survival strategy, adaptasi, integrasi, kelembagaan...

44
23 Bab Dua Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan, Identitas, Modal Sosial, Nilai, dan Pembangunan: Telaah Pustaka Survival Strategy Diskusi teoritis untuk mengungkap kekuatan bertahan hidup (survival strategy) dengan cara-cara hidup sesuai kebudayaan pada komunitas terpencil yang mengalami isolasi geografi, namun terus berjuang untuk menghadapi dan mengatasi persoalan hidup dengan caranya sendiri. Melalui strategi menjaga dan melindungi hak milik untuk bertahan hidup (property protection for survival strategy) meliputi manusia, tanah, hutan, adat, kebudayaan, identitas, dan se- bagainya telah memberikan penguatan untuk bertahan hidup (survive). Kondisi yang dihadapi pada setiap lingkungan masyarakat berbeda- beda, sehingga cara mengembangkan kekuatan untuk bertahan hidup (survive) dengan cara-cara hidup sesuai kebudayaan pada setiap ko- munitas tidak sama. Pada lingkungan masyarakat desa yang masih tradisional, bahkan terabaikan dari pengakuan masayrakat dan berbagai pihak lainnya ternyata lembaga adat merupakan mata-rantai yang sangat penting dan berfungsi, berperan untuk mewujudkan seluruh kepentingan mereka dalam komunitas maupun dengan lingkungan sehingga penguatan yang bersumber pada budaya spiritual dengan basis nilai yang kuat untuk membangun diri dan komunitas dengan cara membiayai diri sendiri agar dapat bertahan hidup (survive) dengan lingkungan berarti spesis tersebut senantiasa berusaha agar tidak punah dalam lingkungannya. Perkembangan teori survival strategy ternyata sudah cukup lama dikenal dalam perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di

Upload: lehanh

Post on 07-Mar-2019

237 views

Category:

Documents


2 download

TRANSCRIPT

Page 1: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

23

Bab Dua

Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan, Identitas, Modal Sosial, Nilai, dan Pembangunan: Telaah Pustaka

Survival Strategy Diskusi teoritis untuk mengungkap kekuatan bertahan hidup

(survival strategy) dengan cara-cara hidup sesuai kebudayaan pada komunitas terpencil yang mengalami isolasi geografi, namun terus berjuang untuk menghadapi dan mengatasi persoalan hidup dengan caranya sendiri. Melalui strategi menjaga dan melindungi hak milik untuk bertahan hidup (property protection for survival strategy) meliputi manusia, tanah, hutan, adat, kebudayaan, identitas, dan se-bagainya telah memberikan penguatan untuk bertahan hidup (survive). Kondisi yang dihadapi pada setiap lingkungan masyarakat berbeda-beda, sehingga cara mengembangkan kekuatan untuk bertahan hidup (survive) dengan cara-cara hidup sesuai kebudayaan pada setiap ko-munitas tidak sama.

Pada lingkungan masyarakat desa yang masih tradisional, bahkan terabaikan dari pengakuan masayrakat dan berbagai pihak lainnya ternyata lembaga adat merupakan mata-rantai yang sangat penting dan berfungsi, berperan untuk mewujudkan seluruh kepentingan mereka dalam komunitas maupun dengan lingkungan sehingga penguatan yang bersumber pada budaya spiritual dengan basis nilai yang kuat untuk membangun diri dan komunitas dengan cara membiayai diri sendiri agar dapat bertahan hidup (survive) dengan lingkungan berarti spesis tersebut senantiasa berusaha agar tidak punah dalam lingkungannya.

Perkembangan teori survival strategy ternyata sudah cukup lama dikenal dalam perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di

Page 2: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Esuriun Orang Bati

24

kalangan ilmuan atau para ahli yang mempelajari geografi politik, atau geopolitik. Strategi bertahan hidup (survive) yang dikembangkan oleh berbagai spesis dengan lingkungan merupakan perilaku untuk bertahan hidup (survive) dapat dijumpai pada kerajaan hewan yang senantiasa berusaha menguasai ruang hidup dari masing-masing sehingga generasi penerus tidak mengalami kepunahan. Hal ini juga dilakukan oleh manusia yang mendiami lingkungan di berbagai negara dalam belahan dunia.

Dapat dikatakan bahwa strategi menguasai wilayah kekuasaan atau ruang hidup merupakan fenomena umum yang dilakukan manusia pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup manusia pada zaman yang mengandalkan berburu dan meramu untuk menopang hidup menyebabkan proses kehidupan berpindah-pindah tempat (nomaden) menjadi fenomena umum yang dijumpai dalam kehidupan manusia. Aktivitas nomaden pada manusia selain untuk mencari sumber makanan dari alam bebas untuk memenuhi ke-butuhan hidup, sekaligus manusia membuat demarkasi dalam kawasan berburu, kemudian mengklaim wilayah kekuasaan berburu sebagai ruang hidup miliknya, dan tidak boleh dikuasai maupun dimiliki oleh orang lain.

Mengapa kawasan berburu menjadi penting untuk dikuasai atau dimiliki ?. Cara klasik seperti ini sesungguhnya berkaitan dengan stra-tegi bertahan hidup (survive) untuk memenuhi kebutuhan makanan. Untuk itu dijumpai dalam prakteknya di berbagai tempat, cara me-nguasai ruang hidup yang dilakukan manusia berbeda-beda. Praktek suku-suku tertentu untuk menguasai kawasan berburu sebagai ruang hidup yang berisi sumber daya alam guna menopang hidup secara individu, keluarga, kelompok, maupun komunitas, kemudian bergeser secara evolusioner menjadi wilayah kekuasaan sukubangsa. Per-kembangan yang terjadi kemudian yaitu ruang hidup dari sukubangsa bergeser menjadi wilayah kekuasaan dari suatu negara. Cara penguasa-an ruang hidup seperti dilakukan manusia merupakan perilaku politik untuk bertahan hidup (survival strategy) dan terus eksis sampai saat ini.

Page 3: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Telaah Pustaka

25

Usaha memahami perkembangan teori survival strategy sejak awal dicetuskan oleh Charles Darwin tentang survival of the fittest. Oleh Suckhurgbh (2008 : 1) yaitu awal kemunculan teori survival terdapat kata kunci adalah organise. Makna organise berdasarkan teori Darwin yaitu spesis yang mampu mengorganisir diri dan kelompok secara baik dapat bertahan hidup (survive) dengan lingkungannya. Sebaliknya, spesis yang tidak dapat mengorganisir diri dan kelompok secara baik bisa mengalami kepunahan. Berarti spesis termasuk manusia yang mendiami suatu lingkungan apabila mampu meng-organisir diri secara baik berarti dapat bertahan hidup (survive). Tetapi manusia yang mendiami suatu lingkungan dalam planet bumi apabila tidak dapat mengorganisir diri dan kelompok (termasuk bangsa dan negara) secara baik dipastikan menghadapi kehancuran, bahkan bubar, dan akhirnya bisa mengalami keruntuhan.

Setelah mempelajari tesis Darwin tentang survival of the fittest, kemudian Herbert Spencer pada tahun 1864 menyandingkan dengan teori tentang Population Growth dari Thomas Maltus tahun 1798 sehingga dijumpai kata kunci to organise. Makna yang dapat diambil dari perkembangan teori survival strategy berdasarkan teori Maltus yaitu manusia (penduduk) yang besar, dan telah berani mengorganisir diri untuk membentuk bangsa dan negara mestinya dapat diorganisir secara baik agar dapat bertahan hidup (suvive), karena penduduk men-jadi sumber kekuatan dasar bagi pembangunan suatu bangsa dan negara. Sebaliknya, penduduk yang besar apabila tidak dapat di-organisir dan dikelola secara baik, dikhawatirkan bisa mengancam sur-vival strategy dari bangsa dan negara yang bersangkutan sehingga dapat menuju kehancuran, bahkan sangat mungkin mengalami ke-runtuhan. Oleh Suckhurgbh, dalam perkembangannya kebenaran teori survival of the fittest telah diakui oleh berbagai kalangan sehingga terus dibudidayakan untuk bertahan hidup (survival strategy) yang di-sebut “unfittest”.

Secara teoritis maupun praktis, perkembangan teori survival stra-tegy telah memperoleh pengakuan oleh berbagai kalangan masyarakat di dunia karena analisisnya mampu menjawab kebutuhan hidup

Page 4: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Esuriun Orang Bati

26

manusia, kelompok, sukubangsa, bangsa, dan negara agar kelangsungan hidup (survive) menjadi pilihan arif kalau tidak ingin mengalami ke-punahan. Perkembangan teori survival strategy sejak Darwin, maupun Spencer, kemudian disusul dengan para ahli yang telah berusaha me-ngembangkan teori survival strategy pada manusia, masyarakat, suku-bangsa, negara dan lainnya cukup banyak seperti Emily Shuckburgh (2008) tentang Survival of the human race. Bahasan tentang ke-langsungan hidup ras manusia dengan membangun pendidikan, me-ngembangkan teknologi diperlukan untuk jangka panjang kemajuan (termasuk penemuan) tentu saja bisa mencapai sukses atau keberhasil-an. Mempelajari teori survival of the human race merupakan langkah penyelamatan terhadap ras manusia sebagai makhluk yang mulia jika dibandingkan dengan makhluk lainnya yang terdapat dalam planet bumi agar tidak mengalami kepunahan.

Pemikiran Paul Kennedy (2008) tentang Survival of empires. Ke-langsungan hidup imperium terancam karena kerusuhan revolusioner Perancis. Walaupun diakui bahwa kejadian ini telah mendatangkan perubahan besar di Eropa, dan dampaknya sampai ke Rusia, Jepang, bahkan di belahan dunia lainnya. Perubahan itu terjadi sangat cepat dalam berbagai hal yang berbeda. Artinya, pemandangan internasional menyediakan kisah umat manusia sebagai salah satu dari yang berkerja keras untuk kelangsungan hidup. Industri, teknologi, revolusi ko-munikasi mengubah dunia, termasuk neraca kekuatan lebih cepat dari pernah sebelumnya. Selanjutnya menurut Edit Hall (2008) yang meng-analisis tentang survival of culture (kelangsungan hidup budaya) me-nunjukkan bahwa kepentingan kebudayaan Yunani dan Romawi kuno telah bertahan. Keduanya sampai Renaisans Eropa, bahkan sampai Perang Dunia II dapat bertahan hidup (survive) bisa dipelajari melalui media lama. Memahami teori survival of empires dapat mengingatkan pada manusia terhadap perkembangan di mana ada masa pembentukan, kejayaan, dan keruntuhan suatu bangsa maupun negara yang tidak bisa bertahan hidup (survive) dalam menghadapi perubahan.

Analisis survival strategy yang dilakukan oleh Peter Austin (2008) tentang Survival of language (kelangsungan hidup bahasa) dari

Page 5: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Telaah Pustaka

27

sekitar 6700 bahasa yang diucapkan di bumi ini. Masing-masing erat terkait dengan identitas budaya masyarakat pembicara. Sebuah ancam-an bagi kelangsungan hidup bahasa dari salah satu komunitas ini dalam terminologi dari bab sebelumnya telah membicarakan ancaman untuk ‘kelangsungan hidup budaya’ mereka. Untuk mempertimbangkan ke-langsungan hidup yang diedit Emily Shuckburgh di mana bahasa me-ninggal setiap dua minggu: apa yang akan kita lakukan mengenai ke-hilangan satu bahasa per dua minggu? Krisis yang akan datang bagi kelangsungan hidup bahasa di dunia? Apakah bahasa ditakdirkan untuk punah, atau ada tanda-tanda bahwa hilangnya bahasa dapat di-balik? Lihat perkiraan Raymond Gordon thnologue bahasa dunia yang menunjukkan posisi relatif dari top dunia sepuluh bahasa, yang semua-nya memiliki lebih dari 130 juta pembicara. Beberapa bahasa, seperti Spanyol, Rusia, Perancis dan Arab, dapat dianggap multinasional karena mereka gunakan secara resmi diakui dalam sejumlah negara. Bahasa Inggris adalah bahasa global sekarang hadir di dunia dan me-ningkatkan baik dalam penggunaan dan prestise. Sepuluh bahasa di-tuturkan oleh 40% dari populasi dunia, dan dua puluh bahasa top di-ucapkan oleh setengah orang di Bumi. Makna dari teori tentang survival of language mengisyaratkan bahwa perlu mengambil langkah nyata oleh masyarakat, bangsa, maupun negara di dunia untuk me-nyelamatkan bahasa berarti menyelamatkan manusia yang terdiri dari berbagai sukubangsa di dunia sehingga keaneka ragaman sebagai ciri alamiah pada manusia terus lestari.

Richard Hard dan Olivor Sabot (2008) memunculkan pikiran yang berbeda mengenai surviving disense (menyelamatkan nyawa dari penyakit) di mana secara alami kematian mengancam akibat virus me-negaskan bila tidak ada pusat untuk kendali penyakit sebagai contoh virus di Alaska. Terdapat sebanyak partikel virus di paru-paru yang mengancam di abad modern. Dua influensa lain telah menyapu bola bumi sejak 1918 virus yang telah terkemuka mengancam angka ke-matian tinggi baru di timur Asia (secara kasar 50%). Walaupun banyak kasus unreported jauh melebihi 1% kematian yang disebabkan oleh ke-tegangan influensa sejak 1919 seperi dialami Spanyol. Mempelajari

Page 6: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Esuriun Orang Bati

28

teori Surviving disense mengisyaratkan bahwa bahaya penyakit yang mengancam umat manusia dewasa ini di berbagai belahan dunia seperti HIV, AIDS yang belum ditemukan obat penyebuhannya. Penyalah-gunaan obat terlarang seperti ganja, kokain dan sebagainya dimaksud-kan agar tidak mengancam keselamatan manusia yang dapat me-nyebabkan kepunahan.

Pemikiran seperti Andrew Prentice (2008) Surviving famine. Pemikiran teoritisnya pada manusia untuk bertahan dari bencana alam menimbulkan ancaman berbeda dengan penyakit. Gunung berapi, tsunami, badai, banjir dan gempa bumi adalah peristiwa langka, namun memiliki potensi untuk memusnahkan masyarakat dalam hitungan detik telah mengancam kota-kota besar di negara berkembang. Makna dari mempelajari teori Surviving famine berarti manusia diberi pe-ringatan awal untuk menghadapi suatu bencana alam. Teori tersebut telah memberikan peringatan pada manusia sehingga kebijakan pe-merintah berbagai negara berusaha mengembangkan program pe-ringatan dini (early warning system) dimaksudkan untuk mencegah bahaya yang ditimbulkan oleh bencana alam pada manusia untuk tetap waspada terhadap bencana alam yang sewaktu-waktu dapat terjadi di berbagai tempat, dan selanjutnya manusia di daerah bencana dapat me-ngambil langkah penyelamatan secara tepat.

Teori survival strategy yang dikembangkan oleh Chyntia Kenyon dan Claire Cockcroft (2008) tentang Surviving longer (kelangsungan hidup menyelamatkan nyawa lebih panjang). Teori survival strategy menurut Diana Liverman (2008) Survival into the future (ke-langsungan hidup ke masa depan) berkeyakinan bahwa kunci untuk kelangsungan hidup di akhir abad kesembilan belas adalah kebutuhan organisasi global untuk mengatasi ancaman baru yang ditimbulkan oleh perubahan iklim agar hidup ke masa depan dalam menghadapi pe-rubahan iklim menjadi salah satu tantangan besar bagi kelangsungan hidup manusia dan ekosistem dalam dan di luar abad ini. Makna dari mempelajari teori surviving longer berarti perlu ada usaha secara in-dividual, kelompok, bangsa, maupun negara agar usia harapan hidup pada manusia menjadi sangat penting sehingga diperlukan cara kon-

Page 7: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Telaah Pustaka

29

sumsi bahan-bahan kebutuhan hidup, air, dan sebagainya memiliki kaitan langsung dengan kelangsungan hidup jangka panjang. Ke-khawatiran besar pada perkembangan manusia di seantero belahan dunia tentang bahaya yang ditimbulkan oleh gejala pemanasan global. Bahaya ini disebabkan karena ulah manusia sendiri yang melakukan eksploitasi sumber daya yang terdapat di alam tanpa mempehitungkan faktor keseimbangan ekosistem lingkungan. Proses perusakan ling-kungan yang berlangsung sampai saat ini karena tidak didukung oleh proses perencanaan yang baik pada tataran lokal, nasional, maupun global untuk menciptakan pemulihan sehingga kekhawatiran manusia terhadap ancam keselamatan umat manusia di berbagai tempat menjadi isu penting untuk dicari solusinya.

Analisis survivaal strategy oleh Anamitra Anurag Danda (2007) Surviving in the Sundarbans : Threts and Responses, An analytical des-ciption of life in an Indian riparing commons. Tesis utama mengenai penjelasan situasi arus di Sundarban yang memberi makna pada perjuangan manusia untuk bertahan hidup (survive) dalam wilayah rawa-rawa membutuhkan kearifan.

Fenomena kehidupan manusia yang terabaikan karena persoalan isolasi geografis sehingga hidup menjadi terasingan, atau secara sengaja berusaha mengasingkan diri dari dunia ramai (eksklusif) akibat me-nguatnya stigma (anggapan negatif), perlu dicermati secara baik karena dapat mengancam kelangsungan hidup (survival strategy) pada tingkat komunitas. Kondisi seperti ini memiliki dampak sangat luas pada lingkungan masyarakat, sukubangsa, bangsa, bahkan negara. Terutama pada lingkungan wilayah kepulauan di mana kondisi masyarakatnya berciri majemuk (plural society), yaitu masyarakat mendiami pulau-pulau kecil yang rentan terhadap perubahan sehingga memerlukan

Teori-teori tentang kekuatan ber-tahan hidup (survival strategy) terus mengalami perkembangan. Contoh kasus di mana manusia yang mengalami stigma berjuang meng-hadapi tekanan (presure) dan berusaha untuk bertahan hidup (survive) pada manusia maupun sukubangsa sehingga nasib mereka terabaikan karena belum ada pengakuan dari masyarakat maupun pihak terkait lainnya.

Page 8: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Esuriun Orang Bati

30

model pengelolaan yang tepat untuk menjawab kebutuhan lokal dan nasional. Pandangan ini mengandung makna bahwa kekuatan bertahan hidup (survival strategy) suatu komunitas dalam menghadapi stigma (survive dalam stigma) perlu dicari basis kekuatan (nilai positif) mau-pun kelemahan (nilai negatif) yang dapat mengancam survival strategy.

Perspektif negatif dari menguatnya stigma pada suatu komunitas dapat menyebabkan kehidupan manusia maupun komunitas yang te-rabaikan dalam memperoleh pengakuan, pelayanan dari masyarakat maupun pemerintah (negara) maupun masyarakat. Nilai positif untuk survive dalam mengelola wilayah melalui cara menjaga, melindungi hak milik yang berharga (bernilai) untuk mewujudkan kelangsungan hidup (survival strategy) jangka panjang sehingga komunitas yang berada tersebut tidak mengalami kepunahan. Strategi bertahan hidup dalam menghadapi tekanan (presure) dari lingkungan fisik, sosial, ekonomi, dan lainnya dapat melahirkan kearifan baru untuk mewujud-kan kelangsungan hidup (survival strategy) jangka panjang bertahan hidup (survival strategy). Sebab strategi bertahan hidup (survival strategy) yang dilakukan manusia untuk menguasai wilayah atau ruang hidup seperti ini dapat ditemui pada manusia di seluruh dunia, dan terus mengalami perdebatan tanpa pernah berakhir karena tanah, hutan, dan sumber daya lainnya yang terdapat dalam wilayah sebagai ruang hidup sering menjadi rebutan manusia lain.

Ruang hidup sebagai basis survival strategy jangka panjang yang mampu dan wajib dijaga dan dilindungi (protection) secara baik agar tidak mudah direbut orang luar. Berarti stigma dapat mendatangkan nilai positif. Hak miliki yang berharga seperti manusia, tanah, identitas, adat, budaya, dan lainnya yang berhasil dijaga dan dilindungi karena ada kemampuan manusia dalam melakukan organise melalui tahapan konsolidasi internal. Kekuatan konsolidasi menjadi mata-rantai peng-hubung, kemudian muncul simpul yang kuat untuk mewujudkan in-tegrasi sehingga memerlukan proses adaptasi manusia yang berbeda dari makhluk lainnya dalam menguasai wilayah sebagai ruang hidup.

Survive dalam stigma merupakan cara implementasi strategi bertahan hidup (survive) di bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial,

Page 9: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Telaah Pustaka

31

budaya, keamanan, dan lainnya untuk mempertahankan keunggulan. Nilai ketahanan (resilience) menjadi hulu dan sekaligus muara di mana strategi bertahan hidup (survival strategy) pada manusia secara in-dividu, kelompok, maupun komunitas dapat tumbuh secara subur. Pandangan ini apabila dikaitkan dengan teori survival strategy yang dikembangkan oleh Suckhurgbh (2008: 9) tentang Survival of The Human Race yaitu sukses atau keberhasilan yang dicapai kelompok karena mereka bisa mengorganisir diri (organisation), berkomunikasi (communication), dan pembaharuan (innovation). Strategi ini oleh Suckhurgbh tidak terdapat pada spesies lain dalam kerajaan hewan. Dalam perspektif kebudayaan, makna sukses diukur dengan nilai-nilai kebudayaan itu sendiri dan bukan dengan sesuatu dari luar. Ke-budayaan harus mampu memproduksi dan mendistribusikan barang-barang dan jasa yang dipandang perlu untuk hidup (Haviland, 1985 : 351).

Pemahaman tentang strategi bertahan hidup (survive) yang di-lakukan oleh manusia terhadap wilayah kekuasaan sebagai ruang hidup berbeda-beda. Teori survival of the fittest yang dikemukakan oleh Darwin telah dikembangkan oleh berbagai ahli sehingga komunikasi dan inovasi menjadi penting dalam mengembangkan survival strategy. Untuk melancarkan komunikasi dan inovasi secara efektif agar ma-nusia dapat survive, diperlukan strategi yang tepat dan sesuai. Bagai-mana melancarkan strategi komunikasi dan inovasi secara baik agar manusia dapat survive? Strategi yang relevan untuk melancarkan ko-munikasi, inovasi dikemukakan oleh Roger dan Shoemaker (1971) yaitu perlu dilakukan melalui tahapan kesadaran, minat, pengujian, percobaan, dan penerimaan.

Lima tahap dalam melancarkan komunikasi, inovasi dipercaya dapat mengantarkan seseorang untuk tiba pada pengambilan keputusan yang tepat. Artinya keputusan untuk menerima, menolak, maupun me-lakukan konfirmasi inovasi bersumber dalam diri manusia, tetapi dapat juga dipengaruhi oleh kondisi dari luar. Strategi seperti ini dapat di-jumpai dalam kehidupan manusia di berbagai tempat dengan cara ber-beda-beda untuk menguasai wilayah kekuasaan sebagai ruang hidup

Page 10: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Esuriun Orang Bati

32

seperti dilakukan oleh suku-suku terasing yang mengandalkan berburu dan meramu agar dapat menopang hidup, maka penetapan batas wilayah kekuasaan menjadi penting. Persoalan wilayah sebagai ruang hidup senantiasa dialami oleh masyarakat manusia atau suku-bangsa tertentu di seluruh dunia dari waktu ke waktu.

Wilayah kekuasaan atau ruang hidup yang berhasil dijaga, dilindungi oleh komunitas yang mengalami stigma, secara teoritis apa-bila dikaitkan dengan teori ruang hidup yang dikemukakan oleh Friedrick Ratzel (1844-1904) yaitu setiap makhluk hidup membutuh-kan ruang hidup. Mempertahankan kelangsungan hidup manusia selalu berjuang untuk mendapatkan dan memperluas ruang hidupnya (Hayati dan Yani, 2007 : 10). Perjuangan untuk menjaga dan melindungi ruang hidup yang berisi sumber daya seperti tanah, hutan, manusia, identitas, adat, budaya, dan sebagainya berarti usaha melestarikan hidup menjadi pilihan yang harus dihormati orang luar. Penggunaan teori survival strategy yang digunakan untuk membedah kehidupan komunitas ter-abaikan memiliki relevansi dengan strategi kelangsungan hidup (survival strategy).

Perspektif ini apabila dikaitkan dengan teori yang dikembangkan Hayati dan Yani (2007 : 7) bahwa perilaku politik adalah perilaku dasar dari kehidupan sosial manusia, terutama pada komunitas suku terasing dalam mempertahankan klannya yang dilakukan secara politik oleh kepala suku untuk mempengaruhi pemudanya agar bersedia membela kelompoknya walaupun harus ditukar dengan nyawa. Proses persuasif kepala suku adalah bagian dari teknik berkomunikasi tetapi tindakan kepala suku tersebut dapat dimaknai sebagai tindakan politik untuk melakukan perang dari gangguan suku lain agar ia tetap sebagai kepala suku. Jika kelompok suku itu kalah berperang maka ia akan kehilangan kedudukannya. Jadi politik telah hidup sejak manusia eksis di per-mukaan bumi.

Dalam konteks yang lebih luas, strategi penguasaan wilayah yang dilakukan oleh suku-suku tertentu terus berkembang dan wilayah ke-kuasaan menjadi lebih luas sehingga dapat menjadi cikal bakal muncul-nya wilayah kekuasaan suatu negara setelah melakukan peng-

Page 11: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Telaah Pustaka

33

organisasian terhadap penduduk. Fenomena seperti ini oleh Ratzel (1897) agar wilayah teritorial suatu negara ditetapkan dengan tegas, karena dengan menentukan batas negara dapat ditentukan luas negara dan juga kekuatan nasional negara bersangkutan (Hayati dan Yani, 2007: 11). Pada perkembangan berikutnya yang diwujudkan sebagai tujuan mendasar dari negara sebagai suatu organisasi dari suatu bagian tanah dan orang, untuk membawa semua daerah yang berbeda-beda dari suatu wilayah negara ke dalam suatu unit tunggal yang ter-organisir (Hartshorne dalam Dikshit, 1982 : 20).

Dalam kekuasaan negara Indonesia, sumber daya dipahami se-bagai hak milik (property) yang harus dijaga, dilindungi (protection) secara baik untuk bertahan hidup (survive). Strategi kelangsungan hidup (survival strategy) jangka panjang yang sukses karena tidak me-nimbulkan pertentangan (konflik) dengan orang lain. Survival strategy seperti ini berada dalam sistem adat di mana aspek kelembagaan adat menjadi dunia keseharian. Kesatuan sosio-budaya-ekologi turut mem-bentuk identitas untuk survive dalam stigma. Mengapa survive dalam stigma memberikan nilai positif untuk melindungi hak milik yang utama yaitu tanah? Sebab persoalan tanah menjadi penting pada manusia, suku, bangsa, dan negera karena tanah adalah aset penting dan utama untuk bertahan hidup (survive) pada manusia. Contoh kasus tanah yang krusial dialami Orang Dayak Pitap dalam penguasaan wi-layah meliputi hutan, daerah aliran sungai, gunung, huma, kebun, dan kampung dikuatkan melalui hukum adat. Wilayah yang mereka kuasai dimanfaatkan dengan tata ruangnya sendiri, teknologi keruangan yang boleh jadi sangat khas miliknya. Wilayah penguasaan yang dikelola dengan teknologi ruang ala Pitap ini yang membentuk identitas ke-pitap-an. Manakala tanah wilayah penguasaan ini terganggu akibat aktivitas sepihak, tak pelak identitas kepitapan itu pun terganggu (Budiman, 2007 : 216).

Mengenai persoalan tanah dikemukakan oleh Hildebrand (dalam Brown, et al, 1995) bahwa Orang Indian kerap kali mengatakan bahwa perbedaan seorang kolonis atau seorang penduduk bukan Indian dengan seorang Indian karena si kolonis ingin mewariskan uang bagi

Page 12: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Esuriun Orang Bati

34

anak-anaknya, sedangkan orang-orang Indian ingin mewariskan hutan-hutan bagi anak-anak mereka”. Begitu adalah persepsi manusia terhadap tanah dan hutan seperti pemahaman Orang Dayak Pitap di Kalimantan maupun Orang Indian. Tanah dan hutan merupakan sumber kehidupan yang vital dan telah mengalami proses adaptasi dengan kehidupan manusia di berbagai tempat, sehingga dipahami se-bagai ruang hidup yang perlu dikuasai maupun dilindungi. Manusia, tanah, hutan dan sumber daya lainnya menjadi mata-rantai untuk menghubungkan mereka dengan dunia keseharian yang dipahami sebagai wilayah bernyawa. Contoh lain misalnya, studi pada Orang Bali di mana ide-ide baru diadaptasikan dengan lingkungannya karena ber-bagai faktor sebagai sifat dasar organisasi sosial, otonomi dan kekuatan sentripetalnya. Kompleksitas dan sifat personalistik dalam hubungan sosial menyebabkan setiap individu Orang Bali memandang dirinya sebagai pusat dari suatu pola sentripetal dan kompleksitas. Mereka akan lebih nyaman bergerak dalam pola tersebut, tetapi sebaliknya akan me-rasa gelisah apabila ia mencoba ke luar dari batas pola-pola tersebut adalah pandangan bagaimana Orang Bali mengkonsepsikan dunia (Geertz dalam Poerwanto, 2008 : 254-260). Artinya proses adapatsi hanya dapat dilakukan oleh manusia karena manusia memiliki ratio (akal) dan nurani, kemudian disosialisasikan melalui proses belajar sehingga berwujud dalam kebudayaan.

Adaptasi

Proses adaptasi-integrasi yang dilakukan komunitas untuk me-nyatukan kekuatan mereka guna menguasai wilayah kekuasaan (watas nakuasa) sebagai ruang hidup. Berdasarkan kesepakatan adat dilakukan melalui cara berbeda-beda. Untuk memahami adaptasi-integrasi yang berlangsung dalam kehidupan manusia maupun komunitas berdasar-kan teori fungsionalisme, Parsons mengemukakan bahwa; pertama, masyarakat seperti struktur tubuh manusia yang saling berhubungan satu sama lain, mempunyai berbagai kelembagaan yang saling terkait dan tergantung satu sama lain sehingga konsep sistem yang di-gunakan untuk menggambarkan koordinasi harmonis antar kelembagaan ter-

Page 13: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Telaah Pustaka

35

sebut; kedua, setiap bagian tubuh manusia memiliki fungsi yang jelas dan khas (specific), demikian pula setiap bentuk kelembagaan dalam masyarakat melaksanakan tugas tertentu untuk stabilitas dan per-tumbuhan masyarakat sehingga istilah “fungsi pokok” (fungtional imperative) untuk menggambarkan empat macam tugas utama yang harus dilakukan agar masyarakat tidak “mati” yang dikenal dengan teori AGIL (Adaptation to the environment, Goal attainment, Integration, and Latenty) (Parson dalam Suwarno dan Alvin, 2006 : 10-11).

Teori sistem Parson yang digunakan untuk menganalisis proses adaptasi-integrasi yang berlangsung dalam setiap struktur sosial ber-beda-beda. Hal ini berarti bahwa teori sistem yang dikembangkan Parson dapat dianggap cocok untuk melakukan analisis mendalam ter-hadap komunitas yang menjalani kehidupan tradisional. Kedua konsep (adaptasi-integrasi) menyatu dalam suatu sistem, dan secara teoritis menurut Shadid (1979: 87-146) studi mengenai integrasi hakikatnya identik dengan pemikiran yang mendasari penelitian tentang adaptasi, asimilasi dan sebagainya. Lembaga adat yang mampu mengintegrasikan kelompok-kelompok sosial yang berbeda menjadi kekuatan bertahan hidup (survive) di tengah kondisi terisolasi dan terasing dengan dunia luar telah menciptakan daya adaptasi socio-cultural yang baru melalui proses waktu dan tempat yang cukup panjang dilakukan oleh orang-orang penghuni hutan di mana mereka berusaha menyatukan kekuatan untuk menguasai ruang hidup atau wilayah untuk kelangsungan hidup jangka panjang. Teori adaptasi yang menekankan perubahan respons pada situasi, terbedakan dari penyesuaian sebagai perubahan stimulus, misalnya menghadapi air panas orang menyesuaikan diri dengan cara memasukan tangan yang diselimuti kaos tangan. Ketika orang me-lakukan adaptasi, ia berlatih memasukkan tangan ke tempat air panas dimulai dari suhu terendah yang mampu dimasuki, dan secara bertahap dinaikkan suhu airnya (Fisher dan Baum et al, 1984 69).

Teori ini telah membedah makna adaptasi dan membedakannya dengan penyesuaian untuk memahami proses adaptasi yang dilakukan oleh manusia, sedangkan makhluk lain dari manusia tidak mampu

Page 14: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Esuriun Orang Bati

36

melakukan adaptasi dan bisa dilakukan adalah penyesuaian. Dalam evolusi hayati di mana adaptasi memainkan peran penting mengenai variasi organis, sekularitas itu kelihatan jelas telah dituding oleh para biolog yang berpemikiran filosofis. Biologi mengalami kesulitan me-muatkan arti yang tepat ke dalam istilah adaptasi, tanpa meng-hubungkannya dengan fakta bahwa species yang sedang di-bicarakannya telah mampu bertahan hidup dan berkembang biak. Bagi biologi, kelestarian hidup yang diukur dengan keberhasilan reproduksi merupakan bukti petunjuk adaptasi. Kepunahan merupakan bukti mengenai kegagalan beradaptasi. Manakala istilah adaptasi digunakan sebagai label deskriptif yang menyatakan proses yang terjadi dari waktu ke waktu tidak timbul masalah apa pun (misalnya kemunculan dan radiasi suatu species baru). Tetapi begitu orang coba menggunakan konsep adaptasi sebagai piranti untuk menjelaskan proses kemunculan itu, penjelasannya bersifat tautologis karena pengetian pelestarian hidup sudah tersirat dalam istilah adaptasi. Kira-kira seperti tersiratnya pengertian tidak menikah dalam istilah lajang atau gadis. Konsep adaptasi diartikan sebagai proses yang menghubungkan sistem budaya dengan lingkungannya. Jadi mustahil kiranya berpikir tentang adaptasi tanpa mengacu pada suatu lingkungan tertentu (Kaplan, 1999 : 114).

Penekanan mengenai adaptasi sebagai proses artinya tidak meng-abaikan penyesuaian, tetapi secara teoritis kedua hal ternyata berbeda. Sesungguhnya yang berada dalam proses ini adalah menjaga hubungan adaptasi dengan ekosistem mereka agar bisa bertahan hidup (survive). Walaupun mencapai adaptasi ini pada prinsipnya melalui medium budaya, prosesnya sangat bergantung pada hukum-hukum yang sama dari seleksi alam yang mengatur adaptasi biologis (Keesing, 1981: 146). Orang-orang penghuni hutan dan gunung memiliki nasib yang sama. Untuk itu menyatukan kekuatan merupakan kebutuhan agar eksistensi menjadi kuat, ulet, tangguh (berketahanan) untuk mewujudkan ke-langsungan hidup (survival strategy). Proses adaptasi yang berlangsung dalam kehidupan komunitas terpencil apabila dipahami dari dunia Antropologi Ekologi terdapat konsep yang unik dan relevan yaitu adaptasi (adaptation) di mana latar belakang munculnya teori adaptasi dari ilmu pasti telah menjadi “Dewa” dalam paradigma perkembangan

Page 15: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Telaah Pustaka

37

teori ilmu sosial khususnya Antropologi. Konsep-konsep biologi dan ilmu pasti dijadikan dasar untuk menjelaskan fenomena-fenomena sosial.

Secara epistemologi, teori adaptasi mempunyai sifat alur pe-nalaran yang sangat deduktif pada gejala sosial dengan penalaran bangunnya konseptual terlebih dahulu kemudian banyak mendasar-kannya pada proses penalaran induktif dari gejala empiris ke bangunan konseptual. Ciri deduktif ini memang sangat kental dalam era per-kembangan teori ekologi yang awalnya banyak dibangun oleh para ahli ekologi, seperti Julian Steward, Marvin Harris, Marshal Shalin, dan lainnya, karena domain ilmiah itu adalah terukur atau kebenaran se-sungguhnya adalah ukuran-ukuran yang jelas, menjadi dasar pe-mahaman para Antropolog pada saat itu (Prasetio, 2008).

Pemahaman tentang konsep adaptasi yang datang dari dunia biologi, terdapat 2 point penting yaitu, evolusi genetik, dimana fokus ada pada umpan balik interaksi lingkungan, dan adaptasi biologi yang berfokus pada perilaku dari organisme selama masa hidupnya, di mana organisme tersebut berusaha menguasai faktor lingkungan tidak hanya faktor umpan balik lingkungan, tetapi juga proses kognitif dan level gerak yang terus-menerus. Adaptasi juga merupakan konsep kunci dalam 2 versi teori sistem, baik secara biological, perilaku, dan sosial yang dikemukakan oleh John Bennet bahwa asumsi dasar adaptasi ber-kembang dari pemahaman yang bersifat evolusionari, senantiasa me-lihat manusia selalu berupaya untuk menyesuaikan diri dengan ling-kungan alam sekitarnya, baik secara biologis atau genetik, maupun se-cara budaya. Proses adaptasi dalam evolusi melibatkan seleksi genetik dan varian budaya yang dianggap sebagai jalan terbaik untuk me-nyelesaikan permasalahan lingkungan. Adaptasi merupakan proses yang dinamik karena organisme maupun lingkungan sendiri tidak ada yang bersifat konstan atau tetap (Hardestry dalam Prasetio, 2008). Pendalaman terhadap teori adaptasi untuk menemukan strategi adap-tasi pada manusia untuk bertahan hidup (survival strategy) telah ber-langsung dalam bentuk adaptasi kultural menuju adaptasi sosial se-hingga berbagai sekat yang longgar dapat direkatkan.

Page 16: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Esuriun Orang Bati

38

Tahapan adaptasi yang berlangsung antara manusia dengan ling-kungan, secara teoritis dapat dikatakan telah melalui proses yang dapat diklasifikasikan ke dalam 4 tipe tahapan yang sesuai yaitu; (1) Tahapan Phylogenetic yang bekerja melalui adaptasi genetik individu lewat se-leksi alam; (2) Modifikasi fisik dari Phenotype berupa ciri-ciri fisik; (3) Proses belajar, dan; (4) Modifikasi kultural. Bagi Ellen, modifikasi budaya menjadi supreme atau yang teratas bagi homo sapiens, di mana adaptasi budaya dan transmisi informasi dikatakannya sebagai pemberi karakter spesifik yang dominan. Manusia dilahirkan dengan kapasitas untuk belajar seperangkat sosial dan kaidah-kaidah budaya yang tidak terbatas. Fokus perhatian tentang adaptasi seharusnya dipusatkan pada proses belajar dan modifikasi budayanya. Dasar pembagian keempat tipe adaptasi di atas, berdasarkan laju kecepatan mereka untuk dapat bekerja secara efektif. Seperti adapatasi phylogenetik, dibatasi oleh tingkatan bagaimana populasi dapat berproduksi dan berkembang biak. Modifikasi fisik bekerja lebih cepat, akan tetapi tetap tergantung pada perubahan somatik dan akomodasi yang dihubungkan dengan per-tumbuhan fisik dan reorganisasi dari tubuh, sedangkan proses belajar tergantung dari koordinasi sensor motor yang ada dalam pusat sistem syaraf di mana ada proses uji coba variabel dalam waktu proses belajar yang ditentukan oleh macam-macam permasalahan dapat ter-selesaikan. Adaptasi kultural sebagai proses bekerja dianggap lebih cepat dibandingkan ke 3 proses di atas karena ia dianggap bekerja me-lalui daya tahan hidup populasi di mana masing-masing komuniti mempunyai daya tahan yang berbeda berdasarkan perasaan akan re-siko, respon kesadaran, dan kesempatan karena sifat-sifat budaya mem-punyai koefisiensi seleksi, variasi, perbedaan kematian-kelahiran, dan sifat budaya yang bekerja dalam sistem biologi (Ellen dalam Prasetio, 2008).

Apabila dikaitkan dengan perkembangan yang berlangsung dalam post-modern yang berdebat tentang soal pencarian kebenaran sejati, dan dari mana kebenaran itu datang. Dalam perkembangan tersebut relevansi teori adaptasi kembali dibicarakan. Namun terdapat beberapa kritik penting yang patut dialamatkan pada teori adapatasi antara lain; (1) Tidak dipungkiri bahwa teori adaptasi muncul akibat

Page 17: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Telaah Pustaka

39

pemahaman ketika ilmu dapat dilakukan supreme jika ia bisa me-nunjukan sisi keilmiahannya, dalam arti ketika itu ilmiah = terukur jelas, sehingga acuannya adalah ilmu pasti atau ilmu alam. Demikian juga dalam teori adaptasi ini, ia menunjukan bahwa perbedaan tahapan dan tataran tingkatan kebudayaan manusia mana yang dianggap paling unggul. Ini terkait dengan tingkat strategi adaptasi masing-masing kebudayaan komunikasi tesebut. Aroma paham evolusionisme memang sangat kental di sini. Ukuran-ukuran kemajuan dalam perubahan juga tampak dalam teori adaptasi ini. Misalnya bagaimana perbedaan stra-tegi suatu peradaban terhadap lingkungan sehingga ia berlanjut maju dan substain, dan kebudayaan mana yang kemudian mati sedemikian rupa karena tidak mampu beradaptasi. Ada pandangan akan tingkatan perbedaan kebudayaan. Pertanyaannya adalah adapatasi manusia ter-hadap alam seperti apakah yang mampu dianggap merubah manusia ke arah yang lebih baik daripada sebelumnya? dan siapa yang menentukan apa dan mana yang baik untuk suatu komuniti tertentu itu; (2) Dalam teori adaptasi ini peran manusia secara kultural agak dikesampingkan. Lebih banyak yaitu bagaimana lingkungan atau alam disebut sebagai faktor utama perubahan dalam diri manusia tersebut. Hal ini seakan memberikan penjelasan manusia mempunyai andil yang kecil dalam perubahan dan mengikuti insting atas perubahannya terhadap alam. Bertolak belakang dengan pandangan yang menyatakan bahwa se-sungguhnya manusia sendirilah kunci dari perubahan itu; (3) Pandang-an alur penalarannya menurut saya sangat deduktif. Tentu saja ini bukan benar. Maksudnya memang ingin seobjektif mungkin untuk me-menuhi kaidah keilmiahannya, namun tidak salah juga menjadi subjektif (Prasetio, 2008).

Proses adaptasi dapat dianggap final karena hasil yang diperoleh lebih menjanjikan dari tekanan seleksi variasi di mana subjek dari ting-kat variasi resistensi pada adaptasi dalam tujuan yang berbeda. Adaptasi tidak selalu dihubungkan pada penegasan lingkungan secara normatif, tetapi dalam beberapa lingkungan yang extreme, adaptasi seharusnya dilihat sebagai respon kultural atau proses yang terbuka pada proses modifikasi di mana penanggulangan dengan kondisi untuk kehidupan reproduksi selektif dan memperluasnya. Ukuran-ukuran bekerja ber-

Page 18: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Esuriun Orang Bati

40

dasar pada adaptasi yang dilibatkan, dan lebih penting lagi pada resiko yang mana perubahan adalah adaptif (Hardestry dalam Prasetio, 2008).

Mengapa populasi menjadi faktor penting dalam hubungan dengan lingkungan yang teradaptasi, sebab menghadapi kondisi masyarakat yang terabaikan, terisolasi dan terasing, ternyata adaptasi telah memainkan peran penting untuk mendukung proses mengelola dan memanfaatkan seluruh sumber daya alam yang dimiliki untuk ber-ahan hidup (survive). Mekanisme adaptasi nilai berperan penting untuk menghubungkan elemen kehidupan sosial. Dalam hal ini dapat dikemukakan bahwa terdapat faktor lain yang turut berperan yaitu cuaca dan iklim yang ada cukup menentukan perolehan makanan di alam bebas melalui mekanisme dalam membatasi ukuran maupun ruang kehidupan untuk memenuhi kebutuhan pemburu-peramu yang mengalami nasib terabaikan. Pemahaman tentang kehidupan populasi merupakan hal penting dalam ekologi karena menjaga keseimbanagn antara ketersediaan sumber alam dan pemakaiannya (Spradley dan Mc Curdy; Stanley A. Freed dan Ruth S. Freed dalam Prasetio, 2008). Faktor yang di-kemukakan adalah benar karena lingkungan alam sangat berbeda dengan komunitas lainnya yang mendiami Pulau Seram. Fenomena ini apabila dikaitkan dengan pendalaman mem-butuhkan daya adaptasi berbeda pada populasi senantiasa melihat hubungan dengan habitatnya. Konsep dari adaptasi ini adalah his-torikal. Jadi berbicara tentang populasi beradaptasi adalah hubungan dengan habitatnya yang sesuai di mana di mana tempatnya untuk hidup, atau membuat dirinya sendiri lebih menyesuaikannya untuk hidup dalam habitat (Cohen dalam Prasetio, 2008).

Makna yang dapat dipetik dari proses adaptasi manusia dengan lingkungan di mana mereka berada dapat dikatakan bahwa kelompok manusia telah beradaptasi dengan habitatnya, ketika itu juga telah ter-cipta hubungan yang bergairah dengan habitatnya. Adaptasi me-rupakan daya tahan kelangsungan hidup kelompok, reproduksi, dan fungsi-fungsi yang efektif agar elemen-elemen ini bekerja sesuai dengan tugasnya. Pencapaian hubungan yang bergairah merupakan hasil modifikasi resiprokal dalam budaya dan habitat melalui pe-

Page 19: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Telaah Pustaka

41

rubahan dalam sistem energi kelompok dan organisasi serta hubungan sosial selama periode yang panjang.

Aspek historikal dari proses adaptasi adalah apa yang kita sebut dengan evolusi kebudayaan, atau yang dimaksud dengan proses dari perubahan dilihat dari kebudayaan. Dalam Antropologi ketika ber-bicara tentang adaptasi, kita memfokuskan diri pada kelompok sosial, tidak dengan individual. Kelompok ini (institusi atau organisasi) tidak secara langsung teramati, mereka merupakan abstraksi dari perilaku individual yang diamati. Lebih spesifik, kita berbicara tentang institusi yang ada dalam masyarakat, tetapi yang kita pelajari adalah individu. Di sana ada dua alasan prinsip untuk ini, yang berhubungan antara satu dengan yang lain. Pertama adalah pertimbangan praktikal dan yang ke-dua adalah teorikal (Cohen dalam Prasetio, 2008). Dalam prakteknya, adaptasi manusia tehadap lingkungan yang khusus melibatkan kom-binasi dari tipe-tipe modifikasi yang berbeda (Roy Elen dalam Prasetio, 2008).

Dinamika adaptasi yang berkembang mengisyaratkan bahwa ada dua macam perilaku yang adaptif bersifat indiosyncratic (cara-cara unik individu dalam mengatasi permasalahan lingkungan) dan adaptasi budaya yang dipolakan, kemudian dibagi rata sesama anggota ke-lompok dan tradisi. Bagi Hardestry, adaptasi dilihat sebagai proses pe-ngambilan ruang perubahan, di mana perubahan tersebut ada dalam perilaku kultural bersifat teknologikal (technological), organisasional, dan ideological. Sifat-sifat kultural mempunyai koefisiensi seleksi seperti layaknya seleksi alam, terdapat unsur variasi, perbedaan tingkat kematian dan kelahiran, dan sifat kultural yang bekerja melalui sitem biologi. Proses adaptif yang aktual sedapat mungkin merupakan kom-binasi dari beberapa mekanisme biologis dam modifikasi budaya ter-sebut di atas, sehingga adaptasi dapat disebut sebagai sebuah strategi aktif manusia. Adaptasi dapat dilihat sebagai usaha untuk memelihara kondisi kehidupan dalam menghadapi perubahan. Definisi adaptasi ter-sebut kemudian bekaitan erat dengan tingkat pengukuran yang di-hubungkan dengan tingkat keberhasilannya agar dapat bertahan hidup. Adaptasi seharusnya dilihat sebagai respon kultural atau proses yang

Page 20: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Esuriun Orang Bati

42

terbuka pada proses modifikasi di mana penanggulangan kondisi untuk kehidupan reproduksi selektif dan memperluasnya (Hardestry dalam Prasetio, 2008).

Mengacu pada perilaku adaptif yang ada pada manusia, tampak bahwa desain pada pencapaian tujuan dan kepuasan kebutuhan, ke-inginan, konsekuensi dari perilaku untuk individu, masyarakat, dan lingkungan. Ada dua mode analitik utama pada perilaku yaitu; (1) Tindakan individu di desain untuk meningkatkan produktivitasnya; (2) Model yang diperbuat oleh perilaku interaktif individu dengan individu lain dalam group, yang biasanya dibangun oleh aturan yang bersifat resiprositas. Perilaku interaktif tersebut didesain juga untuk memenuhi tujuan akhir dan beberapa menjadi instrumental. Berdasar-kan pemahaman tentang mekanisme adaptasi yang dikemukakan perlu diberikan penekanan pada konsep kunci adaptasi pada tingkat sosial individu kemudian menjadi perilaku adaptif, tindakan strategi dan sintesis dari keduanya yang disebut strategi adaptif. Perilaku adaptif merupakan term yang lebih umum dan mengacu pada bentuk perilaku yang menyesuaikan pada tujuan, pencapaian kepuasan, dan putusan. Tindakan strategi dianggap lebih spesifik dan mengacu pada ke-pentingan khusus yang mempunyai sang aktor. Dalam tindakan stra-tegi terdapat konsep yang meliputinya seperti rasionalitas, maksimali-sasi, orientasi pencapaian, homo fabel dan lain-lain. Strategi adaptif, adalah komponen dari tindakan strategi atau tindakan spesifik dengan tingkatan prediksi keberhasilan, diseleksi oleh individu dalam me-nentukan keputusannya (Hardestry dalam Prasetio, 2008).

Strategi adaptasi yang dikembangkan oleh manusia tidak lain untuk mempertahankan kelangsungan hidup (survive). Perhatian besar terhadap hal ini telah diberikan oleh Sosiolog maupun Antropolog untuk membedakan antara konsep masyarakat dan konsep ke-budayaan. Masyarakat digunakan untuk menunjukkan kepada hubung-an yang terpolakan yang dicapai di antara orang-orang. Kebudayaan seringkali dianggap sebagai hasil dari hubungan yang terpolakan tersebut, yakni berbagai teknologi, kepercayaan, nilai, dan aturan yang berfungsi sebagai pedoman, sekaligus sebagai hasil dari hubungan yang

Page 21: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Telaah Pustaka

43

terpolakan (Harris, 1985; Lenski dan Lenski, 1987; Sanderson, 2003 : 44 - 45).

Jadi signifikansi kebudayaan adalah sifat adaptifnya untuk men-ciptakan bagi manusia sebuah alat adaptasi baru terhadap kondisi ke-hidupannya. Pada tingkat phylogenetik berkembang dari proses evolusi biologis yang panjang, dan ketika masyarakat berkembang ke tingkat kompleksitas yang lebih tinggi, berbagai kondisi dikembangkan untuk lahirnya sistem simbol dari sistem penyebutan, dan kebudayaan itu sendiri muncul sebagai sebuah hasil evolusioner. Ketika semua ini terjadi, tahapan telah sampai kepada perkembangan socio-cultural di mana kebudayaan menyaingi, dan akhirnya menggantikan biologi se-bagai basis utama adaptasi manusia (Sanderson, 2003 : 45). Penekanan terhadap adaptasi manusia sebagai kemampuan populasi untuk me-nyatukan diri dengan lingkungan alam melalui proses adaptasi untuk mencapai kesempurnaannya karena secara ekologi, manusia adalah bagian integral lingkungan hidupnya. Kelangsungan hidup hanya mungkin dalam batas kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan (Soemarwoto, 1994 : 38). Proses integrasi yang berlangsung dalam sistem sosial, lingkungan, dan sebagainya adalah mata-rantai untuk mewujudkan nilai integrasi yang harmoni.

Integrasi

Hakikat integrasi pada lingkungan komunitas melalui cara mem-bangun solidaritas sosial pada tingkat individu maupun kelompok untuk menjalani kehidupan bersama. Fenomena terintegrasinya ber-bagai kelompok yang berbeda melalui teori Vervei dan Jonker (1973: 10 f) bahwa tingkat integrasi yang dicapai yaitu dimulai dari integrasi individual yang berarti sejauh mana anggota-anggota individu dari ke-lompok minoritas ikut ambil bagian dalam masyarakat penerima, dan integrasi kolektif yaitu sejauh anggota-anggota individu masih mem-perlihatkan partisipasi mereka dalam kelompok etnisnya. Teori ter-sebut menunjukkan bahwa proses integrasi yang dicapai karena lahir dari pemahaman bersama di antara individu maupun kelompok, mau-pun komunitas sebagai orang satu asal. Walaupun makna integrasi

Page 22: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Esuriun Orang Bati

44

sebagai kualitas budaya yang tidak sempurna tetapi juga hadir terus-menerus suatu sifat struktural yang berbeda dari relatif tinggi ke relatif rendah. Itu berarti ada nilai yang penting sebagai pengikat tali in-tegrasi, dan menjadi basis dalam sistem nilai atau ideologi. Ideologi berkaitan dengan nilai dasar yang dijadikan sebagai pedoman hidup bermasyarakat, karena sebuah ideologi didefinisikan sebagai bagian dari imagennya mengenai dunia (cara pandang sesorang terhadap dunia) yang dianggap sebagai hal yang penting bagi identitasnya atau bagi image (gambaran cita-cita dan citra) dirinya sendiri.

Hal ini berarti bahwa hakikat nilai atau memiliki basis ideologi yang kuat dalam menyelenggarakan kehidupan bersama berada dalam suatu sistem nilai budaya bersama karena terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar warga masyarakat, mengenai hal-hal yang harus mereka anggap amat bernilai dalam hidup. Suatu sistem nilai budaya biasanya berfungsi sebagai pedoman tertinggi bagi kelakuan manusia. Sistem-sistem tata kelakuan manusia lain yang tingkatnya lebih konkrit, seperti aturan-aturan khusus, hukum dan norma-norma, semuanya berpedoman pada sistem nilai-budaya itu (Levine, 1968; Boulding, 1964; Koentjaraningrat, 2002).

Dalam studi tentang integrasi pada lingkungan masyarakat yang berbeda latar belakang socio-cultural (Usman, 1996), Geertz me-nyebut masyarakat yang dapat terintegrasi di atas kesepakatan sebagian besar anggotanya terhadap nilai-nilai sosial tertentu yang bersifat fundamental. Integrasi semacam itu lebih sering tercipta dalam ke-hidupan masyarakat yang tergolong majemuk atau lazim disebut poly-communal, yakni suatu masyarakat yang ditandai oleh segmentasi ber-bagai macam kelompok sosial dengan sub kebudayaan sendiri yang unik. Masyarakat semacam itu ditandai oleh tingkat diferensiasi fung-sional yang tinggi dengan struktur sosial yang terbelah ke dalam ins-titusi yang tidak bersifat komplementer. Dalam kondisi semacam ini kesepakatan terhadap nilai sosial tertentu yang bersifat fundamental sangat krusial karena mampu meredam kemungkinan berkembangnya konflik-konflik ideologi akibat dari kebencian atau antipathy terhadap nilai-nilai kelompok lain (Amal dan Armawi, 1996 : 80-81).

Page 23: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Telaah Pustaka

45

Teori di atas memiliki nilai sosial yang fundamental karena di-bangun atas dasar kesepakatan secara bersama untuk mempertahankan kelangsungan hidup (survival strategy). Integrasi atau usaha menyatu-kan kelompok yang berbeda (majemuk) yang berciri komunal dengan basis nilai sehingga merupakan budaya yang unik dan khas. Kesepakat-an yang mampu mengatasi konflik dan mencegah pertikaian di antara mereka yang berbeda latar belakang sosial-budaya, dan mencapai final karena tali pengikat integrasi dilakukan proses pelembagaan dalam adat.

Kelembagaan

Diskusi teoritis mengenai kelembagaan adat yang bersifat non formal sangat menentukan setiap orang atau kelompok sosial harus dan tidak harus mengerjakan sesuatu yang meliputi hak dan kewajiban se-cara sukarela tanpa intervensi pihak luar. Lembaga adat memiliki kaitan dengan aturan (norma) sosial, adat, dan sebagainya untuk me-nyelenggarakan kehidupan bermasyarakat. Menurut Hamilton (dalam Abdulsyani, 2007: 76) lembaga merupakan tata kehidupan kelompok yang apabila dilanggar akan dijatuhi pelbagai derajat sanksi. Oleh Koentjaraningrat, lembaga adalah suatu sistem norma khusus yang me-nata suatu rangkaian tindakan berpola guna memenuhi suatu keperlu-an khusus dari manusia dalam kehidupan masyarakat (Ibrahim, 2003: 87).

Berdasarkan pendapat tersebut di atas tampak jelas bahwa dalam lembaga terdapat; (1) Sistem norma yang disepakati bersama oleh se-luruh anggotanya; (2) Dalam sistem norma terdapat tindakan berpola; (3) Tindakan berpola tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia dalam menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat. Hal ini berarti bahwa lembaga adat selain digunakan sebagai strategi bertahan hidup (survival strategy), ternyata lembaga tersebut memilik fungsi, peran, dalam menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat dan menjadi media interaksi antara manusia (individu) dan kelompok ber-

Page 24: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Esuriun Orang Bati

46

dasarkan adat, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan lainnya untuk me-wujudkan kelangsungan hidup jangka panjang.

Dalam perspektif lain mengenai kelembagaan, Arifin (2002 : 13-15) mengemukakan bahwa lembaga mencakup dua demarkasi pen-ting yaitu norma dan konvensi (norms and convention), serta aturan main (rules of the game). Pendapat tentang kelembagaan yang di-kemukakan secara rinci memiliki ruang lingkup antara lain:

(1) Kelembagaan adalah kreasi manusia (human creation) sebagai hasil akhir dari upaya atau kegiatan manusia yang dilakukan secara sadar; (2) Kumpulan individu (goup of individuals) artinya setidaknya dua orang atau bagi seluruh anggota masyarakat; (3) Dimensi waktu (time dimension) artinya kelembagaan tidak diciptakan hanya untuk satu atau dua momen pada suatu kuran waktu tertentu saja; (4) Dimensi tempat (place dimension) suatu lingkungan fisik adalah salah satu determinan penting dalam aransemen kelembagaan yang juga dapat berperan penting dalam pembentukan suatu struktur kelembagaan; (5) Aturan main dan norma (rules and norms) kelembagaan itu ditentukan oleh kon-figurasi aturan main dan norma yang telah dirumuskan oleh suatu kelompok masyarakat; (6) Pemantauan dan penegakan aturan (monitoring and enforcement) aturan main dan norma harus dipantau dan ditegakkan oleh suatu badan yang kompeten, atau oleh masyarakat secara internal pada tingkat individu; (7) Hierarki dan jaringan (nested levels and intitutions) kelem-bagaan bukanlah struktur yang terisolasi tetapi merupakan bagian dari hierarki dan jaringan atau sistem kelembagaan yang lebih kompleks; (8) Konsekuensi kelembagaan (consequences of insti-tutions) meningkatkan rutinitas, keteraturan atau tindakan manusia, memiliki pengaruh bagi terciptanya suatu pola inter-aksi yang stabil yang diinternalisasi oleh setiap individu.

Lembaga adat mampu mengintegrasikan kelompok orang yang

berbeda dalam kesatuan teritorial genealogis karena memiliki sejarah asal-usul yang sama karena tidak terbatas oleh waktu, dan tidak ter-sekat. Dalam adat terdapat aturan main yang disepakti secara bersama dan berfungsi dan berperan sebagai media pada masing-masing orang, marga, dan kelompok sosial dalam ikatan komunitas yang solid. Mereka melakukan hal ini atas dasar kesadaran bersama atau kesadaran kolektif tanpa ada unsur paksaan dari pihak luar. Sistem penegakan norma atau aturan dalam adat mengikuti pola pewarisan tanpa me-

Page 25: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Telaah Pustaka

47

nimbulkan pertentangan. Ketaatan anggota masyarakat dalam me-megang teguh kesepakatan (komitmen) menjadi sumber kekuatan untuk bertahan hidup (survival strategy) jangka panjang, terutama menjaga dan melindungi eksistensi yaitu jati diri atau identitas.

Identitas Identitas memiliki basis nilai yang penting bagi kelangsungan

hidup suatu komunitas. Identitas sebagai sukubangsa atau kelompok etnik (ethnic group) menjadi penting pada kutub yang berbeda. Mengenai identitas kesukubangsaan atau kelompok etnik (ethnic group), untuk kepentingan interaksi sosial menjadi sangat penting se-hingga siapa sedang berhadapan dengan siapa menjadi jelas. Untuk ke-pentingan diskusi teoritis perlu dikemukakan bahwa secara akademis konsep tersebut memiliki makna identitas kesukubangsaan atau ke-lompok etnik (ethnic group). Konsep tentang kelompok etnik menurut Narrol (1964) yaitu populasi yang secara biologis mampu berkembang biak dan bertahan, mempunyai nilai-nilai budaya yang sama, memiliki kebersamaan dalam suatu bentuk budaya, membentuk jaringan ko-munikasi dan interaksi sendiri, dan menentukan ciri kelompok sendiri yang diterima oleh kelompok lain (Barth, 1969 : 11).

Berdasarkan teori Barth di atas, melalui studi untuk memahami identitas perlu ditegaskan melalui pernyataan ilmiah bahwa kelompok etnik (ethnic group) atau sukubangsa yang telah menjalani kehidupan bermasyarakat mesti memiliki identitas sebagai manusia maupun sukubangsa. Konsep orang ilang-ilang (hilang-hilang) adalah bentuk stigma orang luar. Artinya perspektif sukubangsa atau kelompok etnik (ethnic group) yang di stigmatisasi, ternyata ada dalam kenyataan karena mereka memiliki identitas dan teritorial. Maknanya yaitu, secara biologis mereka mampu berkembang biak dan terus bertahan hidup (survive) karena ada kesamaan dalam adat, nilai, budaya dan sebagainya. Keasadaran akan rasa kebersamaan dalam bentuk budaya, membentuk jaringan komunikasi dan interaksi sosial sendiri di kalangan mereka maupun dengan orang lain tetapi eksistensi mereka

Page 26: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Esuriun Orang Bati

48

tidak pernah diketahui oleh orang luar karena ada upaya untuk me-nyembunyikan identitas kesukubangsaan dalam berkomunikasi, ter-dapat bahasa lokal sebagai simbol-simbol untuk berkomunikasi dan hal ini terbedakan dari suku-suku lainnya.

Secara fisik, keberadaan dari ciri-ciri fisik setiap sukubangsa sangat berbeda. Kondisi tersebut apabila dikaitkan dengan teori Barth (1969 : 11-12) bahwa kondisi ini terjadi dengan sendirinya akibat faktor isolasi, sehingga tiap-tiap kelompok etnik mengembangkan budaya dan bentuk sosialnya dalam kondisi terisolasi. Kondisi isolasi terbentuk akibat faktor ekologi setempat yang menyebabkan ber-kembangnya adaptasi dan daya cipta dalam kelompok tersebut sehingga me-ngakibatkan berbagai bangsa yang berbeda di dunia, dan tiap bangsa hidup dengan budayanya sendiri, dan membentuk masyarakatnya sendiri.

Artinya, memahami tentang identitas kelompok etnik (ethnic group) sebagai suatu tatanan, untuk mengetahui sifat dan kategori dari ciri asal-usul, sosial, dan lainnya. Tatanan ini terbentuk apabila se-seorang menggunakan identitas etnik (seperti; sebutan Anak Esuriun) yang digunakan untuk mengkategorikan dirinya ketika berada dengan orang lain berdasarkan nilai, sejarah asal-usul, tradisi, adat-istiadat, budaya, dan lainnya. Melalui cara menyembunyikan identitas Bati ke-tika berada di lingkungan Tana (Tanah) Bati (Atamae Bati) adalah bentuk adaptasi lingkungan yang arif untuk tujuan interaksi dan terus dijaga. Dinamika interaksi untuk saling menjaga dan melindungi ter-wujud melalui perilaku arif. Maksunya yaitu, dalam interaksi sosial yang diutamakan adalah damai dan tidak menimbulkan pertentangan (konflik) dengan orang luar. Cara hidup yang arif tersebut dimaknai sebagai survival strategy, karena tidak menimbulkan kecurigaan, ke-panikan, dan sebagainya dengan orang luar pada saat berinteraksi. Dipastikan bahwa pengetahuan arif untuk menghindari stigma di-pelajari dari pendahulunya, dan digunakan sebagai modal untuk ber-tahan hidup (survive).

Page 27: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Telaah Pustaka

49

Modal Sosial

Terbentuknya modal sosial membutuhkan proses yang cukup panjang dalam kehidupan suatu komunitas. Modal sosial tidak dapat lahir secara mendadak. Modal sosial digunakan oleh komunitas yang bersangkutan untuk bertahan hidup (survival strategy). Strategi mem-bangun diri, kelompok, komunitas, dan lingkungan membutuhkan modal sosial yang solid. Nilai-nilai dasar yang memiliki basis adat dan kultural untuk penguatan modal sosial (social capital) karena berkaitan dengan kepercayaan, norma, dan jaringan. Diskusi teoritis tentang modal sosial (social capital) dimaksudkan untuk menemukan basis pe-nguatan dalam modal sosial (social capital). Analisis mengenai modal sosial (social capital) yang dilakukan olek pemikir terkemuka yaitu Boundieu, Coleman, dan Putnam lebih lanjut dikemukakan oleh Field (2010) bahwa: pemikir pertama, yaitu Bourdieu mengenai modal sosial (social capital) yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1973 tentang cara anggota kelompok profesional mengamankan posisi mereka (dan anak-anak mereka).

Pada awalnya Boundieu mendefinisikan modal sosial sebagai modal hubungan sosial yang jika diperlukan akan memberikan du-kungan-dukungan bermanfaat. Modal harga diri dan kehormatan yang seringkali diperlukan jika orang ingin menarik para klien ke dalam posisi-posisi yang penting secara sosial, dan yang bisa menjadi alat tukar, misalnya dalam karier politik. Pendapat ini kemudian diperbaiki oleh Bourdieu dan Wacquant tahun 1992 yang mengatakan modal sosial adalah jumlah sumber daya, aktual atau maya, yang berkumpul pada seorang individu atau kelompok karena memiliki jaringan tahan lama berupa hubungan timbal-balik, perkenalan dan pengakuan yang sedikit banyak terinstitusionalisasi. Pemikir kedua yaitu Coleman yang mengemukakan modal sosial sebagai seperangkat sumber daya yang melekat pada hubungan keluarga dan dalam organisasi sosial ko-munitas yang berguna bagi perkembangan kognitif atau sosial anak atau orang yang masih muda. Sumber-sumber daya tersebut berbeda bagi orang-orang yang berlainan dan dapat memberikan manfaat pen-ting bagi anak-anak dan remaja dalam perkembangan modal manusia.

Page 28: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Esuriun Orang Bati

50

Pemikir ketiga, yaitu Putnam yang mengemukakan modal sosial me-rujuk pada bagian dari organisasi sosial, seperti kepercayaan, norma, dan jaringan, yang dapat meningkatkan efisiensi masyarakat dengan memfasilitasi tindakan-tindakan terkoordinasi.

Berdasarkan pemikiran dari ketiga pemikir mengenai modal so-sial (social capital) dapat dikemukakan lebih lanjut bahwa Boundieu mencatat modal sosial dapat bertahan, maka individu harus meng-upayakan. Komentar awal Boundieu membawanya pada sketsa yang lebih panjang tentang modal sosial (social capital) yang banyak mem-bahas konsep ini sebagai tambahan atau bahkan dimensi modal budaya seperti dikemukakan oleh Robbins (2000). Pada hakikatnya pemikiran Boundieu tentang modal sosial (social capital) bahwa pokok perhatian-nya dahulu dan sekarang adalah pemahaman atas hierarki sosial. Dalam banyak hal Bourdieu membahas gagasan yang banyak dipengaruhi oleh sosiologi Marxis, dan menurutnya modal ekonomi adalah akar dari semua jenis modal lain. Ia tertarik pada bagaimana hal ini dapat di-kombinasikan dengan bentuk modal lain untuk menciptakan dan me-reproduksi ketimpangan. Mustahil memahami dunia sosial tanpa me-ngetahui peran modal dalam segala bentuknya, dan tidak sekedar dalam satu bentuk yang diakui oleh teori ekonomi. Dalam beberapa hal ia berargumen bahwa transmisi modal budaya merepresentasikan bentuk paling efektif transmisi modal melalui warisan, karena sebagian besar hal tersebut tersembunyi dan dengan demikian tidak mudah di-kendalikan, sementara itu warisan kekayaan ekonomi dapat dikendali-kan melalui kebijakan pajak. Untuk itu istilah modal sosial adalah satu-satunya cara untuk menjabarkan prinsip-prinsip aset sosial yang men-jadi kentara manakala individu yang berlainan memperoleh hasil yang tidak setara dari modal yang ekuivalen (ekonomi atau budaya) dan se-jauh mana mereka mampu memobilisasi modal dari suatu kelompok (keluarga, mantan siswa sekolah elite, klub pilihan, kebangsawanan), dan lain sebagainya.

Pemikiran Coleman bagaimana modal sosial mencapai hasil yang diharapkan. Secara rasional Coleman berasumsi bahwa aktor individu biasanya mengejar kepentingan diri mereka sendiri. Jika mereka me-

Page 29: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Telaah Pustaka

51

milih bekerja sama, itu semua karena hal tersebut menjadi ke-pentingannya. Untuk itu dalam teori pilihan rasionalnya, kerja sama adalah perkecualian dari aturan longgar tentang aktor yang menyendiri dan penuh perhitungan, yang sibuk mengejar kepentingannya sendiri. Esai Coleman tentang modal sosial dan modal manusia, hubungan di-pandang membangun sumber modal dengan membantu menciptakan kewajiban dan harapan antar aktor, membangun kejujuran lingkungan sosial, membuka saluran informasi, dan menetapkan norma yang me-nopang bentuk-bentuk perilaku tertentu sambil menerapkan sanksi pada calon-calon penunggang bebas. Coleman menganggap kedekatan yaitu adanya hubungan yang memberikan manfaat timbal balik antar aktor dan institusi berbeda sebagai suatu yang esensial dalam menjalan-kan kewajiban, namun juga dijalankannya sanksi.

Pemikiran Putnam memperkenalkan antara dua bentuk dasar modal sosial: menjembatani (atau inklusif) dan mengikat (atau eks-klusif). Modal sosial yang mengikat cenderung mendorong identitas eksklusif dan mempertahankan homogenitas. Modal sosial yang men-jembatani cenderung menyatukan orang dari beragam ranah sosial, dan masing-masing bentuk tersebut membantu menyatukan kebutuhan yang berbeda. Modal sosial yang mengikat adalah sesuatu yang baik untuk menopang resiprositas spesifik dan memobilisasi solidaritas, dan pada saat yang sama menjadi semacam perekat terkuat dalam me-melihara kesetiaan dalam kelompok dan memperkuat identitas-identitas spesifik. Teori modal sosial dari Putnam menunjukkan ke-samaan menonjol dengan pandangan Durkheimian tentang solidaritas. Tidak seperti Coleman, Putnam secara terang-terangan menolak pe-misahan yang dilakukan Tonnies antara komunitas organik (gemein-schaft) dengan organisasi sosial teratur (gesellschaft) dengan kesimpul-an bahwa modernitas adalah musuh dari keberadaban. Studi yang di-lakukan Putnam di Italia menunjukkan bahwa ranah sipil yang paling minim adalah wilayah desa-desa tradisional di selatan. Kekerabatan kalah penting sebagai sumber solidaritas bila dibandingkan dengan kenalan dan keanggotaan bersama asosiasi sekunder, yang dapat me-nyatukan individu dari kelompok-kelompok kecil yang berlainan dan terpisah satu sama lain. Ia juga berargumen bahwa ikatan vertikal bisa

Page 30: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Esuriun Orang Bati

52

jadi kalah membantu bila dibandingkan dengan ikatan horisontal, karena bisa jadi melemahkan kapasitas bagi tindakan kolektif dan cen-derung menciptakan kecurigaan.

Bertolak dari ketiga pemikiran mengenai modal sosial yang di-kemukakan Bourdieu, Coleman, dan Putnam secara berlainan tidak membedakan antara tipe modal sosial. Selanjutnya Michael Woolcook (2001) membuat pemisahan modal sosial (social capital) antara lain; (a) Modal sosial yang mengikat, yang berarti ikatan antara orang dalam situasi yang sama, seperti keluarga dekat, teman akrab dan ukuran tetangga; (b) Modal sosial menjembatani, yang mencakup ikatan yang lebih longgar dari beberapa orang, seperti teman jauh dan rekan se-kerja; (c) Modal sosial yang menghubungkan, yang menjangkau orang-orang yang berada pada situasi berbeda, seperti mereka yang sepenuh-nya ada di luar komunitas, sehingga mendorong anggotanya me-manfaatkan banyak sumber daya dari pada yang tersedia di dalam komunitas (Field, 2010: 68).

Kategori modal sosial (social capital) dapat menjembatani ke-hidupan suatu komunitas berdasarkan pertalian kekerabatan yang ber-sifat teritorial genealogis menunjukkan bahwa bonding social capital di kalangan komunitas makin kuat karena relasi saling percaya senantiasa tercipta, keterikatan pada norma sebagai aturan main, dan terbentuk jaringan yang makin kuat, sedangkan bridgin social capital dengan orang luar berada pada posisi yang lemah karena unsur-unsur modal sosial tidak memiliki tempat berlabuh yang sesuai. Untuk itu me-mahami relasi saling percaya yang kuat, norma, dan jaringan dapat memperkuat identitas yang memberikan penguatan pada modal sosial (social capital) yang solid dalam komunitas. Suatu hal yang turut memperkuat unsur-unsur modal sosial adalah suasana batin sebagai dasar kejiwaan yang membentuk identitas. Relasi sosial yang terbangun sangat kuat dan tidak pernah diketahui orang luar adalah ikatan batin yang sesungguhnya merupakan bagian penting sehingga memiliki fungsi dan peran untuk menguatkan modal sosial (social capital) kahal ini tumbuh dari dalam diri (kejiwaan) dan terimplementasi ke luar membentuk sebagai strategi membangun diri dan komunitas.

Page 31: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Telaah Pustaka

53

Modal yang tidak kalah penting memberikan penguatan pada modal sosial yaitu modal kultural yang memiliki basis nilai budaya dalam komunitas, dan digunakan untuk bertahan hidup (survival strategy). Generasi pewaris suatu kebudayaan dalam memahami modal kultural (cultural capital) karena proses kelahirannya sebagai lembaga adat (custom institution) untuk kelangsungan hidup (survival strategy) memiliki basis nilai budaya yang kuat. Nilai diadaptasikan, dipahami, diwariskan, dan dilestarikan sebagai titik tolak dalam membangun diri dan komunitas. Menurut Vayda dan Rapport (dalam Keesing, 1981) dalam konteks ini bukan budaya yang berevolusi, karena budaya ber-beda dengan manusia, tidak dimakan oleh pemangsa, dibatasi oleh sandang pangan, diperlemah oleh penyakit.

Artinya dalam konteks pembangunan, fungsi dan peran nilai budaya turut memperkuat modal sosial maupun modal kultural yang mampu mendorong partisipasi aktif seluruh warga dalam berbagai aktivitas kehidupan keseharian. Modal tersebut biasanya digunakan untuk membangun diri dan komunitas. Perubahan terhadap hal ini tidak semudah seperti membalik telapak tangan karena modal kultural (cultural capital) yang telah memberi penguatan pada modal sosial (social capital) yang solid, memiliki makna ketahanan untuk bertahan hidup (survive). Perspektif ini dimaknai sebagai kelangsungan hidup yang cakap (survival strategy) dan memberikan isyarat pada orang lain, termasuk negara bahwa campur tangan pihak luar yang tidak meng-hargai nilai, adat-istiadat, budaya dan sebagainya pada dapat me-nimbulkan benturan maupun kegagalan program pembangunan, ke-rusakan alam, dan sebagainya.

Upaya perubahan yang hendak dilakukan pada komunitas yang masih kuat memegang adat, perlu dilakukan melalui cara membangun dari bawah atau bottom up planing karena dipercaya mampu men-dorong peranserta atau partisipasi aktif dari warga karena tidak ada unsur paksaan tetapi partisipasi itu karena sukarela. Banyak contoh menunjukkan bahwa strategi membangun dari atas sering menimbul-kan benturan dalam proses pembangunan, bahkan kegagalan. Sebagai contoh kasus dikemukakan bahwa pembangunan mengalami benturan

Page 32: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Esuriun Orang Bati

54

dan hambatan pada Orang Sakai di Sialang Rimbun yang mengalami hambatan dan kegagalan dalam program permukiman kembali karena sebagian warga diterbengkalaikan oleh petugas pembina, model pem-bangunan bersifat top down sehingga patisipasi warga bersifat semu, akibat partisipasi semu maka tidak dirasakan oleh warga manfaatnya (Suparlan, 1995).

Untuk melakukan perubahan pada komunitas yang mengalami isolasi geografi, sosial, dan lainnya perlu dilakukan secara hati-hati dan arif. Oleh Wilson dan Wilson (1945) dalam The Analysis of Social Change Based on Observation in Central Africa yaitu perubahan dari suatu masyarakat tradisional ke masyarakat masa kini tidak perlu me-nyebabkan hilangnya keseimbangan sehingga timbul konflik-konflik yang merusak, asalkan perubahan itu berlangsung dengan lambat dan terarah (Koentjaraningrat, 1990). Hal itu berarti poros untuk mem-bangun, mata-rantai penting yang harus menjadi pertimbangan dalam menggagas program pembangunan adalah peran institusi lokal. Selain itu tidak boleh mengabaikan lingkungan (hutan, tanah, dan gunung) sebagai kekuatan utama yang selama ini telah menyatukan jiwa dan raga dari anggota komunitas, baik secara individu maupun kelompok untuk kelangsungan hidup. Fenomena membangun seperti ini telah di-ingatkan oleh Kottak (dalam Carnea, 1988) bahwa mengutamakan manusia dalam campur tangan pembangunan berarti memenuhi ke-butuhan bagi perubahan yang mereka rasakan.

Berdasarkan menghadapi setiap kondisi lokal maka proses pem-bangunan yang berasal dari bawah (bottom up proces), maka pan-dangan-pandangan asli pada mereka menjadi penting untuk diangkat ke dalam kesadaran untuk mengatasi tantangan. Artinya pembangun-an yang dilaksanakan kepada mereka memiliki muatan yang bernilai inovatif, sehingga perlu direncanakan secara baik dan tepat sehingga tidak menimbulkan benturan dan kegagalan (Suseno, 1993). Untuk itu dalam melakukan pendekatan pembangunan yang tepat perlu dimulai dari pemahaman terhadap lingkungan teritorial genealogis (wilayah orang basudara atau roina kakal) dipastikan bisa memberikan hasil positif. Sebaliknya, mengabaikan kondisi seperti ini dipastikan dapat

Page 33: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Telaah Pustaka

55

menimbulkan benturan, bahkan sangat mungkin terjadi yaitu hambat-an dan bisa mengarah pada kegagalan maupun kehancuran ekosistem yang tercipta dan sudah terbangun ratusan tahun. Hal ini berarti bahwa usaha pembangunan harus memperhitungkan penderitaan yang dipikul manusia. Sebab bentuk yang paling mengerikan adalah pen-deritaan kesengsaraan fisik. Penderitaan atau biaya-biaya manusiawi itulah yang harus dihindari dan bagaimana juga tidak bisa dibenarkan. Itulah imperatif utama dalam etika politik yang diajukan oleh Berger (Berger, 2005).

Upaya pembangunan harus bisa mengintegrasikan kepentingan masyarakat, karena kegagalan melakukan integrasi melalui pem-bangunan dapat mengancam kelangsungan hidup (survival strategy) dari komunitas. Persoalan pembangunan menjadi penting karena pembangunan merupakan perubahan yang direncanakan. Realitas yang tidak bisa dihindari oleh siapa saja termasuk komunitas yang me-ngalami isolasi, maupun terasing. Sekalipun hal ini berlangsung secara cepat maupun lambat, tetapi suatu hal yang dapat dikemukakan bahwa hidup manusia maupun masyarakat tidak pernah permanen, kecuali perubahan. Contoh kasus mengenai kegagalan pembangunan pada Orang-Orang Maroon Suriname melalui kebijaksanaan integrasional pemerintah yang kurang adaptif melalui kajian tentang The factors responsible for their allof attitude and the failure of the Government’s integrational policy can be summarized as follows (Groot, 1977):

(1) The basic, deeprooted mutual the conditions on the plantations under slavery and the ensuing revolts, escape and guerrilla warfare; (2) The conflicts of attitude and ideas between the Maroons and the rest of the peace treaties. The Maronns considered themselves unvanquished, whereas the whites claimed that they had forced peace upon them; (3) Ignorance of each other’s way of life, as weel as mutual feeling of pride and prestige, which made discussions, compromises or concessions between the two parties, which made discussions, compromises or concessions between the two parties exceptionally difficult; (4) The fact that the government invariably took decision regarding the Maronns without deigning to oven consult the letter’s whishes or objection, much less to try and adapt them to their specific conditions”.

Page 34: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Esuriun Orang Bati

56

Berdasarkan pandangan teoritis yang dikemukakan, ternyata ke-gagalan integrasional pemerintah pada Orang-Orang Maron Suriname melalui pembangunan pada masyarakat yang mengalami tekanan (presure) ternyata tidak mudah. Untuk itu usaha memahami survival strategy (kelangsungan hidup) dapat dijadikan sebagai pintu masuk untuk melakukan perubahan. Survival strategy pada komunitas ter-abaikan dapat memberikan pemahaman bahwa strategi saling menjaga dan melindungi meliputi manusia, hutan, gunung, dan sumber daya alam lainnya memiliki nilai kelangsungan hidup jangka panjang. Melindung (Protection)1

Sukhburhg (2008) menunjukkan hal ini pada Orang Sungai Ria ketika membangun sistem politik dan sistem sosial yang kompleks. Melalui strategi ini ternyata mereka mampu mengontrol dan men-distribusi sumber daya, melakukan pergulatan politik ekspansi dan ko-lonisasi, edukasi, demokratisasi yang dikenal dan digunakan sampai saat ini oleh masyarakat dunia. Selain organisasi menjadi konsep kunci dalam survival strategy, maka konsep ini juga perlu ditunjang oleh ko-munikasi dan inovasi. Analisis tentang cara bertahan hidup (survive)

) terhadap hak milik artinya tidak memberikan kesempatan pada orang lain atau pihak luar untuk masuk dalam wilayah kekuasaan atau ruang hidup mereka secara leluasa, dapat ber-arti bahwa usaha membangun yang berbasis nilai kelangsungan hidup seperti dicontohkan oleh Sukhburhg mengenai kemampuan ber-organisasi dan mengorganisasi diri maupun kelompok secara baik untuk bertahan hidup (survive) dapat dianggap relevan dan sesuai dengan kenyataan.

1)Lihat dan perhatikan pada materi yang berkaitan dengan makna Masiwang yang artinya ingat bahwa di gunung ada orang. Maksudnya yaitu, ingat di gunung ada Orang Bati. Jalan masuk ke Tana (Tanah) Bati (Atamae Batu) cukup banyak, tetapi ada yang menjaga dan menlindungi secara baik. Jalan yang masuk ke Tanah Bati (Atamae Batu) yang tepat, dan selama ini merupakan pintu masuk ke Tanah Bati (Atamae Batu) yang tidak diketahui orang luar adalah Masiwang yang terletak di bagian utara Pulau Seram Bagian Timur. Jangan pernah mengabaikan Masiwang sebagai pintu masuk ke Tanah Bati (Atamae Batu) karena hal itu dapat menimbulkan rintangan maupun tantangan dalam mewujudkan niat ke Tana (Tanah) Bati (Atamae Batu). Selain itu butuh hati yang bersih, niat yang tulus bagi setiap orang yang menggunakan Masiwang sebagai pintu masuk untuk menuju ke Tana (Tanah) Bati (Atamae Batu). Peringatan ini adalah suara hati yang berasal dari nurani manusia yang sangat dalam untuk memasuki wilayah Tana (Tanah) Bati (Atamae Batu) yang dikenal sebagai wilayah sakral (keramat) di Pulau Seram Bagian Timur-Maluku.

Page 35: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Telaah Pustaka

57

pada manusia, dalam perjalanannya dijumpai pada ketrampilan ber-organisasi sejak permulaan sistem pertanian pada ribuan tahun yang lampau, dan disebut fertile crescent. Kemampuan berorganisasi dan cara mengorganisir diri dapat dilihat sejak 4000 tahun SM ketika ber-kembang peradaban manusia di Sungai Ria dari Mesopotamia dan Mesir, berupa keragaman teknik bidang pertanian, khususnya irigasi. Dua peradaban ini telah melakukan long-distance trade atau dapat di-katakan sebagai perdagangan jauh untuk mendapatkan sumber daya alam yang penting, karena tidak terdapat di wilayah mereka. Untuk mendukungnya, komunikasi menjadi penting, kemudian berkembang tradisi menulis. Sebab melalui tradisi menulis, warisan budaya ko-munitas dapat bertahan dan terjadi transfer ilmu pengetahuan antar generasi (survival pada tingkat individu). Artinya strategi ini mem-butuhkan hubungan adaptasi dengan ekosistem lingkungan di mana manusia berada dapat memunculkan kecakapan hidup pada setiap in-dividu maupun kelompok. Konsep adaptasi manusia untuk bertahan hidup (survive) tidak dapat dipisahkan dari adaptasi budaya, dan ling-kungan sehingga oleh Vayda dan Rapaport (dalam Kesing, 1981) pada prinsipnya adaptasi berlangsung melalui medium budaya, dan proses-nya sangat bergantung pada hukum-hukum yang sama dari seleksi alam yang mengatur adaptasi biologis. Sebab titik tolak bukan budaya yang berevolusi, karena budaya berbeda dengan manusia, tidak di-makan oleh pemangsa, dibatasi oleh sandang pangan, diperlemah oleh penyakit.

Secara teoritis dapat dikemukakan bahwa dalam pendekatan ekologi-budaya, adaptasi dalam membangun diri dan lingkungan dalam kondisi terisolasi dan terasing merupakan proses kemunculan, pe-meliharaan, dan transformasi berbagai konfigurasi budaya. Hakikatnya ada pada dua konsep sentral yakni lingkungan (enviroment) dan adaptasi (adaptation) yaitu lingkungan umumnya disamaartikan de-ngan ciri-ciri atau hal-hal menonjol yang menandai habitat alami se-perti cuaca, flora dan fauna, tanah, pola hujan, bahkan ada mineral di bawahnya. Ekologi-budaya mendukung suatu pandangan yang disebut posibelisme lingkungan (enviromental posibelism). Pandangan ini memperhatikan ciri-ciri habitat alami, bukan sebagai penyandang

Page 36: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Esuriun Orang Bati

58

peran penentu melainkan peran pemberi kemungkinan atau pemberi batas. Ciri habitat alami memberikan peluang terbuka untuk me-nempuh arah tertentu sambil melarang menempuh arah lain. Ling-kungan bukan seperangkat benda alami, ia merupakan seperangkat pe-mahaman dari suatu produk kebudayaan.

Hubungan antara suatu masyarakat dengan lingkungan hanya dapat dipahami bila menyimak cara pengorganisasian lingkungan itu dalam kategori-kategori verbal yang disusun oleh mereka yang meng-gunakannya. Penegasan Julian Steward tentang cultural ecology untuk Encyclopedia of The social Sciences edisi 1968 bahwa lingkungan itu adalah produk budaya, maka upaya untuk menjelaskan budaya se-hubungan dengan lingkungan menjadi bersifat tautologis (Kaplan, 1999). Kemampuan melakukan adaptasi pada manusia dengan ling-kungan untuk bertahan hidup (survive), karena manusia memiliki ke-budayaan dan senantiasa berpacu memproduksi kebudayaan. Relasi antara manusia dan budaya serta lingkungan di mana manusia berada selalu bersifat interdependensi (saling ketergantungan), serta terdapat relasi saling menunjang dan mempengaruhi.

Apapun kondisinya, kehidupan manusia dan budaya memiliki fenomena berbeda, tetapi keterkaitannya tidak dapat dipisahkan, se-hingga menurut Geertz (1992) hubungan manusia dan budaya dimaknai sebagai binatang yang terperangkap dalam jerat-jerat makna yang dia tenun sendiri”. Artinya terdapat basis nilai budaya untuk memberikan penguatan pada individu, keluarga, kelompok, dan ko-munitas untuk bertindak sesuai dengan komitmen yang dicapai secara bersama ketika mereka menjalani kehidupan bersama. Cara seperti ini apabila menggunakan teori Talcot Parson (1902-1979) dalam The Structure of Social Action, di mana teori aksi (action theory) di mana ini menuju titik sentral konsep perilaku voluntaristik. Konsep ini mengandung pengertian kemampuan individu menentukan cara dan alat dari sejumlah alternatif yang tersedia dalam rangka mencapai tujuan. Sesuai penjelasan Parsons, kerangka redefinisi tindakan me-ngandung pengertian bahwa suatu tindakan secara logis menyangkut hal-hal sebagai berikut; (1). Tindakan mengisyaratkan pelaku atau yang

Page 37: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Telaah Pustaka

59

biasa kita sebut dengan aktor. Aktor merupakan pemburu tujuan. Ia punya alat, cara, dan teknik; (2). Guna keperluan, definisi tindakan harus ada tujuannya (suatu keadaan masa depan yang akan dikejar tindakan itu; (3). Tindakan harus dimulai dalam situasi yang ke-cenderungan-kecenderungannya berbeda dalam satu atau lebih ke-adaan yang akan dikejar aktor, sedangkan situasi itu ada yang bisa di-kendalikan dan ada pula yang tidak biasa dikendalikan atau dijaga supaya tidak berubah; (4). Situasi yang biasa dikendalikan disebut kondisi-kondisi tindakan, sedangkan situasi yang tidak biasa di-kendalikan disebut sarana; (5). Dalam pilihan atas beragam alaternatif, terdapat orientasi normatif (Susilo, 2008 ; 115-116).

Strategi adaptasi mewujudkan kelangsungan hidup (survival stragey) yang menjadi perhatian Sosiolog maupun Antropolog untuk membedakan antara konsep masyarakat dan konsep kebudayaan oleh Sanderson (2003) yaitu masyarakat menunjukkan pada hubungan-hubungan yang terpolakan di antara orang-orang. Kebudayaan mereka dapat dipahami sebagai hasil dari hubungan yang terpolakan. Me-maknainya yaitu, berbagai teknologi, kepercayaan, nilai, aturan dan lainnya telah berfungsi dan berperan sebagai pedoman, sekaligus se-bagai hasil dari hubungan yang terpolakan untuk membangun me-nurut cara yang dipahami oleh seluruh anggota komunitas untuk men-ciptakan pada manusia sebuah alat adaptasi baru untuk menghadapi kondisi kehidupannya.

Menurut Sanderson (2003) pola adaptasi ini jauh melebihi adaptasi biologis. Pada tingkat phylogenetik yang berkembang dari proses evolusi biologis yang panjang, ketika masyarakat berkembang ke tingkat kompleksitas yang lebih tinggi, berbagai kondisi dikembangkan untuk lahirnya sistem simbol dari sistem penyebutan kebudayaan itu sendiri, dan muncul sebagai sebuah hasil evolusioner, karena semua yang terjadi, telah sampai pada perkembangan sisio-kultural di mana kebudayaan menyaingi, dan akhirnya menggantikan biologi sebagai basis utama adaptasi manusia. Pandangan di atas dapat diterima untuk memahami proses adaptasi yang berlangsung pada komunitas yang me-ngalami stigma. Sebab melalui pengetahuan tersebut memberikan pada

Page 38: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Esuriun Orang Bati

60

mereka daya adaptasi baru yang memiliki nilai hidup dengan lingkungan untuk bertahan hidup (survival strategy).

Nilai

Oleh Clyde Kluckhon, nilai merupakan hal yang abstrak, berupa suatu konsepsi, eksplisit atau implisit, khusus bagi seseorang atau merupakan ciri suatu kelompok yang diinginkan, yang mempengaruhi pemilihan cara, alat dan akhir yang diharapkan dari suatu tindakan (Posser, 1978 : 176). Artinya nilai memiliki kaitan langsung dengan pandangan manusia secara individu maupun kelompok mengenai dunia yang dijalani, dan dianggap benar oleh pendukung suatu nilai. Pandangan tentang dunia meliputi pendapat tentang diri sendiri, per-bedaan antara berada dalam kelompok dan di luar kelompok, hubung-an manusia dengan alam sekitarnya, sikap seseorang terhadap alam se-mesta, orientasi seseorang pada waktu dan ruang, nilai-nilai dan norma-normanya (Kraf, 1978 : 4). Atau dalam pandangan Boulding (1964) nilai merupakan ideologi adalah sebagian dari imagen mengenai dunia atau cara pandang seseorang terhadap dunia yang dianggap se-bagai hal penting bagi identitas diri, gambaran cita-cita, dan citra diri sendiri. Atau ideologi dapat dipahami sebagai kombinasi gagasan dengan norma atau gagasan yang didukung oleh norma sosial (Bierstedt, 1970 : 162).

Untuk itu nilai menurut Huky dalam Abdulsyani (2007 : 50-51) memiliki ciri-ciri sebagai berikut; (1) Nilai merupakan konstruksi masyarakat yang tercipta melalui interaksi di antara para anggota masyarakat. Nilai tercipta secara sosial bukan secara biologis atau bawaan sejak lahir; (2) Nilai sosial ditularkan. Nilai yang menyusun sistem nilai diteruskan dan ditularkan dari suatu group ke group yang lain dalam suatu masyarakat melalui berbagai macam proses sosial, dan dari satu masyarakat serta kebudayaan ke yang lainnya melalui akulturasi, defusi dan sebagainya; (3) Nilai dipelajari. Nilai dicapai dan bukan bawaan lahir. Proses belajar dan pencapaian nilai-nilai itu, dimulai sejak masa kanak-kanak dalam keluarga melalui sosialisasi; (4) Niali memuaskan manusia dan mengambil bagian dalam usaha pe-

Page 39: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Telaah Pustaka

61

menuhan kebutuhan-kebutuhan sosial. Nilai yang disetujui dan telah diterima secara sosial itu menjadi dasar bagi tindakan dan tingkah laku, baik secara pribadi atau grup dan masyarakat secara keseluruhan. Nilai juga membantu masyarakat agar dapat berfungsi dengan baik. Oleh karena itu, sistem nilai sosial dipandang penting oleh masyarakat, khususnya untuk pemeliharaan kemakmuran dan kepuasan sosial bersama; (5) Nilai merupakan asumsi-asumsi abstrak di mana terdapat konsensus sosial tentang harga relatif dari objek dalam masyarakat. Nilai-nilai secara konseptual merupakan abstraksi dari unsur-unsur nilai dan bermacam-macam obyek di dalam masyarakat; (6) Nilai cen-derung berkaitan satu dengan yang lain secara komunal untuk mem-bentuk pola-pola dan sistem nilai dalam masyarakat bila tidak terdapat keharmonisan yang integral dari nilai-nilai sosial, makan akan timbul problem sosial; (7). Sistem-sistem nilai bervariasi antara ke-budayaan satu dengan kebudayaan yang lain, sesuai dengan harga relatif yang di-perlihatkan oleh setiap kebudayaan terhadap pola-pola aktivitas dan tujuan serta sasarannya. Dengan kata lain, keanekaragman kebudayaan dengan bentuk dan fungsi yang saling berbeda meng-hasilkan sistem-sistem nilai yang saling berbeda; (8) Nilai selalu menggambarkan alternatif dan sistem-sistem nilai yang terdiri dari struktur rangkang alternatif-alternatif itu sendiri, sehingga saling me-nyempurnakan dan mengisi, dalam menentukan rangkang dari posisi atau dari obyek-obyek yang ada ; (9) Masing-masing nilai dapat mempunyai efek ber-beda terhadap orang-perorangan dan masyarakat sebagai keseluruhan; (10) Nilai-nilai juga melibatkan emosi ; (11) Nilai dapat mempengaruhi pengembangan pribadi dalam masyarakat secara positif maupun secara negatif.

Lebih lanjut dikemukakan oleh Huky dalam (Abdulsyani, 2007 : 53-54) fungsi umum dari nilai sosial yaitu; (1) Nilai menyumbangkan seperangkat alat yang siap dipakai untuk menetapkan harga sosial dari pribadi dan grup. Nilai-nilai ini memungkinkan sistem stratifikasi se-cara menyeluruh yang ada pada setiap masyarakat. Mereka membantu orang perorangan untuk mengetahui di mana ia berdiri di depan se-samanya dalam lingkup tertentu; (2) Cara-cara berpikir dan bertingkah laku secara ideal dalam sejumlah masyarakat diarahkan atau dibentuk

Page 40: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Esuriun Orang Bati

62

oleh nilai-nilai. Hal ini terjadi karena anggota masyarakat selalu dapat melihat cara bertindak dan bertingkah laku yang terbaik, dan ini sangat mempengaruhi dirinya sendiri; (3) Nilai merupakan penentu terakhir bagi manusia dalam memenuhi peran-peran sosialnya. Mereka menciptakan minat dan memberi semangat pada manusia untuk me-wujudkan apa yang diminta dan diharapkan oleh peranan-peranannya menuju tercapainya sasaran-sasaran masyarakat; (4) Nilai-nilai dapat berfungsi sebagai alat pengawas dengan daya tekan dan daya me-ningkat tertentu. Mereka mendorong, menuntun dan kadang-kadang menekan manusia untuk membuat yang baik. Nilai-nilai menimbul-kan perasaan bersalah yang cukup menyiksa bagi orang-orang yang mendengarnya yang dipandang baik dan berguna oleh masyarakat; (5) Nilai dapat berfungsi sebagai alat solidaritas di kalangan anggota-anggota kelompok dan masyarakat.

Kualitas nilai oleh Robin William dalam Abdulsyani (2007 : 52) yaitu; (1) Nilai-nilai itu mempunyai sebuah elemen konsepsi yang lebih mendalam dibandingkan hanya sekedar sensasi, emosi, atau kebutuhan. Dalam pengertian ini, nilai dapat dianggap sebagai abstraks yang di-tarik dari pengalaman-pengalaman seseorang; (2) Nilai-nilai itu me-nyangkut atau penuh dengan semacam penegrtian yang memiliki suatu aspek emosi. Emosi boleh jadi tak diutarakan dengan sebenarnya tetapi selamanya ia merupakan suatu potensi; (3) Nilai-nilai bukan me-rupakan tujuan konkret dari pada tindakan, tetapi ia tetap mempunyai hubungan dengan tujuan. Sebab nilai-nilai tersebut berfungsi sebagai kriteria dalam memilih tujuan-tujuannya tadi. Seseorang akan berusaha mencapai segala sesuatu yang menurut pandangannya mempunyai nilai-nilai; (4) Nilai-nilai tersebut merupakan unsur penting dan sama sekalitak dapat diremehkan bagi orang bersangkutan. Dalam kenyataan terlihat bahwa nilai-nilai tersebut berhubungan dengan pilihan dan pilihan itu merupakan prasyarat untuk mengambil suatu tindakan dalam usaha membangun diri, kerabat, kelompok, maupun komunitas dengan lingkungan di mana mereka berada.

Page 41: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Telaah Pustaka

63

Pembangunan

Ketika berbicara mengenai pembangunan pada lingkungan komunitas terabaikan, sebenarnya banyak sekali persoalan terkait di sana, terutama berkaitan dengan survival strategy. Untuk itu Vasques-Barquero (2002) berpendapat bahwa melalui partisipasi aktif dari masyarakat lokal untuk berpartisipasi dalam proses pembangunan tidak hanya bertujuan untuk memperbaiki sisi produksi (pertanian, industri, dan jasa) tetapi juga untuk mendorong dimensi-dimensi sosial dan budaya yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. Pembangunan endogen berkaitan dengan proses akumulasi modal pada suatu wilayah tertentu (specific localities) dengan memperhatikan kapasitas wilayah dalam penyebaran inovasi ke seluruh sistem produksi lokal dan peran yang dimainkan oleh sistem inovasi lokal. Oleh karena itu, ia me-nyimpulkan bahwa efisiensi penggunaan potensi lokal juga sangat di-tentukan oleh bagaimana bekerjanya institusi di wilayah pedesaan (Arsyad, et al, 2011 : 18).

Dalam realitasnya, pendekatan pembangunan yang mengabaikan peran institusi lokal di pedesaan dalam wilayah geografis kepulauan yang terdapat gugusan pulau-pulau kecil menjadi terabaikan sehingga menibulkan hambatan pembangunan pada lingkungan masyarakat pe-desaan yang mengabaikan aspek kelembagaan lokal menurut North (1990) bahwa kelembagaan mencakup aturan main (rule of the game) atau prosedur yang mengatur bagaimana agen masyarakat berinteraksi dan organisasi (players) yang mengimplementasikan aturan-aturan ter-sebut untuk mencapai hasil yang dinginkan. Masalah ini bukan hanya berkaitan dengan ketersediaan lembaga-lembaga di bidang ekonomi, sosial, politik, dan budaya tetapi yang lebih penting adalah lembaga-lembaga tersebut berfungsi dengan baik ataukah tidak. Selain itu per-hatian dan penghargaan terhadap modal sosial (mutual trust, co-operativeness, netwoks) yang merupakan aspek budaya yang men-dukung proses pembangunan selama ini rendah atau bahkan kadang-kadang diabaikan sama sekali harus segera diakhir. Pembangunan bukan dilakukan di ruang hampa tetapi di dalam suatu wilayah yang

Page 42: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Esuriun Orang Bati

64

memiliki selain manusia dan sumber daya fisikal juga memiliki sistem nilai, adat-istiadat, dan budaya (Arsyad, et al, 2011 : 9).

Artinya potensi maupun kondisi wilayah kepulauan memerlukan pendekatan pembangunan yang lebih komprehensif antara lain pen-dekatan geopolitik. Aspek penduduk dan kewilayahan menjadi penting sehingga saling mengisi kebutuhan untuk bertahan hidup (survive). Hoogvel (1976) telah mencoba memahami proses perkembangan atau pembangunan sebagai sebuah fenomena khususnya di negara-negara sedang berkembang dengan mengajukan tiga pendekatan yaitu; (1) Melihat perkembangan atau pembangunan masyarakat sebagai hasil proses pertumbuhan secara evolusi; (2) Perkembangan atau pem-bangunan masyarakat sebagai hasil interaksi dengan masyarakat lain dalam lingkup lebih luas; (3) Perkembangan atau pembangunan masya-rakat sebagai hasil suatu tindakan dalam arti pertumbuhan dan per-kembangan yang terjadi memang direncanakan secara sengaja (Soetomo, 2009 : 18).

Makna yang dapat dikemukakan tentang pembangunan mem-butuhkan tindakan terencana berarti aspek kewilayah berdasarkan pendekatan geopolitik untuk menjawab kebutuhan pembangunan pada lingkungan masyarakat kepulauan yang mendiami pulau-pulau kecil makin relevan dan dibutuhkan untuk menjawab perkembangan global yang secara perlahan-lahan maupun cepat menarik masuk lingkungan pedesaan di pulau-pulau kecil berada dalam suatu arena di mana sekat itu menjadi terbuka sehingga memberikan peluang yang lebih besar agar masyarakat dapat berakses. Dwiyanto et al (1996 : 121) me-ngemukakan bahwa penyebaran investasi di suatu wilayah akan mem-buka terciptanya pasaran kerja dan dengan sendirinya akan menarik penduduk (khususnya angkatan kerja) untuk berpindah ke wilayah ter-sebut. Untuk menggagas program pembangunan yang sesuai dengan kondisi masyarakat desa yang mendiami wilayah kepulauan (pulau-pulau kecil) tidak mudah.

Dalam menghadapi lingkungan masyarakat pedesaan di pulau-pulau kecil yang kuat mempertahankan adat-istiadat memerlukan langkah yang tepat karena berbagai mekanisme lokal untuk men-

Page 43: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Telaah Pustaka

65

ciptakan keseimbangan ekosistem lingkungan sehingga memberi daya dukung yang kuat. Contoh sasi (larangan adat) yang dilakukan oleh Orang Maluku seperti di darat untuk jenis tanaman kelapa, cengkih, pala dan lainnya, maupun di laut untuk ikan, lola, teripang, dan lain-nya untuk memperoleh kualitas produksi secara lebih baik. Sasi me-rupakan norma sosial yang berfungsi sebagai pengendalian sosial terhadap warga agar berperilaku sesuai dengan adat-istiadat yang ber-laku. Sasi pada setiap negeri adat tertentu di Maluku diawasi oleh lembaga adat Kewang.

Apabila ada warga yang melakukan pelanggaran terhadap sasi yang sedang dilaksanakan, maka warga yang melakukan kesalahan dapat dikenakan sangsi oleh lembaga adat Kewang. Untuk itu langkah-langkah konkrit yang perlu ditempuh melalui kebijakan pembangunan berdasarkan pendekatan pemberdayaan masyarakat lokal diharapkan bisa memberi kesempatan yang lebih besar pada masyarakat desa yang mendiami pulau-pulau kecil untuk berakses guna meningkatkan ke-sejahteraan hidup keluarga dan masyarakat melalui partisipasi aktif warga guna mendorong proses pembangunan berbasis masyarakat lokal.

Persoalan yang seringkali dialami oleh masyarakat lokal dalam proses pembangunan karena sumber daya yang berkaitan dengan intitusi lokal sering terabaikan ketika program pembangunan di-laksanakan. Selain itu juga program pembangunan yang dilakukan se-lama ini belum memperhitungkan secara baik aspek geopolitik di mana karakteristik masyarakat yang mendiami wilayah kepulauan berbeda-beda. Kebijakan pembangunan yang bertumpu pada wilayah daratan lebih dominan jika dibandingkan dengan wilayah yang terdiri dari kepulauan (pulau-pulau kecil). Fenomena kehidupan pada manusia maupun masyarakat yang mendiami desa di pulau-pulau kecil, ter-utama yang berada di wilayah perbatasan yang selama ini luput dari perhatian telah digunakan sebagai pintu masuk maupun ke luar bagi kelompok tertentu untuk melakukan berbagai aksi pencurian, pe-rampokan, penyelundupan, dan sebagainya di mana potensi wilayah perbatasan yang tidak terawasi telah dimanfaatkan untuk mewujudkan

Page 44: Survival Strategy, Adaptasi, Integrasi, Kelembagaan ...repository.uksw.edu/bitstream/123456789/736/3/D_902008103...pada masa sukubangsa masih berada pada zaman berburu. Aktivitas hidup

Esuriun Orang Bati

66

kepentingan mereka. Kondisi yang berlangsung seperti ini lambat atau cepat dapat mengancam stabilitas, sehingga posisi pulau-pulau kecil yang rentan terhadap perubahan perlu mendapat perhatian serius pada saat ini maupun masa depan.

Untuk itu dalam memahami makna pembangunan berdasarkan perspektif budaya terdapat dua konsep yang bisa digunakan yaitu struktural dan kultural. Menurut Kaplan (2005 : 364-366) yaitu per-tama, cara pandang struktural artinya mau merancang perubahan dan merencanakannya dalam sebuah rekayasa politik, ekonomi, dan sosial. Ciri pandangan ini adalah pendekatan penataan infrastruktur maupun suprastruktur, sehingga yang diperhatikan adalah kerangka struktur sebuah masyarakat (hidup bersama) atau negara di mana struktur itu ditaruh di depan sebagai pagar-pagar pengatur manusia yang hidup di dalamnya atau sebagai jalur-jalur jalan di mana lalu lintas hidup ber-sama di atur dan direkayasa agar hidup sosial berjalan tertib, aman, dan sejahtera. Struktur di sini dibahas dengan sistem untuk merekayasa, mengarahkan perubahan-perubahan dan bila perlu mengaturnya secara ketat sehingga perubahan terarah sesuai dengan pagar-pagar di maksud; kedua, pembangunan sebagai proses perubahan adalah pen-dekatan kultural yang melihat perubahan sosial sebagai proses evolutif lama dan sabar lantaran mau bertitik tolak pada proses evolutif, alamiah sikap adaptasi orang perorangan dalam masyarakat terhadap perubahan, integrasinya yang selektif atas pengaruh-pengaruh baru dan internalisasi nilai-nilai baru dalam konfrontasi, dialektika ataupun persenyawaannya dengan nilai-nilai budaya yang telah ada. Teori yang digunakan dalam studi ini dijadikan sebagai penuntun untuk meng-analisis integrasi eksisnsial yang dicapai Orang Bati dalam deretan suku-suku pada materi yang berkaitan dengan eksistensi berbagai sukubangsa di Seram-Maluku