ccs kasus langka

Click here to load reader

Post on 20-Jan-2016

8 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kasuss langka

TRANSCRIPT

Central Cord Syndrome adalah injuri parsial pada cervical cord yang mengakibatkan kelemahan motorik yang lebih parah pada ekstremitas atas daripada ekstremitas bawah

CENTRAL CORD SYNDROME I KETUT AGUS MULIADI ARTHAWAN0202005012

Pembimbing:

DR. TJOK GDE BAGUS MAHADEWA, Sp.BS, M.KesFAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS UDAYANA

DENPASAR

2007KATA PENGANTAR

Puji syukur Penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat-Nya, Penulis dapat menyelesaikan tugas reading yang berjudul Central Cord Syndrome tepat waktu. Tugas reading ini merupakan persyaratan untuk melakukan ujian pada jenjang profesi dokter muda di bagian / SMF Ilmu Bedah FK Udayana / RS Sanglah Denpasar.

Dalam melakukan penyusunan reading ini, Penulis banyak mendapatkan masukan, saran serta bimbingan. Pada kesempatan ini, Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada:1. dr. A.A.Asmarajaya, Sp.BP selaku Kepala Bagian / SMF Ilmu Bedah FK Udayana / RSUP Sanglah.2. dr. W. Steven Cristian, Sp.B (K) Onk selaku koordinator pendidikan di Bagian / SMF Ilmu Bedah FK Udayana / RSUP Sanglah.3. dr. Tjok Gde Bagus Mahadewa, Sp.BS, M.Kes selaku pembimbing.4. Semua pihak yang telah membantu penulisan reading ini.

Akhir kata, Penulis menyadari bahwa reading ini tidak luput dari kesalahan sehingga mohon saran dan kritik yang membangun. Semoga sumbangan ilmiah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi dunia kedokteran.

DAFTAR ISI

Halaman

PRAKATAiDAFTAR ISIiiDAFTAR GAMBARiiiBAB 1 PENDAHULUAN1BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA2

2.1 Anatomi dan Fungsi Medula Spinalis3

2.2 Central Cord Syndrome (CCS)7

2.2.1 Patofisiologi7

2.2.3 Etiologi CCS9

2.2.4 Diagnosis10

2.2.5 Penatalaksanaan11

2.2.6 Komplikasi15

2.2.7 Prognosis15DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Segmen-segmen medula spinalis3Gambar 2. Intumesensia pada segmen C54

Gambar 3. Penampang melintang medula spinalis5Gambar 4. Traktus pada medula spinalis6

Gambar.5 Injuri hiperekstensi pada segmen servikal medula spinalis8

BAB I

PENDAHULUAN

CCS merupakan salah satu tipe dari Spinal Cord Injury (SCI). SCI dapat terjadi akibat berbagai proses patologis termasuk trauma. Apapun penyebabnya, SCI dapat menimbulkan kelainan motorik, sensorik maupun autonom yang signifikan.

Trauma pada medula spinalis (termasuk di dalamnya CCS) menyebabkan timbulnya gejala klinis akibat respon terhadap injuri baik respon segera maupun respon lambat. Gejala klinis awal muncul sebagai akibat traksi dan kompresi pada medula spinalis, baik oleh tonjolan/fragmen tulang, herniasi diskus vertebralis maupun ligamen. Kerusakan vaskular dapat menimbulkan iskemia yang dapat memperparah injuri pada medula spinalis. Selain itu dapat terjadi ruptur akson dan membran sel saraf. Perdarahan mikro terjadi dalam beberapa menit setelah injuri di area gray matter dan dapat berkembang menjadi perdarahan masif dalam beberapa jam. Akhirnya terjadi hilangnya autoregulasi dan spinal shock yang mengakibatkan hipotensi sistemik dan memperparah iskemia pada jaringan otak. Iskemia, penumpukan produk meabolik yang toksik (misalnya penumpukan glutamate, penumpukan asam laktat yang terbentuk dari metabolisme anaerob akibat iskemia) serta perubahan elektrolit menyebabkan timbulnya respon lambat pada SCI.

Selain CCS, manifestasi lain dari SCI adalah complete spinal cord transection syndrome, anterior cord syndrome, Brown-Sequard Syndrome, dan cauda equina syndrome.

Central Cord Syndrome (CCS) adalah suatu kumpulan gejala akibat adanya cedera pada segmen servikal medula spinalis. Sindroma ini ditandai oleh adanya kelemahan pada ekstremitas atas dan bawah disertai oleh gangguan sensori dan berkemih. CCS sering terjadi pada orang tua, namun dapat juga terjadi pada golongan usia dewasa muda. Seperti tipe-tipe SCI yang lain, sebagian besar kasus CCS terjadi akibat trauma. Meskipun beberapa fungsi tubuh yang terganggu pada CCS dapat kembali normal setelah beberapa waktu, namun penanganan dan pengobatan yang tepat sangat dibutuhkan untuk mencegah kecacatan menetap pada pasien. Dengan demikian, selain pilihan terapi medika mentosa dan pembedahan, fisioterapi adalah modalitas terapi yang juga penting dalam penanganan CCS.BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi dan Fungsi Medula Spinalis

Medula spinalis adalah bagian dari susunan saraf pusat yang seluruhnya terletak dalam kanalis vertebralis. Medula spinalis dikelilingi oleh struktur-struktur yang secara berurutan dari luar ke dalam terdiri atas:1. dinding kanalis vertebralis yang terdiri atas tulang vertebrae dan ligamen

2. lapisan jaringan lemak ekstradural yang mengandung anyaman pembuluh darah vena

3. meninges, yang terdiri atas:

a. dura mater (pachymeninx)

b. arachnoid (leptomeninx) yang menempel secara langsung pada dura mater, sehingga di antara kedua lapisan ini dalam keadaan normal tidak dijumpai suatu ruanganc. ruangan subarachnoid yang di dalamnya terdapat cairan serebrospnal (CSF)d. pia mater, yang menempel langsung pada bagian luar medula spinalis.

Pada tubuh orang dewasa panjang medula spinalis adalah sekitar 43cm. Pada masa tiga bulan perkembangan intrauterin, panjang medula pinalis sama dengan panjang korpus vertebrae. Pada masa perkembangan berikutnya, kecepatan pertumbuhan korpus vertebrae melebihi kecepatan pertumbuhan medula spinalis. Akibatnya pada masa dewasa, ujung kaudal medula spinalis terletak setinggi tepi kranial korpus vertebrae lumbal II atau intervertebral disk I/II. Perbedaan panjang medula spinalis dan korpus vertebrae ini mengakibatkan terbentuknya konus medularis (bagian paling kaudal dari medula spinalis yang berbentuk kerucut dan terutama terdiri atas segmen-segmen sakral medula spinalis) dan cauda equina (kumpulan radiks nervus lumbalis bagian kaudal dan radiks nervus sakralis yang mengapung dalam CSF). Ke arah kaudal, ruangan subarachnoid berakhir setinggi segmen sakral II atau III korpus vertebrae. Dengan demikian, di antara korpus vertebrae lumbal II sampai korpus vertebrae sakral III tidak lagi terdapat medula spinalis, melainkan hanya terdapat cauda equina yang terapung-apung di dalam CSF. Hal ini memungkinkan tindakan punksi lumbal di daerah intervertebral disk III/IV atau IV/V tanpa mencederai medula spinalis.

Seperti halnya korpus vertebrae, medula spinalis juga terbagi ke dalam beberapa segmen, yaitu: cervikal (C1-C8), segmen torakal (T1-T12), segmen lumbal (L1-L5), segmen sakral (S1-S5) dan 1 segmen koksigeal yang vestigial. Serabut saraf yang kembali ke medula spinalis diberi nama sesuai lokasi masuk/keluarnya dari kanalis vertebralis pada korpus vertebrae yang bersangkutan. Saraf dari C1-C7 berjalan di sebelah atas korpus vertebrae yang bersangkutan, sedangkan dari saraf C8 ke bawah berjalan di sebelah bawah korpus vertebrae yang bersangkutan.

Gambar 1. Segmen-segmen medula spinalis

Diameter bilateral medula spinalis selalu lebih panjang dibandingkan diameter ventrodorsal. Hal ini terutama terdapat pada segmen medula spinalis yang melayani ekstremitas atas dan bawah. Pelebaran ke arah bilateral ini disebut intumesens, yang terdapat pada segmen C4-T1 (intumesens cervikalis) dan segmen L2-S3 (intumesens lumbosakral). Pada permukaan medula spinalis dapat dijumpai fisura mediana ventalis, dan empat buah sulkus, yaitu sulkus medianus dorsalis, sulkus dorsolateralis, sulkus intermediodorsalis dan sulkus ventrolateralis.

Gambar 2. Intumesensia pada segmen C5

Pada penampang transversal medula spinalis, dapat dijumpai bagian sentral yang berwarna lebih gelap (abu-abu) yang dikenal dengan gray matter. Gray matter adalah suatu area yang berbentuk seperti kupu-kupu atau huruf H. Area ini mengandung badan sel neuron beserta percabangan dendritnya. Di area ini terdapat banyak serat-serat saraf yang tidak berselubung myelin serta banyak mengandung kapiler-kapiler darah. Hal inilah yang mengakibatkan area ini berwarna lebih gelap. Gray matter dapat dibagi ke dalam 10 lamina atau 4 bagian, yaitu:1. kornu anterior/dorsalis, yang mengandung serat saraf motorik, terdiri atas lamina VIII, IX dan bagian dari lamina VII2. kornu posterior/ventralis, yang membawa serat-serat saraf sensorik, terdiri atas lamina I-IV

3. kornu intermedium, yang membawa serat-serat saraf asosiasi, terdiri atas lamina VII

4. kornu lateral, merupakan bagian dari kornu intermedium yang terdapat pada segmen torakal dan lumbal yang membawa serat saraf simpatis.

Di bagian perifer medula spinalis, tampak suatu area yang mengelilingi grey matter yang tampak lebih cerah dan dikenal dengan white matter. White matter terdiri atas serat-serat saraf yang berselubung myelin dan berjalan dengan arah longitudinal.

1. Saraf spinal

2. Ganglion radix dorsalis

3. Radiks dorsalis (sensori)

4. Radiks ventralis (motorik)5. Kanalis sentralis

6. Grey matter7. White matter

Gambar 3. Penampang melintang medula spinalis

Pada penampang melintang, white matter dibagi ke dalam beberapa daerah topografik, anatara lain: funikulus dorsalis, funikulus lateralis, funikulus ventralis dan komisura alba. Funikulus adalah suatu kumpulan berkas fungsional yang disebut traktus. Serat-serat yang membentuk traktus dalam white matter berasal dari sel-sel ganglion, sel saraf dalam gray matter dan sel saraf dalam korteks serebri atau pusat fungsional lainnya dalam batang otak atau cerebrum.

Berdasarkan arah aliran impulsnya, traktus dalam medula spinalis antara lain:

1. Traktus Ascenden yang membawa impuls ke arah kranial atau ke pusat-pusat fungsional yang lebih tinggi2. Traktus Descenden yang membawa impuls dari pusat-pusat fungsional yang lebih tinggi ke medula spinalis

3. Traktus intersegmentalis, yang mengantarkan impuls dalam dua arah.