as di balik penangkapan abu bakar baasyir

Click here to load reader

Post on 23-Jun-2015

166 views

Category:

Documents

14 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Suara Islam Online Amerika di Belakang Penangkapan Ustadz Abu Bakar BaasyirTuesday, 17 August 2010 13:32 |Ustadz Abu Bakar Baasyir kembali ditangkap Densus 88. Penangkapan ini diduga kuat merupakan pengalihan isu atas sejumlah persoalan besar di negeri ini. Ustadz Abu menjadi korban rekayasa terorisme.

Written by Shodiq Ramadhan |

"Sampai hari ini tidak ada info dari Polri, khususnya Densus 88. Mudah-mudahan sampai besok, minggu depan, bulan depan tidak ada penangkapan itu", jawab Wakadivhumas Mabes Polri Brigjen Pol Zainuri Lubis saat menjawab pertanyaan salah satu tokoh Islam tentang adanya kemungkinan penangkapan terhadap Ustadz Abu Bakar Baasyir. Jawaban itu terlontar saat audiensi antara Forum Umat Islam (FUI) dengan Zainuri Lubis pada Jumat sore, 11 Juni 2010 lalu di ruang konferensi pers Divhumas Mabes Polri, Jl. Trunojoyo, Jakarta Selatan. Saat itu sekitar seribu massa FUI dari sejumlah elemen ormas Islam seperti Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) dan Front Pembela Islam (FPI) mendatangi Mabes Polri untuk mengungkap rekayasa penanganan terorisme dan menolak rencana penangkapan Ustadz Abu Bakar Baasyir. Zainuri meyakinkan para tokoh ormas Islam yang hadir saat itu, bahwa untuk menangkap seorang tokoh yang sangat berpengaruh biasanya informasinya disampaikan terlebih dahulu secara internal di tubuh Polri. "Selain itu untuk menangkap seseorang harus ada bukti cukup", tambahnya kala itu. Rupanya pernyataan jenderal bintang satu itu belakangan meleset. Tepat satu bulan setelah ia dimutasi menjadi Direktur PTIK, Ustadz Abu Bakar Baasyir akhirnya ditangkap Densus 88 di depan Mapolres Banjar Patroman, Ciamis, Jawa Barat. Tentu saja, tanpa bukti yang cukup. Penangkapan itu terjadi selang dua hari setelah Presiden SBY mengisyaratkan adanya ancaman terhadap dirinya oleh jaringan terorisme di Ciwidey, Bandung. Kronologi Penangkapan Penangkapan terhadap ulama sekaligus Amir JAT itu terbilang sadis dan biadab. Istri Ustadz Abu Bakar Baasyir, Ibu Aisyah Baraja dan istri Direktur Ponpes Al Mukmin Ngruki Ustadz Wahyudin bernama Ibu Muslikhah menceritakan kronologi penangkapan yang terjadi pada hari Senin pagi (9/8) itu. Rombongan Ustadz Abu (panggilan akrab Ustadz ABB) terdiri dari dua mobil. Sebuah Nissan Terano berada di depan untuk mengawal, dan sebuah Kijang Krista bernomol polisi AD 8491 UB yang ditumpangi Ustadz Abu bersama istrinya. Rombongan itu berniat untuk

kembali ke Ngruki setelah melakukan safari dakwah di Bandung. Rupanya, perjalanan pulang Ustadz Abu tidak semulus yang direncanakan. Ketika sampai di depan Mapolres Banjar Patroman, rombongan itu digiring masuk ke halaman Mapolres. Puluhan polisi dan anggota Densus 88 telah bersiap di sana. Di belakang mobil Ustadz Abu langsung dikunci oleh sebuah Minibus dan Toyota Fortuner hitam berisi anggota Densus 88. Sartono, sopir Ustadz Abu, mengatakan kepada penumpang agar mengunci semua pintu, "Tutup pintunya umi, jangan dibuka!", kata Sartono seperti ditirukan ibu Muslikhah. Kemudian Densus 88 berteriak-teriak, "Buka pintu! Buka pintu!", karena yang di dalam mobil tidak mau menyerahkan diri begitu saja, maka salah satu anggota Densus 88 dengan sadisnya memecahkan kaca depan bagian kanan, juga kaca tengah bagian kanan namun kaca bagian tengah tidak sampai pecah, hanya retak-retak. Setelah memecah kaca depan, kemudian pintu dibuka, sopir ustadz Abu ditarik keluar dan langsung ditiarapkan, diinjak-injak, dan ditendangi. Setelah itu baru diborgol tangannya. Begitu juga pengawal Ustadz Abu yang duduk di bagian belakang, dia ditarik keluar dari jendela yang kacanya sudah dipecahkan dan langsung ditiarapkan kemudian diborgol. Ustadz Abu sendiri kemudian dipegang tangannya oleh anggota Densus 88 dan ditarik keluar dengan kasar. Salah seorang petugas Densus 88 kemudian menodongkan senjata laras panjang kepada Ustadz Abu sambil mengatakan, "Saya tembak kamu!!" Mendapatkan perlakuan kasar seperti itu, Ustadz Abu pun marah dan mengejar anggota Densus 88 itu. "Ustadz Abu benar-benar marah pada saat itu," kata ibu Muslikhah. Ustadz Abu kemudian mengejar anggota Densus 88 itu sambil melaknat, "Saya doakan kamu dilaknat sama Allah, saya doakan polisi dilaknat sama Allah!!". Setelah itu petugas lain memegangi ulama yang sudah sepuh ini agar tidak mengejar petugas yang menodongkan senjatanya tadi. "Saya baru kali ini melihat ustadz Abu benar-benar marah," kata ibu Muslikhah. Saat itulah kesempatan terakhir bagi Umi Icun (panggilan akrab Aisyah Baraja) bertemu dengan suaminya. Beliau kemudian menghampiri suaminya dan bersalaman. Ustadz Abu berpesan kepada istrinya agar bersabar. Setelah itu Ustadz Abu dimasukkan ke mobil Minibus yang berisi anggota Densus 88 dan dibawa pergi. Ancaman Hukuman Mati Lalu atas dasar apa Polri melakukan penangkapan terhadap Ustadz Abu?. Apakah polisi mempunyai bukti-bukti yang cukup untuk menahan Pengasuh Ponpes Al Mukmin Ngruki itu?. Dalam konferensi pers yang digelar pada Senin siang (9/8), Kadivhumas Mabes Polri Irjen Pol Edward Aritonang menuduh bahwa Ustadz Abu terlibat dalam jaringan terorisme Aceh. Polisi pun mengaku telah mengantongi sejumlah bukti kuat mengenai peran tokoh kelahiran Jombang, 17 Agustus 1938 itu terkait pelatihan militer kelompok teroris di Aceh dan kelompok teroris Cibiru, Bandung. "Dari hasil penyidikan Polri Tim Densus 88, (Ustadz Abu) antara lain berperan aktif dalam menyiapkan rencana awal latihan militer kelompok teror di Aceh," kata Edward di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Senin (9/8). Menurut Edward, dalam pelatihan militer di Aceh, Ustadz Abu berperan menunjuk Ustadz

Mustaqim atau Mustofa alias Abu Thalib sebagai pengelola latihan militer dan Dulmatin sebagai penanggung jawab. Selain itu Ustadz Abu juga dituduh telah merestui, dan bahkan mendanai latihan militer di Aceh. Beliau mengetahui semua rangkaian dan rencana latihan di Aceh karena secara rutin mendapat laporan dari pengelola lapangan," terangnya. Atas sejumlah tuduhan itulah pada hari Selasa (10/8) Ustadz Abu secara resmi dinyatakan sebagai tersangka. Tidak tanggung-tanggung, Ustadz Abu dijerat oleh semua pasal UU Terorisme yang ada. Beliau dijerat dengan pasal 14 jo pasal 7, 9, 11, dan atau pasal 11 dan atau pasal 15 jo pasal 7,9, 11 dan atau pasal 13 huruf a, huruf b, huruf c UU No 15 tahun 2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme. Tuntutannya adalah ancaman hukuman mati. Atas tuntutan ini, Ustadz Abu menanggapinya secara santai. Tanggapan Ustadz Abu itu disampaikan oleh Koordinator Tim Pengacara Muslim (TPM) Mahendradatta. Beliau menerima saja. Santai saja, ujarnya. Menurut Mahendra, percuma saja Ustadz Abu melawan atau membela diri karena semua sudah dirancang sebagian oknum Polri. "Saya mau bicara apapun, pasti dijebloskan, silakan saja bapak-bapak ini tentukan nasib saya di dunia," ujar Mahendra menirukan ucapan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir. Pesanan Amerika "Ini rahmat Allah untuk kurangi dosa, ini rekayasa Amerika," ujar Ustadz Abu di tengah kawalan puluhan anggota Densus 88 sesaat sebelum memasuki Gedung Bareskrim Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Senin (9/8). Ucapan Ustadz Abu tentu beralasan. Adalah mantan penerjemah pertemuan presiden Bush dan Megawati di Gedung Putih (19/9/2001), Fred Burks yang mengakui hal ini. Dalam persidangan Ustadz Abu tahun 2005, Fred Burks membeberkan semua rencana Amerika untuk membawa Ustadz Abu. Pria kelahiran 20 Februari 1958 itu menyebut adanya negosiasi tingkat tinggi, di mana Amerika meminta Indonesia menyerahkan Ustadz Abu ke tahanan Amerika. Tapi Presiden Megawati menolak tekanan itu. Fred Burks juga berkata bahwa tiga pekan sebelum bom Bali ada pertemuan rahasia di rumah Megawati Jl. Teuku Umar (16/9/02) yang dihadiri oleh Ralph L Boyce, Dubes AS untuk Indonesia, Karen Brooks (Direktur Asia National Security Council), seorang perempuan agen CIA yang diperkenalkan sebagai asisten khusus Bush, dan Burks sendiri, sedangkan Megawati sendirian. Dalam pertemuan 20-an menit itu si agen CIA berkata bahwa pemerintah Amerika meminta agar Ustadz Abu diserahkan ke Amerika karena terkait jaringan Al-Qaeda. Megawati menolak, dengan alasan kalau dia menyerahkan Ustadz Abu ke Amerika akan timbul instabilitas politik dan agama yang tidak akan sanggup ia tanggung. Namun si agen CIA itu justru mengancam, "Jika Ba'asyir tidak diserahkan ke Amerika sebelum Konferensi APEC (enam minggu setelah pertemuan itu) situasi akan tambah sulit. Pertemuan pun bubar. Bom Bali pun meledak (12/10/02). Burks berkata, "Peristiwa itu memberi alasan yang diperlukan Megawati sehingga Ba'asyir ditahan sampai sekarang, meskipun dia (Mega) tidak menyerahkannya ke Amerika. Bukti kedua yang menjelaskan keterlibatan Amerika dalam penangkapan Ustadz Abu adalah ketika Pemerintah AS mengutus Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Tom Ridge (10/3/04) untuk menekan Presiden Megawati, Menko Polkam SBY, dan Kapolri Jendral Da'i Bachtiar

agar tetap menahan Ustadz Abu setelah bebas dari Rutan Salemba. Maka peristiwa itu memaksa ribuan personil PHH mengambil paksa Ustadz Abu pada hari Jum'at (30/4/04) pukul 06.55 WIB setelah sejak pukul 05.00 WIB bentrok dengan para aktivis ormas Islam yang turut menyambut rencana pembebasan beliau. Hasil kunjungan Tom Ridge kepada Menko Polkam SBY saat itu (8/3/04) seperti dilaporkan kantor berita Perancis AFP sebagai berikut: Isu seputar akan dijeratnya kembali Ba'asyir ini muncul ketika pihak Amerika Serikat dan beberapa diplomat asing kecewa terhadap keputusan Mahkamah Agung (MA) yang telah menetapkan 1,5 tahun penjara potong masa tahanan bagi ustadz yang juga pendiri Pondok Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Solo itu. Sehari setelah keluarnya keputusan MA itu, Menteri Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat Tom Ridge, menemui Menkopolkam Susilo Bambang Yudhoyono (8/3) dengan mengatakan bahwa keputusan pengadilan Indonesia terhadap Ba'asyir bukanlah keputusan yang tepat. "Kami harap tidak lama lagi dia akan dibawa ke pengadilan dengan cara lain," kata Ridge seperti dikutip AFP. Beberapa saat usai pertemuan itu, ada pernyataan dari kantor Menkopolkam, "Jika ada bukti baru, sama saja, dari dalam atau luar Indonesia, beliau akan didakwa lagi," ujar Harsanto, salah seorang staf Susilo Bambang Yudhoyono pada AFP. Bukti ketiga, adalah pengakuan mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Syafii Maarif melalui tulisannya di rubrik Resonansi HU Republika (13/4/04). Ia mengaku diminta langsung oleh Dubes AS di Jakarta Ralph L Boyce (28/3/04) agar melobi Ketua MA dan Kapolri supaya Ustadz Abu tetap ditahan sebelum pemilu dilangsungkan. Untuk kepentingan itu pihak Dubes menyiapkan semua fasilitas yang dibutuhkan. Syafii mengaku langsung menolak dengan tegas, kendatipun dia sendiri tidak sepaham dengan visi dan misi perjuangan Ust Abu. Bebaskan Ustadz Abu! Sehari setelah Ustadz Abu diperiksa di Bareskrim Mabes Polri, delegasi Forum Umat Islam (FUI) yang dipimpin oleh KH. Muhammad Al Khaththath dan Habib Rizieq Syihab menjenguk Ustadz Abu di tahanan. Kepada delegasi FUI yang menemuinya, Ustadz Abu mengatakan bahwa semua barang bukti untuk mendakwa dirinya tidaklah kuat. Penangkapan dirinya semata karena pengakuan seorang mantan anggota JAT bernama Ubaid. Tentang aliran dana yang katanya Rp. 700 juta itu, Ustadz Abu hanya ketawa. Kalau beliau punya mending dibuat kantor JAT. Sebab kantor JAT sekarang ini aja masih nyewa, ungkap Al Khaththath, Selasa (10/8), usai menjenguk Ustadz Abu. Anggota TPM, Achmad Michdan menguatkan pendapat itu. Jika dikatakan Ustadz Abu mengalirkan dana untuk pelatihan di Aceh, tentu hal itu tidak benar. Menurut Michdan Ustadz Abu tidak memiliki rekening (Bank). FUI menilai bahwa penangkapan Ustadz Abu adalah salah satu bentuk intimidasi Densus 88 Mabes Polri kepada para aktivis dakwah Islam, khusunya para aktivis dakwah Islam yang menyerukan ajaran islam yang benar sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah, baik aqidah maupun syariah secara kaffah. Melalui pernyataan sikapnya, FUI dengan tegas mengecam penangkapan Ustadz Abu. Dalam pandangan FUI, penangkapan Ustadz Abu merupakan politik rekayasa terorisme, politik pengalihan isu dan politik pemberangusan gerakan Islam. FUI mengaku telah mendapat laporan adanya rekayasa terorisme yang dimainkan oleh seorang Desertir Brimob bernama Sufyan Tsauri (lihat Box). Bahkan FUI telah menyampaikan masalah ini sejak beberapa

bulan terakhir ke berbagai lembaga pemerintah seperti Komisi III DPR, Kompolnas, Komnas HAM serta menyampaikan ke MUI dan sejumlah redaksi media massa nasional. Belakangan tudingan FUI itu dibenarkan oleh Mabes Polri. Dia diajak untuk memberangkatkan relawan ke Gaza, dan mengajak kawannya untuk latihan di Brimob, 2008," ujar Kadivhumas Mabes Polri Edward Aritonang. Menurut keterangan Edward, Sufyan Tsauri adalah anggota Sabhara Polres Depok. Menanggapi penangkapan Ustadz Abu, Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Syihab mengatakan bahwa Ustadz Abu adalah korban rekayasa terorisme. Politik rekayasa yang dilakukan Polri terhadap berbagai kasus terorisme, kata Habib Rizieq, sudah tidak bisa ditutup-tutupi. Rekayasa kasus oleh Polri telah terungkap, seperti kasus Aan, pemulung yang menyimpan lintingan ganja, kasus Gayus, dan lain-lain, ungkapnya. Direktur An Nashr Institute Munarman menjelaskan bahwa penangkapan Ustadz Abu memiliki dua tujuan. Pertama, Densus 88 memang sedang menjalankan agenda asing. Kedua, SBY memanfaatkan ini sebagai sarana bahwa dirinya sedang menjadi target. Padahal ia mengaku telah mendengar keterangan Kadiv Humas Mabes Polri yang menyatakan bahwa tidak ada bukti-bukti yang mengarah kepada SBY. Jadi pemanfaatan isu-isu terorisme dan isu korupsi yang dilakukan SBY untuk menarik simpati dari masyarakat. ujar Panglima Komando Laskar Islam ini. Meski banyak kalangan meyakini adanya politik rekayasa ini, namun Mabes Polri melalui Kadivhumas Edward Aritonang membantahnya, "Tidak ada pengalihan isu apapun. Ini murni rangkaian penyelidikan yang sudah lama". Pepatah lama mengatakan, sepandai-pandai tupai melompat pasti akan jatuh juga. Tinggal menunggu waktunya, makar siapa yang akan terkuak. Terpenting saat ini, Ustadz Abu Bakar Baasyir harus segera dibebaskan. Tanpa syarat!. (shodiq ramadhan, dari berbagai sumber)

Comments (2)

|111.68.113.177 |2010-08-21 10:13:39 musa - bersiaplah menerima kutukan ALLAH

sy berkeyakinan aparat dan pimpinan negeri ini sdh tidak py hati nurani lg dan tdk py martabat lg, itu semua krn kebodohan nafsunya, sebentar lg kutukan ALLAH akan dikirimkan pd mereka yang memfitnah menyakiti ulama. Sy yakin doa ust Abu dikabulkan Sang Khalik ...terlaknatlah ..., cepatlah bertaubat aparat, jgn ambil komisi dr order AS kasihan keluarga di rmh, jgn berdalih krn tugas negara berdalihlah dg hati nurani ... ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-08-24 13:19:16 Dain - Seruan

ketahuilah wahai para pengingkar syari'at Allah, bahwa apa yang telah kalian lakukan kepada Seorang ulama merupakan tindakan yang biadab karena mereka adalah pewaris para Nabi yang Mulia, maka saya berharap agar Allah SWT melaknat kalian yang telah menyakiti ulama (Ust. ABB), serta melaknat semua orang yang menghalangi tegakknya syariat ALLAH dimuka buminya ini. terlaknatlah kalian wahai musuh ALlah, terlaknatlah kalian wahai thoghut, terlaknatlah kalian wahai para pengekor Amerika ReplyQuote

Dana Anak Yatim, Bukan Untuk Pelatihan MiliterTuesday, 17 August 2010 13:48 |

Written by Shodiq Ramadhan |

Wawancara dengan anggota Tim Pengacara Muslim (TPM) Achmad Michdan, SH:Pelatihan militer di Aceh yang dilakukan para sukarelawan yang akan diberangkatkan ke Gaza untuk melawan agresi Israel, bukanlah pelatihan teroris. Sebab tujuan mereka adalah ke Gaza, bukan kegiatan teroris yang melakukan pemboman disana-sini. Pelatihan militer itu tidak ada bedanya dengan pelatihan Menwa di berbagai Perguruan Tinggi di Indonesia. Maka sangatlah naf dan terkesan untuk menutupi persoalan yang membelitnya, jika polisi menuduhnya sebagai kegiatan teroris untuk merongrong NKRI. Apalagi sampai mengkaitkannya dengan Amir Jamaah Anshorut Tauhid (JAT), Ustad Abu Bakar Baasyir, sehingga menyebabkan ulama kharismatis itu ditangkap. Apalagi penangkapan yang dilakukan Densus 88 terhadap Ustad Abu dan para pengikutnya sangatlah biadab, sama sekali tidak menjunjung tinggi norma-norma etika dan merupakan penghinaan terhadap Pancasila yang selama ini selalu mereka banggakan. Kelakuam Densus 88 terhadap Ustad Abu dan para pengikutnya tidak ada bedanya dengan para preman yang bersenjata lengkap yang kerjaannya menakut-nakuti rakyat. Berikut ini wawancara Tabloid Suara Islam dengan Ketua Tim Pembela Muslim (TPM), Ahmad Michdan, soal tuduhan terorisme yang ditujukan kepada Ustad Abu Bakar Baasyir. Adanya tuduhan terhadap Ustad Abu Bakar Baasyir terlibat terorisme, bagaimana menurut anda secara hukum ? Harus dibuktikan secara hukum. Jangan hanya melalui keterangan saksi saja yang telah dipenjara. Biasanya mereka mendapat tekanan fisik. Jika mereka sampai menjadi saksi, maka keterangannya bisa meragukan. Kalau tuduhan terhadap Ustad Abu hanya mengandalkan saksi yang dipenjara, maka perlu diragukan kebenarannya. Kalau polisi punya bukti atas tuduhan itu diungkapkan saja.

Saya kira kegiatan latihan militer di Aceh bukan suatu terorisme. Apalagi tujuannya untuk sukarelawan ke Gaza. Latihah militer tidak dapat dikategorikan sebagai suatu terorisme. Jikapun ada pelanggaran secara hukum, barangkali hanya soal kepemilikan senjata api. Jika ada kepentingan harus diselidiki. Semuanya nanti bisa dibuktikan melalui proses Pengadilan. Jika sebelumnya para tersangka dalam interogasi disiksa dulu, berarti polisi melanggar HAM ? Ya ! jelas itu tidak boleh, karena kita menganut asas praduga tak bersalah. Setiap orang harus diperlakukan sama dihadapan hukum. Pemaksaan untuk mendapatkan penasehat hukum, juga melanggar HAM. Mengapa kedelapan orang yang ada di mobil juga ikut ditahan ? Saya mendapat informasi, mereka akan dibebaskan hari Sabtu (14/8) ini. Anda di media massa mengatakan kalau Ustad Abu ikut mendanai latihan militer di Aceh ? Sama sekali tidak benar itu. Pernyatan saya di media massa telah diplintir. Kemarin (Jumat, 13/8) saya telah menegur media massa yang mempelintir pernyataan saya itu agar mengkoreksinya. Karena tidak ada penjelasan saya seperti itu. Ustad Abu menolak tuduhan kalau JAT telah mendanai latihan militer di Aceh. Jadi latihan militer itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan Ustad Abu. Kalau polisi menuduh Ketua JAT Jakarta Abdul Haris yang mendanai pelatihan itu, bagaimana tanggapan anda ? Awal mula munculnya statemen seolah-olah statemen saya itu, sesungguhnya berasal dari penjelasan Abdul Haris di Harian Kompas yang menarik beberapa media lain untuk mengutipnya. Mereka bertanya apakah Ustad Abu menerima bantuan, saya bilang bahwa dasarnya Ustad Abu menerima infaq dari orang yang kelebihan hartanya untuk disalurkan kepada yang berhak menerimanya seperti fakir miskin, tetapi tidak dalam konteks pelatihan di Aceh. Setelah menerima infaq, Ustad Abu hanya menyalurkannya untuk anak yatim piatu, bukan untuk pelatihan di Aceh. Saya sudah meminta media tersebut untuk mencabut beritanya. Setelah itu banyak wartawan asing yang minta klarifikasi kepada saya. Saya tegaskan pernyataan saya sengaja diplintir secara langsung maupun tidak langsung. Saya sudah memperingatkan redakturnya melalui telephone dan surat resmi. Apakah penangkapan Ustad Abu merupakan pesanan AS ? Memang sudah sejak dari dulu Ustad Abu diincar AS karena dihubungkan dengan Al Qaeda. Meski tidak ada kejadian seperti ledakan bom sedangkan latihan militer sudah lama berakhir, tetapi Ustad Abu ditangkap juga. Jelas ini ada kejanggalannya, apakah punya motifasi lain sehingga Ustad Abu ditangkap kembali. Bisa jadi ini sebagai upaya untuk pengalihan isyu. Apakah Polri mengharapkan bantuan dana AS dan Australia dengan menangkap Ustad Abu ? Memang kita tahu bantuan pendanaan terhadap tindak pidana terorisme dari AS dan Australia. Bisa saja karena kepentingan seperti itu. Mereka tidak puas, karena Ustad Abu tidak pernah ditangkap dan mereka tidak lagi memiliki bukti yang signifikan tentang itu.

Apakah pihak JAT telah disusupi intelijen ? Intelijen pasti berkeliaran dimana-mana. Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) tidak boleh gagabah disusupi intelijen. Memang itu harus dicermati JAT, jangan sampai disusupi dan dipakai untuk kepentingan intelijen. Dikabarkan mantan desersir polisi, Sufyan Tsauri, sengaja disusupkan ke JAT dengan melatih calon teroris di Mako Brimob dan Aceh. Bagaimana tanggapan anda ? Kegiatan teroris di Aceh memang harus dipelajari secara resmi siapa yang mempunyai usul mengenai itu, siapa yang menfasilitasi pelatihan itu, bagaimana mereka bisa datang ke Aceh dan sebagainya. Seharusnya itu mendapat perhatian dari Mabes Polri. Kalau ada anggota JAT yang melakukan pelatihan militer, Ustad Abu tidak bisa disalahkan. Apakah penangkapan Ustad Abu akan merembet kepada tokoh-tokoh Islam lainnya ? Saya kita tidak ! Kalau bukti-bukti yang dimiliki polisi mengenai Ustad Abu sudah kuat, mengapa tidak dipanggil saja dan ditanyai secara baik-baik. Mengapa harus dihadang ditengah jalan dengan cara seperti itu apalagi dengan memecahkan kaca mobil. Polisi telah melakukan tindakan sewenang-wenang dengan memperlakukan Ustad Abu sedemikian kasar dan menyakitkan hati seperti itu. Padahal Ustad Abu adalah seorang ulama yang wajib dihormati. Apakah TPM akan melakukan pembelaaan secara all-out terhadap Ustad Abu ? Kita akan melakukan pembelaan secara optimal. Kita akan mencari data-data Aceh untuk diungkap di persidangan nanti. Sudah banyak pengacara yang minta bergabung dan menghubungi saya. Kita tidak ingin disusupi intelijen dan kita harus selalu waspada. (Abdul Halim)

SEHARI KAPOLRI BOHONG LIMA KALIWednesday, 31 March 2010 12:29 | Komjen (Pol) Drs Susno Duadji SH MH MSc (Mantan Kabareskrim Mabes Polri) Written by Jaka |

Di rumahnya yang tidak mewah di kawasan Cinere, pagi itu Kamis, pukul 07.50 wib. Tim Redaksi Tabloid Suara Islam tiba sepuluh menit lebih awal dari waktu yang disepakati. Tetapi ternyata tuan rumah telah siap menerima kehadiran kami di ruang tengah

rumah yang cukup asri itu. Berikut ini wawancara eksklusif Abdul Halim, Muhammad Luthfie Hakim dan Muhammad Al Khaththath dari Tabloid Suara Islam, dengan Komjen (Pol) Susno Duadji di rumahnya Cinere, Depok, Jawa Barat, Kamis (25/3) lalu. Wawancara sejak dari kasus Bank Century hingga markus pajak Rp 24,6 miliar yang diduga kuat melibatkan sejumlah Jenderal di Mabes Polri. Bagaimana tanggapan Anda atas penyesalan Ketua Tim 8 Adnan Buyung Nasution yang merekomendasikan pencopotan Anda dari Kabareskrim Mabes Polri akhir tahun lalu ? Bang Buyung tidak perlu menyesal, tetapi yang penting follow up dari penyeslaan itu. Faktanya pada waktu itu saya Kabareskirm, orang akan beranggapan bahwa penyidikan itu berada ditangan Kabareskrim. Ada dugaan rekayasa penyidikan Wakil Ketua KPK Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah. Kalau ada dugaan rekayasa, maka alamat yang paling tepat tentunya Kabareskrim. Sebab tidak pernah diekspos bahwa yang menanggani kasus pimpinan KPK ini adalah suatu tim. Pimpinan penyidiknya adalah Direktur III Brigjen Julianus Mahar. Itulah yang dinamakan dengan nama sandi Truno 3. Kalau saya di dalam jajaran Kepolisian adalah Tribrata 5 dan di lingkungan Bareskrim Guru l. Koordinatornya adalah Wakabareskrim yang bertanggungjawab kepada Kapolri. Jadi susunannya Kapolri kemudian Wakabareskrim yang membawahi beberapa tim. Sebelumnya Irjen Hadiatmoko, tetapi karena dinilai tidak berhasil dan hanya dianggap berhasil menggolkan Antasari Azhar saja tetapi justru Bibit dan Chandra gagal, sehingga Hadiatmoko dicopot. Kemudian diganti Brigjen Dikdik dan dianggap berhasil menggolkan Bibit dan Chandra, menjadi tersangka dan dia naik pangkat menjadi Irjen. Kemudian Julianus Mahar dianggap berhasil dan naik pangkat menjadi Brigjen. Anggota tim berasal dari Bareskrim, Polda Metro, Polda Jatim, Babintak dan Ditbinkum. Saya tidak mengendalikan dan tidak boleh mengendalikan dan tidak boleh tahu hasilnya. Memang struktur militer dan polisi kuat sekali, kalau ada tim khusus maka yang boleh tahu kerjanya hanya tim itu saja, sehingga kalau saya tanya salah. Jadi yang benar adalah saya jangan bertanya. Mereka jangan melapor ke saya, sebab jadi tidak patuh pada asas. Wajar kalau orang luar menuduh saya, tetapi saya diam dan tidak membantah. Seharusnya pimpinan yang menjelaskannya, tetapi pimpinan tidak pernah menjelaskannya bahkan Susno Duadji tidak dilibatkan disitu. Kalau bicara sendiri dan saya bukan kalau tiak terlibat, akhirnya saat ini orang akan menanyai siapa yang terlibat. Kalau bukan Susno, terus siapa ? nanti akan ke Kapolri dan diatasnya ke Presiden. Untuk itulah saya sebagai seorang perwira dan ksatria, disitu saya betul-betul menunjukkan kesetiaan dan keperwiraan saya. Manakala kepentingan lebih besar menghendaki, maka kepentingan pribadi dan kelompok harus dikalahkan, sehingga saya diam saja. Tetapi ingin tunjukkan saya tidak seperti itu. Saya menunjukkannya dengan bahasa isyarat. Seperti sewaktu Bang Buyung menyuruh saya mundur, saya tidak mau mundur. Tetapi akhirnya Bang Buyung mau mundur jika saya tidak mundur. Tetapi kemudian diberi permen manis oleh Kapolri dengan sebuah kebohongan. Di Istana Kapolri mengatakan Susno Duadji sedang membuat surat pengunduran diri, sehingga Bang Buyung tidak jadi mundur. Kemudian malamnya Kapolri rapat dengan Komisi III DPR, dengan terang terangan mengatakan bahwa surat pengunduran Susno Duadji sudah diterima. Itu jelas suatu kebohongan besar sekali. Sewaktu Tim 8 mengundang tim dari Polri hadir di Wantimpres untuk dimintai keterangan, yang berangkat Kapolri, Wakabareskrim, Direktur III dan beberapa pemeriksa. Saya tidak

hadir, tetapi Bang Buyung tidak menanyakan ini. Seharusnya ditanya, mana Susno kok tidak datang dan anggota Tim 8 lainnya juga tidak tanya, punya ilmu apa itu ! akhirnya mereka pulang. Setelah itu mereka baru ingat dan besoknya saya datang sendiri ke Tim 8. Saya katakan, walaupun saya tidak bertanggungjawab dalam penyelidikan ini, saya datang atas sepengetahuan institusi dan saya siap memberikan keterangan sepanjang yang saya ketahui. Tetapi tidak pernah ada pertanyaan, kenapa kamu membantah walau tidak bertanggungjawab. Tidak ada pertanyaan seperti itu. Akhirnya kesimpulan Tim 8 adalah Susno merekayasa kasus untuk menghindari dari tanggungjawabnya, kan celaka benar ! Ya sudah, saya cepat didesak mundur oleh Presiden SBY. Bahkan Kapolri terdiam seusai pengunduran saya dimana prosesnya masih 15 hari setelah keluarnya rekomendasi Tim 8. Akhirnya Kapolri datang ke beberapa pimpinan redaksi media massa untuk menenangkan media massa agar tidak mendesak mundur. Tetapi waktu itu jawaban Kapolri berkelit, ketika ditanya apa benar Susno itu, apa Kapolri takut, kok demikian kuat Susno itu, tetapi jawaban Kapolri berkelit. Semestinya sebagai seorang Kapolri, sebagai seorang jenderal polisi dia katakan, jangan menuntut Susno mundur, dia tidak bertanggung jawab dalam menyidik kasus ini, kan selesai. Tetapi siapa yang bertanggungjawab, Kapolri harus menjawab saya, kan sebagai perwira harus ksatria. Tetapi melihat dia tidak begitu, saya kecewa ! Saya berfikir buat apa bertahan? Maka saya harus mundur. Saya berunding dengan anak istri, saya katakan kita dihujat terus menerus dan tidak bisa diundurkan, kalau mau bertahan seratus tahun bisa. Tetapi hujatan ini terus menerus, sehingga saya katakan siap mundur. Saya bilang sama anak istri, meski nama kita sudah hancur tetapi kita tidak salah. Insya Allah, dengan keimanan kita maka kebenaran tidak akan bisa ditutupi. Kalau Allah ingin memulihkan nama kita, tidak akan sulit. Kun fayakun, selesai. Akhirnya saya mundur, begitu mudur tidak ada masalah apa apa. Saya diam saja di rumah tidak ada niat apa-apa hampir selama 2,5 bulan. Kemudian saya berfikir bagaimana memperbaiki nama kita, harus mulai dari mana. Tahu-tahu saya diundang bersaksi di Pengadilan kasus Antasari Azhar dan saya datang tanpa niat apapun juga. Karena kesaksian dibawah sumpah dan dibawah UU dunia, kalau saya bohong berarti saksi palsu. Kalaupun saya berbohong dan tidak ditangkap di dunia pasti akan ditangkap di akhirat. Saya akan mendapat laknat dari Allah. Makanya sewaktu menyampaikan kesaksian, saya enak saja apa yang saya ketahui, tidak saya tambah dan tidak saya kurangi. Seperti pertanyaan pengacara, apa betul saya mengetahui ada tim yang dibentuk Kapolri yang dinamakan Tim motifasi untuk menghendel kasus ini ? Saya jawab tidak tahu dan tahu. Memang awalnya saya tidak tahu, tetapi akhirnya saya tahu. Tidak tahu memang tidak diberi tahu, kemudian tahu karena saya mengetahui tim itu gagal. Karena gagal maka dicopotlah ketua tim. Menurut Anda, siapa sebenarnya dalang yang merekayasa semua kasus ini ? Tanpa saya beritahu yang merekayasa, saya kira masyarakat sudah mengetahuinya. Siapa yang bertanggungjawab dalam penyelidikan ini. Tim penyidiknya Direktur III dan Koordinatornya Wakabareskrim serta penanggungjawabnya Kapolri yang langsung lapor pada Presiden. Lalu siapa penanggungjawabnya ? Saya kira dari struktur ini, silahkan dianalisis sendiri. Anda pernah mengatakan Boediono terlibat dalam skandal Century. Namun setelah

menjadi Wapres penyidikan dihentikan. Bagaimana kok bisa terjadi ? Saya katakan bukan terlibat. Waktu menyidik Century, kasusnya saya bagi tiga. Kasus murni perbankan, duit nasabah diambil Robert Tantular dengan kasus Antaboga, dan kasus yang terkait dana LPS. Itulah yang berbeda. Kenapa saya tidak meneruskan, karena sudah masuk bulan September. Bulan Oktober sudah ada hasil penetapan Presiden dan Wakil Presiden dan sudah ada jadwal pelantikannya. Sebab kalau saya teruskan penyidikan, pasti ada yang bilang Susno telah dimanfaatkan kepentingan politik lain untuk menghancurkan nama Wapres, menggagalkan Pilpres dan Cawapres, sehingga besar sekali resikonya. Kita menyidik harus memakai strategi, mana kuat Susno sendirian disitu, Kapolri belum tentu setuju. Tetapi kalau sekarang kuat sekali backupnya jikalau polisi ingin menyidiknya dengan backup masyarakat. Waktu itu saya menyidik dengan kekuatan hukum. Tetapi hukum tanpa ditopang oleh kekuasaan maka tidak akan bisa jalan. Pasti kalau saya teruskan akan ketemu dengan Menkeu dan Wapres. Apa kuat Susno sendirian ? Tentunya dengan strategi, toh masyarakat dan KPK sudah minta diusut dan BPK sudah mulai mengangkat kasusnya sedikit demi sedikit, itu strateginya. Mengapa anda berani membongkar kebobrokan Mabes Polri ? Saya kira bukan karena keberanian, tetapi karena kepenakutan saya maka saya ungkap. Jadi kalau saya berani, justru saya hormat sekali kepada mereka yang berani merekayasa kasus itu. Kalau saya takut, karena takut akan hukuman Allah lebih berat yang akan saya terima. Menurut Anda, seberapa parah kebobrokan di dalam Mabes Polri ? Tergantung kehebohannya ! Masyarakat kan sudah tahu, yang saya angkat ini baru satu, tetapi hebohnya luar biasa, ini berarti parah. Makanya saya tidak mau angkat banyak-banyak, satu dulu saja. Ini hanya merupakan test case saja. Saya masih punya banyak peluru. Jadi masyarakat bisa membaca. Baru satu yang saya angkat, Mabes Polri sudah goyang. Itu menunjukkan bobrok, coba dia baik. Mestinya yang kena dua orang, biarkan dua orang itu menghadapi sendiri secara hukum, kenapa dua orang itu dibela mati-matian? Padahal tidak ada kewajiban membela dua orang itu. Seharusnya kewajiban polisi itu membela saya, sebab Undang-undang mengatakan pelapor tindak pidana korupsi wajib dilindungi. Kenapa dia sampai nekat melanggar UU ? Banyaknya kebobrokan di tubuh Polri, apa perlu direformasi Kembali ? Bukan perlu tetapi wajib atau fardhu ain untuk direformasi. Kalau perlu itu sunnah, sedangkan ini wajib. Kalau tidak direformasi, berarti kita memelihara penjahat bersenjata resmi dan terorganisir. Padahal kewenangan polisi besar sekali dengan kekuatannya mencapai 360 ribu orang bersenjata. Polisi boleh membunuh, jika penjahat lari boleh ditembak mati. Dengan kekuatan sedemikian besar, jika tidak direformasi dengan baik maka akan sangat berbahaya. Kalau tentara tidak boleh menembak rakyat, tetapi polisi boleh nembak rakyat yang melakukan kejahatan. Tentara tidak boleh nembak rakyat yang jahat sekalipun. Kalau tentara begitu senjatanya nembak itu untuk musuh dari luar, tetapi kalau polisi senjatanya diarahkan kedalam, itu bedanya. Apa ini sebagai dampak penempatan Polri dibawah Presiden ? Bukan ! Polisi mau dibawah siapapun. Presiden, Menteri Peranan Wanita atau siapapun tidak masalah. Kita sekarang sedang mengalami dekadensi moral. Seharusnya polisi wajib menjadi

pelindung, tetapi malah menakut-nakuti rakyat supaya dapat duit. Polisi wajib memberantas kejahatan, tetapi malah menciptakan kejahatan. Lha ini jahiliyah, ini sudah masuk zaman jahiliyah. Dengan penetapan anda sebagai terperiksa atau tersangka, apa anda merasa didholimi ? Ya saya terima saja, mau silahkan orang menilainya, saya diperiksa saja belum. Yang katanya namanya harum, apa ya ? Yang melaporkan saya itu kan namanya yang harum itu, yang saya tuduh merekayasa kasus dan katanya tidak terbukti. Lho bisa mengatakan tidak terbukti, kapan memeriksannya ? Kok cepat amat, mereka ngotot. Sebelum diperiksa, kesimpulannya saya jadi tersangka, ya sudah. Kalau kita ikut gila, namanya gila juga. Mengapa Kapolri sekarang kelihatanya berbalik, mengakui ada ketidakberesan dalam kasus markus pajak yang melibatkan Gayus Tambunan? Saya diam, tahu saya sudah malas mendengarnya. Karena, semua institusi resmi seperti polisi yang berkaitan dengan HAM, mestinya jika memberi keterangan itu sekali saja, sehingga antara satu keterangan dengan lainnya sama. Jadi sekarang yang mau saya pegang keterangan siapa ? Kabareskirm lain, Kadiv Humas lain, Kapolri lain, Propam lain lagi meski dalam persoalan yang sama. Itu baru dari segi orangnya. Sekarang dari segi waktu, pagi, siang dan malam lain lagi. Kalau dicari-cari kesalahannya seperti membolos kerja selama 78 hari, bagaimana komentar anda? Bolos dari mana? kalau tidak pernah masuk kantor, kantornya mana ? Kantor adalah tempat suatu jabatan yang melaksanakan aktifitasnya sesuai dengan standar operasional prosedural (SOP). Tempat mungkin ada, jabatannya apa?, tugasnya apa?, SOP nya apa? Kalau ada tempat, bukan kantor namanya. Saya masuk sana, bukan masuk kantor. Tapi sekarang mereka bilang saya bolos, terserah. Jika dibandingkan dengan orang sama seperti pak Dai Bachtiar, apakah pernah dia ngantor setelah jadi Pati ? Dia jadi Pati selama 10 bulan sebelum pensiun. Kemudian pak Chairuddin Ismail, apakah beliau ngantor, satu tahu lebih. Apakah dia diperiksa dan dipecat. Tidak ! Kenapa untuk hal yang sama, perlakuan terhadap saya berbeda. Jadi kalau begitu ini khusus untuk Susno Duadji saja. Tapi apapun juga saya tidak menolak, saya terima. Soal markus pajak, apa uang Rp 24,6 miliar itu memang dibagi-bagikan oleh Gayus Tambunan kepada para pejabat di Mabes Polri ? Saya tidak tahu ! Tetapi yang jelas uang itu sudah tidak ada. Itulah tugas penyidik, sama untuk markus ini. Polisi itu mengerti hukum, tetapi mereka mengatakan kalau berani buktikan. Lha dimana saya bisa membuktikan? Saya ingin polisi yang mempunyai kewenangan menyidik itulah yang membuktikan. Mengenai kasus Century beberapa waktu lalu, bagaimana proses kehadiran anda di Komisi III DPR. Apakah anda tidak diajak pimpinan Polri seperti waktu di Tim 8 tetapi anda mendapat undangan khusus dari DPR ? Waktu acara dengar pendapat dengan Komisi III terkait dengan heboh cicak buaya dengan KPK, memang saya tidak diajak Kapolri, tetapi saya sudah antisipasi. Saya mempunyai teman-teman DPR agar diundang. Di meja memang tidak ada papan nama saya, tetapi saya

mengatakan resmi diundang dengan tandatangan Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso. Justru yang tak diundang itu mereka semua itu, karena yang diundang resmi hanya Kapolri dan saya, sedangkan mereka itu hanya diajak Kapolri. Apa reaksi Kapolri waktu itu ? Kapolri hanya kelihatan pucat saja, yang jelas dia tidak bisa bicara bebas. Waktu itu Kapolri mengatakan Susno siap mengundurkan diri ? Bukan siap, tetapi Susno Duadji sudah mengajukan surat pengunduran diri, katanya suratnya sudah diterima. Waktu itu saya mau berdiri, tetapi dicegah Wakapolri pak Makbul. Ketika itu dalam sehari Kapolri 5 kali berbohong secara resmi, tetapi yang tidak resmi saya tidak tahu. Waktu siangnya di Istana Kapolri mengatakan Susno sudah mengajukan surat pengunduran diri. Malamnya mengatakan surat pengunduran diri sudah diterima. Malam itu di tempat yang sama juga mengatakan tentang Nurkholish Madjid. Juga di tempat yang sama dia mengatakan tentang MS Kaban. Pada tempat yang sama dia juga mengatakan akan mundur jika tidak bisa dibuktikan di Pengadilan. Mengapa di Komisi III DPR, anda sampai menangis. Apa yang menyebabkan anda terharu ? Seumur hidup, saya tidak pernah menangis. Waktu Ibu saya meninggal dunia sekalipun, saya tidak menangis. Memang saya lebih dekat kepada Ibu meski Bapak dan Ibu sama. Karena dialah yang mengajarkan akhlak budi pekerti dan agama kepada saya. Karena sesuai dengan ajaran agama, jangan dibasahi dengan air mata ketika ditinggal wafat, maka saya hanya berdoa dan membaca Surat Yasin saja. Tetapi malam itu di DPR saya menangis. Karena sudah hampir 4 bulan terus menerus ditekan. Sedangkan di rumah saya harus senyum, untuk menghibur istri dan anak, tetapi batin saya sedih sekali. Anak saya perempuan sampai berhenti dari bekerja karena malu bapaknya dihujat terus menerus. Akhirnya usaha sendiri dengan jual pakaian bekas di Citos dengan diobral padahal dia sarjana, tetapi yang penting halal. Alhamdulillah, ternyata penghasilannya tidak jauh berdeda dengan gajinya ketika masih kerja di kantor. Dia tidak malu, kadang kadang temannya ikut beli. Itulah yang membuat saya ketika teringat sampai menangis. Jadi semuanya ini merupakan rekayasa dari Mabes Polri, padahal anda sama sekali tidak terlibat dalam tim penyidik. Sampai-sampai anda diminta mundur ? Saya kan tidak mundur, tetapi minta mundur sementara. Saya diminta mundur supaya tekanan berkurang. Saya diminta mundur pak Makbul atas suruhan Kapolri. Pak Makbul waktu itu bersama pak Yusuf Manggabarani. Saya tanya mengapa Kapolri tidak langsung kepada saya, alasannya Kapolri tidak sampai hati karena saya tidak bersalah. Kemudian saya bilang oke, saya mundur, tetapi mundurnya kan bukan selamanya. Nanti setelah situasi tenang, nama saya seharusnya dipulihkan kembali. Tetapi ternyata tidak ada pemulihan sama sekali selama 2 bulan, tetapi saya diam dan tidak berontak. Selama itu saya juga masuk kantor, meski kantornya tidak ada yang dapat dimasuki. Saya datang ke teman-teman karena sudah tidak memiliki ruangan sendiri. Selama 2,5 bulan saya tidak ada apa apa dan saya terima. Bahkan sudah akan membanting setir mencari usaha yang lain. Tetapi begitu bersaksi untuk Antasari Azhar, mereka mengancam akan memecat dan sebagainya. Sejak itulah saya merasa telah dikerjain mereka

dan saya mulai bangkit. Saya katakan sama keluarga, dukung saya. Apa reaksi anda ketika diumumkan diberhentikan dari Kabareskrim ? Saya marah sekali. Kalau mutasi seringkali tidak pernah diumumkan ke publik. Karena saat itu timingnya massa minta saya untuk mundur, sehingga seolah-olah inilah betul biang keroknya, saya tidak mau yang begitu. Saya tetap mau mundur tetapi jangan saya dikatakan bersalah. Waktu itu mungkin saya sudah kalah 80 persen. Tetapi masyarakat kan perlu informasi yang berkaitan dengan anda ? Itulah yang tidak pernah disampaikan oleh mereka. Karena Kapolri mengatakan tidak perlu berbicara dengan pers karena nanti semua dia yang mengatasi. Jadi saluran saya ke pers ditutup, tidak seperti sekarang ini. Saya Sholat Jumat saja tidak boleh di Masjid, tetapi di ruang tahanan bersama para tahanan. Supaya tidak bertemu dengan wartawan di depan. Kantor saya dengan ruangan Kapolri tidak lebih dari 20 meter, saya harus naik mobil dari belakang. Saya kira ini sudah pendzoliman yang luar biasa. Jadi anda berusaha melepaskan diri dari belenggu tersebut ? Ya, lama-lama saya minta berhenti. Akhirnya saya bersaksi di sidang Antasari Azhar. Banyak hal yang mengejutkan dan saya dikejar terus sama wartawan. Saya sudah tidak mau tunduk lagi pada aturan-aturan polisi untuk membungkam saya. Meski tetap ada larangan berbicara sama wartawan, saya tidak takut, saya hantam saja. Seperti apa marahnya Anda waktu diumumkan pemberhentian dari Kabareskrim ? Langsung malam itu saya datangi rumah Kapolri, tetapi dia tidak mau menerima meski ada di dalam rumah. Dia ada di dalam kamar dan tahu saya datang karena diberitahu ajudan. Rumah Kapolri kan agak terbuka pintunya dan yang jaga banyak sekali. Jangankan maling, lalatpun tak akan bisa masuk walaupun pintunya terbuka. Saya bisa masuk karena dia tahu saya Kabareskrim. Kata ajudan bapak lagi tidur dan besoknya baru bisa bertemu Kapolri. Akhirnya jam 4 sore keesokan hari saya baru bias bertemu Kapolri. Kemudian ajudan memberitahu saya kalau Kapolri sudah datang. Saya ingin bicara empat mata, ajudan tak menjawab. Ternyata setelah saya masuk ruangannya, sudah ada lima jenderal yang mendampingi Kapolri. Jadi saya tidak sendirian bertemu Kapolri. Saya katakan, saya mau berhenti karena memang sudah sepakat. Tetapi kenapa diumumkan ke public? Itu berarti sudah mempermalukan saya. Seolah-olah itu isyarat kepada publik bahwa betul Susno Duadji yang bersalah dalam kasus dengan KPK, buktinya sudah dimundurkan. Dengan diumumkan kepada seluruh masyarakat Indonesia melalui berbagai media massa pada malam itu, akhirnya besoknya media menulis, akibat dari perbuatan merekayasa sebagai pertanggungjawaban maka saya mundur. Jadi seolah-olah melegitimasi betul bahwa saya merekayasa kasus tersebut. Apa reaksi Kapolri pada waktu itu ? Dia hanya ketawa-ketawa saja dan merangkul saya. Hukuman itu kelihatannya kecil tapi maknanya besar bagi saya. Karena timingnya bertepatan dengan desakan masyarakat, maka saya mundur.

Apakah Kapolri meminta maaf kepada anda ? Sama sekali tidak meminta maaf. TNI dan Polri berlaku sistim komando, tetapi masyarakat sekarang melihat bintang satu berani dengan bintang tiga. Sepertinya tidak ada lagi sistim komando di Polri ? Itu karena disuruh dan dibiarkan Kapolri. Apapun juga saya ini masih aktif sebagai polisi. Boleh benci sama Susno, tetapi dalam hierarkhi tidak boleh benci. Kalau tidak disuruh tidak bakal mereka berani. Tetapi perasaan dia ingin menjatuhkan martabat saya kan? Tetapi dia lupa martabat mereka sendiri justru yang jatuh. Pada waktu itu ada pemeriksaan dari dua sayap, Intelijen dan Propam. Intelijen sudah clear dan Propam belum selesai, dimana Kapolri membatasi seminggu saja. Satu minggu tak clear, dua minggu tak clear yang dilakukan Propam. Apa salah yang akan dituduhkan kepada saya? Kemudian intelijen lebih jernih berfikir seperti pak Saleh Saaf. Sebenarnya bukan Propamnya yang salah, tetapi kepemimpinan yang salah. Kalau pemimpin berwibawa, maka hirarkhi polisi akan bagus sekali. Jadi pemimpin kan harus tegas, jangan mengadu domba, ituu namanya kan mengadu domba. Saya yakin pak Saleh Saaf tersinggung berat itu. Propamnya masih ngotot sementara Kapolri tidak punya pendirian. Itu kan sama dengan menyuruh anak buah berantem. Adanya kebobrokan dalam institusi Polri seperti markus, rekayasa perkara, intervensi politik akan membebani institusi Polri. Apa sebaiknya yang menjadi langkah Polri ? Polri harus dirombak kepemimpinannya, terutama orang nomor satunya oleh orang yang memiliki integritas tinggi, punya keberanian dan tidak munafik. Kalau bisa begitu ya sudah selesai. Perlu waktu berapa bulan, tidak perlu lama cukup tiga bulan sudah baik karena sistim komando. Berbeda dengan Departemen dan Partai. Kalau polisi kan ada yang diatas dan bawah. Kalau itu sepertinya suatu yang utopis, mengingat kita tahu pimpinan Polri memiliki penghasilan sampingan yang besar. Tidak ! Polri itu gajinya kecil. Kalau memang perusahaan miliknya sendiri tidak apa-apa. Seperti gajinya kecil tetapi memiliki perusahaan silahkan saja, kan tidak dilarang mendapat penghasilan yang halal. Kalau ngak kan mati karena gajinya tak cukup. Itulah yang saya katakan kalau seorang polisi tidak ditopang dengan usaha lainnya, apapun pangkatnya jenderal bintang 8 sekalipun di Jakarta ini, tidak mungkin bisa beli mobil kijang sekalipun second hand. Gaji saya kan hanya Rp 11,7 juta, untuk membayar listrik saja satu juta lebih, belum lainnya. Apakah anda siap mengambilalih kepemimpinan Polri bila DPR menghendakinya ? Soal siap atau tidak siap, rakyat yang tahu. Jadi Kabareskrim saja tidak dipakai dan dicopot, masak jadi Kapolri. Itu impian terlalu tinggi. (Susno tertawa lepas) Bagaimana perlunya fungsi moral di Kepolisian sekarang ? Bukan hanya di polisi, tetapi di republik ini. Saya kira solusinya kita perbaiki moral melalui agama seluruh pimpinan negara ini. Sekarang ini kan orang tidak takut lagi sama Tuhan.

Mereka tetap Sholat lima waktu tetapi korupsinya jalan terus. Kalau mereka ketemu daging babi muntah muntah, tetapi aspal dan pasir masuk perut. (*)

Add New Search RSS

Comments (66) |111.68.113.177 |2010-03-31 17:48:23 abu zahra - polri

Pa Susno dan Kapolri sama aja karena mereka berada pada sistem yg salah (demokrasi/sistem thagut), coba mereka berada dalam naungan syariat islam pasti hidup mereka punya nilai ibadah dimata Alloh,sebenarnya bangsa kita hidupnya sia2 kecuali orang beriman dan berlepas diri dari thogut, karena mereka dipaksa oleh pemerintah untuk tunduk dan taat kepada sistem thagut padahal keta'atan hanya untuk Alloh dan rasulnya.nanti mereka akan menyesal dan menuntut penguasa yg telah menjerumuskan kepada kekufuran.eling uey, eling, "Ta'atilah Alloh, ta'atilah Rosul,dan ta'atilah Pemimpin orang2 beriman dan kalau ada perselisihan diantara kalian kembalikan pada Al qur'an dan as sunah,jika kamu beriman kepada Alloh dan hari akhir, karena itu lebih utama dan hasilnya akan lebih baik".INGAT PARA PENGUASA. ELING2 BENCANA DIMANAMANA.ELING 2 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-03-31 22:26:03 Just Revolution

Pak Susno, Kalau Bapak mengerti betul2 ajaran Islam, semestinya Bapak membongkar kebobrokan institusi Polri sewaktu masih diberi Allah Kekuasaan(Kabareskrim). Sekarang setelah Bapak "dipecat" Bapak cuap2, kelihatan sekali Bapak Susno sakit hati.

2 3

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-01 15:47:26 jangansesat

Banyak orang mengatakan kalau motif susno tidak benar. Katanya susno sakit hati. Pertanyaannya sakit hati kepada siapa? Apakah kepada kapolri? kepada raja? kepada edmond? atau kepada institusi? Aneh, kalau saya sakit hati terhadap orang yg jahat kepada saya, atau sakit hati kepada institusi yg tidak benar (padahal saya sayangi), apakah sakit hati tersebut bisa dianggap salah? Tolong jangan karena banyak sekali oknum di institusi, lalu yg benar disalahkan, dan yg salah dibenarkan. Ini momentum yg tepat untuk melakukan perbaikan di sistem negara kita. Momentum yg tepat untuk melakukan reformasi. Jendral Susno sudah membuka jalan, kita tinggal ikuti aja. Ayo kita dukung. 2 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-01 15:58:09 Just Revolution

Maksudnya kenapa Bapak Susno sewaktu masih menjabat Kabareskrim tidak membongkar semua kebusukan2 yg terjadi di Institusiny,Kalau memang dia mengerti ajaran Islam yg sebenarnya. "Katakan yang hak walau terasa pahit bagi kita" 0 2

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-02 23:47:47 ardee - wajar, perang tanpa strategi = mati konyol

Wajar kalau kasus ini dibongkar setelah pak susno 'diluar' sistem. Ketika dia didalam sistem polri yang sifatnya komando, membongkar hal ini namanya bunuh diri... akan dengan mudah terbungkam di intern polri sebelum bocor ke pers... beda cerita jika pak susno ada diluar sistem, apalagi sedang dalam sorotan publik... Efek dnomino/dampak sosialnya jadi luarbiasa... Kesempatan yang pas untuk menekan polri sebagai institusi untuk berbenah dibawah tekanan publik... Kalau mau menghantam musuh yang sistemik seperti mafia berseragam polri, gak bisa asal grasa-grusu, itu namanya bunuh diri jek! 4 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-04 06:59:10 Just Revolution

Ajaran Islam mengajarkan begitu Pak. Apakah kode etik institusi lebih tinggi dari hukum Allah? 0 1

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-05 08:05:54 Nguibul

@Juts Revolution. ngomong gampang bos, coba loe didalam sistem, pasti susahlah. apalagi Polisi itu rintisan karir. Sudah sepantasnya kita dukung susno... 2 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-05 09:37:01 Just Revulution

Ini Bukan Masalah dukung mendukung Bang. Kita semua tahu bahwa KPK itu badan independen yg tidak tunduk kepada org yang bikin (kita semua tahu siapa yg bikin). dan tulisan wawancara diatas juga menggambarkan bagaimana Antasari Azhar dilengserkan, terus Bibit Chandra juga mau disisihkan. Nah skenarionya bagaimana menjadikan KPK jadi "Anak Baik". Jadilah Bapak Susno dikeluarkan dari Kabareskrim untuk mengungkap segala manipulasi atau dengan kata lain Bapak Susno dianggap sebagai "Pahlawan", dan selanjutnya dicalonkan jadi ketua KPK. Coba lihat, setiap perkara apa saja...pasti yang dikorbankan hanya org2 tidak terkenal. Sungguh, kalau para pemimpin negeri ini mau mengusut semua kasus dengan hati nurani...semua pejabat yang terkait bisa kena semua termasuk Kapolri dan Jaksa Agung. "Mempunyai mata tidak melihat. Mempunyai telinga tidak mendengar. Dan mempunyai hati tidak memahami." 0 3

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-06 12:02:37 ardee

bisa buktiin gak ada skenario seperti itu? 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-06 19:25:45 Just Revolution

Kita lihat saja hasilnya... 0 0

ReplyQuote

|111.68.113.177 |2010-04-12 13:28:59 dedi sunardi

orang gak punya strategi tahunya reaktif begitu ada masalah lawan, gak tahu yang dilawan tuh besar, sekali tebas dia hancur, tadinya mau memperbaiki tp belum apa apa sudah hancur gmn 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-12 20:08:47 Just Revolution

Bapak sunso di tangkap Provost, trus gimana strateginya? Coba kalau Bapak Susno membongkar semuanta semasih menjabat Kabareskrim, lebih punya taji. 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-06-30 23:16:24 ikrar - belum tobat

ya iyalah waktu itu doi belum tobat mereun 0 1

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-03-31 23:33:38 aD - 180 derajat

Assalamu'alaikum..... Untuk Suara Islam Online, terimakasih untuk wawancara ini, makin membuka mata saya.

Terus terang saja, saya bukan orang baik-baik. Masa lalu saya sering berurusan dengan polisi, tapi justru karena pengalaman-pengalaman itulah saya jadi tahu betul kelakuan polisi-polisi kita yang sedihnya negatif semua. Sampai sekarangpun saya masih merasa sebal melihat orang berseragam polisi. Untuk Bapak Susno Duadji, saya mohon ma'af yang sebesar-besarnya karena ketika kasus cicak vs buaya mencuat, jujur saja, saya sangat membenci bapak. Pemikiran awam saya, orang yang paling bertanggung jawab atas pekerjaan bareskrim mestinya kabareskrim. Tapi ternyata saya salah, sekali lagi saya mohon ma'af yang sebesar-besarnya kepada Bapak Susno. Sekarang, saya justru sangat mengagumi dan mendukung apa yang telah bapak lakukan dengan mengungkap kebobrokan yang ada di tubuh polri. Andai ada anggota Polri lain yang seperti bapak, 'Insya Alloh, citra Polri pasti akan lebih baik. Benar kat... 1 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-01 11:18:57 madyapura

katakan yang benar itu sekalipun pahiiiiit 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-01 11:33:21 abu_atthoriq

Terus berjuang pak Susno. Butuh proses memang untuk berubah menjadi hamba Allah yg benar & perlu banyak pengorbanan. apa yg bapak lakukan suatu pengorbanan yg besar, alngkah baiknya jika bapak segera pensiun dini saja dari polri supaya keluar dari sistem thoqut.Jika ada motif dendam, maka segera hilangkan. perbaiki niat semata2 melaksanakan perintah Allah utk amr bil makruf nahyu anil munkar dan tempuh cara berjuang yg benar di luar sistem itu. InsyaAllah akan menjadi amal sholih buat bekal bpk nanti di akhirat. Semoga Allah senantiasa memberi hidayah, perlindungan dan pertolongan kpd bpk sekeluarga. 0

0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-01 17:06:29 nawarih - Perlu banyak orang sakit hati

Apapun motif dari pengakuan yang blak - blakan dari Pak Susno patut dihargai dan sebagai masyarakat perlu mensyukuri karena hal itu akan semakin memudahkan kita dalam melihat kasus2 yg ada. Kalaupun motifnya sakit hati, ya tidak masalah, yang jadi masalah, sudah tau institusi ditempatnya yg lama ada masalah tapi karena takut dibilang sakit hati akhirnya tidak dibuka yang tentunya berakibat pada tertutupnya kasus2 mafia hukum untuk selamanya. Saya rasa, negara ini perlu orang2 yg sakit hati pd institusinya yang lebih banyak lagi supaya kebobrokan di masing2 institusi terbuka, krn hanya dari mereka kasus2 itu bisa terungkap. Korupsi di negeri ini tersimpan dengan rapih karena kebanyakan pada sehat (senang) hatinya dengan institusi yg sudah memperkaya mereka dengan cara - cara yg haram. 0 1

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-01 22:01:56 lubis

terimaksih wawancaranya telah membuka selubung kebebrokan ditubuh institusi kita. Maju terus pak susno.banyk kok yang dukung 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-02 11:06:44 mujib - dukung Susno

mari kita dukung p.Susno jadi ketua KPK supaya orang2 mafia itu d sikat habis..! Wahai para anggota DPR bukalah hati nuranimu cepat pilih ketua KPK (p.Susno Duaji) dan wahai Pak Presiden klu memang anda serius memberantas Korupsi

cepatlah sodorkan calon ketua KPK ke DPR yaitu P.Susno Duaji tolong buktikan Pak Presiden..! 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-02 18:01:21 Just Revolution

Wahhhh...sepertinya orang sudah banyak termakan skenario dari para rezim sekuler ini ya. Bapak Susno dijadikan ketua KPK setelah dia membongkar beberapa kasus manipulasi yg terjadi di Polri. ITULAH SKENARIONYA. Coba kalau memang Bapak Susno bersih dan betul2 mengerti ajaran Islam...Kasus apa yang terbongkar sewaktu dia masih menjabat Kabareskrim? 0 1

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-06 12:04:19 ardee

Buktiin kalau memang benar... 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-06 21:52:30 Just Revolution

Bang Ardee masih ingat kasus cicak buaya... Siapa yang bilang KPK itu sebagai cicak dan siapa yang mengaggap dirinya sebagai buaya? 0 0

ReplyQuote

|111.68.113.177 |2010-04-02 19:26:37 wong ilang - haq dan batil harus segera di pisah

"kulil haqo walau kana muurron" pahami dulu permasalahan, ketahui detailnya, pokok permaslahan, baru kita bisa memberikan kesimpulan jangan asal njeplak aja (asal ngomong). tidak cukup sampai di situ bagaimana kita bisa menerapkan nidhom hukum fil islam di muka bumi ini yaitu dengan dasar Al-Qur'an dan hadis shohinya. bagaimana bangsa indonesia ini menjadi baik, tinggal menunggu waktu hancurnya dunia ini kalau memang Allah murka maka Allah tidak segan menurunkan Adzab. yaitu atas dasar karena manusia sudah mempermainkan hukum Qur'an dan bahkan menginjak kepada seluruh masyarakat dan element lembaga di dindonesia baik ormas islam ataupun lsm - lsm, mari kita bersama bersatu menyatukan suara untuk menghilangkan kemungkaran khsususny di dalam tubuh pemerintahan baik presiden wakil presiden maupun lembaga-lembaga permerintahan indonesia DIRJEN perpajakan, kehakiman, dan instansi2. dengan MENCOPOT MENGADILI DAN MENGHUKUM DENGAN SYARIAT ISLAM.(warga negara indonesia)... 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-02 19:52:18 anak lanang - SYARAT MENJADI PEMIMPIN

SYARAT MENJADI PEMIMPIN : 1. BERANI MENYATUKAN HUKUM QUR'AN DAN SUNAH DENGAN DIRINYA. 2. BERANI BERJANJI BERSUMPAH UNTUK MENERIMA ADZAB ALLAH SEBESAR2NYA HARI ITU JUGA JIKA MEMANG MELANGGAR HUKUM QUR'AN. MUNGKIN DIA LAYAK SEBAGAI PEMIMPIN. 0 0

ReplyQuote

|111.68.113.177 |2010-04-05 00:41:51 sukmanegara - KODE ETIK YANG TERJEPIT HARAPAN UNTUK KEKAYAAN

MATERIALISTIS MEMENANGKAN PERTARUHAN DI INSTITUSI PEMERINTAHAN. MAFIA HARUS DI LAWAN DENGAN MAFIA BUKAN DILAWAN DENGAN KEBERSAHAJAAN. 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-05 02:58:05 Anonymous

persetan dengan semuanya... 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-05 03:36:55 orang awam

skrg layar telah di kembangkan,di luar dari hukum allah kita sbg manusia biasa tdk luput dr dosa. jd tdk perlu merasa yg pling benar dl sblm ada fakta yg jelas dan tepat. biarlah kemenangan jd harga mati bagi yg menempuh jalan kebenaran. 1 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-05 09:55:15 Just Revulution

Oh iya...satu lagi, Aku dengar2 Bapak Susno Duadji sangat dekat dengan orang2 sesat NII KW9 Al Zaytun. 0 3

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-09 09:14:56 apanya dimana - just revo honda

bung, dari tadi anda hanya memberikan opini2 tanpa adanya fakta. wajar kan jika saya ini curiga kepada anda kalau anda memang ingin menjatuhkan kredibilitas seseorang, tentunya dengan motif2 tertentu. memang semua orang boleh berpendapat. tapi tunjukkan faktanya. kalau cuma omong kosong mending jadi penulis skenario sinetron saja. 1 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-09 17:07:07 Just Revolution

Pertama aku minta maaf, bukan maksudku untuk menjatuhkan kredibilitas Bapak Susno. Tapi kita semua tahu zaman sekarang kan banyak sekali trik2 untuk menipu rakyat apalagi agama Islam kita yang suci ini, jadi saran ku kita tidak menelan mentah2 segala berita. Ada pepatah "Manis dimulut lain dihati" Dalam Al Quran juga ada ayat yg kira2 berbunyi "mempunyai mata tapi tidak digunakan untuk melihat, mempunyai telinga tapi tidak digunakan untuk mendengar, dan mempunyai hati tidak digunakan untuk memahami" Jadi Islam menyuruh kita untuk selalu waspada terhadap trik2 kaum munafik apalagi yang dilakukan oleh para pejabat rezim sekuler ini. sekali lagi aku minta maaf kalau ada kata2 ku yg menyinggung perasaan teman2 semua. 0

0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-05-10 08:10:49 anakkecil

Justru Pak Susno ini salah satu polisi yang berani follow up kasus NII. Makanya waktu Pak Susno dicopot dari jabatan Kabareskrim ada karangan bunga dari korban NII yang simpati kepada Pak Susno. 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-05 14:47:23 mlente - kembali ke demokrasi pancasila

akan terus begini jika arah demokrasi ini masih dibawa ke demokrasi ala amerika, demokrasi tanpa adanya norma Ketuhanan 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-06 08:51:16 bahar

Maaf ya pulisi, sy baru sadar waktu sy msh usia SD, nenek sy pernah pesan kepada putrinya, " ... nenek tidak merestui jika putrinya menikah dengan anggota pulisi ...". Jawabanya baru sy fahami stlh menyimak wawancara SuaraIslam.com dengan pak Susno. Tanpa sy sadari air mata sy menetes ..., inilah sesungguhnya Allah swt telah membuka makarnya org-org yg jahat kpd mereka yg beriman ... Untuk pak Susno tetaplah tawakal dan berdoalah agr Sang Khalik tetap memberikan pemahaman dinul islam yg utuh, aqidah yg kokoh dan kalau blh sy ibaratkan bpk bagai sosok panglima perang Qurasy Khalid ibn al Walid yang sukses menaklukan akal nurani nya stlh mengalami pergulatan kezaliman. Sgl puji kembali pa-Nya. Lanjutkan yg haq percayalah yg bathil akan hancur ... 0

0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-06 12:01:08 ardee - pikir lagi deh...

Ok... katakan yang haq walaupun pahit... Tapi yang namanya berperang butuh strategi... bukan asal grasa grusu. Kita memang harus ber-amar ma'ruf nahi mungkar,tapi Amar Ma'ruf Nahi Munkar pun harus pake strategi supaya efektif... biar dampaknya juga besar... Coba, kalo pak susno membongkar hal ini saat menjabat, apa anda bisa menjamin orang2 yang sekarang dicopot akan ikut terbongkar? atau justru pak susnonya yang di bungkam? Sekarang, dengan dia diluar sistem, berbicara apapun, membongkar apapun tidak ada yang bisa menghalangi. 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-07 04:12:36 panjul - paling pintar

banyak sekali orang indonesia saat ini yang gede omong, ga ngerti apa2, tapi ngasih komentar seolah2 paling pintar! Maju teruz pak susno, pantang MUNDUR !!! 1 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-07 06:46:00 Just Revolution

Kalau aku melihat perbedaan pandangan dalam melihat suatu kejadian itu sangat2 wajar. yang tidak wajar adalah saling merendahkan lawan yang berbeda pandangan dengan kita, seperti komentar Anda! 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-07 10:57:03 surya timur - jitu

Benar pak Susno, perlu strategi agar efektif. Jangan asal berani tetapi tanpa ilmu strategi. Kalau di dalam institusi, selama ada atasan tentu sangat mudah "dianulir" atasan apa-apa yang dikemukakan tetapi tidak sejalan dengan atasan. Jadi seperti main bilyar, perlu di pantulkan untuk dapat mencapai sasaran bola yang terhalang. Yang penting sekarang adalah makin dibuka, walaupun lambat tetapi bisa terbuka seluruhnya, bukan cuma sedikit dan cuma bikin penasaran saja. Teruskan pak dan jangan lupa mohon petunjuk dan perlindungan serta pertolongan Allah SWT. Salam. 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-07 14:12:33 manusia - comment dikit

cuman ALLAH SWT yang tau siapa yang benar dan yang salah.. 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-07 21:18:40 Arif

dalam institusi yang rusak sekalipun pasti ada yang baik diantara merka.Yang kita butuhkan di negara ini ya orang-orang yang berani mengungkap kerusakan itu. Maju terus pak susno. 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-07 21:25:03 [email protected] petualang - 'amburadul'

lha kasus Bank Century kok malah jadi ilang, nggak ada kabar beritanya........ 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-08 07:12:11 Just Revolution

Biasa Bang, Bayar 25M untuk dapat 6,7 T 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-10 22:34:58 pendekar kelana - aha

aslm,luar biasa informasinya... 0 0

ReplyQuote

|111.68.113.177 |2010-04-16 09:14:21 tono - Jangan asal komentar

Tukang komen semua...menyelesaikan persoalan besar tidak semudah membalikkan telapak tangan. Kita harus bersyukur dan positif thinking. Kita harus terima kasih kepada Pak Susno yang telah membongkar beberapa kebusukan Polri dan negara ini...jangan asal tuntut dan hujat saja,,, 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-16 13:47:26 simply - SERBA SALAH

@Orang mau bener, dibilang salah. Orang salah dihujat. Lha maunya ente apa? Lihat masalah secara menyeluruh. Jangan ngomong pake urat aja. Pake pikiran yang cerdas, gituh! 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-18 16:21:45 Bahirul Alvarizi

Saya tidak bisa membayangkan, apabila sewaktu Bp. Susno mengungkap kebobrokan di tubuh POLRI sewaktu berpangkat lebih rendah dari sekarang. Memang menghadapi musuh berjemaah terasa lebih berat. Maju terus Pak, kami selalu mendoakan-mu. 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-20 07:20:47 uncle onet

weleh..weleh intinya satu..kun fayakun Alloh akan beserta dengan orang yang beriman walau pak susno terlambat tapi masih bisa eksis memperjuangkan kebenaran genjot terus bang susno orang bandung bersama anda 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-21 20:31:13 aswin

dari tahun 1971 sejak saya lulus SLTA hingga sekarang belum menemukan intansi / jawatan / dept. dst. yang bebas pungli / markus / korup .th.71. bikin surat bebas G.30.S. selesai 6bulan tanpa pungli. kalau dgn pungli bisa 1 hari kelar. 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-22 11:53:53 afiden

sebaiknya jangan ditanggapi tulan dari Just revolutin 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-22 20:12:37 aswin

maaf kalau salah masuk.. yang saya utarakan itu bukan wacana tapi kejadian yang saya alami memang bukan teoti tapi praktek.. jadi memang betul tidak perlu ditanggapi.terima kasih 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-23 13:23:58 ayex

Alangkah bijaknya yang benar tentukan benar, yang salah tentukan penjaranya. siapa yang punya kewenangan pada hal ini ?? jangan mencari siapa yang salah siapa yang benar, sebab hanya mereka yang tahu 100 %. untuk itu cari di Qur'an dan Hadits jawabannya 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-27 10:17:41 Just Revolution

Benar kata Bapak Susno Duadji...ORANG INDONESIA TUH GAMPANG SEKALI MELUPAKAN SUATU KEJADIAN. Semua kasus ini saling terkait, berawal dari KPK yang ingin menyadap Kejagung dan POLRI...itu awal dari rangkaian cerita ini (kalau kalian masih ingat) 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-29 08:54:09 Rudi bongkar

Saya mengacungkan sepuluh jempol karena dinegara terkorup ini masih ada seorang penegak hukum berhai mulia untuk mengungkap kebobrokan dan kerakusan para pemimpin dan pejabat dinegara surganya para koruptor 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-04-29 09:28:46 afiden

memang SUSNO DUAJI harus didukung masyarakat luas untuk membongkar kebobrookan ditubuh POLRI , karena polri sedang dan terus mencari tameng untuk menutupi boroknya, perlu diketahui bahwa ikan membusuk mulai dari kepalanya bukan dari ekornya..................... 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-05-15 21:39:15 elhan

bapak adalah orang yang paling tau akan semua yang terjadi di republik ini...bongkar semua pak..rakyat indonesia slalu mendukung langkah bapak... 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-05-19 06:09:20 Joe Benhur

Mau dendam atau tidak, kebenaran tetap harus ditegakkan. Mau dibilang kenapa tidak pada saat menjabat maupun sdh tidak menjabat, tidak penting dan tdk ada kata terlambat buat proses kebenaran. Bisa jadi ini memang suatu proses yang ditunjukkan Tuhan beginilah jalannya P Susno agar keadilan bisa ditegakkan, sekaligus jawaban dari Tuhan untuk membersihkan nama P Susno. Kebenaran bisa datang dari mana saja selama Tuhan menghendaki, bisa dari orang jahat

sekalipun. Perjuangan memang berat. Kasus telah bergulir, bukti adanya Mafia sdh didepan mata, itu yg harus kita kawal buat Indonesia lebih baik, jangan biarkan Susno sendirian, mari kita dukung.. Bravo Kebenaran Bravo Susno Duadji semoga Allah selalu melindungi orang yg sholeh. 1 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-06-17 23:18:58 Rausyan

Assalamualaikum.. mudahan2an dari semua hasil diskusi ini ada yang yang bisa kita ambil.. ga perlu saling ngotot2an dan baku hantam.. semua tidak ada yang salah, saya setuju dengan kawan2 semua jika melakukan sesuatu harus memakai strategi karena jika pak susno membongkar kasus ini masih diberada dalam sistem maka dia akan dibungkam.. dan saya juga setuju dengan @just revolusion bahwa ini skenario politik. tp coba anda analisa lg apakah benar skenarionya seperti itu, kasus ini tidak diawali dari kasus penyadapan KPK terhadap kejagung. tapi masih ada kasus sebelum itu.. maka jangan terlalu cepat untuk mengambil kesimpulan nanti akan terjadi kesilapan dalam mencari kebenaran... 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-07-01 10:06:41 audara

allhamduliliah hirobbil alamin semua sudah sekejul atau ketetapan allah, kini saatnya bapak susno disuruh ngaji ama alloh biar lebih dalam tentang alquran dan sunah yang bener bener biar tergolong arang yg takut ama azab alloh yang amat pedih,saran ngaji ama ust hidayat nur wahid aja pak!!!!saya kukung bapak karena benar masih ingat alloh 0 0

ReplyQuote

|111.68.113.177 |2010-07-06 09:23:23 nassie

buat pak susno,kita semua dukung bapak, yakinlah dunia ini hanya sementara,toh semua akan dipertanggung jawabkan dihadapan allah nanti dipadang mahsayar,buat para munfiq dan hamba dunia semua bakalan hancur dan binasa,hanya hidup mulia dan syahid yang bisa membantu manusia lepas dari neraka jahannam, cepatlah bertaubat sebelum terlambat. 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-07-21 15:57:03 noname - dukung

saya dukung pa susno....,soalnya saya sebagai warga jawa barat, merasakan sekali sekali kinerja bapa ketika menjabat KAPOLDA JABAR, sungguh perubahan yg signifikan, ketika hampir 99% berkata Mafia SIM(Surat Ijin Mengemudi) = SIM TEMBAK tidak bisa diberantas, kurang dari 3 bulan sejak kepemimpinan bapa, semuanya menghilang,subhanallah, dan masih banyak keberhasilan lainnya yang dirasakan secara LANGSUNG,.....maju terus pa...semoga ALLAH Merahmati anda..amin 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-07-23 23:49:11 aprie ceper - KIRA2

Ada pepatah "Manis dimulut lain dihati" Dalam Al Quran juga ada ayat yg kira2 berbunyi "mempunyai mata tapi tidak digunakan untuk melihat, mempunyai telinga tapi tidak digunakan untuk mendengar, dan mempunyai hati tidak digunakan untuk memahami" maf mas anti flag klo dilihat dr komentar2 antum2 kliahtanya paham benar ttg

maslh2/kasus2 sprti ini tp klo dilihat dr pemhaman antum ttg Al-quran maf2 ni ye.....ane ragu 100%. 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-07-23 23:52:53 aprie ceper

KLO blm paham ttg isi & kandungan ayat Al-quran ga usa bw2 ayat suci segala....apalagi pake kira2.......Al-quran tu pst mas ga pke kira2 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-07-23 23:57:18 aprie ceper

klo ada org yg ingin berbuat baik alngkah baiknya kita ksh support,mslh dia bohong atw benar biar alloh yg memblasnya......deal or no deal..... 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-07-24 00:01:15 aprie ceper - tema topik ini

tema topik ini HIDUP MULIA ATW MATI SYAHID MUNKIN LBH TEPATNY SPRTI ITU............ 0 0

ReplyQuote

|111.68.113.177 |2010-07-29 16:12:22 andi gulali

Bp. Susno sebaiknya ganti pengacara, pengacara perusak pagar ayu & menceraikannya Via SMS tdk Mendapat Ridho Tuhan !! 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-07-31 13:06:22 ai em - hem...

bwt bpak susno,. pendapat org sah2 sj, y,pak.. byk sdr qt yg berposisi sama ky bpak,. bpk sabar saja,. ada putih yg tetap putih krn lingkungannya putih ada putih yg tercoreng hitam krn lingkungannya hitam & akhirnya putih krn dukungan nurani ada putih yg tercoreng hitam krn lingkungannya hitam & akhirnya tetap hitam krn dukungan nafsu ada hitam yg tetap hitam krn lingkungannya hitam ada hitam yg tercoreng putih krn lingkungannya putih & akhirnya putih krn dukungan nurani ada hitam yg tercoreng putih krn lingkungannya putih & akhirnya masih hitam krn dukungan nafsu monggo... prasmanan... silakan ambil & rasakan... 0 0

ReplyQuote |111.68.113.177 |2010-08-18 14:27:39 roll

Bang susno, abang keluar dari lingkaran polisi jangan jadikan itu sebagai penghinaan, tapi jadikan itu sebagai kebagahagiaan yang Allah berikan sama abang. keluarnya abang susno dari polisi banyak perubahan pada diri abang, lebih dekat dengan Allah,lebih dekat dengan keluarga,dan lebih dekat dengan masyarakat. Jabatan hanyalah sementara, dan itu akan diminta pertanggung jawabannya oleh Allah dihari kiamat. abang telah dizholimi oleh penguasa yang menuhankan jabatan dan harta. Allah tidak akan menutup mata kepada hambanya yang dizhalimi, pasti ada balasannya. 0 0Top of Form

ReplyQuote Write comment Your Contact Details:

Name:do not notify

Email:

Gravatar enabled

Website: Comment:

Title:

UBBCode:

Message:

Securityd53d71ac9ca0d2

650

Please input the anti-spam code that you can read in the image.5

Bottom of Form

Powered by !JoomlaComment 4.0 beta2

Last Updated (Wednesday, 31 March 2010 12:55)KOMENTAR 2010-08-24 06:32:17 ... takutlah pada Allah wahai petinggi ne... 2010-08-24 06:28:51 ... betul maxi, demi dunia mereka rela me... 2010-08-23 21:02:24 ... Allah hu Akbar....Allah hu Akbar....A... 2010-08-23 17:33:20 ... Allahu Akbar! Ya Allah, mudahkanlah... 2010-08-23 17:29:52 ... Yuk, sekali2 kita ngobrol2 tentang pe... 2010-08-23 17:25:30 ... SALUT & JEMPOL BUAT OJEKER YG MASIH M... 2010-08-23 14:03:34 ... Sangat disesalkan, tetapi ini semoga ...

Advert

Twitter @Suara_Islam

Runtuhnya Citra Pemberantasan KorupsiWednesday, 18 November 2009 10:43 | Written by Shodiq Ramadhan |Presiden SBY menjadikan isu pemberantasan korupsi sebagai brand image pemerintahannya. Namun semua runtuh karena terbongkarnya pembicaraan telepon Anggodo dan kawan-kawan

Tadi Pak Ritonga telepon. Besok dia pijet di Depok. Ketawa-ketawa dia. Pokoknya harus ngomong apa adanya semua Ngarti? Kalau gak gitu, kita yang mati. Soalnya sekarang dapat dukungan dari SBY. Ngerti gak? kata seorang perempuan Siapa? kata lawan bicaranya, seorang laki-laki. Kita semua, Pak Ritonga, pokoknya didukung Jadi KPK nanti ditutup Ngerti ga? kata perempuan itu lagi. Percakapan kedua orang itu terdengar jelas dan gamblang. Seolah tiada keraguan di hati mereka ketika membicarakan perkara krusial itu. Justru ratusan hadirin dan wartawan yang menahan nafas, geleng-geleng kepala dan sesekali mengumpat. Begitu pula jutaan pemirsa televisi yang menyaksikan siaran langsung sidang judicial review kasus penonaktifan pimpinan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) Chandra M Hamzah dan Bibit S Riyanto di Mahkamah Konstitusi (MK), Selasa, 3 November lalu. Agenda sidang hari itu adalah memperdengarkan beberapa rekaman pembicaraan telepon yang berhasil disadap KPK.

Dari pengeras suara, seorang staf KPK menyebutkan bahwa pembicaraan telepon yang terekam itu adalah suara seorang wanita bernama Ong Yuliana Gunawan dan seorang laki-laki bernama Anggodo. Pembicaraan telepon itu terjadi pada 6 Agustus 2009 pukul 20:26:51. Ong Yuliana menelepon dengan nomor telepon genggam +62818981148 ke nomor telepon genggam yang sedang dipakai Anggodo di +6288801338253. Gumam kesal terdengar beberapa kali terdengar di ruang sidang megah itu. Sidang MK dengan agenda pemutaran rekaman pembicaraan telepon itu mengagetkan seluruh bangsa Indonesia. Meski isu mafia peradilan selama ini sudah berseliweran, rekaman telepon itu menunjukkan bahwa pengaturan kasus oleh oknum-oknum pimpinan kepolisian, kejaksaan, pengacara hitam dan para makelar kasus benar-benar nyata. Saya tidak habis pikir kenapa pejabat Kejaksaan dan Polri kita mau diatur oleh cukong-cukong menjijikkan itu, kata Ketua MK Mahfud MD dengan geram. Gara-gara pemutaran rekaman pembicaraan telepon itu, amarah masyarakat tersulut. Unjuk rasa mengecam polisi dan jaksa bermunculan di mana-mana, sementara pengguna jejaring sosial Facebook menggalang dukungan kepada sang cicak KPK menurut julukan Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji-- dan menuntut mundur Jaksa Agung, Kepala Polri dan seluruh jajaran mereka yang terlibat. Dalam dua hari dukungan facebooker menembus angka satu juta. Ini luar biasa, kata pakar komunikasi Effendy Ghazali. Hari itu pula Tim Delapan mendesak Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri menonaktifkan Kabareskrim Komjen Pol. Susno Duadji dan menuntut Jaksa Agung Hendarman Supandji memberhentikan sementara Wakil Jaksa Agung Abdul Hakim Ritonga. Namun baru sepekan kemudian langkah penonaktifan diambil, setelah Susno sempat melawan. Pak Susno justru meminta Kapolri yang mundur karena menurut dia, dia hanya melaksanakan perintah, kata seorang perwira menengah di Mabes Polri kepada Suara Islam. Masyarakat pun semakin geram ketika Anggodo, si benggol makelar kasus ternyata masih bisa melenggang di luar tahanan polisi. Padahal Tim Delapan telah merekomendasikan kepada polisi agar lelaki itu ditahan. Tidak ada bukti awal yang bisa menjadi alasan penahanan dia, kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Nanan Sukarnan. Baru ketika Tim Delapan mengancam akan mundur karena kewenangannya disepelekan, keesokanharinya polisi mencoba berkelit. Hendarso maupun Nanan, ngotot Anggodo hari itu sudah ditahan. Anggodo sudah kami tahan untuk pemeriksaan, kata Kapolri. Buktinya, ketika dipanggil Tim Delapan, ia keluar dari pintu depan Bareskrim. Lucunya, lewat tengah malam sebelumnya para wartawan memergoki Anggodo saat berusaha menghindari wartawan dengan mengendapendap keluar dari Bareskrim lewat pintu belakang. Pengacaran Anggoro, Bonaran Situmeang yang malamnya mengatakan kliennya boleh pulang, siangnya buru-buru meralat untuk menyamakan dengan statemen polisi.

Ketika Anggodo datang ke kantor Wantimpres untuk memenuhi panggilan Tim Delapan, masyarakat yang menyaksikan tayangannya di televisi makin marah. Saat ditanya Tim Delapan, lelaki itu tampak berbicara lantang, dan mengaku terus terang upaya penyuapannya tanpa merasa takut sedikit pun kepada Tim Delapan yang diketuai Adnan Buyung Nasution. Ia berbicara blak-blakan dan mengaku tidak bersalah. Siapa sebenarnya orang ini, mengapa kuat sekali dia kata Buyung.Pemberantasan Korupsi Sistem Tebang Pilih Sejak terpilih menjadi Presiden pasca Pemilu 2004, SBY memang selalu mencitrakan bahwa dirinya bersih, emoh uang haram dan anti korupsi. Menjelang pemilu 2004, ketika muncul berita bahwa SBY menerima duit dari konglomerat hitam dan kucuran dollar dari Amerika Serikat, dengan ekspresi marah berkali-kali ia membantah berita itu. Itu semua rumor. Saya tidak menerima uang dari Tomi Winata, apalagi uang dari Amerika Serikat. Itu semua firnah yang keji, ujarnya ketika itu.

Yang menarik, meskipun saat pemilu 2004 SBY dengan keras membantah kedekatannya dengan bos grup Artha Graha itu, kini dalam beberapa kali kesempatan, SBY malah tampak akrab dan runtang-runtung dengan Tomi Winata. Konon, kedekatan mereka karena peran TB Simatupang, anggota Dewan Pertimbangan Presiden sekaligus orang tua angkat penyandang dana operasi anti teros Mabes Polri itu. Langkah pertama dalam upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan pemerintahan SBY adalah ketika ia menyokong langkah KPK dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia. Semoga KPK, bersama lembaga penegak hukum yang lain ini, mampu menurunkan indeks korupsi Indonesia, kata SBY saat itu. Tak cukup hanya KPK, ia pun membentuk Tim Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Timtastipikor) yang diketuai Jaksa Agung Muda bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) saat itu, Hendarman Supandji. Langkah trengginas segera diambil. Korban pertama adalah mantan Menteri Kelautan dan Perikanan (DKP) di masa pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri, Prof DR Rokhmin Dahuri. Bekas Dosen Teladan dari IPB itu didakwa telah menyalahgunakan dana nonbujeter untuk kepentingan pribadi. Padahal menurut Rokhmin, penggunaan dana itu inisiatif Sekjen DKP Andin H Taryoto. Dana itu pun dipakai untuk kepentingan masyarakat. Karena itu ia meminta dana itu dibukukan dengan rinci dan teliti. Anehnya, setelah Rokhmin membeberkan bahwa beberapa tokoh termasuk mantan Ketua MPR Amien Rais dan beberapa orang anggota tim sukses SBY seperti Munawar Fuad Noeh meminta sumbangan yang diambil dari uang kas itu, kasus itu tidak ditindaklanjuti. Bahkan Munawar Fuad dikatakan bukan anggota tim sukses SBY. Padahal, semua wartawan yang biasa meliput di Cikeas tahu benar bahwa Munawar adalah anggota tim sukses dan bahkan sempat menjadi staf khusus Presiden SBY, kata seorang wartawan senior yang biasa meliput di Cikeas ketika itu. Ketika kasus Rokhmin terus berkembang, Amien Rais pun telah meminta agar dirinya diperiksa. Ia bahkan sempat mengatakan akan membeberkan aliran dana dari asing yang mampir ke para kontestan pemilu 2004.

Suasana sempat memanas antara Amien dan SBY, namun dengan pendekatan personal akhirnya kasus itu tidak berlanjut, sementara baik polisi, Timtas Tipikor maupun KPK tidak menindaklanjuti kasus ini. Saya merasa dizhalimi. Saya dijadikan tumbal untuk mendongkrak citra dia, kata Rokhmin, kepada Suara Islam. Kasus unik lainnya adalah kasus kredit macet Bank Mandiri yang melibatkan Surya Paloh. Saat itu sebenarnya Ketua Timtpas Tipikor Hendarman Supandji sudah menghadap SBY untuk melaporkan rencana pemeriksaan bos Media Group Surya Paloh. Saat itu SBY sudah setuju. Tapi ketika diperiksa Kejaksaan Agung, Surya menelpon SBY dan marahmarah. SBY pun balik marah dan mempertanyakan pemanggilan itu kepada Hendarman. Loh, bukankah waktu itu sudah mendapat persetujuan Bapak, kata Hendarman sebagaimana ditirukan sumber Suara Islam. Kasus itu pun tak jadi dilanjutkan. Kasus Bupati Pelalawan Tengku Asmun Jafar pun cukup aneh. Sebab, Asmun Jafar divonis hukuman 11 tahun penjara dengan dakwaan menerima dana pengalihan lahan, sementara perusahaan yang menjadi penyebab dirinya ditahan dan divonis justru masih jalan terus karena dibackup para pendukung Cikeas. Rupanya pemerantasan korupsi sistem tebang pilih dilaksanakan di masa pemerintahan SBY. Padahal, Waktu itu saya diwajibkan menyetor ke seorang tokoh tangan kanan Istana 600 juta, kata Asmun Jafar. Kepada Suara Islam, Asmun Jafar juga sempat membeberkan tentang adanya tekanan pimpinan KPK periode pertama kepada dirinya. Saya dimintai duit. Nggak hanya polisi dan jaksa, orang KPK juga main-main dengan hukum, ujarnya geram. Yang lebih menyedihkan lagi, seorang peneliti senior dari Lembaga Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga menjadi makelar kasus dan perantara oknum pejabat itu untuk memeras dirinya. Namun semua hingga kini melenggang bebas. Kasus aliran dana Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia ke DPR juga menarik. SBY memang seolah membiarkan besannya, Aulia Pohan dijerat hukum dalam kasus ini. Citra SBY tampak bersih karena terkesan tak mau ikut campur, kata Pengawas ICW Teten Masduki. Padahal, meski semua tersangka seperti Hamka Yandhu dan Anthony Z Abidin menunjuk Ketua Bappenas Paskah Suzetta yang saat itu menjadi Ketua Komisi Keuangan DPR dan penerima uang terbanyak, hingga kini Paskah tidak pernah menjadi tersangka. Ketika kasus dugaan mark up renovasi gedung Kedutaan Besar RI di Korea Selatan ramai, SBY juga menyelesaikan kasus itu dengan memberhentikan salah satu orang dekatnya, Brigjen Aziz Ahmadi. Ia dipersalahkan telah memalsukan surat. Padahal, menurut salah satu orang

dekatnya yang lain, Aziz hanya melaksanakan tugas. Nggak papa, Mas, becik ketitik, olo ketoro, ujarnya kepada Suara Islam saat ia dicopot dari posisi staf ahli Sekretaris Kabinet. Perlu diketahui, bagi keluarga Cikeas, Kedubes RI di Korea Selatan punya arti sejarah karena dulu dibangun dan ditempati oleh mertua SBY, almarhum Letjen Sarwo Edhi Wibowo setelah disingkirkan Presiden Soeharto.

Sementara itu, meski pada awalnya sangat mendukung langkah KPK, belakangan ini sikap SBY tampak agak berubah. Dalam sebuah pidatonya.

SBY mengingatkan agar KPK tidak menjadi superbody. Artinya, jangan sampai KPK menjadi lembaga yang tidak terkontrol dan berkuasa atas segala macam perkara. Padahal, amanat undang-undang KPK memang mengarahkan lembaga anti korupsi menjadi lembaga yang kuat. Memang, integritas para pimpinan dan staf penyidiknya menjadi faktor utama. Mengapa Anggodo Begitu Jumawa?Maka tak pelak lagi, pemutaran rekaman pembicaraan Anggodo dan kawan-kawan di MK kini menjadi buah bibir seluruh rakyat Indonesia. Dari pembicaraan Ong Yuliana dan Anggodo masyarakat pun mulai bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang dimaksud Ong Yuliana dengan inisial SBY? Apakah itu benar-benar akronim dari Susilo Bambang Yudhoyono? Bukankah dia adalah Presiden Republik Indonesia?.

Pertanyaan selanjutnya, mungkinkah SBY memang menginginkan agar KPK mandul? Benarkah SBY merestui sepak terjang haram yang dirancang seorang bandar narkoba seperti Ong Yuliana dan bandar judi dan SDSB seperti Anggodo itu? Bukankah selama ini SBY adalah presiden yang senantiasa lantang menyerukan pemberantasan korupsi? Mengapa para cukong dan makelar kasus begitu jumawanya di depan polisi dan jaksa? Lalu benarkah SBY punya hubungan dengan mereka? Sampai sejauh mana? Nama asli Anggodo adalah Ang Tju Nek. Kakaknya, Anggoro, bernama Ang Tju Hong. Mereka lahir dan besar di Surabaya, sehingga lidah mereka kentaldengan dialek Suroboyoan. Di kalangan pengusaha di Surabaya mereka lebih dikenal dengan nama itu. Ayah mereka, Ang Gai Hwa, asli dari Cina daratan. Sejak 1970, dia membuka usaha dinamo di rumahnya di daerah Kalimati, Surabaya. Usaha Gai Hwa kemudian diteruskan putra-putranya.

Anggodo-Anggoro kemudian merambah ke bisnis judi. Mereka mengelola SDSB dan Porkas-- judi yang dilegalkan pemerintah di era 1980-an. Bisnis mereka berkembang setelah bersahabat dengan Rudy Sumampow alias Roby Ketek yang dikenal sangat dekat dengan Mantan Panglima TNI Jenderal LB Moerdani. Dengan koneksi yang kuat peredaran SDSB di seluruh Jawa Timur mereka kuasai. Sejak saat itu pula kedua bersaudara itu menjalin hubungan dengan aparat militer, dan penegak hukum di Surabaya. Menurut pengamat militer MTArifin, Anggodo dan Ong Yuliana adalah anggota semacam mafia pengusaha keturunan Cina dari Surabaya. Mereka memang biasa terlibat dan mengamankan kasus-kasus krusial yang melibatkan para anggotanya. Dia bisa mengatur siapa saja yang akan jadi di Jakarta, baik itu di tentara, polisi maupun kejaksaan, ujarnya.

Jika Anggodo dan Anggoro bekas bandar judi SDSB, Ong Yuliana malah pernah ditahan Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya karena tersangkut kasus narkoba. Menurut Kepala Unit Narkoba Polwiltabes Surabaya, Ajun Komisaris Polisi Effendi, polisi menangkap Yuliana di apartemennya diSurabaya pada 18 Januari 2007. Selama masa tahanan, salah satu pembesuknya adalah Anggodo. Saat itu Anggodo mengaku teman akrab Yuliana, kata seorang polisi di Polwiltabes Surabaya. Menurut catatan polisi, Yuliana sudah dua kali tersangkut narkoba.

Nah, menurut sumber Suara Islam, menjelang pemilu 2009, seperti para pengusaha keturunan Cina lainnya, Anggoro dan Anggodo disebut-sebut ikut menyumbang duit ke Yayasan Kesetiakawanan dan Kepedulian (YKDK). Berdasarkan penelusuran Suara Islam, lewat website:

www.ykdk.or.id, beberapa pejabat, mantan pejabat serta kalangan profesional yang dikenal dekat dengan SBY duduk di jajaran elit yayasan itu. Mantan Dirut Telkom, Arwin Rasyid, didaulat sebagai ketua umum YKDK. Beberapa pejabat juga duduk sebagai Dewan Pembina yayasan yang semula beralamat di Jalan Plaju 17, Menteng, Jakarta Pusat, lalu pindah ke Jalan Tulodong Bawah B 13, Jakarta Selatan itu. Menkopolhukkam Marsekal TNI (Purn) Djoko Suyanto dan Kepala BIN Jenderal Pol Sutanto, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro dan Menteri Perindustrian MS Hidayat adalah Dewan Pembina yayasan itu. Bahkan, KPK menemukan aliran dana dari Djoko Tjandra, sebesar US $ 1 juta kepada Djoko Suyanto untuk YKDK ketika kami menyadap bos Mulia Grup itu, kata pimpinan KPK nonaktif Candra Hamzah sebagaimana dikutip seorang sumber Suara Islam yang hadir dalam sebuah pertemuan dengannya. Uniknya, sepekan lalu SBY mengumumkan gerakan ganyang mafia hukum sebagai prioritas dari program kerja 100 hari pemerintah. Publik pun diajak melaporkan praktek mafia peradilan melalui kotak pos. Melapor memang bukan perkara yang jelek, tapi sistem pelaporan semacam itu terbukti tak pernah efektif sejak zaman dahulu kala. Bukankah seharusnya SBY membereskan mafia di sekitar dirinya? Jangan-jangan gerakan ganyang mafia itu hanya sekadar upaya perbaikan citra diri yang mulai pudar dalam gelombang kasus ini (Abu Zahra) Foto 1. inilah.com Foto 2. forum.detik.com Foto 3. inilah.com

Bottom of Form

Advert

FUI: Tuntaskan Kasus CenturyTuesday, 18 May 2010 17:10 | Written by Shodiq Ramadhan |

FORUM UMAT ISLAMSekretariat: Jl. Kalibata Tengah No. 3A Lantai 2, Telp/Fax. 021-7942240 Website: www.suara-islam.com e-mail: [email protected] This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

CENTURY

Pernyataan Forum Umat Islam (FUI) TUNTASKAN KASUS

Assalamuaalaikum warahmatullahi wabarakatuh Rakyat Indonesia yang mayoritas umat Islam sudah tahu bahwa DPR dalam sidang plenonya beberapa waktu lalu telah menetapkan opsi C, yakni menyalahkan kebijakan bail out Rp. 6,7 T kepada Bank Century oleh Menkeu Sri Mulyani dan Direktur BI waktu itu, Boediono. Oleh karena itu, jelas bahwa kebijakan bail out tersebut adalah salah satu bentuk penyalahgunaan kekuasaan (abuse of power).

Oleh karena itu, umat Islam tahu betul keanehan-keanehan yang dibuat untuk menutupi kesalahan kebijakan bail out tersebut. Keanehan-keanehan itu antara lain: 1. Keanehan Presiden SBY malah memuji-muji tokoh pelaku utama kebijakan bail out tersebut. Bahkan memberikan ucapan selamat atas pengunduran Sri Mulyani dari jabatan memenuhi pinangan Bank Dunia, gembong lintah darat dunia. 2. Keanehan lambannya KPK menyelesaikan kasus yang sudah berbulan-bulan diselidiki oleh Pansus DPR dan persidangan berkali-kali yang tentu tidak sedikit menghabiskan uang negara yang hakikatnya adalah uang rakyat. Alih-alih KPK segera menangkap Sri Mulyani dan Boediono, justru KPK malah sowan ke Istana Wapres dan Istana Depkeu untuk memeriksa kedua aktor bail out tersebut. 3. Keanehan munculnya serangkaian aksi Densus 88 menangkapi para aktivis Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) di sekretariat mereka dan dicap sebagai teroris, juga penangkapanpenangkapan dan penembakan-penembakan di Cawang, Cikampek dan Sukoharjo yang dikaitkan dengan kasus latihan teroris Aceh. Menyusul keanehan-keanehan penembakan Dul Matin cs di Pamulang dan keanehan-keanehan penangan teroris sebelumnya. Termasuk dalam hal ini keanehan pernyataan SBY mendapatkan sms tentang sasaran teroris dan tujuan para teroris mendirikan negara Islam. 4. Keanehan penangkapan dan penahanan mantan Kabareskrim Komjen Pol Susno Duadji yang justru dibungkam setelah mengungkapkan adanya keterlibatan para jenderal dalam aktivitas para markus di Mabes Polri dan instansi hukum lainnya. Tentu Susno punya banyak pengetahuan tentang apa dan siapa serta bagaimana seputar kasus Century. Oleh karena itu, Forum Umat Islam (FUI) menyatakan: 1. Hentikanlah keanehan-keanehan sebagai tabi asap penutup masalah bank Century. 2. Tuntaskanlah segera kasus bank Century dengan tindakan hukum yang seadil-adilnya dengan segera mencekal dan menangkap Sri Mulyani dan Boediono dan segera diproses hukum. 3. Kepada KPK kami minta untuk bersikap independen dan adil d