poligon & survei jalan

Download poligon & survei jalan

Post on 26-Jun-2015

434 views

Category:

Documents

10 download

TRANSCRIPT

BAB IILANDASAN TEORI2.1. PengukuranPoligonPoligonmerupakanrangkaiantitiktitikyangmembentuksegibanyak. Pengukuranpoligonbertuiuanuntukmendapatkankerangkadasar pengukuran dan sebagai pengikatcross section.Poligon dibedakan meniadi dua bentuk berdasar bentuk geometrisnya. yaitu poligon tertutup dan poligon terbuka.2.1.1. Poligon TertutupPoligon tertutup adalah poligon yangtitik awal dantitik akhirnya bertemu pada titik yang sama.Keterangan gambar: A B: Azimuth titik A terhadap titik BA.B.C. : titik poligonS1. S2 : sudut titikd : iarak antar poligonSyarat hitungan kesalahan sudut poligon tertutup adalah :I(s) s (( n 2 ) . 1800).untuk sudut dalam...(1)I(s) s - (( n 2 ) . 1800). untuk sudut luar.(2)5DUAB CE FABS1S6S2S3S4S5ddddddGambar 2.1Poligon tertutupI(x) d sin .(3)I(y) d cos ....(4)Keterangan :n : banyaknya titik poligon yang diukurI(s) : kesalahan penutup poligonI(x) : kesalahan penutup absisI(y) : kesalahan penutup ordinats : iumlah sudut yang diukur2.1.2. Poligon terbukaPoligonterbukamerupakanpoligonyangmempunyai titikawal dan titikakhirtidakberimpit atautidakpadatitikyangsama.Poligonterbuka terdiri dari:1. Poligon terbuka sempurnaPoligon terbuka sempurna merupakan poligon terbuka dengan satu titik tetap atau salah satu titik dideIinisikan dengan koordinat.2. Poligon terbuka terikat sepihakPoligonterbukaterikat sepihakmerupakanpoligonterbukayang titik awal atau titik akhirnya terikat pada titik tetap.3. Poligon terbuka terikat sempurnaPoligonterbukaterikat sempurnaadalahpoligonterbukadengan titik awal dan titik akhir berupa titik tetap.6Gambar 2.2Poligon Terbuka Terikat sempurnaBM1BM2BM1BM2S1S2S3S4S5S6BM1BM2BM3 BM4UUddABCDdd dddKeterangan gambar :A. B. C. D : Titik poligond : Jarak antar titik poligonS1.S2 : Sudut dalam ( sudut yang diukur )BM1 BM2: Azimuth awalBM1 BM2: Azimuth akhirSyarat syarat yang harus dipenuhi poligon terbuka terikat sempurna ( Soetomo Wongsotiitro. 2000) :adalah:( s ) ((akhir awal ) n. 1800) I(s)...(5)(d sin ) (xakhir xawal) I(x).(6)(d cos ) (yakhir yawal) I(y).(7)Koreksi pada pelaksanaan pengukuran poligon terbuka terikat sempurna adalah:1. Koreksi sudut ( )( )ns Is Ii=...(8)2. Koreksi absis( ) ( ) ( ) x Iddx Iii = .(9)3. Koreksi ordinat( ) ( ) ( ) y Iddy Iii = ....(10)74.B AB AB A BI(x) Sin . d x x + + =..(11)5.B AB AB A BI(y) Cos . d y y + + =.(12)6. Kesalahan iarak ( ) ( )2 2y I x I cd + = ...(13)7. Ketelitian linierdcdKL = ..(14) Keterangan rumus:s iumlah sudut yang diukurd iumlah total iarak yang diukurI(s) kesalahan penutup sudutI(x) kesalahan absisI(y) kesalahan ordinatKL ketelitian linier2.2. Pengukuran Sipat DatarSipat datar adalah suatu cara pengukuran beda tinggi antaradua titik diatas permukaantanah. dimanapenentuanselisihtinggi antaratitikyangberdekatan dilakukan dengan tiga macam cara penempatan alat penyipat datar yang dipakai sesuai keadaanlapangan. yangdibedakanberdasarkantempat berdirinya alat. yakni:81. Pada posisi tepat diatas salah satu titik yang akan ditentukan selisih tingginya.2. Pada posisi ditengah-tengah antar 2 (dua) titik dengan atau tanpa memperhatikan apakah posisi tersebut membentuk satu garis lurus terhadap titik yang akan diukur tersebut.3. Pada posisi selain dari kedua metoda sebelumnya. dalamhal ini alat didirikan disebelah kiri atau kanan dari salah satu titik yang akan ditentukan selisih tingginya.Metode sipat datar yang digunakan untuk menentukan beda tinggi antara lain:2.2.1.Sipat datar MemanjangPengukuran sipat datar memaniang dilakukan apabila titik yang diukur bedatingginya beriauhanletaknya. Tuiuannyaadalahuntukmendapatkan beda tinggi atau menentukan ketinggian titik titik utama yang telah diorientasikan dengan cara membagi iarak antara titik polygon secara berantai atau meniadi slag slag kecil secara memaniang yang ditempuh dalam satu hari pergi pulang. Dan diusahakan iumlah slagnya genap.Beda tinggi antara titik A dan B diperoleh dengan Iormula ( Shirley L. Hendarsin. 2000) :91A23 45BCDb1m1b2m1b3m3b4m4Gambar 2.3Prinsip keria sipat datarMemaniang hAB Btb - Btm (15)HBHA hAB .(16)Dalam hal ini : hAB Beda tinggi antara titik A dan B.HA Elevasi titik A. HB Elevasi titik B..Btb Total Bacaan benang tengahrambu belakang.Btm Total Bacaan benang tengahrambu muka.2.2.2. Sipat Datar Profil MemanjangTuiuandari pengukurandenganmenggunakanmetodesipat datar proIilmemaniangadalah untuk mendapatkan detail dari suatu penampang atau irisan tegak pada arah memaniang sesuai dengan sumbu proyek.Keterangan gambar:BtA. Bt1. : benang tengah titik A. 1. dstP1. P2: tempat berdiri alat2.2.3. Sipat Datar Profil MelintangDari pengukuran proIil memaniang didapatkan garis rencana. Tuiuan dari proIilmelintangadalah untuk menentukan elevasi titik titik dengan 10A 1 2 3BBtA Bt1Bt2Bt2Bt3BtBP1P2Gambar 2.4Sipat datar proIil memaniangpertolongan tinggi garis bidik yang diketahui dari keadaan beda tinggi tanah yang harus tegak lurus disuatu titik tertentu terhadap garis rencana tersebut.Keterangan gambarP1 : tempat berdiri alata. b. c. : tempat berdiri rambu sebelah kiri alat ukur1. 2. 3. : tempat berdiri rambu sebelah kanan alat ukur2.3. Alinemen HorisontalAlinemen horisontal atau trase suatu ialan adalah proyeksi sumbu ialan pada bidang horisontal. Alinemen horisontal terdiri dari dua ienis bagian ialan . yaitu: bagian lurus. dan bagian lengkung yang disebut tikungan. Perencanaan geometrik padabagianlengkungdimaksudkanuntukmengimbangi gayasentriIugal yang diterima oleh kendaraan yang berialan pada kecepatan VR.Ada tiga ienis tikungan yang digunakan. yaitu:1. Lingkaran( Full Circle FC )2. Spiral Lingkaran Spiral ( Spiral Circle Spiral S-C-S )3. Spiral Spiral ( S-S )2.3.1. Bentuk Tikungan Circle (FC)FC(FullCircle)adalahienistikunganyanghanyaterdiri darisuatu bagianlingkarangsaia. Bentuktikunganini digunakanpadatikunganyang 11a bc de IgP11 23Gambar 2.5Sipat datar proIil melintangmempunyai iari iari (R) besar agar tidak teriadi patahan. karena dengan R kecil maka diperlukan superelevasai yang besarAdapun batasan yang biasa dipakai di Indonesia dimana diperbolehkan menggunakan bentuk circle adalah seperti tercantum pada tabel 2.1VR (km/iam) 120 100 80 60 50 40 30 20Rmin (m) 2500 1500 900 500 350 250 130 60Dimana : sudut tikungan O titik pusat lingkaranTc paniang tangen iarak dari TC ke PI atau dari PI ke CTRc iari iari lingkaranEc iarak luar dari PI ke busur lingkaranLc paniang busur lingkaranRumus yang digunakan untuk menentukan harga Tc. Ec. dan Lc( Shirley L. Hendarsin. 2000) adalah:Tc Rc tan .(17)12Tabel 2.1: Jari-iari tikumgan yang tidak memerlukan lengkung peralihanTCCTPI RcTcOEcGambar 2.6Komponen Full Circle (FC)LcEc Rc ( sec -1) .(18)0cc360R 2 L=(19)2.3.2. Bentuk Tikungan Spiral Circle - SpiralLengkung spiral merupakan peralihan dari bagian lurus ke bagian circle. yang paniangnya lengkung peralihan(Ls) diperhitungkan berdasarkan antisipasi gayasentriIugal. digunakanrumusmodiIikasi Shortt(ShirleyL. Hendarsin. 2000). sebagai berikut:Ce . V2.727C . RV0.022 LRc3Rs =.(20)Dimana: Ls Paniang lengkung spiralVR kecepatan rencanaR c iari iari busur lingkaranC perubahan kecepatan. disarankan 0.4 m/det3e superelevasi13PITsXskYsEspSCCSTSSTOsssGambar 2.7Komponen lengkung peralihanKeterangan :Xs absis titik SC pada garis tangen. iarak dari titik TS ke SC (iarak lurus lengkung peralihan)Ys ordinat titik SC pada garis tegak lurus garis tangen. iarak tegak lurus ke titik SC panda lengkungLs paniang lengkung peralihan (paniang dari titik TS ke SC atau Cs ke ST)Lc paniang busur lingkaran (paniang dari titik SC ke CS)Ts paniang tangen dari titik PI ke titik TS atau ke titik STTS titik dari tangen ke spiral.SC titik dari spiral ke lingkaranEs iarak dari PIke busur lingkaran. s sudut lengkung spiralRc iari-iari lingkaran.p pergeseran tangent terhadap spiralk absis dari p pada garis tangent spiralRumus yang digunakan ( Shirley L. Hendarsin. 2000): =2c2ss sR 40L1 L X(21)c2ssR 6LY =.(22)cssRL90 = ..(23)14( )s cc2s cos 1 RR 6Lp =..(24)s c 2c2ss sin RR 40LL k =(25)( ) k tan p R T21c s+ + =..(26)( )c 21c sR sec p R E + = (27)( )cscR 180 2 L =. (28)s c totL 2 L L + = .(29)Jika diperoleh Lc 25 m. maka sebaiknya tidak digunakan bentuk S-C-S. tetapi digunakanlengkungS-S. yaitulengkungyangterdiri dari duabuah lengkung peralihan.Selain menggunakan rumus 20. untuk tuiuan praktis Lsdapat ditetapkan dengan menggunakan tabel2.2.VRSuperelevasi. e()15Tabel 2.2: Paniang lengkung peralihan (Ls) dan paniang pencapaian superelvasi (Le) untuk ialan 1ialur-2laiur-2arah.(Km/Jam) 2 4 6 8 10Ls Le Ls Le Ls Le Ls Le Ls Le203040 10 20 15 25 15 25 25 30 35 4050 15 25 20 30 20 30 30 40 40 5060 15 30 20 35 25 40 35 50 50 6070 20 35 25 40 30 45 40 55 60 7080 30 55 40 60 45 70 65 90 90 12090 30 60 40 70 50 80 70 10010 130100 35 65 45 80 55 90 80 1100 145110 40 75 50 85 60 10090 12011 -120 40 80 55 90 70 11095 1350 -2.3.3. Bentuk Tikungan Spiral Spiral (S-S)Bentuk tikungan ienis ini dipergunakan pada tikungan yang taiam. Adapun rumus rumusnya semua sama seperti rumus untuk tikungan S-C-S. hanya yang perlu diingat ( Shirley L. Hendarsin. 2000) bahwa: 2 s dan Lc 0 (30)Ltot 2 Ls .(31)s0cs 2360R 2L=28.648R c s= .(32)16TSST`EskPIGambar 2.8Komponen S-S2.3.4. Superelevasi Superelevasi adalah suatu kemiringanmelintang di tikungan yang berIungsi mengimbangi gaya sentriIugal yang diterima kendaraan pada saat berialanmelalui tikunganpadakecepatanVr. Nilai maksimumditetapkan 10.Superelevasi dicapai secara bertahap dari kemiringan melintang normal pada bagian ialan yang lurus sampai ke miringan penuh (superelevasi) pada bagian lengkung.Pada tikungan SCS. pencapaian superelevasi diawali dari bentuk normal () sampai awal lengkung peralihan (TS) yang berbentuk ( ) pada bagian lurus ialan. lalu dilaniutkan sampai superelevasi penuh () pada akhir bagian lengkung peralihan (SC).17Pada tikungan FC. pencapaian superelevasi diawali dari bagian lurus sepaniangLssampai denganbagianlingkaranpenuhsepaniangLs. Pada tikungan S-S. pencapaian superelevasi seluruhnya dilakukan pada bagian spiral.Ada tiga cara untuk mendapatkan superelevasi yaitu:1. Memutar perkerasan ialan terhadap proIil sumbu2. Memutar perkerasan ialan terhadap tepi ialan sebelah dalam.3. Memutar perkerasan ialan terhadap tepi ialan sebelah luar.18

((( ( ` Gambar 2.9Pencapaian superelevasi pada tikungan tipe SCSSisi luar tikunganBagian lurusBagian lengkung penuhBagian lurus2/3 Lse maxe 0 Sisi dalam tikungan1/3 Ls2/3 Ls1/3 LsTCCTGambar 2.10Pencapaian superelevasi pada tikungan tipe FCPembuatan diagram superelevasi antara cara AASHTO dan cara Bina Marga ada sedikit perbedaan. yaitu:1. Cara AASHTO. penampang melintang sudah mulai berubah pada titik TS.2. CaraBinaMarga. penampangmelintangpadatitikTSmasihberupa penampang melintang normal.2.3.5. Pelebaran DitikunganPelebaran perkerasan ditikungan dilakukan untuk mempertahankan kendaraantetappadalintasanyasebagaimanapadabagianlurus. Hal ini teriadi karena pada kecepatan tertentu kendaraan pada tikungan cenderung untukkeluarlaiurakibat posisi roda depan dan roda belakang yang tidak sama.yang tergantung dari ukuran kendaraan.Penentuan lebar pelebaran ialur di tikungan ditiniau dari elemen- elemen: keluar ialur (oII tracking) dankesukarandalammengemudi di tikungan.2.3.6. Tikungan Gabungan Pada perencanaanalinemen horisontal. kemungkinanakanditemui perencanaantikungangabungan karenakondisi topograIipadaroute ialan yangakandirencanakansedemikianrupasehinggaterpaksa(tidakdapat dihindari ) harusdilakukanrencanatikungangabungan. yangterdiri dari tikungan gabungan searah dan tikungan gabungan berbalik.2.3.6.1. Tikungan Gabungan Searah19R1~1.5R2adalahtikungansearahyangharusdihindari. iika terpaksa dibuat tikungan gabungan dari dua busur lingkaran (FC). disarankan seperti pada gambar dibawah ini:2.3.6.2. Tikungan Gabungan BerbalikTikungan gabungan yang berbalik secara tiba-tiba. harus dihindari. karena dalamkondisi ini pengemudi sangat sulit untuk mempertahankan kendaraan pada laiurnya. Jika terpaksa dibuat tikungan gabungan dari dua busur lingkaran (FC). disarankan seperti pada gambar di bawah ini:20R1fR1 ~ R2Gambar 2.11Tikungan gabungan searah. R1 ~ R2Sisipan bagian lurus20 mR1R2i f i f f ifi`f if HH i f `iiffi`f i f i fTikungangabunganyangberbalik. akanmenemui kesukaran dalampelaksanaan(konstruksi) kemiringan melintang ialan. terutama padakonstruksi timbunanyangtinggi. tikungansemacamini sedapat mungkin harus dihindari.2.4.Alinemen Vertikal21 i f iiff f i`fiiff i f H` H ` H i `f i f Alinemen vertikal adalah perencanaan elevasi sumbu ialan pada setiap titik yang ditiniau. berupa proIil memaniang. ProIil ini menggambarkan tinggi rendahnya ialan terhadap muka tanahasli. sehingga memberikan gambaran terhadap kemampuan kendaraan dalam keadaan naik dan bermuatan penuh.Alinemen vertikal sangat erat hubungannya dengan besarnya biaya pembangunan. biaya penggunaan kendaraan serta iumlah lalu lintas.Kalau pada alinemen horisontal yang merupakan bagian kritis adalah bagian tikungan. maka padaalinemenvertikal yangmerupakanbagiankritisiustrupadabagianyang lurus. Pada perencanaan alinemen vertikal akan ditemui kelandaian positiI (taniakan) dan kelandaian negatiI (turunan). sehingga kombinasinya berupa lengkung cekung dan lengkung cembung..selain kedua lengkung tersebut ditemui pula kelandaian 0 (datar).2.4.1. Landai Maksimum Kelandaian maksimum yang ditentukan untuk berbagai variasi rencana. dimaksudkan agar kendaraan dapat bergerak terus tanpa kehilangan kecepatan yang berarti. Kelandaian maksimum didasarkan pada kecepatan truk yang bermuatan penuh mampu bergerak dengan kecepatan tidak kurang dari separuh kecepatan semula tanpa harus menggunakan gigi rendah.Kelandaian maksimumhanya digunakan bila pertimbangan biaya sangat memaksa dan hanya untuk iarak pendekVR (km/iam) 120 110 100 80 60 50 40 40Kelandaian maksimum () 3 3 4 5 8 9 10 1022Tabel 2.3: Kelandaian maksimum yang diiiinkan2.4.2. Panjang Kritis Suatu KelandaianPaniang kritis kelandaian diperlukan sebagai batasan paniang kelandaianmaksimumagarpengurangankecepatankendaraantidaklebih dari separuh VR.(paniang ini mengakibatkan pengurangan kecepatan maksimum sebesar 25 km/iam). Lama perialanan paniang kritis tidak lebih dari satumenit. Bilapertimbanganbiayamemaksa. makapaniangkritis dapat dilampaui dengan syarat ada ialur khusus untuk kendaraan berat.Kecepatan pada awal taniakan (km/iam)Kelandaian ()4 5 6 7 8 9 1080 630 460 360 270 230 230 20060 320 210 160 120 110 90 802.4.3. Lengkung VertikalLengkung vertikal direncanakan untuk merubah secara bertahap perubahandariduamacamkelandaianarahmemaniangialanpadasetiap lokasi yang diperlukan. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi goncangan akibat perubahankelandaiandanmenyediakaniarakpandanghenti yang cukup. untuk keamanan dan kenyamanan. Lengkung vertikal terdiri dari dua ienis yaitu:1. Lengkung Cembung2. Lengkung CekungAdapun lengkung vertikal yang digunakan adalah lengkung parabola sederhana.23Tabel 2.4: Paniang kritis (m)Rumus yangdigunakanuntuklengkungsimetris( ShirleyL.Hendarsin. 2000):Ag Lg gg Lx12 11==.(33)( ) 2Ag Lg g 2g Ly212 121== ...(34)Untuk : x L dan y Evmaka800L AEv=..(35)Dimana : x iarak dari titik P ke titik yang ditiniau pada Sta.y perbedaan elevasi antara titik P dan titik yang ditiniau pada StaL panianglengkung vertikal parabola.yang merupakaniarak proyeksi dari titik A dan titik Q.g1 kelandaian tangen dari titik Pg2 kelandaian tangen dari titik QA (g1 g2) perbedaan aliabar untuk kelandaian24g1g2P QxyEvPVIlLGambar 2.17Tipikal lengkung vertikal bentuk parabolaEv iarak PVI ke lengkung parabolaKelandaianmenaik diberi tanda (). sedangkan kelandaian menurun diberi tanda (-). Ketentuan naik atau menurun ditiniau dari kiri.2.4.3.1. Lengkung Vertikal CembungKetentuan tinggi menurut Bina Marga (1997)untuk lengkung cembung adalahUntuk iarak pandangh1(m)tinggi matah2 (m)tinggi obyekHenti (Jh) 1.05 0.15Mendahului (Jd) 1.05 1.051). Paniang L berdasarkan Jh ( Shirley L. Hendarsin. 2000)Jh L. maka 399J . AL2h= ......................................................(36)Jh ~ L. maka A399J 2 Lh =...............................................(37)2). Paniang L berdasarkan Jd ( Shirley L. Hendarsin. 2000)Jd L. maka 840J . AL2d= ......................................................(38)Jd ~ L. maka A840J 2 Ld =................................................(39)25Tabel 2.5: Ketentuan tinggi untuk ienis iarak pandangLJhJh1Jh2h1h2

if i f `Panianglengkungvertikal cembung(L). yangdiperolehdari rumus38dan39padaumumnyaakanmenghasilkanLlebihpaniang daripada iika digunakan rumus 36 dan 37.Untuk penghematan biaya L dapat ditentukan dengan rumus 36 dan 37 dengan konsekwensi kendaraan pada daerah lengkung cembung tidak dapat mendahului kendaraan di depannya. untuk keamana dipasang rambu (R9 dan R25)2.4.3.2. Lengkung Vertikal CekungAda empat kriteria sebagai pertimbangan yang dapat digunakan untuk menentukan paniang lengkung cekung vertical (L). yaitu:a. Jarak sinar lampu besar dari kendaraan (Gambar 2.20 a.b)b. Kenyamanan pengemudic. Ketentuan drainase d. Penampilan secara umum26

ifif i f

i

ff Dengan bentuan gambar 2.20 a.b. yaitu tinggi lampu besar kendaraan0.60mdansudut bias 10. maka diperolehhubungan praktis. sebagai berikut:Jh L. maka h2hJ 5 . 3 120J . AL+= ......................................(40)Jh ~ L. maka AJ 5 . 3 120J 2 Lhh+ = ..........................(41)2.5. Jarak PandangJarakpandang adalahsuatu iarak yang diperlukan oleh seorang pengemudi padasaatmengemudi sedemikianrupa. sehinggaiikapengemudi melihat suatu halangan yang membahayakan. pengemudi dapat melakukan sesuatu (antisipasi) untuk menghindari bahaya tersebut dengan aman.Ada dua ienis iarak pandang. yaitu:1. Jarak pandang henti (Jh)2. Jarak pandang mendahului (Jd)2.5.1. Jarak Pandang Henti (Jh)Jarak pandang henti adalah iarak minimum yang diperlukan oleh setiap pengemudi untukmenghentikankendaraannyadenganamanbegitumelihat 27i

ff `p2RRhI g 26 . 3VT6 . 3VJ+ =adanyahalangandi depan. Setiaptitikdi sepaniangialanharusmemenuhi ketentuan Jh.Jarak pandang henti diukur berdasarkan asumsi bahwa tinggi mata pengemudiadalah 105 cmdn tinggi halangan 15 cm. yang diukur dari permukaan ialan. Jarak pandang henti (Jh) terdiri dari dua elemen iarak yaitu:1. Jarak Tanggap (Jht) Jaraktanggap(Jht) adalahiarakyangdi tentukanolehkendaraanseiak pengemudi melihat suatuhalanganyangmenyebabkaniaharusberhenti sampai saat pengemudi menginiak rem.2. Jarak Pengereman (Jhr)Jarak pengereman (Jhr) adalah iarak yang dibutuhkan untuk menghentikan kendaraan seiak pengemudi menginiak rem sampai kendaraan berhenti.Jarakpandanghenti (Jh) dalamsatuanmeter dapat dihitungdenganrumus (Shirley L. Hendarsin. 2000) :Jh Jht Jhr.........................................................................................(42) .(43)Dimana : VR kecepatan rencana (km/iam)T waktu tanggap. ditetapkan 2.5 detikg percepatan graIitasi. ditetapkan 9.8 m/det2Ip koeIisien gesek memaniang antara ban kendaraan dengan perkerasan ialan aspal. ditetapkan 0.28 0.45 (menurut AASHTO). Ip akan semakin kecil iika kecepatan (VR) semakin tinggi dan sebaliknya (menurut Bina Marga. Ip 0.35 0.55).28Persamaan 43 dapat disederhanakan meniadi:1. Untuk ialan datarp2RR hI 254VT V 278 . 0 J + =....................................................(44)2. Untuk ialan dengan kelandaian tertentu( ) L I 254VT V 278 . 0 Jp2RR h+ =..........................................(45)Dimana :L landai ialan dalam dibagi 100VR km/iam 120 100 80 60 50 40 30 20Jh minimum (m) 250 175 120 75 55 40 27 162.5.2.Jarak Pandang Mendahului (Jd)Jarak pandang mendahului (Jd) adalah iarak yang memungkinkan suatu kendaraan mendahului kendaraan lain di depannyadengan aman sampai kendaraan tersebut kembali ke laiur semula.Jarakpandangmendahului (Jd)diukurberdasarkanasumsi tinggi mata pengemudi adalah 105 cm dan tinggi halangan adalah 105 cm.Dalam satuan meterJdditentukan dengan rumus ( Shirley L. Hendarsin. 2000):Jd d1 d2 d3 d4+ =2T . am V T 278 . 0 d1R 1 1d2 0.278 VR T2d3 antara 30 100 m29Tabel 2.6: Jarak pandang henti minimum berdasar persamaan 2.132324d d =Dimana : d1 iarak yang ditempuh selama waktu tanggap (m)d2 iarak yang ditempuh selama mendahului sampai dengan kembali ke laiur semula (m)d3 iarak antara kendaraan yang mendahului dengan kendaraan yang dating dari arah berlawanan setelah proses mendahului selesai (m).d4 iarak yang ditempuh oleh kendaraan yang dating dari arah berlawanan.T1 waktu dalam (detik). 2.12 0.026 VRT2 waktu kendaraan berada di ialur lawan.(detik). 6.56 0.048 VRa percepatan rata-rata km/iam/detik. (km/iam/detik). 2.052 0.0036 VRm perbedaan kecepatan dari kendaraan yang menyiap dan kendaraan yang disiap. (biasanya diambil 10-15 km/iam)VR km/iam 120 100 80 60 50 40 30 20Jd (m) 800 670 550 350 250 200 150 10030Tabel 2.7: Paniang iarak pandang mendahului berdasarkan VR