Standar Pengembangan Profesional Untuk Guru Sains

Download Standar Pengembangan Profesional Untuk Guru Sains

Post on 14-Feb-2015

62 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>PROFESI KEPENDIDIKAN STANDAR PENGEMBANGAN PROFESIONAL UNTUK GURU SAINS</p> <p>CREATED BY: Ni Made R Mareta Dewi I Gede Okta Sutiada Karisma Aribuana Ni Luh Putu Widiasih Made Krisna Wisesa Yuda (0913021072) (0913021085) (0913021083) (0913021086) (0913021087)</p> <p>PHYSIC DEPARTEMENT FACULTY OF MATHEMATIC AND SCIENCE GANESHA UNIVERSITY OF EDUCATION SINGARAJA 2009</p> <p>KATA PENGANTAR</p> <p>Puji syukur penulis panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha Esa/Ida Sang Hyang Widhi Wasa karena atas berkat-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Standar Pengembangan Profesional untuk Guru Sains di Indonesia dan Internasional . Dalam makalah ini dijelaskan mengenai bagaimana standar pengembangan profesional untuk guru Sains di Indonesia dan Internasional beserta dengan perbandingan antara kedua standar tersebut. Makalah Proses penyusunan makalah ini tentunya tidak luput dari berbagai hambatan dan permasalahan yang dihadapi. Berkat bantuan, saran maupun kritik yang bersifat konstruktif dari berbagai pihak sehingga makalah ini dapat penulis selesaikan tepat waktu. Oleh karena itu, sebagai rasa syukur dan hormat, melalui kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih serta penghargaan yang sebesar-besarnya kepada: 1. Bapak Prof. Dr. I Wayan Suastra, M.Pd selaku dosen pengajar mata kuliah Profesi Kependidikan 2. Teman-teman mahasiswa kelas II/A di Jurusan Pendidikan Fisika yang telah memberikan bantuan maupun semangat dalam penyusunan makalah ini. 3. Pihak-pihak lain yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan baik secara material maupun nonmaterial dalam merampungkan makalah ini.</p> <p>Penulis menyadari bahwa bahwa makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan dan masih banyak hal yang harus dilengkapi. Sehingga, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan</p> <p>Singaraja, Maret 2010</p> <p>Penulis</p> <p>DAFTAR ISI</p> <p>BAB I PENDAHULUAN 1.1. 1.2. 1.3. 1.4. LATAR BELAKANG ..........................................................................................1 RUMUSAN MASALAH .............................................................................. ........2 TUJUAN ...............................................................................................................2 MANFAAT ...........................................................................................................3</p> <p>BAB II PEMBAHASAN 2.1. STANDAR PENGEMBANGAN PROFESIONAL UNTUK ...........................4 GURU SAINS INTERNASIONAL 2.1.1. Pengembangan Profesional untuk Guru Sains secara ..............................5 Berkelanjutan sebagai Proses Seumur Hidup 2.1.2. Perbedaan Klasik antara "Sasaran", "Sumber", .......................................6 dan "Pendukung" Pembangunan Guru dari Aktivitas yang Artifisial 2.1.3. Pandangan Konvensional Pengembangan Profesional ............................7 bagi Guru Perlu Bergeser untuk Pelatihan Teknis Keterampilan Khusus untuk Kesempatan-Kesempatan dalam Pertumbuhan Profesional Intelektual 2.1.4. Proses Transformasi Sekolah Mewajibkan Kesempatan .........................7 Pengembangan Profesional Secara Jelas dan Tepat Terhubung dengan Guru Bekerja dalam Konteks Sekolah 2.2. STANDAR ..........................................................................................................8 2.2.1. Pengembangan Professional Standar A ...................................................8 2.2.1.1. Pengetahuan dan Pemahaman Tentang Sains ............................9 2.2.1.2. Belajar Sains ..............................................................................10 2.2.2. Pengembangan Profesional Standar B ....................................................11 2.2.2.1. Pengajaran Sains .......................................................................11 2.2.2.2. Belajar Mengajarkan Sains .......................................................13</p> <p>2.3.</p> <p>STANDAR PENGEMBANGAN PROFESIONAL .........................................14 UNTUK GURU SAINS INDONESIA 2.3.1. Pengembangan Profesionalisme Guru .....................................................14 2.3.2. Faktor-faktor Penyebab Rendahnya Profesionalisme Guru ....................17 2.3.3. Upaya Meningkatkan Profesionalisme Guru ...........................................19 2.3.4. Tabel Perbedaan Standar Profesionalisme Guru .....................................21 Di Indonesia Dan Amerika</p> <p>BAB III KESIMPULAN DAN SARAN 3.1. 3.2. KESIMPULAN ..................................................................................................22 SARAN ..............................................................................................................22</p> <p>BAB I PENDAHULUAN</p> <p>1.1.</p> <p>LATAR BELAKANG Kita telah memasuki abad 21 yang dikenal dengan abad pengetahuan. Para peramal</p> <p>masa depan (futurist) mengatakan sebagai abad pengetahuan karena pengetahuan akan menjadi landasan utama segala aspek kehidupan (Trilling dan Hood, 1999). Abad pengetahuan merupakan suatu era dengan tuntutan yang lebih rumit dan menantang. Suatu era dengan spesifikasi tertentu yang sangat besar pengaruhnya terhadap dunia pendidikan dan lapangan kerja. Perubahan-perubahan yang terjadi selain karena perkembangan teknologi yang sangat pesat, juga diakibatkan oleh perkembangan yang luar biasa dalam ilmu pengetahuan, psikologi, dan transformasi nilai-nilai budaya. Dampaknya adalah perubahan cara pandang manusia terhadap manusia, cara pandang terhadap pendidikan, perubahan peran orang tua/guru/dosen, serta perubahan pola hubungan antar mereka. Trilling dan Hood (1999) mengemukakan bahwa perhatian utama pendidikan di abad 21 adalah untuk mempersiapkan hidup dan kerja bagi masyarakat. Tibalah saatnya menoleh sejenak ke arah pandangan dengan sudut yang luas mengenai peran-peran utama yang akan semakin dimainkan oleh pembelajaran dan pendidikan dalam masyarakat yang berbasis pengetahuan. Kemerosotan pendidikan kita sudah terasakan selama bertahun-tahun, dimana kurikulum berkali-kali dituding sebagai penyebabnya. Hal ini tercermin dengan adanya upaya mengubah kurikulum mulai kurikulum 1975 diganti dengan kurikulum 1984, kemudian diganti lagi dengan kurikulum 1994. Nasanius (1998) mengungkapkan bahwa kemerosotan pendidikan bukan diakibatkan oleh kurikulum tetapi oleh kurangnya kemampuan profesionalisme guru dan keengganan belajar siswa. Profesionalisme sebagai penunjang kelancaran guru dalam melaksanakan tugasnya, sangat dipengaruhi oleh dua faktor besar yaitu faktor internal yang meliputi minat dan bakat dan faktor eksternal yaitu berkaitan dengan lingkungan sekitar, sarana prasarana, serta berbagai latihan yang dilakukan guru.(Sumargi, 1996) Profesionalisme guru dan</p> <p>tenaga kependidikan masih belum memadai utamanya dalam hal bidang keilmuannya. Misalnya guru Biologi dapat mengajar Kimia atau Fisika. Ataupun guru IPS dapat mengajar Bahasa Indonesia. Memang jumlah tenaga pendidik secara kuantitatif sudah cukup banyak, tetapi mutu dan profesionalisme belum sesuai dengan harapan. Banyak diantaranya yang tidak berkualitas dan menyampaikan materi yang keliru sehingga mereka tidak atau kurang mampu menyajikan dan menyelenggarakan pendidikan yang benar-benar berkualitas (Dahrin, 2000). Banyak faktor yang menyebabkan kurang profesionalismenya seorang guru, sehingga pemerintah berupaya agar guru yang tampil di abad pengetahuan adalah guru yang benar-benar profesional yang mampu mengantisipasi tantangan-tantangan dalam dunia pendidikan khususnya dalam bidang sains.</p> <p>1.2.</p> <p>RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan beberapa masalah sebagai</p> <p>berikut. 1. Bagaimanakah perbedaan standar professional untuk guru sains internasional dengan standar professional guru sains di Indonesia? 2. Bagaimanakah relevansi standar professional untuk guru sains internasional terhadap standar professional guru sains di Indonesia? 3. Apakah syarat yang harus dimiliki untuk menjadi guru professional di Indonesia? 4. Apakah faktor-faktor penyebab rendahnya profesionalisme guru pada kondisi Pendidikan Nasional Indonesia? 5. Bagaimanakah upaya peningkatan professional guru sains di Indonesia?</p> <p>1.3.</p> <p>TUJUAN Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut. 1. Mengetahui perbedaan standar professional untuk guru sains internasional dengan standar professional guru sains di Indonesia 2. Mengetahui relavansi standar professional untuk guru sains internasional terhadap standar professional guru sains di Indonesia</p> <p>3. Menjelaskan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi guru professional di Indonesia 4. Menguraikan faktor-faktor penyebab rendahnya profesionalisme guru pada kondisi Pendidikan Nasional di Indonesia 5. Menjelaskan upaya peningkatan proesional guru sains di Indonesia</p> <p>1.4.</p> <p>MANFAAT Makalah ini dapat digunakan sebagai pedoman untuk meningkatkan profesionalisme</p> <p>guru sains di Indonesia dengan mengetahui standar pengembangan professional guru sains Internasional. Hal ini dapat membantu proses refleksi untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya profesionalisme guru di Indonesia serta upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi hal tersebut.</p> <p>BAB II PEMBAHASAN</p> <p>2.1. STANDAR PENGEMBANGAN PROFESIONAL UNTUK GURU SAINS INTERNASIONAL Standar pengajaran dalam bab ini dimaksudkan untuk memberitahukan semua orang yang mempunyai peran dalam pengembangan profesionalisme. Standar tersebut merupakan kriteria untuk fakultas pendidikan dalam perguruan tinggi dan universitas yang memiliki tanggung jawab utama untuk persiapan awal guru sains serta bagi para guru yang memilih dan mendesain Upaya reformasi saat ini memerlukan perubahan substantif dalam cara pengajaran sains; perubahan substantif yang sama diperlukan dalam praktek pengembangan profesional. kegiatan pengembangan profesional untuk pribadi dan untuk semua orang yang merancang serta memimpin kegiatan-kegiatan pengembangan profesional. Standar-standar ini juga sebagai kriteria untuk negara dan para pembuat kebijakan nasional yang menentukan kebijakan penting dan prakteknya, seperti persyaratan sertifikasi bagi guru dan anggaran untuk pengembangan profesional. Dalam visi pendidikan sains, kebijakan harus berubah, sehingga terus-menerus efektivitas pengembangan profesional guru menjadi sentral dalam kehidupan. Saat ini upaya reformasi di bidang pendidikan sains memerlukan perubahan substantif dalam cara pengajaran sains. Yang tersirat dalam reformasi ini juga merupakan perubahan substantif dalam praktek pengembangan profesional di semua tingkatan. Saat ini banyak melibatkan pengembangan profesional kuliah yang tradisional untuk menyampaikan konten sains dan penekanan pada pelatihan teknis tentang mengajar. Sebagai contoh, pendidikan sarjana ilmu pengetahuan lebih dianggap sebagai sekumpulan fakta dan aturan-aturan untuk dihafalkan, daripada sebagai suatu cara untuk mengetahui tentang alam. Bahkan sebagian besar laboratorium</p> <p>ilmu di perguruan-perguruan tinggi gagal untuk mengajarkan ilmu pengetahuan sebagai penyelidikan. Visi ilmu pengetahuan dan bagaimana pembelajaran berlangsung seperti yang dijelaskan dalam standar akan hampir mustahil untuk menyampaikan kepada siswa di sekolah jika para guru sendiri tidak pernah mengalaminya. Secara sederhana, dalam preservice program dan kegiatan pengembangan professional, guru harus berlatih menjadi model pengajaran ilmu yang baik, seperti yang dijelaskan dalam standar pengajaran dalam bab 3. Empat asumsi tentang sifat pengembangan profesional pengalaman dan konteks di mana dikenal sebagai standar pengembangan profesi: 1. Pengembangan profesional untuk guru sains secara berkelanjutan sebagai proses seumur hidup. 2. Perbedaan-perbedaan tradisional antara "target", "sumber", dan "pendukung" dari kegiatan pengembangan guru buatan. 3. Pandangan konvensional pengembangan profesional bagi guru perlu bergeser dari pelatihan teknis keterampilan khusus menuju pada kesempatan-kesempatan untuk pertumbuhan profesionalisme intelektual. 4. Proses transformasi sekolah wajib ditujukan pada kesempatan pengembangan profesional secara jelas dan tepat, dengan guru bekerja dalam konteks sekolah.</p> <p>2.1.1. Pengembangan Profesional untuk Guru Sains secara Berkelanjutan sebagai Proses Seumur Hidup Konten sains selalu meningkat dan berubah, sehingga pemahaman guru sains harus tetap bertahan, bahkan mengalami peningkatan. Pengetahuan tentang proses pembelajaran juga terus berkembang, yang menuntut bahwa guru tetap terinformasi (ter-upgrade). Lebih jauh lagi, kita hidup dalam kondisi lingkungan dan masyarakat yang selalu berubah, yang juga sangat mempengaruhi kegiatan di sekolah-sekolah. Perubahan sosial mempengaruhi apa yang mereka butuhkan. Selain itu, guru harus terlibat dalam pengembangan dan penyempurnaan terhadap pendekatan baru untuk proses mengajar, penilaian, dan kurikulum.</p> <p>Guru sains membangun keterampilannya secara bertahap, dimulai pada tahun-tahun pendidikan sarjana mereka. Kemudian mereka menerapkan secara real profesionalismenya pada saat tahun-tahun pertama mereka di dalam kelas, bekerja dengan guru lain, mengambil keuntungan dari penawaran pengembangan profesional, dan belajar dari usaha mereka sendiri dan orang-orang dari rekan-rekan mereka. Sains konten meningkat dan perubahan, dan pemahaman guru sains harus tetap bertahan. sekolah, disertai dengan kolaborasi di antara mereka yang terlibat dalam kegiatan pengembangan profesional. 2.1.2. Perbedaan Klasik antara "Sasaran", "Sumber", dan "Pendukung"</p> <p>Pembangunan Guru dari Aktivitas yang Artifisial Dalam visinya, pendidikan sains dapat diwujudkan dengan standar pelatihan guru yang secara nasional ditujukan bagi pengembangan professional memiliki kesempatan menjadi sumber pertumbuhan mereka sendiri serta pendukung pertumbuhan pertumbuhan lain. Calon guru harus memiliki kesempatan untuk menjadi peserta aktif dalam sekolah melalui program magang, studi klinis, dan penelitian. Guru harus memiliki kesempatan untuk refleksi Tantangan pengembangan profesional untuk guru ilmu pengetahuan adalah untuk menciptakan situasi belajar kolaboratif yang optimal di mana saat ini dipandang sebagai kebutuhan guru. terstruktur dalam praktek mengajar mereka dengan rekan kerja, untuk perencanaan kurikulum kolaboratif, dan untuk partisipasi aktif dalam profesional mengajar dan jaringan ilmiah. Tantangan pengembangan profesional guru adalah menciptakan situasi pembelajaran kolaboratif yang optimal di mana sumber keahlian terbaik dihubungkan dengan pengalaman dan kebutuhan guru saat ini. Kepala sekolah dan anggota masyarakat yang memenuhi syarat juga harus berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan pengembangan profesional untuk meningkatkan</p> <p>pemahaman mereka sendiri tentang proses pembelajaran sains bagi siswa serta pemahaman mengenai peran dan tanggung jawab guru. 2.1.3. Pandangan Konvensional Pengembangan Profesional bagi Guru Perlu Berubah dari Pelatihan Teknis Keterampilan Khusus menuju Kesempatan-Kesempatan dalam Pertumbuhan Profesional Intelektual Asumsi ini menyoroti perlunya pergeseran dari melih...</p>