definisi masalah sosial.docx

20
Definisi Masalah Sosial Menurut Para Ahli Sebenarnya masalah sosial merupakan hasil dari proses perkembangan masyarakat. Artinya problema tadi memang sewajarnya timbul apabila tidak diinginkan adanya hambatan-hambatan terhadap penemuan-penemuan baru atau gagasan baru. Banyak perubahan yang bermanfaat bagi masyarakat, walau kadang mengakibatkan kegoncangan terutama bila perubahan berlangsung dengan sangat cepat dan bertubi-tubi. Masalah sosial timbul ketika dalam jangka waktu tertentu masyarakat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan sosial yang ada. Kekurangan dalam diri manusia atau kelompok sosial yang bersumber pada faktor ekonomi, biologis psikologis, budaya juga menjadi penyebab utama timbulnya masalah sosial ini. Perspektif Sosiologi Masalah Sosial adalah situasi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai perlu diatasi (dipemecahankan). Pandangan pekerja sosial adalah terganggunya fungsi sosial, sehingga mempengaruhi kemampuan memenuhi kebutuhan, dan peranan-peranannya di masyarakat. Kondisi yang dipandang orang atau masyarakat sebagai situasi yang tidak diharapkan. Menurut Gillin dan Gillin Masalah sosial merupakan suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur yang ada dalam masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Atau, menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok warga kelompok sosial tersebut sehingga menyebabkan kepincangan sosial. Apabila antara unsur moral, politik, pendidikan, agama, kebiasaan dan ekonomi terjadi bentrokan, maka hubungan sosial akan ikut terganggu sehingga mungkin akan terjadi kegoyahan dalam kehidupan kelompok. Menurut Horton dan Leslie, 1984

Upload: saidatun12345

Post on 26-Dec-2015

40 views

Category:

Documents


3 download

TRANSCRIPT

Page 1: Definisi MASALAH SOSIAL.docx

Definisi Masalah Sosial Menurut Para Ahli

Sebenarnya masalah sosial merupakan hasil dari proses perkembangan masyarakat. Artinya problema tadi memang sewajarnya timbul apabila tidak diinginkan adanya hambatan-hambatan terhadap penemuan-penemuan baru atau gagasan baru. Banyak perubahan yang bermanfaat bagi masyarakat, walau kadang mengakibatkan kegoncangan terutama bila perubahan berlangsung dengan sangat cepat dan bertubi-tubi. Masalah sosial timbul ketika dalam jangka waktu tertentu masyarakat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan sosial yang ada. Kekurangan dalam diri manusia atau kelompok sosial yang bersumber pada faktor ekonomi, biologis psikologis, budaya juga menjadi penyebab utama timbulnya masalah sosial ini.

         Perspektif Sosiologi

Masalah Sosial adalah situasi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai perlu diatasi

(dipemecahankan). Pandangan pekerja sosial adalah terganggunya fungsi sosial, sehingga

mempengaruhi kemampuan memenuhi kebutuhan, dan peranan-peranannya di masyarakat.

Kondisi yang dipandang orang atau masyarakat sebagai situasi yang tidak diharapkan.

         Menurut Gillin dan Gillin

Masalah sosial merupakan suatu ketidaksesuaian antara unsur-unsur yang ada dalam masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Atau, menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok warga kelompok sosial tersebut sehingga menyebabkan kepincangan sosial. Apabila antara unsur moral, politik, pendidikan, agama, kebiasaan dan ekonomi terjadi bentrokan, maka hubungan sosial akan ikut terganggu sehingga mungkin akan terjadi kegoyahan dalam kehidupan kelompok.

         Menurut Horton dan Leslie, 1984

Situasi sosial yang tidak diinginkan oleh sejumlah orang karena dikhawatirkan akan

mengganggu sistem sosial dan perilaku orang-orang yang terlibat di dalamnya adalah perilaku

yang menyimpang dari nilai atau norma-norma.

         Zastrow, 2000

Page 2: Definisi MASALAH SOSIAL.docx

Masalah sosial adalah suatu kondisi sosial yang mempengaruhi sejumlah besar orang

yang memerlukan perbaikan segera dengan sekumpulan tindakan-tindakan.

         Pincus dan Minahan, 1975

Masalah sosial adalah suatu situasi atau kondisi sosial yang dievaluasi oleh orang-orang

sebagai suatu situasi atau kondisi yang tidak mengenakkan atau situasi problematic.

         Menurut Soerjono Soekanto

Masalah sosial (problema sosial) merupakan permasalahan-permasalahan yang muncul

dalam masyarakat, bersifat sosial dan berhubungan erat dengan nilai-nilai sosial dan lembaga-

lembaga kemasyarakatan. Jadi pada dasarnya masalah sosial menyangkut nilai-nilai sosial dan

moral. Oleh karena itu masalah sosial tidak akan mungkin dibahas tanpa mempertimbangkan

ukuran-ukuran masyarakat tentang apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk.

         Coleman, J.W and Cressey, D.R. 1984

Masalah sosial merupakan suatu gejala (fenomena) sosial yang mempunyai dimensi atau

aspek kajian yang sangat luas atau kompleks, dan dapat ditinjau dari berbagai perspektif (sudut

pandang atau teori). Suatu fenomena atau gejala kehidupan dikatakan sebagai masalah sosial

(social problems) adalah apabila:

1.      Sesuatu yang dilakukan seseorang itu telah melanggar atau tidak sesuai dengan nilai-norma yang

dijunjung tinggi oleh kelompok;

2.      Sesuatu yang dilakukan individu atau kelompok itu telah menyebabkan terjadinya disintegrasi

kehidupan dalam kelompok; dan

3.      Sesuatu yang dilakukan inidividu atau kelompok itu telah memunculkan kegelisahan,

ketidakbahagiaan individu lain dalam kelompok.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan unsur-unsur masalah sosial yaitu:

         Adanya suatu situasi atau kondisi sosial;

         Adanya sekelompok orang yang mengevaluasi situasi atau kondisi sosial tersebut;

         Adanya evaluasi terhadap situasi atau kondisi sosial tersebut sebagai tidak mengenakkan;

         Adanya alasan-alasan mengapa situasi atau kondisi tersebut sebagai tidak mengenakkan.

Page 3: Definisi MASALAH SOSIAL.docx

.Macam-macam Masalah Sosial Bidang Pembangunan Di Indonesia

.      Masalah Pendidikan

Seperti yang telah kita ketahui, kualitas pendidikan di Indonesia semakin memburuk. Hal ini

terbukti dari kualitas guru, sarana belajar, dan murid-muridnya. Guru-guru tentuya punya

harapan terpendam yang tidak dapat mereka sampaikan kepada siswanya. Memang, guru-guru

saat ini kurang kompeten. Banyak orang yang menjadi guru karena tidak diterima di jurusan lain

atau kekurangan dana. Kecuali guru-guru lama yang sudah lama mendedikasikan dirinya

menjadi guru. Selain berpengalaman mengajar murid, mereka memiliki pengalaman yang dalam

mengenai pelajaran yang mereka ajarkan. Belum lagi masalah gaji guru. Jika fenomena ini

dibiarkan berlanjut, tidak lama lagi pendidikan di Indonesia akan hancur mengingat banyak

guru-guru berpengalaman yang pensiun.

Sarana pembelajaran juga turut menjadi faktor semakin terpuruknya pendidikan di

Indonesia, terutama bagi penduduk di daerah terbelakang. Namun, bagi penduduk di daerah

terbelakang tersebut, yang terpenting adalah ilmu terapan yang benar-benar dipakai buat hidup

dan kerja. Ada banyak masalah yang menyebabkan mereka tidak belajar secara normal seperti

kebanyakan siswa pada umumnya, antara lain guru dan sekolah.

“Pendidikan ini menjadi tanggung jawab pemerintah sepenuhnya,” kata Presiden Susilo

Bambang Yudhoyono usai rapat kabinet terbatas di Gedung Depdiknas, Jl Jenderal Sudirman,

Jakarta, Senin (12/3/2007).

2.2.2.      Masalah Kemiskinan

Dalam kajian sosiologi pembangunan, konsep kemiskinan dibedakan menjadi tiga macam,

yaitu yang pertama kemiskinan absolut (a fixed yardstick). Konsep kemiskinan absolut ini

dirumuskan dengan membuat ukuran tertentu yang kongkit. Ukuran ini lazimnya berorientasi

pada kebutuhan dasar dalam kehidupan sehari-hari, yaitu pangan, papan dan sandang. Besarnya

ukuran setiap negara berbeda. Kedua, kemiskinan relatif (the idea of relative). Konsep

kemiskinan relatif ini dirumuskan berdasarkan atau memperhatikan dimensi tempat dan waktu.

Asumsi ini, bahwa kemiskinan di daerah satu dengan daerah lain tidak sama, demikian juga

antara waktu dulu dengan sekarang berbeda. Ketiga, kemiskinan subjektif. Konsep kemiskinan

sbjektif ini dirumuskan berdasarkan perasaan individu atau kelompok miskin. Kita menilai

individu atau kelompok tertentu miskin, tetapi kelompok yang kita nilai menganggap bahwa

dirinya bukan miskin, atau sebaliknya. Konsep kemiskinan ketiga inilah yang lebih tepat apabila

Page 4: Definisi MASALAH SOSIAL.docx

memahami konsep kemiskinan dan bagaimana langkah strategis dalam menangani kemiskinan

(Usman, S. 1998; Tjokrowinoto, W. 2004).

Masalah Penyimpangan Perilaku Remaja dan Kenakalan Remaja

Pengertian perilaku menyimpang (deviasi sosial) adalah semua bentuk perilaku yang tidak

sesuai dengan norma-norma sosial yang ada. Jadi, perilaku menyimpang remaja adalah semua

bentuk perilaku remaja yang tidak sesuai dengan nilai dan norma sosial yang berlaku di

masyarakat.

Diantara bentuk atau macam-macam perilaku menyimpang remaja antara lain:

a.       Tawuran antar pelajar;

b.      Penyimpangan seksual meliputi homoseksual, lesbianisme, dan hubungan seksual sebelum

nikah;

c.       Alkoholisme;

d.      Penyalahgunaan obat terlarang atau narkotika;

e.       Kebut-kebutan di jalan raya;

f.       Pencurian atau penipuan, dan bentuk-bentuk tindakan kriminalitas lainnya.

Kenakalan remaja pada umumnya diawali dari munculnya gejala-gejala, antara lain:

a.       Sikap apatis terhadap kewajiban-kewajiban normatif yang melekat pada dirinya;

b.      Adanya kecenderungan sikap untuk suka mengganggu teman lainnya;

c.       Sikap kecewa yang berlebihan karena tidak terpenuhinya keingian tertentu;

d.      Kurang fokus atau perhatian terhadap suatu agenda kegiatan tertentu;

e.       Sikap takut yang berlebihan terhadap sesuatu yang dianggap merugikan dirinya; dan

f.       Ketidakmampuan untuk berperan dalam kelompok atau sikap ‘manja’ yang berlebihan

(Sudarsono, 1995).

Bentuk penyimpangan perilaku remaja dapat dibedakan menjadi empat, yaitu:

Page 5: Definisi MASALAH SOSIAL.docx

a.       Penyimpangan primer, yaitu penyimpangan yang sifatnya temporer, sementara, dan masyarakat

masih bisa mentolerir;

b.      Penyimpangan sekunder, yaitu penyimpangan yang dapat merugikan atau mengancam

keselamatan orang lain, misalnya tindakan kriminal;

c.       Penyimpangan kelompok, yaitu penyimpangan yang dilakukan secara kelompok, misalnya geng

untuk berkelahi, narkotik; dan

d.      Penyimpangan individu, yaitu perilaku menyimpang yang dilakukan secara sendiri.

Masalah Lingkungan Hidup

Problem atau masalah lingkungan hidup harus menjadi perhatian yang sangat serius, karena

persoalan lingkungan adalah:

a.       Menyangkut jaminan kualitas kelangsungan kehidupan generasi dimasa-masa yang akan datang;

dan

b.      Kegagalan dalam menangani persoalan lingkungan akan membawa dampak negatif disemu

sektor kehidupan, baik dalam level lokal, nasional dan bahkan dunia, misalnya: terjadinya

bencana banjir, pemanasan global; tanah longsor dan sebagainya.

Proses pembangunan dan industrialisasi di negara-negara maju dan berkembang ternyata

membawa dampak munculnya masalah pencemaran lingkungan, baik pencemaran tanah,

pencemaran udara, pencemaran laut atau air. Meningkatnya pencemaran lingkungan tersebut

secara langsung atau tidak langsung mendorong munculnya beragam problem kehidupan di

berbagai aspek, misalnya:

a.       Tingkat kualitas kesehatan masyarakat semakin terancam;

b.      Kualitas kesuburan tanah dan ekosistem lingkungan fisik terancam;

c.       Kualitas air sebagai sumber kehidupan semakin tercemar;

d.      Terjadinya pencemaran udara, karena polusi industri, dan sebagainya.

Menurut Eitzen, dalam Soetomo (1995).

Page 6: Definisi MASALAH SOSIAL.docx

Masalah Konflik SARA (Suku, Agama, Ras dan Antarkelompok)

Masalah konflik Suku, Agama, Ras dan Antarkelompok (SARA), bagi negara-negara

berkembang yang multikultural (termasuk Indonesia) adalah problem yang sewaktu-waktu bisa

muncul, dan dapat mengganggu kelancaran proses pembangunan. Oleh karena setiap desain

pembangunan dan pelaksanaan pembangunan harus betul-betul meminimalkan terjadinya konflik

SARA (Warnaen, S. 2002; Nugroho, F, (eds). 2004). Unsur-unsur konflik SARA adalah:

a.       Ada dua pihak atau lebih yang terlibat konflik;

b.      Ada tujuan yang menjadi sasaran konflik, dan tujuan tersebut sebagai sumber konflik; dan

c.       Ada perbedaan pikiran, perasaan dan tindakan untuk meraih tujuan yang saling memaksakan

atau menghancurkan.

Ciri-ciri konflik SARA adalah:

a.       Bersifat alamiah;

b.      Anggota suku, agama, ras, antar kelompok yang terlibat konflik cenderung lebih terdorong untuk

melakukan konflik berikutnya untuk kepentingan kelompoknya;

c.       Umumnya terjadi antara SARA mayoritas dengan minoritas;

d.      Sering diiringi dengan kekerasan yang berlangsung dalam ruang dan waktu tertentu;

e.       Mereka yang terlibat konflik merasa belum puas karena kebutuhan mereka belum terpenuhi; dan

f.       Konflik melibatkan dua kelompok kepentingan yang saling memperebutkan kebutuhan hidup

(Suryadinata, L., dkk. 2003; ; Liliweri, A.. 2005).

Masalah Kriminalitas

Kriminalitas atau tindakan kriminal merupakan problem sosial yang bersifat laten (selalu ada

dalam kehidupan masyarakat atau negara manapun), namun tindakan kriminal bukanlah

penyimpangan perilaku yang dibawa sejak lahir, tetapi tindakan kriminal merupakan hasil dari

sosialisasi sub budaya menyimpang. Tindakan kriminal sering dikategorikan sebagai tindak

pidana atau tindakan yang melanggar hukum pidana. Diantara contoh tindakan kriminal adalah:

Page 7: Definisi MASALAH SOSIAL.docx

korupsi, pencurian, pembunuhan, perampokan, penipuan atau pemalsuan, penculikan, perkosaan,

sindikat narkotik atau penyalahgunaan obat terlarang.

      Masalah Aksi Protes, Pergolakan Daerah, dan Pelanggaran HAM

Aksi protes, pergolakan daerah dan pelanggaran HAM, merupakan masalah sosial yang

cukup kompleks, dan menuntut adanya perhatian khusus dalam pemecahannya. Telebih kondisi

sosial budaya masyarakat yang multikultural, seperti di Indonesia. Hampir setiap hari terjadi aksi

protes dan demonstrasi di daerah-daerah. Hal ini tentu dapat mengganggu proses perubahan atau

pembangunan masyarakat.

.Faktor-faktor yang Menyebabkan Masalah Sosial

Masalah sosial atau masalah sosial timbul akibat adanya gejala-gejala abnormal yang timbul di masyarakat. Hal tersebut terjadi karena unsur-unsur masyarakat tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya sehingga menyebabkan kekecewaan-kekecewaan dan penderitaan, yang selanjutnya disebut masalah sosial.

Masalah sosial ini berhubungan erat dengan nilai-nilai sosial dan lembaga-lembaga kemasyarakatan. Untuk itu terjadi sedikit saja pergeseran diantara nilai-nilai sosial dengan lembaga-lembaga kemasyarakatan, maka hubungan antarmanusia yang terdapat di dalam kerangka bagian kebudayaan yang normatif akan ikut terganggu.

Namun setiap masyarakat tentunya mempunyai ukuran yang berbeda mengenai hal ini, misalnya soal gelandangan merupakan masalah social yang nyata yang dihadapi kota-kota besar di Indonesia. Akan tetapi belum tentu masalah tadi dianggap sebagai masalah sosial di tempat lain. Faktor waktu juga mempengaruhi masalah sosial ini. Selain itu, ada juga masalah-masalah yang tidak bersumber pada penyimpangan norma masyarakat, seperti masalah pengangguran, penduduk, kemiskinan.

Masalah sosial dapat dikategorikan menjadi 4 (empat) jenis faktor, yakni antara lain :

1.      Faktor Ekonomi          : kemiskinan, pengangguran dan lain-lain.

2.      Faktor Budaya            : perceraian, kenakalan remaja, dan lain-lain.

3.      Faktor Biologis           : penyakit menular.

Page 8: Definisi MASALAH SOSIAL.docx

4.      Faktor Psikologis        : penyakit syaraf, aliran sesat, dan lain-lain.

2.3.1.      Faktor-faktor yang Menyebabkan Masalah Pendidikan

Penyebab  rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain adalah masalah efektifitas,

efisiensi dan standardisasi pengajaran. Hal tersebut masih menjadi masalah pendidikan di

Indonesia pada umumnya. Adapun permasalahan khusus dalam dunia pendidikan yaitu:

a.       Rendahnya sarana fisik;

b.      Rendahnya kualitas guru;

c.       Rendahnya kesejahteraan guru;

d.      Rendahnya prestasi siswa;

e.       Rendahnya kesempatan pemerataan pendidikan;

f.       Rendahnya relevansi pendidikan dengan kebutuhan; dan

g.      Mahalnya biaya pendidikan.

2.3.2.      Faktor-faktor yang Menyebabkan Masalah Kemiskinan

Secara sosiologis, kemiskian merupakan salah satu problem sosial yang paling serius dialami

oleh negara-negara berkembang. Secara umum kajian tentang kemiskinan dapat ditinjau dari dua

perspektif, yaitu yang pertama perspektif kultural (cultural perspective). Dan kedua adalah

perspektif struktural atau situasional (situational perspective). Kedua perspektif tersebut

mempunyai asumsi, metode dan pendekatan yang berbeda dalam menganalisis tentang

kemiskinan.

Pertama, perspektif kultural. Konsep kemiskinan dalam perspektif kultural dikelompokkan

menjadi tiga tingkatan analisis, yaitu yang pertama tingkatan individu, hal ini berarti kemiskinan

karena mentalitas individu yang malas, apatis, fatalistik, pasrah, boros, dan tergantung

(mentalitas negatif). Kedua adalah tingkatan keluarga, hal ini berarti kemiskinan karena jumlah

anak dalam keluarga sangat besar, dengan pola budaya keluarga yang tidak produktif. Dan yang

ketiga adalah tingkatan masyarakat, hal ini berarti kemiskinan kerena tidak terintegrasinya kaum

miskin dengan institusi-institusi masyarakat secara efektif.

Kedua, perspektif struktural. Konsep kemiskinan dalam perspektif struktural adalah

kemiskinan yang terjadi karena dampak dari faktor-faktor struktur masyarakat (faktor eksternal),

yaitu terjadinya kemiskinan karena:

Page 9: Definisi MASALAH SOSIAL.docx

a.       Program atau perencanaan pembangunan yang tidak tepat;

b.      Pelaksanaan kekuasan pemerintahan (birokrasi pemerintah) yang korup;

c.       Kehidupan sosial-politik yang tidak demokratis atau otoriter;

d.      Sistem ekonomi liberalistik atau kapitalistik;

e.       Perkembangnya teknologi modern atau industrialisasi yang mekanistik disemua aspek;

f.       Kesenjangan sosial-ekonomi di masyarakat sangat tinggi;

g.      Globalisasi ekonomi dan pasar bebas. Jadi, menurut perspektif struktural kemiskinan itu terjadi

karena faktor ekternal, sedangkan menurut perspektif kultural kemiskinan itu terjadi karena

mentalitas individu atau kelompok (Usman, S. 1998; Tjokrowinoto, W. 2004).

2.3.3.      Faktor-faktor yang Menyebabkan Masalah Penyimpangan Perilaku Remaja dan

Kenakalan Remaja

Faktor-faktor penyebab terbentuknya perilaku menyimpang remaja, antara lain:

a.       Ketidaksanggupan menyerap norma budaya;

b.      Adanya ikatan sosial yang berlainan dengan yang dimiliki;

c.       Akibat proses sosialisasi nilai-nilai subkebudayaan menyimpang;

d.      Akibat kegagalan dalam proses sosialisasi;

e.       Sikap mental yang tidak sehat;

f.       Keluarga yang broken home atau keluarga yang disintegrasi;

g.      Pelampiasan rasa kecewa yang berlebihan;

h.      Dorongan yang berlebihan untuk dipuji;

i.        Proses belajar yang menyimpang;

j.        Dorongan pemenuhan kebutuhan ekonomi yang salah; dan

k.      Pengaruh lingkungan dan media masa yang negatif

(Coleman, J.W and Cressey, D.R. 1984; Sudarsono, 1995).

Page 10: Definisi MASALAH SOSIAL.docx

2.3.4.      Faktor-faktor yang Menyebabkan Masalah Lingkungan Hidup

Ada beberapa faktor kekuatan sosial (perilaku manusia) yang menyebabkan terjadinya

penceran dan ancaman kelestarian lingkungan, antara lain:

a.       Pertumbuhan penduduk yang pesat dan mengakibatkan meningkatnya permintaan akan

makanan, energi dan beberapa kebutuhan lainnya;

b.      Konsentrasi penduduk di daerah perkotaan (urbanisasi) menyebabkan munculnya beragam

limbah yang dapat merusak ekosistem;

c.       Proses pembangunan dan modernisasi yang meningkatkan pengunaan tekbologi modern yang

bersifat konsumerisme dan mengabaikan keselamatan lingkungan; dan

d.      Aktivitas dan mekanisme pasar, bekerja tanpa pertimbangan keselamatan atau kelestarian

lingkungan hidup.

2.3.5.      Faktor-faktor yang Menyebabkan Masalah Konflik SARA (Suku, Agama, Ras dan

Antarkelompok)

Sumber-sumber konflik SARA, yaitu:

a.       erbedaan orientasi nilai budaya dan masing-masing saling memaksakan kehendak;

b.      Tertutupnya pintu komunikasi antar masing-masing pihak sehingga tidak bisa saling memahami

pola budaya;

c.       Kepemimpinan yang tidak efektif; pengambilan keputusan yang tidak adil;

d.      Ketidakcocokan peran-peran sosial, yang disertai dengan pemaksaan kehendak;

e.       Produktivitas masing-masing pihak rendah dalam kelompok, sehingga kebutuhan kelompok

tidak terpenuhi;

f.       Terjadinya perubahan sosial budaya yang bersifat revolusioner, sehingga terjadi disintegrasi

sosial-budaya;

g.      Karena latar belakang historis yang tidak baik; dan

h.      Kesenjangan sosial-ekonomi

(Soetomo, 1995; Liliweri, A.. 2005).

Page 11: Definisi MASALAH SOSIAL.docx

2.3.6.      Faktor-faktor yang Menyebabkan Masalah Kriminalitas

Hal-hal yang mendorong terjadinya perilaku menyimpang dalam bentuk tindakan kriminal

antara lain:

a.       Terjadinya perubahan sosial, politik, ekonomi yang bersifat revolusi, misalnya terjadi

peperangan;

b.      Terjadinya kesenjangan sosial ekonomi di masyarakat yang begitu besar, sebagai akibat

kesalahan strategi atau perencanaan dan pelaksanaan program pembangunan;

c.       Adanya peluang atau kesempatan untuk terjadinya tindakan kriminal, karena alat-alat penegak

hukum tidak tegas atau tidak ada kepastian hukum di masyarakat;

d.      Pemerintah yang lemah (tidak bersih) dan aparat pemerintah yang korup, atau banyak muncul

penjahat kerah putih (white collar crime) di setiap departemen pemerintah atau lembaga

pemerintah dan lembaga-lembaga ekonomi;

e.       Meningkatnya jumlah penduduk yang tidak terkendali, sehingga jumlah pengangguran dan

urbanisasi meningkat;

f.       Kondisi kehidupan keluarga yang disintegratif; dan

g.      Berkembangnya sikap mental negatif, misalnya: hedonistis, konsumersitis, suka menempuh

jalan pintas dalam meraih tujuan dan sejenisnya (Coleman, J.W and Cressey, D.R. 1984;

Soetomo, 1995).

2.3.7.      Faktor-faktor yang Menyebabkan Masalah Aksi Protes, Pergolakan Daerah, dan

Pelanggaran HAM

Diantara sebab terjadinya aksi protes, pergolakan daerah dan pelanggaran HAM, antara lain:

a.       Terjadinya dominasi mayoritas kepada minoritas disertai dengan tindakan sewenang-wenang

dalam berbagai aspek kehidupan; atau adanya pemaksaan kehendak antar kelompok di

masyarakat;

b.      Terjadinya kesenjangan sosial-ekonomi di masyarakat yang sangat tinggi;

c.       Terjadinya perebutan antar kelompok di masyarakat tentang sumber-sumber mata pencaharian

hidup;

Page 12: Definisi MASALAH SOSIAL.docx

d.      Adanya pemaksaan ideologi kelompok satu kepada kelompok lainnya (berkembangnya sikap

eksklusifisme/ primordialisme); dan

e.       Adanya tradisi masa lalu sebagai warisan sejarah tentang konflik antar kelompok atau antar

ethnik.

2.4.Langkah Strategis Menanggulangi Masalah Sosial

2.4.1.      Langkah Strategis Menanggulangi Masalah Pendidikan

Pertama, solusi sistemik, yakni solusi dengan mengubah sistem-sistem sosial yang berkaitan

dengan sistem pendidikan. Seperti diketahui sistem pendidikan sangat berkaitan dengan sistem

ekonomi yang diterapkan. Sistem pendidikan di Indonesia sekarang ini, diterapkan dalam

konteks sistem ekonomi kapitalisme (mazhab neoliberalisme), yang berprinsip antara lain

meminimalkan peran dan tanggung jawab negara dalam urusan publik, termasuk pendanaan

pendidikan.

Kedua, solusi teknis, yakni solusi yang menyangkut hal-hal teknis yang berkait langsung

dengan pendidikan. Solusi ini misalnya untuk menyelesaikan masalah kualitas guru dan prestasi

siswa.

2.4.2.      Langkah Strategis Menanggulangi Masalah Kemiskinan

Beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan dalam menanggulangi kemiskinan antara

lain:

a.       Menyusun perencanaan pembangunan yang tepat dan integral;

b.      Melaksanakan program pembangunan di segala bidang, yang berbasis kerakyatan;

c.       Meningkatkan kualitas layanan pendidikan secara maksimal sesuai dengan amanat UUD 1945;

d.      Reformasi birokrasi (transparansi, efisiensi dan akuntabilitas pengelolaan sumber daya

pembangunan);

e.       Menegakkan kepastian hukum dan berkeadilan; dan

f.       Meningkatkan peran serta lembaga-lembaga swadaya masyarakat dan media massa dalam proses

pembangunan.

Page 13: Definisi MASALAH SOSIAL.docx

(Dwipayana, Ari (Ed). 2003; Tjokrowinoto, W. 2004)

2.4.3.      Langkah Strategis Menanggulangi Masalah Penyimpangan Perilaku Remaja dan

Kenakalan Remaja

Diantara langkah strategis untuk meminimalkan terjadinya kenakalan remaja antara lain:

a.       Menciptakan kehidupan rumah tangga yang beragama (menunjung tinggi nilai spiritual);

b.      Menciptakan kehidupan keluarga yang harmonis (hubungan antara ayah, ibu dan anak terjalin

dengan baik);

c.       Mewujudkan kesamaan nilai, norma yang dipegang antara ayah dan ibu dalam mendidik anak;

d.      Memberikan kasih sayang secara wajar atau proporsional (tidak memanjakan anak);

e.       Memberikan perhatian secara proporsional terhadap beragam kebutuhan anak;

f.       Memberikan pengawasan secara wajar atau proporsional terhadap pergaulan anak di lingkungan

masyarakat atau teman bermainnya; dan

g.      Memberikan contoh tauladan yang terbaik pada anak, dan setiap pemberian layanan pada aak

diarahkan pada upaya membentuk karakter atau mentalitas positif.

(Coleman, J.W and Cressey, D.R. 1984; Wilis,S. 1994).

2.4.4.      Langkah Strategis Menanggulangi Masalah Lingkungan Hidup

Ada beberapa langkah strategis dalam menangani masalah pencemaran lingkungan hidup,

yaitu:

a.       Menerapkan sistem hukum secara tegas dan berkeadilan terhadap setiap pelaku penceramaran

lingkungan;

b.      Melakukan gerakan perlawanan terhadap pencemaran lingkungan hidup pada semua lapiran

masyarakat, misalnya gerakan reboisasi, menjalankan konservasi, dan melakukan daur ulang;

c.       Melakukan kontrol dan pengendalian terhadap pertumbuhan penduduk;

d.      Melakukan inovasi teknologi, yaitu teknologi yang ramah lingkungan;

e.       Membudayakan gaya hidup masyarakat yang konsumeris dan mekanis (orientasi kekinian)

berubah pada orientasi hidup pada kelangsungan generasi mendatang (orientasi masa depan); dan

Page 14: Definisi MASALAH SOSIAL.docx

f.       Mengembangkan pendidikan kelestarian lingkungan di setiap jenjang pendidikan.

(Soetomo, 1996, Usman, S. 1998)

2.4.5.      Langkah Strategis Menanggulangi Masalah Konflik SARA (Suku, Agama, Ras dan

Antarkelompok)

Strategi penyelesaian konflik, antara lain:

         Pertama, melakukan manajemen konflik. Manajemen konflik adalah: “tindakan konstruktif yang

direncanakan, diorganisasi, digerakkan dan dievaluasi secara teratur atas semua usaha demi

mengakhiri konflik”. Ada delapan konsep dalam melakukan manajemen konflik, yaitu:

a.       Pengakuan diri bahwa dalam setiap masyarakat selalu ada konflik;

b.      Analisis situasi yang menyebabkan konflik;

c.       Analisis pola perilaku pihak-pihak yang terlibat konflik;

d.      Menentukan pendekatan konflik yang dapat dijadikan model penyelesaian;

e.       Membuka semua jalur-jalur komunikasi, baik langsung atau tidak langsung;

f.       Melakukan negoisasi atau perundingan dengan pihak-pihak yang terlibat konflik;

g.      Rumuskan beberapa anjuran, alternatif, konfirmasi relasi sampai tekanan; dan

h.      Hiduplah dengan penuh motivasi kerja dengan konflik.

Semua konflik tidak mungkin dihilangkan sama sekali, yang bisa hanya diminimalkan.

         Kedua, melakukan analisis konflik, yaitu melakukan penelitian tentang pola budaya antar etnik

atau kelompok yang sedang konflik. Tujuan penelitian ini adalah:

a.       Akan dapat melacak sejarah etnik, karena sejarah budaya etnik sangat menentukan karakter

etnik masing-masing;

b.      Menjelaskan faktor penyebab konflik antar etnik;

c.       Melakukan interpretasi terhadap konflik etnik dengan melihat sebab-sebabnya;

d.      Mengelaborasi nasionalisme etnik dan peranannya dalam eskalasi konflik sosial; dan

e.       Menggambarkan situasi khusus yang terjadi dalam kondisi kekinian dan meprediksi kondisi

keakanan;

Page 15: Definisi MASALAH SOSIAL.docx

         Ketiga, melakukan pendidikan komunikasi lintas budaya. Diantara strategi pendidikan

komunikasi lintas budaya adalah memberlakukan pendidikan multikultural yang terintegrasi

pada setiap mata pelajaran di setiap satuan pendidikan. Inti pendidikan multikultural adalah,

demokratisasi, humanisasi dan pluralis (Sutrisno, L. 2003; Suryadinata, L., dkk. 2003).

2.4.6.      Langkah Strategis Menanggulangi Masalah Kriminalitas

Pendekatan atau metode yang dapat ditempuh untuk mencegah terjadinya tindakan kriminal

adalah:

a.       Metode preventif, yaitu cara pencegahan melalui pemberian informasi (penyuluhan),

pendidikan, pelaksanaan program pembangunan yang benar;

b.      Metode represif, yaitu cara pencegahan melalui pemberian hukuman, penangkapan dan

pemenjaraan sampai pada penembakan. Metode terbaik dalam menangani tindak kriminal adalah

metode preventif (Wilis,S. 1994).

2.4.7.      Langkah Strategis Menanggulangi Masalah Aksi Protes, Pergolakan Daerah, dan

Pelanggaran HAM

Ada beberapa langkah strategis yang dapat dilakukan dalam proses pembangunan masyarakat

Indonesia, untuk meminimalkan terjadinya aksi protes, demonstrasi, tindak kriminal, dan

pelanggaran HAM, antara lain:

a.       Merumuskan pokok-pokok kebijakan pembangunan masyarakat, antara lain:

1.      Membangunan harus memihak rakyat, dinamis-berkelanjutan, menyeluruh, terpadu dan

terkoordinasikan;

2.      Pembangunan harus memanfaatkan secara baik sumber daya masyarakat dan meningkatan

partisipasi peran masyarakatnya;

b.      Memprioritaskan pembangunan SDM, yaitu membangun ketaatan pada prinsip-prinsip moral

(hukum) dan agama; sikap kesetiakawanan sosial; kreativitas; produktivitas; pengembangan

rasionalitas; dan kemampuan menegakkan kemandirian untuk berkarya;

c.       Program yang disusun di sektor pembangunan masyarakat, betul-betul memperhatikan

kebutuhan yang dirasakan oleh masyarakat, dengan memperhatikan skala prioritas dan kondisi

lingkungan fisik serta sosio-budaya masyarakatnya;

Page 16: Definisi MASALAH SOSIAL.docx

d.      Proses pembangunan sosial, ekonomi dan politik masyarakat, harus lebih meningkatkan kearah

otonomi daerah dan otonomi masyarakat yang lebih berkualitas;

e.       Proses pelaksanaan pembangunan masyarakat hendaknya dilakukan secara demokratis,

transparansi dan akuntabel dalam pengelolaan keuangan; dan

f.       Karena basis ekonomi masyarakat Indonesia adalah pertanian, maka program pembangunan

harus berbasis pada pembangunan teknologi pertanian di pedesaan.