bab i - i... · ekosistem hutan bakau ekosistem rawa ekosisitm hutan basah dataran rendah...

Download BAB I - I... · Ekosistem Hutan Bakau Ekosistem Rawa Ekosisitm Hutan Basah Dataran Rendah Ekosistem…

Post on 16-Mar-2019

217 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

1

Buku Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Papua Tahun 2009

BAB I

Kondisi Lingkungan hidup dan kecenderungannya

A. Gambaran Umum Provinsi Papua

Papua adalah Provinsi di wilayah paling timur Republik Indonesia, terletak

antara 134,20 Bujur Barat 141 Bujur timur dan 120 Lintang Utara

10 Lintang Selatan.

Dengan batas administrasi meliputi sebelah utara berbatasan dengan Samudra

Pasifik dan Republik Palau di sebelah barat bersebelahan dengan Papua

Barat, disebelah selatan berhadapan dengan laut Arafura dan Negara Australia

dan disebelah timur berbatasan langsung dengan Negara Papua New Guinea.

Papua mencakup wilayah seluas 317.062 km2 dengan garis pantai sepanjang

1.170 mil, memiliki 449 pulau terdiri atas 144 pulau berpenghuni dan 305

pulau tidak berpenghuni. Di pesisir utara, beberapa pulau terkenal antara lain

Biak, Numfor, Yapen dan Mapia, disebelah barat adalah pulau Salawati,

Batanta, Gag, Waigeo dan Jefman. Dipesisir Selatan terdapat pulau Kalepon,

Adi, Dolak dan Panjang, sedangkan di bagian timur yang berbatasan langsung

dengan Papua New Guinea.

Ciri fisiografis umum Papua dapat ditunjukan dengan adanya Pegunungan

Tengah (650 km dari Timur ke Barat) yang membelah Provinsi menjadi dua

2

Buku Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Papua Tahun 2009

dan merupakan tulang punggung pulau New Guinea, termasuk Pegunungan

Jayawijaya, perbatasan Papua New Guinea, yang dipisahkan oleh Lembah

Baliem, Danau Paniai, Pegunungan Sudirman, serta pegunungan Wailand.

Secara topografis, Papua terdiri atas dataran rendah berawa sampai dataran

tinggi yang merupakan hutan hujan tropis, padang rumput dan lembah

lengkap dengan alang-alangnya. Di bagian tengah berjejer rangkaian

pegunungan tinggi sepanjang 650 km. salah satu bagian dari pegunungan itu

adalah Jayawijaya yang sangat terkenal, tiga puncak tertinggi yang selalu

diselimuti salju abadi Puncak Jayawijaya (ketinggian 5.030 m dpl), Puncak

Trikora (5.160 m dpl).

Sungai- sungai besar beserta anak sungai mengalir dari utara ke selatan.

Sungai Digul yang berhulu di Kabupaten Merauke mengalir ke laut Arafuru

sebagai muaranya.

Secara umum kondisi fisiografis berdasarkan ekosistem di Papua meliputi :

Ekosistem Hutan Bakau

Ekosistem Rawa

Ekosisitm Hutan Basah Dataran Rendah

Ekosistem Zona Pegunungan Bawah

Ekosistem Pegunungan Atas

Ekosistem Alpin

3

Buku Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Papua Tahun 2009

Jumlah penduduk Provinsi Papua 1.842.396 jiwa yang tersebar di

19 (sembilan belas) Kabupaten dan 1 (satu) Kota. Kabupaten Jayawijaya

memiliki jumlah penduduk terbanyak yaitu 209.881 jiwa, kemudian Kota

Jayapura 199.790 jiwa.

B. Lahan dan Hutan

1. Luas Kawasan Hutan

Luas kawasan hutan Papua berdasarkan Keputusan Menhutbun Nomor

891/Kpts-II/1999 seluas 42,224 juta Ha. Kawasan hutan tersebut dibagi

dalam kelompok fungsi hutan lindung, hutan suaka alam dan pelestarian

alam, hutan produksi terbatas, hutan produksi tetap, hutan produksi yang

dapat dikonversi dan kawasan perairan.

Penyebaran dan keadaan dari masing-masing tipe hutan di Indonesia

adalah sebagai berikut:

Hutan hujan tropika, terdapat pada wilayah yang mempunyai tipe

iklim A dan B dengan curah hujan diatas 1.600 mm per tahun, pada

berbagai jenis tanah antara lain podsol, latosol, podsolik, aluvial dan

regosol dengan drainase yang cukup baik. Letak areal hutan hujan

tropika ini biasanya cukup jauh dari pantai dan tidak dipengaruhi

pasang surut air. Vegetasi didalamnya didominasi oleh jenis-jenis

yang tidak menggugurkan daun, hijau sepanjang tahun (evergreen).

4

Buku Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Papua Tahun 2009

Jenis-jenis dominan terdiri dari famili Dipterocrpaceae, Agathis, Pinus

Merkusii, Podocarpus, Pometia, Instia bijuga dan lain-lain.

Hutan gambut, terdapat diwilayah beriklim A dan B pada tanah

organosol dengan lapisan gambut yang mempunyai ketebalan rata-rata

150 cm atau lebih, biasanya bersambung dengan hutan bakau dan

pada umumnya terletak dibelakang hutan rawa. Daerah

penyebarannya terutama di sekitar kepala burung, muara

S. Mamberamo dan muara S. Digul. Jenis-jenis yang banyak dijumpai

pada tipe hutan ini antara lain Shorea spp, Palaqium spp, Tetramerista

glabra dan Koompassiana malaccensis.

Hutan rawa, terdapat pada tanah alluvial yang selalu tergenang air

tawar atau daerah yang sangat sering dilanda banjir, tepi danau. Tipe

hutan ini tidak terpengaruh oleh perubahan iklim dan biasanya

terdapat dibelakang hutan pantai. Daerah penyebarannya kepala

burung dan bagian selatan Pulau Papua. Jenis-jenis yang banyak

ditemui pada tipe hutan ini diantaranya Palaqium telocarpum,

Camnoperma macrophylla, Eugenia spp, Kompassia spp dan lain-

lain.

Hutan pantai, terdapat pada daerah-daerah kering dipinggir pantai

pada tanah berpasir dan berbatu-batu diatas garis pasang surut. Jenis-

jenis yang mendominasi tipe hutan ini antara lain Barringtonia

speciosa, Terminalia cattapa, Callophylum inophylum, Pandanus spp

dan lain-lain.

5

Buku Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Papua Tahun 2009

Hutan payau, tumbuh pada pantai dengan tanah lumpur atau pasir

pada daerah yang selalu digenangi pasang surut air laut. Penyebaranya

meliputi daerah Bintuni, Waropen dan pesisir selatan Papua. Jenis-

jenis utama penyusun tipe hutan ini adalah Avicenia spp, Sonneratia

spp, Rhizophora spp dan Bruguiera spp.

Dengan kondisi yang ada saat ini, sumber daya hutan menjadi salah satu

modal pembangunan baik dari segi produksi hasil hutan, maupun dari segi

fungsinya sebagai plasma nutfah serta sistem penyangga kehidupan.

Gambar I.1. Kawasan Hutan

6

Buku Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Papua Tahun 2009

2. Perkembangan Penunjukan Kawasan Hutan

Sumber daya tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal, maka kawasan

hutan dibagi menjadi beberapa kelompok sesuai dengan fungsinya yaitu :

Hutan produksi, yaitu kawasan hutan yang diperuntukkan bagi

produksi kayu, rotan, getah, dan hasil hutan lainnya. Hutan produksi

ini terdiri dari hutan produksi tetap dan hutan produksi terbatas dan

meliputi 30 % dari luas kawasan hutan di Papua (kurang lebih

12.673.200 juta hektar).

Hutan lindung, yaitu kawasan hutan yang memiliki sifat fisik yang

khas yang harus dijaga keberadaannya sehingga fungsinya terutama

sebagai pengatur tata air, dapat dipelihara dan dipertahankan. Luas

hutan lindung adalah 10.619.090 juta hektar atau 25 % dari luas

seluruh kawasan hutan yang ada.

Hutan suaka alam dan hutan wisata, meliputi kawasan seluas kurang

lebih 8.025.820 hektar atau 19% kawasan hutan di Indonesia.

Kawasan hutan ini diperuntukan bagi perlindungan dan pelestarian

sumber plasma nutfah dan sistem penyangga kehidupan,

pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan pariwisata.

Hutan konversi yaitu kawasan hutan yang karena keadaan serta

kemungkinan-kemungkinannya dapat dikonversi menjadi peruntukan

lain seperti pertanian, perkebunan dan pemukiman. Luas hutan

7

Buku Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Papua Tahun 2009

konversi saat ini kurang lebih 9.262.130 juta hektar atau 22% dari luas

kawasan hutan yang ada di Indonesia.

3. Potensi Hutan Produksi

Total potensi hutan di Papua meskipun secara fisik cukup besar namun

kurang ekonomis karena potensi per hektarnya sangat rendah yaitu 35

m/ha untuk jenis komersial dan 61 m/ha untuk semua jenis. Selain

potensinya sangat rendah, sebagian besar kayunya terdiri dari jenis-jenis

yang belum terkenal dipasaran (belum komersial), keadaan topografinya

sangat berat dan pada sebagian besar wilayahnya tidak terdapat sungai

yang dapat dijadikan sarana angkutan sehingga biaya eksploitasinya

menjadi sangat tinggi. Sebagai perbandingan terhadap daerah lain potensi

rata-rata per hektar tertinggi di Kalimantan yaitu 84 m/ha (komersial) dan

90 m/ha (semua jenis) disusul Sumatera yaitu 64 m/ha (komersial) dan

79 m/ha (semua jenis) dan Sulawesi untuk komersial dan semua jenis

berturut-turut 44 m/ha.

Pengelolaan hutan produksi lestari memerlukan perencanaan yang disusun

berdasarkan pada kondisi potensi hutan yang ada. Dengan demikian

perhitungan potensi hutan bersama-sama dengan perhitungan kawasan

hutan mempunyai peran yang sangat vital dalam perencanaan pengelolaan

hutan produksi.

8

Buku Status Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Papua Tahun 2009

Jenis-jenis hasil hutan kayu yang dimanfaatkan dikelompokkan;

Kelompok Meranti terdiri dari; Matoa (Pometia spp.), Merbau (Instia

spp.), Mersawa (Anisoptera spp.), Kenari (Canarium spp.), Nyatoh

(Palaquium spp.), Resak (Vatica spp.), Pulai (Alstonia spp.), Damar

(Agathis spp.), Araucaria (Araucaria spp.), Kapur (Dryobalanops spp.),

Batu (Shorea spp.), Mangga huta

Recommended

View more >