tugas endokrinologi ayu

Download Tugas Endokrinologi Ayu

Post on 07-Dec-2015

218 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

baik

TRANSCRIPT

1. PATOFISIOLOGI INSULIN SECRETAGOGUE DAN SENSITIZER

a) Pemicu Sekresi Insulin (Insulin Secretagogue) (1) Sulfonilurea

Golongan obat ini bekerja dengan merangsang sel beta pankreas untuk melepaskan insulin yang tersimpan sehingga obat ini tidak dapat dipakai pada diabetes tipe I. Mekanisme kerja obat golongan sulfonilurea yaitu, menstimulasi pelepasan insulin yang tersimpan (stored insulin), menurunkan ambang sekresi insulin, meningkatkan sekresi insulin sebagai akibat rangsangan glukosa. Obat golongan ini merupakan pilihan untuk pasien diabetes dewasa dengan berat badan normal dan kurang serta tidak pernah mengalami ketoasidosis sebelumnya. Sulfonilurea sebaiknya tidak diberikan pada penyakit hati, ginjal, dan tiroid. Contoh obat sulfonilurea generasi pertama adalah asetoheksamida, klorpropamida, tolazamida, dan tolbutamida, sedangkan generasi kedua antara lain gliburida (glibenklamida), glipizida, glikasida, glimepirida, dan glikuidon. Obat golongan ini semuanya mempunyai cara kerja yang serupa, berbeda dalam hal masa kerja, degradasi, dan aktivitas metabolitnya. Pada pemakaian sulfonilurea, umumnya selalu dimulai dengan dosis rendah untuk menghindari kemungkinan hipoglikemia. Untuk menghindari resiko hipoglikemia berkepanjangan pada berbagai keadaan seperti orang tua, gangguan faal ginjal dan hati, kurang nutrisi serta penyakit kardiovaskular, tidak dianjurkan penggunaan sulfonilurea kerja panjang. Efek sampingnya yang terpenting adalah hipoglikemia yang dapat terjadi secara terselubung adakalanya tanpa gejala khas, khususnya pada derivat seperti glibenklamida. Kadar glukosa darah puasa dimonitor setiap 2 minggu dan HbA1C setiap 3 bulan. (2) Glinid Glinid merupakan obat generasi baru yang cara kerjanya sama dengan sulfonilurea, dengan penekanan peningkatan sekresi insulin fase pertama. Golongan ini terdiri dari 2 macam obat yaitu : Repaglinid (derivat asam benzoat) dan Nateglinid (derivat fenialanin). Kedua obat ini diabsorbsi dengan cepat setelah pemberian secara oral dan di ekskresi secara cepat melalui hati. Obat ini dapat mengatasi hiperglikemi post prandial.

b) Penambah Sensitivitas terhadap Insulin (Insulin Sensitizing) (1) Biguanid Biguanid tidak merangsang sekresi insulin dan menurunkan kadar glukosa darah sampai normal (euglikemia) serta tidak pernah menyebabkan hipoglikemia. Contoh obat golongan ini adalah metformin. Metformin tidak menyebabkan kenaikan berat badan seperti pada pemakaian sulfonilurea. Metformin digunakan sebagai terapi tunggal dan terapi kombinasi dengan sulfonilurea, glinid, thiazolidindione, dan insulin. Metformin dikontraindikasikan pada laki-laki dengan serum kreatinin > 1,5 mg/dl dan wanita dengan serum kreatinin > 1,4 mg/dl, pasien gangguan hati, congestive heart failure (CHF), asidosis metabolik, dehidrasi dan pengguna alkohol berlebih.Mekanisme kerja yang diusulkan baru-baru ini meliputi stimulasi glikolisis secara langsung dalam jaringan dengan peningkatan eliminasi glukosa dari darah, penurunan glukoneogenesis hati, melambatkan absorpsi glukosa dari saluran cerna dengan peningkatan perubahan glukosa menjadi laktat oleh eritrosit, dan penurunan kadar glukagon plasma. Efek sampingnya yang paling sering terjadi berupa gangguan lambung-usus (mual, anorexia, sakit perut, diare), tetapi umumnya bersifat sementara. Yang lebih serius adalah asidosis asam laktat dan angiopati luas, terutama pada manula dan insufisiensi hati atau ginjal. Serum kreatinin dimonitor 17 pada awal penggunaan, kadar glukosa darah puasa dimonitor setiap 2 minggu dan HbA1C setiap 3 bulan. Dosis efektif maksimum 2g/hari. (2) Tiazolidindion Golongan tiazolidindion atau glitazon adalah golongan obat yang juga mempunyai efek farmakologis untuk meningkatkan sensitivitas insulin. Tiazolidindion (rosiglitazon dan pioglitazon) berikatan pada peroxisome proliferator activated receptor gamma (PPAR), suatu receptor inti di sel otot dan lemak. Reseptor PPAR terdapat di jaringan target kerja insulin seperti jaringan adiposa, otot skelet, dan hati, sedang reseptor pada organ tersebut merupakan regulator homeostasis lipid, diferensiasi adiposit, dan kerja insulin. Golongan ini mempunyai efek menuruunkan resistensi insulin dengan meningkatkan jumlah protein pengangkut glukosa, sehingga meningkatkan ambilan glukosa di perifer.Efek samping yang paling utama dari tiazolidindion (rosiglitazone dan pioglitazon) adalah udem, terutama pada pasien hipertensi dan congestive cardiac failure (Walker dan Edward, 2003). Tanda-tanda cairan tubuh yang berlebih, AST dan ALT perlu. Dikontraindikasikan pada pasien dengan ALT > 2,5 kali di atas nilai normal, penyakit hati, pengguna alkohol berlebih, penyakit jantung kelas I-IV (memperberat udema).

2. PATOFISIOLOGI TIROIDITIS HASHIMOTOMerupakan bentuk tiroiditis yang paling sering ditemukan. Adanya pembesaran kelenjar tiroid yang difus disertai kadar TSHS yang tinggi hampir selalu mengarah kepada Tiroiditis Hashimoto. Merupakan penyebab utama hipotiroidisme yg sering ditemukan di klinik selain hipotiroidisme akibat paska terapi I-131 dan hipotiroidisme akibat tiroidektomi.Merupakan penyakit autoimun yang dapat ditemukan bersamaan dengan penyakit autoimun lainnya seperti Reumatoid artritis, SLE, penyakit Addison, bahkan DM Tipe 1.Bentuk klasik perlangsungan Tiroiditis Hashimoto dapat dibagi 3 tahap :1. Tahap awal ditemukan tirotoksikosis ringan2. Menjadi eutiroid3. Berakhir dengan hipotiroidisme ( paling banyak ditemukan )

Patofisiologi Tiroiditis HashimotoPenyakit tiroid autoimun (PTAI) adalah penyakit yang kompleks, dengan faktor penyebab multifaktorial berupa interaksi antara gen yang suseptibel dengan faktor pemicu lingkungan, yang mengawali respon autoimun terhadap antigen tiroid.Walaupun etiologi pasti respon imun tersebut masih belum diketahui, berdasarkan data epidemiologik diketahui bahwa faktor genetik sangat berperan dalam patogenesis PTAI.Selanjutnya diketahui pula pada PTAI terjadi kerusakan seluler dan perubahan fungsi tiroid melalui mekanisme imun humoral dan seluler yang bekerja secara bersamaan.Kerusakan seluler terjadi karena limfosit T tersensitisasi (sensitized T-lymphocyte) dan/atau antibodi antitiroid berikatan dengan membran sel tiroid, mengakibatkan lisis sel dan reaksi inflamasi. Sedangkan gangguan fungsi terjadi karena interaksi antara antibodi antitiroid yang bersifatstimulatorataublockingdengan reseptor di membran sel tiroid yang bertindak sebagai autoantigen.Berikut dijelaskan mengenai patofisiologi tiroiditis Hashimoto ini dilihat dari faktor genetik dan lingkungan, yang kemudian melibatkan proses autoantigen dan autoantibodi tiroid, ditambah adanya peran sitokin serta mekanisme apoptosis yang diperkirakan terjadi pada proses penyakit ini.

a. Faktor genetikGen yg terlibat dalam patogenesis PTAI adalah gen yang mengatur respon imun sepertimajor histocompatibility complex (MHC), reseptor sel T, serta antibodi, dan gen yang mengkode (encoding) autoantigen sasaran seperti tiroglobulin, TPO (thyroid peroxidase), transporter iodium, TSHR (TSH Receptor). Dari sekian banyak gen kandidat, saat ini baru enam gen yang dapat diidentifikasi, yaitu CTLA-4 (Cytotoxic T Lymphocyte Antigen-4), CD40, HLA-DR,protein tyrosine phosphatase-22, tiroglobulin, dan TSHR.Cytotoxic T lymphocyte antigen-4 (CTLA-4) merupakan molekul kostimulator yang terlibat dalam interaksi sel T denganAntigen Presenting Cells(APC). APC akan mengaktivasi sel T dengan mempresentasikan peptide antigen yang terikat protein HLA kelas II pada permukaan reseptor sel T. Sinyal kostimulator berasal dari beberapa protein yang diekspresikan pada PC (seperti B7-1, B7-2, B7h, CD40), dan berinteraksi dengan reseptor (CD28, CTLA-4, dan CD40L) pada permukaan limfosit T CD4+ pada waktu presentasi antigen.CTLA-4 dan CD40 merupakan molekul kostimulator non-spesifik, yang dapat meningkatkan suseptibilitas terhadap PTAI dan proses autoimun lain. CTLA-4 berasosiasi dan terkait dengan berbagai bentuk PTAI (tiroiditis Hashimoto, penyakit Graves, dan pembentukan antibodi antitiroid), dan dengan penyakit autoimun lain seperti diabetes tipe 1, penyakit Addison, dan myasthenia gravis.Asosiasi antara tiroiditis Hashimoto dengan antigen HLA tidak begitu jelas. Hal ini menyangkut masalah definisi penyakit tiroditis Hashimoto yang sering kontroversial. Spektrum klinik tiroiditis Hashimoto bervariasi mulai dari hanya ditemukan antibodi antitiroid dengan infiltrasi limfositik fokal tanpa gangguan fungsi (asymptomatic autoimmune thyroiditis), sampai pembesaran kelenjar tiroid (struma) atau tiroiditis atrofik dengan kegagalan fungsi tiroid. Beberapa peneliti melaporkan asosiasi antara tiroidits Hashimoto dengan HLA-DR3 dan HLA-DQw7 pada ras Kaukasus. Pada non-Kaukasus dilaporkan asosiasi antara tiroiditis Hashimoto dengan HLA-DRw53 pada bangsa Jepang dan dengan HLA-DR9 pada bangsa Cina.

b. Faktor LingkunganBeberapa faktor lingkungan telah dapat diidentifikasi berperan sebagai penyebab penyakit tiroid autoimun, diantaranya berat badan lahir rendah, kelebihan dan kekurangan iodium, defisiensi selenium, paritas, penggunaan obat kontrasepsi oral, jarak waktu reproduksi, mikrochimerisme fetal, stres, variasi musim, alergi, rokok, kerusakan kelenjar tiroid akibat radiasi, serta infeksi virus dan bakteri.Di samping itu penggunaan obat-obat seperti lithium, interferon-, amiodarone dan Campath-1H, juga meningkatkan risiko autoimunitas tiroid. PadaTabel 2.1disajikan beberapa faktor yang terlibat dalam etiologi PTAI, berikut ringkasan mekanisme dan fenotipenya.Berat badan lahir bayi rendah merupakan faktor risiko beberapa penyakit tertentu seperti penyakit jantung kronik. Kekurangan makanan selama kehamilan dapat menyebabkan intoleransi glukosa pada kehidupan dewasa, serta rendahnya berat thymus dan limpa mengakibatkan menurunnya sel T supresor. Mungkin ada faktor intrauterin tertentu yang menghambat pertumbuhan janin, yang merupakan faktor risiko lingkungan pertama yang terpapar pad