ekosistem lentik

Download EKOSISTEM  LENTIK

Post on 25-Oct-2015

48 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

EKOSISTEM LENTIK

TRANSCRIPT

  • EKOSISTEM LENTIK (TERGENANG)

    MAKALAH

    Disusun oleh:

    Susyatin Ummul A. 111810401004

    Izzay Afkharina 111810401005

    Kiki Ikromatuz Z. 111810401016

    Galen Rahardian 111810401030

    Dia Qori Yaswinda 111810401033

    JURUSAN BIOLOGI

    FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

    UNIVERSITAS JEMBER

    2013

  • BAB 1. PENDAHULUAN

    1.1 Pendahuluan

    Dua per tiga bagian dari bumi merupakan daerah perairan yang kemudian

    membentuk ekosistem perairan atau disebut juga ekosistem akuatik. Ekosistem

    akuatik terbentuk karena adanya interaksi antara makhluk hidup akuatik dengan

    lingkungannya. Ekosistem akuatik sendiri merupakan ekosistem yang memiliki

    substrat berupa cairan. Berdasarkan tingkat salinitasnya ekosistem perairan dibagi

    menjadi ekosistem air tawar dengan tingkat salinitas rendah yaitu kurang dari 5%,

    air payau dengan tingkat salinitas 5-30% dan air laut dengan tingkat salinitas

    tertinggi yaitu antara 30-40% (Odum, 1998).

    Ekosistem air laut dibedakan menjadi ekosistem pantai, mangrove, pasang

    surut (intertidal), terumbu karang (coral reef), subtidal dan laut dalam. Sedangkan

    ekosistem air tawar dibedakan menjadi lotik dan lentik. Lotik merupakan

    ekosistem air tawar yang airnya mengalir, sedangkan lentik merupakan ekosistem

    air tawar yang airnya tergenang. Pada ekosistem lentik terdapat organisme yang

    tidak pernah berubah dan tidak memiliki kemampuan adaptasi khusus karena

    airnya yang tenang, tidak mengalir bahkan tidak bergelombang. Perairan

    tergenang atau lentik meliputi danau, rawa, kolam, waduk dan sebagainya.

    Berikut ini akan dibahas lebih lanjut mengenai ekosistem lentik.

    1.2 Rumusan Masalah

    1) Apa yang dimaksud dengan ekosistem lentik?

    2) Apa saja organisme yang terdapat pada ekosistem lentik?

    3) Bagaimana siklus materi dan aliran energi yang terjadi pada ekosistem

    lentik?

    4) Apa saja faktor-faktor pembatas pada ekosistem lentik?

  • 1.3 Tujuan

    1) Mengetahui ekosistem lentik dan apa saja ciri-ciri pada ekosistem tersebut.

    2) Mengetahui organisme-organisme yang terdapat pada ekosistem lentik.

    3) Mengetahui siklus materi dan aliran energi yang terjadi pada ekosistem

    lentik.

    4) Mengetahui faktor-faktor pembatas pada ekosistem lentik.

  • BAB 2. PEMBAHASAN

    Menurut Odum (1998), ekosistem lentik merupakan ekosistem air tawar

    yang airnya tergenang dan cenderung tenang tanpa gelombang. Ciri-ciri dari

    ekosistem lentik antara lain:

    - Ekosistem lentik mengalami stratifikasi secara vertikal akibat perbedaan

    intensitas cahaya dan perbedaan suhu

    - Tidak memiliki arus sehingga organisme di dalamnya tidak membutuhkan

    adaptasi khusus

    - Substrat dasar berupa lumpur halus

    - Kadar oksigen yang terlarut tidak terlalu besar karena keadaan arusnya yang

    tenang

    - Organisme pada ekosistem lentik cenderung beragam dan tidak berganti-ganti

    - Tumbuhan yang umumnya terdapat pada ekosistem lentik berupa alga dan

    tumbuhan air mengapung lainnya (Kembarawati, 2000).

    Faktor-faktor pembatas abiotik pada ekosistem lentik adalah sebagai

    berikut:

    a. Suhu

    Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang, ketinggian dari

    permukaan laut, waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan awan dan aliran

    serta kedalaman badan air. Organisme akuatik memiliki kisaran suhu tertentu

    yang disukai bagi pertumbuhannya. Peningkatan suhu perairan mengakibatkan

    peningkatan viskositas, reaksi kimia dan evaporasi. Selain itu, peningkatan

    suhu juga mengakibatkan peningkatan kecepatan metabolisme dan respirasi

    organisme air, selanjutnya mengakibatkan peningkatan konsumsi oksigen.

    Peningkatan suhu perairan sebesar 10oC menyebabkan terjadinya peningkatan

    konsumsi oksigen oleh organisme akuatik sekitar 2-3 kali lipat. Kisaran suhu

    optimum bagi pertumbuhan fitoplankton di perairan adalah 20-30oC.

    Berdasarkan suhu, ekosistem lentik dibedakan menjadi tiga, yaitu: epilimnion

  • (suhu pada lapisan permukaan atas), metalimnion (suhu pada lapisan di bawah

    epilimnion) dan hipolimnion (suhu pada lapisan dasar).

    b. Kedalaman

    Kedalaman menjadi faktor pembatas bagi kehidupan organisme. Kedalaman

    akan berkorelasi dengan banyak faktor fisik dan kimiawi perairan seperti suhu,

    daya tembus cahaya matahari, tekanan hidrostatik dan lain-lain.

    c. Arus

    Pada ekosistem lentik yang relatif dalam akan memungkinkan terjadinya arus

    vertikal yaitu pergerakan air dari dasar ke permukaan atau sebaliknya. Hal

    tersebut karena adanya stratifikasi suhu pada perairan tersebut. Kenaikan suhu

    perairan akan menyebabkan menurunnya kerapatan molekul air, air akan

    bergerak dari massa yang memiliki kerapatan molekul lebih tinggi ke yang

    lebih rendah. Arus vertikal ini berperan sangat penting terhadap distribusi gas

    terlarut, mineral, kekeruhan dan organisme planktonik.

    d. Intensitas cahaya

    Intensitas cahaya matahari ke dalam perairan akan mempengaruhi produktifitas

    primer. Kedalaman penetrasi cahaya dipengaruhi oleh beberapa faktor antara

    lain: tingkat kekeruhan, sudut datang cahaya matahari dan intensitas cahaya

    matahari. Bagi organisme perairan, intensitas cahaya yang masuk berfungsi

    sebagai alat orientasi yang akan mendukung kehidupan organisme pada

    habitatnya. Penentuan penetrasi cahaya secara visual dengan menggunakan

    secchi disk. Nilai kecerahan dinyatakan dalam satuan meter.

    e. Substrat Dasar

    Substrat dasar perairan dapat menjadi faktor pembatas, baik secara sendiri

    maupun komulatif terhadap organisme perairan. Substrat dasar akan

    berpengaruh terhadap distribusi organisme perairan. Organisme perairan

    secara morfologi memiliki kekhasan tertentu untuk dapat hidup pada habitat

    perairan dengan tipe substrat dasar tertentu. Jenis-jenis gastropoda banyak

    ditemukan pada ekosistem perairan dengan substrat dasar berbatu, hal ini

    karena gastropoda memiliki kemampuan untuk melekat kuat pada substrat

    bebatuan dan juga dilengkapi cangkang yang keras sehingga dapat melindungi

  • tubuhnya apabila terjadi benturan dengan substrat yang keras. Kelompok

    bivalvia dan vermes lebih banyak ditemukan pada ekosistem perairan dengan

    substrat dasar berpasir atau berlumpur.

    f. Kekeruhan (Turbiditas)

    Kekeruhan air disebabkan oleh partikel-partikel suspensi seperti tanah liat,

    garam, bahan organik terurai, plankton dan organisme lainnya. Perairan yang

    tidak terlampau jernih dan tidak terlampau keruh baik untuk kehidupan

    organisme perairan. Pengaruh ekologis kekeruhan adalah menurunya daya

    penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan yang selanjutnya menurunkan

    produktivitas primer akibat penurunan fotosintesis fitoplankton.

    g. pH

    Derajat keasaman (pH) adalah suatu ukuran dari konsentrasi ion hidrogen dan

    menunjukkan apakah suasana air tersebut bereaksi asam atau basa.Air normal

    yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan mempunyai pH berkisar antara

    6,5 7,5.Air dapat bersifat asam atau basa tergantung pada besar kecilnya pH

    air atau besarnya konsentrasi ion hidrogen di dalam air.Air limbah dan bahan

    buangan dari kegiatan industri yang dibuang ke air akan mengubah pH air yang

    pada akhirnya dapat mengganggu kehidupan organisme di dalam air tersebut.

    h. COD (Chemical Oxygen Demand)

    Nilai COD menunjukkan jumlah oksigen total yang dibutuhkan di dalam

    perairan untuk mengoksidasi senyawa kimiawi yang masuk ke dalam perairan

    seperti minyak,logam berat,maupun bahan kimiawi lain.Besarnya nilai COD

    mengindikasikan banyaknya senyawa kimiawi yang ada di dalam perairan dan

    sebaliknya rendahnya nilai COD mengindikasikan rendahnya senyawa kimiawi

    yang ada di dalam perairan.Menurut Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001

    tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran air bahwa

    kadar COD normal air adalah sebesar 50 mg/l.

    i. DO (Dissolve Oxygen, Oksigen terlarut)

    Oksigen terlarut merupakan jumlah oksigen yang diikat oleh molekul air.

    Sumber utama DO adalah dari proses fotosintesis tumbuhan dan penyerapan

    secara langsung oksigen dari udara melalui kontak langsung permukaan air

  • dengan udara.Berkurangnya DO dalam suatu perairan adalah karena terjadinya

    respirasi organisme perairan.Oksigen terlarut sangat penting bagi penapasan

    zoobenthos dan organisme-organisme akuatik lainnya.Berdasarkan nilai DO,

    kualitas perairan dikelompokkan menjadi empat yaitu tidak tercemar (>6,5

    ppm), tercemar ringan (4,5-6,5 ppm), tercemar sedang (2,0-4,4 ppm) dan

    tercemar berat (3,0 ppm), tercemar ringan (3,0-4,9 ppm), tercemar sedang (4,9-15,0 ppm)

    dan tercemar berat (>15,0 ppm).

    k. Salinitas

    Salinitas merupakan kadar garam pada air. Ekosistem lentik memiliki tingkat

    salinitas rendah yaitu kurang dari 5% atau 6-89 ppt (Odum, 1998).

    Faktor-faktor pembatas abiotik pada ekosistem lentik adalah sebagai

    berikut:

    a. Jumlah Karnivora atau Predator

    Ekosistem lentik memiliki kergaman organisme yang sebagian besar

    adalah anggota dari kelompok Pisces. Faktor biotik karnivora pada ekosistem

    ini meliputi ikan ikan besar yang makanan utamanya adalah ikan ikan kecil.

    Banyaknya karnivora apabila tidak seimbang dengan jumlah ikan ikan kecil

    maka akan menyebabkan populasi ikan kecil semakin sedikit dan