biografi abdul hadi w

Download Biografi Abdul Hadi w

Post on 18-Jan-2016

49 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

biografi singkat abdul hadi w

TRANSCRIPT

BIOGRAFI ABDUL HADI W.M

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengkajian Puisi, Prosa, dan DramaDosen Pengampu: Prof. Dr. Herman J. Waluyo, M.Pd.

Disusun Oleh: Nama: Mekar Sari Dyah Ayu PW NIM: S841402025

PROGRAM PASCASARJANA PENDIDIKAN BAHASA INDONESIAFAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKANUNIVERSITAS SEBELAS MARETSURAKARTA2014

A. Profil Abdul Hadi W.MSaya lebih senang disebut sebagai penyair saja, ucap Abdul Hadi Widji Muthari. Selebihnya, seperti jabatan redaktur kebudayaan harian Berita Buana, dan anggota Dewan Pimpinan Harian Dewan Kesenian Jakarta, dapatlah dianggap sebagai tambahan.ABDUL HADI WIJI MUTHARI atau yang akrab dikenal Abdul Hadi WM, adalah sastrawan kelahiran Sumenep, Madura, 24 Juni 1946. Dalam sederetan nama penyair Indonesia pada periode antara 1960-1980, Abdul Hadi WM termasuk yang layak diperbincangkan. Pada pertengahan tahun 1960-an Abdul Hadi telah membina kepenyairannya. Sejak kecil ia memang mencintai puisi. Penulisannya dimatangkan terutama oleh karya-karya Amir Hamzah dan Chairil Anwar, ditambah dengan dorongan orang tua, kawan dan gurunya. Lebih dari 35 tahun ia menggeluti kesusasteraan, sufisme dan khazanah intelektual nusantara. Sekitar tahun 1970-an, para pengamat menilainya sebagai pencipta puisi sufis. Ia memang menulis tentang kesepian, kematian, dan waktu. Seiring dengan waktu, karya-karyanya cenderung bernuansa mistis Islam dan kadang malah menyatu dengan mistis Jawa. Orang sering membandingkannya dengan Taufiq Ismail, yang juga berpuisi religius. Namun ia membantah. Dengan tulisan, saya mengajak orang lain untuk mengalami pengalaman religius yang saya rasakan. Sedang Taufiq hanya menekankan sifat moralistisnya, kata Abdul Hadi yang lebih senang dipanggil penyair saja.Tentang sosok dan kiprah Abdul Hadi WM, Sutardji Colzoum Bachri, penyair seangkatannya, menulis dalam Harian Angkatan Bersenjata, 30-10-1978 sebagai berikut, Abdul Hadi adalah penyair yang senantiasa berkembang. Dari buku sajaknya yang satu ke yang lain dia dikenal sebagai penyair yang prolifik alam, sajak mistis dan sufis, sajak cinta, sajak mbeling, sajak protes sosial,. Tak ketinggalan H.B. Yassin dalam Harian Berita Buana, 28-10-1977 juga mengatakan bahwa Abdul Hadi adalah salah satu penyair yang mempunyai pemikiran atau latar belakang estetik yang jelas. Estetika puisinya jelas nampak dalam puisinya. Dia tak menulis sajak begitu saja asal jadi dan asal tulis, melainkan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu yang dia sadari.Menurut Ahmadun Yosi Herfanda, seorang Redaktur & Pelayan Sastra, Peran dan keberadaan (eksistensi) Abdul Hadi WM dalam sastra Indonesia sangat paradigmatik. Dia tidak hanya muncul sebagai penyair dan sastrawan ternama, tapi juga membawa konsep estetika penting puitika sufistik yang cukup berpengaruh pada perkembangan kesastraan Indonesia pada masanya dan masa sesudahnya. Jika kebudayaan adalah sistem nilai, dan kesastraan adalah ekspresi terpenting kebudayaan, maka Abdul Hadi WM dengan nilai-nilai esoterik Islam yang dikembangkannya melalui sastra itu adalah paradigma kebudayaan Indonesia. Dia adalah contoh penting dari sedikit sastrawan Indonesia bersama Kuntowijoyo, dan Emha Ainun Nadjib yang dengan gigih mencoba membangun tradisi penciptaan (sastra) baru yang lebih mencerahkan.Kalau membicarakan sastra Islam itu tidak bisa dilihat dari kebudayaan Arab saja karena kebudayaan Islam bukan kontribusi Bangsa Arab saja. Kebudayaan Islam juga milik orang Melayu, Turki, Persia, Urdu, dan lain-lain, kata Abdul Hadi suatu hari. "Setiap bangsa memiliki seni dan budaya tertentu. Islam datang tidak untuk menghapus seni atau budaya itu, tapi justru memberinya nafas agar tetap hidup dan berkembang. Sayangnya, banyak orang Islam yang tak memahami seni, sehingga mereka kurang mengapresiasinya. Bahkan, sebagian fuqaha (ahli fikih) malah mengharamkan keberadaannya. Fikih tidak memadai untuk memahami seni.

B. Masa Kecil Abdul Hadi W.MAbdul Hadi WM terlahir dengan nama Abdul Hadi Wijaya. Ketika dewasa ia mengubah nama Wijaya menjadi Wiji. Ia lahir dari garis keturunan peranakan Tionghoa di wilayah Sumenep, Madura. Ayahnya, saudagar dan guru bahasa Jerman bernama K. Abu Muthar, dan ibunya adalah putri keturunan Mangkunegaran bernama RA Sumartiyah atau Martiyah. Mereka dikaruniai sepuluh orang anak dan Abdul Hadi adalah putra ketiga; tetapi kedua kakaknya dan empat adiknya yang lain meninggal dunia ketika masih kecil. Anak sulung dari empat bersaudara (semua laki-laki) ini di masa kecilnya sudah berkenalan dengan bacaan-bacaan yang berat dari pemikir-pemikir seperti Plato, Sokrates, Imam Ghazali, Rabindranath Tagore, dan Muhammad Iqbal. Sejak kecil pula ia telah mencintai puisi dan dunia tulis menulis. Penulisannya dimatangkan terutama oleh karya-karya Amir Hamzah dan Chairil Anwar. Bersama teman-temannya Zawawi Imron dan Ahmad Fudholi Zaini, Hadi mendirikan sebuah pesantren di kota kelahirannya tahun 1990 yang diberi nama "Pesantren An-Naba", yang terdiri dari masjid, asrama, dan sanggar seni tempat para santri diajari sastra, seni rupa (berikut memahat dan mematung), desain, kaligrafi, mengukir, keramik, musik, seni suara, dan drama.

C. PendidikanPendidikan dasar dan sekolah menengah pertamanya diselesaikan di kota kelahirannya. Ketika memasuki sekolah menengah atas, Abdul Hadi meninggalkan kota kelahirannya, pergi ke Surabaya untuk menuntut ilmu di kota itu. Ia kemudian menempuh pendidikan di Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta hingga tingkat sarjana muda, lalu pindah ke studi Filsafat Barat di universitas yang sama hingga tingkat doktoral, namun tidak diselesaikannya. Ia beralih ke Fakultas Sastra, Universitas Padjadjaran, Bandung dan mengambil program studi Antropologi. Selama setahun sejak 1973-1974 Hadi bermukim di Iowa, Amerika Serikat untuk mengikuti International Writing Program di Universitas Iowa, lalu di Hamburg, Jerman selama beberapa tahun untuk mendalami sastra dan filsafat. Pada tahun 1992 ia mendapatkan kesempatan studi dan mengambil gelar master dan doktor Filsafat dari Universiti Sains Malaysia di Penang, Malaysia, di mana pada saat yang bersamaan ia menjadi dosen di universitas tersebut. Sekembalinya ke Indonesia, Hadi menerima tawaran dari teman lamanya Nurcholis Madjid untuk mengajar di Universitas Paramadina, Jakarta, universitas yang sama yang mengukuhkannya sebagai Guru Besar Falsafah dan Agama pada tahun 2008.

D. Karier Abdul Hadi W.MKeterlibatannya dalam dunia jurnalistik diawali sejak menjadi mahasiswa, di mana Hadi menjadi redaktur Gema Mahasiswa (1967-1968) dan redaktur Mahasiswa Indonesia (1969-1974). Kemudian ia menjadi Redaktur Pelaksana majalah Budaya Jaya (1977-1978), redaktur majalah Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) (1979-1981), redaktur Balai Pustaka (1981-1983) dan redaktur jurnal kebudayaan Ulumul Qur'an. Sejak 1979 sampai awal 1990-an ia menjabat sebagai redaktur kebudayaan harian Berita Buana. Tahun 1982 ia dilantik menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta dan ketika reformasi bergulir, dalam pemilu multi partai 1999, atas desakan rekannya Dr. H. Hamzah Haz, Abdul Hadi didesak maju sebagai wakil daerah wilayah pemilihan Jawa Timur dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Tahun 2000 ia dilantik menjadi anggota Lembaga Sensor Film dan sampai saat ini dia menjabat Ketua Dewan Kurator Bayt al-Qur'an dan Museum Istiqlal, Ketua Majlis Kebudayaan Muhammadiyah, anggota Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) dan anggota Dewan Penasihat PARMUSI (Persaudaraan Muslimin Indonesia). Keterlibatan Abdul Hadi WM dalam lingkaran aktivis Muslim telah dimulai sejak ia menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) selama menjadi mahasiswa di UGM, kemudian ikut merintis lahirnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) pada tahun 1964 bersama-sama Amin Rais dan sahabatnya sesama penyair, Slamet SukirnantoSebagai pengajar, saat ini tercatat sebagai dosen tetap Fakultas Falsafah Universitas Paramadina, dosen luar biasa Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, dan dosen pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta dan The Islamic College for Advanced Studies (ICAS) London kampus Jakarta.Sebagai sastrawan, Hadi bersama sahabat-sahabatnya antara lain Taufik Ismail, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabar dan Leon Agusta menggerakkan program Sastrawan Masuk Sekolah (SMS), di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional dan Yayasan Indonesia, dengan sponsor dari The Ford Foundation.

E. Karya-karya Abdul Hadi W.MDalam pergumulan dengan dunia sastra, Abdul Hadi WM telah menerbitkan 12 antologi puisi, di antaranya: Arjuna in Meditation bersama Darmanto Jt dan Sutardji Calzoum Bachri, dan antoloji puisi dalam bahasa Inggris (At Last We Meet Again). Sejumlah puisi Abdul Hadi diterjemahkan dalam 14 bahasa yaitu Belanda, Jerman, Inggris, Prancis, Jepang, Mandarin, Thailand, Spanyol,Urdu, Arab, Rusia, Korea, Bengali dan Turki.Sajaknya, Madura mendapat pujian dari Redaktur Majalah Horison (1968), Kumpulan Sajaknya Meditasi (1976) mendapat Hadiah Buku Puisi Terbaik DKJ 1976/1977, ditahun yang sama ia memperoleh Hadiah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI. Tahun 1985 ia memperoleh Hadiah Sastra Asean - South-East Asia (SEA) Write Award, Bangkok, Thailand. Anugerah Mastera (Majelis Sastra Asia Tenggara) (2003). Dan di bulan Maret 2011, Abdul Hadi memperoleh Penghargaan Satyalancana Kebudayaan 2010 dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, penghargaan diberikan berdasarkan pertimbangan bahwa si penerima memiliki jasa besar di bidang kebudayaan yang telah mampu melestarikan kebudayaan daerah atau nasional serta hasil karyanya berguna dan bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan negara."Prof. Abdul Hadi Wm menggiring kita untuk memperkaya jiwa sekaya-kayanya dan seluas-luasnya dengan khazanah lintas seni, seni sastra, seni rupa, seni musik. Perhatian khusus pada kebudayaan Melayu yang berjaringan dengan kebudayaa