bab ii tinjauan pustaka - ?· meja, tenis lapangan, bulu tangkis, dan beladiri, serta aktivitas...

Download BAB II TINJAUAN PUSTAKA - ?· meja, tenis lapangan, bulu tangkis, dan beladiri, serta aktivitas lainnya.…

Post on 14-Mar-2019

217 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Olahraga

a. Hakekat Olahraga

Olahraga menjadi sangat penting karena tidak terlepas dari kebutuhan mendasar

manusia itu sendiri dan pada prinsipnya selalu bergerak. Tujuan seseorang berolahraga

adalah untuk meningkatkan derajat sehat dinamis (sehat dalam gerak) dan sehat statis

(sehat dikala diam) prestasi melalui kegiatan olahragapun menjadi suatu alasan

seseorang menekuni olahraga. Olahraga bisa dilakukan oleh siapapun, kapanpun dan

dimanapun tanpa memandang dan membedakan jenis kelamin, suku, agama, ras dan

sebagainya. Olahraga mempunyai peran penting dan strategi dalam pembangunan

bangsa. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Mutohir (2005) hakikat olahraga adalah

sebagai refleksi kehidupan masyrakat suatu bangsa. Didalam olahraga tergambar aspirasi

serta nilai-nilai luhur suatu bangsa yang terpantul lewat hasrat mewujudkan diri melalui

prestasi olahraga.

Istilah olahraga diperoleh dari kata kerja bahasa Inggris jaman pertengahan yang

ditentukan oleh bahasa Perancis sporten, yang berarti mengalihkan dan juga istilah

bahasa Latin desporto, yang secara harfiah berarti bergerak . Maka dari itu,

penekanannya adalah kepada perbedaan, sesuatu yang memberikan kesenangan. Pada

jaman pertengahan olahraga di Inggris berarti berburu berbagai macam binatang.

Lapangan panahan dan balap kuda dapat dilihat sejak abad ke-16. Salah satu identifikasi

budaya dan sejarah kita dengan olahraga adalah Olimpiade Yunani asli yang diadakan

atas bantuan Etiopia pada 686 tahun SM (sebelum Masehi). Menengok lebih jauh

kebelakang, bukti paling awal mengenai keberadaan tinju dicatat dalam hiroglif Etiopia

sekitar 4000 tahun SM. Permainan bola yang paling tua diperkirakan telah dimainkan

pada 1400 tahun sebelum Masehi di Mexico.

Pemahaman tentang konsep olahraga dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan dan

teknologi. Istilah sport berasal dari bahasa latin disportare atau deporate didalam

bahasa italia menjadi diporate yang artinya menyenangkan, pemeliharaan atau

menghibur untuk bergembira. Istilah olahraga berubah sepanjang waktu namum

mempunyai pengertian yang sama yaitu esensi pengertiannya kebanyakan berkaitan

dengan tiga unsur pokok yaitu bermain, latihan fisik dan kompetisi. Nuansa usaha keras

mengandung ciri permainan dan konfrontasi melawan tantangan yang tercermin dalam

definisi UNESCO tentang sport yaitu setiap aktifitas fisik berupa permainan yang

berisikan perjuangan melawan unsur-unsur dan orang lain ataupun diri sendiri.

Giriwijoyo (2012:2) Olahraga adalah kagiatan dalam perikehidupan yang tidak hanya

melibatkan aspek jasmani, tetapi juga aspek rohani, aspek sosial dan bahkan aspek

ekonomi. Dengan demikian menjadi semakin jelas betapa luasnya lingkup permasalahan

kesehatan olahraga yaitu benar-benar meliputi seluruh aspek kehidupan

manusia.Mutohir dan Maksum (2007:14) olahraga adalah proses sistematik yang berupa

segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina

potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota

masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/pertandingan, dan prestasi puncak

dalam pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan

Pancasila.

Matveyev 1981 dalam Lutan, (1991 : 12) mengungkapkan olahraga merupakan

satu kegiatan otot yang enerjik dan dalam kegiatan itu atlit memperagakan kemampuan

semaksimal mungkin. Loy 1968 dalam Lutan, (1991:12) mengemukakan olahraga

merupakan peragaan ketangkasan fisik yang terungkap dalam ketrampilan, kesegaran

jasmani atau kombinasi dalam kedua hal itu. Dari beberapa pendapat para ahli olahraga

diatas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan olahraga adalah : 1) Kegiatan

fisik yang dilakukan oleh perorangan atau sekelompok masyarakat atau regu. 2)

Kegiatan fisik yang dilakukan dengan cara bersenang-senang dalam ruang waktu

bercakap-cakap, hiburan, senda gurau, dan permainan. 3) Kegiatan aktivitas yang

dilakukan setiap hari. 4) Kegiatan ketangkasan fisik yang terdapat dalam ketrampilan

gerak. 5) Kegiatan aktivitas yang dilakukan secara sistematik untuk meningkatkan

kesegaran jasmani, rohani dan sosial. 6) Kegiatan aktivitas yang ada unsur bermain,

peraturan, bertanding, dan juara. 7) Pembentukan karakter seseorang serta peningkatan

prestasi puncak. 8) Kegiatan aktivitas yang memerlukan perjuangan serta dapat

mengendalikan diri dan orang lain.

Olahraga juga memiliki keterbatasan. Keterbatasan yang dimaksud adalah adanya

aturan-aturan yang harus dipatuhi, baik itu dalam olahraga yang bersifat play (bermain),

games maupun sport. Aturan dalam olahraga bersifat tidak terlalu ketat karena play

merupakan aktivitas fisik yang bersifat sukarela dan dilakukan secara bebas. Olahraga

yang bersifat games aturannya sudah mulai ketat. Didalam olahraga aturan yang telah

dibuat bukan merupakan suatu hal yang dapat menghambat pengembangan kemampuan

dalam berekspresi atau juga bukan merupakan pengekang kebebasan, melainkan suatu

bentuk tindakan untuk menjadikan olahraga itu menjadi lebih baik, penuh dengan seni

dan etika.

Olahraga adalah gerak yang merupakan kebutuhan hakiki bagi manusia.

Kebutuhan gerak ini adalah gerak spesifik yang dilakukan secara sadar dan mempunyai

tujuan. Secara internal, gerak manusia terjadi secara terus menerus dan secara eksternal

gerak manusia dimodifikasikan oleh pengalaman belajar, lingkungan yang mengitari dan

situasi yang ada. Oleh kerna itu manusia harus disiapkan untuk memahami fisiologis,

psikologis dan sosiologis agar dapat mengenali dan secara efesien menggunakan

komponen-komponen secara keseluruhan. Dengan demikian manusia dan gerak fisik

tidak adapt dipisahkan dari kehidupannya.

b. Ruang Lingkup Olahraga

Undang-undang nomor 3 tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional Bab II

Pasal 4 menetapkan bahwa keolahragaan nasional bertujuan memelihara dan

meningkatkan kesehatan, kebugaran, prestasi, kualitas manusia, menanamkan nilai moral

dan akhlak mulia, sportivitas, disiplin, mempererat dan membina persatuan dan kesatuan

bangsa memperkokoh ketahanan nasional, serta mengangkat, harkat, martabat dan

kehormatan bangsa. Kemudian pada Bab VI Pasal 17, Ruang lingkup olahraga itu sendiri

mencakup tiga pilar yaitu olahraga pendidikan, olahraga rekreasi, dan olahraga prestasi.

Ketiga pilar olahraga ini dilaksanakan melalui pembinaan dan pengembangan olahraga

secara terencana, sistematik, berjenjang, dan berkelanjutan, yang dimulai dari

pembudayaan dengan pengenalan gerak pada usia dini, pemassalan dengan menjadikan

olahraga sebagai gaya hidup, pembibitan dengan penelusuran bakat dan pemberdayaan

sentra-sentra keolahragaan, serta peningkatan prestasi dengan pembinaan olahraga

unggulan nasional sehingga olahragawan andalan dapat meraih puncak pencapaian

prestasi.

1) Olahraga Pendidikan

Olahraga pendidikan adalah pendidikan jasmani dan olahraga yang dilaksanakan

sebagai bagian proses pendidikan yang teratur dan berkelanjutan untuk memperoleh

pengetahuan, kepribadian, keterampilan, kesehatan, dan kebugaran jasmani.

Olahraga pendidikan diselenggarakan sebagai bagian proses pendidikan,

dilaksanakan baik pada jalur pendidikan formal maupun non formal, biasanya

dilakukan oleh satuan pendidikan pada setiap jenjang pendidikan, guru pendidikan

jasmani dengan dibantu oleh tenaga olahraga membimbing terselenggaranya

kegiatan keolahragaan.

Di sekolah atau satuan pendidikan, penjasorkes berperan penting, hal ini terkait

dari dua hal, yakni sisi pendidikan jasmani yang mengarah kepada aspek edukatif

dan sisi olahraga yang mengarah kepada aspek prestasi. Kedua hal ini merupakan hal

yang inheren dalam penjasorkes, karena disitulah ditempa pribadi peserta didik agar

memiliki jasmaniah dan rohaniah yang sehat, segar, dan sekaligus memungkinkan

untuk prestasi, tentu saja termasuk prestasi di bidang olahraga. Disamping itu, masih

ada dimensi terpendam pendidikan jasmani yang bisa mengembangkan dan

membentuk kemampuan serta kepribadian setiap individu misalnya sikap, semangat,

emosi, kejiwaan dan sebagainya. Penjasorkes merupakan pilar dalam membangun

tingkat kebugaran (kesehatan dan kesegaran), karena dimensi gerak sebagai aktivitas

utamanya memiliki implikasi nyata bagi penumbuhan kesehatan

individu/kelompok/masyarakat. Dengan demikian penjasorkes dapat meningkatkan

kualitas hidup masyarakat sehingga tercapai manusia Indonesia yang sehat . Sehat

dalam konteks ini mengacu kepada definisi sehat dari World Health Organization

(WHO) yakni: Holistic health extends the physical, mental, and social aspects of

the definition to include intellectual and spiritual dimentions. Di sisi lain,

penjasorkes pada satuan pendidikan menjadi penting, terutama jika dikaitkan dengan

proses pembibitan dan pembinaan dalam rangka peningkatan prestasi olahraga.

Melalui satuan pendidikan ini, jenjang-jenjang pembibitan dan pembinaan

tersebut akan terukur, sistematis, dan terfokus. Hal itu penting diperhatikan karena

melahirkan juara dalam cabang olahraga tersebut membutuhkan pembinaan yang

berjenjang dan memerlukan waktu yang