aryadningrat.files.wordpress.com file · web viewbatuk – nbatuk selama lebih dari 3 minggu (dapat...

30
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai system saraf pusat (SSP) yang disebabkan oleh virus atau mikroorganisme lain yang nonpurulen. Penyebab tersering dari ensefalitis adalah virus kemudian herpes simpleks, arbovirus, dan jarang disebabkan oleh enterovirus, mumps, dan adenovirus. Ensefalitis bisa juga terjadi pasca infeksi campak, influenza, varicella, dan pasca vaksinasi pertusis. Klasifikasi ensefalitis didasarkan pada factor penyebabnya. Ensefalitis suparatif akut dengan bakteri penyebab ensefalitis adalah Staphylococcus aureus, Streptococus, E.Colli, Mycobacterium, dan T. Pallidium. Sedangkan ensefalitis virus penyebab adalah virus RNA (Virus Parotitis), virus morbili, virus rabies, virus Rubela, virus dengue, virus polio, cockscakie A dan B, herpes zoster, herpes simpleks, dan varicella. B. Rumusan masalah 1. Bagaimana konsep penyakit pada pasien dengan encephalitis 2. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan encephalitis. 1

Upload: vanhuong

Post on 08-Feb-2019

219 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: aryadningrat.files.wordpress.com file · Web viewBatuk – nbatuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah) Perasaan tidak enak, lemah. Pencegahan penyakit TBC : Tidak

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai system saraf pusat (SSP) yang

disebabkan oleh virus atau mikroorganisme lain yang nonpurulen. Penyebab tersering

dari ensefalitis adalah virus kemudian herpes simpleks, arbovirus, dan jarang

disebabkan oleh enterovirus, mumps, dan adenovirus. Ensefalitis bisa juga terjadi

pasca infeksi campak, influenza, varicella, dan pasca vaksinasi pertusis.

Klasifikasi ensefalitis didasarkan pada factor penyebabnya. Ensefalitis

suparatif akut dengan bakteri penyebab ensefalitis adalah Staphylococcus aureus,

Streptococus, E.Colli, Mycobacterium, dan T. Pallidium. Sedangkan ensefalitis virus

penyebab adalah virus RNA (Virus Parotitis), virus morbili, virus rabies, virus Rubela,

virus dengue, virus polio, cockscakie A dan B, herpes zoster, herpes simpleks, dan

varicella.

B.  Rumusan masalah

1. Bagaimana konsep penyakit pada pasien dengan encephalitis

2. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan encephalitis. 

C.  Tujuan Pembuatan Makalah

1. Tujuan Umum :

Penulis menyusun makalah ini untuk mendukung kegiatan belajar mengajar

jurusan keperawatan khususnya di mata kuliah keperawatan Neurobihavior II

dengan bahan ajar asuhan keperawatan pada klien Ensefalitis.

2.    Tujuan Khusus :

Untuk mengetahui konsep dasar dari limfedema seperti :

a. Definisi

b. Etiologi

c.  Patofisiologi

d.  Komplikasi

e.   Asuhan keperawatan 

1

Page 2: aryadningrat.files.wordpress.com file · Web viewBatuk – nbatuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah) Perasaan tidak enak, lemah. Pencegahan penyakit TBC : Tidak

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Penyakit Infeksi

Infeksi adalah masuknya kuman atau mikro organisme kedalam tubuh manusia

dan berkembang biak sehinggga menimbulkan gejala penyakit. Infeksi juga dapat di

sebut asimptomatik, apabila mikroorganisme gagal dan menyebabkan cedera yang

serius terhadap sel dan jaringan normal.

B. Macam-Macam Penyebab Penyakit Infeksi

1.  Bakteri

a.  TBC

Tuberkulosis adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan bakteri berbentuk

batang (basil) yang dikenal dengan nama Mycrobacterium Tuberkulosis.

Gejala – gejala TBC :

Gejala sistemik/umum

Demam yang tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama

Penurunan nafsu makan dan berat badan

Batuk – nbatuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah)

Perasaan tidak enak, lemah.

Pencegahan penyakit TBC :

Tidak meludah disembarang tempat

Menutup mulut ketika ada seseorang ingin batuk,menjaga terjadinya

penularan penyakit

Menjaga kesehatan badan supaya sistem imun tetap terjaga

Istirahat yang baik agar kekebalan tubuh tidak melemah

Komplikasi penyakit TBC :

Kerusakan tulang dan sendi

Kerusakan otak

Kerusakan hati dan ginjal

Kerusakan jantung

2

Page 3: aryadningrat.files.wordpress.com file · Web viewBatuk – nbatuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah) Perasaan tidak enak, lemah. Pencegahan penyakit TBC : Tidak

Gangguan mata

Resistensi kuman

b.  Tetanus

tetanus merupakan salah satu infeksi yang berbahaya karena mempengaruhi

sistem urat saraf dan otot. Kata tetanus diambil dari bahasa yunani yaitu

tetanos dari teinein yang berarti menegang. Tetanus disebabkan neurotoksin

dari bakteri gram positif anaerob,clostrideum tetani. Bakteri clostridium tetani

ini banyak ditemukan ditanah, kotoran manusia dan hewan peliharaan dan

didaerah pertanian , namun juga dapat ditemukan pada besi berkarat, ujung

jarum/peniti yang tidak steril.

Gejala – gajala pada tetanus :

Sakit kepala

Gelisah

Nyeri otot dan rahang

Demam

Otot perut mengeras

Kejang

Dan akhirnya pada seluruh tubuh

Pencegahan penyakit tetanus :

Vaksinasi

Perawatan luka

Komplikasi pada tetanus :

Bronkopneumoni

Asfiksia

Sianosis

c. Diare

Menceret atau diare biasanya adalah frekuensi buang air besar dalam bentuk

cairan yang lebih dari 3 klai dalam 1 hari.

3

Page 4: aryadningrat.files.wordpress.com file · Web viewBatuk – nbatuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah) Perasaan tidak enak, lemah. Pencegahan penyakit TBC : Tidak

Gejala diare adalah tinja yang encer dengan frekuensi 4 kali atau lebih dalam

sehari, yang kadang disertai :

o Muntah

o Badan lesu dan lemah

o Panastidak nafsu makan

o Darah dan lendir dalam kotoran tinja

Pencegahan pada diare :

o Penyiapan makanan yang higienis

o Berikan makanan yang baru dimasak dengan baik dengan menggunakan air

bersih

o Cuci tangan sebelum makan

o Pemberian ASI pada balita

o Membuang tinja anak kecil ke kakus

o Bung air besar pada tempatnya

o Hindari lalat yang hinggap di makanan

o Sanitasi lingkungan setempat

Komplikasi pada diare :

o Dehidrasi

o Shock

o Gagal ginjal

o Kebingungan

o Acidosis (terlalu banyak asam dalam darah) dan koma

o Orthostatic hypotension dengan syncope (pingsan waktu berdiri yang

disebabkan volume darah yang berkurang, yang menyebabkan kejatuhan

dari tekanan darah waktu berdiri)

2.   Penyakit infeksi yang disebabkan oleh Virus ;

a. HIV/AIDS

b. Flu burung

c.  Pari sella

4

Page 5: aryadningrat.files.wordpress.com file · Web viewBatuk – nbatuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah) Perasaan tidak enak, lemah. Pencegahan penyakit TBC : Tidak

d.  DBD

e. Influenza

f.  Rabies

g.  Malaria

h.  Chiqungunya

i.  Campak

j.  Hepatitis

3.   Penyakit infeksi yang disebabkan oleh Jamur :

penyakit yang disebabkan oleh jamur adalah penyakit yang diserang bagian kulit,

contohnya kurap, kudis,kadas,panu dsb. Infeksi yang disebabkan oleh jamur dapat

dicegah dengan cara :

Bersihkan tangan dan kaki

Jaga lingkungan agar selalu bersih terutama kamar mandi

Jaga kebersihan kamar, seperti selimut, bantal, kain, pakaian dll

Gunankan detergen saat mencuci untuk membunuh jamur

4.   Penyakit yang disebabkan oleh parasit internal

a. Disentri

Disentri adalah suatu penyakit atau gangguan yangterjadi didalam tubuh, yaitu

terjadi suatu peradangan di usus yang menimbulkan sindrom.

Gejala-gejala disentri ;

o Panas tinggi di sekujur tubuh

o Merasa mual dan muntah – muntah

o Kram diperut

o Sakit didaerah anus saat buang air besar

Pencegahan pada disentri :

o Melakukan program PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) dari yang

paling penting, mencuci tangan

Komplikasi pada disentri :

o Dehidrasi

5

Page 6: aryadningrat.files.wordpress.com file · Web viewBatuk – nbatuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah) Perasaan tidak enak, lemah. Pencegahan penyakit TBC : Tidak

o Gangguan elektrolit

o Kejang

o Protein loosing enteropathy

o Sepsis dan DIC

o Sindroma hemolitik uremik

o Malnutrisi/malabsorpsi

o Hipolikemia

o Prolapsus rektum

o Reactive arthritis

o Sindroma guilain-barre

o Amoeba

b.   Malaria

Malaria adalah suatu infeksi pada bagian sel darah yaitu infeksi pada sel darah

merah. Ditularkan oleh nyamuk yang membawa parasit yang menyebabkan

malaria.

Gejala – gejala malaria :

o Demam dan menggigil

o Sakit kepala

o Mual,muntah

o Diare

o Nyeri otot atau pegal pegal

Pencegahan pada malaria :

o Menghindari gigitan nyamuk, menggunakan obat nyamuk, pasang kawat

kasa pada ventilasi, menjauhkan kandang ternak dari rumah, kurangi

berada di luar rumah pada malam hari.

Komplikasipada malaria :

o Malaria selebral

o Gagl ginjal akut

o Kalainan hati

6

Page 7: aryadningrat.files.wordpress.com file · Web viewBatuk – nbatuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah) Perasaan tidak enak, lemah. Pencegahan penyakit TBC : Tidak

o Edema paru

o Hipoglikemia

5.   Penyakit yang disebabkan oleh parasit eksternal.

* Kutu rambut.

Kutu rambut adalah serangga kecil berkaki enam yang menempel di kulit

kepala dan leher dan memakan darah manusia. Kutu sangat kecil dan

susah dilihat, telurnya menempel di rambut dekat kulit kepala dan lebih

susah dilihat. Ketika banyak kutu hidup di rambutorang, ini disebut

dengan infestasi.

* Gejala-gejala pada kutu rambut :

o Kulit kepala terasa gatal – gatal

* Pencegahan pada kutu rambut :

o Memangkas rambut

o Jangan menggantung handuk,topi,jilbab dan lain lain ditempat

gantungan

C. Ensefalitis

Ensefalitis adalah infeksi jaringan otak oleh berbagai macam mikroorganisme

(Hassan, 1997). Pada encephalitis terjadi peradangan jaringan otak yang dapat

mengenai selaput pembungkus otak dan medula spinalis.

Ensefalitis adalah infeksi yang mengenai system saraf pusat (SSP) yang

disebabkan oleh virus atau mikroorganisme lain yang nonpurulen. Penyebab tersering

dari ensefalitis adalah virus kemudian herpes simpleks, arbovirus, dan jarang

disebabkan oleh enterovarius, mumps, dan adenovirus. Ensefalitis bias juga terjadi

pascainfeksi campak, influenza, varicella, dan pascavaksinasi pertusis.

Klasifikasi ensefalitis didasarkan pada factor penyebabnya. Ensefalitis

suparatif akut dengan bakteri penyebab ensefalitis adalah Staphylococcus aureus,

Streptococus, E.Colli, Mycobacterium, dan T.Pallidium. Sedangkan ensefalitis virus

penyebab adalah virus RNA (Virus Parotitis), virusmorbili, virus rabies, virus Rubela,

7

Page 8: aryadningrat.files.wordpress.com file · Web viewBatuk – nbatuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah) Perasaan tidak enak, lemah. Pencegahan penyakit TBC : Tidak

virus dengue, virus polio, cockscakie A dan B, herpes zoster, herpes simpleks, dan

varicella.

D.  Etiologi

Berbagai macam mikroorganisme dapat menimbulkan Ensefalitis:

1.   bakteria, protozoa, cacing, jamur, spirochaeta, dan virus. Bakteri penyebab

Ensefalitis adalah Staphylococcus aureus, streptokok, E. Coli, M. Tuberculosa

dan T. Pallidum. Encephalitis bakterial akut sering disebut encephalitis supuratif

akut (Mansjoer, 2000).

2.   Penyebab lain adalah keracunan arsenik dan reaksi toksin dari thypoid fever,

campak dan chicken pox/cacar air.

3.   Penyebab encephalitis yang terpenting dan tersering ialah virus. Infeksi dapat

terjadi karena virus langsung menyerang otak, atau reaksi radang akut infeksi

sistemik atau vaksinasi terdahulu.Klasifikasi encephalitis berdasar jenis virus

serta epidemiologinya ialah:

Infeksi virus yang bersifat endemic

a.   Golongan enterovirus : Poliomyelitis, virus Coxsackie, virus ECHO.

b.  Golongan virus Arbo : Western equine encephalitis, St. Louis encephalitis,

Eastern equine encephalitis, Japanese B encephalitis, Russian spring summer

encephalitis, Murray valley encephalitis.

Infeksi virus yang bersiat sporadik : rabies, Herpes simpleks, Herpes zoster,

Limfogranuloma, Mumps, Lymphocytic choriomeningitis, dan jenis lain yang

dianggap disebabkan oleh virus tetapi belum jelas.

Encephalitis pasca-infeksi : pasca-morbili, pasca-varisela, pasca-rubela, pasca-

vaksinia, pasca-mononukleosis infeksius, dan jenis-jenis lain yang mengikuti infeksi

traktus respiratorius yang tidak spesifik. (Robin cit. Hassan, 1997)

E.  Tanda dan Gejala

1.  Suhu yang mendadak naik, seringkali ditemukan hiperpireksia

2.  Kesadaran dengan cepat menurun

8

Page 9: aryadningrat.files.wordpress.com file · Web viewBatuk – nbatuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah) Perasaan tidak enak, lemah. Pencegahan penyakit TBC : Tidak

3.  Muntah

4.  Kejang-kejang, yang dapat bersifat umum, fokal atau twitching saja (kejang-

kejang di muka)

5.  Gejala-gejala serebrum lain, yang dapat timbul sendiri-sendiri atau bersama-sama,

misal paresis atau paralisis, afasia, dan sebagainya (Hassan, 1997)

6. Perubahan perilaku

7.  Gelisah

Inti dari sindrom Ensefalitis adalah adanya demam akut, dengan kombinasi tanda

dan gejala : kejang, delirium, bingung, stupor atau koma, aphasia, hemiparesis dengan

asimetri refleks tendon dan tanda Babinski, gerakan involunter, ataxia, nystagmus,

kelemahan otot-otot wajah.

F. Patofisiologi

Virus masuk tubuh klien melalui kulit, saluran napas, dan saluran cerna.

Setelah masuk ke dalam tubuh, virus akan menyebar ke seluruh tubuh dengan

beberapa cara :

1. Lokal : virus alirannya terbatas menginfeksi selaput lender permukaan atau organ

tertentu.

2. Penyebaran hematogen primer : virus masuk ke dalam darah, kemudian menyebar

ke organ dan berkembang biak di organ tersebut.

3. Penyebaran melalui saraf-saraf : virus berkembang biak di perukaan selaput lendir

dan menyebar melalui system persarafan.

Setelah terjadi penyebaran ke otak terjadi manifestasi klinis ensefalitis. Masa

prodromal berlangsung 1-4 hari ditandai dengan demam, sakit kepala, pusing, muntah

nyeri tenggorokan, malaise, nyeri ekstremitas, dan pucat. Suhu badan meningkat,

fotofobia, sakit kepala, muntah-muntah, kadang disertai kaku kuduk apabila infeksi

mengenai meningen. Pada anak, tampak gelisah kadang disertai perubahan tingkah

laku. Dapat disertai gangguan penglihatan, pendengaran, bicara, serta kejang. Gejala

lain berupa gelisah, rewel, perubahan perilaku, gangguan kesaadaran, kejang. Kadang-

9

Page 10: aryadningrat.files.wordpress.com file · Web viewBatuk – nbatuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah) Perasaan tidak enak, lemah. Pencegahan penyakit TBC : Tidak

kadang disertai tanda neurologis fokal berupa afassia, hemiparesis, hemiplagia,

ataksia, dan paralisis saraf otak.

G. Komplikasi

Komplikasi pada ensefalitis berupa :

1.  Retardasi mental

2.  Iritabel

3.  Gangguan motorik

4.  Epilepsi

5.  Emosi tidak stabil

6. Sulit tidur

7.  Halusinasi

8. Enuresis

H. Pemeriksaan Penunjang

1.  Lumbal pungsi (pemeriksaan CSS)

a.  Cairan warna jernih

b. Glukosa normal

c.  Leukosit meningkat

d.  Tekanan Intra Kranial meningkat

2.  Protein agak meningkat

3.  Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urin

a.  Sukar oleh karena uremia berlangsung singkat

b.  Dapat membantu mengidentifikasikan daerah pusat infeksi dan penyebab

infeksi

4.      CT Scan/ MRI

Membantu melokalisasi lesi, melihat ukuran/ letak ventrikel, hematom, daerah

cerebral, hemoragic, atau tumor.

I. Penatalaksanaan

10

Page 11: aryadningrat.files.wordpress.com file · Web viewBatuk – nbatuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah) Perasaan tidak enak, lemah. Pencegahan penyakit TBC : Tidak

1. Isolasi bertujuan mengurangi stimulus/rangsangan dari luar dan sebagai tindakan

pencegahan.

2. Terapi antimikroba, sesuai hasil kultur  Obat yang mungkin dianjurkan oleh

dokter :

a.  Ampicillin : 200 mg/kgBB/24 jam, dibagi 4 dosis

b.  Kemicetin : 100 mg/kgBB/24 jam, dibagi 4 dosis

c.  Bila encephalitis disebabkan oleh virus (HSV), agen antiviral acyclovir secara

signifikan dapat menurunkan mortalitas dan morbiditas HSV encephalitis.

Acyclovir diberikan secara intravena dengan dosis 30 mg/kgBB per hari dan

dilanjutkan selama 10-14 hari untuk mencegah kekambuhan (Victor, 2001).

d.  Untuk kemungkinan infeksi sekunder diberikan antibiotika secara

polifragmasi.

3.   Mengurangi meningkatnya tekanan intracranial, manajemen edema otak

a. Mempertahankan hidrasi, monitor balans cairan; jenis dan jumlah cairan yang

diberikan tergantung keadaan anak.

b.  Glukosa 20%, 10 ml intravena beberapa kali sehari disuntikkan dalam pipa

giving set untuk menghilangkan edema otak.

c.  Kortikosteroid intramuscular atau intravena dapat juga digunakan untuk

menghilangkan edema otak.

4. Mengontrol kejang  Obat antikonvulsif diberikan segera untuk memberantas

kejang. Obat yang diberikan ialah valium dan atau luminal.

a. Valium dapat diberikan dengan dosis 0,3-0,5 mg/kgBB/kali.

b. Bila 15 menit belum teratasi/kejang lagi bia diulang dengan dosis yang sama.

c. Jika sudah diberikan 2 kali dan 15 menit lagi masih kejang, berikan valium

drip dengan dosis 5 mg/kgBB/24 jam.

5.  Mempertahankan ventilasi  Bebaskan jalan nafas, berikan O2 sesuai kebutuhan

(2-3l/menit).

6.  Penatalaksanaan shock septik 

7.  Mengontrol perubahan suhu lingkungan

8.  Untuk mengatasi hiperpireksia, diberikan kompres pada permukaan tubuh yang

mempunyai pembuluh besar, misalnya pada kiri dan kanan leher, ketiak,

selangkangan, daerah proksimal betis dan di atas kepala.  Sebagai hibernasi dapat

11

Page 12: aryadningrat.files.wordpress.com file · Web viewBatuk – nbatuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah) Perasaan tidak enak, lemah. Pencegahan penyakit TBC : Tidak

diberikan largaktil 2 mg/kgBB/hari dan phenergan 4 mg/kgBB/hari secara

intravena atau intramuscular dibagi dalam 3 kali pemberian. Dapat juga diberikan

antipiretikum seperti asetosal atau parasetamol bila keadaan telah memungkinkan

pemberian obat per oral. (Hassan, 1997)

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

1. Biodata

Umur : Penyakit ensefalitis dapat menyerang semua usia, insiden

tertinggi terjadi pada anak-anak

Jenis kelamin : Penyakit ensefalitis bisa terjadi pada laki-laki dan perempuan

Bangsa : Umumnya untuk penyakit ensefalitis tidak mengenal suku

bangsa, ras.

2. Keluhan utama

a.  Demam 

b. Kejang

3. Riwayat kesehatan sekarang

Demam, kejang, sakit kepala, pusing, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri

ekstremitas, pucat, gelisah, perubahan perilaku, dan gangguan kesadaran.

4. Riwayat kesehatan dahulu

Klien sebelumnya menderita batuk , pilek kurang lebih 1-4 hari, pernah menderita

penyakit Herpes, penyakit infeksi pada hidung,telinga dan tenggorokan.

5. Riwayat penyakit keluarga

Keluarga ada yang menderita penyakit yang disebabkan oleh virus contoh: Herpes

dll. Bakteri contoh : Staphylococcus Aureus, Streptococcus , E Coli dan lain-lain.

Pola-Pola Fungsi Kesehatan

1.  Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat

12

Page 13: aryadningrat.files.wordpress.com file · Web viewBatuk – nbatuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah) Perasaan tidak enak, lemah. Pencegahan penyakit TBC : Tidak

a. Kebiasaan. Sumber air yang dipergunakan dari PAM atau sumur, kebiasaan

buang air besar di WC, lingkungan penduduk yang berdesaan (daerah kumuh)

b. Status Ekonomi. Biasanya menyerang klien dengan status ekonomi rendah.

2.  Pola fungsi kesehatan

a.  Pola nutrisi dan metabolisme. Nafsu makan menurun (anoreksia) nyeri

tenggorokan dan Berat badan menurun.

b.  Pola aktivitas. Nyeri ekstremitas dan keterbatasan rentang gerak akan

mempengaruhi pola aktivitas.

c.  Pola istirahat dan tidur. Kualitas dan kuantitas akan berkurang oleh karena

demam, sakit kepala dan lain-lain, yang sehubungan dengan penyakit

ensefalitis.

d.  Pola eliminasi. Kebiasaan Defekasi sehari-hari, Biasanya pada klien Ensefalitis

karena klien tidak dapat melakukan mobilisasi maka dapat terjadi obstivasi.

Kebiasaan BAK sehari-hari, Biasanya pada klien Ensefalitis kebiasaan miksi

normal frekuensi normal. Jika kebutuhan cairan terpenuhi. Jika terjadi

gangguan kebutuhan cairan maka produksi irine akan menurun ,konsentrasi

urine pekat.

e.  Pola hubungan dan peran. Efek penyakit yang diderita terhadap peran yang

diembannya sehubungan dengan ensefalitis, bisanya Interaksi dengan

keluarga / orang lain biasanya pada klien dengan Ensefalitis kurang, karena

kesadaran klien menurun mulai dari apatis sampai koma.

f.  Pola penanggulangan stress. Akan cenderung mengeluh dengan keadaaan

dirinya (stress).

Pemeriksaan fisik

Setelah melakukan anmnesis yang mengarah pada keluhan-keluhan klien,

pemeriksaan fisik sangat berguna untuk mendukung data dari pengkajian anamnesis.

Pemeriksaan fisik sebaiknya dilakukan persistem (B1-B6) dengan focus pemeriksaan

fisik pada pemeriksaan B3 (Brain) yang terarah dan dihubungkan dengan keluhan-

keluhan dari klien.

13

Page 14: aryadningrat.files.wordpress.com file · Web viewBatuk – nbatuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah) Perasaan tidak enak, lemah. Pencegahan penyakit TBC : Tidak

Pemeriksaan fisik dumulai dengan memeriksa tanda-tanda vital (TTV) pada

klien ensefalitis biasanya didapatkan peningkatn suhu tubuh lebih dari normal 39-

49°C. Keadaan ini biasanya dihubungkan dengan proses inflamasi dari selaput otak

yang sudah menggangu pusat pengatur suhu tubuh. Penurunan denyut nadi terjadi

berhubungan dengan tanda-tanda peningkatan TIK. Apabila disertai peningkatan

frekuensi pernapasan sering berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme

umum dan adanya infeksi pada system pernapasan sebelum mengalami ensefalitis. TD

biasanya normal atau meningkat berhubungan dengan tanda-tanda peningkatan TIK.

a. B1 (Breathing)

Inspeksi apakah klien batuk, produksi sputum, sesak napas, penggunaan otot

bantu napas, dan peningkatan frekuensi pernapasan yang sering didapatkan pada

klien ensefalitis yang sering disertai adanya gangguan pada system pernapasan.

Palpasi biasanya taktil premitus seimbang kanan dan kiri. Auskultasi bunyi napas

tambahan sperti ronkhi pada klien dengan ensefalitis berhubungan akulasi sekreet

dari penurunan kesadaran.

b. B2 (Blood)

Pengkajian pada system kardiovaskular didapatkan renjatan (syok) hipovolemik

yang sering terjadi pada klien ensefalitis.

c. B3 (Brain)

Pengkajian B3 (Brain) merupakan pemeriksaan focus dan lebih lengkap

dibandingkan pengkajian pada system lainnya.

1. Tingkat Kesadaran

Pada keadaan lanjut tingkat kesadaran klien ensefalitis biasanya berkisar pada

tingkat letargi, stupor, dan semikomatosa. Apabila klien sudah mengalami

koma maka penilaian GCS sangat penting untuk menilai tingkat kesadaran

klien dan bahan evaluasi untuk memantau pemberian asuhan keperawatan.

2. Fungsi Serebri

14

Page 15: aryadningrat.files.wordpress.com file · Web viewBatuk – nbatuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah) Perasaan tidak enak, lemah. Pencegahan penyakit TBC : Tidak

Status mental : observasi penampilan klien dan tingkah lakunya, nilai gaya

bicara klien dan observasi ekspresi wajah dan aktivitas motorik. Pada klien

ensefalitis tahap lanjut biasanya status mental klien mengalami perubahan.

3. Pemeriksaan Saraf Kranial

1) Saraf I. Fungsi penciuman biasanya tidak ada kelainan pada klien

ensefalitis

2) Saraf II. Tes ketajaman penglihatan pada kondisi normal. Pemeriksaan

papiledema mungkin didapatkan terutma pada ensefalitis supuratif

disertai abses serebri dan efusi subdural yang menyebabkan terjadinya

peningkatan TIK.

3) Saraf III, IV, dan VI. Pemeriksaan fungsi dan reaksi pupil pada klien

ensefalitis yang tidak disertai penurunan kesadaran biasanya tanpa

kelainan. Pada tahap lanjut ensefalitis yang telah mengganggu kesadaran,

tanda-tanda perubahan dari fungsi dan reaksi pupil akan didapatkan.

Dengan alasan yang tidak diketahui, klien ensefalitis mengeluh

mengalami fotofobia atau sensitive yang berlebihan terhadap cahaya.

4) Saraf V. Pada klien ensefalitis didapatkan paralisis pada otot sehingga

mengganggu proses mengunyah.

5) Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah asimetris

karena adanya paralisis unilateral.

6) Saraf VIII. Tidak ditemukan adanya tuli kondungtif dan tuli persepsi.

7) Saraf IX dan X. Kemampuan menelan kurang baik sehingga

mengganggu pemenuhan nutrisi via oral.

8) Saraf XI. Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius.

Adanya usaha dari klien untuk melakukan fleksi leher dan kaku kuduk.

9) Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada

fasikulasi. Indra pengecap normal.

10) Sistem Motorik. Kekuatan otot menurun, kontrol keseimbangan dan

koordinasi pada ensefalitis tahap lanjut mengalami perubahan.

4. Pemeriksaan Refleks

15

Page 16: aryadningrat.files.wordpress.com file · Web viewBatuk – nbatuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah) Perasaan tidak enak, lemah. Pencegahan penyakit TBC : Tidak

Pemeriksaan reflex dada, pengetukan pada tendon, ligamentum atau

periosteum derajat reflex pada respons normal. Reflex patologis akan

didapatkan pada klien ensefalitis dengan tingkat kesadaran koma.

5. Gerakan Involunter

Tidak ditemukan adanya teremor, Tic, dan distonia. Pada keadaan tertentu

klien biasanya mengalami kejang umum, terutama pada anak dengan

ensefalitis disertai peningkatan suhu tubuh yang tinggi. Kejang dan

peningkatan TIK juga berhubungan dengan ensefalitis. Kejang terjadi

sekunder akibat area fokal kortikal yang peka.

6. Sistem Sensorik

Pemeriksaan sonsorik pada ensefalitis biasanya didapatkan perasaan raba

normal, perasaan nyeri normal, perasaan suhu normal, tidak ada perasaan

abnormal di permukaan tubuh, perasaan diskriminatif normal.

Peradangan pada selaput otak mengakibatkan sejumlah tanda yang mudah

dikenali pada ensefalitis. Tanda tersebut adalah kaku kuduk, yaitu ketika

adanya upaya untuk fleksi kepala mengalami kesukaran karena adanya

spasme otot-otot leher.\

d. B4 (Bladder)

Pemeriksaan pada system perkemihan biasanya didapatkan berkurangnya volume

keluaran urine, hal ini  berhubungan dengan penurunan perfusi dan penurunan

curah jantung ke ginjal.

e. B5 (Bowel)

Mual sampai muntah dihubungkan dengan peningkatan produksi asam lambung.

Pemenuhan nutrisi pada klien meningitis menurun karena anoreksia dan adanya

kejang.

f. B6 (Bone)

16

Page 17: aryadningrat.files.wordpress.com file · Web viewBatuk – nbatuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah) Perasaan tidak enak, lemah. Pencegahan penyakit TBC : Tidak

Penurunan kekuatan otot dan penurunan tingkat kesadaran menurunkan mobilitas

klien secara umum. Dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari klien lebih banyak

dibantu orang lain.

B. Diagnosa Keperawatan Yang Sering Terjadi

1. Resiko tinggi infeksi b/d daya tahan terhadap infeksi turun.

2. Resiko tinggi perubahan perfusi jaringan b/d Hepofalemia, anemia.

3. Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang umum.

4. Nyeri b/d adanya proses infeksi yang ditandai dengan anak menangis, gelisah.

5. Gangguan mobilitas b/d penurunan kekuatan otot yang ditandai dengan ROM

terbatas.

6. Gangguan asupan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual

muntah.

7. Gangguan sensorik motorik (penglihatan, pendengaran, gaya bicara) b/d kerusakan

susunan saraf pusat.

8. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan sakit kepala mual.

9. Resiko gangguan integritas kulit b/d daya pertahanan tubuh terhadap infeksi turun.

10. Resiko terjadi kontraktur b/d spastik berulang.

C. Intervensi

1. Diagnosa Keperawatan I.

Resiko tinggi infeksi b/d daya tahan tubuh terhadap infeksi turun

Tujuan: tidak terjadi infeksi

Kriteria hasil: Masa penyembuhan tepat waktu tanpa bukti penyebaran infeksi

endogen.

Intervensi :

a. Pertahanan teknik aseptic dan teknik cuci tangan yang tepat baik petugas atau

pengunmjung. Pantau dan batasi pengunjung. R/. menurunkan resiko px

terkena infeksi sekunder. mengontrol penyebaran Sumber infeksi, mencegah

pemajaran pada individu yang mengalami nfeksi saluran nafas atas.

17

Page 18: aryadningrat.files.wordpress.com file · Web viewBatuk – nbatuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah) Perasaan tidak enak, lemah. Pencegahan penyakit TBC : Tidak

b. Abs. suhu secara teratur dan tanda-tanda klinis dari infeksi.

R/. Deteksi dini tanda-tanda infeksi merupakan indikasi perkembangan

Meningkosamia .

c. Berikan antibiotika sesuai indikasi R/. Obat yang dipilih tergantung tipe

infeksi dan sensitivitas individu.

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN II

Resiko tinggi terhadap trauma b/d aktivitas kejang umum.

Tujuan : Tidak terjadi trauma

Kriteria hasil : Tidak mengalami kejang / penyerta cedera lain

Intervensi :

a. Berikan pengamanan pada pasien dengan memberi bantalan, penghalang

tempat tidur tetap terpasang dan berikan pengganjal pada mulut, jalan nafas

tetap bebas. R/. Melindungi px jika terjadi kejang, pengganjal mulut agar lidah

tidak tergigit. Catatan: memasukkan pengganjal mulut hanya saat mulut

relaksasi.

b. Pertahankan tirah baring dalam fase akut. R/. Menurunkan resiko terjatuh /

trauma saat terjadi vertigo.

c. Kolaborasi. Berikan obat sesuai indikasi seperti delantin, valum dan

sebagainya.R/. Merupakan indikasi untuk penanganan dan pencegahan kejang.

d. Abservasi tanda-tanda vital R/. Deteksi diri terjadi kejang agak dapat

dilakukan tindakan lanjutan.

3. DIAGNOSA KEPERAWATAN III

Resiko terjadi kontraktur b/d kejang spastik berulang.

Tujuan : Tidak terjadi kontraktur.

Ktiteria hasil : Tidak terjadi kekakuan sendi. Dapat menggerakkan anggota tubuh.

Intervensi :

a. Berikan penjelasan pada ibu klien tentang penyebab terjadinya spastik, terjadi

kekacauan sendi R/. Dengan diberi penjelasan diharapkan keluarga mengerti

dan mau membantu program perawatan.

b. Lakukan latihan pasif mulai ujung ruas jari secara bertahap R/. Melatih

melemaskan otot-otot, mencegah kontraktor.

18

Page 19: aryadningrat.files.wordpress.com file · Web viewBatuk – nbatuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah) Perasaan tidak enak, lemah. Pencegahan penyakit TBC : Tidak

c. Lakukan perubahan posisi setiap 2 jam R/. Dengan melakukan perubahan

posisi diharapkan perfusi ke jaringan lancar, meningkatkan daya pertahanan

tubuh.

d. Observasi gejala kaerdinal setiap 3 jam R/. Dengan melakukan observasi dapat

melakukan deteksi dini bila ada kelainan dapat dilakukan intervensi segera.

e. Kolaborasi untuk pemberian pengobatan spastik dilantin / valium sesuai

Indikasi R/. Diberi dilantin / valium , bila terjadi kejang spastik ulang.

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari makalah di atas dapat disimpulkan :

a. Ensefalitis adalah infeksi jaringan otak oleh berbagai macam mikroorganisme

(Hassan, 1997). Pada encephalitis terjadi peradangan jaringan otak yang dapat

mengenai selaput pembungkus otak dan medula spinalis.

b. Etiologi : Virus, Bakteri, dan Jamur.

c. Berbagai macam mikroorganisme dapat menimbulkan Ensefalitis, misalnya

bakteria, protozoa, cacing, jamur, spirochaeta, dan virus. Bakteri penyebab

Ensefalitis adalah Staphylococcus aureus, streptokok, E. Coli, M. Tuberculosa

dan T. Pallidum.

d. Inti dari sindrom Ensefalitis adalah adanya demam akut, dengan kombinasi tanda

dan gejala : kejang, delirium, bingung, stupor atau koma, aphasia, hemiparesis

dengan asimetri refleks tendon dan tanda Babinski, gerakan involunter, ataxia,

nystagmus, kelemahan otot-otot wajah.

e. Patofisiologi : Virus masuk tubuh klien melalui kulit, saluran napas, dan saluran

cerna. Setelah masuk ke dalam tubuh, virus akan menyebar ke seluruh tubuh.

19

Page 20: aryadningrat.files.wordpress.com file · Web viewBatuk – nbatuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah) Perasaan tidak enak, lemah. Pencegahan penyakit TBC : Tidak

f. Manifestasi klinis : Masa prodromal berlangsung antara 1-4 hari, ditandai dengan

demam, sakit kepala, pusing muntah, nyeri tenggorokan, malaise, nyeri

ekstremitas, dan pucat. Kemudian di ikuti tanda ensefalitis yang berat ringannya

tergantung dari ditribusi dan luas lesi pada neuron.

g. Komplikasi pada ensefalitis berupa :

1. Retardasi mental

2. Iritabel

3. Gangguan motorik

4. Epilepsi

5. Emosi tidak stabil

6. Sulit tidur

7. Halusinasi

DAFTAR PUSTAKA

Rahman M, Petunjuk Tentang Penyakit, Pemeriksaan Fisik dan Laboratorium,

Kelompok Minat Penulisan Ilmiah Kedokteran Salemba, Jakarta, 1986.

Sacharian, Rosa M, Prinsip Keperawatan Pediatrik, Edisi 2 Penerbit Buku

Kedokteran EGC, Jakarta ,1993.

Arif mansjoer suprohaita,penerbit fakultas kedokteran universitas indonesia,kapita

selekta kedokteran,edisi 2 jilid 3, Jakarta, 2000.

20