bab viii pengukuran dan pemetaan 2017/teknik...koordinat. maka dengan lukisan dapat ditentukan...

Download BAB VIII PENGUKURAN DAN PEMETAAN   2017/Teknik...koordinat. Maka dengan lukisan dapat ditentukan tempat titik P terhadap A dan B. segala sesuatu yang ... 2. Poligon Poligon yaitu

Post on 09-Apr-2018

221 views

Category:

Documents

6 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • SUMBER BELAJAR PENUNJANG PLPG 2017

    MATA PELAJARAN/PAKET KEAHLIAN

    TEKNIK INVENTARISASI DAN PEMETAAN HUTAN

    BAB VIII

    PENGUKURAN DAN PEMETAAN HUTAN

    DR IR DRS H ISKANDAR MUDA PURWAAMIJAYA, MT

    KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

    DIREKTORAT JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

    2017

  • 1

    BAB VIII

    PENGUKURAN DAN PEMETAAN

    Ilmu ukur tanah adalah bagian rendah dari ilmu yang lebih luas yang di namakan ilmu

    geodesi. Ilmu geodesi mempunyai dua maksud yaitu maksud ilmiah untuk menentukan bentuk

    permukaan bumi dan maksud praktis untuk membuat bayangan yang dinamakan peta dari

    sebagian besar atau sebagian kecil permukaan bumi.

    Pengukuran-pengukuran dilakukan dengan maksud untuk mendapatkan bayangan

    daripada keadaan lapangan, dengan menentukan tempat titik-titik diatas permukaan bumi

    terhadap satu sama lainnya. Untuk mendapatkan hubungan antara titik itu, baik hubungan yang

    mendatar maupun hubungan tegak, diperlukan sudut-sudut yang harus diukur. Untuk

    hubungan mendatar diperlukan sudut yang mendatar dan untuk hubungan tegak diperlukan

    sudut yang tegak pada gambar I, untuk menyatakan garis tegak PA, buatlah bidang tegak lurus

    yang melalui PA. buatlah pada bidang ini garis mendatar dan garis tegak melalui titik P. Keadaan

    gairs tegak PA dapat dinyatakan dengan menggunakan garis mendatar atau garis tegak. Sudut

    anatara PA dan garis mendatar dinamakan garis miring h dan sudut antara PA dan garis tegak

    lurus dinamakan sudut zenith z, karena garis tegak lurus yang ditarik melalui titik zenith z

    adalah h + z = 90%. Sudut manakah yang diukur, tergantung pada kontruksi skala lingkaran

    tegak.

    Bila garis PA ke bawah, maka sudut miring letak dibawah garis mendatar dan akan diberi

    tanda negatif. Dangan mudah akan dimengerti, bahwa h dapat mempunyai harga antara 0o dan

    90o dengan tanda positif dan negatif, sedang sudut zenith z selalu mempunyai tanda positif dan

    mempunyai harga antara 0o dan 180o. Pada sudut-sudut miring yang kecil, sukarlah untuk

    menentukan tanda, maka kebanyakan dari lingkaran tegak skalanya dibuat sedemikian rupa,

    hingga yang diukur selalu sudut zenith, dengan tidak ada kesukaran mengenai tandanya.

  • 2

    A. Pengukuran Dasar Kerangka Vertikal

    1. Metode Sipat Datar

    Beda tinggi antara dua titik adalah jarak antara kedua bidang nivo yang melalui titik-titik

    itu. Selanjutnya bidang nivo dianggap mendatar untuk jarak-jarak yang kecil antara titik-titik itu.

    Apabila demikian, beda tinggi dapat ditentukan dengan menggunakan garis mendatar yang

    sembarang dan dua mistar yang dipasang diatas kedua titik A dan B. Misalkan sekarang garis

    mendatar itu memotong mistar A di titik a dan mistar B di titik b, maka angka a dan angka b

    pada mistar akan selalu menyatakan jarak-jarak Aa dan Bb, bila titik nol kedua mistar itu letak

    dibawah. Angka-angka a dan b dinamakan lagi pembacaan pada mistar.

    Dari gambar dapat dilihat, bahwa beda tinggi h = Aa Bb = angka a angka b atau

    dengan pendek akan di tulis h = a b.

    a b

    a b

    B

    h h

    A

    Gambar 1. Beda Tinggi Suatu Titik

    Cara menghitung tinggi garis bidik atau benang tengah dari suatu rambu dengan

    menggunakan alat ukur sifat datar (waterpass). Rambu ukur berjumlah 2 buah masing-masing

    didirikan diatas dua patok yang merupakan titik ikat jalur pengukuran .alat sifat optis kemudian

    di letakan ditengah-tengah antara rambu belakang dan muka. Alat sifat datar diatur sedemikian

    rupa sehingga teropong sejajar dengan nivo yaitu dengan mengetengahkan gelembung nivo.

    Setelah gelembung nivo diketengahkan barulah dibaca rambu belakang dan rambu muka yang

    terdiri dari bacaan benang tengah, atas dan bawah. Beda tinggi slag tersebut pada dasarnya

    adalah pengurangan benang tengah belakang dengan benang tengah muka.

  • 3

    Gambar 2. Pembacaan Rambu Muka dan Belakang

    - Variabel bebas :BTA dan BTB

    - Variabel terikat : HAB

    - Diferensial ~ tingkat ketelitian

    HAB = BTA + BTB

    2. Metode Trigonometri

    Untuk menentukan beda tinggi dengan cara trigonometri diperlukan alat pengukur

    sudut (theodolite) untuk dapat mengukur sudut-sudut tegak. Sudut tegak dibagi dalam dua

    macam ialah sudut miring m dan sudut zenith z. sudu miring m diukur mulai dari keadan

    mendatar, sedang sudut zenith z diukur mulai dari keadan tegak lurus yang selalu kearah titik

    zenith alam.

    Misalkan akan ditentukan beda tinggi antara titik-titik A dan B dengan cara trigonometri,

    maka dititik A ditempatkan alat ukur sudut dan di titik A diukur sudut miring atau sudut zenith.

  • 4

    Keterangan :

    - D = D cos

    - hAB = ti + D sin Bt

    3. Metode Barometri

    Yaitu menentukan beda tinggi dengan cara mengamati tekanan udara disuatu tempat

    lain yang dijadikan referensi dalam hal ini misalnya elevasi 0,00 meter permukaan air laut

    rata-rata.

    Keterangan :

    = massa jenis rasa air raksa ( hydragirum )

    g = gravitasi ~ 9.8 m/s - 10 m/s

    h= tinggi suatu titik dari MSL ( Mean Sea level )

    P = F / A ; F = m . g ; P = (m.g) / A ; m = V ; P = V.g / A

  • 5

    P = . g . V/A ; V/A = h; P = g . h

    PB = Hg.gA.hA ; PB = Hg.gB.hB ; PB PA = Hg.gB.hB - Hg.gA.hA

    hAB = hB hA = (PB PA) / Hg . ( gB gA )

    Keterangan :

    P = Tekanan Udara ; = Massa Jenis ; Hg = Hydragirum ; V = Volume ; A = Luas ; g = gravitasi ;

    h = Tinggi Titik dari MSL (Mean Sea Level)

    Pengukuran Sipat Datar Kerangka Dasar Vertikal

    Pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal harus dieliminasi dari kesalahan sistematis dan

    acak serta bebas dari kesalahan besar (blunder). Jika terjadi blunder maka pengukuran harus

    diulangi. Eliminasi kesalahan sistematis pada pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal

    adalah dengan melakukan pengukuran KGB (kesalahan garis bidik) karena sistem alat. Eliminasi

    kesalahan sistematis pada pengukuran sipat datar kerangka dasar vertikal karena sistem alam,

    yaitu : (1) Jumlah slag genap, (2) Jarak belakang dibuat hampir sama dengan jarak muka, (3)

    Pembacaan rambu ukur 0,300 meter < BA, BT, BB < 2,700 meter.

    Data yang diambil dari lapangan adalah BA (benang atas), BT (benang tengah) dan BB (benang

    bawah) dari rambu ukur hasil bidikan alat waterpass optis. Jarak belakang (db) dan jarak muka

    (dm) dari pengukuran menggunakan pita ukur. Pengukuran KGB dilakukan pada 2 x alat berdiri,

    stand I dan stand II, alat didirikan di stand I dan digeser sedikit pada stand II untuk melakukan

    pembacaaan BA, BT dan BB stand I dan II serta db dan dm stand I dan stand II.

    (BTb1 BTm1) (BTb2 BTm2) Rumus KGB = ------------------ - -------------------

    (db1 + dm1) (db2 + dm2)

    Prosedur pengolahan data sipat datar kerangka dasar vertikal, yaitu :

    Kontrol bacaan di lapangan, yaitu : |(BA+BB)/2 BT | < 0,001 meter atau 1 mm

    doptis = (BA BB). 100, kontrol untuk jarak horisontal menggunakan pita ukur.

    1. Mencari benang tengah belakang dan muka koreksi, yaitu :

    BTbk = BTb KGB. db dan BTmk = BTm KGB. dm

    2. Mencari beda tinggi

    Hij = BTbk - BTmk

  • 6

    3. Melakukan kontrol beda tinggi untuk memperoleh kesalahan acak beda tinggi

    Takhir Tawal = H = H12 + H23 + ... + Hij + f H

    f H = Takhir TawalH = Takhir TawalH12 + H23 + ... + Hij)

    Jika rute sipat datar tertutup, kembali ke titik awal maka : Takhir Tawal = 0

    f H = H = H12 + H23 + ... + Hij)

    4. Memperoleh nilai beda tinggi koreksi dengan pembobotan = [d12/(d12+...+dij)]

    H12-koreksi = H12 + f H. [d12/(d12 + ...+dij)]

    ...

    Hij-koreksi = Hij + f H. [d12/(d12 + ...+dij)]

    5. Memperoleh nilai tinggi awal titik 1 dari Google Earth atau dari interpolasi garis kontur

    yang telah ada dengan prinsip segitiga sebangun atau rasio alas = rasio tinggi

    6. Menghitung tinggi titik berikutnya dengan persamaan :

    T2 = T1 + H12-koreksi

    ...

    Tj = Ti + Hij-koreksi

    7. Kontrol hasil pengolahan data, yaitu :

    Jumlah bobot Bobot = 1

    Jumlah beda tinggi koreksi Hkoreksi = Takhir Tawal = 0 (jika pengukuran diawali dan

    diakhiri pada titik yang sama)

    Tinggi titik akhir perhitungan = tinggi titik ikat (benchmark) akhir atau tinggi titik akhir =

    tinggi titik awal jika pengukuran diawali dan diakhiri pada titik yang sama.

    B. Pengukuran Kerangka Dasar Horizontal

    1. Cara Pengikat Kemuka

    Apabila titik P diikat pada tiik A (Xa , Ya ) maka untuk mencari Xp dan Xp diperlukan ap

    dan dap. dapat ditemukan pada yang diketahui dan dap dari jarak pula yang diketahui.

    Untuk kedua unsure dan d dapat digunakan dan d dari garis lurus dengan kedua titik

    ujungnya diketahui, misalnya dengan titik A (Xa, Ya )dan B (Xb, Yb ).

  • 7

    Untuk dapat dap dan dab, maka perlu dibuat suatu segitiga dengan dua sisinya dap da