rotasi bulan .pdf

28
1 | Menentukan Titik Nol Rotasi Bulan MAKALAH MENENTUKAN TITIK NOL ROTASI BULAN TERHADAP BUMI D I S U S U N OLEH H. BAKRI SYAM

Upload: bakri-syam

Post on 01-Jan-2016

291 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: Rotasi Bulan .pdf

1 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

MAKALAH

MENENTUKAN TITIK NOL

ROTASI BULAN TERHADAP

BUMI

D

I

S

U

S

U

N

OLEH

H. BAKRI SYAM

Page 2: Rotasi Bulan .pdf

2 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Dengan izin Allah SWT saya menulis buku kecil ini, disini saya akan mencoba

menjelaskan dan menggambarkan dua sisi pandang untuk menentukan awal bulan, menurut

ilmu teknologi dengan menurut agama islam (Hadis Rasullulah saw), semoga Allah SWT

meredoinya amin amin yarabbal allamin .

Mudah-mudahan buku ini ada manfaatnya bagi kita, saya menyadari bahwa dalam

penulisan buku ini masih jauh dari kesempurnaan dan saya juga mengharapkan adanya saran

dan kritikan dari kita semua demi kesempurnaan isi buku ini, dan akhir kata saya ucapkan

mohon maaf atas ketidak sempurnaan buku ini, mudah-mudahan Allah SWT memberikan

hidayahNya kepada kita semua sehingga dalam penentuan Awal Ramadhan yang akan datang

tidak terjadi lagi perbedaan pendapat, yang mana semuanya itu atas Iradat Allah SWT, Amin

ya Rabbal Alamin.

Wassalamu „alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bangkinang, 18 Juli 2013

Penulis,

H. BAKRI SYAM

Page 3: Rotasi Bulan .pdf

3 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

BAB I.

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG

Berdasarkan ketidak puasan saya dalam menonton sidang isbat di Televisi dalam

menentukan awal bulan Ramadhan, dan saya tidak punya akses untuk menyampaikan

pendapat saya kesana. Didalam sidang tersebut seolah –olah melakukan pekerjaan yang sia-

sia dan ada pula yang menurut pandangan saya laporan kebohongan dalam mengamati hilal,

dia melaporkan bahwa hilal sudah kelihatan dibawah 20 derjat, bahkan ada yang berpendapat

tidak perlu diadakan sidang isbat, tentu semuanya itu punya alasan yang berbeda-beda, dan

sisi pandang yang berbeda pula. Semua perbedaan itu tentu dengan landasan pikir yang

berbeda pula .

Saya memahami ilmu antariksa bermula dari pendapat NICOLAUS COPERNICUS orang

polandia ( 1473 – 1543 ) yang berpendapat “ bahwa bumi bukan pusat yang tidak bergerak

dari alam semesta tetapi sebenarnya , bergerak mengitari matahari “ ini mematahkan

pendapat sebelumnya bahwa sebagai fakta “ matahari terbit di timur dan bergerak melintasi

angkasa untuk terbenam di barat , sedangkan bumi tetap tidak bergerak “( pendapat

ARISTOTELES ).

Dan pendapat NICOLAUS COPERNICUS di perkuat / disempurnakan oleh GALILEO

GALILEI orang itali (1564 – 1642) bahwa matahari sebagai pusat tata surya.

Dengan kemajuan teknologi dan perkembangan ilmu pengetahuan sehingga merubah

sisi pandang untuk menentukan awal bulan, maka bagi masyarakat awam yang kurang

memahami sisi pandang tersebut, sehingga mereka saling salah menyalahkan satu sama

lainnya .

Dari pelajaran ilmu antariksa tersebut saya menulis buku kecil ini. Dalam perbedaan

pandangan untuk menentukan awal bulan Ramadhan, maka dari semua perbedaan itu saya

mencoba menganalisa dan menggambarkan posisi-posisi bulan didalam buku kecil ini yang

saya beri judul “ MENENTUKAN TITIK NOL ROTASI BULAN TERHADAP BUMI”

Sebelum itu saya mengutip sebuah hadist Rasullah SAW yang menanyakan kepada Muaz bin

Zabal , berkata Rasulullah SAW kepada Muaz bin Zabal: “Hai muaz Bagaimana kamu

memutuskan perkara setelah aku tiada?, Muaz menjawab: Saya berpagang kepada Alqur‟an,

berkata Rasulullah SAW Bagaimana kalau didalam Alqur‟an tidak ada?, Muaz menjawab:

Saya berpegang kepada SunnahMu, berkata Rasulullah SAW: Bagaimana kalau dalam

Alqur‟an dan SunnahKu tidak ada?, Muaz menjawab : Saya akan berinjitihat tanpa ragu

sedikitpun.”

Jadi saya artikan didalam memutuskan persoalan dalam beribadah harus mengutamakan

Alqur‟an dan Sunnah Rasulullah SAW terlebih dahulu, seandainya tidak ada dalam Alqur‟an

dan Sunnah Rasulullah SAW, barulah boleh seseorang berpendapat.

Page 4: Rotasi Bulan .pdf

4 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Dengan landasan pikir yang berbeda tentu melihat dari sisi pandang yang berbeda pula ,

padahal acuannya sama-sama Alqur‟an dan Hadis Rasullulah s a w.

Mudah mudahan dengan paparan yang singkat ini dapat menyatukan landasan pikir yang

sama supaya melihat dari sisi pandang yang sama pula, sehingga menghasilkan pandangan

yang sama dalam hal menentukan awal bulan (Hijriah) / bulan Ramadhan .

RUMUSAN MASALAH 1 Dengan kemajuan ilmu teknologi sehingga menggeser sisi pandang umat islam dalam

menentukan kapan mulai dan berakirnya puasa Ramadan .

2 Terlalu cepatnya pemimpin umat berpendapat sebelum paham betul maksud dari

Alqur‟an dan Hadist Rasullulah s a w .

3 Sudah jelas keterangannya di dalam suatu hadist tertentu untuk menetukan awal dan

akhirnya puasa Ramadhan, pemimpin umat islam mencari kias dari hadist lain,

sehingga sesama umat islam saling salah- menyalahkan satu sama lainnya .

TUJUAN

1. Agar penjelasan buku ini dapat dipahami dan dapat disampaikan dalam pelaksanaan

sidang isbat setiap tahunnya dalam menentukan mulai dan berakhirnya puasa

Ramadhan.

2. Mudah-mudahan kita semua dapat menyatukan sisi pandang sehingga memperkecil

terjadinya pertikaian dalam menentukan mulai dan berakhirnya puasa Ramadhan.

RUANG LINGKUP KAJIAN

Dalam buku ini saya mencoba menjelaskan dua sisi pandang untuk menentukan awal dan

berakhirnya puasa ramadhan.Dalam penjelasan dua sisi pandang tersebut tentu di jelaskan

pula hal-hal yang terkait terbentuknya hilal

Seperti:

- isi Jagat raya:

Matahari : sumber cahaya pada jagat raya

Bumi : kejadian pada bumi dalam hal terjadinya malam dan siang

Proses terbenam dan terbitnya matahari dan bulan.

Bulan : posisi-posisi bulan pada matahari dan bumi

-perhitungan bulan segaris dengan bumi dan matahari (conjungsi)

Hilal : kapan terbentuknya hilal

-waktu pengamatan hilal

- teknik pengamatan hilal

Rujukan untuk awal dan akir puasa Ramadan.

Page 5: Rotasi Bulan .pdf

5 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

METODEOLOGI PENULISAN

- Mengenali dan memperhitungkan perjalanan matahari,bumi dan bulan.

- Menggambarkan posisi-posisi bulan,matahari dan bumi.

- Memperhitungkan dan mengamati kapan terbentuknya hilal.

- Mengamati dan memperhitungkan kapan saatnya bulan berada segaris atau sejajar

dengan matahari dan bumi (conjungsi).

- Menjelaskan landasan dan ketentuan-ketentuan dalam menetapkan awal dan

berakirnya puasa Ramadan .

- Menjelaskan dua sisi pandang menurut ilmu teknologi dengat menurut ilmu agama

islam dalam hah menentukan awal dan akhirnya puasa ramadhan.

- Melakukan penelitian kapan bulan berada segaris matahari dan bumi(matahari,bulan

dan bumi) dengan peralatan : busur derajat,tali dan kayu yang lurus.

SISTEMATIKA PENULISAN

Kata pengantar

Bab I : -Pendahuluan

-Ruang lingkup kajian

-Metodeologi penulisa

Bab II : -Jagat raya

-Matahari

-Bumi

-terjadinya malam dan siang

-Bulan

Bab III : -Hilal

-Terbentuknya hilal

-perhitungan Pengamatan hilal

-penelitian hilal

-teknik penelitian hilal

-perbedaan pandangan

-menurut ilmu teknologi

-menurut ilmu agama

-waktu pengamatan hilal

- menentukan awal dan akhir puasa ramadhan

Bab IV : -kalender taqwim khamsiah.

-cara membuat table kalender takwim khamsiah

-khusus puasa Ramadan

Bab V : -Kesimpulan

-Saran

-Daftar pustaka

Page 6: Rotasi Bulan .pdf

6 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

BAB II

JAGAT RAYA

Antariksa / jagatraya itu adalah ruangan besar yang berisikan matahari,bumi,bulan,

bintang-bintang dan planet-planet lainnya. Semuanya itu beredar menurut garis edarnya /

orbitnya masing-masing. Dari semua isi jagat raya itu hanya matahari dan bintang-bintanglah

yang mempunyai cahaya sendiri.

MATAHARI

Matahari adalah sumber cahaya dari ruangan angkasa dan pusat orbit dari bumi dan

planet-planet lainnya (Bumi dan planet-planet lainnya itu mengorbit mengelilingi matahari).

menurut orbitnya / garis edarnya masing-masing.

BUMI

Bumi ini adalah bola besar yang berputar/ berotasi terhadap sumbunya dari arah barat

ketimur. Satu putaran atau satu rotasi bumi berputar terhadap sumbunya 360 derajat/24 jam

(sehari semalam) sambil mengelilingi matahari, satu keliling bumi mengelilingi matahari (1

tahun = 365 hari tepatnya 365 hari 5 jam 48 menit 46 detik ).

Terjadinya malam dan siang: Oleh karena bumi itu bulat sehingga tidak semua

permukaan bumi terang tersinari oleh cahaya matahari sekaligus, maka permukaan bumi yang

terang terkena sinar matahari disebut siang dan sebagain permukaan bumi yang tidk terkena

sinar mathari disebut malam.

Dengan berotasinya (berputarnya) bumi terhadap sumbunya maka terjadilah malam

dan siang yang saling bergantian. Dalam satu hari satu malam kita bagi menjadi 4 bagian:

- Dari matahari terbit sampai jam 12.00 siang disebut pagi

- Dari jam 12.01 sampai matahari terbenam disebut sore

- Dari matahari terbenam sampai jam 12.00 malam disebut senja

- Dari jam 12.00 malam sampai matahari terbit disebut subuh.

Hal itu bisa kita gambarkan sebagai berikut:

Terbenamnya matahari: karena bumi itu bulat dan berotasi (berputar) terhadap sumbunya

Page 7: Rotasi Bulan .pdf

7 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Dari arah barat ke timur sehingga posisi kita bergeser lebih rendah, maka matahari semakin

terhalangi oleh permukaan bumi.

Matahari terbit dari arah Timur:

Terbitnya matahari: karena bumi itu bulat dan berotasi (berputar) terhadap

sumbunya sehingga posisi kita bergeser lebih naik, maka matahari semakin tidak terhalangi

oleh permukaan bumi.

BULAN

Bulan itu adalah bola besar yang panjang jari-jarinya lebih kurang setengah dari jari-

jari bumi. Bulan berotasi mengelilingi bumi sambil mengelilingi matahari (bulan adalah

satelit bumi). Jadi, ada saat nya bulan menjauh dari matahari dan ada pula saatnya bulan

mendekat ke matahari dan apabila di saat bulan tepat berada segaris di antara matahari

dengan bumi disebut konjungsi, pada saat itu permukaan bulan yang terkenak sinar matahari

tidak tampak dari bumi sebab bagian gelap bulan berada di sebelah bumi (bagian permukaan

bulan yang terang terkena sinar matahari membelakangi bumi).

Satu Rotasi bulan mengelilingi bumi di sebut satu bulan (29,5 hari) sebab didalam bulan

hijriah 2 bulan yang berdampingan (berturut-turut berjumlah 59 hari)

Jadi sesungguhnya matahari itu adalah pusat edaran dari bumi beserta bulan dan

pelanet-pelanet lainnya, maka bisa dianggap matahari itu diam.

Maka Bumilah yang berputar terhadap sumbunya dari arah barat ke timur . Di waktu bumi

mengelilingi matahari , dan bumi berputar terhadap sumbunya dari arah barat ke

timur,karena kita di permukaan bumi maka terlihatlah seolah-olah matahari dan bulan

bergerak dari arah timur ke barat mengelilingi bumi.

Page 8: Rotasi Bulan .pdf

8 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Kita perhatikan pergerakan matahari dan bulan dari arah timur ke barat, selalu

pergerakan matahari lebih cepat dari pergerakan bulan.

Apabila posisi bulan bergeser ke atas (tertinggal dari matahari) ufuk (+), barulah terlihat

cahaya terang di bawah bulan seperti bulan sabit yang kita lihat selama ini, dan selalu arah

sabit nya mengarah ke atas karena matahari (sumber cahaya) berada lebih rendah dari bulan.

Dengan lebih cepatnya matahari dari bulan terlihat mengelilingi bumi, maka bulan

tersusul kembali oleh matahari. Kalau kita gambarkan, kita menghadap ke utara , barat di

sebelah kiri dan timur di sebelah kanan kita , kita posisikan jam dinding di hadapan kita ,

maka rotasi bumi berputar terhadap sumbunya searah dengan jarum jam (dari arah barat ke

Timur). Pergerakan bulanpun searah dengan jarum jam (dari arah barat ke timur) terlihat

mengelilingi bumi.

Satu keliling bumi berotasi terhadap sumbunya (24 jam) dan pergerakan bulanpun

bergeser kearah timur (tertinggal) sejauh 12,2 derajat. Itu pun dapat kita hitung (360 derajat

di bagi 29.5 hari = 12.2 derajat). Dengan tertinggalnya bulan sejauh 12 ,2 derjat perhari (satu

keliling rotasi bumi terhadap sumbunya) atau sehari semalam, maka 29.5 hari kemudian

bulan tersusul lagi oleh matahari.

Disaat bulan akan tersusul kembali oleh matahari atau bulan masih mendahului

matahari disebut juga posisi bulan berada di bawah konjungsi (-). Pada akhir bulan dapat

dilihat diwaktu subuh (sebelum matahari terbit) atau bulan masih mendahului matahari.

Itupun bulan terlihat sama bulan sabit yang runcingnya arah ke atas , karena sumber cahaya (

matahari ) berada lebih rendah dari posisi bulan.

Yang menjadi persoalan, berapa derajatkah bulan bergeser ke atas atau bulan

tertinggal dari matahari, baru cahaya terang seperti sabit di bawah bulan terlihat dari

permukaan bumi (hilal) ?

Data dari buku antariksa untuk SMU terbitan Departemen P&K tahun 1996 karangan

Moh. Mak‟mur Tanudidjaja sebagai berikut :

1. Besar bumi dengan jari-jari 6.370 KM atau keliling 40.000 KM.

2. Besar bulan dengan jari-jari 3.747 KM

3. Jarak bumi ke matahari 149.600.000 KM

4. Jarak bulan ke bumi 384.403 KM.

Page 9: Rotasi Bulan .pdf

9 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Sesuai dengan data diatas dapatlah kita stimulasikan sebagai berikut :

Gambar 1.3 Gambar saat bulan berada pada garis konjungsi

Gambar 1.4 Gambar Hillal awal bulan 20 derajat

Page 10: Rotasi Bulan .pdf

10 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Gambar 1.5 Gambar saat Bulan separuh 90 derajad awal

Gambar 1.6 Gambar Bulan Purnama

Page 11: Rotasi Bulan .pdf

11 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Gambar 1.7 Gambar bulan separuh 90 derajad akhir

Gambar 1.8 Gambar Hillal akhir bulan 20 derajat

Page 12: Rotasi Bulan .pdf

12 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Dari gambar stimulasi diatas bisa kita ambil dasar analisa munculnya hilal disaat

tertinggalnya bulan dari matahari 20 derjat, lihat gambar 1.4 (munculnya hilal awal bulan),

dan sebaliknya bulan mendahului matahari 20 derjat, lihat gambar 1.8 (akan habisnya hilal

akhir bulan). Oleh karena gambar stimulasi diatas di ambil kesimpulan bahwa hilal tidak akan

tampak/tidak wujud dibawah/kurang dari 20 derajat, dengan mempertimbangkan dan

mengabaikan sudut eliptasi.

Sudut eliptasi adalah sudut yang terjadi oleh posisi terbenamnya matahari ditarik garis

lurus ke bumi dangan posisi terbenamnya bulan di tarik garis lurus ke bumi / sudut yang

terbentuk dari posisi orbit bulan dengan posisi orbit matahari ke bumi.

Alasan di abaikan nya sudut eliptasi adalah sudut eliptasi tidak akan melebihi dari 20

derajat. Kalau sudut eliptasi lebih dari 20 derajat, tentu hilal akan terbentuk walaupun posisi

bulan sejajar dengan matahari (conjungsi)

Dan juga perhitungan ini mengabaikan awan (dianggap langit cerah tanpa awan)

Jadi dengan data dan gambar stlmulasi tersebut di atas dapat kita gambarkan sebagai berikut:

Gambar 1.9 Gambar pergerakan bulan

Dari gambar diatas bisa kita lihat bahwa dalam satu hari satu malam (24 jam) bulan tertinggal

12.2 derajad dari matahari.

Gambar 1.10 Gambar pergerakan bulan

Dan dari gambar diatas bisa kita lihat bahwa dalam dua hari dua malam bulan

tertinggal semakin jauh dari matahari yakni sebesar 24.4 derajad

Page 13: Rotasi Bulan .pdf

13 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

BAB III

HILAL

Hilal adalah sabit bulan baru yang menandai masuknya bulan baru pada sistem

kalender Qomariyah atau Hijriah. Hilal / bulan sabit adalah suatu pase bulan dimana bagian

terang permukaan bulan yang terkenak sinar matahari terlihat dari bumi sebagian kecil di

bawah bulan .

TERBENTUKNYA HILAL

Hilal terjadi apabila di saat bulan berada diantara matahari dan bumi dan posisi bulan

naik ke atas (diatas 20 derajat) baru hilal itu ada atau wujud dilihat dari bumi. Dimana

cahaya terang permukaan bulan yang memantulkan cahaya matahari yang terlihat dari bumi

yang sebagian kecil di bawah bulan seperti sabit yang runcingnya mengarah ke atas.

Dengan gambar yang berskala diatas bisa dipastikan bahwa bulan naik lebih dari 20 derajat

baru hilal itu terlihat atau ada (dilihat dari bumi) .

Apabila kurang dari 20 derajat, walaupun diteropong dengan alat super canggihpun mustahil

hilal akan terlihat, hanya akan terlihat lingkaran gelap bulan, karena hilal belum terbentuk

yang dimana bagian terang permukaan bulan yang memantulkan sinar matahari

membelakangi bumi atau bagian gelap bulan berada di sebelah bumi.

Hal itu bisa di peragakan dengan sebuah bola warna putih yang setengahnya di hitamkan

(warna putih : permukaan bulan yang terkena sinar matahari, warna hitam : permukaan bulan

yang tidak terkena sinar matahari)

Lalu digantungkan lebih tinggi naik 20 derajat dari posisi pandang.

Posisikan warna hitam bola berhadapan dengan kita.

Seperti gambar di bawah ini :

Gambar 1.11 Gambar peragaan terbentuknya hilal

Page 14: Rotasi Bulan .pdf

14 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

PERHITUNGAN PENGAMATAN HILAL

Kita perhatikan dan kita amati setiap hari kita melihat matahari dan bulan terbit di

Timur dan terbenam di Barat, padahal matahari tersebut tetap dan bumilah yang berputar

terhadap sumbunya arah dari Barat ke Timur, maka terlihat perjalanan Matahari dan bulan

tampak dari Timur ke Barat.

Kita amati perjalanan matahari selalu lebih cepat dari perjalanan bulan, tertinggalnya bulan

dari matahari bisa kita perhitungkan sebagai berikut :

Bulan berotasi mengelilingi bumi 1 keliling selama 29,5 hari (1 bulan)

1 keliling lingkaran terdiri 360 derajat

Jadi 360 derajat : 29,5 hari = 12,2 derajat/hari (bulan tertinggal 12,2 derajat/hari)

12,2 derajat : 24 jam = 0,508 derajat/jam

Jadi ketertinggalan bulan terhadap matahari 0,508 derajat/jamnya.

Artinya dengan ketertinggalan bulan tersebut pasti bulan akan tersusul kembali oleh matahari

Hal itu bisa diamati saat bulan masih mendahului matahari.

Dengan perhitungan di atas bisa kita amati pada akhir bulan (waktu subuh) atau saat

matahari belum terbit.

Dalam pengamatan terlihatlah bulan sabit yang runcingnya menghadap ke atas kita ukur

berapa derajat ketinggian bulan tersebut dari garis horizon (horizon adalah garis lurus dari

permukaan bumi ke matahari)

Setelah dapat derajat ketinggian bulan dari horizon baru di hitung jam berapanya bulan

berada pada konjungsi.

Contoh : Pada hari kamis kita mengamati ketinggian hilal akhir bulan pada jam 06.00

pagi adalah 27.2 derajat dari garis Horizon (garis lurus dari permukaan bumi

ke matahari). Jadi 27.2 derajat : 0,508 = 53,54 jam ( dari jam 06.00 + 53,54

jam ) . 2 hari = 48 jam (jadi sabtu jam 06.00 + 5,54 jam )maka bulan berada

pada konjungsi hari sabtu pada jam 11.30 siang.

Semua itu bisa kita gambarkan sebagai berikut :

27.2 derajat

Gambar 1.12 Gambar Posisi hilal pada 27.2 derajad kamis jam 6.00 pag

Page 15: Rotasi Bulan .pdf

15 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Gambar 1.13 Gambar Posisi hilal pada 15 derajad

Pada gambar diatas terlihat bahwa bulan masih mendahului matahari setinggi 15 derajad pada

pukul 6.00 pagi dihari jumát.

Gambar 1.14 Gambar Posisi hilal 2,81 derajad

Pada gambar diatas terlihat bulan masih mendahului matahari setinggi 2,81 derajad pada hari

setelahnya yaitu sabtu pukul 6.00 pagi.

Gambar 1.15 Gambar Bulan pada posisi konjungsi (segaris dgn matahari)

Page 16: Rotasi Bulan .pdf

16 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Pada gambar diatas terlihat pada jam 11.30 siang bulan tersusul oleh matahari

sehingga posisi bulan bumi dan matahari menjadi sejajar pada hari sabtu.

Kalau kita melihat hilal pada hari sabtu jam 18.00 atau jam 6 sore ketinggian

bulan adalah 3,302 derajat bisa dipastikan hilal tidak ada atau belum wujud

(dari 11.30 ke jam 18.00 = 6 jam 30 menit x 0,508 = 3,302 derajat ).

Gambar 1.16 Gambar bulan pada posisi 3.302 derajat

Pada gambar diatas terlihat bahwa bulan sudah tertinggal oleh matahari sejauh 3,302

derajat pada hari sabtu sore pukul 18.00 atau 6.00 sore.

Itupun pengamatan berdasarkan daerah setempat, jadi sekiranya di tempat lain tinggal

kita mencari selisih waktu antara tempat kita mengamati dengan tempat tersebut.

Kalau selisih waktu kearah barat ( lebih lambat) maka dikurangi saja jam nya.

Kalau selisih waktu kearah timur (lebih cepat) maka ditambahkan saja jam nya.

Contoh : 1. Kalau tempat itu 1 jam bedanya arah ke barat maka bulan berada pada konjungsi

jam 10.30.

2. Kalau tempat itu 1 jam bedanya arah ke timur maka bulan berada pada konjungsi

jam 12.30.

PENELITIAN

Untuk melakukan penelitian mengukur sudut yang terjadi antara bulan dan matahari

ditarik garis lurus kebumi, dengan peralatan yang sederhana yaitu : tali, tongkat lurus,busur

derajat dan kamera foto).

- Tempat penelitian di lakukan (melakukan pengukuran) yaitu di Indonesia bagian

barat tepatnya Kab. Kampar, kota : Pekanbaru, Prop. Riau.

- Hari dan tanggal serta jam saat melakukan pengukuran yaitu: hari rabu tanggal

30 oktober 2013 jam 10.45 wib.

- saat itu posisi bulan masih mendahului matahari tepatnya akhir bulan zdulhijjah

atau akhir tahun hijriah 1434 H.

Page 17: Rotasi Bulan .pdf

17 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

TEKNIK

- Tarik tali segaris dengan bulan dari bumi.

- Ujung bawah tali yang sudah segaris dengan bulan di satukan dengan pangkal

tongkat.

- Ujung tongkat tetap menempel di ujung bawah tali, lalu bayangan tongkat di jadikan

menjadi satu titik (tongkat yang lurus segaris dengan matahari).

- Untuk mempermudah pengukuran, foto dan ukur sudut yang terbentuk antara bulan

dengan matahari ke bumi. Dari hasil kerja tersebut terdapat 55 derajat bulan

mendahului matahari, yang berarti pada hari rabu tanggal 30 oktober 2013 untuk

daerah Kampar riau pada jam 10.45 wib posisi bulan masih mendahului matahari

sejauh 55 derajat dengan sudut eliptasi 14 derajat.

Gambar 17 Gambar sudut posisi bulan mendahului matahari 55 derajat

Untuk mendapatkan sudut eliptasi adalah :

- Tarik lurus tali segaris dengan bulan (tetapkan)

- tunggu posisi matahari sejajar dengan posisi tali yang sudah ditarik lurus sejajar

dengan bulan

- Lalu pangkal tongkat di satukan dengan ujung bawah tali

- Ujung tongkat tetap menempel di ujung bawah tali, lalu bayangan tongkat di jadikan

menjadi satu titik (dimana tongkat segaris dengan matahari).

- Untuk mempermudah pengukuran, foto dan ukur sudut yang terbentuk antara orbit

bulan dengan orbit matahari ke bumi.

bumi

matahari

bulan

Page 18: Rotasi Bulan .pdf

18 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Gambar 1.18 Gambar sudut eliptasi bulan 14 derajat

Untuk menentukan kapan bulan berada sejajar dengan matahari dan bumi ?

Dari data penelitian tersebut di atas lalu di hitung.

Dalam satuhari semalam bulan tersusul atau tertinggal oleh matahari sejauh 12.2 derajat,

maka 55 derajat di kurang (12,2 x 4 = 48,8 derajat). Samadengan 6,20 derajat.

Berarti empat hari kemudian pada hari minggu di Indonesia bagian barat tanggal 3 november

2013 bulan zulhijjah 1434H waktu setempat pada jam 10.45 posisi bulan masih mendahului

matahari sejauh 6.20 derajat.

Maka berapa lama lagi bulan berada pada konjungsi(matahari, bulan dan bumi).

Karena bulan tertinggal atau tersusul kembali oleh matahari sejauh 0.508 derajat/jamnya:

6.20 derajat dibagi 0.508 derajat /jam = 12.20 jam.

Berarti 12 jam, 12 menit kemudian dari jam 10.45 waktu setempat bulan berada segaris

matahari, bulan dan bumi (konjungsi).

Yaitu hari minggu jam 10.57 WIB(± jam 11.00 malam bulan berada pada konjungsi).

Dalam perhitungan ini waktu Indonesia bagian barat „

Kalau sekiranya waktu mekah bulan berada pada conjungsi hari minggu jam 7 malam (jam

19.00)waktu mekah.

Karena Indonesia bagian barat lebih cepat 4 jam dari waktu mekah.

matahari

bumi

bulan

Page 19: Rotasi Bulan .pdf

19 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

PERBEDAN PANDANGAN

Perbedaan pendapat selama ini untuk menetapkan awal bulan Ramadan di sebabkan

pandangan titik awal bulan (titik nol nya) yang berbeda.

Menurut ilmu teknologi

Perlu di pahami 1 bulan adalah bulan berotasi mengelilingi bumi 1 keliling (29,5 hari).

Menurut ilmu pengetahuan antariksa (ilmu falak) titik nol rotasi bulan mengelilingi bumi ada

pada garis konjungsi (segaris dari bumi ke matahari). Kalau sekiranya itu menjadi patokan,

tentu tidak semua orang bisa menentukan saat bulan berada pada garis konjungsi, karena

puasa adalah salah satu ibadah wajib tentu harus mudah untuk menentukan kapan mulai dan

berakirnya berpuasa Ramadhan, sebab semua kalangan umat islam harus mengerti dan

mengetahui serta mudah diamati kapan mulai dan berakhirnya puasa Ramadhan.

Allah yang maha mengetahui selalu memberi kemudahan kepada Umatnya dalam

menentukan kapan mulai dan berakhirnya puasa Ramadhan.

Menurut ilmu agama

Menurut kalender Hijriah untuk menentukan awal Ramadhan ( 0 derajat nya ) orang

harus melihat bulan baru / ruhyatul hilal pada sore hari (setelah terbenamnya matahari)

Jika pada suatu sore bulan baru ( hilal ) sudah tampak baru saat itu di nyatakan sebagai

permulaan awal bulan ramadhan.

Begitu pula akhir bulan Ramadan / 1 Syawal di tentukan dengan melihat bulan baru, akibat

nya hari puasa dalam bulan Ramadan ada 30 hari kadang-kadang paling sering 29 hari.

Maka jelas lah titik 0 nya adalah tampak nya hilal (ini mudah diamati oleh seluruh kalangan

umat islam).

WAKTU PENGAMATAN HILAL:

Kapan dilakukan pengamatan hilal?, Tentu jelas pula acuannya: Disini terlihat pula

dua sisi pandang dalam hal menentukan titik nol rotasi bumi terhadap sumbunya (titik nol

dalam penanggalan) menurut kalender masehi dengan menurut kalender hijriah.

- Menurut kalender masehi

Bumi berotasi terhadap sumbunya,Menurut penanggalan kalender masehi titik nolnya

pada tengah malam (jam 0.00/ jam 24.00). ini tidak jelas landasannya.

- Menurut ilmu agama

Bumi berotasi terhadap sumbunya,Menurut penanggalan kalender hijriah titik nol pada

terbenamnya matahari (permulaan datangnya malam).

Ini jelas landasannya di dalam Al Quran surat Ali Imran ayat 27:

“Tuulijullaila fiinnahari wa tuulijunnahari fillaili ……..” yang artinya :

Engkau masukkan malam kedalam siang dan engkau masukkan siang kedalam

malam…….

Page 20: Rotasi Bulan .pdf

20 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Dari ayat tersebut diatas tegaslah bahwa dahulu malam dari pada siang.

Disini jelaslah bahwa titik nol dalam penanggalan hijriah adalah terbenamnya matahari

(datangnya malam). Maka waktu melakukan penengokan hilal pada akhir/ujung penanggalan

hijriah yaitu pada sore hari.

Untuk menguatkan, telah lazimnya dilakukan umat Islam dalam bulan Ramadhan:

Satu hari puasa dimulai dari Shalat Tarwih pada malamnya dan pada siang berikutnya baru

puasa (satu hari puasa). Hal ini dilakukan oleh semua kalangan umat islam tanpa adanya

perbedaan pendapat.

MULAI DAN BERAKIRNYA PUASA RAMADAN

Hal ini jelas landasannya.”keterangan dari abuya surau lubuak Pakandangan Pariaman

Sumatra Barat ( Buya Kuniang Zubir )”.

Menetap kan awal Ramadan dan syawal dengan rukhiah.

Berkata Rasulullah saw. “Berpuasalah kamu karena melihat bulan dan berbukalah kamu

dengan melihat bulan yakni berhari Raya Fitri, maka bila bulan ditutupi awan, maka

sempurnakanlah Sa’ban 30 hari”.

(Shahih Bukhari Juz II, Halaman 229)

Dari Abu Hurairah R. A.

Sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda :

“Apabila kamu melihat hilal maka berpuasalah dan bila kamu melihat bulan maka

barhari raya fitrilah bila bulan ditutupi awan maka berpuasalah 30 hari”.

(Shahih Muslim, Halaman 438, Juz I)

Berdasarkan keterangan diatas jelas dan tegaslah landasannya titik nol (awal bulan)

mulai dari tampaknya hilal.pada sore hari. Awalnya bulan bukan dimulai dari konjungsi,

jangan dicampur adukkan dalam menetapkan awal bulan.; antara tampaknya hilal (rukhiah)

dengan perhitungan bulan berada pada kujungsi

Ada kesalahan yang sangat fatal sehingga tampaklah pekerjaan yang sia-sia.

Jelas acuan untuk menetapkan awal bulan dengan tampaknya hilal, tetapi landasan

pemikirannya untuk menetapkan nol derjatnya bulan saat bulan pada konjungsi, sehingga

waktu melihat hilal dilakukan pada saat yang tidak mungkin tampak (hilal belum

wujud/belum ada)

Page 21: Rotasi Bulan .pdf

21 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Cukup di pahami kata Rasulullah SAW: “ Jika hilal tidak tampak atau terhalang

awan cukupkan Sa’ban 30 hari”

Dengan keterangan Rasulullah SAW itu jelaslah bahwa menengok hilal pada 29 Sa‟ban !

Yang menjadi persolan yaitu untuk menentukan 29 Sa‟ban (saat untuk melakukan

menengok hilal awal Ramadan).

Disini terlihat jelas perbedaan landasan berpikir untuk menentukan awal bulan.

Kalau awal dan akir bulan pembatasnya ( titik nol nya ) bulan berada pada cunjungsi

tentu 29 sakban posisi bulan belum berada pada cunjungsi /masih mendahului matahari, jelas

tidak mungkin kelihatan : sedangkan kita melihatnya pada sore hari setelah matahari

terbenam, padahal posisi bulan lebih dahulu terbenamnya dari matahari.

Kalau sekiranya benar seperti itu tentu kita melihatnya pada saat sebelum matahari

terbit ( pagi hari ) .itu pun posisi hilal akir bulan terhadap matahari harus melebihi 20 derajat .

Baru hilal itu ujud / ada .

Sedangkan satu hari satu malam bulan tertinggal / mendahului matahari 12.2 derajat.

Sudah bias dipastikan lilal itu tidak kelihatan.(pekerjaan sia-sia)

Page 22: Rotasi Bulan .pdf

22 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

BAB IV

KALENDER TAQWIN KHAMSIAH

Menurut keterangan Buya Surau Lubuak Pakandangan Pariaman Sumatra Barat (Buya

KUNIANG ZUBIR/Satariah} menetapkan melihat bulan dengan hisab Taqwin Khamsiah:

Telah berkata Rasulullah SAW: “Aku lihat dimalam Israk denganku akan sejumlah

kalimat di tiang Arasy sebagai berikut : “Allahul Hadi” satu kali, “Hudallah” lima kali,

“Jamalul Fi’li” tiga kali, Zara’allahu Zar’an bilabazrin” tujuh kali, “Dinullah” empat

kali, Badi”ussamawati wal Ardhi” dua kali, “Wailun liman “asha” empat kali,

“Dinuallah” empat kali, “Zara”allah” tujuh kali, Ba’di’ussamawati” dua kali, Jamalul;

fi’li” tiga kali, “Hudallah” lima kali Hudallah lima kali, “Wailun Liman asha” enam kali,

“allahul hadi” satu akali, “Jamalul Fi’li” lima kali.”

Berkata Rasulullah SAW: “Ambil olehmu awal kalimat yang delapan pertama

menjadi huruf Tahun dan awal kalimat yang sebanyak dua belas kedua menjadi huruf

Bulan, maka himpunlah huruf tahun dengan huruf bulan, artinya jumlahkanlah, maka

mulailah membilang dari hari Kamis, dan dihari mana sampai bilangan, maka hari itu

adalah awal bulan itu”, dan Rasulullah SAW berkata: “Takwim adalah jalanku, selain

puasa Ramadhan”.

(Kitab Insanul Uyun Juz III Karangan Syekh Nuruddin dan telah dipilih oleh para Syekh kita

dan ditetapkan mula-mula hitungan itu adalah hari Kamis).

Dari keterangan hadist diatas, bisa kita simpulkan sebagai berikut :

Alif (1), Ha (5), Jin (3), Zai (7), Dal (4), Ba (2), Waw (6), Dal (4), Zai (7), Ba (2), Jin (3), Ha

(5), Waw (6), Alif (1), Ba (2), Dal (4), Ha (5), Zai (7), Alif (1), Jin (3).

Dari kesimpulan hadist diatas adalah panduan untuk menghisap (menghitung) awal bulan

dalam tahun hijriah.

Maka dari data tersebut bisa di buat penanggalan kalender hijriah

CARA MEMBUAT TABEL KALENDER TAQWIM KHAMSIAH

1. Tahun Hijriah dibagi 8, sisanya baru dihitung.

2. Menghitung tahun dimulai dari (0) huruf alif , (1) huruf Ha , (2) huruf Jin, dst

3. Lihat huruf bulannya (angkanya)

4. Juamlahkan angka huruf tahun dengan angka huruf bulan

5. Hasil penjumlahan dihitung dimulai dari hari Kamis, Jum‟at, dst

6. Apabila huruf tahun habis dibagi 8,maka nol .jadi huruf tahunnya alif

7. Khusus untuk bulan Ramadhan, melihat hilalnya pada hari 29 bulan Sa‟ban.

Page 23: Rotasi Bulan .pdf

23 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Maka dapat kita tabelkan sebagai berikut :

Gambar 1.19 Gambar table hari awal bulan tahun hijriah

Berdasarkan hisab taqwim kalender hijriah jumlah hari dalam bulan hijriah sbb :

1 Muharam…………….. 30 hari 7 Rajab ………………… 30 hari

2 Safar ………………… 29 hari 8 Sa‟ban ………………. 29 hari

3 Rabiul awal ………….. 30 hari 9 Ramadan ……………. 30 hari

4 Rabiul akhir …………. 29 hari 10 Sawal ……………….. 29 hari

5 Jumadil awal ………… 30 hari 11 Zulkaedah ………….. 30 hari

6 Jumadil akhir…….…... 29 hari 12 Zulhijah …………….. 29 hari

KHUSUS UNTUK PUASA RAMADHAN

Setelah jelas hisab takwim kamsiah, dan rasullullah s a w bersabda ;

“ takwim adalah jalanku, selain puasa Ramadhan “

Artinya ; hisab takwim adalah hitungan rasulullah s a w selain puasa Ramadan.

Untuk puasa Ramadan , jelas dan tegas keterangannya pada ;

“ shahih Bukhari jus II , halaman 229 dan shahih muslim jus I halaman 438 “

Page 24: Rotasi Bulan .pdf

24 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Dari hasil hisab takwim itulah baru kita bisa menentukan 29 sa‟ban untuk melakukan

rukhiyat hillal.

Dengan demikian kita melakukan pekerjaan melihat hillal tidak sia-sia

Berdasarkan table diatas jelaslah hari apa mulai awal bulan dalam kalender Hijriah

(Satriah) dan sampai tahun berapapun bisa kita hitung. Setelah jelas demikian kita tidak perlu

melakukan pengintaian hilal diakhir bulan dan hari serta jam berapanya bulan berada pada

konjungsi.

Contoh : 1

Puasa Ramadan tahun 1434 H yaitu : 1438 : 8 = 179 sisa 2,

maka untuk tahun 1434 H hurut tahunnya Jin (3),

dan bulan Ramadhan huruf bulannya Ha (5),

maka jumlahkanlah angka huruf tahun Jin (3) dengan huruf bulan Ha (5) = 8,

baru dihitung mulai hari Kamis, maka hasilnya akan jatuh pada hari Kamis.

Itu berarti awal bulan Ramadhan tahun 1434 H jatuh pada hari Kamis (dalam hisab).

dan kita menengok hilal awal Ramadhan 1434 H adalah hari Rabu pada sore harinya.

Untuk berhari raya Idul Fitri, kita menjalani puasa Ramadhan selama 29 hari dan sorenya

kita menengok Hilal,

jika hilal sudah kelihatan maka besoknya kita berhari raya, seandainya hilal tidak kelihatan

maka cukupkanlah Ramadhan 30 hari, baru kita berhari raya Idul Fitri.

Jadi karena hilal tampak pada hari Rabu dan Kamis mulai berpuasa, maka menengok

hilal akhir Ramadhan adalah :

Hari 1 puasa adalah Kamis dan hari ke 29 adalah hari Kamis, maka kita menengok hilal awal

Syawal 1434 H adalah hari Kamis sore harinya.

Jika hilal kelihatan kita berhari raya Idul Fitri hari Jum‟at, akan tetapi kalau tidak kelihatan

maka kita cukupkan puasa 30 hari, ini berarti kita berhari raya pada hari Sabtunya.

Dan begitulah seterusnya.

Contoh 2

Berdasarkan table kalender hijriah diatas, awal tahun 1435 H (1 muharam 1435 H)

jatuh pada hari rabu tanggal 6 November 2013. sedangkan berdasarkan penelitian dan

menurut ilmu teknologi awal tahun 1435 H jatuh pada hari senin tanggal 4 November 2013.

Page 25: Rotasi Bulan .pdf

25 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

BAB V

PENUTUP

KESIMPULAN

1. Hilal tidak akan terbentuk ( tidak wujud atau tidak ada) kalau posisinya kurang dari 20

derajat sebelum konjungsi dan kurang dari 20 derajat setelah konjungsi.

2. Menurut ilmu teknologi (antariksa) titik nol awal dan akhir bulan adalah posisi bulan

berada pada konjungsi. Sedangkan menurut hadist rosulullah saw. Titik nol awal dan

akhir bulan adalah posisi bulan lewat konjungsi lebih dari 20 derajat ( adanya hilal atau

wujudnya hilal)

3. Menurut ilmu teknologi pembatas tanggal masehi adalah jam 12 malam (jam 00.00 atau

24.00). sedangkan menurut tahun hijriah pembatas tanggal ( titik nolnya) adalah

terbenamnya matahari (jam 6.00 sore). Melihat hilalpun di ujung penanggalan hijriah di

29 sya`ban yaitu pada sore hari.

4. Semuanya itu sudah ada ketentuannya dari allah swt melalui rasulnya nabi Muhammad

saw. Allah yang maha mengetahui tentu tidak mempersulit hambanya dalam menunaikan

ibadah wajib (kapan mulai dan berakhirnya puasa ramadhan).

5. Puasa Ramadhan adalah Ibadah yang diwajibkan Allah kepada umat Islam, tentu harus

mudah dimengerti dan mudah diamati kapan mulai dan berakhirnya puasa Ramadhan.

SARAN

1. Dengan berbedanya landasan berfikir tentulah membuat sisi pandang yang berbeda pula

walaupun acuannya sama-sama al-qur`an dan hadist.agar tidak ada beda pendapat untuk

menentukan awal dan akhir bulan bagi umat islam yang sama-sama acuannya al-qur`an

dan hadist,haruslah memakai landasan berfikir yang sama. Jangan mencampur adukkan

antara ilmu teknologi dengan ilmu agama.

2 Boleh kita mengikuti ilmu teknologi asal memperkuat dan tidak menggeser ketentuan-

ketentuan dalam agama islam, sebab agama islam adalah agama yang sempurna sampai

akir zaman.

3. Bagi para pemimpin umat janganlah terburu-buru berpendapat sebelum menggali betul

dan paham betul dari magsud al-quran dan hadist.

4. Agar kita tidak terlepas dari umat nabi besar nabi Muhammad saw,janganlah berpendapat

bahwa al-qur`an dan hadist tidak sesuai dengan kemajuan ilmu teknologi hanya

pemahaman kitalah yang tidak sanggup untuk memahaminya.

Page 26: Rotasi Bulan .pdf

26 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

DAFTAR PUSTAKA

1. Buku Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa untuk SMU karangan Moh. Ma‟mur

Tanudidjaja.

2. Kitab kecil Syifaul khulub karangan buya surau lubuak Pakandangan Pariaman

Sumatra Barat (buya Kuniang Zubir / Satariah)..

3. http://www.youtube.com. “bulan sideris”, Januari 21, 2012.

4. http://www.youtube.com. “Bulan Satelit Bumi”, April 4 , 2011

5. Abbas, K.H Siradjuddin. Sejarah & Keagungan Madzhab Syafi‟i. Jakarta: Tarbiyah

Jakarta, 2006.

6. Abbas, K.H Siradjuddin. 40 Masalah Agama. Jakarta: Tarbiyah Jakarta, 2006.

7. Al Qur‟an dan Terjemahannya,1990. Departemen Agama Republik Indonesia,

Jakarta.

8. “biography of copernicus”

http://library.thinkquest.org/28327/html/exploration/people/copernicus.html

9. “biography of Galileo Galilei http://www-

history.mcs.stand.ac.uk/Biographies/Galileo.html

Page 27: Rotasi Bulan .pdf

27 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n

Page 28: Rotasi Bulan .pdf

28 | M e n e n t u k a n T i t i k N o l R o t a s i B u l a n