kasih kepada Bapak Karol Teovani Lodan, S.AP, M.AP. selaku dosen pengampu mata kuliah Etika Profesi penulis, dan kepada kedua orang tua penulis atas semua dukungan dan semangat yang diberikan kepada penulis serta kepada teman-teman seperjuangan penulis.</p> <p>Makalah ini tentunya masih jauh dari sempurna, oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna menyempurnakan makalah ini.</p> <p>Semoga makalah ini memberikan informasi dan bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan bagi kita semua.</p> <p>Batam, 7 Juni 2013</p> <p>Dina Septiana</p> <p>DAFTAR ISI</p> <p>Halaman Judul .i</p> <p>Kata Pengantar 1</p> <p>Daftar Isi .2</p> <p>BAB I PENDAHULUAN3</p> <p>A. Latar Belakang3</p> <p>BAB II TINJAUAN PUSTAKA..5</p> <p>BAB III PEMBAHASAN...9</p> <p>A. Kronologis Kasus Gayus9B. Kasus Gayus menurut Kode Etik Profesi..14BAB IV PENUTUP..18</p> <p>A. Kesimpulan.18B. Saran18DAFTAR PUSTAKA.19</p> <p>BAB I</p> <p>PENDAHULUAN</p> <p>A. Latar BelakangPegawai Negeri Sipil (PNS) adalah orang yang diangkat oleh negara dan kemudian dipekerjakan untuk kepentingan melayani masyarakat. Orang yang diangkat menjadi PNS tersebuut digaji oleh masyarakat melalui pajak, dimana gaji mereka itu dialokasikan dari Anggaran Pemasukan dan Pengeluaran Belanja Negara. PNS adalah salah satu instansi yang melekat dari eksistensi atau keberadaan lembaga eksekutif, lembaga yang menjalankan kebijakan yang dirumuskan oleh lembaga legislatif.Setelah adanya Reformasi 1998, terjadi perubahan paradigma kepemerintahan. Pegawai Negeri Sipil yang sebelumnya dikenal sebagai alat kekuasaan pemerintah, kini diharapkan menjadi unsur aparatur negara yang profesional dan netral dari pengaruh semua golongan dari partai politik (misalnya menggunakan fasilitas negara untuk golongan tertentu) serta tidak diskriminatif dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Untuk menjamin netralitas tersebut, pegawai negeri dilarang menjadi anggota atau pengurus partai politik. Pegawai Negeri Sipil memiliki hak memilih dalam Pemilu, sedangkan anggota TNI maupun Polri, tidak memiliki hak memilih atau dipilih dalam Pemilu. Berdasarkan PP Nomor 5 Tahun 1999 tentang Pegawai Negeri Sipil yang menjadi anggota partai politik jo PP Nomor 12 Tahun 1999. Beberapa inti pokok materi dalam PP tersebut adalah:</p> <p>1) Sebagai aparatur negara, abdi negara dan abdi masyarakat dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, maka Pegawai Negeri Sipil harus bersikap netral dan menghindari penggunaan fasilitas negara untuk golongan tertentu. Selain itu juga dituntut tidak diskriminatif khususnya dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.</p> <p>2) Pegawai Negeri Sipil yang telah menjadi anggota atau pengurus partai politik pada saat PP ini ditetapkan dianggap telah melepaskan keanggotaan dan/atau kepengurusannya (hapus secara otomatis).</p> <p>3) Pegawai Negeri Sipil yang tidak melaporkan keanggotaan dan/atau kepengurusannya dalam partai politik, diberhentikan tidak dengan hormat sebagai Pegawai Negeri Sipil.</p> <p>4) Pegawai Negeri Sipil yang ingin menjadi anggota atau pengurus partai politik harus mengajukan permohonan kepada atasan langsungnya (peraturan pelaksanaan yang dikeluarkan Badan Kepegawaian Negara).</p> <p>5) Pegawai Negeri Sipil yang mengajukan permohonan sebagai anggota/pengurus partai politik diberikan uang tunggu selama satu tahun. Apabila dalam satu tahun tetap ingin menjadi anggota atau pengurus partai politik, maka yang bersangkutan diberhentikan dengan hormat dan mendapat hak pensiun bagi yang telah mencapai Batas Usia Pensiun (BUP).Pegawai Negeri Sipil berkumpul di dalam organisasi Pegawai Negeri Sipil atau Korps Pegawai Republik Indonesia (KORPRI). Tujuan organisasi ini adalah memperjuangkan kesejahteraan dan kemandirian Pegawai Negeri Sipil. Terwujudnya KORPRI sebagai organisasi yang kuat, netral, mandiri, profesional dan terdepan dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, mensejahterakan anggota, masyarakat, dan melindungi kepentingan para anggota agar lebih profesional di dalam membangun pemerintahan yang baik.BAB II</p> <p>TINJAUAN PUSTAKA</p> <p>Pengertian Etika menurut :</p> <p>Kamus Besar Bhs. Indonesia (1995) Etika adalah Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.Etika adalah Ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk, tentang hak dan kewajiban moral.Maryani &amp; Ludigdo (2001) Etika adalah Seperangkat aturan atau norma atau pedoman yang mengatur perilaku manusia, baik yang harus dilakukan maupun yang harus ditinggalkan yang di anut oleh sekelompok atau segolongan masyarakat atau profesi.Dari asal usul kata, Etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti adat istiadat/ kebiasaan yang baik Perkembangan etika yaitu Studi tentang kebiasaan manusia berdasarkan kesepakatan, menurut ruang dan waktu yang berbeda, yang menggambarkan perangai manusia dalam kehidupan pada umumnya.</p> <p>Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pelanggaran Etika :</p> <p>Kebutuhan Individu</p> <p>Tidak Ada Pedoman</p> <p>Perilaku dan Kebiasaan Individu Yang Terakumulasi dan Tak Dikoreksi</p> <p>Lingkungan Yang Tidak Etis</p> <p>Perilaku Dari KomunitasSanksi Pelanggaran Etika :</p> <p>Sanksi Sosial adalah Skala relatif kecil, dipahami sebagai kesalahan yangdapat dimaafkan.</p> <p>Sanksi Hukum adalah Skala besar, merugikan hak pihak lain.Jenis-jenis Etika :</p> <p>Etika umum yang berisi prinsip serta moral dasar .</p> <p>Etika khusus atau etika terapan yang berlaku khusus.Ada tiga prinsip dasar perilaku yang etis :</p> <p>Hindari pelanggaran etika yang terlihat remeh. Meskipun tidak besar sekalipun, suatu ketika akan menyebabkan konsekuensi yang besar pada profesi.</p> <p>Pusatkan perhatian pada reputasi jangka panjang. Disini harus diingat bahwa reputasi adalah yang paling berharga, bukan sekadar keuntungan jangka pendek.</p> <p>Bersiaplah menghadapi konsekuensi yang kurang baik bila berpegang pada perilaku etis. Mungkin akuntan akan menghadapi masalah karier jika berpegang teguh pada etika. Namun sekali lagi, reputasi jauh lebih penting untuk dipertahankan.</p> <p>Kode Etik Pegawai Negeri Sipil</p> <p>1) Etika dalam bernegara meliputi:</p> <p>a. Melaksanakan sepenuhnya pancasila dan undang-undang dasar 1945;</p> <p>b. Mengangkat harkat dan martabat bangsa dan negara;</p> <p>c. Menjadi perekat dan pemersatu bangsa dalam negara kesatuan republik indonesia;</p> <p>d. Menaati semua peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam melaksanakan tugas;</p> <p>e. Akuntabel dalam melaksanakan tugas penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan berwibawa;</p> <p>f. Tanggap, terbuka, jujur, dan akurat, serta tepat waktu dalam melaksanakan setiap kebijakan dan program pemer intah;</p> <p>g. Menggunakan atau memanfaatkan semua sumber daya negara secara efisien dan efektif;</p> <p>h. Tidak memberikan kesaksian palsu atau keterangan yang tidak benar.2) Etika dalam berorganisasi adalah:</p> <p>a. melaksanakan tugas dan wewenang sesai</p> <p>b. ketentuan yang berlaku;</p> <p>c. menjaga informasi yang bersitat rahasia;</p> <p>d. melaksanakan setiap kebijakan yang ditetapkan oleh pejabat yang berwenang;</p> <p>e. membangun etos kerja untnk meningkatkan kinerja organisasi;</p> <p>f. menjalin kerja sama secara kooperatif dengan unit kerja lain yang terkait dalam rangka pencapaian tujuan;</p> <p>g. memiliki kompetensi dalam pe laksanaan tugas;</p> <p>h. patuh dan taat terhadap standar operasional dan tata kerja;</p> <p>i. mengembangkan pemikiran secara kreatif dan inova tif dalam rangka peningkatan kinerja organisasi;</p> <p>j. berorientasi pada upaya peningkatan kualias kerja.</p> <p>3) Etika dalam bermasyarakat meliputi:</p> <p>a. mewujudkan pola hidup sederhana;</p> <p>b. memberikan pelayanan dengan empati horma t dan santun tanpa pamrih dan tanpa unsur pemaksaan;</p> <p>c. memberikan pelayanan secara cepat, tepal, terbuka, dan adil serta tidak diskriminatif;</p> <p>d. tanggap terhadap keadaan lingkungan masyarakat;</p> <p>e. berorientasi kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam melaksanakan tugas.4) Etika terhadap diri sendiri meliputi :</p> <p>a. jujur dan terbuka serta tidak memberikan informasi yang tidak benar.</p> <p>b. bertindak dengan penuh kesungguhan dan ketulusan;</p> <p>c. menghindari konflik kepentingan pribadi, kelompok, maupun golongan;</p> <p>d. berinisia tif untuk meningkatkan kualitas pengetahuan, kemampuan, keterampilan, dan sikap;</p> <p>e. memiliki daya juang yang tinggi;</p> <p>f. meme lihara kesehatan jasmani dan rohani;</p> <p>g. menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga;</p> <p>h. berpenampilan sederhana, rapih, dan sopan.5) Etika terhadap sesama Pegawai Negeri Sipil:</p> <p>a. saling menghormati sesama warga negara yang memeluk agama/kepercayaan yang berlainan;</p> <p>b. memelihara rasa persatuan dan kesatuan sesama Pegawai Negeri Sipil;</p> <p>c. saling menghormati antara teman sejawat, baik secara vertikal maupun horizonta l dalam suatu unit kerja, instansi, maupun antar instansi;</p> <p>d. menghargai perbedaan pendapat;</p> <p>e. menjunjung tinggi harkat dan martabat Pegawai Negeri Sipil;</p> <p>f. menjaga dan menjalin kerja sama yang kooperatif sesama Pegawai Negeri Sipil;</p> <p>g. berhimpun dalam satu wadah Korps Pegawai Republik Indonesia yang menjamin terwujudnya solidaritas dan soliditas semua Pegawai Negeri Sipil dalam memperjuangkan hak- haknya.</p> <p>BAB III</p> <p>PEMBAHASAN</p> <p>A. Kronologis Kasus Gayus</p> <p>Gambar: Artikel yang membahas tentang kasus Gayus Tambunan</p> <p>Pada akhir-akhir ini, perpajakan disoroti berbagai pihak dalam berbagai sudut pandang. Hal ini terkait dengan munculnya dugaan kasus mafia pajak yang dilakukan oleh pegawai negeri sipil dari Ditjen Pajak yaitu Gayus Halomoan Tambunan. Gayus seorang PNS Direktorat Keberatan dan Banding Dirjen Pajak. Kasus bermula dari kecurigaan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) terhadap rekening milik Gayus di Bank Panin. Kemudian pihak Kejagung menunjuk 4 jaksa untuk mengikuti perkembangan penyidikan tersebut. Mereka adalah Cirus Sinaga, Fadil Regan, Eka Kurnia dan Ika Syafitri. Berkas perkara tersebut dikirim pada 7 Oktober 2009. Di dalam SPDP, tersangka Gayus diduga melakukan money laundring, tindak pidana korupsi dan penggelapan. Analisa yang dibangun oleh Jaksa Peneliti melihat pada status Gayus yang merupakan seorang PNS pada Direktorat Keberatan dan Banding Dirjen Pajak kecil kemungkinan memiliki dana atau uang sejumlah Rp 25 Miliar pada Bank Panin, Jakarta.Dalam berkas yang dikirimkan penyidik Polri, Gayus dijerat dengan tiga pasal berlapis yakni pasal korupsi, pencucian uang, dan penggelapan. Karena Gayus seorang pegawai negeri dan memiliki dana Rp. 25 miliar di Bank Panin. Seiring hasil penelitian jaksa, hanya terdapat satu pasal yang terbukti terindikasi kejahatan dan dapat dilimpahkan ke Pengadilan, yaitu penggelapannya. Itu pun tidak terkait dengan uang senilai Rp.25 milliar yang diributkan PPATK dan Polri itu. Untuk korupsinya, terkait dana Rp 25 milliar itu tidak dapat dibuktikan sebab dalam penelitian ternyata uang sebesar itu merupakan produk perjanjian Gayus dengan Andi Kosasih. Pengusaha garmen asal Batam ini mengaku pemilik uang senilai hampir Rp 25 miliar di rekening Bank Panin milik Gayus.Pada 2002, Gayus Tambunan mengaku pernah satu pesawat dengan pengusaha properti Andi Kosasih. Mereka lalu berkawan baik, karena sama-sama besar di Jakarta Utara.Setelah perkenalan singkat itu mereka saling bercerita tentang profesi masing-masing. Andi memperkenalkan dirinya sebagai pengusaha bidang properti khusus pembangunan rumah toko (ruko) berdomisili di Batam dan Jakarta. Karena pertemanan keduanya, maka kemudian terjadilah hubungan kerjasama bisnis diantara keduanya atas dasar saling percaya. Gayus diberi kepercayaan oleh Andi untuk mencari tanah yang hendak digunakan untuk membangun ruko seluas 2 hektar di kawasan Jakarta Utara. Kemudian, akhirnya mereka membuat perjanjian bisnis secara tertulis pada 25 Mei 2008. Biaya yang dibutuhkan untuk pengadaan tanah tersebut sebesar US$ 6 juta. Namun Andi, baru menyerahkan uang sebesar US$ 2.810.000. Andi menyerahkan uang tersebut kepada Gayus melalui transaksi tunai di rumah orang tua istri Gayus lengkap dengan kwitansinya, sebanyak enam kali yaitu pada pada 1 juni 2008 sebesar US$ 900.000 US dolar, kemudian 15 September 2008 sebesar US$ 650.000, 27 Oktober 2008 sebesar US$ 260.000, lalu pada 10 November 2008 sebesar US$ 200.000, 10 Desember 2008 sebesar US$ 500.000, dan terakhir pada 16 Februari 2009 sebesar US$ 300.000.Andi menyerahkan uang karena dia percaya dengan Gayus. Sementara untuk money laundringnya, tetap menjadi dugaan sebab Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK) sama sekali tidak dapat membuktikan uang senilai Rp 25 milliar itu merupakan uang hasil kejahatan pencucian uang (money laundring). PPATK sendiri telah dihadirkan dalam kasus itu sebagai saksi. Dalam proses perkara itu, PPATK tidak bisa membuktikan transfer rekening yang yang diduga tindak pidana.Dalam perkembangan proses penyidikan kasus tersebut, ditemukan juga adanya aliran dana senilai Rp 370 juta di rekening lainnya di bank BCA milik Gayus. Uang itu diketahui berasal dari dua transaksi dari PT.Mega Cipta Jaya Garmindo. PT. Mega Cipta Jaya Garmindo dimiliki oleh pengusaha Korea, Mr. Son dan bergerak di bidang garmen. Transaksi dilakukan dalam dua tahap yaitu pada 1 September 2007 sebesar Rp 170 juta dan 2 Agustus 2008 sebesar Rp 200 juta.Setelah diteliti dan disidik, uang itu diketahui bukan merupakan korupsi dan money laundring juga. Bukan korupsi, bukan money laundering, tetapi penggelapan pajak murni. Itu uang untuk membantu pengurusan pajak pendirian pabrik garmen di Sukabumi. Tetapi setelah dicek, pemiliknya Mr Son, warga Korea, tidak diketahui keberadaannya di mana. Tetapi uang masuk ke rekening Gayus. Namun ternyata dia tidak mengurus (pajaknya). Uang itu tidak digunakan dan dikembalikan, jadi hanya diam di rekening Gayus.Berkas P-19 dengan petujuk jaksa untuk memblokir dan kemudian menyita uang senilai Rp 370 juta itu. Dalam petunjuknya itu, jaksa peneliti juga meminta penyidik Polri menguraikan di berkas acara pemeriksaan (BAP) keterangan itu beserta keterangan tersangka (Gayus T Tambunan).Sebelumnya, penyidik Polri melalui AKBP Margiani, dalam keterangan persnya mengungkapkan jaksa peneliti dalam petunjuknya (P-19) berkas Gayus memerintahkan penyidik untuk menyita besaran tiga transaksi mencurigakan di rekening Gayus. Adapun tiga transaksi itu diketahui berasal dari dua pihak, yaitu Roberto Santonius dan PT. Mega Jaya Citra Termindo. Transaksi yang berasal dari Roberto, yang diketahui sebagai konsultan pajak bernilai Rp 25 juta, sedangkan dari PT. Mega Jaya Citra Termindo senilai Rp 370 juta. Transaksi itu terjadi pada 18 Maret, 16 Juni, dan 14 Agustus 2009.Uang senilai Rp 395 juta itu disita berdasarkan petunj...</p>