Prak 4 Surveying Poligon

Download Prak 4 Surveying Poligon

Post on 06-Jul-2015

280 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>GD 2151 SURVEYING1 DEPARTEMEN TEKNIK GEODESI FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG</p> <p>LAPORAN PRAKTIKUM MODUL KE-4PENGUKURAN JARAK DAN SUDUT POLIGON TERIKAT SEMPURNA </p> <p>DISUSUN OLEH KELOMPOK 4a ANGGOTA : 1. ADITYA GUNAWAN 2. CASIMIN ( 15103015 ) ( 15103053 )</p> <p>ASISITEN 1. Bpk. DUDI 2. Up. DEDE 3. YULIANA HERMAN 4. BUDHI HANDOYO 5. AHMAD BASYAR</p> <p>Institut Teknologi Bandung</p> <p>2004 BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Kita dapat melakukan pengukuran koordinat suatu titik terhadap suatu titik lainnya. Dalam setiap kali kegitan survey terutama survey terestis kita diharuskan datang langsung kelapangan dan melihat titik-titik mana yang akan diukur. Dan masalahnya adalah ada sebagian besar titik yang ingin diketahui koordinatnya tetapi tidak dapat terlihat dengan satu kali pengukuran dengan alat optis ( seperti theodolit ) atau dengan alat yang menggunakan gelombang ( EDM ). Untuk mengatasi hal tersebut maka kita dapat menggunakan titik bantu untuk dapat mengukur sampai mengenai target. Dengan begitu semua titik yang akan ditentukan koordinatnya dapat diukur. Pengukuran yang digunakan untuk menentukan koordinat banyak titik itu dikenal dengan nama Pengukuran Poligon. Prinsip dari poligon ini adalah bahwa suatu titik yang belum mempunyai koordinat dapat ditentukan koordinatnya dari titik yang telah mempunyai koordinat dengan terlebih dahulu diketahui jaraknya dan besar sudut azimutnya. alam kegiatan ini kita bisa mengetahui besarnya koordinat suatu titik terhadap titik lainnya yang sudah diketahui koordinatnya terlebih dahulu. Pengukuran Poligon ini dibagi kedalam : Poligon terbuka, poligon tertutup, poligon bercabang, dan poligon kombinasi. Tetapi pada kesempatan praktikum kali ini kita akan lebih difokuskan kepada poligon terbuka. Pada pengukuran poligon terbuka ini terbagi menjadi dua bagian juga, yaitu : poligon terbuka terikat sempurna dan poligon terbuka terikat tidak sempurna. Poligon terbuka terikat sempurna adalah poligon yang koordinat awal dan akhir dalam pengukurannya itu diketahui. Sedangkan pada poligon terbuka terikat tidak sempurna koordinat yang diketahuinya hanya pada awal atau akhirnya saja, tidak semuanya diketahui. Pada umumnya poligon dimulai dan diakhiri pada titi-titik tertentu dan diikatkan pada kedua ujung sudut jurusan tertentu Dalam pengukuran poligon ini kita harus bisa menentukan poligon mana yang akan kita gunakan apakah poligon terbuka atau tertutup. Pemilihan jenis poligon ini juga tergantung dari kondisi titik yang akan diukur. Yang terpenting adalah dengan poligon apapun kita dapat menentukan koordinat suatu titik yang kita itu dengan kesalahan yang sekecil mungkin.</p> <p>2</p> <p>1.2 Maksud Praktikum Maksud dari praktikum Pengukuran Jarak dan Sudut Poligon terikat Sempurna ini adalah agar para peserta mata kuliah GD 2151 SURVEYING 1 mengetahui konsep tentang posisi suatu koordinat yang diperoleh dari hubungan sudut dan jarak. Dengan hanya diketahui koordinat satu titik, peserta kuliah diharapkan dapat menentukan koordinat titik-titik yang lainnya dan dapat menjadikan titik-titik yang telah diketahui koordinatnya sebagai acuannya ( pusatnya ). Maksud lain dari praktikum modul ke-4 ini adalah agar mahasiswa peserta kuliah GD 2151 Surveying 1 ini dapat lebih lancar dan teliti lagi dalam menggunakan theodolit dan dapat lebih mengenal berbagai macam alat survey terestis tersebut dan mengoperasikannya dengan baik Selain itu diharapkan pula setelah praktikum yaitu pada pengolahan data, para mahasiswa peserta mata kuliah ini mampu mengolah data dengan baik dan dapat menentukan hasil yang ingin diketahui.</p> <p>1.3 Tujuan Praktikum Tujuan dari praktikum modul ke-4 Pengukuran Jarak dan Sudut oligon terikat sempurna ini adalah : Dapat mengukur jarak antar satu titik dengan titik yang lainnya dengan menggunakan pita ukur</p> <p>Para mahasiswa peserta mata kuliah GD 2151 Surveying 1 ini bisa Dapat menentukan koordinat suatu titik terhadap titik acuan yang Dapat menentukan besarnya koreksi sudut , selisih absis dan</p> <p>membaca sudut dengan menggunakan theodolith dengan lebih lancar lagi. sudah diketahui koordinatnya. ordinat dari data lapangan dan menentukan koordinat dari suatu titik yang telah mendapatkan berbagai macam koreksi</p> <p>1.4 Waktu Pelaksanaan Praktikum Praktikum Modul ke-1, Pengenalan Alat Theodolith yang dilaksanakan oleh kelompok 4 ini dilaksanakan pada : Hari Tanggal Waktu Tempat : Rabu - Kamis : 06 Otober 2004 : Pukul 10.30 15.00 : Lap. Parkir Seni Rupa, Gerbang ITB, lap Volley ITB</p> <p>3</p> <p>1.5 Peralatan Yang Digunakan Praktikum Modul ke-4, Pengukuran jarak dan sudut Poligon terikat Sempurna yang dilaksanakan oleh kelompok 4 ini menggunakan peralatan :</p> <p>o Theodolith NIKON NT 2Ao o o o o o Pita Ukur Statif Unting unting 2 buah Kaki tiga 2 buah Jalon Form pengukuran sudut mendatar dan form Hitungan koordinat titik polygon untuk pencatatan data.</p> <p>4</p> <p>BAB II DASAR TEORI</p> <p>Teori dasar dari praktikum modul ke 4, Pengukuran jarak dan sudut Poligon terikat sempurna Sudut Horizontal dengan metode repetisi dan reitrasi ini adalah :</p> <p>1. Antara dua titik yang mempunyai koordinat yang berbeda dapat diketahuijaraknya. Dengan rumus : D = (Xa-Xb)2 + (Ya-Yb)2 2. Jika Diketahui koordinat suatu titik, maka kita dapat menentukan koordinat titik lainnya, asalkan diketahui besar jarak dan sudutnya. Dalam rumus dituliskan : Jika diketahui koordinat titik B (Xb,Yb) Xa = Xb + Dab Sin Ya = Yb + Dab Cos Dengan</p> <p>ab ab</p> <p>ab adalah sudut yang dibentuk antara titik A dan titik B</p> <p>3. Antara dua titik yang telah diketahui koordinatnya daapaat dicari besar sudutnya, dengan hubungan sbb:</p> <p>ab = arc tan</p> <p>[( Xb-Xa ) : ( Yb-Ya )] + kuadran untuk kuadran 1 + 0o</p> <p>dengan kuadran :</p> <p>untuk kuadran 2 + 180o untuk kuadran 3 + 180o untuk kuadarn 4 + 360o</p> <p>5</p> <p>BAB III LANGKAH-LANGKAH PELAKSANAAN PRAKTIKUMLangkah-langkah dalam pelaksanaan praktikum modul ke-4,Pengukuran Jarak dan sudut Poligon terikat sempurna ini adalah :</p> <p>1.</p> <p>Siapkan alat-alat yang akan digunakan untuk praktikum, antara lain : theodolith, statif, kaki tiga, unting-unting dan pita ukur. Kaki tiga dipasangi unting-unting digunakan sebagai targetnya.</p> <p>2.3.</p> <p>Pasang statif dengan mengendorkan ketiga mur yang menempel pada kakikakinya. Buka theodolit dari tempatnya, kemudiaan pasangkan theodolit itu pada statifnya, dengan mengencangkan mur yang ada dibawah piringan statif ke kiap theodolith.</p> <p>4.</p> <p>Sentingkan theodolit tersebut pada sentring yang ada di bawah statif sampat pas, kemudian datarkan Nivo kotak yang ada pada theodolit sehingga pos pada tengah-tengah bundarannya. Caranya adalah naik turunkan kaki statifnya, lihat sampai nivo bulatan pada nivo tabungnya pas ditengah-tengah.</p> <p>5.</p> <p>setelah</p> <p>itu</p> <p>jangan</p> <p>lupa</p> <p>datarkan</p> <p>pula</p> <p>Nivo</p> <p>tabungnya,</p> <p>dengan</p> <p>cara</p> <p>memutarkan mur yang ada pada kiap pada arah yang berlawanan antara satu mur dengan mur yang lainnya.</p> <p>6.7.</p> <p>Setelah sentring sudah pas, nivo kotak dan nivo tabung sudah datar maka kita tinggal mencari target yang akan dibidik. Setelah theodolith dan target sudah siap maka kita sudah bisa melakukan pengukuran. Sketsa jalur pengukuran jarak dan sudut Poligon terikat sempurna </p> <p>A</p> <p>C B D E</p> <p>6</p> <p>Pada pengukuran Pertama theodolith berdiri di titik B</p> <p>8.</p> <p>Setelah theodolith dalam keadaan siap dititik B. Bidikkan teropong ke target yang akan diukur dengan mempergunakan pencari target yang ada diatas/dibawah teropong, dalam hal ini adalah target dititik A Teropong dalam keadaan biasa.</p> <p>9.</p> <p>Sesudah terpong pas mengenai terget maka kuncilah teropong dengan penguci vertikal dan pengunci horizontal. Lihat apakah tergetnya sudah terlihat dengan jelas atau belum. Kalau belum maka fokuskan teropongnya. Dan lihat juga apakah benangnya sudah pas dengan target atau belum.</p> <p>10.</p> <p>Jika belum paskan benang halus pada target, untuk ke kiri dan ke kanan dengan menggunakan gerak halus horizontal dan untuk keatas/kebawah dengan gerak haalus vertikal</p> <p>11. 12.</p> <p>Kalau sudah pas maka tinggal kita baca sudutnya. Pembacaan sudut ke target B dilakukan sebanyak 2 kali secara berurutan. Sesudah target A, maka arahkan teropong ke target C, teropong masih dalam keadaan biasa. Bidikkan teropong pas ke target C, kuncilah semua kunci ketika teropong sudah mengenai target C</p> <p>13.</p> <p>Apabila belum pas maka paskan teropong ke target dengan gerak halus vertikal dan gerak halus horizontal. Lihat apakah targetnya sudah terlihat ( fokus ) kalau belum fokus, fokuskan dulu sampai target terlihat denga jelas. Lalu lihat lagi apakah benang halusnya sudah kelihatan? kalau belum, atur fokus benang halus sampai kelihatan dengan jelas.</p> <p>14.</p> <p>Sesudah benang halus sejajar dengan target, maka kita tinggal melihat berapa besarnya sudut yang dihasilkan. Caranya lihat ke teropong bacaan sudut atur sedemikian rupa agar angkanya bisa terlihat jelas. Pembacaan sudut pada target C dengan kedudukan teropong biasa dilakukan sebanyak 2 kali</p> <p>15.</p> <p>Target A dan C telah dibidik dengan keadaan teropong biasa, maka sesudah itu ulangi bidik target A tetapi teropongnya dalam keadaan luar biasa. Caranya sama seperti langkah 8-11. sesudah target A dengan cara luar biasa maka tinggal target C dengan cara luar biasanya</p> <p>16.</p> <p>Sesudah sudutnya didapat, maka kita tinggal mengukur besarnya jarak dari B ke A dan jarak dari B ke C dengan menggunakan pita ukur. Pengukuran jaraknya dilakukan sebanyak 5 kali untuk dicari jarak rata-ratanya.</p> <p>Pada pengukuran kedua theodolith berdiri di titik 1</p> <p>17.</p> <p>Sesudah kita melakukan pengukuran pertama dengan kedudukan teodolith di titik B, maka pada pengukuran kedua theodolith dipindahkan ke titik 1 untuk</p> <p>7</p> <p>membidik target B dan C dengan kedudukan teropong bisa dan luar biasa masing-masing sebanyak 2 kali 18. sebelum membidik B dan C pastikan teodolith dalam keadaan sentring dengan nivo tabung pas pada bulatan dan nivo kotak dalam keadaan datar</p> <p>19. 20.</p> <p>Sesudah theodolith sentring</p> <p>maka pada waktu kita sudah berdiri di titik 1</p> <p>maka yang pertama kita lakukan adalah membidik target B. Caranya sama yaitu Bidikkan teropong ke target yang akan diukur dengan mempergunakan pencari target yang ada diatas/dibawah teropong, dalam hal ini adalah target titik B , teropong dalam keadaan biasa.</p> <p>21.</p> <p>Sesudah terpong pas mengenai terget maka kuncilah teropong dengan penguci vertikal dan pengunci horizontal. Lihat apakah tergetnya sudah terlihat dengan jelas atau belum. Kalau belum maka fokuskan teropongnya. Dan lihat juga apakah benangnya sudah kelihatan atau belum ?. Kalau belum maka fokuskan benang halus dengan fokus benang halus. Lihat juga apakah benang halusnya sudah vertikal pas dengan target atau belum. Kalau belum paskan kekiri/kekanan dengan gerak halus horizontal dan keatas/kebawah dengan gerak halus</p> <p>22. 23.</p> <p>Kalau sudah pas maka tinggal kita baca sudutnya. Pembacaan sudut ke target B dilakukan sebanyak 2 kali secara berurutan. Dan dilanjutkan ke target C Target B dan C telah dibidik dengan keadaan teropong biasa, maka sesudah itu ulangi bidik target B tetapi teropongnya dalam keadaan luar biasa. Caranya sama seperti langkah 20-23. sesudah target B dengan cara luar biasa maka tinggal target C dengan cara luar biasanya.</p> <p>24.</p> <p>Sesudah sudutnya didapat, maka kita tinggal mengukur besarnya jarak dari 1 ke B dan jarak dari 1 ke C dengan menggunakan pita ukur. Pengukuran jaraknya dilakukan sebanyak 5 kali untuk dicari jarak rata-ratanya</p> <p>Pada pengukuran ketiga theodolith berdiri di titik c Langkahnya sama dengan pengukuran kedua dari No.17 s.d 24 tetapi targetnya saja yang dirubah. Yaitu dari C membidik target 1 dan target D</p> <p>8</p> <p>BAB IV DATA DAN PENGOLAHAN DATADATA YANG DIPEROLEH 1. Pengukuran sudut mendatarPENGUKURAN SUDUT MENDATARDIUKUR OLEH PENULIS ALAT UKUR KEDUDUKAN TEMPAT : ADITYA GUNAWAN : : NIKKON NT-2A TEROPONG BIDIKAN BACAAN SKALA LINGKARAN MENDATAR I (-o -' -.-'') 4 299 52 40 031 35 20 119 52 30 211 35 10 023 29 10 231 53 40 203 29 10 051 53 40 289 45 00 087 27 20 109 45 00 267 27 20 (-o II -' -.-'') 5 299 52 30 031 35 20 119 52 20 211 35 10 023 29 15 231 53 35 203 29 10 051 53 40 289 45 00 087 27 10 109 45 10 267 27 20 Rata-rata (-o -' -.-'') 6 299 52 35 031 35 20 119 52 25 211 35 10 023 29 15 231 53 35 203 29 10 051 53 40 289 45 00 087 27 15 109 45 05 267 27 20</p> <p>1</p> <p>2 B</p> <p>ARAH 3</p> <p>ALAT</p> <p>ITB 026 ITB 093 ITB 026 ITB 093 ITB 023 ITB 092 ITB 023 ITB 092 ITB 093 GPS 3 ITB 093 GPS 3</p> <p>ITB 023</p> <p>B LB LB B</p> <p>ITB 093</p> <p>B LB LB B</p> <p>ITB 092</p> <p>B LB LB</p> <p>2.</p> <p>Jarak mendatar yang diukur dengan menggunakan pita ukur sebanyak 5 kali ; Jarak antara titik B (ITB 023) dengan titik A (ITB 026) adalah dAB = ( 65.5 + 67 .0 + 69.8 + 69.2 + 65.9 ) / 5 = 67.48 meter Jarak antara titik B (ITB 023) dengan titik 1 (ITB 093) adalah dB1 = (45.5 + 46.1 + 45.6 + 45.5 + 46.2 ) / 5 = 45.78 meter Jarak antara titik C (ITB 092) dengan titik 1 (ITB 093) adalah dC1 = (30.0 + 30.4 + 30.2 + 30.3 + 30.0 ) / 5 = 30.18 meter Jarak antara titik C (ITB 092) dengan titik D (GPS 3) adalah dCD = (52.1 + 51.4 + 50.8 + 52.1 + 53.9 ) / 5 = 52.06 meter Nama Jarak dAB ( ITB 023 ke ITB 026 ) dB1 ( ITB 023 ke ITB 093 ) dC1 ( ITB 092 ke ITB 093 ) dCD ( ITB 092 ke GPS 3 ) Besarnya 67.48 meter 45.78 meter 30.18 meter 52.06 meter</p> <p>9</p> <p>Koordinat dari titik Banch Mark (BM) yang telah diketahui Nama titik ITB 026 ITB 023 ITB 093 ITB 092 GPS 3 X ( meter ) 788478.590 788485.427 788531.147 788558.674 788610.663 Y ( meter ) 9237401.559 9237334.568 9237337.778 9237325.358 9237361.557 Titik A B1</p> <p>C D</p> <p>PENGOLAHAN DATA</p> <p>A. Menghitung besarnya sudut luar biasa - sudut biasa rata-rata untuk didapatsudut ITB 92 Sudut a = ( 031o 35 20 - 299o 52 35 ) + 360o = - 268o 17 15 + 360o = 92o 42 45 Sudut b = (211o 35 10 - 119o 52 25 ) = 92o 42 50 Sudut rata-ratanya = (92o 42 50 + 92o 42 45 ) / 2 = 92o 42 50 ITB 93 Sudut a = ( 231o 53 35 - 023o 29 15 ) = 208o 24 20 Sudut b = (051o 53 40 - 203o 29 10 ) + 360o = - 151o 35 30 + 360o = 208o 24 30 Sudut rata-ratanya = (208o 24 20 + 208o 24 30 ) / 2 = 208o 24 25 ITB 092 Sudut a = (087o 27 15 - 289o 45 0 ) + 360o = -202o 17 45 + 360o = 157o 42 15 Sudut b = (267o 27 20 - 109o 45 05 ) = 157o 42 15 Sudut rata-ratanya = (157o 42 15 + 157o 42 15 ) / 2 = 157o 42 15</p> <p>10</p> <p>aA B</p> <p>aB 1 B</p> <p> 1 a1C</p> <p> C aC D</p> <p>B.</p> <p>Melakukan perhitungan koreksi sudut</p> <p>1. AB = arc tan [( Xb - Xa) : (Yb Ya)] + Kuadran= arc tan [( X23 - X26) : (Y23 Y26)] + Kuadran = arc tan [( 6.837) : (-66.991)] + 180o = - ( 5o 49 38.44 )+ 180o = 174o 10 21.5</p> <p>CD = arc tan [( Xd Xc) : (Yd Yc)] + Kuadran= arc tan [( Xgps3 X92) : (Ygps3 Y92)] + Kuadran = arc tan [( 51.989) : (-1.801)] + 180o = - ( 88o 0 57.44 )+ 180o = 91o 59 2.56 2. Menentukan besarnya Koreksi Sudut awal</p> <p>-</p> <p>akhir</p> <p>= n.180o + fB = ( CD - AB</p> <p>fB</p> <p>) - n.180o (91o 42 45 + 208o 24 20</p> <p>= ( 91o 59 2.56 174o 10 21.5 ) + 157o 42 15) + 540o</p> <p>= (- 082o 11 18.94 457o 49 20 ) + 540o = (- 540o 00 38.94 + 540o 00 00 ) fB = - 00o 00 38.94</p> <p>11</p> <p>3. Menentukan besa...</p>